KEMISKINAN STRUKTURAL
SEBAGAI MASALAH SOSIAL DI ERA GLOBALISASI 1
Teguh Hindarto
Pemahaman Mengenai Globalisasi
Mengutip pernyataan Anthony Giddens (2002), Bambang Prasetyo menjelaskan, ―Istilah
„globalisasi‟ memiliki sejarah yang menarik. Sekitar sepuluh tahun yang lalu kata globalisasi
hampir tidak pernah digunakan dalam dunia akademis mauun pers. Dari awanya tidak dikenal,
kata globalisasi sekarang muncul di mana-mana, menjadi perdebatan intens, di lingkungan
akademis dan menjadi pusat dari sebagian besar diskusi politik dan perdebatan ekonomi. Globalisasi merujuk pada kondisi bahwa kita hidup dalam „satu dunia‟, karena itu baik individu,
kelompok maupun bangsa-bangsa menjadi saling bergantung satu sama lain”2. Oleh karena itu
agar kita mendapatkan gambaran yang utuh mengenai apa dan bagaimana dibalik istilah globalisasi, maka diperlukan kajian yang meliputi definisi, karakteristik, berbagai teori di seputar globalisasi, demikian pula berbagai dampaknya baik secara positip maupun negatif serta berbagai reaksi terhadap globalisasi.
1. Definisi Globalisasi
Ada banyak ragam definisi mengenai globalisasi dan tidak ada kesepakatan diantara para pakar mengenai istilah ini. Kita akan mengutip beberapa nara sumber mengenai definisi globalisasi untuk mendapatkan gambaran umum.
Mengutip pandangan Robertson (1992), Chris Barker menjelaskan, “…konsep Globalisasi mengacu kepada penyempitan dunia secara intensif dan peningkatan kesadaran
kita atas dunia, yaitu, semakin meningkatnya koneksi-koneksi global dan pemahaman kita
atas mereka. Penyempitan dunia ini dapat dipahami berdasarkan institusi-institusi
modernitas, sementara intensifikasi kesadaran dunia secara refleksif dapat dipersepsikan
1 Naskah ini merupakan karya ilmiah yang diserahkan ke Lomba Karya Tulis Mahasiswa di Lingkungan
(LKTM) FISIP UT Tahun 2014 dan dinyatakan sebagai pemenang pertama (sertifikat terlampir di akhir naskah) dan sudah mengalami redaksional dari naskah aslinya.
2
Bambang Prasetyo, Yulia Budiwati, M. Husni Arifin, Sosiologi Pendidikan, Tanggerang Selatan:
baik lewat sudut pandang kebudayaan‖3. Selanjutnya, Barker mengutip pandangan Giddens (1991) bahwa institusi-institusi modernitas memiliki komposisi atau susunan berlapis yang terkait satu sama lain yaitu: ―kapitalisme, industrialisme, pengawasan, negara-bangsa dan kekuatan militer. Jadi, dunia modern ditandai oleh serangkaian negara-bangsa kapitalis
industrial bersenjata yang terlibat dalam pemantauan secara sistematis terhadap penduduk
mereka. Globalisasi dipahami berdasarkan ekonomi kapitalis dunia, sistem informasi
global, dan sistem negara-bangsa serta orde militer‖4.
J.A. Scholte (2002) memberikan lima gambaran mengenai globalisasi dimana kelima gambaran tersebut saling terkait satu sama lain yaitu: Pertama, globalisasi sebagai internasionalisasi. Dengan istilah ini maksudkan adanya hubungan antar batas dari berbagai negara. Kedua, globalisasi sebagai liberalisasi. Dengan istilah ini dimaksudkan penghapusan hambatan-hambatan oleh pemerintah terhadap mobilitas antar negara untuk menciptakan sebuah ekonomi dunia yang terbuka dan tanpa batas. Ketiga, globalisasi sebagai universalisasi. Istilah ini memberikan pemahaman bahwa proses globalisasi bersifat mendunia. Keempat, globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi. Istilah ini menyiratkan bahwa struktur modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, dll) disebarluaskan menjadi model pembaratan sehingga merusak keunikan budaya setempat.
