• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Kerangka konseptual FASB da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Kerangka konseptual FASB da"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di USA dikenal adanya Conceptual Framework yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Kerangka Acuan Konseptual ata Rerangka Konseptual yang dapat dijadikan pengarah dalam penyusunan standar akuntansi. Kerangka konseptual di perlukan keberadaanya dengan fungsi utama adalah sebagai acuan bagi pihak penyusun standar akuntansi dalam menyusun Standar Akuntansi Keuangan

Dari team Conseptual Framework Project yang dibentuk Financial Accounting Standar Board (FASB) tahun 1973 dengan tugas utama menyusun Kerangka Konseptual maka baru pada bulan Desember 1985, USA mempunyai Kerangka Acuan Konseptual. Kerangka Konseptual tersebut diringkas dalam lima pernyataan yang saling berkaitan yaitu: Statement of Financial Accounting Concept (SFAC).

Secara sederhana pengertian Kerangka Konseptual adalah hasil suatu proses penalaran dan pemikiran akuntansui yang diharapkan berlaku dalam lingkungan dan kondisi tertentu yang merupakan hasil pemilihan factor-faktor dan konsep-konsep yang dianggap relevan, terpadu dan saling berkaitan. Sedangkan FASB (1978) mendefinisikan Kerangka Konseptual seperti berikut : “….. suatu system yang koheren tentang tujuan dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar konsisten dan member pedoman tentang jenis, fungsi, dan keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan.”

Pada tahun 1994 Indonesia mengadopsi Standar Akuntansi Keuangan dari International Accounting Standard Committee (IASC). Standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia mulai tahun 1995 terkodifikasi dalam dalam buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Di bagian awal buku sebelum dicantumkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dikemukakan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK).

(2)

BAB 2 PEMBAHASAN

Perbandingan Kerangka Konseptual yang ada di Indonesia dan Kerangka Konseptual FASB

2.1. DEFINISI

 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)

Di Indonesia , kerangka konseptual dikenal pada bulan September 1994, dalam hal ini IAI mengambil kebijakan untuk mengadopsi kerangka konseptual yang disusun oleh IASC sebagai dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan . kebijakan tersebut disetujui oleh Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan disahkan oleh pengurus IAI pada tanggal 7 September 1994. IAI menamakan kerangka konseptual Indonesia dengan istilah “Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan”.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan yang akan disingkat KDPPLK merupakan hasil suatu proses penalaran dan pemikiran akuntansi yang diharapkan berlaku dalam lingkungan dan kondisi tertentu yang merupakan pemilihan faktor-faktor dan konsep-konsep yang relevan.

 Kerangka Koneptual FASB

Adanya kebutuhan akan rerangka konseptual mendorong FASB mengeluarkan Discussion Memorandum berjudul “ Conceptual Rerangka for Financial Accounting and Reporting : Elements of Financial Statements and Their Measurement “ pada tahun 1976. Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya pada periode 1978-1985 dihasilkan enam komponen rerangka konseptual dan diberi nama Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) : a) SFAC No. 1,”Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises,” yang

menyajikan sasaran dan maksud dari akuntansi.

b) SFAC No. 2,”Qualitative Charateristics of Accounting Information,” yang melihat karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akuntansi berguna

c) SFAC No. 3,”Elements of Financial Statements of Business Enterprises,” yang memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam laporan keuangan, seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban.

d) SFAC No. 5,”Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprises,” yang menetapkan pengakuan dan criteria pengukuran fundamental serta pedoman mengenai bagaimana informasi sebaiknya secara formal dicantumkan dalam laporan keuangan.

e) SFAC No. 6 : “Elements of Financial Statements: A Replacement of FASB Concepts Statement No. 3,” dan memperluas ruang lingkupnya untuk ikut mencakup organisasi-organisasi nirlaba.

(3)

Kerangka konseptual ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam mengembangkan standard akuntansi keuangan (Statement of Financial Accounting Standard) di Amerika Serikat. Standar-standar tersebut berkenaan dengan pengukuran aktivitas ekonomi, penentuan waktu kapan pengukuran dan pencatatan harus dilakukan, ketentuan pengungkapan mengenai aktivitas tersebut, penyiapan dan penyajian ringkasan aktivitas ekonomi tersebut dalam b) Karakteris kualitatif yang

menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan; c) Definisi, pengakuan, dan

pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan; dan

d) Konsep modal dan

pemeliharaan modal.

