• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suara Suara Perempuan yang Terbungkam da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Suara Suara Perempuan yang Terbungkam da"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

SUARA‐SUARA PEREMPUAN YANG TERBUNGKAM 

DALAM SIHIR PEREMPUAN  

Bramantio   

Prolog 

Sihir  Perempuan adalah  buku  kumpulan  cerpen  karya  Intan  Paramaditha  yang  secara  keseluruhan bercerita tentang perempuan. Tema keperempuanan yang diangkat oleh  kesebelas cerpen di dalam kumpulan ini tidak serta‐merta menjadikannya terjebak di  dalam  lingkaran  yang  dibangun  oleh  karya‐karya  pengarang  perempuan  Indonesia  mutakhir  yang  begitu  gegap‐gempita  merayakan  tubuh  dan  seksualitas  perempuan.  Cerpen‐cerpen Intan bercerita tentang perempuan dari sisi yang lain, yaitu sisi kelam  dunia perempuan. 

 

Pada  dasarnya,  setiap  karya  sastra  bukan  hanya  berlaku  sebagai  artefak,  tetapi  sekaligus  sebagai  objek  estetis.  Artefak  merupakan  dasar  material  objek  estetis,  sedangkan  objek  estetis  merupakan  representasi  artefak  di  dalam  pikiran  pembaca.1  Pembentukan  objek  estetis  yang  berdasarkan  pada  artefak  terjadi  dengan  sarana  peran  aktif  pembaca—pembacalah  yang  menciptakan  objek  estetis.  Pembentukan  objek estetis yang mendasarkan diri pada artefak disebut konkretisasi.2 Sebuah artefak  tunggal  bisa  saja  menimbulkan  beberapa  objek  estetis  dan  hal  tersebut  bergantung  sepenuhnya pada pembacanya dan cara pembacaannya.    

 

Sebagai  sebuah  karya  sastra,  sebuah  objek  estetis, Sihir  Perempuan memuat  tanda‐ tanda yang perlu dimaknai melalui proses konkretisasi untuk mengungkap makna teks  secara  keseluruhan.  Pemaknaan  terhadap  tanda‐tanda  tersebut  bersifat  relatif,  tidak  ada  sebuah  kebenaran  mutlak.  Maksudnya,  makna  yang  dihasilkan  sepenuhnya  bergantung  pada  horison  harapan  pembaca,  yang  di  dalamnya  termasuk  kompetensi  kesastraan,3  yang  terbentuk  oleh  pengalaman  pembacaan  masing‐masing  pembaca.  Dengan kata lain, sebuah karya sastra dibaca dan dimaknai pembacanya dengan cara  yang  berbeda‐beda.  Meskipun  demikian,  bukan  berarti  bahwa  makna  yang  pada  akhirnya diperoleh tidak objektif.4 

(2)

Berkaitan  dengan  uraian  tersebut,  saya  menganggap  cerpen‐cerpen  di  dalam Sihir 

Perempuan menarik  untuk  dibaca  melalui  perspektif  feminisme.  Perspektif  feminis  dibutuhkan  untuk  mengentalkan  pengalaman‐pengalaman  spesifik  yang  dialami  manusia dan mengemukakan persoalan‐persoalan kelompok marjinal, pembongkaran  relasi  kuasa  dalam  struktur  pengetahuan  maupun  masyarakat,  dan  dekonstruksi  teks  yang  falogosentris.5  Dalam  makalah  ini  saya  hanya  menyajikan  analisis  atas  empat  cerpen  di  dalam  Sihir  Perempuan,  yaitu  “Pemintal  Kegelapan,”  “Perempuan  Buta  Tanpa Ibu Jari,” “Misteri Polaroid,” dan “Sang Ratu” karena saya menganggap keempat  cerpen  tersebut  selain  bercerita  tentang  perempuan  juga  memiliki  sesuatu  yang  tersembunyi berkaitan dengan realitas keperempuanan. 

 

Perempuan  yang  Mencipta  Cerita  sebagai  Katarsis  dalam  Cerpen  “Pemintal 

Kegelapan” 

Cerpen  “Pemintal  Kegelapan”  mengisahkan  seorang  ibu  yang  bercerita  kepada  anaknya tentang hantu perempuan penghuni loteng rumah mereka. Cerpen ini dibuka  dengan  kalimat,  “Semasa  kecilku  Ibu  selalu  berkisah  tentang  hantu  perempuan  yang  menghuni loteng kami” (hlm. 9). Melalui kalimat tersebut dapat diketahui bahwa sosok  narator  (“Aku”)  kini  telah  dewasa.  Ia  bercerita  tidak  hanya  semata‐mata  untuk  bercerita,  tapi  sekaligus  mengungkap  sesuatu  yang  sebenarnya  telah  diketahuinya 

sejak  ia  mengawali  ceritanya  kepada  pembaca.  Ia  menceritakan  cerita  tentang  hantu  perempuan  yang  diceritakan  ibunya  ketika  ia  masih  kecil.  Cerita  kemudian  beralih  ke  dunia nyata, tentang kehidupan keluarganya, orangtuanya yang bercerai, ibunya yang 

digosipkan  sebagai  janda  penggoda  yang  materialis,  hingga  kenyataan  pahit  seputar  rahasia terkelam ibunya yang pada akhirnya terungkap. 

