• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM PENGENDALIAN AIR UNTUK MENAMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM PENGENDALIAN AIR UNTUK MENAMBANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016 Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

SUSUNAN PANITIA SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN XI

Menuju Kemandirian Bangsa Dengan Percepatan Produksi Energi Dan Industri

Mineral Dalam Mendukung MEA

Penanggung Jawab : Dr. Ir. Suharsono, MT Ketua : Dr. Ir. Harry Budiharajo, MT Wakil Ketua : Wahyu Widayat, ST., MT Sekretaris : M. Th. Kristiati.EA, ST, MT Bendahara : Ir. Peter Eka Rosadi, MT

ISBN : 978-602-19765-3-1

Tim Reviewer :

Ketua : Dr. Suranto, ST.,MT. UPN Veteran Yogyakarta

Anggota : 1. Prof. Dr. Ir. Sismanto, M. Sc. (Universitas Gadjah Mada)

2. Dr. Ir. Asep Kurnia Permadi, M.Sc. (Institut Teknologi Bandung) 3. Dr. Muslim Abdurrahman, ST., MT. (Universitas Islam Riau) 4. Dr. Edy Nursanto, ST., MT. UPN Veteran Yogyakarta

. Dr. )r. Joko Susilo, MT. UPN Veteran Yogyakarta . Dr. )r. Edi Winarno, MT. UPN Veteran Yogyakarta . Dr. )r. Andi Sungkowo, MT. UPN Veteran Yogyakarta

Editor : Ratna Widyaningsih, ST, M.Eng Penyunting : Ika Wahyuning Widiarti, S.Si, M. Eng Desain Sampul dan Tata Letak : Hafiz Hamdalah, ST, M.Sc

Penerbit : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional

Veteran Yogyakarta

Redaksi :

Jl. SWK 104, Lingkar Utara Condong Catur Yogyakarta Gd. Arie F. Lasut Lt.1

Tel p : 0274 487814 Email : [email protected]

Distributor Tunggal :

Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Jl. SWK 104, Lingkar Utara Condong Catur Yogyakarta

Gd. Arie F. Lasut Lt.1 Tel p : 0274 487814 Email : [email protected]

Cetakan Pertama, November 2016 Hak Cipta dilindungi undang-undang

(3)

iii

Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016 Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

KATA PENGANTAR

Ungkapan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa adalah satu kalimat yang

paling pantas kami panjatkan atas terlaksananya kegiatan Seminar Nasional Kebumian XI

Fakultas

Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

dengan tema

Menuju Kemandirian Bangsa dengan Percepatan Produksi Energi dan

Industri Mineral dalam Mendukung MEA’’

Kami bangga dan bersyukur atas sedemikian besarnya tanggapan pemerhati

kebumian, dan rekan-rekan akademisi yang ditunjukan oleh masuknya sebanyak 47

makalah di meja panitia, hanya dalam rentang waktu satu bulan sejak diumumkanya

penerimaan makalah.

Namun demikian mengingat keterbatasan waktu dan tempat, dengan menyesal

panitia tidak dapat mengakomodir semua makalah untuk dimuat dalam prosiding ini.

Mudah-mudahan pada penyelenggaraan seminar mendatang yang kami agendakan rutin

setiap tahunya mampu menampung lebih banyak lagi sumbangan makalah para

pemerhati kebumian

Dengan telah terbitnya prosiding ini, kami mengucapkan banyak terima kasih

kepada Rektor UPN Veteran Yogyakarta dan Dekan FTM serta berbagai pihak yang telah

mendukung terselenggaranya kegiatan ini

Yogyakarta, November 2016

(4)

iv

Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016 Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

DAFTAR ISI

JUDUL ...

...

i

PENERBIT ...

...

ii

KATA PENGANTAR ...

....

iii

DAFTAR ISI...

....

iv

A.

EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI MINERAL ...

1

1.

Ekplorasi Zona Mineralisasi Sulfida Menggunakan Inversi Ip Metode

Leastsquare Di Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglan, Propinsi Banten ....

1

2.

Pengaruh Ground Vibration Blasting Terhadap Probabilitas Kelongsoran

Dengan Menggunakan Analisis Statistik Regeresi Di Pt. X ...

8

3.

