• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerbit: Bidang Iptek Balit bangda Prov insi Lampung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Penerbit: Bidang Iptek Balit bangda Prov insi Lampung"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Inavasi P em banuunan

J u r n a

l

K e

l

i

t b a n g a n

P e n g a r a h :

- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Lampung Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Lampung Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kepala Bidang Pemerintahan dan Sosial Budaya Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kepala Bidang Penguatan Inovasi Daerah

R e d a k s i P e l a ksa n a :

- Achmad Zoelkarnaen R - Tabrani

- Ahmad Samti Anom - Haryo Wicaksono - Halijatus Sakdiyah

M i t r a B e s t a r i :

- Ir. SAIFUL HlKAM, M.Sc., Ph.D. (Budidaya Pertanian) - Dr. SITI AMINAH, M.TP. (Ilmu Pemerintahan)

- Dr.V. SAPTARINI, S.H., M.M. (Forum CSR Lampung) - RONNY HASUDUNGAN PURBA, Ph.D. (Teknik Sipil)

P e n e r b i t:

Bidang Iptek Balitbangda Provinsi Lampung

J1. Kantor Pos NO.2 Kel Gunung Mas Telukbetung Bandar Lampung TeleponjFaksimili (0721) 5605759

(3)

Inovasi P em bangunan

Jurnal

K

elitbangan

BA D A N P E N E L IT IA N D A N P E N GE M B A N G A N DA E RAH

P R O V IN S I L A M PU N G

INO VASI VO LUM E NO M O R HALAM AN BANDARLAM PUNG ISSN

(4)

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan

rahmat-Nya sehingga Jurnal Inovasi Pembangunan edisi April 2017 ini dapat terbit tepat

waktunya, segala keberhasilan kami dalam menjaga konsistensi keberadaan jumal ini tak

lepas dari kerja keras Tim Mitra Bestari yang selalu memberikan bantuan dan s u p p o r t dalam

bentuk ulasan dan perbaikan agar sebuah artikel layak ditampilkan, redaksi pelaksana dan

para penulis yang menjadikan keberadaan Jurnal ini sebagai media untuk mendiseminasikan

hasil-hasil penelitian yang bermanfaat bagi kita semua.

Terbitan ketigabelas ini adalah sebuah bukti besamya perhatian Pemerintah Daerah Provinsi

Lampung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Provinsi Lampung.

Akhimya, kami selalu mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak untuk

(5)

KATA PEN GANTAR .i

DAFTAR ISI .ii

PRODUKTIVITAS DAN KARKAS B R O I L E R YANG DIBERI RANSUM BERBASIS

TEPUNG DAUNSINGKONG MELALUI PENAMBAHAN JINTEN HITAM

Riko Noviadi, dan N. Irwani, 1

MODEL PERMINTAAN BERAS GILING LOKAL OLEH MASYARAKAT DI KOTA

KUPANG-NTT

( M o d e l o f L oca l Mil l e d R i c e D e m a n d by T h e P u b l i c in th e Cit y o f Ku p ang - NT T )

Marince P.Tunardjo 8

EVALUASI TERHADAP PENGGUNAAN ASPAL BUTON SEBAGAI BAHAN

TAMBAH TERHADAP KARAKTERISTIK DAN PARAMETER CAMPURAN

-BERASPAL MODIFIKASI

Muhammad Karami 20

PEMBUATAN SEMEN RAMAH LINGKUNGAN ( GEO POL Y M E R ) BERBAHAN BAKU MINERAL BASALT GUNAMENUJU LAMPUNG SEJAHTERA

Muhammad Amin dan Suharto 30

PERANCANGAN FASILITAS WISATA DI TELUK LAMPUNG

MENGGUNAKAN MET ODE P O E T I C A R C HI TE C TU RE

Shofia Islamia Ishar, S.T., M.T dan M.Shubhi Yuda Wibawa, S.T, M.T. .46

PERBANDINGAN M E A N A R T E R I A L P R E S S U RE (MAP) ANTARA OBESITAS

GENERAL DENGAN OBESITAS SENTRAL PADA PEGAWAI LAKI - LAKI

DEWASA DILINGKUNGAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Khairun Nisa dan N ur Anggrain 63