1) Tingkat pertama

Pada tingkat pertama, tujuan

menunjukkan sasaran dan fundamental meliputi karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi dan definisi elemen-elemen dalam laporan keuangan.

3) Tingkat ketiga

Pada tingkat ketiga, terdapat pedoman operasional yang digunakan oleh akuntan dalam menentukan dan menerapkan standar akuntansi yang meliputi kriteria pengakuan, laporan keuangan versus pelaporan keuangan dan pengukuran.

4) Tingkat keempat

Tingkat keempat terdiri dari mekanisme penyajian yang digunakan oleh akuntansi untuk menyampaikan informasi akuntansi yang meliputi pelaporan penghasilan, pelaporan arus dana dan likuiditas, dan pelaporan posisi keuangan.

2.2.1. Tujuan Laporan Keuangan

 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) Tujuan laporan keuangan

(4)

bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi” (paragraph 12).

Oleh karena itu, menurut KDPPLK, tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan yang digunakan oleh banyak pengguna.

 Kerangka Koneptual FASB Tujuan Pelaporan Keuangan

Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis:

 Memberikan informasi yang berguna bagi para calon investor dan kreditor maupun yang sudah ada dan para pengguna lainnya dalam mebuat investasi, kredit, dan keputusan lainnya.

 Memberikan informasi untuk membantu para calon investor dan kreditor serta para pengguna lain yang sudah ada dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan kas prospektif untuk deviden atau bunga dan penerimaan dari penjualan, penebusan, atau jatuh temponya surat berharga atau pinjaman.

 Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari perusahaan, laim untuk sumber daya tersebut, serta dampak dari transaksi-transaksi, peristiwa, dan kejadian yang mengubah sumber daya dan klaim atas sumber daya tersebut.

 Memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan selam periode tersebut

 Memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan yang diperoleh melalui pengukuran penghasilan dan komponen-komponennya.

 Memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan memperoleh dan menggunakan kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman tersebut, mengenai transaksi-transaksi modalnya dan mengenai factor-faktor lain yang memengaruhi likuiditas maupun sovabilitas perusahaan tersebut

 Memberikan informasi bagaimana manajemen dari sebuah perusahaan menggunakan tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik (pemegang saham) untuk penggunaan sumber daya perusahaan yang dipercayakan kepadanya.

 Memberikan informasi yang berguna bagi manajer dan direktur dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan dari pemilik

Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan nonbisnis:

 Informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi sumber daya.

 Informasi yang bermanfaat dalam menilai jasa dan kemampuan untuk memberikan jasa

 Informasi yang bermanfaat dalam menilai kepengurusan dan kinerja manajemen  Informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, sumber daya bersih, dan

pembebanan-pembebanannya

(5)

 Informasi mengenai bagaimana organisasi nonbisnis memperoleh dan menggunakan dana kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali tersebut, serta mengenai factor-faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi

 Mencakup penjelasan dan interpretasi untuk membantu penyedia sumber daya dan pengguna- pengguna lain memahami informasi keuangan yang mereka terima

2.2.2 Karakteristik Kualitatif

 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) Karakteris kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan

Agar laporan keuangan dapat menyediakan informasi yang berguna bagi pembuatan keputusan oleh banyak pengguna, KDPPLK mengharuskan informasi yang dimuat di dalamnya agar memiliki 4 karakteristik kualitatif, yaitu dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat diperbandingkan (paragraph 24).

KDPPLK mengharuskan semua informasi yang diberikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh banyak pengguna, Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pengguna tertentu.

Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam proses pengambilan keputusan dan harus dapat diandalkan. Keandalan laporan keuangan meliputi ciri-ciri, yaitu :

Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi. 1. Relevansi

Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak relevan. Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

(6)

2. Keandalan

Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

· Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.

· Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.

· Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias

3. Keberdayaujian (verifiability)

Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur ekonomis.

4. Kenetralan (neutrality).

Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.

5. Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan (comparability) dan konsistensi (consistency).

1. Keberdayabandingan.

Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.

2. Konsistensi.

Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.

2.2.3 Elemen Laporan Keuangan

 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)

(7)

a) Aset; b) Liabilitas; c) Ekuitas; d) Kinerja; dan e) Beban;

Asset didefinisikan sebagai “ sumber daya yang dikuasai oleh sebuah perusahaan sebagai hasil dan peristiwa lampau dan diharapkan mengalirkan keuntungan di masa mendatang bagi perusahaan tersebut”. Kata kunci yang harus digaris bawahi dari definisi di atas adalah “ penguasaan “. Oleh karenanya, suatu sumber daya yang dikuasai, meskipun tidak dimiliki, harus dianggap sebagi asset. Contohnya, sebuah perusahaan harus menyatakan kendaraan bermotor yang diperoleh lewat perjanjian sewa beli atau mesin yang disewakan lewat perjanjuan sewa (dapat diberlakukan dengan ketetapan PSAK 30) sebagai asset.