Distribusi Dan Kadar Hg Pada Air Sungai Dan Air Sumur Di Sekitar Lokasi

Penambangan Emas Rakyat Daerah Paningkaban, Kecamatan Gumelar,

Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah ...

21

4.

Pendekatan Metode GIS Terhadap Optimasi Sumberdaya Sisa Batubara Dan

Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang Pada Perusahaan Batubara Di Propinsi

Kalimantan Selatan (Studi Kasus Pada Pt Borneo Indobara) ...

27

5.

Aplikasi Data Citra Landsat 8 Dalam Pemetaan Sebaran Potensi Kelompok

Mineral Alterasi Di Pulau Bangka Bagian Selatan...

37

6.

Evaluasi Teknis Sump Dan Sistem Pemompaan Blok S-5 Pit Selatan Pt

Pamapersada Nusantara Distrik Kcmb, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan ..

44

7.

Identifikasi Potensi Longsoran Batuan Menggunakan Pendekatan Metode Slope

Mass Rating (SMR) Pada Lereng Bekas Tambang Batubara, Tanah Bumbu,

Kalimantan Selatan ...

52

8.

Sistem Pengendalian Air Untuk Menambang Batubara Dibawah Aliran Sungai

(Studi Kasus)...

60

9.

Model Penilaian Resiko Eksplorasi Endapan Emas Epitermal Di Daerah Arinem

Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat Menggunakan Kuantifikasi Variabel

Geologi ...

66

10.

Evaluasi Dimensi Saluran Drainase Untuk Mereduksi Genangan Air Pada Lantai

Jenjang Dan Ramp Kuari D Batugamping Pt Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Citeureup ...

77

11.

Analisa Kestabilan Lereng dalam Penanganan Gejala Longsoran pada Lereng

Tambang PT. Mofatama Bangun Nusa di Desa Sungai Danau Kecamatan Satui

Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan ... 83

12.

The Accuracy Of Ore Reserves Estimation ... 90

(5)

v

Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016 Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

B.

EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI MIGAS ... 106

1.

Potensi Batuan Induk Serpih Gumai Di Area Bd, Kabupaten Batanghari, Propinsi

Sumatra Selatan ... 106

2.

Optimasi Parameter Dalam Mengkarakteristik Batuan Pasir Dengan

Menggunakan Metode Seismik Inversi Dan Identifikasi Penyebaran Porositas ... 118

3.

Depositional Facies And Paleogeography Model Of Halang Formation:

Implication To Reservoir Geometry In Tubidite Systems... 127

4.

Rencana Besar Produksi Gas Di Struktur X Dari Tahun 2014 Hingga 2024 PT.

Pertamina EP Asset 2 ... 135

5.

Evaluasi Metode Perhitungan Potensi Sumur Minyak Tua Dengan Water Cut

Tinggi di Provinsi Papua Barat ... 142

6.

Peluang Dan Tantangan Penerapan Nanoteknologi Melalui Metoda Enhanced

Oil Recovery (EOR) Di Lapangan Minyak Indonesia ... 148

7.

Studi Simulasi Reservoir Untuk Perencanaan Pengembangan Struktur S

S

Lapisan S

... 154

8.

Tidal Flat Facies And Its Porosity Based On Outcrop Data In Ngrayong

Formation, Kadiwono Area, Central Java ... 172

9.

Analisis Kontribusi Produksi Setiap Lapisan Pada Sumur Minyak Komingel

Berdasarkan Data Uji Pressure-Temperature-Spinner (PTS) ... 179

10.

A Review Of Petroleum Imaging From Magnetotelluric Data ... 188

11.

Sistem Petroleum Struktur Antiklin Kawengan ... 194

12.

Titik-Titik Geosite Sebagai Pendukung Calon Petrolem Geoheritage Bojonegoro 208

13.

Pengelolaan Sumber Daya Alam Migas Lapangan Tua Untuk Peningkatan

Ekonomi Masayarakat Di Sekitar Lokasi... 215

14.

Analisa Petrofisik Sumur-Sumur Gas Eksplorasi Untuk Karakterisasi Reservoir 218

15.

Pemodelan Aliran Gas Pada Jaringan Pipa Transmisi... 231

C.

ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI ... 242

1.