KUALITAS DEMOKRASI UNTUK LAMPUNG BERKOMPETENSI

Ridwan Saifuddin 73

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE

( S t u d i K a s u s D a la m P r o s e s P e n g a n g k a t a n P e j a b a t S tru k t ur al E s el o n I I Di Lin g k u n g an

Pem e r i n t a h K o t a Ba n d a r L a m p u n g )

(6)

EVALUASITERHADAPPENGGUNAANASPALBUTONSEBAGAIBAHAN TAMBAH TERHADAP KARAKTERISTIK DAN PARAMETER CAMPURAN

BERASPAL MODIFIKASI

T H E E V A L U A T I O N O N T H E U T I L I Z A T I O N O F B U T O N A S P H A L T A S A D D I T I F O N

T H E C H A R A C T E R I S T I C S A N D P A R A M E T E R S O F M O D I F I E D A S P H A L T E D

M I X T U R E

Jurusan Teknik Sipil, Universitas Lampung, Bandar Lampung. 35145 E-mail: muhammad.karami@enS!:.unila.ac.id

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemakaian aspal Buton sebagai bahan pengganti sebagian aspal semen dan agregat halus terhadap karakteristik dan parameter campuran-beraspal. Ada tujuh karakteristik dan parameter yang harus dipenuhi syaratnya agar sebuah campuran-beraspal dapat dilaksanakan, yaitu: stabilitas, kelelahan, Marshall quotient, rongga udara atau v o i ds i n m i x t u res (VIM), rongga antar agregat atau v oi d s i n m i n e r a l a g g r e g a tes (VMA), rongga terisi aspal atau v o i d f i l l e d w i t h a s p h a l t (VFA) dan VIM pada kondisi kepadatan mutlak atau p e r c e n t a g e r e f u s a l d e n s i ty (VIM-PRD). Aspal keras penetrasi 60/70 produksi Pertamina dan agregat berasal dari st o n e cr u s h e r Batu Makmur di Lampung Selatan digunakan dalam penelitian ini. Aspal Buton yang digunakan berbentuk asli dari deposit tanpa ada perlakuan khusus sebelumnya, yang mengandung 32% aspal dan 68% mineral. Gradasi rapat (d e n s e g r a d e d) untuk campuran-beraspallapisan aus atau a s p h a l t c o n c r e te we a r i ng c o u r se (AC- WC), dengan kandungan aspal total dari 4,5 - 7,0% yang dibagi atas 3,0% aspal keras dan sisanya diambil dari aspal Buton. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka proporsi material yang dapat digunakan dalam campuran-beraspal dan memenuhi semua persyaratan karakteristik dan parameter AC- WC adalah sebagai berikut: aspal keras sebesar 3 %, agregat (batu pecah) sebesar 88,2 - 90,7 %, dan aspal Buton sebesar 6,3 - 8,8%.

T h e a i m o f t h e r e s e a rch w a s t o s e e t h e e f f e c t o f t h e u t i l iza t i o n o f B u t o n a s p h a l t a s s u b t i t u t i o n i n p a r t o s ce m e n t a s p h a l t a n d f i n e a g g r ega t e o n t h e c h a r act e r i s t ic s a n d p a r a m e t e rs o f asp h a l t m i x t u r e .

