1
PERANAN ADAT PANTANG LARANG DALAM PENERAPAN NORMA-NORMA YANG BERLAKU DI MASYARAKAT SUKU MELAYU DESA BUKIT BATU
KECAMATAN BUKIT BATU KABUPATEN BENGKALIS Oleh:
Elwida Suri 1
) Ahmad Eddison ²) Zahirman ²) 1
Mahasiswi Program Studi PPKn universitas Riau 2
Dosen Program Studi PPKn universitas Riau Jln. Bina Widya KM. 12,5 Kampus Unversitas Riau Panam
[email protected]/085278119041 ABSTRACT
This research was entitled “The Role of Pantang Larang Custom toward the application of the occurred norms in Malay ethnic society at Bukit Batu Quarter, Bukit Batu District, Bengkalis”. The purpose of this research was to find out the role of Pantang Larang Custom in the society of Bukit Batu toward the application of the norms that is occurred in society. Hypothesis: Pantang Larang Custom has the important role in organizing people’s living in the application of the norms that is occurred in Malay Ethnic society at Bukit Batu Quarter, Bukit Batu District, Bengkalis. The technique of choosing the sample oriented to the statement of Suharsimi Arikunto that said for the large total of the population or more than 100, the sample could be between 10-15%. The method of the research was Descriptive Qualitative. The technique of collecting data was by using interview and questionnaire. Data analysis was done with descriptive qualitative. From the percentage of respondents’ answers, the answer that said having important role than others was at level 63,6%. So, the hypothesis was accepted which means Pantang Larang custom has an important role toward the application of the occurred norms at Malay ethnic society in Bukit Batu Quarter, Bukit Batu District, Bengkalis. Then, from the result of interview, the interviewee said that Pantang Larang custom has an important role toward the application of the occurred norms in the society. It can be concluded that the role of Pantang Larang Custom toward the application of the occurred norms in Malay ethnic society at Bukit Batu Quarter, Bukit Batu District, Bengkalis was 63,6%. Based on the result of the research, it can be concluded that Pantang Larang Custom has the role toward application of the occurred norms in Malay ethnic society.
Key words: The Role, Custom, Pantang Larang, Norms, Malay ethnic society. A. PENDAHULUAN
Setiap daerah memiliki kebiasaan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi. Kebiasaan ini disebut dengan satu tradisi dan merupakan budaya yang perlu dilestarikan dan diperhatikan keberadaannya. Keragaman suku, etnis, agama dan ras di Indonesia melahirkan adat dan kebudayaan yang berbeda pula disetiap daerah sehingga masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat majemuk. Dari sekian banyak suku bangsa dan kelompok masyarakat ada terdapat adat istiadat. Adat istiadat itu pastilah berbeda antara satu etnis dan etnis lainnya. Adat istiadat dipandang sebagai warisan nenek moyang yang apabila dilanggar berarti tidak mengikuti ketentuan adat. Menurut Ghazali (2000) “Adat istiadat ini merupakan suatu aturan adat yang dibuat dengan kata mufakat oleh pemangku adat dan masyarakat disetiap daerah yaitu peraturan yang menampung segala kemauan dan kesukaan anak negeri selama menurut ukuran alur dan patut.” Menurut Husny (1985) “nilai adat istiadat adalah ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam mengatur tingkah laku masyarakat dalam segala aspek kehidupan atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat pendukung adat”. Sedangkan menurut Waridah (2002) “adat dapat juga diartikan sebagai cara berlakuan yang sudah menjadi satu dalam aturan tradisional. Jika seseorang melakukan pelanggaran adat, maka masyarakat akan mencemooh atau mengukucilkannya”.
2
Orang timur mempunyai kebiasaan dan kesopan-santunan terutama bagi masyrakat Indonesia. Kebiasaan tersebut akan tampak jelas dari tingkah laku bebahasa, dan ini saat erat dengan kebudayaan. Hubungan ini tampak antara lain sebagaimana dikatakan Hamidiy (1989) “Hubungan itu tampak antara lain (1) manusia dan kebudayaan berada dalam balas-membalas, (2) kebudayaan sebagai pola tingkah laku, (3) kebudayaan memberi dasar nilai, (4) kebudayaan memberikan gambaran alam pikiran, (5) dan kebudayaan memberikan gambaran pada masyarakat.”
