• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makhraj dan Cara Pengucapannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makhraj dan Cara Pengucapannya"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Makhraj dan Cara Pengucapannya

Bahwa al-Qur'an diturunkan dan --kemudian-- ditulis dalam bahasa Arab adalah sesuatu yang sudah maklum. Akan tetapi, bahasa Arab yang selanjutnya menjadi bagian dari al-Qur'an tersebut tidak boleh dibaca sebagaimana membaca teks-teks berbahasa arab pada umumnya. Setiap huruf dari bahasa al-Qur'an memiliki sifat serta makhraj tertentu yang harus diikuti dan dipenuhi ketika dibaca. Tidak memenuhi sifat dan makhraj tersebut jika sampai mengubah makna, maka itu berdosa. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah SAW: "Banyak orang yang membaca al-Qur'an tetapi al-Qur'an (yang dibaca) justru melaknatnya." Akan tetapi jika tidak sampai mengubah makna maka hal itu dianggap sebagai mengurangi kesempurnaan al-Qur'an.

Adanya sifat dan makhraj bagi bahasa al-Qur'an ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi kita bahwa (bahasa) al-Qur'an tidak bisa dengan seenaknya ditransliterasikan ke dalam bahasa manapun --termasuk bahasa Indonesia-- untuk kemudian dijadikan pedoman dalam membaca al-Qur'an. Karena bagaimanapun juga, bahasa Indonesia (dan bahasa-bahasa lain) tidak memiliki aturan tertentu dalam pengucapannya sebagaimana aturan yang dimiliki oleh bahasa al-Qur'an. Contoh paling sederhana, misalnya huruf ت. Jika ia ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka huruf yang dianggap sesuai adalah T. Sebagaimana kita diketahui bahwa dalam mengucapkan huruf T, tidak ada aturan tertentu yang mengaturnya, selain sepanjang dapat ditangkap oleh pendengar. Hal ini berbeda dengan huruf ت. Di dalam mengucapkan huruf ت, selain kita harus menyentuhkan ujung lidah pada pangkal gigi depan atas (bagian dalam) juga nafas kita harus keluar. Baik ketika huruf ت tersebut difathah, didhammah, dikasrah maupun disukun.

Begitulah al-Qur'an diturunkan dan kemudian diajarkan. Sejak zaman Rasulullah (shahabat),

tabi'in, tabi' al-tabi'in hingga umat Islam pada zaman sekarang. Sehingga jika ada orang yang membaca al-Qur'an dengan tanpa mengikuti kaidah atau aturan tertentu sebagai-mana ketika ia diturunkan, maka pembacaan itu perlu diluruskan. Dengan demikian, menguasai huruf-huruf al-Qur'an sebelum belajar membaca al-al-Qur'an adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh ditinggalkan, jika kita tidak ingin disebut sebagai orang yang mengurangi kesempur-naan al-Qur'an atau bahkan orang yang akan mengubah makna al-al-Qur'an. Di bawah ini, dengan sederhana, saya sajikan keterangan tentang huruf-huruf al-Qur'an baik yang berkaitan dengan makhraj, sifat maupun cara pengucapannya

.

أأَب أأ إإ َأ

: Makhraj: pangkal tenggorokan. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: mulut terbuka lebar, suara tidak boleh dibesarkan dan tidak boleh dibaca "o".

(2)

أتَب أت إت َت

: Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: syiddah, hams, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas harus keluar, baik ketika hidup maupun ketika dibaca sukun. Berbeda dengan "ta" dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Hati-hati!

أثَب أث إث َث

: Makhraj: ujung lidah menyentuh ujung dua gigi atas. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar

.

أجَب أج إج َج

: Makhraj: tengah lidah menempel langit-langit. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar, berbeda dengan "ja" dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa), ketika disukun harus dibendalkan.

أحَب أح إح َح

: Makhraj: tengah-tengah tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmat. Cara pengucapan: bersih (tidak ada getar di tenggorokan), nafas keluar

.

أخَب أخ خ َخ

: Makhraj: ujung tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, isti'lâ`, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: ada getar di tenggorokan, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun) dan nafas keluar.

أدَب أد إد َد

: Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar, berbeda dengan "da" dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa), dan ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.

أذَب أذ إذ َذ

: Makhraj: ujung lidah menyentuh ujung dua gigi atas. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas tertahan (tetapi tetap ada yang keluar), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.

(3)

أزَب أز إز َز

: Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât, shafîr. Cara pengucapan: nafas tertahan (tetapi tetap ada yang keluar), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.

أسَب أس إس َس

: Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah.

Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât, shafîr. Cara pengucapan: nafas keluar, harus dibaca tipis (mulut mecece).