T h e r e wer e s e v e n ch a r act e r i s t i c s a n d p a r a m e t e r s w h i c h requi r e m e n t s s h o u l d b e f u l f i l e d i n o r d e r

t h a t a a n a s p h a l t m i x t u r e co u l d b e m a d e wh ich w e re s t a b i l i ty , f a t i q ue , M a r s h a l l q u o t ien t , a i r p o r e s

o r v o i d s i n m i x t u res ( V I M ) , p o r e s w i t h i n agg r e g a t e s o r v o i d s i n m i n e r a l a g g r e g a tes ( V M A ) , a i r p o r e s f i l l e d w i t h a s p h a l t o r v o i d f i l l e d w i t h a s p h a l t ( V F A ) a n d V I M i n t h e c o n d i t i o n o f a b s o l u t

d e n s i t y o r p e r c e n t a g e r e f u s a l d e n s i t y ( V I M - P R D ). A h a r d a s p h a l t o f 6 0 1 7 0 p e n e t r a t i o n o f a Per t a m i n a p r o d u c t a n d a g gre g a t e s f r o m B a t u M a k m u r s t o n e cr u s h e r, L a m p u ng S e l a t a n w e r e u s e d

(7)

i n t h e r e sea r c h . T he B u t o n a s p h a l t u s e d w a s i n o r i g i n a l f o r m f r o m i t s d e p o s i t w i t h o u t a n y s pe ci a l

Deformasi permanen adalah salah satu jenis

kerusakan yang terjadi pada campuran-beraspal yang mempengaruhi kinerja perkerasan jalan. Repetisi beban lalu-lintas yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama menyebabkan akumulasi deformasi permanen, yang pada akhirnya akan menciptakan pengaluran (r u tti ng ) secara progresif. Alavi e t a l . (2011) menjelaskan

bahwa pengaluran biasany a berbentuk tekanan yang memanjang sepanjang alur roda dan kemudian akan diikuti oleh naiknya permukaan campuran-beraspal pada sisi-sisi alur roda sehingga pada akhirnya akan menurunkan umur pelayanan perkerasan jalan dan menimbulkan bahaya yang serius

terhadap pengguna jalan. Selain itu, pengaruh lain dari pengaluran adalah menurunkan ketebalan lapisan campuran-beraspal yang

akan menjadi pemicu terjadinya retak

sehingga campuran-beraspal mengalami kegagalan.

Melihat begitu pentingnya pemahaman dan

akibat yang ditimbulkan oleh deformasi permanen seperti diuraikan di atas, Zhou et a l . (2004) menyarankan untuk melakukan karakterisasi secara penuh terhadap deformasi permanen pada campuran beraspal. Saat ini evaluasi terhadap potensi terjadinya pengaluran telah ban yak difokuskan untuk meningkatkan kekakuan ( s t i ffnes s ) , stabilitas

dan durabilitas pada campuran-beraspal. Pemakaian berbagai macam bahan tambah

( a d d i t i v e s ) baik untuk aspal maupun agregat, mempelajari pengaruh pemakaian aspal Buton

atau material yang berasal dari aspal Buton

sebagai material pengganti atau sebagai bahan tambah di dalam campuran-beraspal.Subagio et a l . (2003) menjelaskan bahwa pemakaian mineral aspal Buton sebagai f i l ler dalam H o t R o l led Asp hal t (HRA) dapat meningkatkan nilai modulus kekakuan dan ketahanan terhadap deformasi plastis. Selain itu, hasil pengujian terhadap H o t R o l l e d S h e e t (HRS)

yang menggunakan mineral aspal Buton

sebagai filler yang dilakukan oleh Subagio e t

al. (2007) juga menunjukkan bahwa modulus kekakuan HRS modifikasi pada suhu 45°C lebih tinggi dibandingkan dengan HRS non-modifikasi. Pada penelitian yang lain,

Zarnhari et al.(2014) menggunakan aspal Buton berbentuk ekstrak dan granular untuk meningkatkan kinerja campuran-beraspal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modulus kekakuan dan modulus cr e e p

menjadi lebih tinggi serta dapat menurunkan laju deformasi permanen.

