• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Ketahanan Beberapa Varietas dan Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora Underw) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Dataran Rendah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Uji Ketahanan Beberapa Varietas dan Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora Underw) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Dataran Rendah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Pandey (1969) tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermaeae

Class : Monocotiledoneae

Ordo : Graminales

Family : Graminaceae

Genus : Zea

Species : Zea mays L.

Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu akar seminal, akar

adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari

radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke

permukaan tanah. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung

mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus

ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang

menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung.

Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Akar kait atau penyangga adalah

akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar

penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang.

(Bakkara 2010, dalam Effendi, 1984).

Batang jagung tidak bercabang, berbentuk silinder, dan terdiri dari beberapa ruas dan

(2)

batang jagung tergantung varietas dan tempat penanaman, umumnya berkisar 60-300 cm

(Klingman, 1965).

Daun jagung muncul dari buku-buku batang, sedangkan pelepah daun menyelubugi

ruas batang untuk memperkuat batang. Panjang daun bervariasi antara 30-150cm dan lebar

4-15cm dengan ibu tulang daun yang sangat keras. Terdapat lidah daun (ligula) yang transparan

yang mempunyai telinga daun (auriculae) jumlah daun jagung tanaman bervariasi antara

12-18 helai. Daun jagung terdiri dari pelepah dan helai daun, memanjang ujung meruncing.

Pelepah dan helai dibatasi oleh lignia yang bagian menghalagi masuknya air dan embun

(Salisbury, 1992).

Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai

bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Pada

umumnya jagung memiliki barisan biji yang melibit secara lurus atau berkelok-kelok dan

berjumlah antara 8-20 baris biji. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama yaitu kulit biji,

endosperm dan embrio (Togu 2006, dalam Rukmana, 1997)

Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman jagung berasal dari daerah tropis dan tidak menuntut persyaratan lingkungan

yang begitu ketat. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung untuk pertumbuhan terbaik antara

27oC-32oC. Akan tetapi, untuk pertumbuhan yang baik bagi tanaman jagung khususnya

jagung hibrida, suhu optimum adalah 23oC-27oC. Suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban

yang rendah dapat mengganggu peroses persarian. Jagung hibrida memerlukan air yang

cukup untuk pertumbuhan, terutama saat berbunga dan pengisian biji. Pada lahan yang tidak

beririgasi, pertumbuhan tanaman memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/ bulan

(3)

Distribusi curah hujan yang merata selama pertumbuhan akan memberikan hasil yang

baik. Distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman jagung kurang lebih 200 mm

tiap bulan. Untuk memperoleh hasil yang baik, tanaman jagung memerlukan air yang cukup,

terutama pada fase perbungaan hingga pengisian biji.

Tanah

Jagung di Indonesia umumnya ditanam di dataran rendah, baik di lahan tegalan,

sawah tadah hujan, serta sebagian kecil ditanam didataran tinggi. Tanaman ini tidak dapat

tumbuh dengan subur pada tanah basah atau tergenang, karena daun-daunnya akan menjadi

kuning kemudian mati (Hardjowigeno, 1987).

Tanah yang baik untuk jagung adalah gembur dan subur, karena tanaman ini

memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai jenis

tanah asalkan mendapatkan pengelolahan yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu

adalah yang terbaik untuk pertumbuhan. Pengolahan tanah dikerjakan secara optimal,

sehingga aerasi dan ketersedian air dalam tanah berada dalam kondisi baik (Sarief, 1989).

Biologi Penyebab Penyakit

Klasifikasi jamur Puccinia polysora Underw. menurut Alexopoulus dan Mims (1979)

adalah :

Divisio : Basidiomycota

Sub Divisio : Urediniomycotina

Kelas : Urediniomycetes

Sub Kelas : Urediniomycetidae

Ordo : Uredinales

Family : Pucciniaceae

Genus : Puccinia

(4)

Penyakit karat daun ini disebabkan oleh jamur P. polysora. Jamur ini membentuk

uredium (urediosorus) pada permukaan atas, bawah daun dan pada upih daun yang tersebar

rapat. Uredium yang berbentuk bulat atau lonjong dengan garis tengah 0,2-1 mm, berwarna

jingga atau jingga tua menghasilkan urediospora yang berperan penting sebagai sumber

inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung dan sebarannya melalui angin. Bercak-bercak

kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian

atas dan bawah. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya

berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau (Semangun, 1991).

P. polysora membentuk urediospora berbentuk bulat telur sampai bulat telur memanjang, agak bersudut-sudut dengan ukuran 28-38 x 22-30 µm. Berdinding agak tebal,

berwarna emas, dengan duri-duri halus yang jarang dengan ketebalan 1-2 µm, pori 4-5 µm

(Gambar 1). Telium berwarna gelap, tetap tertutup oleh epidermis, bulat dengan garis tengah

0,2-0,5 µm. Teliospora kurang lebih jorong atau berbenruk gada, biasanya tidak teratur atau

agak bersudut-sudut, ujungnya tumpul atau terpancung, agak mengecil pada sekat, dengan

ukuran 35-50 x 16-26 µm. Mesospora (teliospora bersel 1) banyak, dinding coklat

kekuningan, halus, dengan ukuran 1-1,5 µm pada sisinya, tangkai kuning pucat, panjangnya

30 µm. Piknium dan aesium jamur ini belum diketahu (Holliday, 1980).

(5)

Gejala Serangan

Gejala penyakit karat dominan tampak pada daun tanaman jagung dibandingkan

dengan bagian tanaman lainnya. Tanaman jagung yang terserang cendawan ini

memperlihatkan gejala bercak kuning kemerahan (seperti karatan) pada daun (Gambar 2).

Jika serangan berat maka tanaman dapat mengalami kematian. Kranz et al. (1997)

mengemukakan bahwa pada permukaan atas dan bawah daun terdapat bercak kecil atau

seperti bisul, bentuknya bulat sampai lonjong berwarna coklat kemerahan ukuran 2 mm.

Bercak ini menghasilkan spora yang disebut teliospora (Gambar 2), tersebar pada permukaan

daun dan akan berubah warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang.

Karena banyaknya teliospora yang terbentuk menyebabkan permukaan bagian atas daun

menjadi kasar. Pada tingkat serangan berat daun menjadi kering.

Gambar 2. Gejala Serangan P. polysora Underw

Hasil penelitian Santiago dan Exconde (1974) dalam Hooker (1991) didapatkan ada

beberapa jenis infeksi, yakni sangat tahan atau resisten dan tidak terdapat uredia. Toleran

memiliki uredia yang mengandung sedikit spora. Setengah toleran, daun akan diselingi uredia

dengan tingkatan sporulasi yang besar dan rentan yang mengandung sedang sampai banyak

(6)

Daur Hidup Penyakit

Jamur ini mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman jagung yang

hidup dan dipencarkan oleh urediospora. Spora ini dapat diterbangkan dan dipencarkan oleh

urediospora dengan tetap hidup, karena kering dan mempunyai dinding yang cukup tebal

(Semangun, 1991).

Jamur karat tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga tidak dapat mempertahankan

diri pada sisi-sisa tanaman jagung. Tidak dapat bukti-bukti bahwa jamur ini mempertahankan

diri dalam biji yang dihasilkan oleh tanaman sakit (Holliday, 1980).

Jamur dapat dipencarkan oleh angin. Di udara konidium yang terbanyak terdapat

menjelang tengah hari. Konidium berkecambah dan pembuluh kecambah mengadakan infeksi

melalui mulut kulit atau dengan mengadakan penetrasi secara langsung, yang didahului

dengan pembentukan apresorium (Semangun, 1991).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit

Penyebaran penyakit karat dipengaruhi oleh terbentuknya urediospora. Jamur ini tidak

dapat bertahan hidup pada jaringan mati karena tidak dapat hidup sebagai saprofit.

Berkembang sangat baik pada suhu 27-28º C dan kelembaban udara yang tinggi serta jenis

varietas/tanaman tertentu. Kelembaban udara yang tinggi akan meningkatkan serangan

penyakit karat (Sudjono dan Sukmana, 1995). Hal ini sejalan dengan yang dilaporkan Pakki

(1998) bahwa intensitas serangan penyakit karat lebih tinggi di daerah yang kelembaban

udaranya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang relatif lebih rendah kelembaban

udaranya.

Puccinia polysora Underw. terutama merugikan di daerah tropik. Urediospora paling banyak dipancarkan menjelang tengah hari. Suhu optimum untuk perkecambahan urediospora

(7)

infeksi melalui mulut kulit. Penyakit dipengaruhi oleh jenis tanaman jagung. Telah diketahui

bahwa ketahanan terhadap P. Polysora ditentukan oleh gen-gen dominan atau dominan yang

tidak penuh (Holliday, 1980).

Dimana salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit karat daun adalah

tingginya kelembaban di sekitar lahan akibat penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat.

Menurut Cahyono (2002), pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan jenis tanaman akan

berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu pengaturan

jarak tanam yang diatur sedemikian rupa dapat menekan intensitas serangan penyakit pada

tanama.

Hasil penelitian Robert (1962) diketahui perkecambahan urediospora dipengaruhi

secara signifikan oleh faktor lingkungan dengan suhu optimal 25-28 oC. Dalam kondisi

alami pencahayaan akan selalu variabel yang dapat mempengaruhi perkecambahan spora.

Pengendalian

Penanaman varietas tahan merupakan cara pengendalian yang mudah, murah, dan

aman bagi lingkungan (Wakman dan Burhanuddin, 2007). Menurut Sudjono (1988) di Bogor

diketahui bahwa XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414, TC arren, CI-27-3, Pool 468, Arjuna,

Wiyasa dan Pioneer 2 tahan terhadap Puccinia polysora Underw. sedangkan Hibrida C1

terbukti rentan.Varietas bersari bebas yang diketahui tahan atau cukup tahan terhadap

Puccinia sp. diantaranya adalah XCI 47, XCJ33, TCKUJ 1414, Arjuna, , MLG 5164 (Sumartini dan Srihardiningsih, 1995).

Pengendalian penyakit dengan varietas tahan merupakan cara yang mudah

penerapannya bagi petani, biaya murah dan aman terhadap lingkungan. Schieber (1977)

menyatakan bahwa menanam varietas tahan adalah merupakan satu-satunya cara pengndalian

(8)

pengendalian lainnya, asalkan sifat ketahanannya tidak berkaitan dengan produktivitas dan

kualitas hasil rendah.

Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk menciptakan kondisi faktor

lingkungan yang dibutuhkan tanaman tersedia secara merata bagi setiap tanaman dan

mengoptimasi penggunaan faktor lingkungan yang tersedia. Menurut Cahyono (2002),

pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan jenis tanaman akan berpengaruh baik terhadap

pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu pengaturan jarak tanam yang diatur

sedemikian rupa dapat menekan intensitas serangan penyakit pada tanaman.

Menanam pada waktu yang tepat secara serempak pada suatu hamparan yaitu pada

saat sumber inokulum penyakit masih rendah atau belum ada dilapangan dapat memperkecil

dan memperpendek distribusi sumber inokulum (Palti, 1980).

Penyakit yang disebabkan oleh jamur/cendawan dapat berkembang dengan baik pada

kondisi suhu rendah dan kelembaban yang relatif tinggi. Oleh karena itu, untuk menghindari

tanaman jagung dari serangan karat sebaiknya menanam pada awal musim hujan (Semangun,

1991). Menurut Sudjono dan Sukmana (1995) intensitas serangan penyakit karat sangat tinggi

pada pertanaman jagung yang ditanam pada periode bulan Desember sampai Januari.

Pengendalian penyakit juga dapat dilakukan dengan cara pengaturan kelembaban

pada areal pertanaman, terutama sekitar tajuk tanaman dengan cara mengatur jarak tanam

secara tepat dan penerapan sanitasi pada areal pertanaman jagung. Pengendalian secara kimia

dapat dikendalikan dengan fungisida, antara lain zineb, oksiklorida tembaga, Fermat dan

Gambar

Gambar 1. Fotomikrograf Konidia P.  polysora Underw Perbesaran 10 x 40
Gambar 2. Gejala Serangan P. polysora Underw

Referensi

Dokumen terkait

Ada pengaruh penyuluhan kesehatan dengan media audiovisual terhadap sikap wanita usia subur dalam mengikuti program keluarga berencana di dusun Nogotirto Gamping

Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis deskriptif untuk melihat nilai rerata hasil kemampuan metakognitif.

6 Faktor pendapatan rumah tangga, dengan kata lain tingkat perekonomian keluarga, selama ini juga diduga berpengaruh pada pemberian ASI eksklusif menurut Rahayu

Pengambilan ikan contoh diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang beroperasi di perairan pantai Karang-karangan Kabupaten Luwu dengan menggunakan alat tangkap

[r]

Biaya produksi ini dikenakan pada pada pengeluaran selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, seperti biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan,

[r]

Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut temuan-temuan empiris mengenai rasio keuangan, khususnya yang menyangkut kegunaannya dalam