Teknologi Tepat Guna : Pemurnian & Penigkatan Kualitas Biogas Menggunakan

Prototipe CO

2

& H

2

O Removal Unit Processing ... 242

2.

Pengembangan Teknologi Tepat Guna Briket Batubara Karbonisasi Sebagai

Energi Alternatif ... 248

D.

ENERGI NON KONVENSIONAL ... 256

1.

Interpretation Of Fault Pattern And Preliminary Study Of Geothermal Potential

In Java Using Travel Time Tomography Based On Hypocenter Data ... 256

2.

A Review On Mt Application For Geothermal Prospecting In Java, Indonesia ... 264

(6)

vi

Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016 Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

E.

INDUSTRIALISASI DAN PENGOLAHAN MINERAL ... 279

1.

Peran Teknologi Co-Firing Batubara Dengan Biomas Dalam Industri Pengguna

Batubara ... 279

2.

Manfaat Ekonomi Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor PT.Aneka

Tambang Tbk. di Propinsi Jawa Barat ... 287

F.

KEBIJAKAN, KEEKONOMIAN MINERAL DAN ENERGI ... 297

1.

Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Untuk Mengahadapi Masyarakat

Ekonomi Asean, Mine Operation Divison PT. Kaltim Prima Coal ... 297

2.

Masa Depan Batubara Vs Energi Bersih ... 307

G.

TATA KELOLA LINGKUNGAN KEBUMIAN ... 313

1.

Pengaruh Struktur Geologi Terhadap Keterdapatan Airtanah Daerah Non Cat

Kabupaten Gunungkidul dan Upaya Konservasi Air Tanah Dalam Rangka

Mendukung Pembangunan Yang Berkelanjutan ... 313

2.

Perencanaan Sistem Pengelolaan Persampahan Pelayanantpa

X Kabupaten

A

... 321

3.

Studi Kerawanan Gempa Bumi Pulau Jawa Dan Analisa Seismic Hazard Pada

Empat Kota (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banyuwangi) Di Pulau Jawa Dengan

Menggunakan PSHA ... 328

4.

Pemetaan Karakteristik Fisik DAS Melalui Pendekatan Penginderaan Jauh dan

SIG untuk Estimasi Limpasan Permukaan (Studi Kasus Di DAS Pulubala

Propinsi Gorontalo) ... 336

5.

Analisa Kerentanan Tanah Berdasarkan Pengukuran Mikrotremor Pada

Kompleks Kaldera Tengger Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru . 345

6.

Proyeksi Ketersediaan Dan Kebutuhan Air Industri Di Kabupaten Tangerang ... 352

7.

Mikrozonasi untuk Mitigasi Bencana Gempa Bumi Serta Perencanaan dan

Pengembangan Wilayah Menggunakan Pengukuran Mikrotremor Metode HVSR

... 364

8.

Metode Perhitungan Kuantitatif Potensi Air Tanah Menggunakan Metode Darcy

Pada Cekungan Yogyakarta Sebagai Dasar Regulasi Penggunaan Air Tanah Yang

Bijak Dan Ramah Lingkungan : Usulan Penelitian ... 372

9.

Deformation Of The Genting-Klang Quartz Ridge Selangor, Peninsular Malaysia 381

10.

Ekosistem Gumuk Pasir Pantai Tipe Barkhan Di Parangtritis Kabupaten Bantul,

(7)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 60 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

SISTEM PENGENDALIAN AIR UNTUK MENAMBANG BATUBARA DIBAWAH ALIRAN

SUNGAI (STUDI KASUS)

Riswan1, Uyu SAISMANA2

1,2 Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitasl Lambung Mangkurat

Kampus Fakultas Teknik UNLAM Banjarbaru Jln. A. Yani KM36. Banjarbaru Kalsel

e-mail: [email protected]