Selanjutnya, Karami and Hamid, (2015), yang melakukan penelitian terhadap penggunaan aspal Buton granular, menjelaskan bahwa pemakaian aspal Buton granular sebagai bahan pengganti sebagian aspal dan agregat halus dapat meningkatkan modulus kekakuan campuran-beraspal untuk lapisan aus

( w e a r i ng c o u rse ) pada berbagai macam tingkat temperatur pengujian (l5°C - 60°C), kecepatan pembebanan dan volume lalu-lintas. Pada pengujian terhadap kelelahan

(8)

(fa t i g ue), penggunaan aspal Buton granular aspal Buton granular ke dalam eampuran-beraspal dapat menurunkan total regangan permanen eampuran-beraspal sehingga dapat meningkatkan ketahanan eampuran-beraspal terhadap deformasi permanen.

Melihat manfaat aspal Buton yang sangat baik seperti diuraikan diatas dan ketersediaan deposit aspal Buton yang sangat besar meneapai total 677 juta ton khususnya tersebar dari Teluk Sampolawa sampai Teluk Lawele di dalam area panjang 75 km dan lebar 25 km serta eukup untuk memenuhi kebutuhan aspal untuk pekerjaan jalan di Indonesia selama 100-200 tahun mendatang (Ali and Poernomo, 2007; Kurniadji, 2007), maka penelitian ten tang pemanfaatan aspal Buton untuk memperbaiki karakteristik campuran- beraspal masih sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penggunaan aspal Buton sebagai bahan pengganti sebagian aspal keras dan agregat halus dalam eampuran-beraspal terhadap stabilitas Marshalldan beberapa karakteristik dan parameter eampuran-beraspal lainnya yang menjadi persyaratan dalam eampuran-beraspal lapisan aus atau asp h a lt co n cr et e -wea r i ng co u rs e (AC- WC).

2 . 1 M a t e r i a l y a n g d i g u n a k a n

Batu peeah yang berasal dari pabrik pemecah batu (st o ne cr u s her)B a t u Makmur di Lampung Selatan, digunakan dalam penelitian Illl untuk semua ea

mpuran-beraspal.Selain itu, f il le r abu batu yang digunakan berupa bahan yang lolos saringan no. 200 (0,075 mm) juga berasal dari lokasi yang sama.Sifat-sifat agregat dan fi l ler yang digunakan disajikan pada Tabel l.Sedangkan aspal keras penetrasi 60/70 yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pertamina.Sifat fisik aspal keras disajikan mm diambil untuk digunakan dalam eampuran-beraspal, dan yang tertahan saringan dihaluskan kembali. Hasil pengujian kadar aspaI, aspal Buton mengandung aspal sebesar rata-rata 32% dan mineral 68%. Hasil pengujian sifat-sifat fisik aspal Buton disajikan pada Tabel 3 dan Gambar 2.

Tabe11.Sifat fisik agregat

(9)

Jenis Pengujian

Penetrasi 25°C, 100 gr, (0,1 mm)

Titik Lembek (0C)

Daktilitas, 25°C (em)

Beratjenis

Kehilangan berat (TFOT) (% berat)

Penetrasi setelah TFOT (%semula) Titik lembek setelah TFOT (% semula)

Daktilitas setelah TFOT (%semula)

Titik nyala dan titik bakar COC)

Titik bakar COC)

Tabel 2.Sifat fisik aspal keras

Nilai SD CV(%)

67 0,19 0,3

48,0 0,60 1,2 > 100

1,023

0,17 86,6 100 100

298 1,6

302,5 1,8 0,001 0,2

0,01 6,1

0,7 1,2 0,6 1,2

Persyaratan SNI 60-79

48- 58

Min 100

Min 1,0

MakO,8

Min 54

Min 50

Min 200 Min 200

Tabe13.Hasil pengujian sifat fisik aspal Buton

Pengujian Rata-rata SD CV (%)

Kadar air(%) 0,90 0,015 1,73

Kadar aspal (%) 32 0,51 1,62

Beratjenis bulk (%) 1,42 0,02 1,22

Penyerapan air (%) 11,10 0,10 0,91

2 . 2 D e s a i n c a mpu r a n d a n p e r s i a p a n

b e n d a u ji

Gradasi rapat (dens e g ra d ed ) untuk lapisan AC-WC digunakan dalam penelitian ini seperti disajikan pada Tabel 4 dan Gambar 3.

