• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERATURAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT

NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG

STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI RAJA AMPAT,

Menimbang : a. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat Nomor 5 Tahun 2008 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, sudah tidak relevan dengan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dinamika masyarakat serta adanya kebijakan Negara terhadap daerah dalam hal pengelolaan potensi sumber daya alam dan sumber daya lainnya kepada Daerah; b. bahwa untuk menjawab dan mewujudkan tuntutan

serta kebijakan Negara sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka perlu dilakukan perubahan dan penataan kembali kelembagaan perangkat Daerah Kabupaten Raja Ampat dalam bentuk Lembaga Teknis Daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan huruf b, perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Struktur Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Raja Ampat;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten di Provinsi Irian Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2907 );

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Nomor Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik

(2)

Indonesia Nomor 3041);

3. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151 ) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4842); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 Tentang

Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4245);

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang

Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 197, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4018) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4194);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000, tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 198, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

(3)

4019);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003, tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang

Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4405);

12. Peraturan pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007, Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006

tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah; 16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006

tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah; 17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2006

tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah;

18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2007 tentang Pengawasan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah;

19.

20.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 Tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah;

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Kabupaten Raja Ampat Lembaran Daerah Nomor 02;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH dan

BUPATI RAJA AMPAT MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT.

(4)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Raja Ampat.

2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

4. Kepala Daerah adalah Bupati Raja Ampat.

5. Sekretaris adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Raja Ampat

6. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Raja Ampat, sebagai lembaga mitra sejajar dengan Pemerintah Daerah dan merupakan bagian dari unsur penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

7. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disingkat BAPPEDA adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Raja Ampat.

8. Badan Kepegawaian dan Diklat yang selanjutnya disingkat BKD adalah Badan Kepegawaian dan Diklat Kabupaten Raja Ampat.

9. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung yang selanjutnya disingkat BPMPK adalah Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung Kabupaten Raja Ampat.

10.Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Pengelola Perbatasan yang selanjutnya disingkat BKBP3 adalah Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Pengelola Perbatasan Kabupaten Raja Ampat.

11. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana yang selanjutnya disingkat BP2KB adalah Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Raja Ampat.

12. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah yang selanjutnya disingkat BPKAD adalah Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Raja Ampat.

13. Kantor Lingkungan Hidup yang selanjutnya disingkat KLH adalah Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Raja Ampat.

14. Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi yang selanjutnya disingkat KPAD2 adalah Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi Kabupaten Raja Ampat.

15. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat yang selanjutnya disingkat SATPOL PP & LINMAS adalah Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Raja Ampat.

16. Rumah Sakit Umum Daerah yang selanjutnya disingkat RSUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Raja Ampat.

17. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat Kepala SKPD adalah Kepala Inspektorat/Badan/Kantor di lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

(5)

BAB II PEMBENTUKAN

Pasal 2

Dengan Peraturan Daerah ini dibentuk Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah yang terdiri dari :

a. Inspektorat;

b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah; c. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan;

d. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung; e. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Pengelola Perbatasan; f. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana; g. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah;

h. Kantor Lingkungan Hidup;

i. Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi;

j. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat; k. Rumah Sakit Umum Daerah.

BAB III

SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN TUGAS POKOK Bagian Pertama

Inspektorat Paragraf 1 Susunan Organisasi

Pasal 3

(1) Susunan Organisasi Inspektorat terdiri dari : a. Inspektur.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program dan Pelaporan; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan perlengkapan; c. Inspektur Pembantu terdiri dari :

1. Inspektur Pembantu Wilayah I terdiri dari :

a. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan; b. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan; c. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan; 2. Inspektur Pembantu Wilayah II terdiri dari :

a. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan; b. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan; c. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan; 3. Inspektur Pembantu Wilayah III terdiri dari :

a. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan; b. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan; c. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan; 4. Inspektur Pembantu Wilayah IV terdiri dari :

a. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan; b. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan; c. Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan; d. Kelompok Jabatan Fungsional Auditor.

(6)

(2) Bagan Struktur Organisasi Inspektorat sebagaimana tercantum pada lampiran I dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 4

Inspektorat adalah merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Bupati, dan secara teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris Daerah.

Pasal 5

Inspektorat mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah, pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan kampung dan pelaksanaan urusan Pemerintahan Kampung.

Pasal 6

Kepala Inspektorat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 7

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Inspektorat menyelenggarakan fungsi :

a. perencanaan program pengawasan;

b. perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan;

c. pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan;

d.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya

.