Kelima, globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial. Dengan istilah ini, globalisasi
telah menerobos dan menghapuskan batas-batas teritorial melalui kekuatan-kekuatan ekonomi dan teknologi5
2. Karakteristik Globalisasi
Globalisasi bukan sebuah istilah yang berhubungan dengan kegiatan atau aktifitas ekonomi belaka. Jika kita menelaah beberapa definisi di atas, kita mendapatkan gambaran dan karakteristik globalisasi yang memang didominasi oleh kegiatan ekonomi namun merambah dalam berbagai wilayah politik, kebudayaan, keagamaan. Deskripsi J.A. Scholte di atas memberikan karakteristisk bahwa globalisasi bisa merambah kepada pembaratan budaya, pembaratan teknologi, pembaratan gaya hidup, pembaratan pendidikan. Chris Barker menjelaskan, “Globalisasi bukan hanya soal ekonomi, namun juga terkait dengan masalah makna kultural. Kendati nilai dan makna yang melekat pada suatu tempat tetap
berarti, kita semakin terjerat dalam jaringan yang meluas jauh ke luar lokasi fisik kita. Kita
3 Chris Barker, Cultural Studies: Teori & Praktek, Bantul: Kreasi Wacana Yogyakarta 2013, hal 117
4 Ibid.,hal 118
tentu saja bukan bagian dari negara dunia atau kebudayaan dunia yang satu, namun kita
dapat mengidentifikasikan proses kultural global, integrasi dan disintegrasi kultural, yang terlepas dari hubungan antar negara”6
Tahun 1990-an, futurolog John Naibit dan Patricia Aburdane memberikan deskripsi karakteristik globalisasi di segala bidang mulai dari gaya hidup global, kultur masakan, ekspnasi model pakaian, penetapan harga global, impor kultural melalui lagu-lagu hit, imperialisme kultural dll7.
Globalisasi didorong oleh salah satunya oleh kekuatan media elektronik (televisi, internet, surat kabar). Tidak mengherankan, John Naisbit menyimpulkan, “Perdagangan, perjalanan dan televisi meletakkan dasar bagi gaya hidup global. Media film dan televisi
menyampaikan citra yang sama ke seluruh desa global”8. Kekuatan media massa inipun
diakui oleh Alvin Tofler, “Para tokoh karismatik mungkin menjadi penentu gaya hidup, namun gaya itu sendiri diperagakan dan dipasarkan kepada publik oleh submasyarakat
atau puk-puak kecil yang kita namakan subkultur. Dengan mengambil bahan mentah dalam
bentuk simbolis dari media massa, mereka merangkai-rangkaikan sepotong dari sana
sepotong dari sini mengenai baju, opini dan ungkapan tertentu dan membentuk suatu paket
yang koheren: sebuah model gaya hidup‖9. Chris Barker menyebutnya dengan ―globalisasi
televisi‖ yang merupakan, “salah satu aspek dari logika kapitalisme yang ekspansionis dan dinamis dalam petualangannya mencari komoditas dan pasar baru”10
.
Kekuatan media yang menghantarkan globalisasi di segala bidang saat ini diperluas oleh kekuatan internet baik melalui social media, blog, dan sejumlah aplikasi canggih lainnya. Dunia semakin sempit dan terkoneksi dengan mudah dan cepat satu sama lain dan saling bertukar gaya hidup satu sama lain.
3. Dampak Positip Globalisasi
Globalisasi di bidang ekonomi, kebudayaan, politik, keagamaan, teknologi, dalam batas-batas tertentu memberikan sejumlah manfaat al., memudahkan kita mendapatkan akses informasi dengan cepat bahkan hitungan detik dan menit. Setiap peristiwa di ujung
6 Op.Cit., Cultural Studies: Teori & Praktek, hal 120
7 John Naisbit & Patricia Aburdene, Megatrends 2000: Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an, Jakarta:
Bina Rupa Aksara 1990, hal 106-139
8 Ibid., hal 108
99 Alvin Tofler, Kejutan Masa Depan, Jakarta: PT. Pantja Simpati 1992, hal 276
dunia dapat dengan cepat tersebar luas ke ujung dunia yang lain. Eksotika alam tertentu di wilayah terpencil dapat diketahui oleh dunia si seberang sana melalui globalisasi televisi dan globalisasi internet. Demikian pula kita dapat mengirim kabar berita dalam hitungan detik melalui surat elektronik (surel, email) tanpa harus menunggu berhari-hari melalui pengiriman konvensional. Kita pun dapat mendapatkan sebuah data penting berupa buku, naskah kuno, manuskrip, teks ilmiah dll melalui media internet tanpa kita harus membeli buku-buku dengan harga yang mahal. Manfaat lain yang bersifat positip dari fenomena globalisai adalah kita dapat terhubung dan berinteraksi dengan banyak individu, kelompok, komunitas tanpa harus terjadi kontak fisik maupun melalui kontak fisik. Social media seperti facebook, tweeter, instagram, line dll dapat mempertemukan satu orang dengan orang lainnya.
