• Tidak ada hasil yang ditemukan

Film sebagai Media Dakwah: Analisis Semiotika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Film sebagai Media Dakwah: Analisis Semiotika"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

  Prophetica : Scientific and Research Journal of Islamic Communication and Broadcasting

Volume 5 Nomor 2 (2019) 133-154 https://jurnal.fdk.uinsgd.ac.id/index.php/prophetica

Film sebagai Media Dakwah: Analisis Semiotika

Mutiara Cendekia Sandyakala1, Mukhlis Aliyudin2, Syukriadi Sambas3 1Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Program Pascasarjana,

UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

2Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

3Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

*Email : [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study is to gain an understanding of the symbols or signs used in the film of Sang Pemikir and Pejuang KH Ahmad SanusiAs a medium to deliver da'wah through a series of images (scene). To focus the research, then in this study refers to the semiotic model used, namely Roland Barthes's semiotic, known as denotation, connotation and myth meaning. This study uses Roland Barthes's semiotic theory, which consists of stages of denotation, namely objects that describe the most obvious sign meanings, connotations namely word choice, emotive meaning or evaluative meaning of the type of meaning in which stimulus and response contain emotional values through messages that delivered so as to give birth to the meaning of da'wah messages and, myths about encoding meaning and social values as something that is considered scientific so that it can make a positive influence on film lovers through the da'wah messages contained therein. The results of this study indicate that there are many da'wah messages contained in the film Sang Pemikir and Pejuang KH Ahmad Sanusi, seen from the scenes in the film as a sign or symbol of a mission message. Da'wah messages that are displayed through a scene in a film have a meaning as a denotation that can educate, connotations that can provide information, and myths that have meaning influencing positive direction for life.

Keywords:

Film, Semiotics, Da'wah Message ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai simbol-simbol atau tanda-tanda yang digunakan pada Film Sang Pemikir dan Pejuang Sebagai media penyampai dakwah melalui rangkaian gambar (scene). Untuk memfokuskan penelitian, maka dalam penelitian ini mengacu pada model semiotik yang digunakan, yaitu semiotik Roland Barthes, yang dikenal dengan makna denotasi, konotasi dan mitos. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yaitu yang terdiri dari tahap denotasi yaitu objek yang menggambarkan sebuah makna tanda yang paling nyata, konotasi yaitu pemilihan kata-kata, makna emotif atau makna evaluatif suatu jenis makna dimana stimulus

(2)

dan respons mengandung nilai-nilai emosioal melalui pesan yang disampaikan sehingga melahirkan sebuah makna pesan dakwah dan, mitos pengkodean makna dan nilai-nilai sosial sebagai sesuatu yang dianggap ilmiah sehingga dapat menjadikan pengaruh yang positif bagi penikmat fimnya melalui pesan dakwah yang terkandung didalamnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak pesan dakwah yang terkandung dalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi, terlihat dari adegan-adegan dalam film tersebut sebagai sebuah tanda atau simbol pesan dakwah. Pesan dakwah yang ditampilkan melalui sebuah adegan dalam film memiliki makna sebagai denotasi yang dapat mengedukasi, konotasi yang dapat memberikan sebuah informasi, dan mitos yang memiliki makna mempengaruhi kepada arah yang positif untuk kehidupan.

Kata Kunci : Film, Semiotika, Pesan Dakwah PENDAHULUAN

Dakwah dalam berbagai dimensinya memiliki wilayah kerja yang sangat luas yang biasa disederhanakan dengan istilah dakwah bi al-Kalam (ceramah), bi al-Kitabah (tulisan) dan dakwah bi al-Hal (dakwah dalam bentuk kegiatan nyata di lapangan) (Azis, 2009: 87). Salah satu dari unsur dakwah adalah materi dakwah. Materi dakwah dalam hal ini adalah isi pesan yang disampaikan kepada mitra dakwah yang dimana pesan dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, hakikat isi pesan dakwah adalah pesan-pesan dakwah yang disampaikan kepada mitra dakwah (Amin, 2001: 19-23).

Perkembangan media komunikasi saat ini menunjukkan perubahan cukup mendasar. Banyak media yang dapat dijadikan alternatif untuk menyampaikan pesan secara massif (dengan target penerima yang besar) dan dalam waktu yang relatif cepat. Pemanfaatan media massa dalam aktivitas dakwah Islam juga merupakan salah satu cara efektif dalam mengimbangi dan meminimalisir dampak negatif yang ada dalam media tersebut.

Perkembangan teknologi membawa informasi yang tak mengenal batas ruang dan waktu, dapat merambah ke segala arah, diterima oleh siapa saja yang memerlukan. Derasnya arus informasi ini didukung oleh berbagai media sebagai corong penyampai pesan baik itu komunikasi yang bersifat massa maupun pribadi (Mulchias, 2008: 23). Di zaman yang serba canggih, kegiatan dakwah dapat disampaikan dengan berbagai cara. Banyak media yang digunakan dalam melakukan aktifitas dakwah, salah satunya media elektronik yaitu media film. Film merupakan salah satu bentuk media massa yang dipandang mampu mempengaruhi permintaan dan selera masyarakat akan hiburan disela aktifitas yang padat. Pada perkembangan selanjutnya, film mulai beralih fungsi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi wahana penerangan, edukasi, penyampai informasi dan pengaruh positif yang memiliki banyak nilai dan makna bagi kehidupan.

(3)

karya yang sangat unik dan menarik, karena menuangkan gagasan dalam bentuk gambar hidup, dan disajikan sebagai hiburan yang layak dinikmati oleh masyarakat (Effendi, 2002: 110). Tetapi dalam pembuatan film harus memiliki daya tarik tersendiri, sehingga pesan moral yang akan disampaikan bisa ditangkap oleh penonton dapat tersampaikan secara efektif. Film berperan sebagai sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan dan dakwah yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan cerita, peristiwa dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum (Effendi, 2002: 135). Film sebagai salah satu media massa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, film menjadi media yang cukup efektif dalam menyampaikan pesan dakwah.

Film Sang Pemikir dan Pejuang dikemas begitu menarik, alur cerita yang maju, mundur, serta pengisahan konflik-konflik dan perjuangan membuat para penonton semakin mengenal sejarah dan tercerahkan, membuat film ini semakin bagus dan berkualitas. Namun sebuah film yang bagus dan berkualitas bukan hanya dilihat dari alur ceritanya saja tetapi harus mempunyai pesan moral maupun dakwah yang ingin disampaikan melalui film sebagai media dakwah kepada penonton.

Film Sang Pemikir dan Pejuang, bukan proyek film komersial. Semua berangkat dari pemikiran KH Ahmad Sanusi dan perjuangannya. Film ini dibuat sebagai bentuk apresiasi terhadap KH Ahmad Sanusi, ulama pejuang dan pemikir yang patut dibanggakan. KH Ahmad Sanusi adalah seorang Kiyai yang mampu menjembatani secara logis perbedaan faham keagamaan. KH Ahmad Sanusi tampil sebagai sosok Kiyai yang mempu menetralisasi keresahan umat islam di lingkungannya dalam menghadapi proses yang disebut gerakan reformasi dan pemurnian kehidupan beragama.

KH Ahmad Sanusi meninggalkan semangat kebangsaan, semangat persatuan, dan semangat pembaharuan. Sebagai seorang ulama dan pejuang, KH Ahmad Sanusi tidak mengharapkan penghargaan dalam bentuk apapun dari umatnya. Beliau berjuang semata-mata ingin menegakkan ajaran Islam agar bangsa bumi putera tidak bergantung pada bangsa asing. Kecakapan ilmu pengetahuan yang KH Ahmad Sanusi miliki, tidak heran banyak masalah-masalah yang dibahas secara tuntas oleh KH Ahmad Sanusi baik masalah yang berhubungan dengan masalah pemikiran keagamaan yang berkembang saat itu termasuk yang menyangkut gerakan-gerakan pembaharuan, maupun masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan keagamaan (Falah, 2009: 134).