Bagian Kedua

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 8

(1) Susunan Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) terdiri dari :

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c. Bidang Sosial Budaya terdiri dari :

1. Sub Bidang Kependudukan dan Kesejahteraan Sosial; 2. Sub Bidang Pemerintahan, Informasi dan Komunikasi; 3. Sub Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM); d. Bidang Ekonomi terdiri dari :

1. Sub Bidang Perdagangan, Koperasi, UKM, Industri dan Investasi; 2. Sub Bidang Kelautan, Perikanan dan Parawisata;

(7)

e. Bidang Fisik dan Prasarana Wilayah terdiri dari : 1. Sub Bidang Tataruang dan Pengembangan Wilayah; 2. Sub Bidang Praswil dan SDA;

3. Sub Bidang Perencanaan Prasarana Fisik;

f. Bidang Penelitian, Pengendalian, Monitoring dan Evaluasi Data terdiri dari :

1. Sub Bidang Penelitian dan Pengendalian Bakat; 2. Sub Bidang Pengendalian, Monitoring dan Evaluasi; 3. Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi;

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Kelembagaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana tercantum pada lampiran II dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 9

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) adalah merupakan unsur perencana penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 10

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah.

Pasal 11

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 12

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) menyelenggarakan fungsi : a. perumusan kebijakan teknis perencanaan;

b. pengkordinasian penyusunan perencanaan pembangunan;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang perencanaan pembangunan daerah;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Ketiga

Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 13

(1) Susunan Organisasi Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan terdiri dari :

(8)

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c. Bidang Mutasi terdiri dari :

1. Sub Bidang Pengadaan Pegawai dan Pengangkatan dalam Jabatan; 2. Sub Bidang Mutasi, Kenaikan Pangkat dan Pensiun;

d. Bidang Pengembangan dan Standarisasi terdiri dari : 1. Sub Bidang Analisis Jabatan dan Formasi;

2. Sub Bidang Standarisasi Jabatan dan Pengembangan Karier; e. Bidang Diklat dan Aparatur terdiri dari :

1. Sub Bidang Diklat Struktural dan Fungsional;

2. Sub Bidang Pengembangan Kurikulum/Bahan Ajar dan Pendidikan Formal Aparatur;

f. Bidang Data dan Informasi terdiri dari:

1.Sub Bidang Informasi dan Pemutahiran Data; 2.Sub Bidang Dokumentasi dan Penyimpanan Data; g. Unit Pelaksana Teknis Badan.

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan sebagaimana tercantum pada lampiran III dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 14

Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 15

Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Pemerintah Daerah dibidang Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan.

Pasal 16

Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 17

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan , menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(9)

Bagian Keempat

Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 18

(1) Susunan Organisasi Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) terdiri dari :

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan;

c. Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat terdiri dari : 1. Sub Bidang Usaha Ekonomi Masyarakat;

2. Sub Bidang Sarana dan Prasarana;

d. Bidang Penanggulangan Kemiskinan terdiri dari : 1. Sub Bidang Akses Pelayanan Kampung Terpencil; 2. Sub Bidang Pendamping dan Bimbingan Usaha; e. Bidang Organisasi terdiri dari :

1. Sub Bidang Peningkatan Kapasitas Organisasi Kampung dan Kelurahan;

2. Sub Bidang Organisasi Sosial Ekonomi Masyarakat; f. Unit Pelaksana Teknis Badan.

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Kelembagaan Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) sebagaimana tercantum pada lampiran V dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 19

Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 20

Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dibidang Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung.

Pasal 21

Kepala Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) sebagaimana dalam Pasal 20, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 22

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Badan Perberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPMPK) menyelenggarakan fungsi :

(10)

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Kelima

Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelola Perbatasan Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 23

(1) Susunan Organisasi Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelolah Perbatasan (BKBP3) terdiri dari :

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c. Bidang Hubungan Antar Lembaga terdiri dari :

1. Sub Bidang Hubungan Lembaga Eksekutif dan Legislatif;

2. Sub Bidang Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Partai Politik; d. Bidang Kesatuan Bangsa terdiri dari :

1. Sub Bidang Pembaharuan Bangsa; 2. Sub Bidang Ketahanan Bangsa;

e. Bidang Pengelola Perbatasan terdiri dari :

1. Sub Bidang Kerja Sama dan Lintas Perbatasan; 2. Sub Bidang Pengembangan Potensi Perbatasan; f. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelolah Perbatasan (BKBP3) sebagaimana tercantum pada lampiran VI dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 24

Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelolah Perbatasan (BKBP3) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat dan Pengelola Perbatasan, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 25

Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelolah Perbatasan (BKBP3) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Pemerintah daerah, dibidang Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat dan Pengelola Perbatasan.