Liabilitas didefinisikan sebagai “kewajiban yang dimiliki sebuah perusahaan di masa kini sebagai hasil dari peristiwa lampau, yang penyelesainnya diharapkan dihasilkan dari aliran keluar sumber daya yang merupakan keuntungan ekonomi dari perusahaan tersebut”. Kata kunci yang harus digarisbawahi dari defnisi diatas adalah “kewajiban”. Suatu kewajiban dapat berupa kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif.

Ekuitas didefinisikan sebagai “laba sisa pada asset sebuah perusahaan setelah dikurangi semua liabilitasnya”. Dapat dilihat bahwa ekuitas tidak didefinisikan jenisnya. Ekuitas hanya diungkapkan sebagai sebuah rumus matematis:

(Aset – Liabilitas = Ekuitas)

Penghasilan neto (laba) sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja. Definisi penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains). Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen, royalty, dan sewa. Keuntungan mencerminkan pos lainnya, misalnya keuntungan atas penjualan asset tetap.

Definisi beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa.

Pos yang memenuhi definisi suatu unsur harus diakui, jika :

a) Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan ; dan

b) Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal

 Kerangka Konseptual FASB

Elemen-elemen yang berkaitan langsung dengan pengukuran kinerja daan status dari perusahaan:

(8)

2. Kewajiban : Kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang timbul dari utang saat ini. Suatu entitas untuk mengalihkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain di masa depan sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa dimasa lalu . 3. Ekuitas : Kepentingan residual dari aktiva suatu entitas yang tersisa setelah mengurangi

dengan kewajibannya

4. Investasi oleh pemilik : Peningkatan aktiva bersih dari perusahaan yan diakibatkan pengalihan sesuatu yang bernilai kepada perusahaan dari entitas lain untuk mendapatkan atau meningkatkan kepemilikan dari perusahaan.

5. Distribusi kepada pemilik : Penurunan aktiva bersih dari perusahaan yang diakibatkan oleh pengahlian aktiva, pemberian jasa, atau timbulnya kewajiban oleh perusahaan kepada pemilik

6. Laba komprehensif : Perubahan ekuitas (aktiva Bersih) perusahaan selama periode tertentu yang diakibatkan dari transaksi dan peristiwa serta kejadian- kejadian lain dari sumber non pemilik

7. Pendapatan : Arus masuk atau peningkatan lain dari aktiva atau sebuah entitas pelunasan kewajiban sebuah entitas (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode tertentu 8. Beban : Arus keluar atau penggunaan lain dari aktiva dari sebuah entitas atau timbulnya

kewajiban suatu entitas (atau kombinas dari keduanya) selama satu periode tertentu yang dihasilkan oleh penyampaian atau produksi barang

9. Keuntungan : Peningkatan ekuitas (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi entitas yang insidental atau sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu yang timbul dari pendapatan atau investasi pemilik

10. Kerugian : penurunan ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi entitas yang insidental atau sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu kecuali yang timbul dari beban atau distribusi kepada pemilik

2.2.4 Konsep modal dan pemeliharaan modal.

 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)

Konsep pemeliharaan modal sangat penting bagi pengukuran laba. Menurut Hicks, seorang ekonom, laba adalah jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi oleh sebuah perusahaan dalam suatu periode, namun kekayaan di akhir periode sama dengan di awal periode. Oleh karenanya, laba adalah kelebihan setelah posisi awal dipelihara.

KDPPLK menyebut dua cara mengukur dan memelihara posisi awal, yaitu : a) Modal keuangan; dan

b) Modal fisik

2.2.5 Pengakuan dan Pengukuran  Kerangka Konseptual FASB Kriteria pengakuan meliputi:

(9)

 Dapat diukur: hal ini memiliki atribut yang relevan dan dapat diukur dengan cukup andal.

 Relevansi: informasi yang berkenaan membuat perbedaan pada keputusan penggunanya.

 Keandalan: informasi tersebut representasional, tepat, dapat diverifikasi, dan netral.