Dengan ini, film yang dijadikan sebagai media dakwah cukup efektif dalam menyebarkan pesan-pesan agama kepada khalayak dengan memberikan kesan atau cerita yang dikemas dengan ringan, tidak kaku, menghibur, tanpa melupakan dalm memberikan motivasi dengan memberikan pesan-pesan agama menurut kaidah-kaidah Islam, sehingga penikmat film tidak jenuh dalam menerima isi pesan dari cerita film tersebut dan dapat menarik perhatian penonton dalam mempelajari isi maupun nilai-nilai dakwah tersebut. Oleh karena itu, alasan digunakannya penelitian ini, pertama bahwa objek yang akan di kaji untuk diungkap maknanya adalah melalui tanda-tanda, lambang, bahkan simbol yang ada

(4)

di dalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi. Teori Semiotika Roland Barthes dipilih karena teori inilah yang memberikan kedalaman dalam memaknai sebuah pesan dalam film.

Didalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi terdapat banyak adegan dan dialog yang mengandung pesan-pesan dakwah. Dengan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut guna memahami pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui makna simbolis mengenai pesan dakwah dalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Didalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi terdapat banyak adegan dan dialog yang mengandung pesan-pesan dakwah. Dengan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut guna memahami pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui makna simbolis mengenai pesan dakwah dalam film Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Sebab dalam dunia perfilman, khususnya bagi sutradara ada pesan atau simbol-simbol yang disampaikan melalui film sebagai media dakwah.

Studi analisis semiotika tentang pesan dakwah daam film Sang Pemikir dan Pejuang, mencoba menelaah dan menganalisa pemahaman mengenai simbol-simbol atau tanda-tanda yang digunakan pada Film Sang Pemikir dan Pejuang Sebagai media penyampai dakwah melalui rangkaian gambar (scene) mengacu pada teori semiotik yang digunakan, yaitu semiotik Roland Barthes, yang dikenal dengan makna denotasi, konotasi dan mitos, sehingga dapat memehami pesan atau simbol-simbol yang tersurat maupun yang tersirat melalui dialog, pengambilan gambar dan gerak yang terdapat dalam setiap adegan dalam film tersebut dari segi edukasi, dalam memberikan informasi dan juga pengaruh positif dengan makna pesan dakwah yang terkandung dalam setiap adegan dalam film tersebut (Barthes, 2007: 97).

Mengenai penelitian mengenai film sebagai media dakwah bukan merupakan suatu penelitian yang baru, sudah ada yang melakukan, seperti penelitian yang dilakukan Silvia Riskha Fabriar (2009) dengtan judul “Pesan Dakwah Dalam Film Perempuan Berkalung Sorban (Anallisis Pesan Tentang Kesetaraan Gender Dalam Prespektif Islam) “Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semmarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesan dakwah tentang kesetaraan gender yang terkandung dalam film perempuan berkalung sorban adalah yang berhubungan dengan syariah dan bidang muamalah. Pesan tersebut disajikan dalam dua bentuk yaitu bidang domestik dan bidang publik. Penelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh Yana Ahmad Rifa’i (2015) Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hassanudin Banten, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Judul Penelitian “Pesan Dakwah dalam Film (Studi Analisis Film “99 Cahaya di Langit Eropa”Karya Guntur Soeharjanto). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simmbol atau tanda dalam setiap adegan dan dialog yang mengandung pesan dakwah Islam dalam film

(5)

99 Cahaya di Langit Eropa ditinjau dari teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis

Analisis semiotika Roland Barthes untuk menganalisis simbol atau tanda dalam setiap adegan dan dialog yang mengandung pesan dakwah Islam. Sedangkan penelitian lainnya adalah Nurul Fajri Utami (2013) dengan judul Studi Semiotika Pesan Moral dalam Film Hafalan Shalat Delisa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis analisis teks media. Bentuk analisis yng digunakan adalah analisis semiotika signifikasi dua tahap Roland Barthes yaitu menganalisis petanda dan penanda pada degan film. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui riset kepustakaan dan proses dokumentasi, kemudian makna konotatif yang didapatkan dan dianalisis secara mendalam untuk mencari mitos. Mengkaji makna pesan yang ada dibalik adegan-adegan dalam film “Hafalan Shalat Delisa” bertujuan untuk mengkaji makna adegan yang mrepresentasika nilai ssial, nilai keagamaan dan pesan moral secara mendalam.

Objek penelitian ini adalah film “Sang Pemikir dan Pejuang KH Ahmad Sanusi”, sedangkan subjek penelitiannya adalah potongaan adegan visual ataupun narasi dialog sebagai makna dan petanda film sebagai media dakwah dalam film Sang Pemikir dan Pejuang yang berkaitan dengan pesan dakwah yang disampaikan dalam ini.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai simbol-simbol atau tanda-tanda yang digunakan pada Film Sang Pemikir dan Pejuang Sebagai media penyampai dakwah melalui rangkaian gambar (scene).

Penelitian ini menggunakan paradigma paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis ini memandang bahwa ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara atau mengola dunia sosial mereka (Hidayat: 2003, 89). Paradigma kontruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigma lainnya, yaitu, ontologi, epistemologi, dan metodologi. Pada level ontologi, paradigma konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk, dan maknanya berbeda bagi tiap orang. Dalam epistemologi, peneliti menggunakan pendekatan subjektif karena dengan cara itu bisa menjabarkan pengkonstruksian makna oleh individu. Dalam metodologi, paradigma ini menggunakan berbagai macam jenis pengkonstruksian dan menggabungkannya dalam sebuah konsensus. Proses ini melibatkan dua aspek, yaitu hermeneutik dan dialetik. Hermeneutik merupakan aktivitas dalam mengkaji teks, percakapan, tulisan, atau gambar. (Hidayat, 2003: 53).

Metode yang digunakan adalah metode analisis semiotik, secara singkat dapat dinyatakan bahwa analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang pesan atau teks. Selain itu semiotik adalah suatu ilmu atau metode untuk mengkaji dan menganalisis tanda. Tanda-tanda adaalah perangkat yang dipakai dalam upaya berusaha mencari jalan atau solusi dalam menganalisis bahan penelitian.

(6)

LANDASAN TEORITIS

Film atau gambar hidup juga sering disebut movie. Film secara kolektif sering disebut “sinema”. Gambar hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan dan juga bisnis. Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan atau oleh animasi. Film dalam hal ini adalah filt teatrikal yaitu film yang secara khusus untuk dipertunjukkan di gedung-gedung pertunjukan. Secara harfiah, film (sinema) adalah sinematografi yang berasal dari kata cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau grhap (tulisan, gambar, citra). Jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar dapat melukis gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut kamera.

Film adalah alat komunikasi massa yang mengoperasikan lambang-lambang komunikasinya dalam bentuk bayangan hidup di atas bayangan putih, hal ini dilakukan atas bantuan proyektor, sedangkan filmnya sendiri adalah rentetan foto di atas seloid. Film adalah alat komunikasi massa yang mengoperasikan lambang-lambang komunikasinya dalam bentuk bayangan hidup di atas bayangan putih, hal ini dilakukan atas bantuan proyektor, sedangkan filmnya sendiri adalah rentetan foto di atas seloid.

Film memberikan pengaruh yang besar pada jiwa manusia. Dalam satu proses menonton film, terjadi suatu gejala yang disebut oleh ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan peran film. Penonton bukan hanya dapat memahami atau merasakan seperti yang dialami oleh salah satu pemeran, lebih dari itu mereka juga seolah-olah mengalami sendiri adegan-adegan dalam film.

Pengaruh film akan membekas dalam jiwa penonton. Lebih jauh pesan itu akan membentuk karakter penonton. Pengaruh film terhadap jiwa manusia disebabkan karena, pertama disebabkan oleh suasana didalam gedung bioskop, dan kedua dikarenakan sifat dari media massa itu sendiri, pada saat film akan dimulai, lampu-lampu dimatikan, pintu-pintu ditutup, sehingga dalam ruangan itu sangat gelap sekali. Tiba-tiba tampak pada layar besar yang dihadapanya tampak gambar-gambar yang merupakan cerita yang pada umumnya bersifat drama. Seluruh mata tertuju pada layar, segenap perhatian dan seluruh perasan tercurah pada film.

Media dakwah melalui seni dan budaya sangat efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan idfeologi Islam. Film dakwah adalah peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten ajaran keislaman dalam cerita dan adegannya. (Arifin, Anwar, 2011).