Abstrak

Pola sebaran lapisan batubara pada wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi PT. XYZ secara umum berdasarkan hasil korelasi titik pemboran, ketebalan batubara bervariasi antara 0,5 meter – 10 meter dengan Strike batubara berarah Timur Laut-Barat Daya, sedangkan dip batubara berkisar 150 35o yang

penyebarannya menerus ke bawah aliran sungai. Dibawah aliran sungai tersebut terdapat lebih 5,2 juta ton batubara atau 49,9% dari jumlah total cadangan batubaranya. Tujuan yang diinginkan adalah menambang batubara yang terdapat pada daerah dibawah aliran sungai tersebut, salah satu metode yang dipilih untuk pengendalian aliran sungai adalah memindahkan sungai dari aliranya semula. Bendungan pengendali banjir (flood attenuation dam) perlu dibangun, agar aliran air dapat dikendalikan dengan baik dan pada saat banjir tidak akan menggenangi tambang yang terletak di bawah aliran sungai dan bendungan. Tiga bendungan akan dibangun berturut-turut sesuai dengan kemajuan tambang. Urutan penambangan perlu disesuaikan untuk menunjang pengelolaan aliran sungai-sungai. Pembangunan bendungan dan salurannya diperkirakan membutuhkan biaya tambahan untuk dapat menambang 5,2 juta ton batubara yang terdapat di bawah daerah aliran sungai. Air bendungan akan dialirkan melalui saluran sepanjang hampir 1,5 km melewati daerah pasca tambang (mined out area) ke kolam pengendapan, dari kolam pengendap dialirkan ke kolam pengendapan akhir melalui saluran terbuka sepanjang 1,2 km kemudian dikembalikan ke aliran sungai semula di hilir

Keywords : batubara, bendungan, pengendalian air, tambang, sungai,

PENDAHULUAN Latarbelakang

Pertambangan batubara adalah salah satu bisnis padat teknologi, modal dan resiko serta bisnis menggiurkan dengan keuntungan yang besar jika meminimal resiko. Salah satu resiko adalah lapisan atau cadangan batubara yang akan ditambang terletak jauh dari permukaan atau berada dibawah sungai.

Lapisan batubara pada wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi PT XYZ secara umum mempunyai seam 7 dengan ketebalan batubara antara 0,5 meter – 10 meter dengan Strike batubara berarah Timur Laut-Barat Daya, dan dip 150– 35o yang penyebarannya menerus ke bawah aliran sungai. Dibawah aliran sungai tersebut terdapat lebih 5,2 juta ton batubara atau 49,9% dari jumlah total sumberdaya batubara pada pada wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi dengan strippin ratio (SR) 7. Permasalahan untuk memaksimalkan sumberdaya menjadi cadangan yang dapat ditambang adalah cara menambang dan mengendalikan air sungai.

Tujuan

(8)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 61 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

Manfaat

Manfaat yang diharapkan adalah memaksimalkan perolehan batubara yang terdapat pada wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi sebab masih mempunyai nilai ekonomis untuk ditambang.

METODOLOGI

Metode yang digunakan untuk menambang batubara yang terdapat di bawah daerah aliran sungai adalah aliran sungai dialihkan dari alirannya semula. Untuk pengalihan aliran sungai harus memperhatikan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/2009 Tentang Pedoman pengalihan alur sungai dan/atau Pemanfaatan ruas bekas sungai, Pengalihan alur sungai hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin berdasarkan rekomendasi teknis. Rekomendasi teknis tersebut a. Gambar rencana trace pengalihan alur sungai, lengkap dengan prasarana penunjang dan gambar rencana bekas sungai lengkap dengan prasrana yang sudah terbangun; b. Hasil pemeriksaan hitungan luas alur sungai lama yang akan dialihkan dan luas rencana alur sungai baru; c. Hasil pemeriksaan terhadap hitungan pengaruh pengalihan alur sungai terhadap muka air banjir di hilir lokasi pengalihan dan penurunan dasar sungai di hulu lokasi pengalihan terhadap kestabilan bangunan-bangunan yang ada;

HASIL DAN PAMBAHASAN Keadaan Endapan Batubara

Secara umum endapan batubara pada lokasi PT XYZ mempunyai 7 seam dengan ketebalan batubara antara 0,5 meter – 10 meter dengan Strike batubara berarah Timur Laut-Barat Daya, dan dip 150– 35o yang penyebarannya menerus ke bawah aliran sungai dengan jumlah cadangan yang terdapat dibawah aliran sungai 5,2 juta ton dengan luas area 52 Ha dan elevasi 40 m dpl.