Dalam masyarakat suku melayu yang berada di Desa Bukit Batu mayoritasnya menganut agama Islam. Menurut kepercayaan suku melayu ini, dengan menjalankan adat istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur. Segala sesuatu yang datang dari ajaran nenek moyang dan sesuatu yang tidak dilakukan leluhurnya dianggap sesuatu yang tabu atau menjadi pantang larang. Pantang larang merupakan peraturan larangan bagi sebuah kehidupan masyarakat atau bangsa tertentu. Salah satu unsur budaya suku ini sangat berguna secara bersama-sama adat dan ketentraman hidup. Pantang larang juga memberi jaminan keselamatan bagi individu. Unsur adat ini juga diangggap ibarat penjaga diri, yaitu ilmu di badan sendiri dan semua pihak. Segala apa yang dilakukan mempunyai kesan serta merta dan berjangka panjang.
Pantang larang itu sebenarnya ketentuan yang sebisa mungkin tidak dilanggar oleh masyarakat. Meski dianggap sebagian masyarakat pantang larang itu adalah sebuah mitos. Dilihat dari isinya pantang larang merupakan norma-norma yang harus diperhatikan oleh masyarakat dalam berbuat dan bertingkah laku, sebab itu budaya pantang larang ini mengandung nilai-nilai yang memandu masyarakat dalam bertindak. Hamidy (1999) mengatakan “Pantang larang cukup erat hubungannya dengan adat dan resam (tradisi)”.
Adat istiadat merupakan hal yang sangat kental dengan masyarakat, seperti dikatakan oleh Semi (1984) “Hubungan antara kebudayaan dengan masyarakat itu amatlah erat. Karena kebudayaan itu sendiri menurut pandangan antropologi adalah cara suatu kumpulan manusia atau masyarakat mengadakan system nilai, yaitu beberapa aturan yang menentukan suatu benda atau perbuatan lebih tinggi nilainya, lebih dikehendaki dari yang lain”. Hamidy (1995) mempertegas “Pada pokoknya pantang larang sebenarnya semacam norma-norma yang memandu warga masyarakat dalam berbuat dan bertindak”. Akan tetapi pantang larang tersebut akan dinilai mengikut cita rasa seorang individu. Sebagian masyarakat lainnya beranggapan bahwa pantang larang tidak relevan dengan kehidupan yang serba modern seperti saat ini. Pantang larang hanyalah sesuatu nilai yang ketinggalan zaman. Sebaliknya, bagi mereka yang menerima pantang larang tersebut, akan menggunakan akal pikiran ataupun mengikut kepercayaan seseorang itu.
Berdasarkan uraian diatas, maka masalah yang dibahas adalah bagaimanakah peranan adat pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada suku melayu desa Bukit Batu?. Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peranan adat pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada suku melayu desa Bukit Batu.
B. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Bukit Batu Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini secara intensif dilapangan yaitu pada bulan Februari 2013 sampai dengan penelitian ini selesai.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat desa Bukit Batu yang berjumlah 1037 orang yang terdiri dari tiga tingkatan (anak-anak/remaja, dewasa, orang tua). Berdasarkan populasi tersebut, maka dalam menentukan besar sampel, peneliti berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto (2002), yaitu :“Sampel merupakan sebagian atau wakil
3
dari populasi yang diteliti”. jika subjeknya besar atau lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :
a. Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.
Maka peneliti mengambil sampel sebanyak 10% dari jumlah populasi yang diambil secara acak. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa teknik yaitu teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumentasi, teknik kepustakaan, dan teknik angket. Teknik Analisa Data
Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Menurut Lexy J. Moleong (2006), proses analisis data deskriptif kualitatif di mulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan yang telah di tuliskan dan catatan lapangan, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Setelah data yang di perlukan terkumpul, selanjutnya data tersebut di pisah dan dianalisis berdasarkan metode deskriftif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan semua data yang di inginkan 2. Mengklasifikasikan semua data dari responden.
3. Menentukan besar presentase alternative jawaban dengan mengunakan rumus sebagai berikut : % 100 x N F P
Keterangan : P = Besar persentase alternatif jawaban F = Frekuensi alternatif
N = Banyaknya sampel (Anas Sudjono,2006)
Hasil analisis di kelompokan atau menurut presentase jawaban responden dan menjadi tolak ukur dalam pengambilan kesimpulan. Adapun tolak ukur tersebut adalah:
1.Sebesar 75,01% - 100% = Sangat Berperan 2.Sebesar 50,01% - 75,00% = Berperan
3.Sebesar 25,01% - 50,00% = Kurang Berperan 4.Sebesar 0,00% - 25,00% = Tidak Berperan (Sutrisno Hadi 1990:229)
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah peneliti menyebarkan angket kepada 100 orang dan mengadakan wawancara kepada 10 orang, peneliti mendapatkan peranan adat pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyararakat pada suku melayu desa Bukit Batu. Peranan tersebut yaitu:
1. Dalam Acara Adat a. Perkawinan
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 16 16%
2. Berperan 70 70%
3. Kurang Berperan 6 6%
4. Tidak Berperan 8 8%
Jumlah 100 100%
4
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 16 orang (16%) yang menjawab sangat berperan pantang larang didalam adat perkawinan, 70 orang (70%) menjawab berperan pantang larang didalam adat perkawinan, 6 orang (6%) yang menjawab kurang berperan pantang larang didalam adat perkawinan, dan 8 orang (8%) yang menjawab tidak berperan pantang larang didalam adat perkawinan. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang didalam acara adat perkawinan suku melayu desa Bukit Batu masih berperan untuk menjaga tingkah laku.
b. Kematian
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 19 19%
2. Berperan 80 80%
3. Kurang Berperan 1 1%
4. Tidak Berperan 0 0%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari table di atas menunjukkan bahwa 19 orang (19%) yang menjawab sangat berperan pantang larang didalam acara adat kematian, 80 orang (80%) yang menjawab berperan pantang larang didalam acara adat kematian, 1 orang (1%) yang menjawab kurang berperan pantang larang didalam acara adat kematian, dan tidak ada orang (0%) yang menjawab tidak berperan pantang larang didalam acara adat kematian. Hal ini menunjukkan bahwa adat pantang larang berperan penting didalam acara adat kematian agar membatasi tingkah laku. 2. Dalam Penerapan Norma-Norma
a. Norma Agama
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 12 12%
2. Berperan 75 75%
3. Kurang Berperan 5 5%
4. Tidak Berperan 8 8%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 12 orang (12%) yang menjawab sangat berperan pantang larang dalam penerapan norma agama, 75 orang (75%) menjawab berperan pantang larang dalam penerapan norma agama, 5 orang (5%) yang menjawab kurang berperan pantang larang dalam penerapan norma agama, dan 8 orang (8%) yang menjawab tidak berperan pantang larang dalam penerapan norma agama. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang dalam penerapan norma agama yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu berperan penting untuk menjaga tingkah laku.
b. Norma kesopanan
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 20 20%
2. Berperan 76 76%
3. Kurang Berperan 2 2%
4. Tidak Berperan 2 2%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 20 orang (20%) yang menjawab sangat berperan pantang larang dalam penerapan norma kesopanan, 76 orang (76%) menjawab berperan pantang larang dalam penerapan norma kesopanan, 2 orang (2%) yang menjawab kurang berperan pantang larang dalam penerapan norma kesopanan, dan 2 orang (2%) yang menjawab tidak berperan pantang larang dalam penerapan norma kesopanan. Hal ini
5
menunjukkan bahwa pantang larang dalam penerapan norma kesopanan yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu berperan penting untuk menjaga tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Norma Kesusilaan
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 23 23%
2. Berperan 28 28%
3. Kurang Berperan 25 25%
4. Tidak Berperan 24 24%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 23 orang (23%) yang menjawab sangat berperan pantang larang dalam penerapan norma kesusilaan, 28 orang (28%) menjawab berperan pantang larang dalam penerapan norma kesusilaan, 25 orang (25%) yang menjawab kurang berperan pantang larang dalam penerapan norma kesusilaan, dan 24 orang (24%) yang menjawab tidak berperan pantang larang dalam penerapan norma kesusilaan. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang dalam penerapan norma kesusilaan yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu masih berperan untuk menjaga tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Norma Hukum
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 30 60%
2. Berperan 60 30%
3. Kurang Berperan 6 6%