4. Dampak Negatif Globalisasi
Namun demikian, sejumlah manfaat positip globalisasi diiringi juga dengan sejumlah dampak negatif yang menguatirkan. Kita tentu masih ingat nama Snowden yang membocorkan telegram-telegram dan operasi-operasi penyadapan antar negara kepada media elektronik dan media cetak. Kita juga teringat pada Julian Assange pemilik situs Wikileaks yang membocorkan berbagai informasi dan dokumen penting suatu negara untuk kemudian dipublikasikan melalui situs miliknya Wikileaks. Mereka mampu melakukan itu semua melalui kecanggihan teknologi dan mereka bisa menyebarluaskan pada seluruh dunia melalui globalisasi media, globalisasi televisi, globalisasi internet. Henri F. Isnaeni menyebut Julian Assange sebagai “pedagang internasional ilegal” dan menyebut Wikileaks “bukanlah sekedar organisasi, tetapi media pemberontak”11
Bukan saja lemahnya pengamanan arsip dan dokumen suatu negara akibat kekuatan globalisasi teknologi, namun nilai-nilai moralitas dan kohesi sosial mengalami degradasi akibat masuknya berbagai bentuk kebudayaan asing yang belum tentu cocok dengan kebudayaan lokal. Fred Wibowo menggambarkan kenyataan itu dengan mengatakan, “Ternyata apa yang diandaikan oleh Mc Luhan bahwa dunia akan menjadi desa dunia, tidak sepenuhny tercapai. Kebudayaan desa yang memiliki kekentalan nilai manusiawi
seperti perhatian, kebersamaan dan saling menolong, tidak tercipta. Teknologi memiliki
kecenderungan menciptakan alienasi atau pengasingan, sikap individual dan cenderung
merusak kebudayaan yang hakiki. Di tangan kuasa modal, teknologi dipergunakan untuk
menggalang mobilitas massa, menyelaraskan selera, gaya hidup dan kepentingan pribadi”12
Globalisasi masih menjadikan negara adikuasa sebagai pengekspor ideologi, teknologi, gaya hidup, kapitalisme global yang menerobos masuk dan menembus sekat-sekat di negara berkembang. Dengan sinisme Fred Wibowo melanjutkan penilaiannya terhadap dampak globalisasi sbb: “Terjadinya krisis bukan hanya di Asia, negara-negara dunia ketiga pada umumnya sedang dilanda oleh berbagai macam kesulitan, mulai dari
kerusakkan lingkungan, kehancuran ekonomi, pelecehan martabat manusia, konflik politik,
perang, pembunuhan massal. Sementara negara penguasa teknologi justru memanfaatkan
situasi yang menguntungkan ini untuk menjadi polisi dunia dan bank dunia. Rupanya yang
paling berarti dalam globlisasi ini bukan peningkatan kualitas hidup banyak manusia dan
bangsa di dunia, melainkan terbentuknya polisi dunia yang dengan paksa dapat mengatur
semua kepentingan negara dan bangsa berdasarkan kepentingan mereka dan bank dunia
yang dapat menentukan arah politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan negara-negara lemah tersebut”13
. Melihat keadaan ini, tidak mengherankan jika ada sekelompok penganut Teori Ketergantungan untuk mengritisi globalisasi. Penganut teori ini membagi ekonomi dunia menjadi dua bagian yaitu ―ekonomi pusat‖ yang dikuasai negara industri maju dan ―ekonomi pinggiran‖ yang didominasi negara ketiga dan agraris. Negara ketiga atau agraris tidak mungkin menggeser kedudukan negara maju dan akan terus menerus dalam ketergantungan14
5. Globalisasi Tidak Bersifat Monolitik dan Linear
Jika banyak pemikir sosial dan ekonomi mengatakan bahwa globalisasi menciptakan homogenisasi dan imperialisme kultural, namun ada sejumlah kelompok pemikir yang menentang konsepsi tersebut. Globalisasi bukan hanya sekedar penerjemahan kapitalisme dan westernisasi di dunia ketiga yang bekerja secara monolitik dan linear, sebaliknya, negara Barat di mana globalisasi berasal pun mengalami imbas yang serupa. Chris Barker menjelaskan fenomena tersebut sbb: “Bahwa globalisasi bukan merupakan aliran satu arah yang bersifat monolitik dari Barat ke seluruh penjuru dunia dapat dilihat dalam pengaruh
ide dan praktik non Barat terhadap ide dan praktik di Barat. Sebagai contoh: dampak
12 Fred Wibowo, Kebudayaan Menggugat: Menuntut Perubahan Atas Sikap, Perilaku, Serta Sistem Yang
Tidak Berkebudayaan, Yogyakarta: Pinus Book Publisher, hal 25
13 Ibid., hal 31
global World Music, ekspor telenovela dari Amerika Latin ke Amerika Serikat dan Eropa,
penciptaan diaspora etnik melalui pergerakkan penduduk dari Selatan ke Utara, pengaruh
Islam, Hindu dan agama lainnya di Barat, komodifikasi dan penjualan makanan dan pakaian etnik”15
. Kita tidak hanya melihat gaya hidup dan kultur Barat yang disebarluaskan melalui globalisasi teknologi informasi baik televisi maupun internet dan menjadi bagian dari imperialisme budaya yang merasuk kepada negara-negara Asia, Afrika, Timur Tengah dll. Sebaliknya, kita pun melihat kegandrungan orang Barat dengan spiritualitas Timur. Mereka belajar Hinduisme, Budhisme, Zen, Islam, menaruh minat pada sihir kontemporer, minat yang besar terhadap gerakan-gerakan naturalisme.
