• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Hubungan Internasional Peran Reli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Hubungan Internasional Peran Reli"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Hubungan Internasional

Peran

Religion-based Peacebuilder

Untuk Membangun

Interfaith

Dialogue

Sebagai Upaya Damai Dalam Perang Sipil Nigeria 1995

Oleh:

Wahyu Rachmadhani 105120407121002 SECCON. HI. 6. Ing

Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya

(2)

Ringkasan Eksekutif

Makalah ini membahas mengenai peran tokoh agama sebagai religion-based peacebuilder dalam upaya damai atas konflik perang sipil yang terjadi di Nigeria yang dimulai dari tahun 1967. Sebuah langkah yang sangat penting bagi peacebuilding process setelah konflik selama bertahun-tahun adalah adanya inisiasi Interfaith Dialogue yang di promotori oleh masing-masing kelompok agama yang bertikai. Kelompok Muslim diwakili oleh Muhammed Nurayn

Ashafa dan tokoh agama Kristen diwakili oleh James Movel Wuye.

Penulis melihat adanya urgensi dan ketertarikan terhadap peran sebuah agama maupun tokoh agama dalam sebuah peacebuilding process. Hal ini dikarenakan pasca tragedi 9/11, agama menjadi suatu hal yang sensitif dan dapat

menimbulkan perpecahan meski sejatinya agama adalah tempat dimana manusia dapat mengenal arti perdamaian yang sesungguhnya. Selain itu, pola peacebuilding yang dilakukan oleh banyak organisasi barat untuk menyelesaikan konflik pada umumnya fokus terhadap proses pembentukan demokrasi serta penerapan model atau sistem barat yang belum tentu sesuai dengan kearifan lokal negara yang sedang berkonflik. Maka dari itu penulis mengangkat permasalahan agama beserta tokoh agama lokal yang dapat menjadi subyek aktif dalam proses perundingan damai.

Pada akhirnya, tujuan daripada penulisan makalah ini adalah untuk memberi kontribusi dan semangat dalam rangka memberdayakan kearifan lokal sebuah peran agama dan juga tokoh agama dalam mempromosikan perdamaian. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran masyarakat internasional juga sangat berpengaruh dan membantu. Tetapi alangkah baiknya apabila sebuah negara yang berdaulat secara mandiri mampu mengatasi permasalahan internal yang dihadapi tanpa campur tangan dari pihak luar sembari memaksimalkan sumber daya lokal.

(3)

I. PENDAHULUAN

Persoalan agama sebagai dasar atas aksi perusakan yang dilakukan oleh kelompok atau individu semakin parah dengan adanya tragedi terorisme yang terjadi pada 11 September di Amerika Serikat. Masyarakat dunia memandang skeptis mengenai agama yang mampu menciptakan perdamaian, keseimbangan hidup, dan kontrol sosial. Sebaliknya, tragedi terorisme tersebut telah memandang agama sebagai satu hal pemicu konflik yang mendasari seorang manusia untuk melakukan kejahatan. Penyudutan terhadap salah satu agama yang dikenal radikal

dalam melakukan aksi terorisme-Islam-juga merugikan banyak umat Muslim lain yang tidak bersalah dalam aksi tersebut. Masyarakat dunia dengan tragedi 9/11 yang terjadi telah melupakan bagaimana sebuah agama pada hakikatnya adalah ajaran mengenai kebaikan dan perdamaian bukan mengenai perusakan dan

penghancuran.

