PENGEMBANGAN PROTOTIPE PEMBANGKIT LISRIK
TENAGA SURYA (PLTS) SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI
KOTA LUBUKLINGGAU
USULAN
PENELITIAN DOSEN
Oleh:
Ketua : Tri Ariani, M.Pd. Si (NIDN: 0228118901) Anggota : 1)Wahyu Arini, M.Pd.Si (NIDN: 0202129001)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
( STKIP PGRI ) LUBUKLINGGAU JULI TAHUN 2018
Kode : 773
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN DOSEN
Judul Penelitian : Pengembangan Prototife Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai Energi Alternatif di Kota Lubuklinggau
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 773/ Pndidikan Fisika Ketua Peneliti
Nama Lengkap : Tri Ariani, M.Pd.Si
NIDN : 0228118901
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli Program Studi : Pendidikan Fisika
Nomor HP : 085217522225
Alamat Email : [email protected]
Anggota Peneliti
Nama Lengkap : Wahyu Arini, M.Pd.Si
NIDN : 0202129001
Perguruan Tinggi : STKIP PGRI Lubuklinggau Penelitian Semester : Ganjil 2018/2019
Biaya Penelitian : Diusulkan ke PT Rp.7.400.000,-
Dana institusi lain Rp.-
Menyetujui, Lubuklinggau, Juli 2018
Ketua STKIP PGRI Lubuklinggau, Ketua Peneliti,
Dr. Rudi Erwandi, M.Pd Tri Ariani, M.Pd.Si
NIDK. 8859460019 NIDN.0228118901
Mengetahui Kepala LP4MK,
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
RINGKASAN ... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 3
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
1.5. Rencana Target Capaian ... 4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Sejarah Solar Cell ... 5
2.2. Prinsip Kerja Solar Cell ... 6
2.3. Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya ... 9
2.4 Performansi dari Modul Surya ... 13
2.5 Daya ... 14
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 15
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
3.2. Alat dan Bahan ... 15
3.3. Alur Penelitian ... 15
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 16
3.5. Teknik Analisis Data ... 17
BAB 4. BIAYA dan JADWAL PENELITIAN ... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 19
RINGKASAN
Energi matahari dapat dimanfaatkan dengan bantuan peralatan lain, yaitu
dengan merubah radiasi matahari kebentuk lain. Ada dua macam cara merubah radiasi
matahari ke dalam energi lain, yaitu melalui solar cell(panel surya) dan collector.
Energi surya adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat
menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang dihasilkan
selama proses konversi energi, dan juga sumber energinya banyak tersedia di alam.
Pemanfaatan energi matahari yang digunakan dalam penelitian ini dalam
menggunakan panel surya yang dikenal dengan pembangkit listrik tenaga surya. Panel
surya bekerja mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Cahaya
matahari terdiri atas foton atau partikel energi surya yang dikonversi menjadi energi
listrik. Energi yang diserap oleh sel surya diserahkan pada elektron sel surya untuk
dikonversi menjadi energi listrik. Panel Surya adalah alat yang terdiri dari sel
surya,inverter, controler,dan baterai yang mengubah cahaya menjadi listrik. Panel
surya menghasilkan arus listrik searah atau DC. Untuk menggunakan berbagai alat
rumah tangga yang berarus bolak-balik atau AC dibutuhkan inverter (alat pengubah
arus DC ke AC). Penel surya pada umumnya Memiliki ketebalan minimum 0,3 mm,
yang terbuat dari irisan bahan semikonduktor dengan kutub positif dan kutub negatif.
Prinsip dasar pembuatan panel surya adalah memanfaatkan efek fotovoltaik, yaitu
suatu efek yang dapat mengubah langsung cahaya matahari menjadi energi listrik.
Dalam penelitian ini akan dikembangkan desain dan dianalisis hasil rancangan sistem
pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 50 WP yang akan
dimanfaatkan sebagai penerang lampu jalan. Mengingat masih banyaknya daerah di
Kota Lubuklinggau yang belum terpasang lampu jalan, terutama di daerah
perumahan-perumahan. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan ketidaknyamanan
masyarakat yang keluar saat malam hari. Dengan tujuan penelitian untuk menghitung
karakteristik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan panel
surya 50 WP dan menghitung daya maksimal yang dihasilkan oleh pembangkit listrik
tenaga surya yang dihasilkan. Sehingga dapat dianalisis unjuk kerja dari desain sistem
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi dan modernisasi saat ini, setiap aspek kehidupan manusia
memerlukan sarana-sarana penunjang baik dalam lingkunga rumah tangga,
masyarakat, dibidang industri maupun diperkantoran. Setiap sarana tersebut
membutuhkan energi untuk dapat bekerja dengan baik. Dalam pemanfaatan energi
tersebut diperlukan kebijakan dan pengaturan secara terencana yang dikenal dengan
konservasi energi. Konservasi energi merupakan usaha yang dilakukan dengan cara
mengefisienkan penggunaan energi yang disertai dengan usaha membuat teknologi
baru dalam memanfaatkan sumber energi yang tidak habis (terbarui) seperti energi
matahari, angin, air, dan panas bumi. Untuk jangka panjang, konservasi energi dapat
menggunakan energi sedemikian rupa sehingga dapat menekan energi seminimal
mungkin. Sedangkan untuk jangka pendek, konservasi energi dapat dilakukan melalui
langkah-langkah penghematan energi maupun penggunaan energi alternatif misalnya
panas matahari (Susilowati, 2013).
Kebutuhan energi akhir- akhir ini sangatlah besar dikarenakan pesatnya
perkembangan teknologi disemua bidang. Dengan kebutuhan energi yang begitu
banyak bahan bakar fosil dan gas bumi tidak mampu mencukupi semua kebutuhan,
maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut dimanfaatkan energi terbarukan yaitu
energi yang tidak akan ada habisnya. Memasuki abad 21,persediaan minyak dan gas
bumi semakin menipis. Sementara kebutuhan akan energi semakin meningkat,
utamanya di negara-negara industri akan meningkat sampai 70% antara tahun 2000
sampai dengan 2030. Pada tahun 2015, kebutuhan energi listrik akan mencapai
19,5-20 trilyun kWh. Namun sumber energi primer (minyak dan gas bumi) hanya mampu
menyumbang 12,4 Trilyun Kwh saja, sesuatu hal yang memprihatinkan dan
mengkhawatirkan mengingat minyak dan gas bumi yang selama ini kita andalkan
suatu saat nanti akan habis, di Indonesia diperkirakan dalam waktu 18 tahun lagi akan
habis.Status persediaan minyak dunia diperkirakan akan habis 23 tahun kedepan, gas
akan habis 62 tahun ke depan, sedangkan batu bara 146 tahun ke depan tidak akan
tersedia lagi (Hasan,2012).
Di Indonesia yang terletak di daerah tropis ini sebenarnya memiliki suatu
keuntungan cukup besar yaitu menerima sinar matahari yang berkesinambungan
sepanjang tahun. Matahari akan bersinar sepanjang tahun, meskipun pada musim
hujan intensitasnya berkurang. Kondisi iklim ini menyebabkan matahari dapat
menjadi alternatif sumber energi masa depan di Indonesia. Sayangnya energi tersebut
kelihatannya dibiarkan terbuang percuma untuk keperluan alamiah saja (Hasan, 2012).
Selain itu energi matahari dapat dimanfaatkan dengan bantuan peralatan lain, yaitu
dengan merubah radiasi matahari kebentuk lain. Indonesia terletak di garis
khatulistiwa, sehingga mempunyai sumber energi surya yang berlimpah dengan
intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4,8 kWh/m2 per hari di seluruh wilayahnya (Ilyas dan Ishak, 2017).
Untuk mengatasi krisis energi yang sedang melanda Negara kita sangat
penting dilakukan upaya-upaya eksplorasi untuk membangkitkan energi listrik. Untuk
menghasilkan energi listrik yang besar dengan biaya yang ekonomis serta ramah
lingkungan kita bisa memanfaatkan energi matahari. Energi matahari dapat
dimanfaatkan dengan bantuan peralatan lain, yaitu dengan merubah radiasi matahari
kebentuk lain. Ada dua macam cara merubah radiasi matahari ke dalam energi lain,
yaitu melalui solar cell(panel surya) dan collector (Karmiathi, 2012). Tidak diragukan
lagi bahwa energi surya adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan
sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang
dihasilkan selama proses konversi energi, dan juga sumber energinya banyak tersedia
di alam (Rahayuningtyas, dkk, 2014).
Pemanfaatan energi matahari yang digunakan dalam penelitian ini dalam
menggunakan panel surya yang dikenal dengan pembangkit listrik tenaga surya. Panel
surya bekerja mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Cahaya
matahari terdiri atas foton atau partikel energi surya yang dikonversi menjadi energi
listrik. Energi yang diserap oleh sel surya diserahkan pada elektron sel surya untuk
dikonversi menjadi energi listrik. Panel Surya adalah alat yang terdiri dari sel
surya,inverter, controler,dan baterai yang mengubah cahaya menjadi listrik. Panel
surya menghasilkan arus listrik searah atau DC. Untuk menggunakan berbagai alat
rumah tangga yang berarus bolak-balik atau AC dibutuhkan inverter (alat pengubah
yang terbuat dari irisan bahan semikonduktor dengan kutub positif dan kutub negatif
(Subandi dan Hani, 2015). Prinsip dasar pembuatan panel surya adalah memanfaatkan
efek fotovoltaik, yaitu suatu efek yang dapat mengubah langsung cahaya matahari
menjadi energi listrik. Apabila sebuah logam dikenai suatu cahaya dalam bentuk foton
dengan frekwensi tertentu, maka energi kinetik dari foton aka menembak ke
atom-atom logam tersebut. Atom logam yang iradiasi akan melepaskan
elektron-elektronnya. Elektron-elektron bebas inilah yang mengalirkan arus dengan jumlah
tertentu.
Jika panel surya dikembangkan di Lubuklinggau maka akan mendatangkan
keuntungan yang sangat besar,diantaranya sumber energi tersedia sepanjang tahun dan
gratis, bebas polusi udara, tidak bising, tidak memerlukan sistem transmisi yang rumit,
tidak menyebabkan efek pemanasan global, dapat ditempatkan di daerah terpencil,
umur pakainya panjang kurang lebih 20 tahun, aman , dan perawatannya sangat
mudah dan hampir tanpa biaya. Selain itu dapat menambah pengetahuan masyarakat
kota Lubuklinggau tentang pemanfaatan energi matahari, karena hingga saat ini belum
ditemukan masyarakat Kota Lubuklinggau yang memanfaatkan panel surya sebagai
sumber energi alternatif. Terlebih lagi dengan terus meningkatnya biaya pemakaian
listrik dari PLN, masyarakat Lubuklinggau dapat secara gratis memanfaatkan energi
matahari ini untuk kebutuhan listrik rumah tangga mereka.
Dalam penelitian ini akan dikembangkan desain dan dianalisis hasil rancangan
sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 50 WP yang akan
dimanfaatkan sebagai penerang lampu jalan. Mengingat masih banyaknya daerah di
Kota Lubuklinggau yang belum terpasang lampu jalan, terutama di daerah
perumahan-perumahan. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan ketidaknyamanan
masyarakat yang keluar saat malam hari. Dengan tujuan penelitian untuk menghitung
karakteristik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan panel
surya 50 WP dan menghitung daya maksimal yang dihasilkan oleh pembangkit listrik
tenaga surya yang dihasilkan. Sehingga dapat dianalisis unjuk kerja dari desain sistem
pembangkit listrik tenaga surya untuk kapasitas 50 WP.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah disampaikan, maka rumusan masalah
1. Bagaimana tegangan, arus, dan daya maksimal yang dihasilkan pada solar panel
50 wp?
2. Bagaimana pengaruh besar sudut pada tegangan, arus, dan daya yang dihasilkan
solar panel 50 wp?
3. Bagaimana pengaruh intensitas matahari tiap jam nya pada tegangan, arus, dan
daya yang dihasilkan solar panel 50 wp?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui tegangan, arus, dan daya maksimal yang dihasilkan pada solar panel
50 wp
2. Mengetahui pengaruh besar sudut pada tegangan, arus, dan daya yang dihasilkan
solar panel 50 wp
3. Mengetahui pengaruh intensitas matahari tiap jam nya pada tegangan, arus, dan
daya yang dihasilkan solar panel 50 wp
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Memberikan informasi tentang pentingnya pemanfaatan energi matahari
sebagai energi listrik alternatif
2. Memberikan masukan pada pihak-pihak terkait dalam perencanaan
pembangunan PLTS
3. Dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari, khususnya untuk masyarakat
yang belum dalam jangkauan listrik dari PLN
1.5 Rencana Target Capaian
No Jenis
Luaran
Indicator Capaian 1 Publikasi ilmiah di jurnal nasional (ber ISSN)1) Reviewed
2 Pemakalah dalam pertemuan ilmiah 2) Nasional Draft Lokal
3 Buku ajar3) Belum
4 Luaran lainnya jika ada (Teknologi tepat guna, model/purwarupa/desain/karya seni/rekayasa social)4)
Draft
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Solar Cell
Tenaga listrik dari cahaya matahari pertama kali ditemukan oleh Alexandre –
Edmund Becquerel seorang ahli fisika Perancis pada tahun 1839. Temuannya ini
merupakan cikal bakal teknologi solar cell. Percobaannya dilakukan dengan menyinari
2 elektrode dengan berbagai macam cahaya. Elektrode tersebut di balut (coated)
dengan bahan yang sensitif terhadapcahaya, yaitu AgCl dan AgBr dan dilakukan pada
kotak hitam yang dikelilingi dengan campuran asam. Dalam percobaanya ternyata
tenaga listrik meningkat manakala intensitascahaya meningkat. Selanjutnya penelitian
dari Bacquerel dilanjutkan oleh peneliti-peneliti lain. Tahun 1873 seorang insinyur
Inggris Willoughby Smith menemukan Selenium sebagai suatu elemen photo
conductivity. Kemudian tahun 1876, William Grylls dan Richard Evans Day
membuktikan bahwa Selenium menghasilkan arus listrik apabila disinari dengan
cahaya matahari.
Hasil penemuan mereka menyatakan bahwa Selenium dapat mengubah tenaga
matahari secara langsung menjadi listrik tanpa ada bagian bergerak atau panas.
Sehingga disimpulkan bahwa solar cell sangat tidak efisien dan tidak dapat digunakan
untuk menggerakkan peralatan listrik. Tahun 1894 Charles Fritts membuat Solar
Cell pertama yang sesungguhnya yaitu suatu bahan semi conductor (selenium) dibalut
dengan lapisan tipis emas. Tingkat efisiensi yang dicapai baru 1% sehingga belum
juga dapat dipakai sebagai sumber energi, namun kemudian dipakai sebagai
sensor cahaya. Tahun 1905 Albert Einstein mempublikasikan tulisannya mengenai
photoelectric effect. Tulisannya ini mengungkapkan bahwa cahaya terdiri dari paket-paket atau “quanta of energi” yang sekarang ini lazim disebut “photon.” Teorinya ini sangat sederhana tetapi revolusioner. Kemudian tahun 1916 pendapat Einstein
mengenai photoelectric effect dibuktikan oleh percobaan Robert Andrew Millikan
seorang ahli fisika berkebangsaan Amerika dan ia mendapatkan Nobel Prize untuk
karya photoelectric effect. Tahun 1923 Albert Einstein akhirnya juga mendapatkan
Nobel Prize untuk teorinya yang menerangkan photoelectric effect yang
Hingga tahun 1980 an efisiensi dari hasil penelitian terhadap solar cell masih
sangat rendah sehingga belum dapat digunakan sebagai sumber daya listrik. Tahun
1982, Hans Tholstrup seorang Australia mengendarai mobil bertenaga surya pertama
untuk jarak 4000 km dalam waktu 20 hari dengan kecepatan maksimum 72 km/jam.
Tahun 1985 University of South Wales Australia memecahkan rekor efisiensi solar
cell mencapai 20% dibawah kondisi satu cahaya matahari. Tahun 2007 University of
Delaware berhasil menemukan solar cell technology yang efisiensinya mencapai 42.8% Hal ini merupakan rekor terbaru untuk “thin film photovoltaicsolarcell.” Perkembangan dalam riset solar cell telah mendorong komersialisasi dan
produksi solar cell untuk penggunaannya sebagai sumber daya listrik (Susilowati,
2013).
2.2 Prinsip Kerja Solar Cell
Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi
listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.
Gambar 2.1 Sel Surya sebagai Komponen Utama PLTS
Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS
adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering
dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap
memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.
Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik,
atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang
semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita
valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi,
selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran
elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar
akan menghasilkan arus listrik. Apakah pada kalkulator bertenaga surya atau stasiun
ruang angkasa internasional, panel surya (solar panel) yang digunakan menghasilkan
listrik menggunakan prinsip yang relatif sama. Elemen dasar panel surya adalah unsur
yang juga digunakan untuk menciptakan revolusi komputer yaitu silikon murni.
Ketika dilucuti dari semua pengotor, silikon menjadi sebuah platform netral yang ideal
untuk transmisi elektron. Atom silikon memiliki tempat untuk delapan elektron dalam
kulit terluarnya, tetapi hanya membawa empat elektron dalam keadaan alami. Ini
berarti terdapat tempat bagi empat elektron lagi. Jika salah satu atom silikon kontak
dengan atom silikon lain, masing-masing atom akan menerima empat elektron dari
atom lain. Kondisi ini akan menciptakan ikatan yang kuat, tetapi tidak ada muatan
positif atau negatif karena delapan elektron memenuhi kebutuhan atom silikon yang
berikatan. Atom silikon dapat saling terikat dalam waktu lama untuk menghasilkan
lempeng besar silikon murni yang antara lain digunakan sebagai bahan panel surya.
Dua lempeng silikon murni tidak akan menghasilkan listrik karena tidak memiliki
muatan positif atau negative (Fitryah, 2015).
Gambar 2.2 struktur panel surya
Sumber :http://solarcell.com.jpg/struktur_solar_cell ,
Panel surya dibuat dengan menggabungkan silikon dengan unsur-unsur lain
yang bisa ditawarkan ke atom lain. Jika digabungkan secara kimia, silikon dan fosfor
akan menghasilkan delapan elektron stabil dengan masih memiliki satu elektron
bebas. Elektron bebas ini tidak bisa pergi karena terikat pada atom fosfor, namun tidak
diperlukan oleh silikon. Oleh karena itu, lempeng silikon-fosfor ini lantas bermuatan
negatif.
Namun, agar listrik mengalir, muatan positif juga harus tersedia. Hal ini
dicapai dengan menggabungkan silikon dengan unsur seperti boron, yang hanya
memiliki tiga elektron untuk ditawarkan. Sebuah lempeng paduan silikon-boron masih
memiliki satu tempat tersisa untuk elektron lain. Ini berarti lempeng tersebut memiliki
muatan positif. Dua lempeng negatif dan positif diatas diletakkan berdekatan dalam
panel surya, dengan kabel konduktif menghubungkan antar panel surya.
Sinar matahari memiliki peran yang sangat penting. Sinar matahari memiliki
banyak partikel energi yang berbeda, dengan salah satunya disebut foton. Pada panel
surya, foton bertindak seperti palu. Ketika pelat negatif sel surya ditempatkan pada
sudut yang tepat terhadap matahari, foton akan membombardir atom silikon-fosfor.
Akhirnya, elektron ke-9 pada pelat silikon-fosfor menjadi bebas. Elektron bebas ini
lantas ditarik oleh pelat silikon-boron untuk mengisi satu tempat kosong yang mereka
miliki. Seiring foton memutus lebih banyak elektron, listrik lantas dihasilkan. Listrik
yang dihasilkan oleh satu sel surya mungkin tidak mengesankan, tetapi ketika banyak
panel surya saling dihubungkan, listrik yang dihasilkannya cukup untuk
menghidupkan motor atau peralatan elektronik lainnya. Salah satu kendala utama
panel surya adalah hanya sejumlah kecil listrik yang bisa dihasilkan dibandingkan
dengan ukurannya.Kalkulator mungkin hanya memerlukan sel surya tunggal, tetapi
mobil bertenaga surya akan membutuhkan beberapa ribu. Jika sudut panel surya
berubah sedikit saja, efisiensi bisa turun hingga 50 persen.
Sebenarnya, sebagian daya dari panel surya dapat disimpan dalam baterai,
tetapi biasanya tidak banyak kelebihan daya yang tersisa. Selain menyediakan foton,
sinar matahari juga memancarkan sinar ultraviolet dan gelombang inframerah yang
bisa merusak panel surya. Panel surya yang terpapar cuaca juga akan mengalami
Gambar 2.3 Panel surya
Gambar 2.4 Charge Control
2.3 Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Untuk instalasi listrik tenaga surya sebagai pembangkit listrik, diperlukan komponen
sebagai berikut:
1. Panel Surya (Solar Cell)
Solar panel mengkonversikan tenaga matahari menjadi
listrik. Sel silikon (disebut juga solar cells) yang disinari
matahari/ surya, membuat photon yang menghasilkan
arus listrik. Sebuah solar cells menghasilkan kurang
lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12
Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel (untuk
menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun)
Apa arti Solar Cell 50 WP ?
Solar cell 50 wp artinya solar cell tersebut mempunyai 50 watt peak ( pada saat matahari terik )
Peak 1 hari di asumsikan 4,5 jam (hitungan aman adalah 4 jam)
sehingga 50 x 4,5 = 225 watt hour / day, itu kapasitas maksimal untuk pemakaian 1 hari.
2. Charge Control
Cara kerja charger controller
Pada waktu solar panel mendapatkan energy dari
cahaya matahari di siang hari, rangkaian charger
controller ini otomatis bekerja dan mengisi (charge
) battery dan menjaga tegangan battery agar tetap
stabil .
Contoh.
Bila kita menggunakan battery 12V, maka rangkaian ini akan menjaga agar tegangan
charger 12 10% , tegangan charger yang di butuhkan antara 13,2 – 13,4 Volt.
dan bila sudah mencapai tegangan tersebut, rangkaian ini otomatis akan menghentikan
proses pengisian battery tersebut.Sebaliknya apabila tegangan battery turun / drop
hingga 11 Volt , maka controller akan memutus tegangan sehingga battery tidak
sampai habis. Secara keseluruhan Fungsi dari Controller ini yaitu dapat menjaga agar
battery tidak kelebihan (over charger) dan kehabisan tegangan (under charger) dengan
Gambar 2.5 Battery
Gambar 2.6 Inverter 3. Battery
Fungsi battery adalah sebagai tempat untuk
menyimpan daya (power storage).Untuk battery
yang digunakan sebaiknya menggunakan battery
gel atau yang selama ini kita kenal dengan istilah
battery kering.Battery gel ini adalah yang paling
direkomendasikan untuk digunakan pada applikasi
solar system. Kelemahannya adalah harganya yang mahal.
4. Inverter / Converter (Optional)
adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan
tegangan searah (DC - direct current) menjadi tegangan
bolak balik (AC - alternating current). Alat ini tidak
diperlukan untuk beban yang hanya membutuhkan
tegangan searah (Kamal, 2016).
2. 4. Jenis – jenis Solar Cell
Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel
surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf.
Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya
silikon, CIGS, dan CdTe. Berdasarkan kronologis perkembangannya, sel surya
dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama
dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi
kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin
film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh
pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya
berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.
Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama,
yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan
kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic
Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai
riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.Jenis-jenis sel
surya digolongkan berdasarkan teknologi pembuatannya. Secara garis besar sel surya
dibagi dalam tiga jenis, yaitu:
1. Monocrystalline
Jenis ini terbuat dari batangan kristal silikon murni yang diiris tipis-tipis. Kira-kira
hampir sama seperti pembuatan keripik singkong. Satu singkong diiris tipis-tipis,
untuk menghasilkan kepingan-kepingan keripik yang siap digoreng. Singkong yang
mudah diiris tipis-tipis, beda dengan kristal silikon murni yang membutuhkan
teknologi khusus untuk mengirisnya menjadi kepingan-kepingan kristal silikon
yang tipis. Dengan teknologi seperti ini, akan dihasilkan kepingan sel surya yang
identik satu sama lain dan berkinerja tinggi. Sehingga menjadi sel surya
yang paling efisien dibandingkan jenis sel surya lainnya, sekitar 15% - 20%.
Mahalnya harga kristal silikon murni dan teknologi yang digunakan, menyebabkan
mahalnya harga jenis sel surya ini dibandingkan jenis sel surya yang lain di pasaran
Kelemahannya, sel surya jenis ini jika disusun membentuk solar modul (panel
surya) akan menyisakan banyak ruangan yang kosong karena sel surya seperti ini
umumnya berbentuk segi enam atau bulat, tergantung dari bentuk batangan kristal
silikonnya, seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar 2.7 Monocrystalline
Keterangan gambar:
1. Batangan kristal silikon murni
2. Irisan kristal silikon yang sangat tipis
Gambar 2.8 Polycrystalline
4. Sebuah panel surya monocrystalline yang berisi susunan sel surya monocrystalline.
Nampak area kosong yang tidak tertutup karena bentuk sel surya jenis ini.
2.Polycrystalline
Jenis ini terbuat dari beberapa
batang kristal silikon yang dilebur
/ dicairkan kemudian dituangkan
dalam cetakan yang berbentuk
persegi. Kemurnian kristal
silikonnya tidak semurni pada sel
surya monocrystalline, karenanya sel
surya yang dihasilkan tidak identik satu sama lain dan efisiensinya lebih rendah,
sekitar 13% - 16% . Tampilannya nampak seperti ada motif pecahan kaca di
dalamnya. Bentuknya yang persegi, jika disusun membentuk panel surya, akan rapat
dan tidak akan ada ruangan kosong yang sia-sia seperti susunan pada panel surya
monocrystalline di atas. Proses pembuatannya lebih mudah dibanding
monocrystalline, karenanya harganya lebih murah. Jenis ini paling banyak dipakai saat
ini.
3. Thin Film Solar Cell (TFSC)
Jenis sel surya ini diproduksi dengan cara menambahkan satu atau beberapa
lapisan material sel surya yang tipis ke dalam lapisan dasar. Sel surya jenis ini sangat
tipis karenanya sangat ringan dan fleksibel.Jenis ini dikenal juga dengan nama TFPV
(Thin Film Photovoltaic).
Berdasarkan materialnya, sel surya thin film ini digolongkan menjadi:
a. Amorphous Silicon (a-Si) Solar Cells.
Sel surya dengan bahan Amorphous Silicon ini, awalnya banyak diterapkan pada
kalkulator dan jam tangan. Namun seiring dengan perkembangan teknologi
pembuatannya penerapannya menjadi semakin luas. Dengan teknik produksi yang
disebut "stacking" (susun lapis), dimana beberapa lapis Amorphous Silicon ditumpuk
membentuk sel surya, akan memberikan efisiensi yang lebih baik antara 6% - 8%.
b. Cadmium Telluride (CdTe) Solar Cells.
Sel surya jenis ini mengandung bahan Cadmium Telluride yang memiliki efisiensi
lebih tinggi dari sel surya Amorphous Silicon, yaitu sekitar: 9% - 11%.
c. Copper Indium Gallium Selenide (CIGS) Solar Cells.
Dibandingkan kedua jenis sel surya thin film di atas, CIGS sel surya memiliki
efisiensi paling tinggi yaitu sekitar 10% - 12%. Selalin itu jenis ini tidak mengandung
bahan berbahaya Cadmium seperti pada sel surya CdTe. Teknologi produksi sel surya
thin film ini masih baru, masih banyak kemungkinan di masa mendatang. Ongkos
produksi yang murah serta bentuknya yang tipis, ringan dan fleksibel sehingga dapat
dilekatkan pada berbagai bentuk permukaan, seperti kaca, dinding gedung dan
genteng rumah dan bahkan tidak menutup kemungkinan kelak dapat dilekatkan pada
bahan seperti baju kaos (Fitryah,2015).
2.4 Performansi dari Modul Surya 1. Pengaruh Posisi Permukaan Sel Surya
Biasanya sel surya diletakkan dengan posisi statis menghadap matahari.
Padahal bumi itu bergerak mengelilingi matahari. Orbit yang ditempuh bumi
berbentuk elip dengan matahari berada di salah satu titik fokusnya. Karena matahari
bergerak membentuk sudut selalu berubah, maka dengan posisi panel surya yang statis
itu tidak akan diperoleh energi listrik yang optimal. Agar dapat terserap secara
maksimum, maka sinar matahari itu harus diusahakan selalu jatuh tegak lurus pada
permukaan sel surya. Dengan demikian sistem sel surya itu harus dilengkapi dengan
rangkaian kontroler optimal untuk mengatur arah permukaan panel surya agar selalu
2. Pengaruh Luas Sel Surya Terhadap Daya
Luas sel surya berpengaruh terhadap daya suatu sel surya, semakin luas sel
surya semakin besar energi yang diserap. Luas sel surya tidak berpengaruh terhadap
tegangan beban nol, keran itu suatu sel surya dengan luas yang besar akan mempunyai
daya yang maksimum.
3. Pengaruh Temperatur Terhadap Daya Sel Surya
Dengan penyinaran konstan, daya sel surya berkurang sesuai dengan naiknya
temperatur. Hal tersebut sesuai dengan sifat tegangan beban nol dan berlawanan
dengan arus hubungan singkat. Tegangan beban nol akan berkurang sesuai dengan
kenaikkan temperatur yang besarnya kurang lebih 3 mV/K. Suatu sel surya dengan
tegangan 0,6 V pada T 250C akan berkurang sampai 0,45 V pada T 750C. Arus hubungan singkat akan bertambah sesuai dengan bertambahnya temperatur yang
besarnya kurang lebih 0,1%/K. Pengurangan tegangan adalah lebih besar dari
penambahan arus yang mengakibatkan penurunan daya keseluruhan 0,44%/K
(Susilowati, 2013).
2.5 Daya
Sebelum mengetahui daya sesaat yang dihasilkan harus diketahui energi yang
diterima. Energi sel surya adalah perkalian intensitas radiasi yang diterima dengan
luasan dengan persamaan
P = Ir x A (1)
Keterangan :
Ir = Intensitas radiasi matahari (W/m)
A = Luas permukaan (m)
P = Daya (Watt)
Sedangkan untuk besarnya daya sesaat yaitu perkalian tegangan dan arus yang
dihasilkan oleh sel fotovoltaic dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
P = VxI
Keterangan :
I= Arus (Ampere)
V= Beda Potensial (Volt)
P = Daya (Watt)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini direncanakan berlangsung dari bulan Agustus 2018 di Kompleks
perumahan Nikan 2 RT 04, Kelurahan Air Kuti Kota Lubuklinggau.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Solar panel 50 wp
2. Controller
3. Inverter
4. Baterai atau aki
5. Lampu LED
6. Gunting
7. Solder
8. Kabel merah hitam
9. Balok kayu
10.Capit buaya
11.Multimeter
12.Palu
13.Obeng
3.3 Alur Penelitian
Metode yang digunakan dalam desain analisis rangkaian dilakukan beberapa
tahapan, diantaranya: a) Penentuan panel surya yang digunakan, sehingga dalam
penggunaannya tidak terjadi kerusakan pada panel surya itu sendiri; (b). Penentuan
komponen regulator yang akan digunakan, sehingga dalam aplikasinya tidak terjadi
kesalahan penggunaan yang berakibat kurang baik atau dapat merusak panel surya
maupun peralatan listrik yang dipasang nantinya; (c). Dari segi penggunaan
komponen, juga dipertimbangkan segi ekonomis dan kondisi yang ada dipasaran,
estetika, desain alat agar dapat dibuat sedemikian rupa sehingga rapi, menarik dan
aman dalam penggunaannya; (f). Memilih komponen yang lulus kualifikasi dan sesuai
dengan kebutuhan sistem, seperti BCR dan inverter (jika terdapat beban AC).
Metodologi yang digunakan dalam desain analisis pembangkit listrik tenaga matahari
50 WP dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir (flowchart) yang sistematis
seperti Gambar 1.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Panel surya. Pengukuran yang
dilakukan bertujuan untuk mendapatkan nilai keluaran (output) tegangan, arus listrik,
dan daya listrik dari sampel alat. Pada pengukuran ini data dikumpulkan dengan
menggunakan alat multimeter untuk
mengukur tegangan. Pengukuran tegangan dan arus dilakukan setiap 30 menit sekali
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yaitu dari data hasil penelitian dibuat tabel dan grafik daya
listrik yang dihasilkan pada setiap 30 menit pada rangkaian pembangkit listrik tenaga
surya yang dihasilkan (PLTS) dengan tujuan melihat besarnya keluaran (output) daya
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
A. Anggaran Biaya Penelitian
Penelitian ini membutuhkan biaya selama pelaksanaan penelitian mulai dari
pembuatan proposal hingga penulisan hasil penelitian.Biaya tersebut tercantum dalam
tabel 1 berikut.
No Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp)
1 Gaji dan upah 1.485.000
2 Alat dan Bahan Penelitian 3.365.000
3 Bahan Habis Pakai 450.000
4 Perjalanan 1.500.000
5 Lain-lain 600.000
Jumlah 7.400.000
B.Jadwal Pelaksanaan
Jadwal kegiatan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.
No Jenis Kegiatan Bulan
2 Penyusunan Proposal
Penelitian
3 Perakitan Alat
4 Pengujian alat dan
perbaikan alat
3 Pengambilan data
4 Penyusunan Laporan Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Fitryah, Nur. 2015. Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Jakarta: Universitas Trisakti
Giancoli. 2001. Fisika Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Hasan, H., (2012), Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Di Pulau Saugi, Jurnal Riset dan Teknologi Kelautan, Vol 10, No 2
Ilyas, Sani & Idhak Kasim. 2017. Peningkatan efisiensi Pembangkit listrik tenaga surya dengan reflektor parabola. JETri, Volume 14, Nomor 2, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri, Universitas Trisakti
Karmiathi, N.M., (2011), Rancang Bangun Modul Solar Cell Dengan Memanfaatkan Komponen Fotovoltaic Kompatibel, Jurnal Logic, Vol 11.
Rahayuningtyas, A., Kuala, S.I., dan Apriyanto, F., (2014), Studi Perencanaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Plts) Skala Rumah Sederhana Di Daerah Pedesaan Sebagai Pembangkit Listrik Alternatif Untuk Mendukung Program Ramah Lingkungan Dan Energi Terbarukan, Prosiding SnaPP 2014 Sains, Teknologi, dan Kesehatan
Subandi dan Slamet Hani. 2015. Pembangkit Listrik Energi Matahari Sebagai Penggerak Pompa Air Dengan Menggunakan Solar Cell. Jurnal Teknologi Technoscientia Vol. 7 No. 2, Jurusan Teknik Elektro Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
Sulilowati, Rani. 2013. Perbandingan Daya Listrik Yang Dihasilkan Antara Panel Surya Berpenjejak Menggunakan Ldr Dengan Panel Surya Diam. Thesis S2 Pendidikan IPA: Universitas Bengkulu
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian
Upah dan Honor
Alat dan Bahan Penelitian
Material Justifikasi
Solar panel 50 wp Menangkap energi dari sinar matahari
1 950.000 950.000
Inverter perangkat elektrik yang digunakan
controller Mengatur catu daya atau power supply
Penjepit buaya Penghubung ke multimeter
20 bh 4000 80.000
Multimeter Pengukur tegangan dan arus listrik
1 300.000 300.000
Bahan Habis Pakai Kerta HVS Cetak proposal dan
hasil
4 rim 40.000 160.000
Jilid Proposal dan Hasil 10 bh 5000 50.000
Tinta printer Cetak proposal dan hasil
3 kotak 50.000 150.000
Log book Mendokumentasikan kegiatan selama
Kota/Tempat Tujuan Volume Biaya satuan
(Rp) Biaya (Rp) 1 Transport pelaksanaan
penelitian untuk peneliti
2x20 10.000 400.000
2 Konsumsi selama melaksanakan penelitian
2x20 20.000 800.000
3 Biaya pengiriman alat 1 300.000 300.000
Jumlah Biaya 1.500.000 Lain-lain
No
Uraian Kegiatan Volume Biaya
Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Biaya dokumentasi 1 paket 150.000 150.000
2 Komunikasi (Telepon/HP)
1 Paket 100.000 100.000
3 Penelusuran pustaka (internet)
1 paket 100.000 100.000
6 Pelaporan 1 paket 250.000 250.000
Lampiran 2. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas b. Pengumpulan data
ke lokasi penelitian yaitu
mengobeservasi wilayah yang akan dipasang PLTS c. Membuat prototife
pembangkit listrik tenaga surya
d. Pengambilan data di lokasi penelitian e. menganalisis data
penelitian, ke lokasi penelitian c. Membantu
menganalisis data penelitian,
Lampiran 3. Biodata Ketua dan Anggota Peneliti 1. Ketua Peneliti
A.Identitas Diri
B. Riwayat Pendidikan
C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir
No Judul Penelitian Status Sumber Dana Tahun
1 Pengetahuan Guru Fisika tentang Pengelolaan Laboratorium Fisika Di
SMA Negeri
Se-Kabupaten Musirawas
Ketua Peneliti STKIP PGRI
Lubuklinggau
2013
2 Pengembangan Modul Fisika Berbasis Open Ended Kelas X
Di SMA Negeri 8 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015
Ketua Peneliti STKIP PGRI
Lubuklinggau
2014
3 Penentuan Pola-Pola Ketua Peneliti STKIP PGRI 2015 1 Nama Lengkap (dengan
gelar)
Tri Ariani, M.Pd.Si
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli
4 NIP/NIK 198911282014022002
5 NIDN 0228118901
6 Tempat, Tanggal Lahir Pendopo, 28 November 1989
7 Email [email protected]
8 Nomor Telepon/HP 085273766565
9 Alamat Kantor Jl. Mayor Toha Taba Pingin LLG 10 Mata Kuliah yang Diampu 1. Termodinamika
2. Fisika Dasar 1
3. Evaluasi Pembelajaran 4. Penelitian Pendidikan
5. Studi Analisis Penelitian Pendidikan
No S1 S2 S3
1 Nama Perguruan Tinggi
Universitas Bengkulu Universitas Bengkulu -
2 Bidang Ilmu Pendidikan IPA Pendidikan IPA Konsentrasi Fisika
-
3 Tahun Masuk-Lulus
Interferensi Menggunakan Kisi Difraksi Dengan Medium Udara, Air Dan Asam Cuka
Lubuklinggau
4 Pengembangan Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
Pada Potensi Bendungan Watervang
Ketua Peneliti STKIP PGRI
Lubuklinggau
2016
5 Analisis Perubahan Kualitas Minyak Akibat Jenis Minyak Dan Frekuensi Penggorengan Serta Penggunaan Ekstrak Lidah Buaya Pada Proses Penjernihan Minyak
Ketua Peneliti DIKTI 2016
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat Dalam 5 Tahun Terakhir
No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat
Pendanaan
Sumber Jumlah (Rp)
1 2014 Workshop Penelitian Tindakan Kelas Dan Pembelajaran
Berkarakter Se Kecamatan Jayaloka
STKIP PGRI Lubuklinggau
3.000.000
2 2014 Sosialisasi Kurikulum 2013 Dan Pendidikan Berkarakter Pada Guru Sekolah Dasar Se-Kecamatan Sukakarya
STKIP PGRI Lubuklinggau
2.900.000
3 2015 Pelatihan Pengolahan Nilai Menggunakan Microsoft Excel Dan Pemanfaatan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar Se Kecamatan Rupit
STKIP PGRI Lubuklinggau
2.800.000
4 2015 Workshop Pemanfaatan Media Permainan Anak-Anak Sebagai Media Pembelajaran Bagi Guru Sd Se Kecamatan Rawas Ulu
STKIP PGRI Lubuklinggau
2.800.000
5 2015 Narasumber MGMP Fisika SMA se Kabupaten Musi Rawas
Diknas pendidikan Kab. Musirawas
2.800.000
6 2016 Dengan Informasi dan Teknologi (IT) Meningkatkan
Mutu Pendidikan dan Guru yang Berkarakter
STKIP PGRI Lubuklinggau
E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir
F. Pemakalah Seminar Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir ”Pelatihan Microsoft Office” se Kecamatan Kikim Barat
7 2016 Narasumber MGMP Fisika SMA se Kabupaten Musi Rawas
Diknas pendidikan Kab. Musirawas
2.800.000
No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/Nomor/Tahun
1 Pengembangan Modul Fisika Berbasis Open Ended Kelas X di SMA Negeri 8 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015
Jurnal Perspektif Pendidikan
Vol.8 No.2 ISSN:0216-9991
2 Perbedaan Hasil Belajar Fisika Siswa antara Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL)dengan Model pembelajaranPrediction, Observation, andExplanation (POE)di Kelas X SMA Negeri 5 Lubuklinggau
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika (JRKPF)
Vol.3 No.2 Universitas Ahmad Dahlan
ISSN:2355-620X
3 Penentuan pola-pola interferensi menggunakan kisi difraksi dengan medium udara, air, dan asam cuka
Perspektif Pendidikan Vol.9 No.1 ISSN:0216-9991
No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar
Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat
1 Seminar nasional pendidikan
Pemanfaatan Laboratorium IPA sebagai Sumber Belajar Fisika
STKIP PGRI Lubuklinggau 2 Seminar Nasional
Fisika
Perbandingan Hasil Belajar Fisika antara Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Model
Perbandingan Hasil Belajar Fisika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Tipe Numbered Heads Together (NHT) di Kelas X SMA Intelligence With The Achievement
G.Karya Buku Dalam 5 Tahun Terakhir
H.Perolehan HKI Dalam 5-10 Tahun Terakhir
I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya Dalam 5-10
Tahun Terakhir
J. Penghargaan Dalam 10 Tahun Terakhir
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Penelitian di STKIP PGRI Lubuklinggau.