Gambar 1. Lapisan Batubara yang dapat ditambang dengan Pengalihan aliran sungai

Metoda Penambangan

Kegiatan penambangan menggunakan metode open cast. Penggalian batubara dimulai dari singkapan sampai mencapai kedalaman akhir pit limit (batas penambangan) dengan mengikuti jurus (strike) lapisan batubara. Penggalian overburden dan batubara dilakukan dengan kombinasi alat gali-muat (excavator) dengan alat angkut (dump truck) tanpa menggunakan metode peledakan.

Berikut prosedur-prosedur dalam tahapan aktivitas operasi penambangan batubara dengan sistem penambangan terbuka, terdiri dari beberapa tahap yaitu:

a. Land Clearing

(9)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 62 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

menggunakan unit utama bulldozer dan dibantu dengan excavator, sedangkan pohon - pohon yang besar yang tidak mampu didorong dengan bulldozer ditebang dengan chainsaw.

b. Overburden Removal

Proses ini merupakan kegiatan pengupasan dan pemindahan lapisan penutup (overburden). Kegiatan ini dilakukan secara bertahap, dengan proses penggalian menggunakan alat gali-muat dan pengangkutan menggunakan Dump Truck. Pengupasan lapisan penutup ini pertama kali dilakukan disekitar outcrop batubara yang disesuaikan dengan arah kemajuan penambangan. Lapisan penutup ini akan diangkut menuju ke tempat penimbunan yaitu ke lokasi disposal atau ke dalam final pit (in pit dump) dengan metode backfilling.

c. Coal Getting

Merupakan kegiatan penggalian dari seam batubara untuk dimuat ke dalam dump truck. Alat yang digunakan adalah excavator.

d. Coal Hauling

Kegiatan ini merupakan pengangkutan batubara dari tambang (loading point) ke raw coal stockpile dengan dump truck .

Penentuan batas Penggalian

Penentuan batas akhir penambangan (pit limit) pada penambangan batubara dibawah aliran sungai sangat penting dalam operasi tambang, karena asumsi-asumsi dasar yang dikembangkan pada perencanaan awal tambang ditinjau. Tujuan utama penentuan pit limit tambang ini adalah untuk menentukan jumlah total cadangan batubara yang dapat di tambang dibawa aliran sungai. Pengetahuaan mengenai bentuk akhir tambang juga perlu untuk perencanaan daerah pembuangan Overburden, fasilitas, pemeliharaan peralatan tambang, unit pengolah, dan lain lain. Mengetahui dimana daerah yang tidak mengandung cadangan batubara sama pentingnya dengan yang mengandung cadangan.

Penentuan limit tambang terbuka selalu dimulai dari limit yang mudah didefinisikan. Limit tambang ini ditentukan berdasarkan:

a) Singkapan batubara

b) Bentuk fisik topografi seperti sungai, lembah, dll c) Daerah batubara yang terkikis (wash out)

d) tebal lapisan tanah penutup dan batubara atau stipping ratio (SR) 7 : 1

Rencana Awala Penambangan

Dalam studi kelayakan di awal penambangan, keadaan morfology telah membatasi bukaan dinding tinggi (high wall) daerah tambang pada aliran Sungai dengan cadangan sebesar 5,3 juta (ROM) ton dan tanah atas sebanyak 32,24 juta BCM atau dengan nisbah pengupasan 6,4 : 1 (stripping ratio).

Evaluasi Cara Penambangan Baru

Rencana penambangan diatas dibuat berdasarkan hasil pemboran eksplorasi yang berhenti di tepi aliran sungai dan kendala morfologi. Pemboran tambahan telah menunjukkan bahwa cadangan batubara dibawah aliran permukaan Sungai menunjukkan tambahan sebesar 5,2 juta ton batubara dan nisbah pengupasan total menjadi 7 : 1, sehingga memungkinkan untuk mengembangkan limit tambang ke bawah sungai

Perencanaan Tambang Untuk Penambangan Batu-bara Di Bawah Aliran Sungai

Untuk dapat menambang batubara di bawah aliran sungai, diperlukan strategi penambangan sebagai berikut:

1) Menambang batubara sampai pada batas aliran sungai. 2) Menutup kembali daerah bekas pit lama.

(10)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 63 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

Mengeringkan sungai lama dan menambang batubara di bawah bekas aliran sungai lama.