4. Tidak Berperan 4 4%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 30 orang (30%) yang menjawab sangat berperan pantang larang dalam penerapan norma hukum, 60 orang (60%) menjawab berperan pantang larang dalam penerapan norma hukum, 6 orang (6%) yang menjawab kurang berperan pantang larang dalam penerapan norma hukum, dan 4 orang (4%) yang menjawab tidak berperan pantang larang dalam penerapan norma hukum. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang dalam penerapan norma hukum yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu sangat berperan penting untuk membatasi perbuatan atau kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Siklus Kehidupan a. Anak-Anak/Remaja
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 30 30%
2. Berperan 45 45%
3. Kurang Berperan 19 19%
4. Tidak Berperan 6 6%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 30 orang (30%) yang menjawab sangat berperan pantang larang untuk anak-anak, 45 orang (45%) menjawab berperan pantang larang untuk anak-anak, 19 orang (19%) yang menjawab kurang berperan pantang larang untuk anak-anak, dan 6 orang (6%) yang menjawab tidak berperan pantang larang untuk anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang untuk anak-anak suku melayu desa Bukit Batu berperan
6
penting dalam membatasi perbuatan atau kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Orang Dewasa
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 18 40%
2. Berperan 77 45%
3. Kurang Berperan 4 14%
4. Tidak Berperan 1 1%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 18 orang (18%) yang menjawab sangat berperan pantang larang untuk orang dewasa, 77 orang (77%) menjawab berperan pantang larang untuk orang dewasa, 4 orang (4%) yang menjawab kurang berperan pantang larang untuk orang dewasa, dan 1 orang (1%) yang menjawab tidak berperan pantang larang untuk orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang untuk orang dewasa suku melayu desa Bukit Batu sama halnya dengan pantang larang untuk anak-anak yang berarti berperan penting dalam membatasi perbuatan atau kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Orang Tua
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 15 35%
2. Berperan 75 55%
3. Kurang Berperan 9 9%
4. Tidak Berperan 1 1%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 15 orang (15%) yang menjawab sangat berperan pantang larang untuk orang tua, 75 orang (75%) menjawab berperan pantang larang untuk orang tua, 9 orang (9%) yang menjawab kurang berperan pantang larang untuk orang tua, dan 1 orang (1%) yang menjawab tidak berperan pantang larang untuk orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang untuk orang tua suku melayu desa Bukit Batu berperan penting dalam membatasi perbuatan atau kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Nilai-Nilai a. Nilai Agama
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 22 32%
2. Berperan 65 55%
3. Kurang Berperan 8 8%
4. Tidak Berperan 5 5%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 22 orang (22%) yang menjawab sangat berperan pantang larang berdasarkan nilai agama, 65 orang (65%) menjawab berperan pantang larang berdasarkan nilai agama, 8 orang (8%) yang menjawab kurang berperan pantang larang berdasarkan nilai agama, dan 5 orang (5%) yang menjawab tidak berperan pantang larang berdasarkan nilai agama. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang berdasarkan nilai agama yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu berperan penting untuk menjaga tingkah laku masyarakat.
7 b. Nilai Adat
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 32 52%
2. Berperan 65 45%
3. Kurang Berperan 2 2%
4. Tidak Berperan 1 1%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 32 orang (32%) yang menjawab sangat berperan pantang larang berdasarkan nilai adat, 65 orang (65%) menjawab berperan pantang larang berdasarkan nilai adat, 2 orang (2%) yang menjawab kurang berperan pantang larang berdasarkan nilai adat, dan 1 orang (1%) yang menjawab tidak berperan pantang larang berdasarkan nilai adat. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang berdasarkan nilai adat yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu sangat berperan dalam mengatur tingkah laku masyarakat dalam segala aspek kehidupan atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat pendukung adat.
c. Nilai Etika
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 30 30%
2. Berperan 57 57%
3. Kurang Berperan 10 10%
4. Tidak Berperan 3 3%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 30 orang (30%) yang menjawab sangat berperan pantang larang berdasarkan nilai etika, 57 orang (57%) menjawab berperan pantang larang berdasarkan nilai etika, 10 orang (10%) yang menjawab kurang berperan pantang larang berdasarkan nilai etika, dan 3 orang (3%) yang menjawab tidak berperan pantang larang berdasarkan nilai etika. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang berdasarkan nilai etika yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu sangat berperan dalam pergaulan sehari-hari termasuk di dalamnya pola bertingkah laku dan berakhlak.
