No. 09/10/74/Th.VIII, 01 Oktober 2016
P
ERKEMBANGANI
NDEKSH
ARGAK
ONSUMEN/I
NFLASIK
OTAP
ROBOLINGGOB
ULANSEPTEMBER
2016
Bulan September 2016 Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0,14 persen
Pada Bulan September 2016, Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Deflasi Kota Probolinggo bulan September 2016 terjadi karena dari 7 ( tujuh ) kelompok pengeluaran, 3 ( tiga ) kelompok mengalami deflasi, sedangkan 4 (empat) kelompok mengalami inflasi. Hal ini dapat dilihat adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 0,91 persen, kelompok makanan jadi sebesar 0,15 persen dan kelompok sandang sebesar 0,17
persen, sedangkan 4 (empat) kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi yaitu yaitu kelompok
perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,20 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,54 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,23 persen.
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah daging sapi, daging ayam ras,
daging ayam kampung, gula pasir, telur ayam ras, ikan kembung, tomat sayur, emas perhiasan, rempela hati ayam, ikan merah dan lain-lain.
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah biaya kuliah, bawang merah, minyak goreng, tarip pulsa ponsel, kelapa, lemari pakaian, bawang putih, tongkol pindang, rokok kretek filter, tongkol dan lain-lain.
Dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi Kota IHK Nasional, 1 (satu) kota mengalami deflasi sedangkan 7 (tujuh) kota lainnya mengalami inflasi. Satu-satunya kota yang mengalami deflasi adalah kota Probolinggo sebesar 0,14 persen. Adapun kota-kota lain yang mengalami inflasi adalah Jember sebesar 0,22 persen, kota Kediri sebesar 0,21 persen, kota Surabaya sebesar 0,18 persen, kota Malang sebesar 0,17 persen, kota Madiun sebesar 0,16 persen, Sumenep sebesar 0,04 persen dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 0,02 persen.
Dari 6 Ibukota Provinsi di Pulau Jawa, 1 (satu) kota mengalami deflasi sedangkan 5 (lima) kota lainnya mengalami inflasi. Satu-satunya kota yang mengalami deflasi adalah kota Yogyakarta sebesar 0,16 persen sedangkan kota-kota yang mengalami inflasi antara lain Serang sebesar 0,51 persen, disusul DKI Jaya dan kota Surabaya masing-masing sebesar 0,18 persen, kota Bandung sebesar 0,14 persen dan inflasi terkecil terjadi di kota Semarang sebesar 0,13 persen.
Laju inflasi tahun kalender (s/d September 2016) Kota Probolinggo mengalami inflasi 0,89 persen,
sedangkan laju inflasi year on year (September 2016 terhadap September 2015) Kota Probolinggo sebesar 1,38 persen.
Bulan September 2016 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,16 persen, laju inflasi tahun kalender (s/d September 2016) Jawa Timur mengalami inflasi 1,96 persen, sedangkan laju inflasi year on year
(September 2016 terhadap September 2015) Jawa Timur sebesar 2,69 persen.
Bulan September 2016 Nasional mengalami inflasi sebesar 0,22 persen, laju inflasi tahun kalender (s/d September 2016) Nasional mengalami inflasi 1,97 persen, sedangkan laju inflasi year on year (September
0,08 -0,03 -0,35 -0,50 0,04 0,23 -0,14 Persentase B u la n S e p te mb e r
Series Data Inflasi Kota Probolinggo Bulan September 2010 - 2016
2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010
1. Inflasi Probolinggo
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Penghitungan inflasi Probolinggo tahun 2016(IHK Tahun Dasar 2012 = 100) didasarkan pada hasil pemantauan/pendataan harga barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pasar tradisional dan pasar modern di Probolinggo yaitu;: Pasar Baru, Pasar Wonoasih dan Giant Hypermarhjt.
Secara umum, Kota Probolinggo pada bulan September 2016 mengalami deflasi. Penurunan harga bahan pangan pasca lebaran haji, seperti penurunan harga daging ayam ras, daging sapi , telur serta gula pasir cukup signifikan untuk menahan laju inflasi seperti kenaikan harga beberapa komoditas, biaya kuliah, minyak goreng, bawang merah, bawang putih dan lain-lain.