Chris Barker menyebutnya dengan istilah ―Kreolisasi‖ dan ―Hibriditas Arus Kultural‖. Apa itu ―Kreolisasi?‖ Chris menjabarkan, “Kreolisasi mengandung pengertian bahwa klaim homogenisasi kultural bukanlah landasan yang cukup kuat bagi argumen
imperialisme kultural. Yang disebut sebagai imperalisme kultural lebih dapat dipahami
sebagai penciptaan lapis modernitas kapitalis Barat yang melapisi, namun tidak serta merta
menghapus, bentuk-bentuk kultural yang telah ada sebelumnya. Ide modern dan ide pasca
modern tentang waktu, ruan, rasionalitas, kapitalisme, konsumerisme, seksualitas, keluarga,
gender dan lain-lain diposisikan secara berdampingan dengan diskursu yang telah ada
sebelumnya, menciptakan kompetisi ideologis di antara mereka. Hasilnya bisa jadi
rentangan bentuk-bentuk identitas hibrida dan produksi identitas tradisional, fundamentalis
dan nasionalis. Nasionalisme dan negara-bangsa terus hidup berdampingan dengan
kosmopolitanisme dan melemahnya identitas nasional, proses arus, fragmentasi dan hibridisasi berlangsung sekuat dorongan ke arah homogenisasi”16
Pemahaman Mengenai Masalah Sosial
Jika dalam pemaparan sebelumnya, globalisasi di segala bidang mendatangkan sejumlah dampak baik dampak yang bersifat positip maupun dampak yang bersifat negatif, maka globalisasi dapat menghasilkan sejumlah masalah sosial jika dihubungkan dengan dampak negatif yang mengirinya.
Sebelum kita menelaah lebih jauh sejumlah masalah sosial berkaitan dengan dampak negatif globalisasi, marilah kita menelaah terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan masalah sosial dan apa yang menyebabkan terjadinya masalah sosial dengan menggunakan pendekatan struktural fungsional.
15 Op.Cit., Cultural Studies: Teori & Praktek, hal 123-124
16
1. Definisi Masalah Sosial
Parrillo (1987) memberikan definisi penjabaran dan ciri-ciri bahwa sesuatu telah terjadi masalah sosial jika memenuhi empat komponen sbb: Pertama, kondisi tersebut merupakan masalah yang bertahan untuk periode waktu tertentu. Kedua, dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau non fisik, baik pada individu dan masyarakat.
Ketiga, merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standar sosial. Keempat,
menimbulkan kebutuhan akan pemecahan17.
Sementara itu DR. Kartini Kartono membedakan antara ―patologi sosial‖ dan ―masalah sosial‖. Patologi sosial didefinisikan sebagai, “Semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak
milik, solidaritas, kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum
formal‖18. Sementara ―masalah sosial‖ didefinisikan sebagai, “Semua bentuk tingkah laku
yang melanggar atau memperkosa adat istiadat masyarakat (dan adat istiadat tersebut
diperlukan untuk menjamin kesejahteraan hidup bersama). Situasi sosial yang dianggap
sebagian besar warga masyarakat sebagai mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya dan merugikan orang banyak”19
Prof. Soerjono Soekanto mendefinisikan masalah sosial sbb: “Ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok
sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial
tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial tersebut”20. Beliaupun
membedakan dua istilah sebagaimana dilakukan Kartini Kartono, yaitu istilah ―masalah masyarakat‖ (scientific or societal problems) dan ―problema sosial‖ (ameliorative or social
problems). Istilah pertama menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan
masyarakat sementara istilah kedua meneliti gejala abnormal masyarakat dengan tujuan melakukan perbaikan atau menghilangkannya21
17 Soetomo, Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008, hal 6
18
Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2013, hal 1
19
Ibid., hal 2
20 Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar , Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2013, hal 314
2. Pernyebab Masalah Sosial: Perspektif Struktural Fungsional
Sosiologi mengenal beberapa paradigma dalam menyelesaikan masalah sosial yaitu paradigma Fungsional Struktural, paradigma Konflik serta paradigma Interaksionisme Simbolik. Soetomo mengatakan bahwa, “Teori Fungsional Struktural kemudian melahirkan perspektif patologi sosial, disorganisasi sosial, perilaku menyimpang, teori Konflik
mengembangkan perspektif konflik nilai dan institusional, sedangkan teori Interaksionisme
Simbolik diderivasikan ke dalam perspektif labbeling”22
Beberapa tokoh paradigma Fungsional Struktural al., August Comte, Max Weber, Emile Durkheim, Robert K. Merton. Menurut paradigma Fungsional Struktural yang menjadi pokok persoalan sosiologi adalah fakta sosial. Adapun fakta sosial memiliki dua bentuk yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Asumsi yang dibangun dalam paradigma Fungsional Struktural bahwa setiap struktur dalam sistem sosial bersifat fungsional terhadap yang lain, sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur ini tidak akan ada atau hilang dengan sendirinya23.
Robert K. Merton mengembangkan tiga postulatnya mengenai analisis fungsionalnya yaitu: Postulat pertama, kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan di mana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur. Postulat kedua, yaitu fungsionalisme universal, berkaitan dengan postulat pertama. Fungsionalisme universal menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positip.
Postulat ketiga adalah psotulat indispensability. Bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap
kebiasaan, ide, obyek materil dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan24.
Sebelum Robert K. Merton telah ada pendahulu sosiologi mazhab Fungsional Struktural yaitu August Comte yang menganalogikan mayarakat laksana organisme hidup. Namun beliau tidak menjelaskan lebih jauh analoginya tersebut, sampai muncul Herbert Spencer seorang sosiolog Inggris yang memberikan penyamaan dan pembedaan masyarakat sebagaimana layaknya organisme hidup yang terdiri dari lima butir sbb: Pertama, manusis
22 Op. Cit., Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya, hal 15
23
Ibid., hal 72-73
dan organisme hidup mengalami pertumbuhan. Kedua, tubuh sosial sebagaimana layaknya tubuh organisme hidup akan mengalami pertambahan yang semakin komplek fungsinya. Ketiga, tiap bagian yang tumbuh dalam tubuh organisme biologis dan tubuh sosial memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Keempat, perubahan dalam tubuh organisme biologis mempengaruhi bagian-bagian dalam dirinya demikian pula perubahan dalam tubuh sosial akan mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Kelima, bagian-bagian dalam organisme biologis merupakan struktur mikro yang dapat dipelajari secara tersendiri. Sebagaimana sistem pembuangan menjadi bahan studi spesialis biologi dan medis demikian pula dalam tubuh sosial, sistem politik dan sistem ekonomi menjadi sasaran penelaahan ahli politik dan ahli ekonomi25.
Dengan menggunakan pendekatan Fungsional Struktural yang menganalogikan tubuh sosial dengan organisme biologis dan keberadaan struktur sosial serta pranata sosial, maka berbagai masalah sosial yang terjadi disebabkan karena tidak fungsionalnya masing-masing anggota dalam struktur sosial tersebut atau atau telah terjadi disfungsionalitas pranata sosial.
Dalam pembahasan berikut kita akan menelaah sejumlah kasus masalah sosial disebabkan tidak fungsionalitasnya struktur sosial dan pranata sosial dalam merespon globalisasi.
3. Kemiskinan Struktural Sebagai Masalah Sosial di Era Globalisasi
Setelah kita memahami batasan masalah sosial dan paradigma Fungsional Struktural dalam mendekati akar persoalan terjadinya masalah sosial, maka melalui pendekatan tersebut kita akan menelaah salah satu persoalan dan masalah sosial terkait disfungsionalitas negara dalam merespon globalisasi ekonomi sehingga menimbulkan apa yang disebut dengan ―kemiskinan struktural‖. Tentu saja banyak masalah sosial lain yang patut mendapatkan perhatian namun kita akan fokuskan salah satunya adalah ―kemiskinan struktural‖.
Apakah ―kemiskinan struktural itu?‖ Revrisond Baswier menjelaskan kemiskinan berdasarkan penyebabnya yaitu kemiskinan natural, kemiskinan kultural serta kemiskinan struktural. Menurutnya, “Kemiskinan natural adalah keadaan kemiskinan yang disebabkan oleh keterbatasan alamiah, baik pada segi sumber daya manusianya maupun sumber daya
alamnya. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor
kebudayaan yang menyebakan terjadinya proses pelestarian kemiskinan di dalam
masyarakat itu. Sementara, kemiskinan sruktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh
faktor-faktor buatan manusia seperti kebijakkan perekonomian yang tidak adil, penguasaan
25
faktor-faktor produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan perekonomian international ayng lebih menguntungkan negara tertentu”26
. Kemiskinan struktural merupakan bentuk disfungsionalitas lembaga negara dalam mengejawantahkan amanat undang-undang untuk melindungi kepentingan rakyatnya sehingga menyebabkan kebijakkan yang memiskinkan. Kebijakkan impor pangan padahal negara Indonesia adalah negara agraris, eksploitasi pemodal asing terhadap kekayaan alam Papua tanpa menghasilkan kemakmuran rakyat Papua merupakan kebijakkan struktural yang memiskinkan dan disfungsional dengan fungsi dan kedudukan lembaga pemerintahan yang bertujuan melindungi kemakmuran rakyat.
Berkaitan dengan keberadaan PT. Freeport,di Papua menarik membaca minusnya kontribusi Freeport untuk kemakmuran rakyat Indonesia sebagaimana dikatakan: “Sudah hampir setengah abad Freeport mengeruk kekayaan alam kita, terutama di Papua. Selama
itu pula mereka mengeruk jutaan ton tembaga dan ratusan juta ton emas. Menurut catatan
Human Right For Social Justice, keuntungan PT. Freeport di Papua per hari mencapai Rp
114 miliar. Artinya, dalam sebulan Freeport bisa mendapatkan keuntungan sebesar 589
juta dollar AS atau Rp 3,534 triliun. Namun, di balik keuntungan yang spektakuler itu,
rakyat Indonesia justru tidak mendapat manfaat apapun. Rakyat kita di Papua sana, yang
notabene berada di sekitar pertambangan Freeport, juga tidak mendapat efek keuntungan
yang menetes. Sebagian besar rakyat Papua masih hidup dalam kemiskinan. Indeks
keparahan kemiskinan tetap melekat pada rakyat Papua. Cerita tentang kelaparan juga tak
henti-hentinya berhembus di Papua.
Ironisnya, bukannya merasakan efek keuntungan yang menetes, rakyat Papua justru
merasakan efek politik dan sosial akibat nafsu serakah Freeport untuk mengamankan dan
melanggengkan eksploitasinya di bumi Papua. Praktek kekerasan dan pelanggaran HAM
sangat massif dilakukan oleh militer Indonesia, yang notabene jadi pasukan pengawal
Freeport, di tanah Papua. Tak hanya itu, rakyat Papua juga merasak dampak kerusakan
ekologis yang sifatnya jangka-panjang.
Kontribusi Freeport untuk penerimaan negara juga nyaris tidak ada. Pemerintah
Indonesia hanya menerima royalti emas 1% dan royalti tembaga sebesar 1,5-3,5%. Sudah
begitu, Freeport juga sering membandel untuk membayar dividen kepada pemerintah
Indonesia. Padahal, pemerintah Indonesia punya saham sebesar 9,36 persen. Pada tahun
26
Revrisond Baswir, Pembangunan Tanpa Perasaan: Evaluasi Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan
2012, Freeport mestinya menyetor Rp 1,5 Triliun, tetapi yang dibayarkan baru Rp 350 miliar”27
Pernyataan senada dikatakan Hendri F. Isnaeni ―Meskipun Freeport telah menjadi
penyumbang utama bagi kemakmuran Indonesia – menyediakan sekitar $ 33 miliar dalam
laba langsung dan tidak langsung selama periode 1992-2004 – dampaknya tidak sepositif
itu pada tingkat lokal. Laba langsung kepada Indonesia berjumlah total $ 2,6 juta dari 1992
sampai 2004. Freeport melaporkan bahwa mereka membayar Indonesia lebih dari $ 1
Miliar dalam pajak, royalti dan dividen pada tahun 2005‖28
Peranan Negara Dalam Penanggulangan Kemiskinan Struktural
Sebagaimana telah diuraikan dalam Bab II bahwa salah satu masalah sosial yang muncul sebagai dampak dari fenomena globalisasi ekonomi dan kegagalan pemerintah dalam memberikan regulasi yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, akan menimbulkan kebijakkan-kebijakkan yang secara struktural bukan mensejahterakan rakyat melainkan memiskinkan rakyat yang diistilahkan oleh Revrisond Baswir sebagai ―kemiskinan struktural‖.
