• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdoa, Berdoa, Berjuang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Berdoa, Berdoa, Berjuang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Berdoa, Berdoa, Berjuang

Kisah Kuatnya Doa Seorang Pejuang STAN

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS.2:186)

Nama saya Priyanda Bagus Pratama, sapa saja Priyanda. Saat ini saya sedang dimagangkan oleh instansi saya di direktorat jenderal multi-talenta, di DJKN. Sebelum saya sampai di titik ini, saya sempat beberapa kali berjuang (dan berdoa) supaya senantiasa dilancarkan. Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan tentang perjuangan saya masuk Kampus Ali Wardhana. Semoga menginspirasi dan bermanfaat.

Saya adalah saya

21 tahun yang lalu saya dilahirkan ke dunia atas kuasa Allah SWT. Keluarga saya adalah keluarga menengah ke bawah dulunya. Bapak seorang karyawan swasta yang gajinya tak seberapa, ibu adalah Menteri Koordinator Kerumahtanggaan keluarga saya. Sedari kecil saya (harus) terbiasa mandiri. Bukan karena prinsip, tetapi karena keadaan.

Bapak adalah sosok yang tegas dalam keluarga, sedangkan Ibu sebagai neutralizer-nya. Bapak selalu mengajarkan etos kerja disiplin, cepat, dan keras. Sedangkan ibu mengajarkan untuk senantiasa berdoa, berdoa, dan bersyukur. Saya lebih dekat dengan Ibu, mungkin dari situlah saya menjadi sosok pendoa. Hampir semua titik krusial di hidup saya terbantu oleh doa. Wallahualam.

Titik-titik Krusial

Di penghujung tingkat sekolah dasar, keluarga saya mengalami kebangkrutan. Usaha yang dibangun selama 10 tahun serasa sia-sia. Kami pernah di titik tidak punya apa-apa, saking parahnya, kami pernah makan sebungkus mie instan untuk 4 orang. Sebungkus. Kalau rekan pembaca tidak pernah demikian bersyukurlah. Cukup kami saja yang mengalami.

(2)

Hal tersebut membuat saya harus pindah karena rumah harus dijual. Situasi kacau balau. Bapak Ibuk sibuk mencari rejeki untuk menutup lubang. Dampaknya, saya (harus) berjuang sendiri mencari SMP. Tidak seperti teman kebanyakan yang kemana-mana diantar oleh kedua orangtua nya. Saya tidak. Tidak ada persiapan belajar apapun karena memang pikiran sedang kacau, apalagi untuk anak lulusan SD yang harus merasakan langsung krisis tersebut. Saya hanya minta kepada ibu bapak untuk selalu mendoakan semoga saya lolos tes. (...). Allahuakbar, saya diterima.

Begitupun dengan masuk ke sekolah tingkat akhir. Rasanya saya ingin masuk kejuruan saja supaya bisa langsung kerja. Saat itu saya tidak punya motivasi untuk melanjutkan ke SMA. Ialah Bapak, yang menangis meminta saya untuk bersekolah di SMA. “Lhe, Bapak pengen kamu nggak seperti bapak. Ilmu nomor satu. Jangan pernah sekalipun terpikir kerja setelah lulus SMA. In syaa Allah Bapak masih mampu membiayai sampean. Jangan mikir biaya, itu urusan Bapak. Sama-sama berjuang ya, Lhe!”. Ya, saya terhipnotis. Saya jadi punya motivasi untuk mendaftar ke SMA. (...). Dan saya diterima di salah satu SMA Favorit.

Selama SMA saya melihat perjuangan Bapak Ibuk dalam mencari uang untuk kebutuhan pendidikan saya dan adek. Mungkin dari situ saya memiliki motivasi untuk selalu belajar. “Saya tidak boleh mengecewakan keluarga saya!”, hanya itu yang ada di pikiran selama tiga tahun sekolah. Hasilnya, bukannya bermaksud sombong, selama 6 semester berturut-turut nama saya selalu berada di lembar pertama pengumuman ranking paralel SMA. Kuliah. Titik berikutnya adalah kuliah. Bapak Ibuk tidak pernah memaksa saya untuk jadi A, B, atau C. Terucap kembali mantra sakral Bapak, “Lhe, Bapak pengen kamu nggak seperti bapak. Ilmu nomor satu. Jangan pernah sekalipun terpikir kerja setelah lulus SMA. In syaa Allah Bapak masih mampu membiayai sampean. Jangan mikir biaya, itu urusan Bapak. Sama-sama berjuang ya, Lhe!”. Dari situ saya mencoba menjajakan buku raport saya kepada universitas-universitas negeri yang membuka jalur pendaftaran sebelum SNMPTN. (...). Alhamdulillah, saya diterima di 3 universitas sekaligus sebelum SNMPTN. Saya juga mencoba mendaftar sekolah kedinasan statistika. Namun sayang, saya gagal di tahap terakhir. SNMPTN adalah wajib bagi seluruh siswa di SMA. Termasuk saya. Jauh sebelum proses penginputan pilihan, keluarga kami mengadakan Rapat Luar Biasa. Concern-nya bukan kemana saya harus melanjutkan, namun berapa banyak biaya yang harus keluarga kami keluarkan jika diterima nanti. Saya pribadi memiliki keinginan bersekolah di teknik. Akhirnya dengan pertimbangan biaya yang feasible bagi keluarga saya, kami sepakat pada Teknik Metalurgi di salah satu kampus teknik di Surabaya.

(3)

Namun hal itu tak berjalan mulus. Guru bimbingan konseling memberi arahan untuk ganti jurusan. Alasannya, ada satu siswi lebih pintar dari saya memilih jurusan yang sama. Daripada “bunuh diri”, saya memutuskan untuk ganti jurusan tanpa sepengetahuan keluarga saya.

Tiba waktunya pengumuman SNPMTN. (...). Saya diterima di jurusan Kedokteran Gigi di kampus negeri. Tidak ada yang menyangka kalau saya diterima di sana. Sepengetahuan keluarga saya, saya mendaftar teknik. Akhirnya bukan syukur yang pertama diucap Bapak Ibu, tetapi “Kenapa kok diterima di situ?”. Saya sempat takut itu akan menjadi kabar buruk bagi keluarga saya karena secara tidak langsung beliau berpikir bagaimana cari biaya kuliah kedokteran. Terlanjur.

Tidak merasa enak dengan hasil itu membuat saya harus putar otak untuk mencari tempat kuliah lain. Alhamdulillah, saat itu ada seorang teman saya yang memberikan informasi tentang sekolah kedinasan. STAN. Tanpa ba-bi-bu, saya mendaftar. Saya tidak cerita Bapak Ibuk tentang ini. Berbagai persiapan saya jalani. Mulai dari belajar bersama, sampai mencetak lebih dari satu rim soal dan materi untuk masuk STAN. Saya harus diterima di sini.

“Pak, Buk, doakan saya”. Hanya itu yang saya ucapkan sebelum Hari-H tes. “Doa untuk apa?” | “Untuk semuanya.”. (...). Saya lolos tahap I. Dari hasil tersebut saya semakin bersemangat untuk tes wawancara, kebugaran, dan kesehatan. “Pak, Buk, doakan saya” | “Doa untuk apa?” | “Untuk semuanya.”. (...). Allahuakbar. Saya diterima di STAN.

(...).

Jika rekan pembaca menemukan tanda tersebut, lalu diikuti oleh kalimat selanjutnya yang mengindikasikan hasil akhir dari perjuangan, tanda tersebut adalah simbol perjuangan saya.

Esensi tiga titik ( ... )

Tiga titik, dalam tata kebahasaan berarti seterusnya, melambangkan continously/terus menerus. Tiga titik inilah cerminan perjuangan saya yang terus menerus selalu berusaha memberikan yang terbaik yang saya mampu. Saya selalu menerima saran/kritik dari orang di sekitar saya, tidak pernah merasa tersinggung. Justru saya tercambuk untuk memberikan sekaligus membuktikan bahwa saya mampu mencapai tujuan saya. Sebagai contoh, ketika

(4)

saya diterima SNMPTN sekaligus lolos tahap I USM STAN, oleh teman kampus lama saya disarankan untuk tidak meneruskan USM STAN tahap II karena menurut mereka masuk STAN itu sulit dan tidak prestis (dibandingkan apa yang sudah saya dapat). Namun di lain, melihat bapak ibuk saya yang pas-pasan dalam finansial, sisi dalam diri saya mengisyaratkan untuk terus memperjuangkan STAN. Saya masih ingat Bapak mengantarkan saya membelikan sepatu lari untuk tes tahap II, beliau berpesan bahwa mungkin ini harganya tidak seberapa, tetapi jika sepatu tersebut dipadukan dengan niat saya, in syaa Allah di kemudian hari saya akan banyak bersyukur atas sepatu itu. Dan benar, sampai detik ini saya sudah lulus dari kampus impian saya dan masih menyimpan sepatu tersebut, dengan rapi. Memang perjuangan tidak akan pernah berkhianat.

Tanda kurung simbol doa ( ( ) )

Tanda kurung seolah-olah merepresentasikan tangan yang menengadah.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).

Ayat tersebut yang memotivasi saya untuk selalu meminta kepada Allah. Sebagai manusia saya masih merasa miskin dan tidak punya apa-apa, untuk itulah saya meminta kepada Allah yang Maha Kaya. Tak perlu malu meminta, Allah telah berjanji barangsiapa yang meminta kepada-Nya, niscaya akan diberikan yang terbaik. Jangan pernah sombong atas pencapaianmu sekarang, perjuanganmu hanya menyumbang sekitar 40% dari hasil tersebut. Selebihnya atas izin Allah.

Sedari kecil, saya diajarkan berdoa oleh keluarga saya, terutama ibuk. Ibuk mengajari adab dan beberapa doa penting di waktu kecil. Hingga pada akhirnya saya kecanduan dengan berdoa. Saya merasa, seolah-olah hanya doa ibu dan keputusan Allah lah yang mengantarkan saya sampai kesini (semoga sampai sukses. Aamiin). Setiap titik krusial hidup saya, keberhasilan saya mungkin karena kuatnya doa. Mulai dari tes masuk SMP, SMA, daftar universitas, tes STAN, hingga TKD kemarin, saya memproporsikan doa lebih besar daripada belajar. Tiap sehabis shalat 5 waktu maupun sunnah, saya menyempatkan membaca surah Ya Siin dikhususkan untuk hajat yang saya jalani. Dan ketika pengumuman tiba, mulai H-1 pengumuman sampai sholat terakhir sebelum detik pengumuman, saya selalu sempatkan membaca surah Al Fatikhah 100 kali setiap selesai sholat dan Ya Siin. Rekan-rekan boleh

(5)

percaya boleh tidak, itu benar-benar saya jalani dan Alhamdulillah saya sampai di titik ini. Allahuakbar!

Jangan pernah gengsi meminta doa. Baik ke kerabat, teman sejawat, maupun musuh, mintalah doa dari mereka semua. Doa tidak boleh dianggap remeh. Ketika kamu memberikan 100% usahamu tanpa diiringi doa, kamu adalah golongan orang yang sombong. Sebaliknya, ketika kamu hanya berdoa tanpa berusaha, kamu orang yang malas dan tidak realistis.

Tanda titik ( . )

Tanda titik di akhir simbol (...) mengisyaratkan kepada saya dan rekan-rekan pembaca jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa sampai kita “diberhentikan” oleh Sang Pencipta. Berikan yang terbaik secara horizontal/Habluminannaas (kepada sesama) dan secara vertikal/Habluminallah (kepada Allah), nantinya apapun yang kita lakukan in syaa Allah menjadi berkah dan bermanfaat. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, dan senantiasa diberikan kemudahan-kemudahan dalam setiap urusan. Aamiin aamiin yaa Rabbal Alamin.

Tetap semangat, jangan menyerah. Kuatkan doa, kuatkan usaha, yakinlah Allah bersama kita. (Pri)

Referensi

Dokumen terkait

Berdoa sebelum pelajaran dimulai Berdoa dengan duduk tenang, tidak berbicara sendiri, dan tidak terlihat sibuk dengan hal lain sebelum pelajaran dimulai Berdoa dengan

10 Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, Edisi Kedua, 299–301.. 11 Sama halnya dengan subjek SP dan subjek SR yang sudah bisa menerima kondisi anak-anak mereka

inderanya ,Anak mulaimeniru perilaku keagamaan secara sederhana danmulai mengekspre-sikan rasa sayang dan cinta kasih,Anak mampu meniru secara terbatas perilaku

Saya berdoa dan bertanya kepada Tuhan tapi jawaban Tuhan saya harus doakan dan memberkati teman saya itu dan teman lain yang tidak suka kepada saya.. Sakit tapi harus

Secara teknologi aplikasi ini mungkin sudah ada baik dalam bentuk desktop, web maupun mobile namun dengan adanya sistem evaluasi yang memberitahukan di akhir evaluasi

Berdasarkan hasil observasi untuk guru menunjukkan bahwa kinerja guru dalam siklus kedua ini pada proses pembelajaran khususnya keterampilan berbicara yang menggunakan media

Jika jumlah total dari komponen-komponen reaksi penyangga lebih dari tiga, dan rangka adalah statik tertentu, selanjutnya harus dicari titik simpul dengan dua gaya

c. Memenuhi persyaratan teknis minimal dan berlabel. Lahan bera atau tidak ditanami dengan tanaman yang satu familli minimal satu musim tanam. Untuk tanaman rimpang lahan yang