Gradasi tersebut menggunakan titik kontrol,

zona terlarang (r es tri c ted zo n e ) untuk mengkontrol jumlah agregat halus dan kurva

F u l ler (sebagai garis yang memiliki

kepadatan tertinggi).Berdasarkan hasil pengujian kadar aspal pada Tabel 3, aspal

Buton mengandung rata-rata 32% aspal dan

68% mineral. Oleh karena itu, agregat

gabungan yang ada pada Tabel 4 adalah gabungan dari agregat (batu pecah) dan

mineral aspal Buton.Seperti terlihat pada

Gambar 3, persentase lolos saringan agregat

gabungan masuk di dalam spesifikasi AC -WC, tidak memotong daerah re st r ict ed z o n e

serta memotong satu kali gradasi F ull e r di

daerah antara diameter 2,36 mm dan 4,75

m m .

(10)

100

(11)

proporsi mineral aspal Buton. Sehingga semakin tinggi proporsi aspal Buton dalam

eampuran-beraspal, maka proporsi agregat halus dalam eampuran-beraspal yang lolos

saringan 1,18 mm semakin rendah. Dengan demikian maka gradasi agregat gabungan tetap sarna untuk semua eampuran beraspal.

Tabel5. Proporsi kebutuhan bahan dalam eampuran-beraspal

Kandungan aspal total dalam campuran

(berdasarkan berat total campuran) (%)

4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0

3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3,0

1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0

95,5 95,0 94,5 94,0 93,5 93,0 92,3 90,7 89,2 87,6 86,1 84,5 3,2 4,3 5,3 6,4 7,4 8,5 4,7 6,3 7,8 9,4 10,9 12,5 1. Kandungan aspal total

a. Aspal keras

b. Aspal dari aspal Buton

2.Kandungan agregat total

a. Batu pecah

b. Mineral aspal Buton

3. Aspal Buton

Selanjutnya, standar pengujian Marshall digunakan untuk mengetahui karakteristik volumetrik dan kekuatan eampuran-beraspal. Tiga buah benda uji untuk masing-masing kadar aspal total dengan ukuran diameter 10,16 em dan tinggi 6,35 em dipadatkan dengan pemadat Marshall ( a ut o mati c M a rsh a l l c om pacto r) sebanyak 75 kali disetiap sisi, menggunakan penumbuk baja yang memiliki berat 4,535 kg dan jatuh bebas dari ketinggian 45,7 em.

2. 3 P e n g u j i a n M arsh a l l

Tujuan pengujian Marshall adalah untuk mengetahui nilai stabilitas ( stab i l ity) dan kelelahan ( f l o w ) eampuran-beraspal sesuai dengan SNI 06-2489-1991. Sebelum diuji, benda uji dimasukkan ke dalam bak perendam

(w a te r ba t h) pada suhu 60±1°C selama 30

menit. Kemudian benda uji dipindahkan dari bak perendam dan diletakkan di mesin penguji Marshall untuk selanjutnya dilakukan pengujian.Gambar 4 menyajikan alat uji Marshall.

Berdasarkan persyaratan dari Departemen Pekerjaan Umum No. 025/T/BM/199, ada

tujuh karakteristik dan parameter yang hams dipenuhi oleh eampuran- beraspal AC-WC untuk selanjutnya dapat dilaksanakan, yaitu: stabilitas, kelelahan, Marshall q uo t i e n t (MQ),

(12)

rongga udara atau vo i ds i n m ix tu r es (VIM),

Dari hasil perhitungan berdasarkan grafik pada Gambar 5, diperoleh kandungan aspal total 5,0% - 5,8% memenuhi persyaratan dalam setiap parameter dan karakteristik seperti pada Table 6. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan ini, maka proporsi material yang dapat digunakan dalam campuran-beraspal adalah sebagai berikut: aspal kerassebesar 3%;agregat (batupeeah)

sebesar 88,2% - 90,7%; dan aspal Buton

sebesar 6,3% - 8,8%.

