• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterkaitan Antara Ilmu dan Nilai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keterkaitan Antara Ilmu dan Nilai"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Keterkaitan Antara Ilmu dan Nilai

Pendahuluan

Pembicaraan tentang kaitan antara ilmu dan nilai banyak memunculkan perbedaan pendapat. Ada pihak yang bersikeras bahwa ilmu bebas nilai, sebaliknya terdapat kelompok yang bersiteguh bahwa ilmu tidak bebas nilai dan tidak pernah bebas nilai.

Pembahasan

Kaum positivisme yang tidak membedakan ilmu alam, sosial dan ilmu kemanusiaan merupakan pembela gigih gagasan ilmu bebas nilai. Arti bebas nilai bagi mereka antara lain, tampak pada penggunaan metodologi yang sama bagi semua ilmu tanpa mempersoalkan perbedaan objek tiap ilmu yang memiliki ciri khas. Ciri khas itu tampak dari adanya nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat yang harus diperhatikan dalam menganalisis gejala-gejala manusia dan masyarakat secara keilmuan. Positivisme bersikeras mempertahankan perbedaan antara pertimbangan nilai dan pertimbangan faktual. Dalam perkembangan lebih lanjut, neo-positivisme bahkan menganggap bahwa pembicaraan tentang nilai adalah sebagai pembicaraan yang tidak bermakna karena tidak dapat diuji secara empiris.

(2)

penilaian. Bagi Myrdal, yang penting adalah bagaimana membuat nilai-nilai itu dibeberkan secara terbuka dan dipertanggungjawabkan, bukan menutup-nutupi dengan berbagai istilah atau terminologi yang seakan-akan bebas nilai.1

Uraian diatas belum secara tajam memetakan persoalan kaitan ilmu dan nilai, walaupun pokok persoalannya mengandung perdebatan hangat. Jika nilai diikutsertakan dalam analisis keilmuan, masihkah ilmu bersifat otonom?

Jujun S. Suriasumantri menyarankan agar pembahasan kaitan ilmu dan nilai atau moral janganlah dibicarakan secara terlalu umum, sebaiknya dikaji secara proporsional dengan memperhatikan bahwa baik ilmu maupun nilai, memiliki cara pandang dan cara kerja khas yang tidak dapat dipertautkan begitu saja. Juga harus diperhatikan faktor sejarah, khususnya sisi gelap, ketika kebenaran keilmuan dijungkirbalikkan oleh gereja sebagai lembaga keagamaan.2

Ketika Copernicus melawan anggapan yang telah umum diterima, dan memunculkan pendapat bahwa sesungguhnya bumi yang mengitari matahari, maka pihak yang palig dirugikan adalah para pemuka-pemuka gereja. Di kemudian hari, ilmuwan yang ingin membuktikan temuan Copernicus harus menghadapi pengadilan agama untuk memilih menarik kembali temuan keilmuannya atau akan dibakar. Pengadilan Galileo dapat dianggap sebagai titik tolak dari salah satu sifat ilmu di kemudian hari, yaitu penolakan terhadap segala nilai yang bersifat dogmatis.

Sebenarnya, bagaimana peristiwa itu harus dipahami dan reaksi yang kemudian muncul harus dimengerti? Pemuka-pemuka gereja mencampurbaurkan

1 Myrdal, Gunnar. Obyektivitas Penelitian Sosial. Jakarta: LP3S. 1984

(3)

perspektif teologis dan temuan ilmu secara tidak tepat. Dalam perspektif teologis, penempatan bumi sebagai pusat dikaitkan dengan manusia penghuni bumi sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Pengingkaran bumi sebagai pusat tata surya dikhawatirkan akan merendahkan derajat manusia, lebih jauh lagi, dianggap sebagai perlawanan terhadap kitab suci yang mengajarkan bahwa manusia adalah citra Tuhan. Sehingga, dapat dipahami jika kemudian terjadi benturan antara kebenaran keilmuan dan tafsir terhadap kitab suci. Di kemudian hari, ketika terbukti bahwa temuan ilmu lebih dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sedangkan gereja dianggap sebagai lawan, maka muncullah sikap yang mencoba membersihkan ilmu dari nilai dan dogma apapun sebagai titik tolak dan batu uji kebenarannya.

Dalam sejarah pemikiran Descartes (1596-1650), yang mencoba dengan keraguan metodisnya, mencari titik tolak kebenaran yang tidak dikaitkan baik pada dogma maupun nilai tertentu. Ia menemukan bahwa dasar yang pasti dari kebenaran adalah “aku yang berpikir”. Dari titik tolak itulah, kebenaran lain harus diturunkan. Auguste Comte (1798-1857) bahkan berpendapat lebih tajam, penjelasan berbagai gejala yang didasarkan pada titik tolak ajaran agama (teologi) disamakan dengan tahap berpikir manusia sewaktu masih anak-anak. Penjelasan berbagai gejala dalam rangka mencari kebenaran haruslah dengan cara positif, melalui percobaan (eksperimen) dalam pengalaman indriawi, inilah yang disebut ilmu.

(4)

dan Tuhan tidak bermakna karena tidak dapat diuji secara empiris (diverifikasi). Pokok-pokok pikiran mereka tentang ilmu adalah:

1. Sumber pengetahuan adalah pengalaman, pengalaman tentang data-data indriawi

2. Dalil-dalil matematika yang tidak dihasilkan melalui pengalaman diakui keberadaannya dan digunakan untuk mengolah data pengalaman indriawi

3. Pernyataan-pernyataan dinyatakan bermakna jika terbuka untuk diverifikasi (dibuktikan secara empiris), pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diverifikasi seperti etika, estetika dan metafisika, dinyatakan sebagai penyataan yang tidak bermakna

4. Menolak pembedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial

5. Berupaya mempersatukan semua ilmu di dalam suatu bahasa ilmiah yang bersifat universal.

Mereka beranggapan bahwa pembicaraan tentang filsafat ilmu pada hakikatnya adalah pembicaraan tentang logika ilmu. Oleh karena itu, harus disusun berdasarkan analogi formal yang menekankan bentuk, bukan isi proposisi dan argumen. Yang dipentingkan bukan kenyataan ilmu, melainkan yang seharusnya terjadi di dalam ilmu.

(5)

Hanya dengan jalan itu, mutu dan integritas ilmu dapat dipertahankan. Namun, sudah sejak lama juga disadari bahwa ilmu memiliki keterbatasan-keterbatasan. Di samping itu, perkembangan ilmu dan penerapannya dalam bentuk teknologi telah menimbulkan berbagai persoalan, ada dua masalah yang membangkitkan kembali persoalan di sekitar kaitan ilmu dan nilai, yaitu ilmu itu sendiri dan pemanfaatan ilmu.

Banyak orang beranggapan bahwa persoalan dalam kaitan ilmu dan nilai terbatas di sekitar pemanfaatan ilmu saja. Jadi, ilmu itu seperti pisau yang nilai baik atau buruknya bukan tergantung pada pisaunya, melainkan kepada pengguna pisaunya. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar jika perkembangan sejarah pemikiran keilmuan kita ikuti dengan cermat.

Diawal telah dijelaskan dalam rangka menegakkan otonomi ilmu terjadi kecenderungan untuk membedakan ilmu dan nilai, memisahkannya, kemudian membebaskan ilmu dari nilai. Dalam melawan kecenderungan tersebut, muncul pemikir yang pada mulanya mempersoalkan metodologi ilmu. Apakah perlu membedakan metode ilmu alam dengan metode ilmu sosial? W. Dilthey menganggap perlu mengadakan pembedaan antara ilmu alam dan ilmu budaya. Perdebatan tentang metode pada akhirnya berlanjut pada perdebatan mengenai nilai. Ini terjadi karena perbedaan metode memunculkan perbedaan tujuan. Ilmu budaya bertujuan menghasilkan nilai-nilai, sedangkan ilmu alam menghasilkan hukum. Jadi, tidak memiliki kaitan nilai.

(6)

perdebatan mengenai nilai. Mazhab Frankfurt yang dimotori oleh Horkheimer, bahkan menuduh ilmu sosial yang bebas nilai lebih merupakan ideologi ketimbang ilmu, karena dengan mempertahankan gagasan bebas nilai, ilmu-ilmu sosial itu sebenarnya bersikap membenarkan keadaan sosial yang terjadi di tengah masyarakat yang ingin dipertahankannya dalam terminologi bebas nilai. Ilmu-ilmu sosial seperti itu, tidak lagi memiliki daya kritis untuk mempertanyakan nilai-nilai yang ingin dipertahankan. Walaupun tidak setajam itu, G. Myrdal berpendapat lebih kurang sama dengan gagasan tersebut. Persoalan ilmu itu bebas nilai atau tidak, ternyata juga melebar sampai ke aspek metodologi ilmu. Padahal, selama ini pada aspek inilah otonomi dirasakan paling besar pengaruh dan peranannya.

Dewasa ini, khususnya untuk nilai-nilai sosial, pendapat seperti yang dikemukakan oleh Soedjatmoko berikut ini, tidak lagi dianggap sebagai ungkapan yang aneh. Soedjatmoko berpendapat bahwa dalam rangka ilmu-ilmu sosial, mau tidak mau persepsi mengenai manusia dan masyarakat, dan desain serta metode-metode ilmu-ilmu sosial berpangkal pada asumsi nilai tertentu.3 Apabila demikian,

masihkah ada otonomi ilmu? Bagaimana paham bebas nilai harus dipahami? Apakah ilmu akan kembali pada masa abad pertengahan sewaktu Galileo diadili oleh pengadilan?

Sampai saat ini, keadaannya tidak seburuk itu dan mungkin tidak akan pernah seburuk itu. Ungkapan yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan di sekitar kaitan antara ilmu dan nilai adalah, bahwa banyak pihak, baik ilmuwan atau agamawan atau siapa saja yang memiliki kecintaan pada kebenaran, harus

(7)

memiliki wawasan lebih luas dan pemikiran lebih bijak untuk melihat persoalannya secara lebih jernih. Banyak ilmuwan lebih sadar akan keterbatasan ilmu dan berpikir dan berpikir bahwa ilmu tidak lagi dapat dipisahkan dari upaya keseluruhan manusia untuk mencari kebenaran dan membuat hidupnya memiliki arti. Pada sisi lain, di kalangan masyarakat tampak kecenderungan untuk melihat ilmu secara lebih baik dan proporsional.

Pada tempatnyalah jika pembahasan kaitan ilmu dan nilai tidak lagi bersiteguh secara kaku pada gagasan ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai. Lebih baik kiranya secara hati-hati merumuskan masalah secara lain dari dua terminologi itu dan mencoba membicarakannya tidak dalam semangat saling menyerang seakan tiap pendirian memiliki kebenaran sendiri terlepas dan tidak bersesuaian dengan pendirian yang lain. Bukankah terbuka kemungkinan untuk mengadakan dialog terbuka dari berbagi pendirian agar didapat pandangan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dan lebih jernih.

(8)

Oleh karena itu, ilmu merupakan salah satu nilai diantara nilai-nilai yang lain, ilmu harus tetap bebas. Bebas dalam pengertian, ilmu jangan membiarkan dirinya terpengaruh oleh nilai-nilai yang terdapat di luar ilmu. Tentu tidak berarti ilmu tidak memperhatikan dan/atau tidak menghiraukan nilai yang berasal dari luar ilmu. Akan tetapi, yang perlu ditekankan bahwa ilmu baru bernilai ketika ilmu itu bebas.

(9)

temuan dan ilmu dan kemuliaan martabat manusia, hanya ada dua pilihan yaitu: menilai ulang temuaan itu dengan kaidah-kaidah ilmu itu sendiri atau memenangkan kemuliaan manusia. Masalah yang mungkin muncul sesudahnya adalah apa yang dimaksud dengan kemuliaan manusia, yang jawabannya merupakan sebuah dialog terbuka tanpa penindasan antara sebanyak mungkin pihak untuk menentukannya.

Dalam arti seperti itulah kebebasan ilmu sebaiknya dipahami. Sebagaimana layaknya pembicaraan tentang kebebasan, kebebasan hanya dapat dipahami karena adanya batasan-batasan. Ilmu disebut bebas karena adanya batasan-batasan yang dapat dilampauinya, dan karena adanya kemungkinan memilih di antara berbagai batasan-batasan tersebut. Akan tetapi, kebebasan ilmu itu sendiri berada dalam batas-batas pula seperti dijelaskan sebelumnya, artinya bukan kebebasan mutlak.

(10)

Lebih lanjut beberapa contoh dapat digunakan untuk membicarakan otonomi ilmu. Dalam bidang fisika, baik dalam kerangka fisika Newton maupun Einstein, konsep ruang dan waktu menempati kedudukan yang sangat fundamental. Berdasarkan prinsip ruang dan waktu itulah teori mereka dibangun. Baik teori Newton maupun Einstein telah teruji kebenarannya dalam ruang lingkup teori masing-masing. Persoalannya adalah dari mana prinsip ruang dan waktu itu diperoleh, apakah dari ilmu? Jawabannya adalah tidak. Jika sejarah perkembangan fisika dilihat sejak zaman Yunani sampai zaman klasik era Newton dan zaman modern era Einstein, maka perkembangan dan revolusi teori terjadi antara lain karena terdapatnya perbedaan persepsi tentang ruang dan waktu. Sebenarnya, persoalan ruang dan waktu ini lebih terlihat sebagai persoalan metafisika daripada persoalan fisika.

(11)

utilitarisme, liberalisme dan hedonisme sebagai titik tolak bagi teori-teorinya.4

Sementara itu, Habermas menemukan dalam ilmu-ilmu yang bebas nilai, terjadi pemaksaan penggunaan satu cara yang seragam untuk mengusahakan ilmu, yaitu penggunaan metode ilmu alam yang positivistis untuk ilmu sosial dan kemanusiaan.5 Yang sebenarnya memiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda,

sehingga masuklah nilai yang tidak cocok ke dalam ilmu sosial dan kemanusiaan. Kiranya dapatlah dikatakan bahwa otonomi ilmu itu bertingkat sifatnya. Pada tataran asumsi atau perandaian kurang otonom, pada tataran metodologi atau cara kerja lebih otonom sifatnya, dan pada tataran pemanfaatan ilmu otonomi tidaklah sebesar otonomi pada tataran metodologi atau cara mengusahakan ilmu.

Uraian di atas kiranya dapat memperluas wawasan dan mempertajam daya kritis kita untuk melihat bahwa persoalan di sekitar ilmu dan nilai tidak dapat di dekati secara kaku. Yang sesungguhnya terjadi dalam sejarah perkembangan ilmu adalah ketegangan terus-menerus antara ilmu dan nilai. Jadi, bukan saling meniadakan. Ketegangan itu memberikan pengaruh baik pada ilmu maupun nilai. Ilmu menjadi lebih terbuka untuk melihat keterbatasannya, dan nilai lebih membuka diri untuk merumuskan kembali anggapan-anggapan dasarnya.

Ketegangan ilmu dan nilai dewasa ini terasa semakin sensitif. Ini terjadi karena baik cara mengusahakan ilmu dan pemanfaatan ilmu telah makin berkembang dan memunculkan tidak saja kegunaan tetapi sekaligus ancaman bagi umat manusia. Ketegangan itu makin terasa karena makin tumbuhnya kesadaran bahwa ilmu, seperti yang dikatakan Campbell, tidak memberikan arah yang akan

4 Myrdal, Gunnar. Op. Cit.

(12)

ditempuh ilmu itu sendiri. Juga ilmu tidak memberikan kepada kita bimbingan untuk memilih tujuan, baik tujuan perkembangan ilmu maupun tujuan-tujuan yang seharusnya dicapai oleh umat manusia. Ilmu hanya dapat membimbing kehidupan praktis dan memilih sarana.6

Oleh karena itu, ilmu kini terbentur pada masalah-masalah yang tidak dapat diatasi kaidah-kaidah ilmu itu sendiri. Ilmu dewasa ini berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang seharusnya ditempuh. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh ilmu itu sendiri. Soedjatmoko merumuskan beberapa pertanyaan pokok itu, yaitu sampai di mana ilmu bisa dikendalikan sehingga jalannya tidak menurut kemauan dan momentumnya sendiri saja, namun melayani keperluan manusia dan keselamatannya dan tidak menjadikan manusia budak dari ilmu.

Penutup

Pertanyaan di sekitar tujuan-tujuan dan cara pengembangan ilmu yang tidak dapat dijawab sendiri oleh ilmu kiranya akan memaksa ilmu untuk mencari referensi kepada patokan-patokan lain, seperti moral dan agama. Tentu saja keadaan ini tidak akan memaksa kita kembali ke abad pertengahan ketika Galileo diadili, melainkan untuk memberi makna baru, baik kepada ilmu maupun nilai. Inilah tantangan baru yang harus dihadapi sekarang ini.

(13)

DAFTAR PUSTAKA ACUAN

Adisusilo, J. R. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius. 1983

(14)

Beerling, et al. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1986

Campbell, N. Ilmu Pengetahuan Alam: Tantangan Akal Budi Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Chalmers, A. F. Apa Itu yang Dinamakan Ilmu?. Jakarta: Hasta Mitra. 1983 Habermas, Jurgen. Ilmu dan Teknologi Sebagai Ideologi. Jakarta: LP3S. 1990 Melsen, A. G. M. Van. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Jakarta:

Gramedia. 1985

Myrdal, Gunnar. Obyektivitas Penelitian Sosial. Jakarta: LP3S. 1984

Peursen, C. A. Van. Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: Gramedia

Putra, Nusa. Pemikiran Soedjatmoko tentang Kebebasan. Jakarta: Gramedia. 1993 Rahmat, Aceng, et al. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group. 2011

Russel, Betrand. Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat. Jakarta: Gramedia. 1992

Soedjatmoko. Etika Pembebasan, Pilihan Karangan tentang Agama, Kebudayaan, Sejarah, dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: LP3S

---. Soedjatmoko dan Keprihatinan Masa Depan. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1991

Suriasumantri, Yuyun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2000

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Infoman adalah orang yang paling mengerti tentang dirinya sendiri (Sugiyono, 2012:138), atau siapa saja orang yang tepat, kompeten, dan bisa member informasi

Metode deskriptif sendiri dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (seseorang, lembaga,

ini hanya melukiskan atau menggambarkan peraturan perundangan- undangan yang berlaku yang dikaitkan dan dianalisa dengan teori-teori ilmu hukum dan suatu keadaan

Filsafat dengan wataknya sendiri yang menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena diluar atau diatas

Ungkapan tradisional merupakan unsur bahasa yang dapat menggambarkan budaya suatu masyarakat bahasa pada zamannya atau unsur-unsur budaya yang memiliki nilai yang

 Pengetahuan ilmiah atau Ilmu, adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara khusus, bukan hanya untuk digunakan saja tetapi ingin mengetahui lebih dalam dan

Bentuk bangunan restoran Dapur Babah Elite ditinjau dari ilmu feng shui kurang tepat, karena tidak memenuhi persyaratan keadaan stabil dan seimbang, sedangkan menurut ilmu

Filsafat dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam, maupun tentang manusia, yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena diluar atau diatas