Film sebagai media komunikasi bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur juga bisa menjadi tontonan sebagai tuntunan dengan terdapatnya pesan-pesan dakwah didalamnya. Selama ada nilai-nilai kebaikan yang di propagandakan kepada penonton melalui film tersebut, maka itu sudah bisa dikatakan sebagai film dakwah. Media dakwah merupakan salah satu komponen

(7)

dakwah, sekalipun media dakwah bukan penentu utama bagi kegiatan dakwah, akan tetapi media ikut memberikan andil yang besar untuk kesuksesan dakwah. Pesan dakwah yang penting dan perlu selera diketahui semua lapisan masyarakat, mutlak memerlukan media radio, koran, majalah maupun film. Media dakwah dapat berfungsi secara efektif bila dapat menyesuaikan diri dengan pendakwah, pesan dakwah, dan mitra dakwah. Selain ketiga unsur utama ini, media dakwah juga perlu menyesuaikan diri dengan unsur-unsur dakwah yang lain, seperti metode dakwah dan logistik dakwah. Pilihan media dakwah sangat terkait dengan kondisi unsur-unsur dakwah. (Bungin, Burhan, 2008: 97)

Film menunjukkan sejarah yang ditinggalkan pada masa lampau, menunjukkan masa kini, dan keinginan manusia terhadap masa yang akan datang, sehingga dalam perkembangannya film bukan lagi sekedar usaha menampilkan cerita bergerak (Moving Images), namun juga diikuti oleh muatan-muatan kepentingan tertentu. Maka dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju, telah menciptakan perubahan dalam banyak hal, sehingga beragai kalangan berlomba untuk memanfaatkan teknologi canggih untuk dijadikan media komunikasi sebagai sarana dakwah.

Dakwah Islami melalui kecanggihan teknologi dengan memanfaatkan informasi modern seperi film akan lebih efisien daripada dakwah kultural yang masih harus menyesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah. Karena selain film sebagai media komunikasi, film juga dapat berfungsi sebagai media dakwah, yaitu untuk mengajak kepada kebenaran dan kembali pada jalan Allah SWT. Faridl, Miftah. 2000: 19)

Film sebagai media dakwah, tentunya mempunyai kelebihan-kelebihan tesendiri dibandingan dengan media lainnya. Dengan kelebihan itulah film dapat menjadi media dakwah yang efektif, dimana pesan-pesannya dapat tersampaikan kepada penonton secara halus dan berkesan. Oleh karena aitu, selain film hadir dalam bentuk penglihatan dan pendengaran, film juga dapat memberikan pengalaman-pengalaman baru kepada para penonton, seperti adanya nuansa perasaan dan pemikiran.

Dengan demikian, film dengan menampilkan kebudayaan Islam dan membawa misi bagi keselamatan bagi seluruh umat manusia, nampak sudah semakin penting untuk menjadikan bahan pemikiran yang serius b0agi kalangan muslim, khususnya mereka yang bergerak di bidang dakwah.

Keberadaan dakwah sangat urgen dalam Islam. Dakwah dan Islam tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Karena pentingnya dakwah itulah, maka dakwah bukan pekerjaan yang difikirkan dan dikerjakan sambil lalu saja melainkan suatu pekerjaan yang telah diwajibkan bagi setia pengikutnya. Dasar kewajiban dakwah tersebut terdapat dalam kedua sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Agama Islam adalah agama yang menganut ajaran kitab Allah yakni Al-Qur’an yang mana merupakan sumber utama ajaran-ajaran Islam. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali yang membahas tentang masalah dakwah. Oleh karena itu materi dakwah Islam dari sumber Al-Qur’an. Didalam Sunnah Rasul banyak kita temui Hadist-Hadist

(8)

yang berkaitan dengan dakwah. Begitu juga sejarah hidup, perjuangan dan cara-cara yang dipakai dalam menyiarkann dakwah.

Jadi, pengertian dakwah merupakan sebuah kegiatan atau ajakan, yang mana dakwah tersebut dapat dilakukan secara sadar dan be0rencana, tentunya dalam upaya mempengaruhhi orang lain baik secara individu maupun secara keompok, supaya timbul dalam dirinya sebuah kesadaran, baik dalam sikap penghayatan maupun pengalaman terhadap ajaran agama Islam, dan sebagai pesan yang disampaikan kepadanya tanpa ada faktor keterpaksaan dari siapapun.

Secara umum, definisi dakwah menunjuk pada kegiatan yang be0rtujuan perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan peningkatan iman, mengingat sasaran dakwah adalah iman. Unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur dakwah adalah faktor atau muatan-muatan yang mendukung aktivitas dakwah itu sendiri, artinya satu kesatuan yang saling mendukung dan mempengaruhi antara unsur satu dengan yang lainnya, antara lain : (a) Subjek Dakwah. Yang dimaksud dengan subjek dakwah adalah da’i. Da’i adalah orang yang melaksanaka dakwah baik lisan maupun tulisan atau pun perbuatan baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga. Da’i sering disebut kebanyakan orang dengan mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam). (b) Objek Dakwah. Objek Dakwah (mad’u) adalah merupakan sasaran dakwah. Yang tertuju pada masyarakat luas, mulai diri pribadi, keluarga, kelompok, baik yang menganut Islam maupun tidak, dengan kata lain manusia secara keseluruhan. (c) Metode Dakwah. Secara etimologi, metode berasal dari bahasa Yunani, Motodos yang berarti cara atau jalan. Jadi metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Bagaimanapun caranya, ada beberapa dasar metode dalam melakukan dakwah yang lebih efisien. Dakwah bertujuan menciptakan suatu tatanan kehidupan individu dan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera yang dinaungi oleh kebahagiaan, baik jasmani maupun rohani, dalam pancaran sinar agama Allah dengan mengharap ridho-Nya.

Tujuan dakwah adalah suatu faktor yang menjadi pedoman arah proses yang dikendalikan secara sistematis dan konsisten. Dalam kegatan dakwah selalu terjadi proses interaksi, yaitu antara hubungan da’i dengan mad’u (objek dakwah). Interaksi dalam prposes dakwah ini ditunjukan menpengaruhi mad’u yang akan membawa perubahan sikap dengan tujuan dakwah itu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang dimiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”, dengan demikian, semiotik mempeajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda.

Studi sistematis tentang tanda-tanda dikenal sebagai seminologi. Arti harfiah adalah “kata-kata mengenai tanda-tanda”. Kata semi dalam semiologi berasal dari semion (bahasa latin), yang artinya “tanda-tanda”. Semiologi telah

(9)

dikembangkan untuk menganalisis tanda-tanda. Semiotika berhubungan dengan antara tanda, penanda, dan pikiran manusia. Tradisi ini sangat berpengaruh dalam membantu kita melihat bagaimana tanda dan simbol digunakan, apa maknanya, dan bagaimana mengaturnya. Biasanya terdiri atas campuran simbol-simbol yang diatur secara spesial dan kronologis untuk menciptakan sebuah kesan, menyampaikan sebuah gagasan, atau memunculkan sebuah pemaknaan pada audiens. Semiotika telah memberikan alat bantu yang kuat untuk menguji pengaruh media massa, bagi ahli semiotika, isi adalah penting, tetapi isi merupakan hasil dari penggunaan tanda-tanda. (LittleJohn, 2009: 134)

Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis semiotika. Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara, kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tandatanda yang menggambarkan sesuatu. (Budiman, Kris. 2003: 115)

Analisa semiotik berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang tersembunyi di balik sebuah tanda. Karena sistem tanda sifatnya amat kontekstual dan bergantung pada penggunaan tanda tersebut. Pemikiran pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai kontruksi sosial di mana pengguna tanda tersebut berada (Kriyantono, 2006:264).

Yang dimaksud “tanda” ini sangat luas , dibedakan atas lambang (symbol), ikon (icon),indeks (index) (Kriyantono, 2006: 264). Dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Lambang: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional. (b) Lambang ini adalah tanda yang dibentuk karena adanya consensus dari para pengguna tanda. Warna merah bagi masyarakat Indonesia adalah lambang berani, mungkin di Amerika bukan. (c) Ikon: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya berupa hubungan kemiripan. Jadi, ikon adalah bentuk tanda yang dalam berbagai bentuk menyerupai objek dari tanda tersebut. Patung kuda adalah ikon dari seekor kuda.