Pengendalian Air Limpasan

Langkah penambangan diatas tidaklah sesederhana seperti diduga semula. Untuk pengalihan aliran sungai harus memperhatikan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/2009 Tentang Pedoman pengalihan alur sungai dan/atau Pemanfaatan ruas bekas sungai, Pengalihan alur sungai hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin berdasarkan rekomendasi teknis. Disamping aturan Kepmen, aturan umum yang digunakan dalam mengendalikan air limpasan adalah sebagai berikut:

1) mengurangi kontribusi daerah tangkapan hujan

2) mengembangkan permuka kerja yang mempunyai ketinggian yang berbeda

3) merencanakan interaksi tambang dan daerah pembuangan merencanakan dan memperhitungkan kebutuhan pemompaan

4) menggunakan pompa-pompa yang sama kisaran kemampuannya untuk seluruh tambang.

Untuk dapat menambang batubara yang terdapat di bawah daerah aliran sungai, maka aliran sungai tersebut perlu dialihkan dari alirannya semula. Satu alternatif yang dikembangkan adalah dengan membendung dan mengalihkan aliran sungai dengan tujuan:

1) menambang batubara yang terdapat di bawah sungai 2) mengendalikan aliran sungai

3) meneruskan penambangan dengan menekan resiko longsor dan banjir di daerah tambang

4) menyediakan daerah pembuangan yang mempunyai jarak angkut relatif pendek Air limpasan di tambang dikendalikan sebagai berikut

1) Pembuatan bendungan tanah (earth fill dam) setinggi 10 meter dibuat sebagai bendungan pengendalian banjir (flood atenuation dam). Bendungan ini menaikkan permukaan sungai 2,3 meter sehingga permukaan sungai lama dapat dialihkan menuju saluran pengalihan (diversion channel) melalui daerah bekas tambang lama sepanjang 1,5 km. Saluran ini dibuat melalui daerah pembuangan (disposal) sehingga sepanjang 1,5 km harus dilapisi oleh lapisan plastik HDPE (Heavy Duty Polyethilene) untuk mencegah rembesan air yang dapat mengurangi kestabilan daerah buangan (disposal)

2) Untuk mengurangi daerah kontribusi tangkapan hujan perlu membuat 3 buah bendungan tambahan untuk pengalihan aliran Anak Sungai yang masuk pada area penambangan. Urutan pembuatan bendungan ini disusun sesuai dengan urutan penambangan batubara dengan maksud mengurangi resiko hambatan penambangan dan alokasi pembiayaan sesuai dengan produksi tambahan batubara dari lokasi yang sebelumnya terganggu aliran sungai. ketiga bendungan yang dibuat kemudian harus dialirkan melalui pipa di lantai tambang karena pertimbangan sebagai berikut:

a) lantai tambang yang curam tidak memungkinkan dibuat saturan pengendali

(11)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 64 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

Gambar 2. Posisi sungai pada Lokasi Penambangan

Keuntungan Cara Penambangan Pengalihan Aliran Sungai

Cara penambangan ini dilakukan setelah dilakukan penelitian selama untuk mendapatkan alternatif yang terbaik (seperti Tambang bawah Tanah dan pengalihan aliran sungai atau pembuatan bendungan besar dihulu). Alternatif yang dipilh adalah pengalihan aliran sungai setelah ada ijin dari pemerintah, Perencanaannya dilakukan pembuatan 4 buah dam yang relatif lebih kecil daripada alternatif pembuatan sebuah bendungan yang besar di hulu Sungai atau tambang bawah tanah sebab dapat memberikan kemudahan sebagai berikut:

1) Menghindarkan pembuatan bendungan besar atau tambang bawah tanah yang lebih mahal dan resiko yang lebih besar.

2) Bendungan yang lebih kecil dapat dilakukan oleh operasi tambang sebagai bagian dari operasi tambang itu sendiri.

3) Kemajuan tambang membiayai sendiri pembuatan bendungan dengan urutan yang sesuai dari produksi tambang itu sendiri .

Pasca Penambangan

(12)

Subtema : Eksplorasi dan Eksploitasi Mineral 65 Seminar Nasional Kebumian XI, Yogyakarta, 3 – 4 November 2016

Fakultas Teknologi Mineral, UPN ”Veteran” Yogyakarta NO. ISBN 978-602-19765-3-1

penanaman vegetasi dilakukan. Bendungan-bendungan dan kolam pengendap yang dibangun akan berfungsi untuk menjaga kualitas air dari sedimentasi.