Dalam bukunya, “Pembangunan Tanpa Perasaan‖, Revrisond Baswir mengritik kebijakkan-kebijakkan Orde Baru di bidang ekonomi, sosial, budaya, serta pendidikan. Dalam Bab I disinggung mengenai kebijakkan pemerintah yang semakin mempertinggi kesenjangan ekonomi antara desa dan kota, antar daerah, serta antar golongan. Dalam Bab II disinggung mengenai persoalan pengangguran, pengupahan serta perburuhan. Dalam Bab III disinggung mengenai kebijakkan pangan Orde Baru yang bermuara krisis di tahun 1998.
1. Pendekatan Sistem (System Blame Approach) dan Pendekatan Individu (Individual
Blame Approach) Dalam Pemecahan Masalah Sosial
Dalam penanggulangan masalah sosial, dikenal dua pendekatan yaitu pendekatan sistem (system blame approach) dan pendekatan individu (individual blame approach). Soetomo memberikan penjelasan mengenai makna dan hasil kedua pendekatan tersebut sbb: “Person blame approach sesuai namanya dalam melakukan diagnosis lebih menempatkan individu sebagai unit analisisnya. Sumber masalah sosial dilihat pada faktor-faktor yang
melekat pada individu penyandang masalah, dengan asumsi bahwa sumber masalah sosial
ada pada diri penyandang masalah. Dari proses diagnosis yang terfokus pada kondisi
27Ambil Alih Freeport Untuk Memulihkan Kedaulatan Bangsa
http://www.berdikarionline.com/editorial/20140131/ambil-alih-freeport-untuk-memulihkan-kedaulatan-bangsa.html#ixzz2sE9x51eC
individu penyandang masalah tersebut dapat ditemukan faktor penyebabnya yang mungkin
berasal dari kondisi fisik, psikis maupun proses sosialisasinya. Sebaliknya, system blame
approach yang lebih memfokuskan pada sistem sebagai unit analisis untuk mencari dan
menjelaskan sumber masalahnya, akan menemukan faktor penyebab masalah dari aspek-aspek yang berkaitan dengan sistem, struktur dan institusi sosial”29
Dalam kasus kemiskinan sosial, pendekatan sistem (system blame approach) yang bertumpu pada kekuatan negara lebih tepat dipergunakan untuk mengembalikkan fungsionalitas negara dalam menjalankan amanat undang-undang untuk mensejahterakan rakyat dan melindungi dari kekuatan-kekuatan ekonomi yang tidak berkeadilan dan menciptakan struktur kemiskinan baru.
Berbicara mengenai pemecahan masalah sosial dengan pendekatan sistem melalui kehadiran dan fungsionalitas negara, perlu diketahui beberapa varian pandangan mengenai sejauhmana porsi negara dalam mendatangkan kesejahteraan. Lavalette dan Pratt (1977) membedakan peranan negara berdasarkan ideologi yaitu negara yang mendasarkan ideologi liberal, neo liberal, demokrasi sosial dan sosialis. Ideologi liberal menyerahkan percaturan ekonomi kepada mekanisme pasar sementara pemerintah hanya mengatur dan mengawasi. Sementara demokrasi sosial ingin menyeimbangkan antara mekanisme pasar dengan peranan negara30. Sementara Hardiman dan Midgley (1982) membedakan antara ―pendekatan residual‖ dan ―pendekatan inkremental‖. Pendekatan ―residual‖ mengritik sejumlah keterlibatan pemerintah dalam memberikan alokasi anggaran yang terlalu besar untuk kesejahteraan masyarakat. Tindakan tersebut dinilai konsumtif dan mengusulkan investasikan anggaran untuk kegiatan produktif. Sementara pendekatan ―inkremental‖ berkebalikannya. Pendekatan ini menghendaki peranan negara dalam memberikan alokasi anggaran sebesar-besarnya demi kesejahteraan sosial karena mereka berkeyakinan bahwa kesejahteraan sosial tidak akan terjadi jika hanya menyerahkan pada mekanisme pasar31.