Indeks: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya timbul karena ada kedekatan eksistensi. Jadi indeks adalah suatu tanda yanmg mempunyai hubungan langsung (kausalitas) dengan objeknya.

Fokus perhatian Barthes lebih tertuju kepada gagasan tentang signifikasi dua tahap atau dua tatanan pertandaan (two order of signification) yang terdiiri dari first orderof signification yaitu denotasi, dan second order of signification yaitu konotasi. Tatanan yang pertama mencakup pertanda yang berbentuk tanda yang disebut makna denotasi.

Semiotika atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana keanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things).

(10)

“Memaknai (to signify) dalam hal ini ridak dapat dicampuradukka dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda” (Kurniawan, 2001: 53).

Roland Barthes dalam membedah mitos-mitos budaya massa (2007) menyatakan :

“Tanda dan lambang tersebut dapat dianalisis dengan memahami teks sebgaai mitos. Mitos di sini bukanah seperti cerita-cerita tradisional, namun dalam kacamata Barthes, mitos adalah semacam wicara ( a type of speech), cara mengungkapkan sesuatu. Segalanya dapat menjadi mitos asal hal itu disampaikan lewat wacana (discourse). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku pada suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda, namun juga sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya, atau dengan kata lain, mitos juga adalah suatu sistem pemaknaan tataran kedua.

Pertimbangan Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena, baik dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda denotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman, dalam Sobur, 2006:71). Seperti Marx, Barthes juga memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam imajiner dan ideal, meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. Ideologi mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain.

Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi islah kata yang digunakan Barthes untuk menjelaskan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan yang terjadi ketika gambar bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nili-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai nilai subyektif atau paling tidak intersubyektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pilihan terhadap konotasi, misalnya kata “penyuapan” dengan “memberi uang pelicin”. Dengan kata lain, deotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah obyek, sedangan konotasi adalah adalah bagaimana menggambarkannya (Sobur, Alex, 2012: 87). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaaannya. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif.

Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan ini, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tetang realitas atau gejala alam. Jadi, mitos dalam pemahaman semiotika Rolan Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai

(11)

sosial sebagai sesuatu yang dianggap alamiah (Barthes, Roland. 2012: 121). HASIL DAN PEMBAHASAN

Komunikasi dakwah ahli hikmah kepada pasien dengan pendekatan terapeutik dilakukan di empat kecamatan kabupaten Subang, yaitu kecamatan Jalancagak, Kasomalang, Dawuan dan Subang. Penentuan keempat kecamatan tersebut didasarkan pada ketersediaan data utama penelitian berkaitan dengan keberadaan ahli hikmah yang melakukan komunikasi dakwah kepada pasien dengan menggunakan pendekatan terapeutik.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh temuan bahwa praktek komunikasi dakwah melalui pendekatan terapeutik dilakukan oleh ahli hikmah sebagai penyampai pesan yang berperan sebagai da’i. Hal ini didasarkan pada aktivitas ahli hikmah yang melakukan dakwah di tengah-tengah praktek pengobatan yang dijalankannya. Dakwah tersebut disampaikan kepada para pasien sebagai penerima pesan dakwah yang berperan sebagai mad’u.

Penerapan Komunikasi Dakwah Ahli Hikmah dengan Pendekatan Terapeutik

Dakwah pada dasarnya merupakan proses penyelenggaraan suatu usaha yang dilakukan dengan sadar dan sengaja, baik dengan cara mengajak orang untuk beriman dan mentaati Allah Swt, atau memeluk agama Islam dan juga menjalankan amar ma’ruf nahi munkar untuk mencapai tujuan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat (Tajiri, 2015: 16). Merujuk kepada makna tersebut, maka dakwah berarti memperjuangkan yang ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah ditetapkan oleh Allah Swt agar manusia menjadi tunduk dan patuh kepada Allah Swt.

Sebagai suatu aktivitas yang di dalamnya berisi ajakan atau seruan, maka proses dakwah berkaitan erat dengan persoalan komunikasi. Sehingga aktivitas dakwah merupakan kegiatan komunikasi dimana seorang pendakwah (da’i) mengkomunikasikan pesan dakwahnya kepada orang yang didakwahi (mad’u), baik secara kelompok maupun personal. Dan sebelum suatu pesan dakwah dapat dikonstruksikan untuk disampaikan kepada komunikan dengan tujuan mempengaruhi dan mengajak di dalamnya harus terdapat materi/ pesan dakwah yang dirumuskan sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa aktivitas dakwah merupakan sebuah kewajiban setiap umat Islam untuk mengamalkan, mengajak dan menyeru kepada orang lain dalam hal amar ma’ruf dan nahi munkar agar manusia dapat mematuhi Allah Swt dalam ketaatan dan keimanan kepada Allah Swt. Aktivitas dakwah ini pada prakteknya sangat beragam dilakukan oleh umat Islam sesuai dengan konteks pendekatan, media dan sasarannya masing-masing. Salah satunya adalah aktivitas dakwah yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan terapeutik dengan sasaran dakwah yakni para pasien. Kondisi ini seperti terjadi di kabupaten Subang dimana dakwah dilakukan kepada para pasien dengan memakai

(12)

pendekatan terapeutik. Jika pada umumnya dakwah dilakukan oleh seorang ulama sebagai da’i atau muballigh, maka pada konteks dakwah dengan pendekatan terapeutik kepada pasien di kabupaten Subang, pelaku dakwah adalah seorang ahli hikmah yang biasa melakukan pengobatan spirital kepada para pasien.

Melihat karakteristik yang paling khas dari bentuk komunikasi dakwah yang dilakukan oleh ahli hikmah dengan pendekatan terapeutik kepada pasien di kabupaten Subang tersebut, adalah bahwa sasaran dakwah bukanlah masyarakat secara luas melainkan mereka para pasien yang sedang sakit. Kondisi ini tentunya dapat dipahami bahwa para pasien memiliki ciri-ciri khas sebagai sekelompok manusia yang sedang mengusahakan kesembuhan atas penyakitnya. Dengan demikian bentuk dakwah ahli hikmah dengan pendekatan terapeutik di kabupaten Subang dilakukan dengan sasaran dakwah berupa kelompok kecil masyarakat yang sedang mengalami sakit.

Bentuk penerapan komunikasi dakwah sebagaimana terjadi di kabupaten Subang yang dilakukan oleh ahli hikmah dengan pendekatan terapeutik kepada pasien, apabila ditinjau dari sudut pandang ilmu komunikasi dakwah tergolong ke dalam bentuk dakwah fardiyah. Dakwah fardiyah adalah bentuk komunikasi dakwah yang dilakukan secara face to face atau perorangan dalam rangka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah fardiyah juga dimaknai sebagai konsentrasi dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatap muka atau dengan sekelompok kecil dari manusia yang mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat khusus (Nuh, 2000: 47). Dalam hal ini sifat-sifat khusus tersebut tentunya melekat pada diri pasien yang digolongkan sebagai kelompok manusia yang sedang menderita sakit. Oleh karena bentuk dakwah fardiyah dilakukan oleh seorang da’i kepada mad’u secara tatap muka dakwah fardiyah cenderung menggunakan komunikasi antarpribadi atau interpersonal. Komunikasi ini dalam konteks kasus komunikasi dakwah ahli hikmah dengan pendekatan terapeutik terjalin di antara ahli hikmah dan para pasien yang bersifat antarpribadi atau interpersonal.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh temuan bahwa penerapan komunikasi dakwah ahli di kabupaten Subang terhadap para pasien melibatkan berbagai unsur-unsur yang meliputi: Pertama, Penyampai pesan dakwah (komunikator/da’i), yakni seseorang yang bertindak sebagai pelaku utama yang menjalankan aktivitas dakwah. Dalam hal ini penyampai pesan dakwah atau komunikator/da’i yang dimaksud adalah ahli hikmah itu sendiri yang menjadi pelaku utama penerapan dakwah dalam aktivitas pengobatan terhadap para pasien. Mereka para ahli hikmah pada umumnya adalah seorang yang memiliki kemampuan khusus yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penyembuhan pasien. Pada umumnya latar belakang ahli hikmah adalah seorang santri yang dahulunya pernah mesantren atau belajar di pondok pesantren; Kedua, Pesan dakwah yang disampaikan oleh ahli hikmah selaku komunikator kepada para pasien selaku komunikan atau penerima pesan dakwah. Pesan dakwah yang disampaikan ini pada dasarnya berisikan materi-materi yang bersumber dari ajaran Islam. Ketiga, Metode dakwah, yakni suatu cara yang digunakan dalam