 

(3)

9).  Mengapa  Ibu  tetap  selalu  bercerita  tentang  hantu  perempuan?  Tidakkah  Ibu  mengetahui  anaknya  begitu  ketakutan  setelah  mendengar  ceritanya?  Ataukah  Ibu  mengetahui hal tersebut, tapi memilih tidak peduli karena ia memiliki kepentingan di  balik itu semua? Berikut ini adalah kutipan ringkas cerita hantu perempuan tersebut, 

Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut  panjang  terurai  yang  selalu  duduk  di  depan  alat  pemintal.  Wajahnya  penuh  guratan  merah  kecokelatan,  seperti  luka  yang  mengering  setelah  dicakar habis‐habisan oleh macan. Bola matanya berwarna merah seperti  kobaran  api.  Bila  ia  membuka  mulutnya,  kau  akan  melihat  taring‐taring  yang  panjang.  Ia  begitu  khusyuk  di  depan  pemintal  itu  karena  ia  tengah  membuat  selimut  untuk  kekasihnya.  Ia  telah  jatuh  cinta  pada  seorang  laki‐laki, manusia biasa yang suka berburu di tengah hutan. 

... 

Suatu  hari,  lelaki  itu  pamit  untuk  pergi  beberapa  lama.  Ia  ingin  menjelajahi hutan di seluruh pelosok negeri demi mencari singa berbulu  emas.  Singa  itu,  konon,  merupakan  harta  tak  ternilai  yang  menjadikan  pemiliknya kaya raya. 

... 

Laki‐laki  itu  sekonyong‐konyong  berteriak.  Perempuan  cantik  yang  dikenalnya  telah  berubah  menjadi  makhluk  buruk  rupa  yang  begitu  mengerikan.  Tidak  ada  kata‐kata  yang  bisa  menggambarkan  rasa  takut  laki‐laki  itu.  Ia  lari  terbirit‐birit  meninggalkan  hantu  perempuan  itu  sendirian. 

... 

Kata  ibuku,  hantu  perempuan  itu  terpukul  sekali.  Sebelum  ia  sempat  mengungkapkan  siapa  dirinya,  kekasihnya  sudah  lari  menjauh.  Sungguh‐ sungguh  ia  murka.  Ia  terbang  dari  rumah  ke  rumah,  membuat  gaduh,  mengganggu  ketenangan  manusia.  Bayi  menangis  kala  merasakan  kehadirannya  dan  para  pemuka  agama  sibuk  berkomat‐kamit  mengusirnya. Tetapi suatu hari hantu itu sadar bahwa dengan merusak ia  tetap  tidak  mampu  mematikan  rasa  cintanya.  Ia  ingat,  kekasihnya  tidak  punya pakaian yang cukup selama perjalanan panjang itu. Tak ada selimut  tebal  yang  akan  melindunginya  jika  ia  kedinginan  di  hutan.  Hantu  perempuan  itu  pun  memilih  sebuah  tempat  persembunyian  yang  gelap  untuk membuat selimut bagi kekasihnya. Ya, di loteng rumah kamilah ia  bekerja dengan alat pemintal selama beribu‐ribu malam. 

... 

Pekerjaan itu, kata ibuku, tak pernah selesai. Karena si hantu perempuan  tidak  menggunakan  benang  untuk  selimutnya.  Ia  memintal  kegelapan  (hlm 11—13). 

 

(4)

berbeda dengan kehidupan hantu perempuan tersebut. Ibu pernah jatuh cinta kepada  seorang  laki‐laki.  Laki‐laki  itu  menjanjikan  begitu  banyak  keindahan  ketika  kelak  mereka  menikah.  Hanya  saja,  pada  akhirnya  lelaki  itu  meninggalkan  Ibu  setelah  mengetahui  jatidiri  Ibu  yang  sebenarnya.  Karena  begitu  mencintai  laki‐laki  itu,  Ibu  benar‐benar  merana  sepeninggalnya.  Kisah  cinta  Ibu  bersama  laki‐laki  itu  terus  menghantuinya, bahkan sampai Ibu telah menikah dan berkeluarga. Hal yang demikian  tentu saja membuat Ibu tertekan. Ibu merasa perlu untuk berbagi dengan orang lain,  tapi ia tidak mungkin—atau merasa tidak mungkin—menceritakan hal tersebut kepada  suaminya. Oleh karena itu, Ibu menceritakan hal tersebut kepada “Aku” yang waktu itu  masih  kecil.  “Aku”  kecil  akan  sulit  menerima  cerita  masa  lalu  Ibu  dalam  bentuknya  yang nyata sehingga Ibu mengubahnya menjadi cerita tentang hantu perempuan.   