d. Nilai Moral
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 20 30%
2. Berperan 47 37%
3. Kurang Berperan 22 22%
4. Tidak Berperan 11 11%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 20 orang (20%) yang menjawab sangat berperan pantang larang berdasarkan nilai moral, 47 orang (47%) menjawab berperan pantang larang berdasarkan nilai moral, 22 orang (22%) yang menjawab kurang berperan pantang larang berdasarkan nilai moral, dan 11 orang (11%) yang menjawab tidak berperan pantang larang berdasarkan nilai moral. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang berdasarkan nilai moral yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu berperan penting untuk mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya. Nilai moral ini menyangkut baik buruknya tingkah laku seseorang terhadap orang lain dalam lingkungan masyarakat. Baik buruknya perbuatan seseorang dalam lingkungan masyarakat menimbulkan akibat yang akan diterima, karena semua perbuatan ada resikonya.
8 e. Nilai Sosial
No Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat Berperan 20 50%
2. Berperan 70 40%
3. Kurang Berperan 8 8%
4. Tidak Berperan 2 2%
Jumlah 100 100%
Sumber: Data olahan angket 2013
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 20 orang (20%) yang menjawab sangat berperan pantang larang berdasarkan nilai sosial, 70 orang (70%) menjawab berperan pantang larang berdasarkan nilai sosial, 8 orang (8%) yang menjawab kurang berperan pantang larang berdasarkan nilai sosial, dan 2 orang (2%) yang menjawab tidak berperan pantang larang berdasarkan nilai sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pantang larang berdasarkan nilai sosial yang berlaku pada suku melayu desa Bukit Batu sangat berperan agar dapat melihat batas prilaku seseorang yang dapat dilakukannya, sehingga prilakunya tidak sampai merugikan orang lain atau dirinya sendiri.
Rekapitulasi Data Adat Pantang Larang Dalam Penerapan Norma-Norma Yang Berlaku Di Masyarakat Melayu Desa Bukit Batu
Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis
No Alternatif Jawaban Jumlah N
SB % B % KB % TB % 1. 16 16% 70 70% 6 6% 8 8% 100 100 2. 19 19% 80 80% 1 1% 0 0% 100 100 3. 12 12% 75 75% 5 5% 8 8% 100 100 4. 20 20% 76 76% 2 2% 2 2% 100 100 5. 23 23% 28 28% 25 25% 24 24% 100 100 6. 30 30% 60 60% 6 6% 4 4% 100 100 7. 30 30% 45 45% 19 19% 6 6% 100 100 8. 18 18% 77 77% 4 4% 1 1% 100 100 9. 15 15% 75 75% 9 9% 1 1% 100 100 10. 22 22% 65 65% 8 8% 5 5% 100 100 11. 32 32% 65 65% 2 2% 1 1% 100 100 12. 30 30% 57 57% 10 10% 3 3% 100 100 13. 20 20% 47 47% 22 22% 11 11% 100 100 14. 20 20% 70 70% 8 8% 2 2% 100 100 307 307% 890 890% 127 127% 76 76%
χ
21,9 21,9% 63,6 63,6% 9,1 9,1% 5,4 5,4% (Diolah berdasarkan hasil penyebaran angket)Berdasarkan rekapitulasi data di atas maka dapat disimpulkan bahwa dari 100 orang responden memilih berperan. Hal ini membuktikan bahwa adat pantang larang mempunyai peranan penting dalam penerapan norma-norma yang berlaku dimasyarakat melayu desa Bukit Batu kecamatan Bukit Batu kabupaten Bengkalis dan dapat dilihat dari persentase sebanyak 63,6%.
Untuk mengetahui jenis-jenis pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat Bukit Batu serta nilai-nilai adat pantang larang, maka peneliti melakukan wawancara kepada informan yang dipilih menurut criteria yang ada. Dalam hal ini ada 10 informan yang diwawancarai dan hasilnya sebagai berikut:
9
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah akan kena bisul. Adat pantang larang ini mengandung norma yang berlaku di masyarakat yaitu norma kesopanan. Jika dilihat dari nilai-nilai yang terkandung didalam pantang larang ini yaitu nilai etika dan nilai moral. Bantal merupakan alat untuk tidur dan tepatnya diletakkan dikepala. Di samping itu juga bantal akan menjadi cepat rusak jika diduduki.
2. Pantang memotong kuku di malam hari
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah mati orang tua. Adat pantang larang ini mengajarkan kepda masyarakat agar selalu berhati-hati dalam melakukan suatu hal. Karena pada zaman dahulu penerangan belum begitu terang dan orang masih menggunakan lampu teplok. Akan tetapi pantang larang ini memang benar-benar terjadi. Dan kemudian pantang larang ini langsung di buat dan di pakai oleh masyarakat melayu Bukit Batu.
3. Pantang memanjat pohon pada bulan safar
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah mati. Pantang larang ini di pakai oleh masyarakat melayu Bukit Batu untuk selalu berhati-hati dan hal ini dianggap sebagai mitos belaka. Pantang larang ini dibuat oleh orang tua-tua dahulu karena dilihat dari cerita Hasan dan Husin yang gugur pada bulan safar dalam peperangan di padang Karbela menghadapi pasukan Yazid. Maka dari itu pada bulan safar masyarakat Bukit Batu selalu berhati-hati dalam malakukan segala sesuatu.
4. Pantang bersiul didalam rumah pada malam hari
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah ular akan datang. Pantang larang ini mengajarkan kepada masyarakat agar selalu bersikap baik. Pada malam hari orang sedang istirahat. Jika mendengar suara berisik orang akan terganggu. Pantang larang ini mengandung norma etika dan nilai moral. Akan tetapi pantang larang ini dianggap logis karena ular suka mendengar bunyi-bunyian.
5. Pantang lewat di bawah jemuran
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah sakit kepala. Pantang larang ini mengajarkan tentang norma etika yang berlaku di masyarakat. Karena di jemuran terdapat bermacam-macam pakaian, baik pakaian dalam maupun pakaian luar. Di samping itu juga ditakuti pakaian yang ada dijemuran akan jatuh dan kotor. Pantang larang ini di pakai dan dipercayai oleh masyarakat melayu Bukit Batu karena bagi penderita sakit kepala (pitam) memang benar-benar tidak boleh melewati jemuran dan sakit kepalanya akan kambuh.
6. Pantang menyabung kakinya disilang keatas
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah mati mak. Pantang larang ini mengandung unsure kesehatan. Karena orang yang menyabung sudah tentu pernapasannya akan terganggu dan dada akan terasa sakit. Akan tetapi pantang larang ini masih dipakai dan sebisa mungkin tidak dilakukan.
7. Pantang duduk di atas lesung
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah penyakit kelamin. Pantang larang ini mengandung nilai etika dan moral. Kerana lesung merupakan alat untuk menumbuk padi. Jika lesung dijadikan tempat duduk maka lesung itu akan menjadi kotor dan kemungkinan pecah.
8. Pantang bicara sedang makan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah lambat menikah. Pantang larang ini mengajarkan kepada
10
masyarakat untuk bersikap sopan. Jika makan sambil bicara maka makannya akan lama siap dan ditakutkan akan keselek. Untuk itu makan harus dalam keadaan diam dan menikmati rezeki yang dikasi.
9. Pantang menjahit baju dibadan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah pendek umur. Pantang larang ini mengajarkan kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu. Karena menjahit baju yang sedang dipakai akan mengakibatkan luka ataupun kesulitan mengerjakannya. Arti pantang larang ini hanya untuk menakut-nakuti saja. Akan tetapi masyarakat melayu Bukit Batu percaya hal demikian walaupun hanya sebagian masyarakat saja.
10. Pantang wanita hamil mencela ataupun melihat hal-hal yang aneh
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah menyerupai. Pantang larang ini mengandung norma etika dan moral. Pantangan ini memebrikan tata tertib kepada orang hamil agar selalu menjaga ucapan dan perbuatan. Pada umumnya orang melayu Bukit Batu percaya akan hal demikian. Wanita hamil yang mencela orang lain akan mengakibatkan bayi yang dikandungnya akan menyerupai orang yang dicela bahkan lebih daripada itu.
11. Pantang terbawa sisa nasi ke tempat tidur
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang di ungkapkan adalah datang harimau. Pantang larang ini mengajarkan tentang kebersihan. Karena kebersihan sebagian dari iman. Hal ini dilakukan orang tua-tua zaman dahulu karena tempat tidur dan dapur mereka sangat dekat. Jadi haruslah bersih dan rapi. Temapt tidur merupakan tempat istirahat. Jika ada nasi di atasnya akan mendatangkan semut dan mengganggu istirahat.
12. Pantang meletakkan bayi di atas lutut
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang diungkapkan adalah bayi akan sakit perut. Pantang larang ini mengajarkan kepada masyarakat agar selalu menjaga keselamatan sang buah hati. Jika dilogikakan orang tua-tua dahulu mengkwatirkan bayi tersebut jatuh karena tulang bayi masih lunak.
13. Pantang menyisakan nasi ketika makan, harus dihabiskan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti memperoleh informasi bahwa arti yang diungkapkan adalah nasi menangis. Pantang larang ini mengajarkan kepada masyarakat agar selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Jika dilogikakan pantang larang ini untuk menghindari dari pembaziran makanan.
D. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan tentang peranan adat pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada suku melayu desa Bukit Batu, maka dapat disimpulkan bahwa adat pantang larang berperan dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada suku melayu desa Bukit. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil penelitian, bahwa sebanyak 63,6% responden menjawab berperan adat pantang larang dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga hipotesis Ha yang menyatakan adat pantang larang berperan dalam penerapan norma-norma yang berlaku di masyarakat Bukit Batu diterima.
Adapun saran-saran yang harus diperhatikan adalah:
1. Adat pantang larang orang melayu hendaknya dijaga dan dilestarikan sebaik mungkin untuk memperkaya adat. Nilai yang baik diikuti dan nilai yang dianggap tidak logis ditinggalkan. Dari sekian banyak pantang larang orang melayu pasti ada sedikit banyaknya yang memberi sumbangan kebaikan. Hal yang demikianlah sebaiknya kita lestarikan dan dijaga.
11
2. Sebaiknya kita melestarikan setiap kebudayaan, tradisi, maupun adat, khususnya pantang larang, yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita, dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mempelajari memahami nasehat yang terkandung di dalamnya.
3. Arti pantang larang orang melayu ini juga hendaknya diperjelas agar bisa diterima (logis) karena mengikuti perkembangan zaman.
4. Adat pantang larang ini hendaknya diajarkan kepada anak-anak di sekolah agar mereka tau apa-apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dengan cara memasukkan sedikit didalam pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Prof. Dr. H. Buchari.2009. Pengantar Statistika Untuk Penelitian Sosial, Pendidikan, Komunikasi, Ekonomi, Dan Bisnis. Bandung: AlfaBeta.
Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Darmadi, Prof. Dr. M.Pd. Hamid.2009. Dasar Konsep pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta. Effendy, Tenas. M.A 1989. Pemakaian Adat Tradisional Daerah Riau.
Pekanbaru: Depdikbud Riau.
Emzir, Prof. Dr. M.Pd.2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hakim, Drs. M.Pd. Nursal.2009. Budaya Tradisional Melayu Riau. Jurnal PPKn dan Hukum Pelita Bangsa Pelestari pancasila. Pekanbaru: Vol 4. Labor PPKn FKIP UNRI.
Hamidy, U.U.1982. Masyarakat dan Kebudayaan di Daerah Riau. Pekanbaru: Zamrad. .1993. Nilai Suatu Kajian Awal. Pekanbaru: UIR Press.
______.1995. Kamus Antropologi Dialek Melayu Rantau Kuantan. Pekanbaru: Unri Press.
Jalil, Abdul.2001. Puisi Mantra. Pekanbaru: Unri Press.
Lah, Husny.1985. Butir-butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatra Timur. Jakata: Proyek Penerbit Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
Moleong, Lexy J.1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Remadja Karya. Nasution S. Prof. Dr. dan Thomas M. Prof. Dr.1998. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi,
Disertai Makalah. Jakarta: Bumi Aksara.
Natuna, Daeng Ayub.2007. Pendidikan dan Masa Depan. Pekanbaru: Departemen Pendidikan Nasional FKIP Universitas Riau.
Semi, Atar.1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Singarimbun, Masri.1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3S.
Surakhman, Winarno.1985. Pengantar Pendidikan Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung: Tarsito.
Suwardi. MS. 2008. Dari Melayu Ke Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teeuw, A.1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Sosiologi.2004. Sosiologi 3. Jakarta: Yudhistira. Waridah, Siti.2002. Sosiologi I. Jakarta: Bumi Aksara. _____,dkk.2001. Sosiologi. Jakarta: Bumi Aksara.