Gambar 5(a) menyajikan nilai VIM dan VMA dalam setiap kadar aspal total. Semakin tinggi kadar asp ai, maka nilai VIM akan semakin ketahanan eampuran-beraspal terhadap deformasi permanen semakin me mrun.

Sedangkan penurunan VIM dibawah 3% akan menyebabkan pelieinan sehingga menurunkan

gaya gesek ( c on ta c t p o i n t) antar agregat(Page

et a l ., 1997), akibatnya stabilitas eampuran-beraspal akan menurun. Sedangkan VMA menyediakan ruang agar tersedia aspal yang eukup untuk membuat eampuran-beraspal memiliki durabilitas yang tinggi. Nilai VMA akan bertambah bila kandungan aspal total dalam eampuran semakin bertambah atau

semakin berkurang (lihat Gambar 5 a). Tahanan terhadap deformasi permanen akan bertambah besar bila kandungan VIM dan VMA dalam eampuran beraspal bertambah keeil sampai batas-batas tertentu.

Selanjutnya, nilai rata-rata, standar deviasi dan koefisien variasi nilai stabilitas dan kelelahan untuk semua kadar aspal total dalam eampuran disajikan padaTabe17. Nilai

yang sarna dari hasil pengujian stabilitas dan kadar aspal total lebih dari 6,0% menyebabkan gesekan antar agregat semakin berkurang, karena pada kondisi tersebut aspal telah berubah fungsinya, bukan hanya sebagai bahan pengikat tetapi juga berfungsi sebagai pelumas (l u b r ica n t ) . Pada kondisi ini, volume aspal telah melebihi kapasitas rongga yang ada, sehingga membuat ketahanan agregat terhadap gaya geser menjadi berkurang,

menyebabkan nilai stabilitas menurun. Dengan demikian akan membuat ketahanan eampuran- beraspal terhadap deformasi permanen akan menurun.

Gambar 5(d) menunjukkan nilai MQ eampuran-beraspal, yang merupakan rasio nilai stabilitas terhadap nilai kelelahan. Nilai MQ menunjukkan sifat kekakuan eampuran beraspal.Terlihat bahwa semakin tinggi kandungan aspal total dalam eampura n-aspal tidak eukup untuk menyelimuti semua permukaan agregat.

Selain itu, Tabel 7 juga menyajikan nilai kepadatan maksirnum eampuran-beraspal pada setiap kadar aspal total. Semakin tinggi kadar aspal total dalam eampuran maka

(13)

kepadatan maksimum campuran-beraspal

persentase aspal Butan yang semakin tinggi.

Tabel 1 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa

~900

berat jenis b u l k agregat halus lebih tinggi dibandingkan dengan berat jenis b u l k mineral

aspal Butan, sehingga semakin tinggi

(14)

Parameter dan karakteristik campuran

Berdasarkan hasil penelitian ini, aspal Buton dapat dipertirnbangkan untuk digunakan

sebagai bahan aditif ( mod i f i e r) pada campuran-beraspal AC-WC, dengan tujuanagar campuran- beraspal AC-WC memiliki stabilitas yang lebih tinggi, sehingga akan menyebabkan stabilitas Marshall bertambah kecil setelah mencapai titik optimal.

Alavi, A. H., Ameri, M., Gandomi, A. H. &

Mirzahosseini, M. R. 2011.

Formulation of flow number of asphalt mixes using a hybrid computational method. C on s tru ctio n a n d B u i l d i ng M ate r i a l s, 25(3), pp

1338-1355.

Ali, A. & Poernomo. 2007. Jati diri aspal buton di era naiknya harga aspal

stiffness modulus of modified asphalt.