أشَب أش إش َش

: Makhraj: tengah lidah dengan langit-langit. Sifat: hams, rakhawâh, istifâl, infitâh, ishmât, tafasysyi. Cara pengucapan: suara tebal dan nafas keluar.

أصَب أص إص َص

: Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah.

Sifat: hams, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar, suaranya tipis dengan mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun).

:

أضَب

أض إض َض

Makhraj: tepi lidah (kanan/kiri) dengan (menyentuh) gigi geraham. Sifat: jahr, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât, istithâlah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar), suara besar, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.

أطَب أط إط َط

: Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: jahr, syiddah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar); mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.

أظَب أظ إظ َظ

: Makhraj: ujung lidah menempel pada ujung dua gigi atas. Sifat: jahr, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât. Cara pengucapan: nafas agak tertahan (tetap ada yang keluar), suara besar, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.

أعَب أع إع َع

: Makhraj: tengah-tengah tenggorokan. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, ishmât.

Cara penguca-pan: nafas tertahan, suara seperti bindeng, jangan dibaca 'nga'.

(4)

(baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan

.

أفَب أف إف َف

: Makhraj: ujung gigi atas menempel pada bibir bawah sebelah dalam. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, idzlâq. Cara pengucapan: nafas keluar.

أقَب أق إق َق

: Makhraj: pangkal lidah sebelah atas, sangat dekat tenggorokan. Sifat: jahr, syiddah, isti'lâ`, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan; mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.

أكَب أك إك َك

: Makhraj: pangkal lidah di bawah makhraj qaf. Sifat: syiddah, hams, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan

.

ألَب أل إل َل

: Makhraj: kanan kiri lidah hingga ujungnya. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, idzlâq. Cara pengucapan: keluar nafas, suara jangan dibesarkan.

أمَب أم إم َم

: Makhraj: dua bibir. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, ghunnah. Cara pengucapan: bibir menempel (jawa: mingkem), suara jangan dibesarkan.

أنَب أن إن َن

: Makhraj: ujung lidah agak ke dalam di bawah makhraj lam. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, idzlâq, ghunnah. Cara pengucapan: suara jangan dibesarkan, ketika disukun jangan dibendalkan.

أوَب أو إو َو

: Makhraj: dua bibir. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: bibir terbuka; suara tidak boleh dibesarkan, ketika disukun dan jatuh setelah harakat fathah jangan dibaca 'ao', tapi 'au'.

أهَب أه إه َه

: Makhraj: pangkal tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: suara besar dan nafas keluar.

أيَب أي إي َي

: Makhraj: tengah lidah dengan langit-langit. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: suara tidak boleh dibesarkan, ketika disukun dan jatuh setelah harakat fathah jangan dibaca 'ae', tapi 'ai'.

(5)

1.

HAMS

(

سأمَه

)

artinya samar. Maksudnya: ketika huruf diucapkan, disertai dengan keluarnya nafas. Di antara huruf-hurufnya:

( أتَك َسسس ٌصأخ َش أهّثَحَف) ص خ ش ه ث ح ف

ت ك س

hati-hati ketika huruf

ت

dan

ك

disukun, nafas jangan ditahan.

2.

JAHR (

رأهَج

)

(kebalikannya hams) artinya terang. Maksudnya: suara huruf jelas dan ketika diucapkan nafas tertahan. Huruf-hurufnya antara lain:

ب ل ط د

ج ض غ يذ ئر ق نزو م ظ ع

(

أبَلَط ّدَج ّضَغ أيإذ ئئإراَق أنأزَو َمأظَع

)

3.

SYIDDAH

(

ةّدإش

)

artinya keras (jawa: atos). Maksudnya: suara tertahan ketika mulai mengucapkannya. Huruf-hurufnya:

ت ك ب ط ق د جأ

)

أتَكَب ئطَق أدإج

َأ

(

4.

RAKHÂWAH (

هَواَخَر

)

(kebalikannya syiddah) artinya lemah (jawa: lemes, kendo). Maksudnya: suara tidak tertahan ketika memulai pengucapan. Huruf-hurufnya:

ه س يز صو ش ض ف ظ ح ث غ ذ خ

(ئهاَس ّيإز َصأو َش ّضأف ّظَح ّثإغ أذأخ)

5.

ISTI'LÂ` (

ءَلأعإتأسإا

)

adalah naiknya lidah ke langit-langit ketika huruf diucapkan. Huruf-huruf isti'la` ini disebut juga huruf tafkhim (tebal). Cara pengucapannya: bibir mecucu.

Huruf-hurufnya antara lain:

.

ظ ق ط غ ض ص خ

(6)

6.

ISTIFÂL (

ألاَفإتأسإا

)

(kebalikannya isti'la`) adalah lidah tidak naik ketika huruf dibaca. Huruf-hurufnya harus dibaca tipis. Cara pengucapannya: bibir tidak mecucu.

Huruf-hurufnya:

س ذإ ه فر ح دو ج ي ن م ز ع ت ب ث

ك ش ل

اَك َش ّلَس أذإإ أهَفأرَح أدّوَجأي أنَم ّزإع َتَبَث) (

7.

ITHBÂQ (

أقاَبأطإإ

)

artinya bertemu (menempel)nya lidah pada langit-langit ketika huruf diucapkan. Di antara huruf-hurufnya adalah

ص ض ط ظ

.

Sebagaimana dijelaskan di atas, isti'lâ` adalah naiknya lidah ke langit-langit, sementara

ithbâq adalah menempelnya lidah pada langit-langit, dengan demikian huruf-huruf yang memiliki sifat ithbaq adalah di antara huruf-huruf isti'lâ` yang paling kuat.

8.

INFITÂH (

أحاسسَتإفأنإإ

)

(kebalikannya ithbâq) adalah terbukanya (tidak menempelnya) lidah pada langit-langit. Huruf-hurufnya adalah huruf hijaiyah 28 selain

empat huruf di atas

ص ض ط ظ

.

9.

IDZLÂQ

(

قَلأذإإ

)

artinya lancar. Maksudnya: huruf-huruf yang mudah diucapkan. Di antara huruf-hurufnya adalah:

أنإم ّرإف)

ب ل ن م ر ف

( ئبأل

Mudahnya pengucapan huruf-huruf tersebut adalah karena makhrajnya berada di bagian luar.

ل ن ر

keluar dari ujung lidah, sementara

ب م ف

keluar dari dua bibir.

10.

ISHMÂT (

أتاَمأصإإ

)

(kebalikannya idzlâq) artinya diam atau sulit diucapkan. Maksudnya bahwa huruf-huruf yang memiliki sifat ishmât sulit diucapkan, sehingga membutuhkan kehati-hatian dan pelan-pelan. Huruf-hurufnya antara lain:

(7)

(أهسسسأظأعَو أذإ ًةسسسَقث أد إسسسص ئطإخا َ

سسسس ّشإغ أزسسسأج

كّضأحَي)

11.

QALQALAH (

أةَلأقألَق

)

artinya goncang (mbendal)nya suara. Di antara huruf yang memiliki sifat qalqalah adalah:

د ج ب ط ق

س(ئدَجأب أطَق)

12.

SHAFÎR (

رأيإفَص

)

artinya suara sruit, merupakan suara tambahan yang keluar bersama dengan keluarnya nafas. Di antara huruf yang memiliki sifat ini adalah

ص

ز س

.

13.

ISTITHÂLAH (

أهَلاَطإتأسإا

)

artinya memanjang. Maksudnya, terdapat awalan yang panjang (sampai makhrajnya lam) sebelum huruf diucapkan. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf

ض

.

14.

TAFASHSHÎ (

ى ّشَفَت

)

artinya tersebar. Maksudnya, ketika huruf diucapkan, terdapat banyak angin yang mengiringinya. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf

ش

.

Referensi

Dokumen terkait

Serta ketika pemain melempar gaju (pecahan genting) tidak boleh terkena atau keluar dari garis yang telah ditentukan. b) Meningkatkan kemampuan kognitif diantaranya : Melatih

Tombol bergambar papan bertuliskan "Pengertian Tajwid" untuk masuk ke halaman menu pengertian tajwid dan ketika tombol ditekan akan keluar suara serta ada

Manakala konsonan[h] pula iaitu udara keluar melalui pita suara yang renggang dengan rongga mulut berkeadaan seperti sewaktu mengeluarkan bunyi vokal, bunyi [h] yang dinamakan

— Selama pemutaran OGM, telepon lainnya tekan tombol “*”, telepon akan keluar memutar OGM ketika menerima sinyal * dari telepon lain, juga suara bip, pada saat ini diminta

Ketika Mustapa pindah menjadi penghulu di Bandung pada 1896, Snouck juga tetap menjaga komunikasi dengan Mustapa, boleh jadi Mustapa dan Snouck saling berkunjung antara Bandung

Ketika kades itu berkomunikasi dengan jawara, umumnya ia menggunakan bahasa Sunda yang relatif kasar, dengan nada suara yang acapkali agak tinggi, dan sama sekali tidak diiringi

Setiap tipe suara yang dihasilkan lumba- lumba bervariasi yaitu siulan (0,8-24 kHz), lengkingan (2-2,8 kHz) biasanya suara ini keluar ketika lumba-lumba sedang

memvonis orang lain keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah- masalah furu termasuk bid'ah dan penyimpangan yang tidak boleh dilakukan.. Sikap seperti itu sangat