(13)

menyampaikan pesan dakwah. Metode dakwah yang digunakan oleh ahli hikmah ini secara umum dilakukan dengan menggunakan nasihat-nasihat islami yang disampaikan kepada para pasien. Metode dengan menggunakan nasihat-nasihat ini di dalam ilmu dakwah dikenal dengan al-Mau’idza al-Hasanah, yakni metode dakwah yang di dalamnya mengandung unsur nasihat atau petuah dan bimbingan kepada kebaikan. Penggunaan metode al-Mau’idza al-Hasanah pada penerapan komunikasi dakwah ahli hikmah kepada pasien di kabupaten Subang ini dianggap tepat mengingat dakwah yang dilakukan ahli hikmah tergolong ke dalam jenis dakwah fardiyah, yakni dakwah yang dilakukan secara individu yang terjadi hanya kepada para pasien yang meminta bantuan pengobatan kepada ahli hikmah. Keempat, efek (atsar) atau tujuan dakwah sebagai hasil akhir atau tujuan dari dilaksanakannya komunikasi dakwah ahli hikmah terhadap para pasien, dalam hal ini adalah adanya perubahan sikap atau tingkah laku pasien yang sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri, yaitu menjadikan pasien sebagai manusia yang lebih baik dan bertakwa kepada Allah Swt.

Dari hasil wawancara dan observasi ahli hikmah yang melakukan komunikasi dakwah di empat kecamatan di kabupaten Subang yaitu; pertama, Sunarto di kecamatan dawuan, Kedua, Ruyani di kecamatan Jalancagak. Ketiga, Ondi kecamatan Sagalaherang, Keempat, Gaos Kecamatan Subang.

Pesan Komunikasi Dakwah Ahli Hikmah Melalui Pendekatan Terapeutik Salah satu unsur di dalam penerapan komunikasi dakwah ahli hikmah melalui pendekatan terapeutik kepada para pasien di kabupaten Subang adalah adanya pesan dakwah yang disampaikan oleh ahli hikmah selaku penyampai pesan dakwah kepada para pasien selaku penerima pesan dakwah. Pesan dakwah ini di dalamnya berisikan materi-materi ajaran Islam atau syari’at Islam dan bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.

Pesan komunikasi dakwah ahli hikmah melalui pendekatan terapeutik kepada pasien di empat kecamatan kabupaten Subang berupa materi-materi ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Materi-materi yang disampaikan di dalam pesan dakwah ahli hikmah tersebut meliputi materi akidah, materi syari’ah dan akhlak.

Pertama, akidah yang merupakan hal yang paling pokok dan mendasar dalam ajaran Islam mengingat kedudukannya sebagai pondasi keyakinan seorang muslim terhadap Allah Swt. Bahkan bisa dikatakan bahwa akidah merupakan inti dari ajaran Islam dimana setiap orang wajib mengimani Allah Swt sebagai Tuhan semesta alam. Akidah berkaitan erat dengan urusan keimanan seseorang kepada Allah Swt sebagai Tuhan semesta alam. Oleh karena itu masalah akidah ini menjadi bagian sangat penting yang harus disampaikan di dalam aktivitas dakwah untuk menguatkan keimanan kepada Allah Swt. Tanpa akidah yang kuat dan kokoh, keimanan seorang muslim akan rapuh dan mudah digoyahkan sehingga penanaman akidah menjadi persoalan penting untuk selalu disampaikan oleh seorang da’i kepada mad’u dalam rangka menanamkan keyakinan kepada mad’u agar keimanan mad’u menjadi bertambah kokoh kepada Allah Swt. Akidah

(14)

didefinisikan sebagai sesuatu yang diyakini dan dipegang teguh, sukar sekali untuk diubah. Ia beriman berdasarkan dalil-dalil yang sesuai dengan kenyataan, seperti beriman kepada Allah Swt, para Malaikat Allah, kitab-kitab Allah, dan Rasul-rasul Allah, adanya kadar baik dan buruk, dan adanya hari akhir (Qadir Ahmad, 2008: 116). Selanjutnya akidah Islam didefinisikan sebagai suatu sistem kepercayaan Islam yang mencakup di dalamnya keyakinan kepada Allah Swt dengan jalan memahami nama-nama dan sifat-sifatnya, keyakinan terhadap Malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab suci, serta hal-hal yang bersifat eskatologis (Ilyas, 2004: 4). Adanya materi akidah yang disampaikan dalam komunikasi ahli hikmah di kabupaten Subang dapat diidentifikasi dari penyampaian pesan ahli hikmah kepada pasien mengenai perihal kesembuhan adalah atas kehendak Allah Swt yang memberikan, pesan bahwa pada hakikatnya segala penyakit itu datang dari Allah Swt, pesan agar tidak syirik dan hanya bergantung kepada Allah Swt dalam meraih kesembuhan. Adapun perbuatan meminta bantuan kepada ahli hikmah di dalam pengobatan hanyalah sebagai bentuk ikhtiar dan usaha saja yang sudah menjadi kewajiban bagi manusia.

Kedua, syariah yakni hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk hamba-hamba-Nya yang dibawa oleh seorang rasul Muhammad Saw, baik itu sebagai hukum furu’ (cabang) dan al-‘amaliyah (perbuatan) dan untuknya dihimpunlah “ilmu fiqh” (Djazuli, 2005: 1-2). Syaltut menjelaskan bahwa syari’ah meru pakan cabang dari akidah yang merupakan pokoknya. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Akidah merupakan fondasi yang dapat membentengi syari’ah, sementara syari’ah merupakan perwujudan dari fungsi kalbu dalam berakidah (Syaltut, 1966: 12). Bidang syariah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar, pandangan yang jernih, kejadian yang cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil dalam melihat setiap persoalan, sehingga umat Islam tidak terjerumus ke dalam kejelekan, sementara yang diinginkan dalam dakwah adalah kebaikan (Munir, 2006: 26). Oleh sebab itu materi mengenai syari’ah di dalam dakwah penting untuk disampaikan oleh seorang da’i kepada mad’u. Materi mengenai syariah dapat dilihat dari pesan dakwah yang disampaikan oleh ahli hikmah kepada pasien mengenai nasihat untuk lebih giat menjalankan shalat lima waktu dan tidak menunda-nundanya, melaksanakan shalat tahajjud, berdzikir, berdo’a dan membaca al-Qur’an.

Ketiga, akhlak yakni sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di muka bumi. Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam, dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya serta ijtihad sebagai metode berfikir Islami. Pola sikap dan tindakan yang dimaksud mencakup pola-pola hubungan dengan Allah, sesama manusia (termasuk dirinya sendiri), dan dengan alam (Nurdin, dkk: 1955: 2009). Para ahli bahasa mengartikan akhlak dengan istilah watak, tabi’at, kebiasaan, perangai dan aturan (Aminuddin, 2006: 93). Secara etimologis kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plural) dari kata khuluqun “ﻖﻠﺧ” yang menurut bahasa, berarti budi pekerti,

(15)

perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi persesuaian dengan perkataan khalaqun “ﻖﻠﺧ”yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khalik “ﻖﻟﺎﺧ” yang berarti pencipta, demikian pula makhluqun “ﻕﻮﻠﺨﻣ” yang berarti yang diciptakan. Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khalik dengan makhluk (Mushtofa, 2008: 11)