Dari hasil pemantauan harga pada bulan September 2016 Probolinggo mengalami deflasi sebesar
0,14 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 122,48 pada bulan Agustus 2016 turun
menjadi 122,31 pada bulan September 2016. Perjalanan series data inflasi selama tahun 2010 sampai dengan 2016 ( tujuh tahun), pada bulan September terjadi 4(empat) kali deflasi dan 3 (tiga) kali inflasi. deflasi terjadi pada tahun 2011 sebesar 0,03 persen, tahun 2012 sebesar 0,35 persen, tahun 2013 sebesar 0,50 persen dan tahun 2016 sebesar 0,14 persen, sedangkan inflasi terjadi pada tahun 2010 sebesar 0,08 persen, tahun 2014 sebesar 0,04 persen dan tahun 2015 sebesar 0,23 persen.
Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks (deflasi) adalah kelompok bahan makanan yang mengalami penurunan harga sebesar 0,91 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,2338 persen. Adapun komoditas yang mengalami penurunan harga serta menghambat terjadinya inflasi antara lain daging sapi turun sebesar 7,7947 persen dan mampu menyumbang deflasi sebesar 0,1029, daging ayam ras yang mengalami penurunan harga sebesar 10,8923 persen dan menyumbang deflasi 0,0752 persen, daging ayam kampung turun sebesar 9,9091 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0668 persen, telur ayam ras mengalami penurunan harga sebesar 6,6257 persen dan menekan laju inflasi sebesar 0,0506 persen, ikan kembung turun sebesar 6,8112 persen dan ikut andil menghambat inflasi sebesar 0,0221 persen dan lain-lain.
Adapun komoditas yang mendorong laju inflasi antara lain bawang merah yang mengalami kenaikan harga sebesar 13,4073 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0518 persen, minyak goreng juga mengalami kenaikan harga sebesar 3,7449 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0508 persen, kelapa naik sebesar 17,45 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0342 persen, bawang putih juga mengalami kenaikan harga sebesar 7,9803 persen dan mampu mendorong laju inflasi sebesar 0,0259 persen, tongkol pindang juga naik sebesar 4,9725 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0206 persen dan lain-lain.
Kelompok pengeluaran makanan jadi juga yang mengalami penurunan harga sebesar 0,15 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0259 persen. Satu-satunya Komoditas yang mengalami penurunan harga sekaligus menghambat laju inflasi adalah gula pasir turun sebesar 6,0267 persen dan turut menyumbang deflasi sebesar 0,0631 persen. Sedangkan komoditas yang mendorong laju inflasi antara lain rokok kretek filter yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,9695 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0185 persen, rokok kretek mengalami kenaikan harga sebesar 1,0374 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0145 persen, rokok putih naik sebesar 1,1995 persen dan ikut andil menyumbang inflasi sebesar 0,0038 persen serta teh yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,3209 persen dan mampu menyumbang inflasi sebesar 0,0004 persen.
IHK Desember 2015 IHK Agustus 2016 IHK September 2016 Andil Inflasi September 2016 Inflasi September 20161) Tingkat Inflasi Tahun Kalender 20162) Inflasi Year on Year3) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) UMUM 121,23 122,48 122,31 -0,14 -0,14 0,89 1,38 1 Bahan Makanan 124,25 125,30 124,16 -0,23 -0,91 -0,07 1,03 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
122,69 125,78 125,59 -0,03 -0,15 2,36 3,15
3 Perumahan, Air, Listrik,
Gas, dan Bahan Bakar 120,51 122,71 122,96 0,04 0,20 2,03 2,76
4 Sandang 110,65 116,50 116,30 -0,01 -0,17 5,11 3,18
5 Kesehatan 115,43 118,65 118,71 0,00 0,05 2,84 3,46
6 Pendidikan, Rekreasi,
dan Olah raga 120,17 124,25 124,92 0,05 0,54 3,95 4,00
7 Transpor, Komunikasi,
dan Jasa Keuangan 122,59 118,00 118,27 0,04 0,23 0,23 3,34
1) Persentase perubahan IHK bulan September 2016 terhadap IHK bulan sebelumnya 2) Persentase perubahan IHK bulan September 2016 terhadap IHK bulan Agustus 2016 3) Persentase perubahan IHK bulan Sptember 2016 terhadap IHK bulan September 2015.
Tabel 1. Andil dan Tingkat Inflasi September 2016, Inflasi Tahun Kalender 2016 dan Inflasi Year on Year menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)
Kelompok Pengeluaran
(1)
Kelompok Sandang juga mengalami deflasi, yaitu sebesar 0,17 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,011 persen. Adapun komoditas penyumbang deflasi antara lain emas perhiasan yang mengalami penurunan harga sebesar 1,2095 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0206 persen, celana panjang jeans untuk laki-laki juga mengalami penurunan harga sebesar 5,2714 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0129 persen serta kemeja pendek katun mengalami penurunan harga sebesar 2,8032 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,002 persen. Meskipun kelompok pengeluaran Sandang mengalami penurunan indeks (deflasi) namun ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dan mendorong laju inflasi antara lain sandal anak-anak yang mengalami kenaikan harga sebesar 14,605 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0135 persen, sandal kulit wanita mengalami kenaikan harga sebesar 3,8001 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0045 persen, celana panjang jeans wanita naik sebesar 1,82 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0025 persen, kemeja panjang katun laki-laki naik sebesar 2,645 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0015 persen, celana panjang jeans anak-anak naik sebesar 1,1641 persen dan mampu menyumbang inflasi sebesar 0,0015 persen dan lain-lain.
Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indek harga (inflasi) antara lain : kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar 0,0381 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada kelompok ini antara lain lemari pakaian naik sebesar 5,5556 persen dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar 0,0327 persen, tarip listrik juga mengalami kenaikan sebesar 0,4579 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0126 persen, air conditioner (AC) naik sebesar 3,6976 persen dan turut mendorong laju inflasi sebesar 0,0038 persen, pembersih lantai naik sebesar 5,0668 persen dan mampu menyumbang inflasi sebesar 0,0024 persen, sabun detergen bubuk/cair naik sebesar 0,322 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0018 persen dan lain-lain. Sedangkan komoditas yang menghambat laju inflasi pada kelompok pengeluaran ini yaitu semen yang mengalami penurunan sebesar 2,3831 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0151 persen,
kulkas/lemari turun sebesar 0,33 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0012 persen serta sabun cair/ cuci piring turun sebesar 0,9924 persen dan menyumbang deflasi 0,0018 persen.
Kelompok pengeluaran kesehatan juga mengalami kenaikan indeks sebesar 0,05 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,002 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasi antara lain parfum naik sebesar 1,0616 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0027 persen, vitamin juga mengalami kenaikan harga sebesar 1,6562 persen dan mengerek inflasi sebesar 0,0013 persen, sikat gigi juga mengalami kenaikan harga sebesar 3,889 persen dan ikut andil menyumbang inflasi sebesar 0,0012 persen, tarip laboratorium juga mengalami kenaikan sebesar 2,9532 persen dan ikut menyumbang inflasi sebesar 0,001 persen serta pasta gigi naik sebesar 0,3094 persen dan ikut andil mendorong laju inflasi sebesar 0,0009 persen, sementara komoditas yang mengalami penurunan harga dan menghambat laju inflasi antara sabun mandi turun sebesar 1,4595 persen dan turut menyumbang deflasi sebesar 0,0047 persen, obat flu yang mengalami penurunan harga sebesar 1,0535 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0003 persen serta deodorant turun sebesar 0,0813 persen dan mnyumbang deflasi sebesar 0,0001 persen.
Kelompok pengeluaran lainnya yang mengalami kenaikan indeks yang cukup besar yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,54 persen dan turut menyumbang inflasi sebesar 0,0498 persen. Hanya satu komoditas yang menyumbang inflasi yaitu biaya sekolah di Perguruan Tinggi yang naik sebesar 3,77 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0549 persen, sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga sekaligus dapat menghambat laju inflasi adalah komputer tablet yang mengalami penurunan harga sebesar 3,0301 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0051 persen.
Kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi adalah kelompok Transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami inflasi yaitu sebesar 0,23 persen dan ikut andil menyumbang deflasi sebesar
0,0414 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasi antara lain tarip pulsa ponsel yang yang mengalami
kenaikan harga sebesar 2,6815 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,041 persen serta harga mobil yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,29 persen dan ikut mendorong laju inflasi sebesar 0,0067 persen, sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga dan menghambat laju inflasi adalah telepon seluler turun sebesar 0,7501 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0035 persen serta ban luar mobil naik sebesar 1,5624 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0028 persen.
2. Inflasi 8 Kota di Jawa Timur
Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, pada bulan September 2016, 1 (satu) kota mengalami deflasi dan 6 (enam) kota mengalami inflasi. Satu-satunya kota yang mengalami deflasi adalah kota Probolinggo sebesar 0,14 persen, sedangkan kota-kota yang mengalami inflasi antara lain Jember yang mengalami inflasi sebesar 0,22 persen diikuti kota Kediri sebesar
0,21 persen, kota Surabaya sebesar 0,18 persen,
kota Malang sebesar 0,17 persen, kota Madiun sebesar 0,16 persen, Sumenep sebesar 0,04 persen
Gambar 2
Inflasi 8 Kota di Jaw a Timur bulan September 2016 0,22 0,04 0,21 0,17 -0,14 0,16 0,18 0,02 B.Wangi Sby Madiun Prob. Malang Kediri Sumenep Jember
Gambar 3.
Inflasi y-o-y 8 Kota di Jawa Timur (September 2015 - September 2016) 2 1,55 2,41 1,35 2,89 1,38 2,25 3,09
Jbr. Smnp. Kdr. Mlg. Prob. Mdn. Sby. B.W angi
Gambar 4. Inf lasi ibukota Prov insi di Pulau Jawa Bulan September 2016 0,18 0,51 0,14 0,13 -0,16 0,18
Jakarta Serang Bandung
Semarang Y ogy akarta Surabay a
dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 0,02 persen, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.
Dari semua kota, inflasi y-o-y tertinggi terjadi di kota Surabaya sebesar 3,09 persen, diikuti kota Malang sebesar 2,89 persen, Sumenep sebesar 2,41 persen, kota Madiun sebesar 2,25 persen, Banyuwangi sebesar
2,00 persen, Jember sebesar 1,55 persen, kota
Probolinggo sebesar 1,38 persen dan inflasi terendah terjadi di kota Kediri sebesar 1,35 persen. sebagaimana terlihat pada Gambar 3.
3. Inflasi/deflasi 6 Ibukota Provinsi di Pulau Jawa Dari 6 (enam) kota ibukota provinsi di pulau Jawa, 1 (satu) kota mengalami deflasi dan 5 (lima) kota mengalami inflasi. Satu-satunya yang mengalami deflasi adalah kota Yogyakarta yang mengalami deflasi sebesar 0,16 persen, sedang kota-kota yang mengalami inflasi antara lain kota Serang sebesar 0,51 persen, DKI Jaya dan kota Surabaya sebesar 0,18 persen, kota Bandung sebesar 0,14 persen dan
terendah terjadi di kota Semarang sebesar 0,13 persen sebagaimana terlihat pada Gambar 4.
Inflasi y-o-y bulan September 2016 pada 6 ibukota provinsi di pulau Jawa, inflasi tertinggi terjadi di Serang sebesar
4,30 persen, diikuti oleh kota Surabaya sebesar 3,09
persen, kota Yogyakarta sebesar 2,68 persen, kota Semarang sebesar 2,61 persen, kota Bandung sebesar
2,54 persen dan inflasi terendah terjadi di DKI Jakarta
sebesar 2,40 persen sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Gambar 5. Inflasi YoY Ibukota Provinsi Di Pulau Jawa
(September 2015 - September 2016)
2,40 4,30
2,54 2,61 2,68
3,09
Jakarta Serang Bandung