Adv ances i n C ivi l E ngi nee r i ng a nd

B u i l d i ng M a te ri a l s I V . CRC Press. Karami, M., Nega, A., Mosadegh, A. &

Nikraz, H. 2016. Evaluation of Permanent Deformation of BRA Modified Asphalt Paving Mixtures Based on Dynamic Creep Test Analysis. Jou r n a l of Adv anc ed

Engi neer i ng, 16(6 9-8 1.

(15)

Karami, M. & Nikraz, H. 2015. Using

Advanced Materials of Granular BRA Modifier Binder to Improve the

Flexural Fatigue Performance of Asphalt Mixtures. P roc e d ia Engi ne er i ng , 125(452-460.

Khodaii, A. & Mehrara, A. 2009. Evaluation of permanent deformation of unmodified and SBS modified asphalt mixtures using dynamic creep test. C on s t r u cti o n an d B u i ldin g Ma t er ials ,

23(7), pp 2586-2592.

Kurniadji. Tinjauan Campuran Beraspal Panas untuk Simpangan dan Tanjakan

(Hot Mix Asphalt used for Crossroad

and Grade an Overview).

Mewujudkan Teknologi Infrastruktur Jalan yang Inovatif, 2007 Bandung -Indonesia. Pusat Penelitian and Pengembangan Jalan dan Je mbatan-Departemen Pekerjaan Umum (The

Center for Road Research and Development-Department of Public

Work).

Page, G., Musselman, J. & Romano, D. 1997. Effects of aggregate degradation on

air voids of structural asphalt mixture

in Florida. T r a nsp o r t ation Re se a rch R e cor d: J o urn a l of the T ra n s por t a ti o n

R es e arch Bo ar d, 1583), pp 19-27.

Subagio, B. S., Rahman, H., Fitriadi, H. &

Lusiana, L. Plastic Deformation

Characteristics and Stiffness Modulus

of Hot Rolled Sheet (HRS) containing

Buton Asphalt (ASBUTON).

Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies,

2007. Eastern Asia Society for Transportation Studies, 262-262.

Subagio, B. S., Siswosoebrotho, B. &

Karsaman, R. Development of laboratory performance of indonesia rock asphalt (ASBUTON) in hot rolled asphalt mix. Proceeding of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, 2003.

Zamhari, K. A., Hermadi, M. & Ali, M. H. 2014. Comparing the Performance of Granular and Extracted Binder from Buton Rock Asphalt. I n ter n a t ion a l Journ a l o f P av emen t R es e a rc h an d Te ch n o lo g y , 7(1), pp 25-30.

Zhou, F., Scullion, T. & Sun, L. 2004.

Verification and modeling of three-stage permanent deformation behavior of asphalt mixes. Jo ur n a l o f Tr a n sp or t a ti o n Eng i n e ering , 130(4),

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tujuan PKn di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pada hakekatnya dalam setiap tujuan membekali kemampuan- kemampuan pada peserta didik dalam hal

Melihat nilai kisaran hematokrit yang diperoleh pada anak burung maleo dan dibandingkan dengan nilai lasaran hematokrit berbagai jenis burung di atas dapat dikatakan nilai

• Fungsi yang digunakan untuk mengambil nilai terendah dari suatu range dalam program pengolah angka adalah ……

Melalui temuan dan analisis data di atas dapat dilihat bahwa adanya pembongkaran representasi kulit hitam dalam aspek kepemimpinan dan heroisme. Namun pembongkaran itu

kan hasil wawancara dengan beberapa responden didapati bahwa dalam melakukan pembelian mobil keluarga, responden cenderung berdiskusi serta mengambil keputusan pembelian

F (Statistic) sebesar 0,000000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diestimasi layak digunakan untuk

pola ritem salah satu repertoar talempong pacik “Anti-anti” yang terdapat di Jorong Sawah Jantan ke dalam beberapa unsur dan teknik menggarap musik yang ada pada teori

Merendam sampel ayam broiler dengan berbagai konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) varietas putih yang telah diencerkan dengan aquades selama 30 menit..