BAB 1 PENDAHULUAN. ILO menghasilkan kesimpulan, setiap hari rata-rata orang meninggal, setara

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan lebih banyak korban jika dibandingkan dengan perang dunia. Riset yang dilakukan badan dunia ILO menghasilkan kesimpulan, setiap hari rata-rata 6.000 orang meninggal, setara dengan satu orang setiap 15 detik, atau 2,2 juta orang per tahun akibat sakit atau kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Jumlah pria yang meninggal dua kali lebih banyak ketimbang wanita, karena mereka lebih mungkin melakukan pekerjaan berbahaya. Secara keseluruhan, kecelakaan di tempat kerja telah menewaskan 350.000 orang. Sisanya meninggal karena sakit yang diderita dalam pekerjaan seperti membongkar zat kimia beracun (ILO, 2003) dalam Suardi, (2005). Kecelakaan kerja tidak harus dilihat sebagai takdir, karena kecelakaan itu tidaklah terjadi begitu saja. Kecelakaan pasti ada penyebabnya. Kelalaian perusahaan yang semata-mata memusatkan diri pada keuntungan, dan kegagalan pemerintah untuk meratifikasi konvensi keselamatan internasional atau melakukan pemeriksaan buruh, merupakan dua penyebab besar kematian terhadap pekerja. Negara kaya sering mengekspor pekerjaan berbahaya ke negara miskin dengan upah buruh yang lebih murah dan standar keselamatan pekerja yang lebih rendah. Selain itu, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, undang-undang keselamatan kerja yang berlaku tidak secara otomatis meningkatkan kondisi di tempat kerja, di samping

(2)

hukuman yang ringan bagi yang melanggar aturan. Padahal meningkatkan standar keselamatan kerja yang lebih baik akan menghasilkan keuangan yang baik. Pengeluaran biaya akibat kecelakaan dan sakit yang berkaitan dengan kerja merugikan ekonomi dunia lebih dari seribu miliar dolar (850 miliar euro) di seluruh dunia, atau 20 kali jumlah bantuan umum yang diberikan pada dunia berkembang. Di AS saja, kecelakaan kerja merugikan pekerja puluhan miliar dolar karena meningkatnya premi asuransi, kompensasi dan menggaji staf pengganti (Suardi, 2005).

Angka keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum ternyata masih rendah. Berdasarkan data organisasi buruh internasional di bawah PBB (ILO), Indonesia menduduki peringkat ke-26 dari 27 negara (Suardi, 2005). Setiap tahun di seluruh dunia, terjadi jutaan kecelakan dari yang terenteng sampai kepada yang terberat. Kerugian-kerugian bukan main hebatnya.

Dewasa ini, Jepang dan Amerika Serikat melaporkan lebih dari 2 juta kecelakaan akibat pekerjaan setiap tahunnya, sedangkan Perancis, Republik Federasi Jerman dan Italia melaporkan lebih dari sejuta kecelakaan setahunnya. Diduga bahwa terjadi lebih dari 15 juta kecelakaan di seluruh dunia setiap tahunnya. Bahaya setiap kecelakaan akibat kerja termasuk upah selama tak mampu kerja di Amerika Serikat adalah sekitar $ 1.800. Seluruh biaya kompensasi dan pengobatan kecelakaan di Negara itu adalah sebesar $ 665 juta ($ 535 juta untuk kompensasi dan $ 130 juta untuk biaya perawatan) untuk 1.950.000 kecelakaan dengan kehilangan hari kerja. Maka dari itu, biaya langsung setiap kecelakaan adalah $ 340, dan biaya tersembunyi

(3)

adalah $ 1.360,00 yaitu 4 kali biaya langsung. Jumlah seluruhnya adalah $ 1.828,00 per satu kecelakaan sebagaimana di bulatkan kira-kira $ 1.800,00. Angka-angka Indonesia mungkin relatif rendah, tetapi tidak berarti keadaan lebih baik, melainkan pelaporan masih perlu ditingkatkan (Suma’mur, 1987).

Dari penyelidikan-penyelidikan, ternyata faktor manusia dalam timbulnya kecelakaan sangat penting. Selalu ditemui dari hasil-hasil penelitian, bahwa 80-85 % kecelakaan disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan manusia. Bahkan ada suatu pendapat, bahwa akhirnya langsung atau tidak langsung semua kecelakaan adalah dikarenakan faktor manusia. Kesalahan tersebut mungkin saja dibuat oleh perencana pabrik, oleh kontraktor yang membangunnya, pembuat mesin-mesin, pengusaha, insinyur, ahli kimia, ahli listrik, pimpinan kelompok, pelaksana atau petugas yang melakukan pemeliharaan mesin dan peralatan (Suma’mur, 1997).

Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia, memegang peranan utama dalam proses pembangunan industri. Oleh karena itu peranan sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus baik kamampuan, keselamatan, maupun kesehatan kerja. Risiko bahaya yang di hadapi oleh tenaga kerja adalah bahaya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, akibat kombinasi dari berbagai faktor yaitu tenaga kerja dan lingkungan kerja (Suma’mur, 1996).

Belawan merupakan salah satu pelabuhan di Indonesia yang memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan arus barang baik itu impor maupun ekspor di wilayah pantai timur Indonesia yang berada di arus lalu lintas Selat Malaka yang sangat aktif dalam perdagangan internasional. Belawan juga merupakan pelabuhan

(4)

internasional yang merupakan pelabuhan utama sekunder yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang luas serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi laut internasional.

Kondisi lingkungan kerja di pelabuhan laut Belawan adalah berbahaya, mengingat betapa besarnya kapal yang berlabuh di pinggiaran laut, kedalaman laut di pelabuhan lama dan ujung baru sekitar 8 meter, pelabuhan gabion 12 meter, pada saat pasang naik kedalaman akan bertambah sekitar 2-3 meter. Pada saat bongkar muat kapal bergerak kekanan dan kekiri atau kedepan atau kebelakang meskipun sudah dipasang tali tambang ke kade, hal ini terjadi karena pengurangan atau penambahan barang dan juga karena alur air yang bergelombang. Kecelakaan bisa terjadi apabila tenaga kerja kurang hati-hati dalam melakukan pekerjaan.

Pekerjaan bongkar muat di Pelabuhan Belawan merupakan pekerjaan yang mengandalkan fisik pekerja, dan dalam kondisi situasi lingkungan pekerjaan yang dapat mengakibatkan kecelakaan ataupun gangguan kesehatan pekerja.

Kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Belawan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan adalah pada saat kapal berada di dermaga atau sandar. Bahaya kecelakaan yang bisa terjadi adalah kapal menabrak dermaga, petugas pandu terpeleset dan terjatuh saat turun ke darat, haluan kapal menabrak container crane. Pekerja tenaga kerja bongkar muat naik ke kapal (bekerja di atas kapal), pekerja bisa terpeleset, tersandung, kejatuhan benda di deck kapal. Pada saat bongkar muat di dermaga risiko kecelakaan yang bisa terjadi adalah pekerja terjatuh dari ketinggian sewaktu berada di

(5)

atas peti kemas, pekerja tertimpa petikemas, pekerja terkena peti kemas, komponen kapal ditabrak spreader (pengangkat peti kemas), container crane roboh, container crane tertabrak trado, pencemaran udara (gas buang dari knalpot trado, engine container crane dan kapal.

Bongkar muat pada saat di lapangan penumpukan (container yard), pekerja bisa tertimpa peti kemas, tertabrak trado, forklit, tertimbun barang dalam karung. Pada pengoperasian container crane, bisa terjatuh, tertimpa, terkena peti kemas. Pada saat perawatan dan perbaikan pekerja bisa jatuh dari ketinggian, terpeleset, terjepit, tersengat listrik, kejatuhan benda dan kena limbah oli bekas.

Tenaga kerja bisa terjepit sewaktu memasang sling ke gancu, terjepit rip yang tiba-tiba menegang, terjepit sewaktu memasang sepatu container di kapal dan terkena spreader yang goyang.

Proses bongkar muat dalam 1 kapal dilakukan oleh 2-3 regu, 1 regu diatas kapal (deck), 1 regu lagi di dermaga, dan masing-masing regu terdiri dari 12 orang. Dalam sehari kapal yang sandar di dermaga 4-5 kapal, jumlah regu ada 40 regu (sebanyak 480 orang). Proses bongkar muat berlangsung ketika membawa barang dari palka (ruang-ruang dalam kapal) dan membawa barang dari kapal ke dermaga (steverdoring). Tenaga kerja membawa barang dari palka kapal maupun sebaliknya secara manual ke geladak kapal, menyusun barang kedalam jala-jala barang, kemudian dengan menggunakan container crane diangkut dan disusun oleh tanaga kerja kedalam truk. Jenis barang yang diangkat semen in bags, pupuk in bags, inti sawit in bags, dan lain-lain. Proses mengangkut pupuk curah, pupuk yang belum

(6)

dikemas kedalam kantong, menggunakan grek (sendok) dari kapal ke dalam truk dan sebaliknya.

Proses bongkar muat yang dilakukan di Pelabuhan Belawan memiliki koridor yang telah ditentukan melalui peraturan-peraturan yang mengikat antara Perusahaan Bongkar Muat dengan Tenaga Kerja Bongkar Muat serta Penyedia Jasa Bongkar Muat. Adapun ketentuan pelaksanaan bongkar muat, antara lain :

1. Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 1954. 2. Peraturan Pemerintah No.5 Tahun 1964. 3. Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 1969.

4. INPRES No.4 Tahun 1985 tentang kebijakan pelaksanaan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Perhubungan No.88/AL 305/Phb.85 dan KM No13, 1989. 5. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 14 Tahun 2002 (Gunawan, 2007).

Hasil survei pendahuluan yang dilakukan penulis di Pelabuhan Belawan didapati bahwa jumlah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Sektor II Ujung Baru sebanyak 480 pekerja, berpotensi mengalami bahaya antara lain : terjatuh, tertimpa benda, tertumbuk atau terkena benda-benda, terjepit oleh benda, terpeleset saat musim hujan, gerakan-gerakan melebihi kemampuan, kontak bahan-bahan berbahaya dari semen dan pupuk curah. Potensi bahaya dapat berasal dari alat angkut, peralatan mesin dan lingkungan kerja. Kecelakaan dapat terjadi karena kesalahan tenaga kerja karena pengetahuan tentang lingkungan kurang, pendidikan yang rendah, tingkat kecakapan rendah, tidak mampu memahami prosedur kerja, ketrampilan

(7)

kurang karena kurang latihan, motivasi kurang karena gaji rendah, perbuatan salah karena kondisi bahaya misalnya secara fisik tidak memakai alat pengaman, mesin yang tidak ada pelindungnya.

Kecelakaan akibat kerja pada tenaga kerja bongkar muat pelabuhan Belawan dapat dilihat dari data berita acara kecelakaan kerja pada Unit Usaha Jasa Bongkar Muat (UUJBM) pelabuhan Belawan tahun 2010. Pada tahun 2010 terdapat 50 kasus kecelakaan akibat kerja, yang terbagi dalam kecelakaan pada waktu melakukan pekerjaan dan dalam perjalanan menuju/pulang tempat kerja.

Kecelakaan yang dialami sewaktu melakukan pekerjaan yang memerlukan perawatan dengan bantuan pihak luar/tingkat tiga sebanyak 29 kasus kecelakaan. Kecelakaan yang mengakibatkan cacat sebanyak dua kasus dan 19 kecelakaan dalam perjalanan menuju/pulang dari tempat kerja.

Kegiatan bongkar muat mempunyai risiko untuk terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang bersumber dari faktor predisposisi yakni pengetahuan, sikap, kepercayaan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan. Faktor pendukung yaitu alat pelindung diri yang disediakan oleh Primkop “Upaya Karya”.

Tingkat kecelakaan kerja dibagi dalam lima bagian yaitu :

1. Tingkat 1 dengan kriteria Insignificant/tidak signifikan, tidak ada cidera.

2. Tingkat 2 dengan kriteria Minor/Minor, memerlukan perawatan medis P3K, on site release langsung dapat ditangani.

3. Tingkat 3 dengan kriteria Moderate/sedang, memerlukan perawatan medis, on site Release dapat ditangani dengan bantuan pihak luar.

(8)

4. Tingkat 4 dengan kriteria Major/Mayor, cidera yang mengakibatkan cacat/hilang fungsi tubuh secara total, off site release tanpa efek merusak.

5. Tingkat 5 dengan kriteria Catastrophic/bencana, menyebabkan kematian, off site release bahan toksik dan efeknya merusak (Prihandono, 2010).

Tingkat kecelakaan pada tenaga kerja bongkar muat di Sektor II Ujung Baru adalah tingkat tiga dan tingkat empat. Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh faktor predisposisi dan faktor pendukung terhadap pencegahan kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Primkop “Upaya Karya” Sektor II Ujung Baru pelabuhan Belawan.

1.2. Permasalahan

Apakah faktor predisposisi dan faktor pendukung berpengaruh terhadap pencegahan kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Primkop “Upaya Karya” Sektor II Ujung Baru pelabuhan Belawan.

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi dan faktor pendukung terhadap pencegahan kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Primkop “Upaya Karya” Sektor II Ujung Baru pelabuhan Belawan.

1.4. Hipotesis

(9)

kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Primkop “Upaya Karya” Sektor II Ujung Baru pelabuhan Belawan.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Diharapkan tenaga kerja bongkar muat dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan perilaku sehat dan memakai alat pelindung diri setiap melakukan pekerjaan.

1.5.2. Secara teoritis, dapat menambah khasanah keilmuan Kesehatan Masyarakat K3 dan dapat sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya. 1.5.3. Bagi manajemen Primkop “Upaya Karya” pelabuhan Belawan sebagai bahan masukan dalam upaya melaksanakan peraturan

perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan menyediakan alat pelindung diri yang cukup dan lengkap (helm, sarung tangan, masker, sepatu kerja, baju kerja).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :