Thomas Riyanto 120130201019 Defence Management/Cohort 5 Security in the Asia Pacific
Proyeksi Keamanan di Asia Pasifik dalam Dua Puluh Lima Tahun Ke Depan: Sebuah Tinjauan Paham Realisme
I. Pendahuluan.
Perkembangan lingkungan strategis di seluruh kawasan di muka bumi, semenjak berakhirnya Perang Dingin, menjadikan timbulnya berbagai ancaman yang lebih kompleks dari sekadar perang antar blok ideologi bersenjatakan nuklir. Salah satu faktor pemicu perkembangan lingkungan strategis tersebut adalah globalisasi, yang tidak saja mendorong timbulnya kerjasama antarnegara dalam menghadapi tantangan dan ancaman, melainkan juga dapat mendorong terjadinya persaingan antarnegara dalam berbagai dimensi, seperti dimensi ekonomi, politik dan pertahanan. Munculnya aktor bukan negara (non-state actors) dalam konteks keamanan global juga menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya perubahan lingkungan strategis, di mana spektrum ancaman terhadap keamanan suatu negara menjadi semakin sukar diterka.
Setelah terjadinya Krisis Moneter Asia pada tahun 1997 dan insiden serangan Sebelas September terhadap beberapa target sipil di tanah AS, ancaman terhadap negara dan masyarakatnya bukan lagi berkaitan dengan negara (state bound)1. Keamanan terhadap suatu negara bukan lagi merupakan suatu tujuan (end) yang harus dicapai oleh negara yang bersangkutan, namun lebih hanya sebagai suatu cara (means) untuk mencapai tujuan keamanan yang utama, yaitu keamanan individu (human security)2. Ancamanpun bergeser dari ancaman yang hanya berbentuk militer (ancaman tradisional) terhadap suatu negara menjadi ancaman militer sekaligus nirmiliter (non-military/non-traditional threats) bukan saja terhadap suatu negara namun juga terhadap kelompok, masyarakat, maupun individu dalam negara tersebut. Hal yang sangat jelas digambarkan oleh Paris (2001, h. 96)3 dalam sebuah matriks jenis ancaman terhadap obyek dari keamanan itu sendiri.
Kawasan Asia Pasifik sendiri merupakan wilayah yang sangat menarik ditinjau dari segi pertahanan maupun keamanan. Hal ini nampak dari banyaknya negara besar, seperti Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Jepang, dan India, yang terlibat dan saling berinteraksi di dalam berbagai hal yang berkenaan dengan masalah keamanan di wilayah ini. Hal ini dimungkinkan terjadi mengingat bahwa negara-negara tersebut memiliki wilayah kedaulatan yang saling bersinggungan di wilayah Asia Pasifik.
Dengan demikian, dalam mengejar dan mengamankan kepentingan nasionalnya sering muncul konflik antarnegara, sehingga menimbulkan ketegangan dan bahkan dapat berkembang menjadi konflik kawasan4. Terlebih dengan terdapatnya beberapa hal yang menandai terjadinya perkembangan lingkungan strategis di kawasan ini, seperti bangkitnya China dan India sebagai ‘Raksasa Asia’ yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan militer hingga ke luar dari batas negara mereka, kepentingan-kepentingan yang saling bersinggungan di antara negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur di Laut China Selatan, usaha yang keras dari AS dalam mengembangkan wilayah pasifik paska Perang Dingin untuk menandingi bangkitnya kawasan Eropa5.
II. Keamanan Asia Pasifik dan Pandangan Realisme.
Tantangan dan ancaman yang terjadi di kawasan Asia Pasifik juga berkembang menjadi sangat kompleks seiring dengan tren yang terjadi secara global paska Perang Dingin. Terdapat beberapa faktor yang mendorong kompleksitas ancaman di kawasan ini. Secara demografi, Asia Pasifik dihuni oleh beragam etnis dan suku bangsa, dengan jumlah penduduk mencapai 4,3 milyar jiwa yang sama artinya dengan 61 % dari jumlah penduduk dunia6. Sementara seperempat dari perdagangan dunia, termasuk minyak, melalui kawasan ini, di mana sebagian besar terjadi di wilayah Laut China Selatan, Selat Singapura, serta Selat Malaka7. Demikian halnya permasalahan yang timbul dikarenakan terjadinya territorial dispute, terutama di perairan Laut China Selatan dan Kepulauan Spratly. Modernisasi persenjataan negara-negara di Asia Pasifik , yang memberi kesan terjadinya perlombaan persenjataan, juga turut berkontribusi terhadap kompleksitas ancaman terhadap keamanan di kawasan tersebut.
Dengan mempertimbangkan semua isu keamanan yang terjadi di Asia Pasifik, dan analisa perkembangannya dengan menggunakan pendekatan hubungan internasional secara Realisme, maka dapat diprediksikan proyeksi keamanan di kawasan Asia Pasifik pada masa 25 tahun yang akan datang. Penggunaan pendekatan dengan teori Realisme didasarkan pada alasan bahwa walaupun tren perkembangan ancaman bergeser kearah non-tradisional, tetap saja ancaman militer berupa konflik bersenjata akan tetap terjadi. Sementara eksistensi sebuah negara tetap berada pada episentrum dari isu keamanan yang berkembang di kawasan.
anarchy) dapat menyebabkan terjadinya security dilemma9..Dalam sistem anarki ini, kekuasaan negara adalah variabel kunci dari kepentingan, karena hanya melalui kekuasaan sajalah negara dapat mempertahankan dirinya dan berharap untuk survive10. Menurut Mearsheimer (1994)11, disebutkan bahwa terdapat empat asumsi cara pandang kaum Realis terhadap negara. Pertama, tujuan utama dari tiap negara adalah untuk bertahan hidup. Kedua, Realis menganggap bahwa negara adalah aktor yang rasional. Ketiga, dikarenakan tiap negara memiliki kemampuan militer masing-masing, maka tak ada satu negarapun yang tahu dengan pasti niat dari negara tetangganya. Keempat, negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang besar yang mampu menentukan segalanya, dengan kata lain hubungan internasional ditentukan oleh Great Power.
Dari pandangan realisme di atas, dapat disimpulkan bahwa ancaman serta isu keamanan di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh campur tangan negara-negara besar atau Great Power. Keberadaan Amerika Serikat di kawasan ini, yang ditandai dengan kehadiran sepanjang tahun US Pacific Command (USPACOM) dan US Seventh Fleet Pacific di wilayah perairan Jepang, Korea, dan Asia Tenggara melalui serangkaian latihan bersama dengan negara-negara Asia Pasifik, membawa pengaruh yang signifikan terhadap stabilitas keamanan di wilayah rawan konflik di semenanjung Korea, serta Laut China Selatan. Beberapa berpendapat bahwa kehadiran AS tersebut berakibat mendatangkan tantangan dari kekuatan lain, China. Bangkitnya kekuatan militer China, menempati ranking kedua Military Spending Growth pada SIPRI yearbook 2014 setelah AS dan di atas Rusia, menjadikan negara tersebut sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan pasifik. Peran China dalam menahan petualangan nuklir Korea Utara, mendukung pengembangan nuklir Iran, serta menjaga tetap ‘hangatnya’ keadaan di Laut China Selatan tidak bisa dianggap remeh. Sementara India, yang mulai kembali membangun armada militernya berdasarkan kekuatan nuklir, menjadi salah satu kekuatan nuklir baru di kawasan Asia Selatan. Demikian juga bangkitnya kembali Rusia di bawah kontrol Presiden Vladimir Putin, yang berkeinginan membawa Rusia kembali ke masa kejayaan Uni Sovyet, mulai memalingkan pandangannya kembali pada kawasan Asia Pasifik. Dengan menjalin hubungan yang kuat dengan China, Rusia juga berupaya untuk menjadi kekuatan penyeimbang bagi hegemoni AS di Pasifik12. Smentara Jepang juga berusaha untuk memainkan peran positif melalui ‘soft power’ untuk melindungi kepentingan nasionalnya di seluruh Asia Pasifik, misalnya dengan menginisiasi organisasi anti perompakan ReCAAP (Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia) yang berlokasi di Singapura.
Asia Tenggara dalam bentuk AFTA (ASEAN Free Trade Agreement). Kedua, regional community di Asia Pasifik, seperti ASEAN Community yang berdasar pada political-security, economic dan socio-cultural. Ketiga, Global War on Terror yang diprakarsai AS dengan naratif kuat ‘either with us or against us’ (memihak kami, atau menentang kami). Keempat, perselisihan batas wilayah, misalnya batas laut di wilayah perairan Laut China Selatan serta wilayah perbatasan baik di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) maupun perbatasan darat. Kelima, Transnational Organised Crime (TOC) dalam bentuk jaringan internasional penyelundupan narkoba, human trafficking, money loundry, dan sebagainya. Keenam, meningkatnya populasi penduduk yang berakibat pada banyaknya tenaga kerja berakibat menjadi murahnya tenaga kerja dan meningkatnya angka pengangguran. Ketujuh, kelangkaan energi terutama energi fosil yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak, batubara, gas, dan sebagainya. Kedelapan, Perubahan iklim dan bencana alam sebagai akibat dari berkuangnya hutan hujan tropis dan kebakaran hutan.
Dari sudut pandang Realisme, terdapat dua pendapat dalam memitigasi tantangan-tantangan tersebut di atas. Pandangan dari realis ofensif dan dari realis defensif. Dalam pandangan realis ofensif, tantangan-tantangan tersebut di atas dapat dimitigasi dan di-manage oleh kekuatan militer suatu negara. Pengerahan militer dalam Operasi Militer Selain Perang/OMSP (Military Operation Other Than War/MOOTW) dengan kapabilitas yang interoperabel dipandang mampu untuk mengatasi tantangan maupun ancaman baik yang bersifat militer maupun nirmiliter dalam konteks non-tradisional. Sebagai akibatnya, modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) merupakan keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap negara dalam rangka untuk ‘bertahan hidup (survival)’. Dengan demikian kesan perlombaan persenjataan di kawasan Asia Pasifik menjadi nyata, sama seperti pandangan realis ofensif yang menyatakan bahwa suatu negara akan berusaha untuk memaksimalkan kekuatannya secara relatif terhadap negara lain13. Di lain pihak, dalam pandangan realis defensif, menekankan pada stabilitas dan sistem balance of power, dengan cara pendistribusian kekuatan secara seimbang antarnegara memastikan berkurangnya resiko konflik bersenjata. Hal ini dapat dilakukan dengan melaksanakan kerjasama dan koordinasi terutama di bidang pertahanan.
III. Proyeksi Keamanan Asia Pasifik 25 Tahun Mendatang.
anggaran belanja militer akan tetap terjadi hingga dua puluh lima tahun mendatang. Selama realis memandang bahwa setiap negara memiliki kemampuan militer yang menyebabkan ketidak menentuannya situasi, maka selama itu pula terjadi semua negara akan tetap memajukan angkatan bersenjatanya. Ungkapan si vis pacem para bellum (jika menginginkan damai bersiaplah perang) merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Ketiga, sengketa perbatasan baik di laut maupun di darat, terutama perselisihan di perairan Laut China Selatan, akan tetap berlangsung hingga seperempat abad mendatang. Sesuai dengan teori structural anarchy, maka sekalipun terdapat hukum dan institusi internasional, belum tentu hal tersebut yang menentukan sebuah negara melakukan sesuatu tindakan dalam penyelesaian masalah. Sebaliknya, hal-hal yang menyangkut kepentingan dan hubungannya dengan kekuasaanlah yang menentukan tindakan suatu negara. Hukum internasional hanya merupakan gejala yang menggambarkan perilaku negara dan bukan sebagai sebab utama14. Keempat, Terorisme, Insurjensi, dan TOC akan tetap ada, selama nafsu, kebanggaan, serta pencarian kemahsyuran (lust, pride, and quest for glory) masih merupakan bagian dari sifat manusia (Waltz, 1991; Donelly, 2005)15. Kelima, tantangan persaingan dalam kerangka perdagangan bebas, akan semakin memperuncing kemungkinan konflik, di mana negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang kuat akan semakin mendominasi negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang lemah. Dengan berlakunya perjanjian perdagangan bebas, maka globalisasi akan semakin kental menyelimuti Asia Pasifik. Batas negara akan menjadi sangat kabur, menyebabkan perselisihan batas negara pun semakin menajam.
Aktor yang bermain dalam isu keamanan di Asia Pasifik pun tetap bersumber pada negara. Aktor bukan negara (non-state actors) yang merupakan tren yang timbul pada era setelah Perang Dingin, yang diwarnai oleh ancaman bersifat non-tradisional dan nirmiliter, hanya akan menjadi ‘pelengkap penderita’. Tujuan dari suatu negara dalam pandangan Realisme, di mana negara akan berupaya untuk bertahan dari setiap ancaman, akan mendorong upaya-upaya untuk mengeliminir keberadaan non-state actors. Apa yang terjadi pada kelompok radikal Jemaah Islamiyah, yang dianggap sebagai organisasi terorisme terbesar di Asia Tenggara, merupakan contoh bagaimana hegemoni suatu negara bisa menekan kemunculan suatu aktor bukan negara untuk menjadi besar.
IV. Kesimpulan.
Kawasan Asia Pasifik merupakan wilayah yang unik di mana baik secara demografi maupun ekonomi, sosial budaya dan politik-keamanan, menyimpan banyak potensi konflik. Isu keamanan pun banyak didominasi oleh negara-negara besar yang mempengaruhi perkembangan lingkungan strategis di kawasan ini, seperti AS, China, Rusia, Jepang, dan India. Tren ancaman dan konflik yang bergeser dari tradisional menjadi non tradisional dan nirmiliter paska Perang Dingin semakin menjadikan kompleks permasalahan di Asia Pasifik. Negara memainkan peranan penting dalam setiap isu mengenai keamanan meskipun aktor non negara mewarnai tren keamanan tersebut.
ENDNOTES:
1
Singh, H., Comprehensive Security in Asia Pacific Region: Conceptualisation and Overview, Proceedings of International Conference on Comprehensive Security in the Asia Pacific Region, Keiko University, Tokyo, 2009, h. 4.
2
Pettman, R., ‘Human Security as Global Security: Reconceptualising Strategic Studies’,
Cambridge Review of International Affairs 18 (2005):137-150, h. 145. 3
Paris, R., ‘Human Security: Paradigm Shift or Hot Air?’, International Security, 26 (2): 87
-102, h. 96. 4
Kementerian Pertahanan, Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No. 8/2012 tentang Kaji Ulang Strategi Pertahanan (Strategic Defence Review) 2011, Berita Negara Republik Indonesia No. 359, Jakarta, 2012, h. 7.
5
Singh, Ibid, h. 7. 6
Data per Oktober 2011 yang dirilis oleh UNESCAP (United Nations Economic and Social Commision for Asia and the Pacific), diunduh dari http://www.unescap.org/news/asia-pacific-reaches-demographic-milestone-world-population-hits-7-billion pada 28 April 2014 pukul 22.10.
7
Data diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Strait_of_Malacca pada 28 April 2014 pukul 22.30.
8
Burchill, S., et. al., ‘Theories of International Relations’, 3rd Ed., Palgrave Macmillan, New York, 2005, h. 30.
9
Holsti, Ole R. "Theories of international relations." Making American Foreign Policy. New York: Taylor and Francis Group (2006): 313-344, h. 317.
10
Slaughter, A. M., ‘International Relations, Principal Theories’, Max Planck Encyclopedia of Public International Law, 2011, h. 1.
11 Ibid. 12
Lihat ‘China to Join Russia for Largest Naval Drills With Foreign Partners’ http://www.guardian.co.uk/world/2013/jul/02/china-russia-joint-naval-drill diunduh pada 28 April 2014 pukul 23.15.
13
Slaughter, A. M., Ibid, h. 2. 14
Ibid. 15