Lubuklinggau, 5 Juli 2017 Pengusul,
Tri Ariani, M.Pd.Si NIDN.0228118901 seminar on
electronic and mobile learning
Of Physics Class X MA
Al-Muhajirin Tugumulyo Lessons Year 2014/2015
No Judul Buku Tahun Jumlah Halaman Penerbit
1
No Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1
No Judul/Tema Rekayasa Sosial
Lainnya Yang Telah Diterapkan
Tahun Tempat
Penerapan
Respon Masyarakat
1
2. Biodata Anggota Tim Peneliti A. Identitas Diri
a. Identitas Diri
b. Riwayat Pendidikan
c. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Wahyu Arini, M.Pd Si
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Jabatan Fungsional Tenaga Pengajar
4 NIP/NIK -
5 NIDN 0202129001
6 Tempat, Tanggal Lahir Lubuklinggau, 02 Desember 1990
7 E-mail [email protected]
8 Nomor Telepon/HP 081274099187
9 Alamat Kantor Jl. Mayor Toha Taba Pingin LLG 10 Nomor Telepon/Faks 0733-451432
11 Lulusan yang telah dihasilkan S-1 = 3 Orang; S-2 = - Orang; S-3 = - Orang
12 Nomor Telepon/Faks -
13 Mata Kuliah yang Diampu 1. Alat-alat Ukur
2. Media Pembelajaran Fisika 3. Fisika Dasar 1
4. Fisika Dasar II
5. Praktikum Fisika Dasar II 6. Sejarah Perkembangan Fisika 7. Gelombang dan Optik
No S1 S2 S3
1 Nama Perguruan Tinggi
STKIP-PGRI Lubuklinggau Universitas Bengkulu -
2 Bidang Ilmu Pendidikan Fisika Pendidikan IPA -
3 Tahun
Pembelajaran The Power Of Two Terhadap Hasil Beljar Fisika Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 1 Kota Lubuklinggau
Konversi Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar dan Implementasinya Pada Pembelajaran Fisika Di SMA Xaverius Kota 2. Dr.Lutfi Firdaus,M.T 3. Dr. Rosane Medriati, M. Pd
No Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jumlah (Rp) 1 2012 Pengaruh Model Pembelajaran The
Power Of Two Terhadap Hasil Beljar Fisika Siswa Kelas X SMA
d. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
e. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
f. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir Muhammadiyah 1 Kota Lubuklinggau
2 2015 Konversi Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar dan Implementasinya Pada Pembelajaran Fisika Di SMA Xaverius Kota Lubuklingghau
Pribadi 12.000.000
No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat
Pendanaan
Sumber Jumlah (Rp) 1 2016 Seminar dan Pelatihan
Penyususnan Proposal PTK, serta Penulisan Karya Ilmisah bagi Guru di Kec.Singkut Kab. Sarolangun, Jambi
STKIP-PGRI LLG
Rp.6000.000,-
No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/Nomor/Tahun 1 Konversi Sampah Plastik
Seri II Tahun 2015 ISBN 987-602-73991-0-5
ISBN 987-602-73991-2-9
2 Pengaruh Model Pembelajaran The Power Of Two Terhadap Hasil Beljar Fisika Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 1
No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar
Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan Tempat
g. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
h. Perolehan HKI dalam 5-10 Tahun Terakhir
i. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya Dalam 5-10 Tahun Terakhir
j. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari Pemerintah, Asosiasi atau Institusi lainnya)
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan penelitian di STKIP PGRI Lubuklinggau
Lubuklinggau, 5 Juli 2018 Pengusul,
dan Inovasi Sumber Belajar dalam Meningkatkan Kualitas 2 Prosiding Seminar Nasional
Fisika Universitas Riau”Fisika Untuk Kejayaan Anak Negeri”
No Judul Buku Tahun Jumlah Halaman Penerbit 1
No Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1
No Judul/Tema Rekayasa Sosial Lainnya Yang
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan
Tahun
EKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP PGRI) LUBUKLINGGAU
Alamat: Jl. Mayor Toha Kel. Air Kuti Telp. (0733)451432 Lubuklinggau, laman: stkip-pgri-llg.ac.id
SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI/PELAKSANA Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Tri Ariani, M.Pd.Si.
NIDN :0228118901
Pangkat/Golongan : -
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Dengan ini menyatakan bahwa proposal penelitian saya dengan judul: “Pengembangan Prototife Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai Energi Alternatif di Kota Lubuklinggau” yang diusulkan dengan skema penelitian dosen
untuk tahun anggaran 2018 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga/sumber dana lain.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka
saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah di terima dari kas STKIP
PGLubuklinggu.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.
Lubuklinggau, Juli 2018
Mengetahui
Kepala LP4MK, Yang Menyatakan,
STKIP-PGRI Lubuklinggau
Viktor Pandra, M.Pd Tri Ariani, M.Pd.Si
Lampiran 4. Surat Pernyataan Klirens Etik
SURAT PERNYATAAN KLIRENS ETIK JUDUL
Sehubungan dengan pengajuan judul penelitian yang dilakukan oleh STKIP PGRI
Lubuklinggau, atas nama :
Nama : Tri Ariani, M.Pd.Si
Jabatan : Dosen Program Studi Pendidikan Fisika
Instansi : STKIP PGRI Lubuklinggau
Alamat Instansi : Jl. Mayor Toha Kel. Air Kuti Kota Lubuklinggau
Email : [email protected]
No. HP : 085217522225
Menyatakan bahwa judul penelitian dengan:
Judul : Pengembangan Prototife Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
sebagai Energi Alternatif di Kota Lubuklinggau
Penulis : Tri Ariani, M.Pd.Si dan Wahyu Arini, M.Pd.Si
Adalah hasil karya sendiri atau bersama tim, yang :
Isinya asli atau bebas dari :a)fabrikasi; b) falsifikasi; c) plagiasi; d) duplikasi; e)
fragmentasi/alami; dan f)pelanggaran hak cipta data/isi.*
Belum pernah didanai atau tidak sedang diproses untuk diajukan pada hibah
lainnya.*
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan jujur dan bertanggungjawab sesuai
peraturan kode etika peneliti.
Lubuklinggau, 5 Juli 2018 Penulis Utama
Tri Ariani, M.Pd.Si NIDN. 0228118901