2. Aplikasi Pendekatan Sistem Terhadap Masalah Sosial Kemiskinan Struktural
Revrisond Baswir mengajukan model pembangunan yang menjadi anti tesis model pembangunan Orde Baru yaitu ―politik neo liberal yang hanya menekankan pertumbuhan ekonomi serta memberikan kepercayaan sebesar-besarnya terhadap pemodal asing sehingga menciptakan kemiskinan struktural. Model pembangunan dan penanggulangan masalah
29 Op. Cit., Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya, hal 154
30 Ibid., hal 217-218
sosial berupa kemiskinan struktural tersebut adalah, ―politik pembangunan kerakyatan‖. Menurutnya, “Acuan utama politik pembangunan kerakyatan adalah peningkatan produktif masyarakat, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan
pembangunan. Peningkatan partisipasi produktif itu mensyaratkan ditingkatkannya
penguasaan masyarakat terhadap faktor produksi. Semakin tinggi tingkat penguasaan
seluruh anggota masyarakat terhadap faktor-faktor produksi, akan semakin tinggi pula
kemampuan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan dan mengawasi jalannya pembangunan”32
. Selanjutnya ditegaskan, “Salah satu komponen penting dari politik pembangunan kerakyatan adalah penyelenggaraan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi…Peranan negara dalam sistem ekonomi kerakyatan, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 ayat 2 dan 3 UUD 1945, terutama ditekankan pada segi pembuatan
peraturan perundang-undangan dan mengawasi pelaksanaannya. Undang-undang (UU)
yang harus dibuat dan diawasi pelaksanaannya oleh pemerintah tidak hanya berkaitan
dengan penyelenggaraan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak, tetapi meliputi pula UU mengenai pemanfaatan bumi, air dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya”33
. Salah satu usulan Revrisond Baswir terkait peranan negara dalam membangun sistem yang mensejahterakan dan menjauhkan dari kemiskinan struktural adalah “penerapan pajak penghasilan dan kekayaan progresif sebagai upaya untuk mempertahankan demokratisasi penguasaan faktor-faktor produksi oleh anggota masyarakat”34
Kesimpulan
Globalisasi mengandung sejumlah manfaat bagi kemanusiaan khususnya di bidang pendidikan, pengetahuan, teknologi. Namun dampak negatif dari fenomena globalisasi tidak bisa diabaikan. Dampak-dampak negatif globalisasi berpotensi menjadi masalah-masalah sosial yang dapat merusak struktur dan pranata sosial keluarga dan masyarakat serta negara. Salah satu masalah sosial yang muncul akibat globalisasi adalah kebijakkan pemerintah dan negara yang tidak berpihak kepada rakyat sehingga oleh kebijakkannya tersebut menghasilkan struktur kemiskinan baru yaitu kemiskinan struktural yang merugikan rakyat khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Pendekatan pemecahan masalah sosial dengan menekankan pendekatan sistem, mensyaratkan peranan negara di dalamnya dalam membuat regulasi dan kebijakkan yang
32 Op.Cit., Pembangunan Tanpa Perasaan: Evaluasi Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, hal 240
33 Ibid., hal 241-242
34
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
1. Barker, Chris. (2013). Cultural Studies: Teori & Praktek/ Chris Barker.--ed. 1, cet. 8.--Bantul: Kreasi Wacana Yogyakarta
2. Baswir, Revrisond (2003). Pembangunan Tanpa Perasaan: Evaluasi Pemenuhan Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya/ Revrisond Baswir.--ed. 1, cet. 2--Jakarta: ELSAM, Lembaga
Studi dan Advokasi Masyarakat
3. Isnaeni, Hendri F. (2011). Indonesia, Wikileaks & Julian Assange/ Hendri F. Isnaeni. –ed. 1, cet. 1—Jakarta: Ufuk Press
4. Kartono, Kartini (2013). Patologi Sosial/ Kartini Kartono. –ed. 1, cet. 13.--Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
5. Naisbit, John. (1990). Megatrends 2000: Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an/John Naisbit & Patricia Aburdene.--ed. 1--, cet. 1.--Jakarta: Bina Rupa Aksara
6. Prasetyo, Bambang (2012). Sosiologi Pendidikan/Bambang Prasetyo, Yulia Budiwati, M. Husni Arifin.--ed. 1--, cet. 3.--Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka
7. Soetomo (2008). Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya/Soetomo.--ed. 1-- cet. 1.--Yogyakarta: Pustaka Pelajar
8. Soekanto, Soerjono (2013). Sosiologi: Suatu Pengantar (Edisi Revisi)/Soerjono Soekanto.--ed. 1--, cet. 45--Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
9. Toffler, Alvin (1992). Kejutan Masa Depan.–ed. 1—cet. 4.—Jakarta: PT. Pantja Simpati 10.Poloma, Margaret M. (2010). Sosiologi Kontemporer/Margaret M. Poloma.--ed. 1--. Cet.8--
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
11.Wibowo, Fred (2007). Kebudayaan Menggugat: Menuntut Perubahan Atas Sikap, Perilaku,
Serta Sistem Yang Tidak Berkebudayaan/Fred Wibowo.--ed. 1--, cet. 1.--Yogyakarta: Pinus
Book Publisher
Internet:
Ambil Alih Freeport Untuk Memulihkan Kedaulatan Bangsa
Lampiran: