• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah pemikiran ekonomi aliran sejarah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah pemikiran ekonomi aliran sejarah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI

(SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ALIRAN

SEJARAH)

Dosen: Dr. Dra. Rahmani Timorita Y., M.Ag

Disusun Oleh:

Mau’izhotul Hasanah (13423114)

(2)

Fakultas Ilmu Agama Islam

Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas nikmat dan karunianya yang telah diberikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah sejarah pemikiran ekonomi yang berjudul sejarah pemikiran ekonomi aliran sejarah. Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada suri tauladan umat manusia yakni nabi Muhamad SWT yang mana sesosok manusia sempurna yang telah memperjuangkan agama Islam sehingga sampai sejaya ini. Dan tak lupa saya berterima kasih kepada dosen pengajar kami Dr. Dra. Rahmani Timorita Y., M.Ag yang mana telah membimbing kami selama materi ini berlangsung dan juga telah mempercayakan tugas ini kepada saya, sehingga saya dapat mengambil pengetahuan dan pembelajarannya.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR_______________________________________________________________________2 DAFTAR ISI______________________________________________________________________________3 BAB I PENDAHULUAN_____________________________________________________________________ A. LATAR BELAKANG____________________________________________________________________4

B. RUMUSAN MASALAH__________________________________________________________________4

BAB II PEMBAHASAN______________________________________________________________________ A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PEMIKIRAN EKONOMI ALIRAN SEJARAH

1. Pengertian Pemikiran Ekonomi Aliran Sejarah__________________________________________5

2. Ruang Lingkup Pemikiran Ekonomi Aliran Sejarah______________________________________6

B. SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ALIRAN SEJARAH_________________________________________6

C. TOKOH-TOKOH ALIRAN SEJARAH

1. Friedrich List_____________________________________________________________________7

2. Bruno Hildebrand (1812-1878)_______________________________________________________9

3. Gustav Von Schmoler (1839-1917)____________________________________________________9

4. Werner Sombart (1863-1941)________________________________________________________10

5. Max Weber (1864-1920)____________________________________________________________11

D. IMPLIKASI SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ALIRAN SEJARAH______________________11 BAB III PENUTUP__________________________________________________________________________ A. KESIMPULAN_______________________________________________________________________13

B. SARAN____________________________________________________________________________13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak terciptanya, manusia sudah memiliki beragam kebutuhan. Pada hakikatnya kebutuhan manusia sangatlah terbatas dan sederhana akan tetapi dengan perkembangan zaman yang semakin maju sehingga kebutuhan manusia semakin bervarian. Sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia semakin langka karena terbatas adanya. Dalam hal ini terdapat sebuah permasalahan ekonomi yang mana terdapat ketidak seimbangan alat pemuas kebutuhan dengan kebutuhan manusia. Permasalah ini kemudian menjadi penyebab dari timbulnya pemikiran-pemikiran dari ahli ekonomi. Akan tetapi pemikiran tersebut pada suatu waktu dapat di terima tapi di lain waktupun dianggap tidak mampu untuk memecahkan permasalahan sosial dan ekonomi.

(5)

pemikiran ekonomi aliran sejarah diharapkan kita dapat mengetahui teori-teori yang digunakan setiap tokoh pada masa aliran sejarah tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dan ruang lingkup dari sejarah pemikiran ekonomi aliran sejarah?

2. Bagaimana sejarah dari aliran sejarah?

3. Siapakah tokoh-tokoh pemikir aliran sejarah berserta pemikirannya? 4. Bagaimana implikasi dari pemikiran ekonomi aliran sejarah?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Dan Ruang Lingkup Pemikiran Ekonomi Aliran

Sejarah

Berhasilnya tokoh-tokoh neo-klasik dalam mementahkan serangan pemikiran-pemikiran sosialis/marxis, maka bendera system liberal/kapitalisme kembali berkibar dan pada waktu bersamaan, di Jerman perkembangan suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut Aliran Sejarah.

1. Pengertian Pemikiran Ekonomi Aliran Sejarah

(6)

Vorlesungen ueber die Staatswissenschaft nach geschichtilicher Methode (1843), aliran ini berakhir pada tahun 1915 ketika Gustav Friederich von Shmoller ( 1838-1917) menjelang kematiannya, dalam tahun 1883 pengikut aliran sejarah jerman yang terakhir ini menulis buku, Zur Methodologie der Staats-und Sozialwissenschaften yang berpengaruh.Aliran sejarah adalah sebutan untuk suatu aliran pemikiran ekonomi dalam sejarah yang berkembang dinegara Jerman pada abad 19, kaum historis, seperti Wilhem Rosches, Bruno Hildebrand (1812-1878), Karl Knies (1821-1898), dan Gustav Schmoller, dari jerman. Dalam abad yang sama, penyerangan ajaran-ajaran fundamental aliran klasik dari inggris.

Pola pemikiran aliran sejarah didasarkan pada perspektif sejarah. Kerangka dasar teoritis berikut pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi sangat berbeda dan terpisah dari aliran utama (mainstream) yang berawal dari kaum klasik. Namun aliran sejarah di inspirasikan oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Dari beberapa pakar Jerman sendiri ada yang menamakan aliran sejarah sebagai aliran “etis”, untuk menunjukan ke tidak senangan mereka pada paham hidonisme klasik.

Menurut doktrin aliran sejarah, motif orang dalam bertindak tidak hanya didasarkan pada motif laba dan kepentingan pribadi, tetapi dipengaruhi oleh motif-motif lain yang beragam. Menurut mereka pengalaman sejarah memberikan banyak bukti bahwa motif orang dalam bertindak tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi. Tetapi juga didorong oleh etika dan implus-implus lainnya.

Umumnya aliran sejarah cenderung bersandar pada nasionalisme, evolusi, dan perbaikan hidup, suatu paradigma yang berlawanan secara diametrik dengan doktrin-doktrin aliran klasik. Aliran ini dengan sadar, seperti juga aliran institusionalis dari amerika Serikat yang akan dianalisis dalam buku yang memberikan perhatian yang kuat pada faktor-faktor institusional dalam kehidupan sosial.

(7)

Aliran sejarah menawarkan metode induktif-historis sebagai alternatif dari metode deduktif kaum klasik. Metode ini didasarkan pada pengalaman dan pengkajian yang bersifat khusus, seperti data-data perkembangan ekonomi di suatu tempat, dan kemudian ditarik suatu kesimpulan umum. Dengan metode tersebut, hukum dan dalil harga hanya akan berlaku di suatu tempat dan pada waktu tertentu saja, karena hukum, dalil, dan teori-teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi serta lingkungan setempat sehinga tidak mungkin berlaku universal.

Aliran sejarah memandang bahwa kegiatan perekonomian tidak terlepas dari interaksi dalam masyarakat, sehingga tidak mungkin ada hukum ekonomi yang berdiri sendiri dan terlepas dari peran pemerintah. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa campur tangan pemerintah dalam perekonomian sangat dibutuhkan agar tujuan sosial dari proses ekonomi dapat diarahkan pada kondisi yang di inginkan bersama.

Pemikir aliran sejarah dengan gencar menyerang metode pendekatan deduktif yang digunakan kaum klasik. Dengan pendekatan deduktif analisis ekonomi bertitik tolak dari pengamatan secara umum. Setelah itu diambillah kesimpulan secara khusus (reasoning from the general to the particular). Bagi pakar aliran sejarah metode deduksi ini di nilai terlalu abstrak dan terlalu teoritis, dimana dari beberapa postulat kemudian meng-claim bahwa pemikiran-pemikiran mereka berlaku umum. Untuk mengatasi kelemahan metode klasik terebut maka pemikir-pemikir aliran sejarah menawarkan metode induktif historis.

B. Sejarah Pemikiran Ekonomi Aliran Sejarah

(8)

Perundang-undangan dan Ilmu Hukum), dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pertama, pengaruh montesqieu dalam bukunya “L’espirit De Lois” pernah mengemukakan adanya hubungan antara jiwa bangsa dengan hukumnya. Kedua, pengaruh paham nasionalisme yang muncul pada awal abad ke 19. Disamping itu, munculnya aliran ini merupakan reaksi langsung dari pendapat Thibaut yang menghendaki adanya kodifikasi hukum perdata Jerman yang didasarkan pada hukum Prancis (Code Napoleon). Namun perkembangan yang menyulut kemudian di kodifikasi hukum Jerman adalah setelah Prancis meninggalkan kodifikasi hukum di negara Jerman.

Maka munculah aliran atau pemikir Setaraf Savigny mengemukakan “bahwa hukum itu tak perlu diadakan kodifikasi, karena apa yang menjadi isi dari hukum itu ditentukan dari kebiasaan hidup manusia yang ditentukan dari masa ke masa”. Hukum menurut Savigny berkembang dari suatu masyarakat yang sederhana yang pencerminannya tampak dalam tingkah laku semua individu kepada masyarakat yang modern dan kompleks dimana kesadaran hukum rakyat itu tampak pada apa yang diucapkan oleh para ahli hukumnya. Banyak para penulis menganggap pemikiran Savigny tidak dapat dimanfaatkan dalam konteks hukum modern karena sudah demikian kompleksnya permasalahan suatu rakyat diera modern ini, apalagi negara yang sudah mengalami gejala globalisasi.

C. Tokoh-Tokoh Aliran Sejarah

(9)

pindah ke Amerika Serikat. Salah satu buku List yang terkenal menyerang pakar-pakar klasik yang disebutnya dengan “kosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah. Selanjutnya List mengatakan bahwa kita bisa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari adat sejarah. Dari cara mereka berproduksi, setiap kelompok masyarakat pada umumnya melewati tahap-tahap sejarah sebagai berikut:

1) Tahap berburu dan menangkap ikan atau tahap barbarian, yang beciri masyarakat primitifsebab kebutuhan dipenuhi dari apa yang disediakan oleh alam,

Menurut List, sistem perdagangan bebas yang dianjurkan kaum klasia hanya cocok bagi negara-negara yang sudah berada pada tahap ke lima (contohnya inggris), tetapi sistem perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan di Jerman pada waktu itu, yang keadaan industrialisasinya sedikit tertinggal dengan keadaan industrialisasi di negeri Inggris. Untuk memajukan perekonomian Jerman, List menyarankan agar pemerintah menyusun berbagai kegiatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan produktif dan kemampuan nasional.

(10)

Namun, industrialisasi tidak hanya bertujuan untuk memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh membawa perbaikan pada sektor pertanian serta perkembangan dan kemajuan dibidang-bidang lainnya, termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas. Dari uraian diatas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan perhatian pada masalah kebijakan ekonomi, terutama bagaimana melindungi industrialisasi Jerman yang pada waktu itu tertinggal jauh dengan industrialisasi Inggris.

2. Bruno Hildebrand (1812-1878)

Hildebrand aktif dalam berbagai penelitian dan penulisan karya karya ilmiah. Dalam melakukan penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari sejarah, maksudnya penelitian ekonomi harus didukung oleh data statistik empiris yang dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi. Hildebrand juga menekankan pentingnya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari cara tiap kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan-tingkatan sebagai berikut: 1) Tukar-menukar secara in-natura atau barter,

2) Tukar-menukar dengan perantaraan uang, 3) Tukar-menukar dengan menggunakan kredit,

Penelitian Hildebrand diatas dianggap cukup baik dalam bidang sosiologi, akan tetapi kurang bermanfaat dalam bidang pengembangan ilmu ekonomi. Salah satu kelemahan dari penelitian sejarah Hildebrand ialah beberapa penelitiannya berupa monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah ekonomi. Namun, karya-karya tersebut tidak disusun ke dalam suatu kerangka acuan yang padu. Oleh karena itu, karya-karya penelitian sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam pengembangan ilmu ekonomi.

(11)

Schmoler terkenal karena ia terlibat dalam perdebatan yang sengit dengan pakar-pakar klasik, terutama dengan arl Menger, yang berkaitan dengan metodologi dalam pengembangan ilmu ekonomi, Ia dianggap sebagai pemikir aliran sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasik ditukar dengan metode induktif-empiris . Seperti pakar aliran yang lainnya, Schmoler juga menekankan perlunya kelenturan dalam perekonomian dan memberi ruang pada pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi.

Jika diperhatikan, pandangan Schmoler sedikit berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh sejarah lainnya. Jika tokoh-tokoh aliran sejarah yang lainnya menghendaki agar kebijaksanaan juga menyangkut politik sosial. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh. Untuk mencapai tujuannya, Schmoler berserta kawan-kawannya mendirikan forum untuk menghimpun pemikiran dalam menghadapi masalah ekonomi dan sosial. Hasil dari forum tersebut disampaikan pada pemerintah sebagai masukan. Keberhasilan untuk menghimpun masukan bagi pemerintah adalah diberlakunya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh sesuai dengan undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Dan jaminan sosial yang diberikan sesuai dengan undang-undang tersebut.

4. Werner Sombart (1863-1941)

Penelitian Sombart yang sering dikutip oleh orang ialah penelitiannya tentang tahap-tahap perkembangan kepitalisme. Dari hasil penelitiannya Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya yaitu Der Moderne Kapitalismus (1902), Sombart selanjutnya mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis dapat dibedakan atas beberapa tingkatan yaitu:

1) Tingkat pra-Kapitalisme

(12)

uang belum dikenal, motif lama maksimum belum nampak, dan produksi hampir seluruhnya ditujukan untuk diri sendiri.

2) Tingkat Kapitalisme Menengah

Dalam kehidupan ekonomi pada tingkat ini walaupun masih bersifat komunal, namun sudah mulai memperhatikan ciri-ciri individualistis, struktur pertanian industri mulai berkembang, masyarakat sudah mengenal uang, motif laba maksimum sudah mulai tampak, dan produksi tidak hanya untuk diri sendiri, tetepi sebagian juga ditujukan untuk pasar.

3) Tingkat Kapitalisme Tinggi

Yang disebut sebagai tingkat kapitalisme yang tinggi yaitu ciri masyarakat komunal mulai hilang, paham individualisme mulai menonjol, struktur diabaikan, industri meluas kepadat modal, di samping uang kartal juga mulai dikenal uang giral, motoif laba maksimum sangat tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.

5. Max Weber (1864-1920)

(13)

Weber bertolak dari suatu asumsi dasar bahwa rasionalitas adalah unsur pokok peradaban barat yang mempunyai nilai dan pengaruh universal. Perilaku ekonomi kapitalis, kata Weber bertolak dari harapan akan keuntungan yang akan diperoleh dengan menggunakan kesempatan bagi tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan keuntungan secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan penganut agama protestan, terutama kaum Calvinis menduduki tempat teratas. Ajaran Calvin tentang takdir dan nasib manusia, menurut Weber adalah kunci utama dalam menentukan sikap hidup para penganutnya. Menurut ajaran Calvin keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang terpilih, hal ini lah yang mendorong orang untuk bekerja keras agar masuk menjadi golongan orang terpilih tersebut. Dalam pmikiran teologis inilah semangat kapitalisme yang bersandar pada cita ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan,dan sanggup manahan diri menemukan pasangannya.

Tidak semua orang menerima tesis Weber, diantaranya yaitu Bryan S. Turner, R.H. Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greeley dan pakar-pakar lainnya yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi.

D. Implikasi Sejarah Pemikiran Ekonomi Aliran Sejarah

Jika diperhatikan seacra mendalam, pemikiran tokoh-tokoh aliran sejarah sangat bersifat nasionalistik. Hal ini paling jelas dalam pemikiran-pemikiran List dan Schmoler. Implikasi ajaran pemikir-pemikir aliran sejarah bagi negara berkembang ialah perekonomian negara-negara berkembang di dominasi oleh sektor pertanian. Perekonomian yang didominasi oleh sektor pertanian sulit untuk maju. Jika ingin maju maka langkah awal yang diperlukan ialah mengacu pada industrialisasi. Pada tahap awal, sebagaimana yang dianjurkan oleh List, negara-negara berkembang boleh melakukan kebijaksaan proteksi untuk melindungi industri dalam negeri. Pengembangan industri lebih lanjut ini diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat yang lebih luas ke dalam berbagai bidang.

(14)
(15)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Di Jerman perkembangan suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut dengan Aliran Sejarah. Aliran sejarah di Jerman lahir dalam tahun 1840 an melalui publikasi karya-karya ilmiah yang ditulis oleh friederich List dan aliran ini berakhir dalam tahun 1915. Umumnya aliran sejarah cenderung bersandar pada nasionalisme, evolusi, dan perbaikan hidup, suatu paradigma yang berlawanan secara diametrik dengan doktrin-doktrin aliran klasik.

Aliran sejarah menawarkan metode induktif-historis sebagai alternatif dari metode deduktif kaum klasik. Aliran sejarah memandang bahwa kegiatan perekonomian tidak terlepas dari interaksi masyarakat, sehingga tidak mungkin ada hukum ekonomi yang terlepas dari peran pemerintah. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa campur tangan pemerintah dalam perekonomian sangat dibutuhkan agar tujuan sosial dari proses ekonomi dapat diarahkan pada kondisi yang diinginkan bersama.

Kelahiran aliran sejarah ini dipelopori oleh Friedrich Carl von Savigny (1779-1861) melalui tulisannya yang berjudul Von Beruf unserer Zeit fur Gesetzgebung und Rechtwissenschaft (Tentang pekerjaan pada zaman Kita di Bidang Perundang-undangan dan Ilmu Hukum). Kemudian, munculnya aliran dari pendapat Thibaut yang menghendaki adanya kodifikasi hukum perdata Jerman yang didasarkan pada hukum Prancis (Code Napoleon). Namun perkembangan yang menyulut. Maka munculah aliran atau pemikir Setaraf Savigny.

Sebagian besar para pemikir aliran sejarah ini berasal dari Jerman, antara lain: Friedrich List, Wilhelm Roscher, Bruno Hildebrand, Karl Knies, Gustav Von Schmoler, Lujo Brentano, Georg Friedrich Knapp, Karl Bucher, Max Weber, dan Werner Sombart.Tokoh-tokoh aliran dari Inggris adalah William Cunningham dan J.W. Ashley. Dari Amerika Serikat yang mendukung aliran ini, misalnya Henry Carey, Sinom Nelson Patten, dan Daniel Reymond.

(16)

Dengan disusunnya makalah ini, dari penulis berharap agar para pembaca khususnya mahasiswa dapat memahami dan mengetahui tentang sejarah pemikiran aliran sejarah dari segi pengertiannya, sejarah awal mulanya, dan tokoh-tokohnya sehingga menambah wawasan bagi pembacanya.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

 Deliaov. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers. 2012

 Djojohadikusumo, Sumitro. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Yayasan Obor. 1991

 Https://www.academia.edu/5024364/Sejarah_ekonomi_upload

 Http://cahayamentari24.blogspot.com/2013/12/aliran-sejarah-mazhab-historis.html

 Http://el-reihan.blogspot.com/2010/01/teori-historis.html

 Http://fariskayosi.blogspot.com/2014/07/perkembangan-ekonomi.html

Http://hisyamjayuz.blogspot.com/2013/03/perkembangan-pemikiran-ekonomi-aliran.html

Http://junnaedymuis.blogspot.com/2012/05/sejarah-pemikiran-ekonomi-mazhab.html

 Http://mugnisulaeman.blogspot.com/2014/03/makalah-sejarah-pemikiran-ekonomi.html

 Http://nanxsu.blog.com/2012/03/25/mahzab-historis/

Referensi

Dokumen terkait

Data primer ialah data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara dengan mengajukan tanya jawab tentang Perlindungan Hukum Daerah Aliran Sungai Sebagai Kawasan

“Setelah dilakukan studi komparasi p endapat-pendapat di atas dengan berbagai argumentasinya, diteliti nash-nash yang berhubungan dengan hukum zakat dalam berbagaimacam

Semangat mereka dalam usaha memperkenalkan efisiensi ekonomi dalam hukum dapat dilihat dari kesediaannya untuk merasionalisasi pemikiran mereka ber- dampingan dengan

Indonesia adalah Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang telah menyerap atau mengambil alih secara tidak langsung asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang berasal dari hukum Romawi,

Setelah diangkat sebagai Khalifah Islam IV oleh segenap kaum muslimin, Ali bin Abi Thalib langsung mengambil beberapa tindakan, seperti memberhentikan para pejabat yang korup,

Hal kedua adalah bahwa gagasan pemikiran aliran hukum kodrat bertolak dari filsafat idealisme, sesuatu yang tidak klop dengan keinginan Pak Tjip untuk menjadikan hukum

Pada tahar perkembangan ini akhir 199-an terdapar variasi pandangan, yang ditunjukkan oleh adanya konsep pluralisme hukum yang ridak didasarkan pad a lIIapping yang kita louat sendiri,

Munculnya kesadaran akan pentingnya hukum Islam dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia : Penerapan hukum perdata Belanda yang bersifat sekuler dan tidak memperhatikan