KESIMPULAN

1) Cadangan batubara yang tersimpan dibawah aliran sungai dapat ditambang dengan cara tambang terbuka melalui pengendalian aliran sungai.

2) Pengendalian air limpasan dilakukan secara terintegrasi dengan operasi penambangan. 3) Bentuk bendungan tambang tidak memerlukan konstruksi bendungan besar tetapi dapat

merupakan bendungan urugan tanah (earth fill dam) dan dibangun sesuai dengan urutan penambangan dan umur tambang itu sendiri.

4) Tambahan biaya penambangan relatif sangat kecil dibandingkan dengan penambahan produksi tambang terbuka itu sendiri.

5) Dengan menggunakan daerah bekas aliran sungai dan tambang sebagai daerah buangan maka tata lingkungan pasca tambang lebih mudah diréhabilitasi dan pengalihan aliran sungai baru dapat berfungsi lebih baik.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima Kasih kami Ucapkan kepada Kepala Teknik Tambang PT XYZ mengisinkan untuk penggunaan data dalam penulisan makalah, dan terima kasih juga kami sampaikan kepada Ketua Program Studi, teman Dosen di prodi Teknik Pertambangan UNLAM, atas motipasinya untuk menulis makalah jika ada seminar atau pertemuan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Anggrahini. 2005. Hidrolika Saluran Terbuka. Srikandi, Surabaya.

Anonim., 2009, Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/2009 Tentang Pedoman pengalihan alur sungai dan/atau Pemanfaatan ruas bekas sungai,

Anonim., 2009. Laporan Eksplorasi Batubara di Wilayah KP PT XYZ di Wilayah Kalimantan Selatan

Anonim., 2011, Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara, SNI 5015:2011

Arif, I dan Gatut S. Adisoma. 2005. Perencanaan Tambang (Buku Ajar). Bandung : Institut Teknologi Bandung, hal. VIII-2.

Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Budiarto, 1997, Diktat Kuliah Sistem Penirisan Tambang, Jurusan Teknik Pertambangan,

Universitas Pembangunan Nasional Veteran , Yogyakarta, hal .

Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi. Galang Persada, Bandung

Gambar

Gambar 1. Lapisan Batubara yang dapat ditambang dengan Pengalihan aliran sungai
Gambar 2. Posisi  sungai pada Lokasi Penambangan

Referensi

Dokumen terkait

Air limbah penambangan batubara yang pH-nya rendah mengalir ke sungai akan mempengaruhi pH air sungai, me- nyebabkan masyarakat yang sehari-hari menggunakan air

Parameter biaya yang digunakan untuk penentuan pit limit penambangan antara lain harga komoditas bahan galian, royalti dari hasil penjualan (disesuaikan dengan

Biaya pengupasa batubara dihitung untuk kegiatan operasional penambangan di pit Subahan PT. Nan Riang adalah biaya kepemilikan alat, biaya operasi alat dan biaya tenaga

Dalam kegiatan penambangan batubara khususnya pada sistem tambang terbuka yang menggunakan sistem jenjang ( benching system ) pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian

ABSTRAK DEFAMILIARISASI TRADISI: MUSEUM TAMBANG PASIR SUNGAI BRANTAS Oleh Septi Triana NRP : 3212 100 005 Kegiatan penambangan pasir tradisional di sekitar daerah aliran sungai

EVALUASI JALAN TAMBANG BERDASARKAN TEORI AASHTO UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PENGUPASAN DAN PENGANGKUTAN OVERBURDEN PADA KEGIATAN PENAMBANGAN BATUBARA DI AREA ROTO SOUTH PIT G PT

i PERANCANGAN DESIGN PIT EF PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT MILAGRO INDONESIA MINING, DESA SUNGAI MERDEKA , KECAMATAN SAMBOJA, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR SARI

Desain pit yang dirancang disesuaikan dengan kondisi daerah penelitian dan batas wilayah pertambangan dan proses penentuan batas akhir penambangan dilakukan dengan mengacu pada batas