Pasal 26

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelola Perbatasan (BKBP3) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

(11)

Pasal 27

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Badan Kesatuan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Pengelola Perbatasan (BKBP3) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Keenam

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 28

(1) Susunan Organisasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) terdiri dari:

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Tata Usaha;

3. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan;

c. Bidang Partisipasi Peran Aktif Organisasi Perempuan terdiri dari : 1. Sub Bidang Partisipasi Aktif Organisasi Perempuan;

2. Sub Bidang Penanganan Gender;

d. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera terdiri dari : 1. Sub Bidang Keluarga Berencana dan Sejahtera;

2. Sub Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi; e. Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak terdiri dari :

1. Sub Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Perempuan & Anak;

2. Sub Bidang Peningkatan Ekonomi Keluarga; f. Unit Pelaksana Teknis Keluarga Berencana.

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) sebagaimana tercantum pada lampiran IV dan merupakan bagian tak terpisahkan dari peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 29

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 30

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan

(12)

Pemerintah Daerah dibidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.

Pasal 31

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 32

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Ketujuh

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 33

(1)Susunan Organisasi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) terdiri dari :

a. Kepala Badan.

b. Sekretariat terdiri dari :

1 Sub Bagian Penyusunan Program; 2 Sub Bagian Tata Usaha;

3 Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c. Bidang Anggaran terdiri dari :

1 Sub Bidang Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

2 Sub Bidang Penatausahaan Anggaran; 3 Sub Bidang Analisis Anggaran;

d. Bidang Akutansi terdiri dari :

1 Sub Bidang Akutansi dan Laporan Keuangan; 2 Sub Bidang Pelaporan Keuangan;

3. Sub Bidang Verifikasi;

e. Bidang Perbendaharaan terdiri dari : 1. Sub Bidang Perbendaharaan; 2. Sub Bidang Belanja Pegawai;

3. Sub Bidang Pengurusan dan Pembebanan KASDA; f. Bidang Aset Daerah terdiri dari:

1. Sub Bidang Bina BLU dan BUD;

2. Sub Bidang Inventarisasi dan Pendataan Aset;

3. Sub Bidang Pemberdayaan, Pengamanan dan Pemeliharaan Aset; g. Unit Pelaksana Teknis Badan.

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD, sebagaimana tercantum pada lampiran VII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

(13)

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 34

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 35

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah, dibidang Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.

Pasal 36

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 37

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Kedelapan Kantor Lingkungan Hidup

Paragraf 1 Susunan Organisasi

Pasal 38

(1) Susunan Organisasi Kantor Lingkungan Hidup (KLH) terdiri dari : a. Kepala Kantor.

b. Sub Bagian Tata Usaha.

c. Seksi Pengamanan dan Pelestarian Lingkungan Hidup; d. Seksi Pengendalian;

e. Seksi Amdal dan Penyelesaian Sengketa; f. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Kantor Lingkungan Hidup (KLH) sebagaimana tercantum pada lampiran VIII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

(14)

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 39

Kantor Lingkungan Hidup (KLH) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Lingkungan Hidup, dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 40

Kantor Lingkungan Hidup (KLH) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dibidang Lingkungan Hidup.

Pasal 41

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 42

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Kesembilan

Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 43

(1) Susunan Organisasi Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2) terdiri dari :

a. Kepala Kantor.

b. Sub Bagian Tata Usaha. c. Seksi Perpustakaan; d. Seksi Arsip;

e. Seksi Dokumentasi;

f. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2) sebagaimana tercantum pada lampiran IX dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 44

Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2)adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang

(15)

Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi, yang dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 45

Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dibidang Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi.

Pasal 46

Kepala Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 47

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, Kantor Perpustakaan, Arsip Daerah dan Dokumentasi (KPAD2) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Kesepuluh

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL PP dan LINMAS)

Paragraf 1 Susunan Organisasi

Pasal 48

(1) Susunan Organisasi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) terdiri dari :

a. Kepala Kantor.

b. Sub Bagian Tata Usaha. c. Seksi Pembinaan Umum;

d. Seksi Pembinaan Ketentraman dan Ketertiban; e. Sesksi Pembinaan Oprasional;

f. Seksi Linmas; g. Regu.

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) sebagaimana tercantum pada lampiran XI dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan Daerah ini.

(16)

Paragraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 49

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang Pembinaan Ketentraman dan Ketertiban Umum, Perlindungan Masyarakat dan Pertahanan Sipil, yang dipimpin seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 50

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dibidang Pembinaan Ketentraman dan Ketertiban Umum, Perlindungan Masyarakat dan Pertahanan Sipil.

Pasal 51

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 52

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51, Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (SATPOL-PP) dan (LINMAS) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Kesebelas

Rumah Sakit Umum Daerah Paragraf 1

Susunan Organisasi Pasal 53

(1) Susunan Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) terdiri dari : a. Direktur.

b. Sub Bagian Tata Usaha. c. Seksi Pelayanan Medik; d. Seksi Penunjang Medik;

e. Seksi Keperawatan dan Pendidikan; f. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagaimana tercantum pada lampiran XII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

(17)

Paragaraf 2

Kedudukan dan Tugas Pokok Pasal 54

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) adalah merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Bupati dibidang pelayanan kesehatan rujukan, dipimpin oleh seorang Direktur yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 55

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dibidang pelayanan kesehatan rujukan.

Pasal 56

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 diangkat dan diberhentikan oleh Bupati sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 57

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

BAB IV

ESELONERING, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN Pasal 58

(1) Inspektur dan Kepala Badan adalah jabatan Eselon II/b. (2) Sekretaris dan Kepala Kantor adalah jabatan eselon III/a.

(3) Kepala Bidang pada Badan dan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) adalah jabatan eselon III/b.

(4) Kepala Sub Bagian dan Kepala Sub Bidang dan Kepala seksi adalah jabatan eselon IV/a.

Pasal 59

Pejabat Eselon III/a, Pejabat Eselon III/b dan Pejabat Eselon IV/a diangkat dan diberhentikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Raja Ampat atas pelimpahan kewenangan oleh Bupati.

(18)

BAB V

UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH Pasal 60

(1)

Pada Organisasi Lembaga Teknis Daerah dapat dibentuk 1 (satu) atau lebih Unit Pelaksana Teknis Daerah.

(2) Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan berdasarkan kebutuhan dan memenuhi kriteria serta ketentuan Perundang-undangan.

(3) Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah ditetapkan tersendiri dengan Peraturan Bupati

.

BAB VI

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Pasal 61

Pada masing-masing Badan dan Kantor dapat ditempatkan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional berdasarkan Peraturan Perundang-undangan dan sesuai kompetensi, kebutuhan dan beban kerja.

BAB VII

RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA

Pasal 62

Rincian tugas, fungsi dan tata kerja masing-masing Inspektorat, Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan Kantor diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 63

Dengan diberlkukannya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Pecencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dicabut dan nyatakan tiadak berlaku.

Pasal 64

Hal-hal yang belum cukup di atur dalam peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dan Perturan Bupati.

(19)

Pasal 65

Peratuan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran Daerah Kabupaten Raja Ampat.

Ditetapkan di Waisai

Pada Tanggal 16 Maret 2011

BUPATI RAJA AMPAT, TTD

MARCUS WANMA Diundangkan di Waisai

Pada Tanggal 16 Maret 2011

SEKRETARIS DAERAH KAB. RAJA AMPAT,

TTD

Drs. FERDINAN DIMARA,M.SI

PEMBINA UTAMA MUDA

NIP. 19571212 198303 1 031

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT TAHUN 2011 NOMOR 73

Untuk Salinan yang sah sesuai dengan aslinya An. SEKRETARIS DAERAH KAB. RAJA AMPAT

ASISTEN BIDANG PEMERINTAHAN

Ub.

Kepala Bagian Hukum

MOHLIYAT MAYALIBIT, SH

PENATA

(20)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT NOMOR 7 TAHUN 2011

TENTANG

STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH

KABUPATEN RAJA AMPAT

I. PENJELASAN UMUM.

A. Dalam rangka penataan kembali Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang dituangkan kedalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah, yang menjadi landasan operasional bagi Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah lainnya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya menunjang berbagai kegiatan pembangunan, kegiataan penatalayanan dan kegiatan pembinaan kemasyarakatan di wilayah Kabupaten Raja Ampat. Secara operasional berjalan efektif selama 3 tahun dirasa sudah tidak relevan dan harus dievaluasi untuk direvisi kembali sesuai kondisi obyektif berdasarkan tuntutan perkembangan/perubahan dinamika kehidupan masyarakat pada saat ini, maupun adanya kebijakan negara dalam pemberian kewenangan pengelolaan potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya lainnya yang berada didaerah untuk dikelolah secara bertanggungjawab oleh daerah dengan tetap memperhatikan azas manfaat dan azas kepatutan bagi kepentingan umum.

Dengan adanya tuntutan dan kebijakan ini, maka Pemerintah Daerah mengambil langkah konkrit menata kembali perangkat kelembagaan daerah dengan cara memperbesar fungsi, menghilangkan dan atau menggabungkan fungsi yang melekat pada perangkat daerah. Sehingga perangkat daerah tersebut lebih efektif melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yang bersifat kebijakan administratif dan operasional dalam melakukan kajian dan analisis secara akademik terhadap berbagai kebijakan pembangunan daerah.

Dengan demikian untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara efisien dan efektif, maka Pemerintah Daerah perlu melakukan penataan/perubahan dengan merevisi peraturan daerah yang mengatur tentang kelembagaan perangkat daerah dengan tetap berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Penataan Organisasi Perangkat Daerah, yang secara teknis diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 yang mengatur tentang Pembagian

(21)

Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, yang bersifat urusan wajib dan urusan pilihan serta adanya urusan sisa yang perlu diatur tersendiri. Sehingga Pemerintah Daerah dalam menetapkan besarnya organisasi perangkat daerah harus mengacu pada kriteria dan standar yang sudah ditetapkan dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan dimaksud. Selain ketentuan sebagaimana dikemukakan diatas, pemerintah daerah perlu pula melihat, memperhatikan dan mempertimbangkan kriteria lainnya di daerah seperti kondisi obyektif wilayah baik dari segi geografis, topografis, potensi Sumber Daya Alam, dan juga tak kalah pentingnya harus pula memperhatikan karakteristik budaya masyarakat lokal yang bersifat heterogen.

Dengan demikian, secara yuridis formal Pemerintah Daerah perlu menata dan merevisi kembali Peraturan Daerah tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah yang secara teknis operasional menjalankan tugas pokok fungsinya secara akademik menunjang perangkat daerah lainnya dalam rangka memberikan kontribusi penerimaan Pendapatan Asli Daerah /(PAD) kepada Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, dengan cara mencabut dan menetapkan kembali Peraturan Daerah tentang Pembentukan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah di Kabupaten Raja Ampat.

B. Sehubungan dengan dilakukannya perbaikan dan penataan kembali perangkat kelembagaan daerah saat ini, maka Pemerintah Daerah secara formal memasukan salah satu lembaga teknis daerah yang dibentuk berdasarkan kondisi dan kebutuhan daerah, yakni Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah yang selanjutnya di singkat BPKAD.

C. Pembentukan BPKAD di Kabupaten Raja Ampat tentunya berpedoman pada Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Papua Barat serta melihat rujukan Pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengamanatkan bahwa ” Daerah yang memiliki status istimewa atau otonomi khusus, Pembentukan Perangkat Daerah untuk melaksanakan status istimewa dan Otonomi Khusus berpedoman pada Peraturan Menteri dengan pertimbangan dari Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang pendayagunaan aparatur negara ”. Dengan merujuk ketentuan sebagaimana dimaksud di atas, yang telah memberikan ruang dan kewenangan kepada daerah berstatus otonomi khusus untuk dapat membentuk perangkat daerah diluar dari perangkat daerah yang sudah diatur berdasarkan pembagian urusan dan kewenangan antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Kewenangan Antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Peraturan Pemerintah Nomor 41

(22)

Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang secara teknis diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah, telah membagi dan mengkategorikan urusan- urusan pemerintahan kedalam rumpun dinas daerah dan rumpun lembaga teknis daerah.

Pembentukan BPKAD di Kabupaten Raja Ampat dilakukan dengan dasar pertimbangan sebagai berikut :

1. Bahwa kondisi geografis dan topografis Kabupaten Raja Ampat merupakan wilayah kepulauan yang memiliki berbagai potensi sumber daya alam baik potensi sumber daya kelautan, potensi sumber daya pertambangan dan mineral maupun potensi sumber daya hutan dan potensi sumber daya lainnya. Disamping memiliki potensi-potensi diatas, Kabupaten Raja Ampat juga mempunyai karakteristik wilayah yang sangat berbeda dan unik dengan wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. Dengan demikian Kabupaten Raja Ampat yang 87 % terdiri atas wilayah perairan laut dan 13 % adalah merupakan wilayah daratan, didalamnya terdapat 4 pulau-pulau besar dan 610 pulau-pulau kecil, dengan jumlah penduduk sebanyak 57.000 orang dan penyebaran penduduknya tidak merata baik disepanjang pesisir pulau, pedalaman pulau, serta di pulau-pulau kecil yang saling berjauhan satu sama lainnya banyak terdapat potensi dan keunggulan yang bila dikelolah akan memberikan manfaat besar bagi negara, daerah dan masyarakat. Akan tetapi pada kondisi saat ini, merupakan salah satu faktor kesulitan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pengawasan terhadap seluruh wilayah kawasan perairan/laut tersebut, termasuk melaksanakan kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, baik kegiatan penatalayanan, kegiatan pembangunan, dan kegiatan pembinaan kemasyarakatan dibutuhkan biaya operasional yang sangat tinggi untuk menjangkau seluruh wilayah tersebut, termasuk untuk mencari dan menggali potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya lainnya dalam rangka pemberian kontribusi penerimaan kepada daerah.

2. Bahwa bertolak dari penjelasan pada ponit 1 diatas, maka Pemerintah Daerah dalam melakukan penataan kembali kelembagaan perangkat daerah telah melakukan kajian dan analisis dengan didasarkan pada kondisi rill daerah. Maka Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang masuk dalam rumpun dinas dan dikategorikan sebagai urusan wajib sesuai rujukan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat tidak dapat mengakomodirnya kedalam satu rumpun dinas daerah dengan dasar pertimbangan yang sudah dikemukakan diatas. Untuk itu, Dinas Pendapatan yang menjalankan fungsi lini dengan tugas pokok dan fungsinya melakukan kegiatan mencari, menggali dan menarik

(23)

potensi-potensi daerah berupa Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan Penerimaan lain-lain ditetapkan menjadi Dinas Pendapatan Daerah dan dikategorikan dalam rumpun dinas daerah.

Sedangkan Bagian Keuangan dan Bagian Perlengkapan yang merupakan fungsi staf dengan tugas pokoknya sebagai adminstratif kebijakan tidak dikembalikan statusnya pada Sekretariat Daerah, akan tetapi dinaikan statusnya menjadi BPKAD dan fungsinya diperbesar menjadi beberapa fungsi dengan tugas pokoknya yang bersifat administratif pasip yakni menerima, mencatat, menyimpan dan membayar termasuk fungsi pendataan aset dengan tugas pokoknya yakni menerima data aset, mencatat, dan menginventarisir. Dengan demikian beban tanggungjawab terhadap pengelolaan keuangan daerah dan pendataan aset daerah dapat berjalan lebih optimal.

3. Bahwa dengan dilakukannya pemisahan ini, maka diharapkan daerah akan lebih leluasa untuk mencari dan menggali potensi-potensi daerah baru dalam rangka menambah penerimaan daerah dan juga disatu sisi daerah dapat mengelola penerimaan daerah secara maksimal, termasuk pengelolaan terhadap aset daerah baik yang bersumber dari APBD maupun yang bersumber dari APBN atau sumber penerimaan lainnya.

4. Bahwa secara de fakto, BPKAD Kabupaten Raja Ampat sudah eksis dan telah melaksanakan tugas pengelolaan keuangan dan pendataan aset daerah dimulai sejak tahun 2008, yakni dilakukannya pengisian personil aparatur pemerintah daerah yang ditandai dengan dilantiknya pejabat struktural eselon II/b, pejabat eselon III/a, pejabat eselon III/b, dan pejabat eselon IV/a.

5. Bahwa secara de yure, BPKAD belum mempunyai landasan yuridis sebagai pedoman kerja yang mempunyai kekuatan hukum tetap untuk menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya terhadap kebijakan pengelolaan keuangan daerah.

6. Maka dengan merujuk ketentuan dalam Pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat akan menindaklanjutinya dengan meminta rekomendasi Gubernur Papua Barat untuk mendapat persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam proses pembentukan dan penetapan BPKAD dengan produk hukum daerah tersendiri, yang tentunya akan disesuaikan dengan mekanisme, prosedur dan tata cara pembentukan Peraturan Daerah.

7. Dengan demikian agar tidak terjadinya kevakuman hukum atas proses penyelenggaraan administrasi pengelolaan keuangan dan aset daerah di Kabupaten Raja Ampat. Maka untuk sementara perlu memasukan BPKAD kedalam rumpun Lembaga Teknis Daerah. Dan selanjutnya ditetapkan bersamaan dengan lembaga teknis daerah lainnya kedalam satu produk hukum daerah yakni Peraturan Daerah yang mengatur tentang Pembentukan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Raja Ampat.

(24)

II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas

(25)

Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas Pasal 53 Cukup jelas

(26)

Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN RAJA AMPAT TAHUN 2011 NOMOR 69

(27)

Lampiran I : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT Nomor : 7 TAHUN 2011 Tanggal : 16 MARET 2011 Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pembangunan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Pemerintahan Seksi Pengawas Pemerintah Bidang Kemasyarakatan

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI INSPEKTORAT

INSPEKTORAT

Inspektur

Pembantu Wilayah I Pembantu Wilayah II Inspektur

Inspektur Pembantu Wilayah III Sub Bagian

Penyusunan Program & Pelaporan

SEKRETARIAT

Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian Tata Usaha Inspektur Pembantu Wilayah IV Kelompok Jabatan Fungsional

(28)

Lampiran II : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

KEPALA

Bidang Sosial Budaya Sub Bidang Kependudukan dan Kesejahteraan Sosial Bidang Ekonomi Sub Bidang Perdagangan, Koperasi,

UKM, Industri & Investasi Sub Bidang Kelautan, Perikanan &

Parawisata

Sub Bidang Praswil dan SDA

Bidang

Fisik & Prasarana Wilayah Sub Bagian Penyusunan Program

SEKRETARIAT

Sub Bagian

Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian

Tata Usaha

Bidang

Penelitian, Pengendalian,

Monitoring & Evaluasi Data

Sub Bidang Penelitian, dan Pengedalian

Bakat

Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi Sub Bidang Tataruang & Pengembangan Wilayah Sub Bidang Pemerintahan, informasi dan komunikasi Sub Bidang Pengembangan SDM Sub Bidang Pertanian dan Ketahanan

Pangan Sub Bidang Perencanaan Prasarana Fisik Kel.Jabatan Fungsional Sub Bidang Pengendalian, Monitoring dan Evaluasi

(29)

Lampiran III : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

Kel.Jabatan Fungsional

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN

DAN PELATIHAN

KEPALA

Sub Bagian Penyusunan Program SEKRETARIAT Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian Tata Usaha Bidang Pengembangan dan Standarisasi Sub Bidang Mutasi, Kenaikan Pangkat

& Pensiun Sub Bidang Pengadaan Pegawai &

Pengangkatan dalam Jabatan Sub Bidang Analisis Jabatan dan Formasi Sub Bidang Standarisasi Jabatan dan Pengembangan Karier Bidang Diklat dan Aparatur

Sub Bidang Diklat Struktural dan

Fungsional

Sub Bidang Pengembangan Kurikulum /Bahan

Ajar & Pendidikan Formal Aparatur

Bidang Data dan Informasi

Sub Bidang Informasi dan Pemutahiran Data

Sub Bidang Dokumentasi dan Penyimpanan & Data Bidang

Mutasi

UPTB

Kel.Jabatan Fungsional

(30)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

DAN PEMERINTAHAN KAMPUNG

KEPALA

Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Sub Bidang Usaha Ekonomi Masyarakat Sub Bidang Sarana dan Prasarana Bidang Penanggulangan Kemiskinan Sub Bidang Akses Pelayanan Kampung Terpencil Sub Bidang Pendamping dan Bimbingan Usaha Sub Bagian Penyusunan Program SEKRETARIAT Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian Tata Usaha Bidang Organisasi Sub Bidang Peningkatan Kapasitas Organisasi Kampung dan

Kelurahan

Sub Bidang Organisai Sosial Ekonomi

Masyarakat

Lampiran IV : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

UPTB

Kel.Jabatan Fungsional

(31)

KEPALA

Bidang Hubungan Antar Lembaga

Sub Bidang Hubungan Lembaga Eksekutif & Legislatif

Sub Bidang Organisasi Masyarakat (Ormas) & Partai Politik

(Parpol) Bidang Kesatuan Bangsa Sub Bidang Pembaharuan Bangsa Sub Bidang Ketahanan Bangsa Sub Bidang Kerja Sama dan Lintas Perbatasan Sub Bidang Pengembangan Potensi Perbatasan Bidang Pengelola Perbatasan Sub Bagian Penyusunan Program SEKRETARIAT Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian

Tata Usaha

Lampiran V : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

Kel.Jabatan Fungsional

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN KESATUAN BANGSA POLITIK &

(32)

Lampiran VI : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

DAN KELUARGA BERENCANA

KEPALA

Bidang Partisipasi peran Aktif Organiasai Perempuan Sub Bidang Partisipasi Aktif Organisasi Perempuan. Sub Bidang Penanganan Gender Bidang

Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

Sub Bidang Keluarga Berencana dan

Sejahtera Sub Bidang Keluarga Berencana dan

Kesehatan Reproduksi

Sub Bidang Peningkatan SDM Perempuan dan Anak

Sub Bidang Peningkatan Ekonomi Keluarga Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Sub Bagian Penyusunan Program SEKRETARIAT Sub Bagian

Keuangan dan Perlengkapan Sub Bagian

Tata Usaha

UPT KB

Kel.Jabatan Fungsional

(33)

Lampiran VII : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET TAHUN 2011

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI BADAN PENGELOLA KEUANGAN

DAN ASET DAERAH

KEPALA

Bidang Anggaran Sub Bagian Penyusunan Program Sub Bidang Penyusunan APBD Sub Bidang Penatausahaan Anggaran SEKRETARIAT Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan

Sub Bidang Perbendaharaan Sub Bidang Belanja Pegawai Bidang Perbendaharaan

Sub Bagian Tata Usaha Sub Bidang Pengurusan & Pembebanan KASDA Bidang Aset Daerah Sub Bidang Bina BLU & BUD

Sub Bidang Inventarisasi & Pendataan Aset Sub Bidang Pemberdayaan, Pengamanan & Pemeliharaan Aset Bidang Akuntansi Sub Bidang Akuntansi & Laporan Keuangan Sub Bidang Pelaporan Keuangan Sub Bidang Verifikasi Sub Bidang Analisis Anggaran UPTB Kel.Jabatan Fungsional

(34)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI KANTOR LINGKUNGAN HIDUP

KEPALA

SEKSI

Pengamanan dan Pelestarian Lingkungan Hidup

SEKSI Pengendalian

SEKSI

Amdal dan Penyelesaian Sengketa

Sub Bagian Tata Usaha

Lampiran VIII : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

Kel.Jabatan Fungsional

(35)

Lampiran IX : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI KANTOR PERPUSTAKAAN DAERAH ARSIP & DOKUMENTASI

KEPALA

SEKSI

Perpustakaan SEKSI Arsip

SEKSI Dokumentasi Sub Bagian Tata Usaha Kel.Jabatan Fungsional

(36)

Lampiran X : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011

Tanggal : 16 MARET 2011

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SATUAN POLISI PAMONG

PRAJA & LINMAS

KEPALA

SEKSI

Pembinaan Umum Pembinaan, Ketentraman & SEKSI Ketertiban SEKSI Pembinaan Operasional Sub Bagian Tata Usaha SEKSI Linmas REGU Kel.Jabatan Fungsional

(37)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

Lampiran XI : PERATURAN DAERAH KAB. RAJA AMPAT

Nomor : 7 TAHUN 2011 Tanggal : 16 MARET 2011

DIREKTUR

Sub Bagian Tata Usaha SEKSI

Pelayanan Medik Keperawatan dan Pendidikan SEKSI

Kel.Jabatan Fungsional

SEKSI Penunjang Medik

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan hasil analisis nilai total struktur kanonik uku ran tubuh sebagai pembeda populasi sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Bali dan BPTP Naibonat, NTT

Panitia Fengadaan Barang dan Jasa EEnas Pertania* dan Fetennkan Kab*paten Raja Ampat derryan ini mengurfiumkan nama Fernenarg Fdelargan umurn sbb :.. Nama

bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 47 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka perlu membentuk Organisasi dan Tata

Untuk menyongsong pembangunan nasional jangka menengah periode ke‐3 tahun 2015–2019, BPS Kabupaten Raja Ampat menyusun Rencana Strategis yang mencerminkan upaya

Perkembangan teknologi informasi di manfaatkan untuk membangun sebuah aplikasi kepariwisataan Raja Ampat berbasis multimedia pada perangkat mobile, dimana aplikasi ini

Aspek nilai, bahwa situs Kali Raja merupakan situs yang memiliki arti penting bagi sejarah terbentuknya Raja Ampat; aspek idiologi, bahwa situs ini sebagai gambaran jati diri

Pada Tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Raja Ampat terdiri dari Tujuh Belas distrik, yaitu Distrik Misool, Kofiau, Misool Timur, Kepulauan Sembilan, Waigeo Selatan, Teluk

(Tridacnidae) pada Daerah Terumbu Karang di Zona Intertidal Distrik Misool Utara Kabupaten Raja Ampat” untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan studi