Dalam kaitannya dengan pengukuran, laporan melihat lima atribut yang berbeda dari aktiva dan kewajiban, yaitu:

Laporan perusahaan merupakan laporan yang berhubungan dengan akuntabilitas publik dari segala bentuk entitas ekonomi, terutama pada perusahaan bisnis. Laporan ini mencoba untuk menyusun sekumpulan konsep-konsep yang sedang dikembangkan sebagai dasar bagi pelaporan keuangan.

Tujuan dari studi ini adalah untuk memeriksa kembali ruang lingkup dan sasaran dari laporan keuangan yang telah diterbitkan dilihat dari kebutuhan-kebutuhan dan kondisi modern.

Setelah mendokumentasikan keterbatasan dari praktik-praktik pelaporan yang ada saat ini, maka di usulkan perlunya laporan-laporan tambahan berikut ini:

a) Laporan nilai tambah, yang menunjukkan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari usaha perusahaan dibagi antar karyawan, penyandang modal, negara, dan investasi kembali.

b) Laporan ketenagakerjaan, yang menunjukkan jumlah dan komposisi dari tenagan kerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan, kontribusi pekerjaan dari para karyawan dan manfaat-manfaat yang diterima.

c) Laporan pertukaran uang dengan pemerintah, yang menunjukkan hubungan keuangan antara perusahaan dengan negara.

d) Laporan transaksi dalam mata uang asing, yang menunjukkan transaksi-transaksi kas langsung antara inggris dengan negara negara lain.

e) Laporan prospek-prospek di masa depan, yang menunujukkan kemungkinan laba di masa depan, tingkat penempatan kerja dan investasi.

f) Laporan tujuan perusahaan, yang menunjukkan kebijakan manajemen dan sasaran-sasaran strategis jangka menengah.

(10)

Pendekatan yang di usulkan oleh “Laporan Stamp” ini bersifat evolusioner. Hal ini mengidentifikasikan masalah dan permasalahan konseptual dan memberikan solusi dari segi identifikasi tujuan-tujuan laporan keuangan perusahaan, pengguna laporan perusahaan, sifat dari kebutuhan para pengguna, dan kriteria untuk penilaian mutu standar dan akuntabilitas korporat sebagai kemungkinan komponen-komponen bagi kerangka konseptual Kanada.

(11)

PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Kerangka konseptual merupakan suatu format yang koheren tentang tujuan dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberi pedoman tentang jenis, fungsi serta keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan. Indonesia melalui IAI mengambil kebijakan untuk mengadopsi rerangka konseptual yang disusun oleh IASC sebagai dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Tujuan rerangka konseptual akuntansi di Indonesia pada intinya sejalan dengan tujuan rerangka konseptual milik US, yaitu untuk membantu berbagai pihak dalam mencapai tujuan berkaitan dengan masalah akuntansi yang muncul.

(12)

Juan, Eng, dan Wahyuni Ersa Tri.2013.Panduan Praktis Standar Akuntansi Keuangan.Jakarta:Salemba Empat

Yulianto, Ali Akbar, dan Risnawati Dermauli (Penterjermah).2011.Accounting Theory. Jakarta:Salemba Empat

Muqodim.2005.Teori Akuntansi.Yogyakarta:EKONISIA

Referensi

Dokumen terkait

Adapun judul dari usulan penelitian ini adalah “Evaluasi Beberapa Sifat- sifat Kimia Tanah yang Diaplikasi Limbah Cair pabrik Kelapa Sawit Di PT Smart Kebun Padang Halaban

Skripsi ini berjudul “ Analisis Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Sebelum Dan Sesudah Pelaksanaan Tax Amnesty di KPP Pratama Bangka ” , dengan

ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat akan lebih besar dibanding biaya yang.. dikeluarkan. Dalam hal ini, salah satu komponen indikatornya dapat berupa

Bagi penulis makalah ini, temuan-temuan awal terkait dengan fenomena politik kota dan kiprah aktivis pergerakan di dalam ruang kota memberi petunjuk bahwa adalah di dalam

47 Dinas Perindag dan Penanaman Modal bergabung dengan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sehingga namanya berubah menjadi Dinas Perindustrian, Perdagangan,

Tantangan bagi para pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan kembali posisinya di dalam proses tersebut dan beralih dari pemikiran ‘perpustakaan sebagai ruang fisik’ semata

Namun dari perbandingan proporsi dapat disimpulkan bahwa hubungan yang terjadi adalah hubungan signifikan yang berlawanan dengan teori karena proporsi kejadian gangguan

Sistem pengambil keputusan ini berbasis website dengan menggunakan metode apriori agar penjual dan calon pembeli lebih mudah mengetahui barang-barang yang banyak