Dengan demikian pesan akhlak di dalam ilmu komunikasi dakwah memiliki keterkaitan erat dengan pesan mengenai perangai atau kebiasaan manusia, perangai atau kebiasaan tersebut baik berupa akhlak manusia terhadap Allah Swt, akhlak manusia terhadap sesama manusia dan akhlak manusia terhadap alam semesta dan lingkungannya. Sehingga kemudian akhlak bisa berarti positif dan bisa pula negatif. Yang termasuk positif adalah akhlak yang sifatnya benar seperti amanah, sabar, jujur, tawakkal dan sifat-sifat baik lainnya. Sedangkan akhlak yang negatif adalah akhlak yang sifatnya buruk, seperti sombong, dendam, dengki, khianat dan lain-lain. Oleh sebab itu penerapan akhlak secara praktis tidak hanya berhubungan dengan sang khalik yakni Allah Swt namun juga dengan sesama dengan manusia dan alam lingkungannya (Daud Ali, 2008: 357). Berdasarkan terminologi ini akhlak memiliki cakupan yang sangat luas dan hampir ada di seluruh persendian kehidupan manusia mengingat akhlak itu sendiri berkaitan dengan tabiat dan kebiasaan manusia di dalam menjalankan kehidupannya. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa di antara pesan dakwah dakwah yang disampaikan oleh ahli hikmah kepada pasiennya adalah materi mengenai akhlak. Materi akhlak sebenarnya memiliki cakupan yang sangat luas, sama luasnya dengan perilaku dan sikap manusia itu sendiri. Nabi Muhammad Saw bahkan menempatkan akhlak sebagai pokok kerasulan-Nya. Hal ini sebagaimana dapat dilihat di dalam sebuah hadits berikut:

ﺎَﻤﱠﻧِﺇ

ِﻌُﺑ

ُﺖْﺜ

َﻢِّﻤَﺗُﻷ

َﻡ ِﺭﺎَﻜَﻣ

ِﻕﻼْﺧَﻷﺍ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (H.R. Bukhari).

Di dalam hadits tersebut di atas secara tegas Rasulullah Saw menyebutkan bahwa beliau diutus bertujuan untuk menyempurnakan akhlak. Oleh karena itu ajaran Islam secara keseluruhan di dalamnya mengandung pengajaran-pengaran mengenai akhlak yang luhur, akhlak yang terpuji baik akhlak tersebut mencakup akhlak terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama manusia dan alam sekitar. Sebagai materi di dalam penyampaian pesan dakwah, pada dasarnya materi akhlak merupakan elemen ketiga dari ajaran Islam sebagai materi dakwah, setelah akidah dan syariah. Akidah menyangkut permasalahan yang harus diimani dan diyakini oleh manusia sebagai sesuatu yang hakiki. Syariah mengenai berbagai ketentuan berbuat dalam menata hubungan baik dengan Allah dan sesama makhluk. Sementara akhlak menyangkut berbagai masalah kehidupan yang berkaitan dengan ketentuan dan ukuran baik dan buruk atau benar salahnya suatu perbuatan. Dengan demikian materi mengenai akhlak merupakan persoalan yang

(16)

sangat penting untuk disampaikan oleh seorang da’i kepada mad’u.

Adapun materi akhlak dapat diidentifikasi melalui pesan yang disampaikan ahli hikmah kepada pasien mengenai nasihat sabar, tawakkal, tidak buruk sangka kepada Allah Swt, shodaqoh, menjaga kebersihan lingkungan dan lain sebagainya. Metode Komunikasi Dakwah Ahli Hikmah dengan Pendekatan Terapeutik

Pada aktualisasi nilai agama dalam tahlilan, setidaknya ada dua aspek yang terdapat dalam sosialisasi nilai agama yakni adanya penerapan nilai agama dalam aspek spiritual dan juga adanya penerapan nilai agama dalam aspek sosial. Melalui adanya aktualisasi nilai agama dapat disimpulkan bahwa dalam tahlil adanya suatu pembiasaan nilai agama pada masyarakat nahdliyin. Adanya pembiasaan nilai agama tersebut merupakan tahap akhir setelah melewati tahapan-tahapan atau proses sebelumnya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya pembiasaan nilai agama bagi masyarakat nahdliyin kemudian nilai agama tersebut diimplementasikan dalam kehidupan mereka yang dibuktikan dalam amal nyata atau dalam bentuk perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya.

Bagi masyarakat nahdliyin adanya tahlilan memberikan dampak tersendiri bagi diri mereka. Semua itu dapat dilihat dengan terealisasinya nilai agama Islam dalam kehidupan masyarakat dan juga lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat dapat ditunjukkan dengan bagaimana nilai agama tersebut dapat menyadarkan hubungan warga nahdliyin dengan Allah, atau dalam arti lain adalah hablum minallah.

Selain itu, pada aspek lain dapat ditunjukkan dengan bagaimana nilai agama tersebut terbentuk melalui hubungan warga nahdliyin dengan masyarakat lainnya, atau dalam kata arti lain adalah hablum minannas. Budaya tahlilan dapat dijadikan sebagai media kohesivitas sosial atau kedekatan antar masyarakat, mempererat solidaritas masyarakat, dan mempererat silaturrahmi (ukhuwah islamiyah).

Bagi masyarakat nahdliyin, tahlilan adalah salah satu media untuk membina spiritual mereka kepada Allah. Adanya bacaan kalimat “tahlil” selain salah satu bacaan dzikir, merupakan kalimat yang memberikan penyadaran akan mengingat kematian. Sebaik-baiknya manusia ketika wafat adalah mereka yang membaca kalimat tahlil. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh H. Rojali yang menyatakan bahwa:

“Ritual do’a bersama, berdizikir dalam tahlilan itu merupakan ibadah dalam rangka membina spiritual kepada Allah. Selain itu dalam tahlilan intinya adalah do’a, sedangkan do’a salah satu bentuk untuk melatih spiritual untuk senantiasa meminta kepada Allah.” (Wawancara 29 April 2019).

Hal lain diungkpkan oleh Juanda bahwa pelajaran yang paling utama dalam tradisi ini adalah dapat melatih untuk selalu mengucap dzikir. Selain itu, tradisi ini juga menjadi media untuk mengingat kematian agar dirinya senantiasa mengingat hari kematian tersebut, sehingga akan timbul kesadaran untuk berbuat kebaikan selama hidup. Hal tersebut merupakan suatu upaya untuk menjadikan hidupnya

(17)

agar selalu mengingat Allah.

“Bagi saya hal yang utama dalam tradisi tahlilan ini adalah mengingat kematian. Selain itu, melatih untuk saya senantiasa berdzikir dan mengucap kalimat-kalimat thoyyibah sehingga membuat diri kita itu ingat terus kepada Allah. Sehingga dengan begitu timbul kesadaran bahwa dengan ingat kematian, ada upaya untuk selalu bersikap positif dan menyadarkan diri bahwa segala di dunia ini sudah diatur oleh Allah termasuk ajal kita. Maka secara otomatis selalu ada upaya untuk memperbaiki ibadah” (Wawancara 29 April 2019).

Solidaritas masyarakat yang begitu tinggi akan kepedulian terhadap sesama, dalam kontek ini dapat dilihat dengan antusiasnya masyarakat yang ikut mendo’akan bahkan ikut membantu keluarga yang terkena musibah. Hal itu mereka lakukan semata-mata karena keikhlasan tanpa untuk mendo’akan dan perduli terhadap duka orang lain.

“Masyarakat disini sangat antusias untuk hadir dalam tahlilan. Kalau saya pribadi didasari oleh keikhlasan. Ini merupakan bentuk dari adanya rasa solidaritas di antara masyarakat di Desa Cipadung. Semua masyarakat guyub menjadi satu, dari mana-mana datang” (Wawancara 29 April 2019).

Pada tahlilan di dapatkan bahwa adanya penerapan nilai agama Islam baik pada aspek spiritual maupun pada aspek sosial. Nilai agama tersebut tercermin dengan adanya penyadaran masyarakat akan hal ibadah kepada Allah atau hablum minallah dan penyadaran masyarakat akan hablum minannas.

Adanya penerapan nilai agama baik dalam aspek spiritual dan aspek sosial pada masyarakat nahdliyin di Kelurahan Cipadung, hal tersebut merupakan dari bagian proses aktualisasi nilai agama Islam pada masyarakat. Adanya pembiasaan nilai agama merupakan turunan dari aktualisasi nilai agama Islam.

Adanya pembiasaan nilai agama merupakan kegiatan yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus. Sehingga tujuan dari pembiasaan tersebut adalah untuk memperkuat nilai-nilai tertentu agar menjadi permanen (Khomsiyah, 2015: 125). Melalu adanya tradisi tahlilan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama Islam telah teraktualisasikan melalui adanya kegiatan yang dilakukan secara konsisten hingga sampai saat ini. Lebih jauh dari pada itu, bahwa output dalam aktivitas dakwah pada tahlilan adalah masyarakat mampu memanifestasikan nilai agama sesuai dengan ajaran Islam dalam bentuk sikap atau perlaku pada keseharian mereka.