Salah satu contoh yang dapat dipelajari mengenai keberhasilan sebuah agama sebagai dasar pemersatu perbedaan adalah konflik yang terjadi di Nigeria pada tahun 1980an. Nigeria sebagai negara berkembang di Benua Afrika memiliki populasi dengan mayoritas penduduk Muslim dan Kristen yang hampir seimbang. Jumlah kedua agama yang dominan di Nigeria ini pada awalnya tidak menimbulkan gesekan yang berarti sampai pada tahun 1960an terjadi berbagai gesekan-gesekan dalam skala kecil yang menyangkut kepentingan agama masing-masing. Pada tahun 1986 ketika pemerintah dengan mayoritas Muslim mendaftarkan Nigeria sebagai anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) tanpa persetujuan rakyat terjadi konflik yang semakin mengukuhkan dominasi Islam akan kekuasaan dan ekonomi di Nigeria (Haynes, 2009). Konflik terus berlanjut dan semakin parah pada awal tahun 1990 dan menimbulkan banyak korban baik dari kelompok Muslim dan Kristen. Konflik perang sipil ini akhirnya dapat di selesaikan melalui Interfaith Dialogue yang di inisiasi oleh kedua tokoh agama Islam dan Kristen, Muhammed Nurayn Ashafa dan James Movel Wuye. Melalui dialog kedua agama yang kondusif ini telah melahirkan kesepakatan damai yang

(4)

Tokoh agama adalah aktor yang sangat penting dalam proses resolusi konflik mengingat fungsi sosial yang dimiliki mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menyampaikan ajaran kebaikan dan melakukan mobilisasi masa. Pengaruh yang kuat ini dapat menjadi faktor penentu utama bagi sebuah konflik untuk diselesaikan dalam meja negosiasi ataupun melalui dialog yang kondusif menuju kesepakatan damai. Secara spesifik penulis merujuk fenomena diatas melalui konsep dari peran sebuah agama dan tokoh agama dalam peacebuilding process yang dikemukakan oleh Peacebuilding Initiatives Organization. Konsep ini mengandung tiga muatan analisis yang ditujukan untuk melihat bagaimana

kontribusi agama dan tokoh agama dalam mewujudkan perdamaian atas konflik yang terjadi. Kemudian untuk membatasi ruang lingkup dari peran tokoh agama dalam jenis intervensi apa yang dapat dilakukan, penulis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Cynthia Sampson mengenai fungsi substitusi dari seorang

tokoh agama dalam peacebuilding process.

Dengan mempertimbangkan fenomena yang menjadi objek penelitian penulis serta kerangka konseptual dan teori yang penulis gunakan untuk mendukung argumen pada bahasan selanjutnya, penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:

Bagaimana peran tokoh agama sebagai religion-based peacebuilder dalam

(5)

II. PEMBAHASAN

Agama Sebagai Wadah Kebutuhan Spiritual Manusia

Setiap manusia di dunia mengalami suatu tahap pemenuhan kebutuhan dalam hidupnya. Dimulai dari kebutuhan yang paling mendasar yaitu kebutuhan fisik dan biologis seperti sandang, pangan, dan papan sampai pada puncak pemenuhan kebutuhan spiritual manusia tentang sebuah kepercayaan mengenai sesuatu yang abstrak. Hal ini kemudian diartikan dalam sebuah keyakinan yang menjelaskan bagaimana hubungan manusia dan Tuhannya, secara terbuka maupun

rahasia. Tahapan pemenuhan kebutuhan ini di dasari oleh motivasi seseorang akan sifat dasar manusia itu sendiri yaitu penghargaan atas sebuah pencapaian. Menurut Basic Human Needs Theory yang dikemukakan oleh Maslow, ada delapan tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia yang terdiri dari kebutuhan

fisik dan biologis, kebutuhan atas rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan atas penghargaan, kebutuhan kognitif, kebutuhan akan keindahan, aktualisasi diri, dan kebutuhan transedensi yang merupakan puncak dari tahap pemenuhan kebutuhan manusia (McLeod, 2007). Delapan tahapan ini menyerupai piramid yang semakin tinggi akan semakin kecil atau mengerucut ruang lingkupnya. Hal tersebut mencerminkan suatu kebutuhan spiritual mengenai hubungan manusia dengan apa yang diyakininya-Tuhan-adalah suatu yang hal yang pribadi.

Fokus terhadap puncak pemenuhan kebutuhan yaitu Transendence needs, Maslow berargumen bahwa apabila seorang manusia telah mencapai kebutuhan hidup yang paling tinggi yaitu kebutuhan spiritual maka secara langsung hal tersebut akan mempengaruhi sudut pandang hingga gaya hidup manusia (Koltko-Rivera, 2006). Kebutuhan spiritual ini dapat dijadikan sebuah motivasi bagaimana seseorang dapat menjalankan hidup sesuai dengan apa yang diyakininya. Sebagai contoh, umat Muslim mengenal Jihad sebagai suatu kewajiban bagi seorang Muslim untuk memperjuangkan agama Islam sebagai Rahmatan lil’alamin. Maka teror bom yang ditujukan kepada umat non-muslim adalah benar menurut mereka. Dalam hal ini Transcendence needs yang mereka alami mengarah pada hal negatif

(6)

pemahaman tertinggi berdasar apa yang mereka yakini menurut intepretasi hubungan spiritualnya dengan Tuhannya.

Kebutuhan spiritual seorang manusia di intepretasikan melalui sebuah wadah yang sering kita sebut sebagai agama. Intepretasi manusia yang berbeda satu sama lain ini pada akhirnya menimbulkan berbagai macam agama yang ada di dunia saat ini. Namun, agama secara universal memiliki dasar ajaran yang sama yaitu menempatkan perdamaian sebagai ajaran yang utama. Sebuah agama merupakan sebuah wadah yang memiliki kekuatan yang tidak lekang oleh waktu serta mengandung norma dan nilai yang secara spesifik membahas mengenai isu

atau permasalahan manusia seperti kebebasan, kasih sayang, salah benar, keadilan, harmoni dan keseimbangan dalam hidup (Funk, 2001). Dengan kata lain, meski banyak agama yang berbeda di dunia, ajaran utama dari masing-masing agama tersebut adalah mengenai penghormatan dan penghargaan terhadap

perbedaan-perbedaan yang terjadi di sekitar dengan tujuan damai dan hidup saling mengasihi pada akhirnya.

Hubungan Antara Agama dan Konflik

Pada kenyataannya dinamika kehidupan dihiasi dengan interaksi sosial yang berbeda dari keindahan sebuah perdamaian yang diajarkan oleh agama masing-masing. Sisi lain dari sifat alami manusia sebagai makhluk hidup adalah berusaha memperjuangkan sebuah kekuasaan dengan tujuan dan kepentingan tertentu. Gesekan yang timbul akibat usaha-usaha yang dilakukan manusia ini dapat berujung pada sebuah konflik yang dapat melibatkan banyak manusia lain. Kepentingan manusia telah mengaburkan bagaimana semestinya manusia tersebut hidup berdampingan dalam sebuah kompetisi yang sehat sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Dalam kompleksitas permasalahan dunia, hubungan antara agama dan konflik tidak dapat dipisahkan secara tegas. Sebaliknya, agama sering dijadikan topeng atau alasan bagi sebuah kelompok atau individu dalam melakukan pembenaran atas apa yang dilakukan meski hal tersebut merugikan orang lain

(7)

identitas dan kesetiaan dalam berperang membela agama. Dalam cara ini, seorang tokoh agama sangat penting untuk melakukan mobilisasi masa yang berperan sebagai pengusaha politik. Kedua, agama dapat mendefinisikan tujuan-tujuan politik dimana dalam hal ini sebuah agama memiliki peran penting dalam sejarah perubahan sosial dan politik suatu negara (Philpott, 2007). Kemurnian ajaran agama telah disalahgunakan juga disalah-artikan oleh manusia sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan atau kepentingan tertentu. Sebuah agama yang dijadikan alasan dalam sebuah konflik dapat diartikan sebagai konflik nilai (value conflict). Value conflict merupakan konflik yang cenderung memiliki nilai yang sama-sama

benar atau sama-sama meyakinkan sehingga sulit untuk menentukan resolusi yang adil. Sebuah kesepakatan atau resolusi dari konflik ini akan berujung pada hasil zero-sum yang mengalahkan atau menyudutkan satu pihak (Reychler, 1997).

Konflik Perang Sipil Nigeria

Akar permasalahan dari konflik perang sipil di Nigeria pada awalnya adalah mengenai konflik perpecahan atau disintegrasi yang dilakukan oleh suku Igbo untuk mendirikan negara sendiri dengan nama Republic of Biafra. Dasar dari tindakan ini adalah suku Igbo melihat perbedaan sistem pemerintahan dalam negeri yang terbagi menjadi tiga bagian peninggalan kolonial yaitu suku Hausa-Fulani (mayoritas Muslim) memimpin bagian utara dengan sistem kerajaan, suku Igbo (mayoritas Kristen) memimpin bagian tenggara dengan sistem demokrasi, dan suku Yoruba (mayoritas suku asli Afrika) memimpin bagian selatan dengan sistem kerajaan. Suku Igbo melakukan kudeta terhadap suku Hausa-Fulani karena suku Igbo menginginkan perluasan kekuasaan dengan sistem demokrasi. Selain itu juga suku Igbo menilai bahwa suku Hausa-Fulani menganut sistem otoriter yang dikuasai oleh keluarga Sultan. Namun, permasalahan ini terdapat indikasi bahwa adanya distribusi kekayaan alam yang tidak merata sehingga mengakibatkan ketimpangan pendapatan ekonomi pada masing-masing bagian (Handley, 2010).

Perang sipil ini terjadi selama tiga tahun pada 1967-1970. Permasalahan

(8)

Muslim yang tidak terlibat. Setelah suku Igbo berhasil mendirikan Republik Biafra, Nigeria bersatu untuk melawan Biafra yang menjadi basis suku Igbo. Biafra berusaha untuk meminta bantuan militer internasional melalui Private Military Companies dan bantuan kemanusiaan dari RedCross. Stagnasi perang dan keterbatasan sumber daya yang dikerahkan untuk berperang telah membuat kedua kubu tersebut sepakat dalam perundingan damai yang di inisiasi oleh Inggris pada tahun 1970.

Namun, sayangnya perang sipil tersebut hanya merupakan permulaan dari serangkaian konflik yang terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Motivasi

penyerangan yang dilakukan telah berubah tidak lagi mengenai sistem pemerintahan atau ketimpangan ekonomi, tetapi berubah menjadi perang antar agama, Muslim dan Kristen. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh elit Muslim akan ditentang oleh Kristen begitu juga sebaliknya. Salah satu kebijakan yang

ditentang oleh kelompok Kristen adalah kebijakan penerapan hukum Sharia Islam oleh anggota konstituen yang bermayoritas Muslim dan menginginkan Nigeria menjadi anggota dalam OKI. Akibat perseteruan yang semakin memanas antara Muslim dan Kristen, Presiden Nigeria saat itu, Babangida memutuskan Nigeria tetap menjadi negara yang sekuler dan demokrasi.

Peran Tokoh Agama Nigeria Dalam Penyelesaian Konflik

Banyaknya jumlah penduduk Nigeria yang menjadi korban perang sipil selama bertahun-tahun tersebut, mendasari dua tokoh agama dari masing-masing Muslin dan Kristen untuk mengadakan Muslim-Christian Dialogue Forum pada tahun 1995 di Kaduna (Haynes, 2009). Tokoh agama Muslim diwakili oleh Muhammed Nurayn Ashafa dan tokoh agama Kristen diwakili oleh James Movel Wuye. Kedua tokoh agama ini memiliki pengalaman pribadi yang menyedihkan terkait dengan konflik yang terjadi. Keluarga kedua tokoh agama tersebut telah menjadi korban dalam perang sipil yang terjadi. Langkah awal keduanya untuk memulai perundingan damai sangat berat dengan masih adanya rasa benci dan dendam satu sama lain. Tetapi tidak lama keduanya menyadari bahwa tanggung

(9)

Komitmen dan konsistensi keduanya untuk berjuang menegakkan perdamaian di Nigeria membuahkan hasil. Masyarakat Nigeria melihat keduanya sebagai simbol kerukunan umat beragama. Pada tahun 1999 keduanya merilis buku yang fenomenal dan kemudian dijadikan film dokumenter sebagai peristiwa sejarah yang patut dihargai. Buku tersebut berjudul The Pastor and The Imam: Responding to Conflict yang membuat keduanya memenangkan nobel perdamaian. Interfaith dialogue yang di agendakan secara rutin telah menghasilkan butir-butir kesepakatan yang berlaku wajib bagi seluruh mayarakat Nigeria yang kemudian disesuaikan dengan kearifan lokal. Hasil dari dialog

tersebut antara lain:

a. Baik Kristen atau Muslim wajib mengasihi satu sama lain sebagai saudara b. Kedua komunitas beragama harus menunjukkan itikad baik dalam setiap

kesempatan

c. Pentingnya memberikan informasi yang benar mengenai agama dan tokoh agama satu sama lain (tidak memprovokasi)

d. Pentingnya mendukung dan bekerjasama dengan pemerintah untuk menjunjung keadilan bagi siapa saja yang telah melanggar hukum dan kesepakatan (Haynes, 2009).

Analisis Konsep dan Teori Peran Tokoh Agama di Konflik Nigeria

Konsep yang digunakan penulis untuk mendukung pentingnya sebuah kontribusi tokoh agama adalah peran tokoh agama dan agama itu sendiri dalam peacebuilding process oleh Peacebuilding Initiatives Organization. Konsep ini terdiri dari tiga analisis yaitu :

a. Sebuah kepercayaan dalam agama memberikan komponen penting yang tidak terlihat dalam upaya peacebuilding

b. Tokoh agama secara tradisional mempunyai fungsi sosial dalam mayarakat yang sangat penting bagi tahap menuju perdamaian dan

(10)

Lebih lanjut, penulis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Cynthia Sampson mengenai fungsi substitusi dari seorang tokoh agama dalam peacebuilding process. Secara garis besar, Sampson mendefinisikan peran substitusi tokoh agama adalah sebagai advokat dalam politik dan hak asasi manusia. Namun, secara spesifik Sampson membagi peran tersebut ke dalam tiga peran menurut intervensi yang dapat dilakukan. Klasifikasi yang diberikan oleh Sampson adalah sebagai berikut:

"Religiously motivated advocates are primarily concerned with empowering the weaker party in a conflict situation, restructuring relationships, and transforming unjust social structures.. Intermediaries devote themselves to the task of peacemaking, focusing their efforts on bringing the parties together to resolve their differences and reach a settlement.. Observers offer themselves as a physical and moral presence in a conflict setting, in hopes of preventing violence and transforming the conflict dynamics."

(Sampson, 2007)

Dalam konflik Nigeria, agama menjadi suatu hal yang mendasari perang sipil meski pada awalnya motif konflik tersebut adalah perbedaan sistem pemerintahan. Kekuatan sebuah agama yang diyakini oleh seseorang menjadi sebuah belief system yang mengakar kuat yang mempengaruhi pola pokir dan cara pandang manusia. Ketiga analisis dalam satu konsep tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan menyadari bahwa agama adalah mengenai kepercayaan yang tidak terlihat atau abstrak, maka agama mempunyai kekuatan untuk mengembalikan manusia pada ajaran yang sesungguhnya. Sesuatu yang tidak terlihat ini kemudian membutuhkan peran dari para tokoh agama sebagai orang yang dipandang dan dianggap mampu menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan mengenai agama yang tidak terlihat tersebut. Tokoh agama ini mempunyai pengetahuan agama yang cukup sebagai tanggung jawab mereka untuk menyiarkan pesan damai sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Kemudian, sebagai bagian dari masyarakat lokal pada umumnya, tokoh agama memiliki peran yang menjangkau sampai ke tingkat grass root untuk melakukan sosialisasi yang berhubungan dengan upaya damai. Fungsi substitusi dari seorang tokoh agama dapat diartikan sebagai advokat politik dan hak asasi manusia. Ketika terjadi konflik perang sipil seperti di Nigeria, pemerintah yang berwenang tidak mampu melindungi warga negaranya karena

(11)
(12)

III. KESIMPULAN

Perubahan pandangan manusia saat ini mengenai agama pasca tragedi 9/11 patut disayangkan. Bagi sebagian oknum yang memanfaatkan agama sebagai alat atau topeng untuk melakukan kejahatan sudah sepantasnya untuk dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun, bagi masyarakat luas, ketakutan akan aksi terorisme ini semakin parah dengan tidak adanya pemahaman mengenai agama di dunia satu sama lain. Provokasi dan propaganda menjadi suatu hal yang dianggap benar dengan tujuan menyudutkan agama tertentu melalui stereotip yang

belum tentu benar keberadaannya.

Pada dasarnya, semua agama di dunia mengajarkan kebaikan yang mengarah pada perdamaian dan harmoni dalam hidup. Peran tokoh agama dalam menyiarkan perdamaian dan melakukan sosialisasi kerukunan umat beragama

sangat penting. Tokoh agama adalah seorang yang dianggap mampu dan menguasai pengetahuan mengenai agama, mengenai sesuatu yang tidak terlihat atau abstrak, mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya atau dengan apa yang diyakininya. Maka sudah seharusnya seorang tokoh agama memaksimalkan peran dan tanggung jawabnya untuk menyebarkan kebaikan dan perdamaian. Memberi pencerahan bagi mereka yang salah mengintepretasikan perintah Tuhan.

Dalam studi kasus konflik perang sipil Nigeria, peran tokoh agama Muslim dan Kristen sangat memberi pengaruh yang signifikan bagi proses perundingan damai melaui Interfaith Dialogue. Hal ini membuktikan bahwa tokoh agama adalah seorang yang mempunyai kekuatan untuk memberi pengaruh bagi pengikutnya. Dialog secara rutin yang dilakukan dapat menambah dan memperdalam wawasan antar kelompok agama yang bertikai untuk dapat memahami satu sama lain.

(13)

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, maka perlu meninjau kembali Keputusan Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang Selaku

Untuk mempermudah keperluannya pihak penyewa tetap menyewa dengan alasan sangat terbantu dengan adanya lahan parkir tersebut, meskipun para warga ataupun pihak penyewa

9at":at tersebut mungkin direabsorsi oleh tubulus sehingga dalam urine 2&jam hanya mengandung 10 mg protein #roteinuria lebih besar dari 10 mg/2& jam mungkin

Perubahan pertama terhadap pengaturan Hak Cipta di Indonesia dilakukan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 6

tersebut dikeluarkan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatra Selatan melakukan penggusuran besar-besaran terhadap masyarakat adat Tungkal Ulu dengan menggunakan

penyusunan rencana pemulihan pascabencana banjir bandang di Bima, diharapkan dalam penyusunan rencana pemulihan untuk memasukkan dokumen perencanaan penanggulangan bencana;.

Tujuan pengkajiari masalah khusus ini adalah mempelajari faktor dan pa-- rameter yang berpengaruh pada penetapan harga pasar, simulasi model estimasi harga pasar pada

Walaupun kadar kalium dalam serum hanya sebesar 2% dari kalium total tubuh dan pada banyak kasus tidak mencerminkan status kalium tubuh; hipokalemia perlu dipahami karena