Menurut Beatty intisari dari ajaran Islam bagi kehidupan masyarakat yang begitu kuat akan kulturnya terletak pada hadirnya suatu tradisi dalam kehidupan mereka (Beatty, 1999: 28). Hal tersebut didasari bahwa praktek keagamaan tertentu memiliki nilai tersendiri bagi mereka. Tradisi yang dimaksud disini adalah suatu tradisi keagamaan yang di dalamnya memiliki suatu nilai keagamaan yang kemudian nilai tersebut telah menyatu dalam kehidupan masyarakat.

Pendapat lain dikemukakan oleh Shein sebagaimana yang dikutip oleh Khomsiyah bahwa kata kunci dalam pengertian budaya bagi masyarakat yakni menganggap pasti terhadap sesuatu (asumsi). Asumsi tersebut meliputi adanya

(18)

keyakinan dan nilai. Keyakinan merupakan asumsi dasar tentang pandangan mereka terhadap sesuatu dan merupakan ekspresi material yang diperoleh oleh suatu kelompok masyarakat. Sedangkan nilai merupakan ukuran normatif yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam bertindak (Khomsiyah, 2015: 128). Sehingga secara definitif dapat dikatakan bahwa budaya keagamaan yang diyakini oleh masyarakat memiliki nilai serta kepercayaan tersendiri sehingga budaya tersebut menjadi suatu pembiasaan masyarakat dalam bersikap.

Aktualisasi nilai agama merupakan poin penting dalam proses dakwah, karena dari pengaruh setelah adanya dakwah itulah yang menunjukkan keberhasilan suatu dakwah (Barmawi, 2017: 21). Hal tersebut ditandai dengan masyarakat dapat menjalankan nilai-nilai tersebut dalam aspek kehidupan mereka. Respon Pasien Terhadap Komunikasi Dakwah Ahli Hikmah dengan Pendekatan Terapeutik

Dilihat dari segi pengertian etimologis, respon berasal dari kata response, yang berarti jawaban, balasan atau tanggapan (reaction) (Echoles dan Shadily, 2003: 481). Pernyataan serupa juga ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI:2000), yang menyebutkan bahwa secara bahasa respon berarti tanggapan, reaksi dan jawaban. Tanggapan, reaksi dan jawaban ini timbul setelah didahului oleh tindakan, aksi dan pertanyaan sehingga kemunculan respon pada dasarnya menjadi sebuah akibat dari keberadaan sebab terdahulu. Menurut pengertian terminologis dijelaskan bahwa respon adalah suatu kegiatan (activity) dari organisme itu bukanlah semata-mata suatu gerakan yang positif, setiap jenis kegiatan (activity) yang ditimbulkan oleh suatu perangsang dapat juga disebut respon. Secara umum respon atau tanggapan dapat diartikan sebagai hasil atau kesan yang didapat (ditinggal) dari pengamatan tentang subjek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan (Rahmat, 2013: 51). Berdasarkan pengertian ini dipahami bahwa respon diperoleh sebagai hasil yang didapat dari penyimpulan sebuah informasi dan menafsirkan pesan-pesan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa respon adalah suatu reaksi atau tanggapan seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang muncul sebelumnya, dimana biasanya stimulus tersebut berpengaruh terhadap diri sesorang sebagai sebuah reaksi. Karena itu fase selanjutnya adalah muncul suatu reaksi yang beraneka ragam baik sebatas pengetahuan atau pendapat, perasaan, maupun sikap atau perilaku sebagai wujud respon yang ditampilkan.

Dalam hubungannya dengan komunikasi dakwah, maka respon dapat dimaknai sebagai reaksi yang ditimbulkan oleh mad’u i sebagai penerima pesan dakwah. Reaksi tersebut muncul setelah da’i menyampaikan komunikasi dakwah kepada mad’u. Pada tahap selanjutnya reaksi tersebut berwujud macam-macam, ada yang berupa pengetahuan, tanggapan, perasaan, sikap atau perilaku sebagai respon yang ditampilkan. Berdasarkan keterangan ini maka dapat dipahami bahwa dalam hubungannya dengan komunikasi dakwah ahli hikmah di kabupaten

(19)

Subang, respon yang dimaksud adalah reaksi baik berupa pengetahuan atau pendapat, perasaan, maupun sikap atau perilaku yang ditimbulkan oleh pasien selaku penerima pesan dakwah (mad’u) setelah mendapatkan perlakuan dakwah berupa komunikasi dakwah yang disampaikan oleh ahli hikmah sebagai penyampai pesan dakwah (da’i).

Pada dasarnya pasien merasa senang didakwahi oleh ahli hikmah melalui nasihat-nasihat kebaikan yang oleh pasien dirasakan memberikan efek positif bagi dirinya sehingga pasien kemudian menerima nasihat yang disampaikan oleh ahli hikmah kepadanya dengan suka rela dan pada tahap selanjutnya timbul dorongan berupa kesadaran diri pasien untuk mempraktekkan apa yang dinasihatkan oleh ahli hikmah. Hal ini sebenarnya menjadi bagian dari identifikasi kesuksesan dakwah ahli hikmah bahwa bahwa komunikasi dakwah yang dilaksanakan oleh ahli hikmah mendapatkan reaksi atau respon positif dari pasien yang telah didakwahinya. Respon tersebut ditunjuukkan dengan perasaan senang dan adanya dorongan kesadaran yang tumbuh dari diri pasien untuk mewujudkan apa yang dinasihatkan oleh ahli hikmah melalu sikap atau tingkah laku.

Sebagaimana disebutkan bahwa di antara respon yang ditunjukkan oleh pasien dalam komunikasi dakwah yang dilakukan oleh ahli hikmah di kabupaten Subang adalah tumbuhnya dorongan kuat yang dibarengi dengan realisasi peningkatan amal ibadah pasien untuk menjadi manusia yang lebih baik karena ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal ini ditunjukkan dengan pelaksanaan aktivitas amal ibadah pasien kepada Allah Swt yang meningkat. Pasien memiliki keadaran bahwa setiap amal perbuatannya akan berdampak kepada kehidupannya kelak. Mereka meyakini bahwa apabila mereka berbuat jahat akan mendapatkan dosa dan apabila mereka melakukan amal ibadah akan mendapatkan pahala yang akan membuat mereka bahagia. Dilihat dari perspektif ajaran Islam, pada dasarnya setiap amal ibadah yang dilakukan oleh manusia sebagai hamba Allah Swt akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt yang akan membuat manusia bahagia, demikian sebaliknya amal buruk manusia akan mendatangkan dosa dan siksa yang akan membuat manusia celaka. Semua manusia pada prinsipnya harus mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya, maka dari itu Islam mengajarkan kriteria perbuatan dan kewajiban yang mendatangkan kebahagiaan bukan siksaan (Munir, 2006: 24). Kesadaran untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan kebahagiaan ini pada dasarnya yang menjadi salah satu tujuan dilakukannya kegiatan dakwah mengingat dakwah pada intinya bertujuan untuk membuat manusia bahagia di dunia dan juga di akhirat. Sehingga dakwah diorientasikan dengan term amar ma’ruf dan nahyi munkar. Oleh sebab itu setiap manusia harus meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah Swt dengan jalan melaksanakan segala hal yang telah diwajibkan oleh Allah Swt dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah Swt yang dalam efistimologi ajaran Islam disebut dengan amar makruf dan nahyi munkar sebagai refresentasi ketaatan manusia di hadapan Allah Swt agar mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.

(20)

komunikasi dakwah ahli hikmah di kabupaten Subang adalah timbulnya pandangan dan kesadaran pasien bahwa seorang muslim harus memiliki sikap tidak berburuk sangka kepada Allah Swt ketika ditimpakan kepadanya suatu musibah atau cobaan. Kesadaran ini membuat mereka menjadi lebih berlapang dada di dalam mengahadapi penyakit yang diderita sehingga mereka menjadi lebih sabar dan tawakkal di dalam menghadapi penyakit tersebut. Selain itu pasien sudah senantiasa mengamalkan dzikir secara rutin dan tidak lagi menunda-nunda dalam menjalankan shalat wajib. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi dakwah yang dilakukan oleh ahli hikmah terbilang efektif dalam mempengaruhi para pasien untuk diarahkan kepada tujuan yang dikehendaki oleh ahli hikmah selaku da’i. Dalam hal ini pasien memperlihatkan perubahan terhadap perilakunya menjadi perilaku yang lebih giat dalam beribadah seperti perilaku mengamalkan dzikir dan melaksanakan shalat wajib. Selain itu respon pasien juga dapat dilihat ketika pasien dinasihati untuk menjaga kebersihan tempat tinggalnya yang kemudian dilaksanakan oleh pasien. Kemudian ketika pasien dinasihati untuk mendawamkan membaca al-Qur’an juga dipraktekkan oleh pasin. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi dakwah yang dilakukan oleh ahli hikmah dapat dikatakan berhasil.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa respon yang ditunjukkan oleh pasien terhadap komunikasi dakwah ahli hikmah dengan pendekatan terapeutik di empat kecamatan kabupaten Subang adalah positif dan aktivitas dakwah ahli hikah dapat dikatakan telah berhasil memberikan pengaruh positif kepada para pasien sebagai objek dakwah. Hal ini dapat dilihat dari adanya perasaan senang pasien ketika didakwahi melalui nasihat-nasihat yang disampaikan oleh ahli hikmah. Kemudian pasien juga melakukan apa yang dinasihatkan oleh ahli hikmah, seperti mengerjakan shalat dan tidak menunda-nudanya, melaksanakan shalat tahajjud, mendawamkan membaca al-Qur’an, shodaqoh, sabar, tawakkal dan lain sebagainya. Selain itu respon yang ditunjukkan oleh pasien adalah timbulnya dorongan dan motivasi setelah didakwahi oleh ahli hikmah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah Swt.

PENUTUP

Dari beberapa penjelasan diatas didapatkan kesimpulan Pertama: Penerapan komunikasi dakwah ahli hikmah dilakukan dengan melibatkan unsur-unsur komunikasi meliputi komunikator, pesan, metode dan efek. Penerapan komunikasi dakwah ini lebih fokus kepada ahli hikmah yang bertindak sebagai penyampai pesan dakwah (komunikator/da’i) Kedua, Pesan yang disampaikan dalam komunikasi dakwah ahli hikmah adalah berupa materi-materi ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang meliputi: akidah, syari’ah dan akhlak. Materi akidah seperti nasihat perihal kesembuhan adalah kehendak Allah Swt, hakikat segala penyakit itu datang dari Allah Swt, tidak syirik dan hanya bergantung kepada Allah Swt, sehingga perbuatan meminta bantuan kepada ahli

(21)

hikmah hanyalah sebagai bentuk ikhtiar dan usaha saja. Kemudian materi syariah seperti nasihat untuk lebih giat menjalankan ibadah shalat, berdzikir, berdo’a dan membaca al-Qur’an. Adapun materi akhlak seperti nasihat sabar, tawakkal, tidak buruk sangka kepada Allah Swt, shodaqoh, menjaga kebersihan lingkungan dan lain sebagainya.

Ketiga, Metode dakwah yang digunakan ahli hikmah dalam melakukan komunikasi dakwah adalah metode nasihat (al-Mau’idza al-Hasanah) yang dilakukan dengan cara memberikan nasihat-nasihat tentang kebaikan yang diajarkan di dalam Islam dan bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Penerapan metode ini dianggap tepat mengingat konteks dan karakteristik dakwah yang dilakukan lebih bersifat personal (dakwah fardiyah) yang hanya terjadi di antara ahli hikmah dan pasiennya, sehingga nasihat-nasihat yang disampaikan oleh ahli hikmah kepada pasien dapat dengan mudah diterima oleh pasien selaku objek dan sasaran dakwah.

Keempat, respon pasien terhadap komunikasi dakwah ahli hikmah dapat dikatakan positif dan terbilang berhasil memberikan pengaruh positif kepada para pasien. Hal ini dapat dilihat dari adanya perasaan senang pasien ketika dinasihati. Kemudian pasien senantiasa melakukan apa yang dinasihatkan oleh ahli hikmah, seperti mengerjakan shalat dan tidak menunda-nudanya, melaksanakan shalat tahajjud, mendawamkan membaca al-Qur’an, shodaqoh, sabar, tawakkal dan lain sebagainya. Selain itu respon yang ditunjukkan oleh pasien adalah timbulnya dorongan dan motivasi setelah didakwahi oleh ahli hikmah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah Swt.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, M. A. Q. (2008). Metodologi Pengajaran Agama Islam, terj. H.A. Mustofa. Jakarta: Rineka Cipta.

Ali, M. D. (2008). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Press.

Aliyudin dan A.S, Enjang. (2009). Dasar-dasar Ilmu Dakwah. Bandung: Tim Widya Padjadjaran.

Alwi, H. dkk. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia: Departemen Pendidikan. Jakarta : Balai Pustaka.

Aminuddin. (2006). Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Arifin. (2000). Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Aziz, M. A. (2012). Ilmu Dakwah. Jakarta: PT. Kencana.

Dahro, A. (2012). Psikologi kebidanan: Analisa Perilaku Wanita Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Damaiyanti, M. (2010). Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Kebidanan. Bandung: PT. Refika Aditama.

(22)

Echoles, J. M. dan Shadily, H. (2003). Kamus Bahasa Inggris-Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia.

Ilahi, W. (2013). Komunikasi Dakwah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ilahi, W dan Munir, M. (2006). Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ilyas, Y. (2011). Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam.

Munir, M. (2006). Metode Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group. Mushtofa, A. (2008). Akhlak Tasawuf. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Musadad, A. N. (2016). Persinggungan Islam dan Tradisi Mistik Lokal: Studi Kasus Pananyaan dan Ahli Hikmah di Masyarakat Tasikmalaya dalam Indonesian Journal of Islamic Literature and Muslim Society: Vol. 1, No.1, 47-62. Musliha dan Fatmawati, S. (2010). Komunikasi Keperawatan Plus Materi Komunikasi

Terapeutik. Yogyakarta: Nuha Medika.

Nuh, S. M. (2000). Dakwah Fardiyah; Pendekatan Personal dalam Dakwah. Solo: Era Intermedia.

Nurdin, M. dkk, (1995). Moral dan Kognisi Islam. Bandung: CV. Alfabeta.

Rahmat, J. (2013). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Saputra, W. (2012). Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Setiadi, E. dan Kolip, U. (2011). Pengantar Sosiologi. Jakarta: PT. Kencana Prenada

Media Group.

Sukayat, T. (2015). Ilmu Dakwah Perspektif Filsafat Mabadi ‘Asyarah. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Suparta, M. (2009). Metode Dakwah. Jakarta: Rahmat Semesta.

Suparta, M. dkk. (2003). Metode Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group. Syaltut, M. (1966). Al-Islam Aqidat wa Syari’at. Kairo: Dar al-Qalam.

Tajiri, H. (2015). Etika dan Estetika Dakwah Perspekktif Teologis, Fisiologis dan Praktis. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Evaluasi Admin Nilai Evaluasi Teknis Usulan Biaya. Terkoreksi (Rp)

(7) Proses uji independensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dapat dilakukan oleh unit pengadaan barang/jasa untuk meneliti dan meyakinkan bahwa Pelaku Usaha tidak

Aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran kooperatif tipe.. Numbered Heads Together (NHT) dari pertemuan pertama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi dan penambahan dedak terhadap degradasi protein kasar, produksi VFA dan NH3 limbah ekstraksi gambir

Termasuk jenis paku terestrial yang sangat menyukai habitat lembab dengan akar berbentuk serabut, batang berwarna hijau dan sedkit berbulu, tinggi tumbuhan dapat mencapai

Perilaku hidup bersih dan sehat diberikan dengan tujuan agar pasien dan keluarga ataupun warga sekitar menggunakan air bersih dalam melakukan segala kegiatan,

Hasil penelitian ini menemukan bahwa dari 9 (sembilan) variabel yang diuji, hanya 4 (empat) variabel independen yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan

Begitu potensialnya Pelabuhan Batu Ampar Batam yang merupakan pelabuhan bebas ( free port ) dan kawasan perdagangan bebas ( free trade zone ) maka perlu diadakan studi tentang