Ibu  yang  bercerita  kepada  “Aku”  memiliki  analogi  dengan  seorang  pasien  yang  bercerita kepada ahli psikoanalisanya. Ibu tidak membatasi “gerak” ceritanya pada hal‐ hal yang nyata, tapi membebaskannya dengan melakukan displacement di sana‐sana,  menyisipkan  simbol  di  sana‐sini,  dan  membiarkan  cerita  berakhir  terbuka  dengan  “Pekerjaan  itu,  kata  ibuku,  tak  pernah  selesai.  Karena  si  hantu  perempuan  tidak  menggunakan  benang  untuk  selimutnya.  Ia  memintal  kegelapan”  (hlm.13).  Ibu  mengganti  sosoknya  menjadi  hantu  perempuan,  dan  tetap  membuatnya  samar 

sehingga  “Aku”  tidak  bisa  mengidentifikasikan  hantu  perempuan  itu  sebagai  ibunya.  Ibu  juga  tidak  memberi  nama  untuk  laki‐laki  itu  sehingga  “Aku”  tidak  bisa  melacak  kebenaran atau keberadaannya ketika kelak ia dewasa. Adanya singa berbulu emas di 

(5)

pencerahan  spiritual,  kebenaran,  keharmonisan,  kebijaksanaan,  dan  kemakmuran.8  Dua  sisi  simbolis  singa  oleh  Ibu  “dibungkus”  dengan  “emas.”  Hal  tersebut  tampak  melalui  perlakuan  Ibu  kepada  “Aku”—  menjadi  Ibu  yang  baik  bagi  “Aku.”  Pemakaian  “selimut”  dan  “kegelapan”  juga  dapat  dimaknai  sebagai  usaha  Ibu  untuk  menutupi  kebenaran.  Dikisahkan  hantu  perempuan  memintal  selimut,  bukan  yang  lain,  baju  hangat  misalnya.  Hal  ini  tentu  saja  berkaitan  dengan  fungsi  utama  selimut  yang  memberikan kehangatan dan kenyamanan pada seluruh tubuh; baju hangat hanya bisa  memberi kehangatan sebagian tubuh. Dengan “selimut” inilah Ibu berusaha menutupi  keseluruhan  kisah  masa  lalunya  sekaligus  masa  kini  yang  baru  terungkap  di  akhir  cerpen.  “Kegelapan”  di  sini  tidak  hanya  dapat  ditafsirkan  sebagai  masa  lalu  Ibu  yang  kelam. Kegelapan bukan hanya menyimbolkan misteri, menyembunyikan sesuatu, atau  yang tidak diketahu, tapi juga menyimbolkan cahaya potensial; kegelapan mengawali  cahaya, kematian mengawali kelahiran kembali.9 Berkaitan dengan hal tersebut, cerita  hantu  perempuan  pemintal  kegelapan  adalah  semacam  objek  potensial  yang  akan  membawa  Ibu  mengungkap  kebenaran.  Lebih  lanjut,  singa  juga  simbol  pemandu  ke  underworld.10  Jika underworld  di  sini  dapat  ditafsirkan  sebagai  taksadar  atau  segala  bentuk  ingatan  atau  kenyataan  yang  direpresi,  dengan  memasukkan  singa  ke  dalam  ceritanya,  Ibu  secara  tak  sadar  telah  “menyediakan”  kunci  untuk  mengungkap  kebenaran,  Ibu  secara  tak  sadar  mencoba  menyatakan  bahwa  ceritanya  adalah 

usahanya untuk menerima dan berdamai dengan masa lalunya yang pahit. Hanya saja,  selama bertahun‐tahun bercerita, Ibu tidak pernah mengungkap kebenarannya. Hal ini  dikarenakan  Ibu  mengalami  resistensi—Ibu  melakukan  penolakan  atas  kebenaran 

bahwa ia bercerita untuk melepaskan diri dari perasaan tertekan dan jerat masa lalu,  Ibu menyangkal bahwa dirinya adalah hantu perempuan di dalam cerita yang selama  ini ia ceritakan kepada “Aku.”11 

 

Resistensi Ibu lambat‐laun memudar ketika ia mengalami pengalaman kedua berkaitan  dengan ditinggalkan laki‐laki, 

(6)

 

Perceraian  tersebut  adalah  semacam  abreaksi,  yaitu  pengalaman  kembali  peristiwa  traumatis dengan rinci.12 Melalui abreaksi ini, emosi yang selama ini ditekan oleh Ibu  sedikit  demi  sedikit  menemukan  jalan  keluar.  Ibu  tidak  lagi  berusaha  sekuat  tenaga  menyimpan masalah‐masalahnya untuk dirinya sendiri. Meskipun tidak—atau belum— menceritakannya  secara  langsung  kepada  “Aku”  dan  berusaha  meredam  rasa  ingin  tahu  “Aku”  dengan  pengalihan‐pengalihan,  Ibu  menjadi  lebih  “terbuka”  dengan  perasaan‐perasaanya, 

Di  hari  Minggu,  aku  pernah  mendengar  Ibu  memecahkan  piring  sambil berteriak di dapur. Menurut Ibu, kala mencuci, tangannya terlalu  licin  sehingga  piring  itu  terlepas  dari  genggamannya.  Menurutku  tidak.  Aku  yakin  ia  sengaja  memecahkannya.  Tapi  setelah  itu  Ibu  langsung  menutup kasus dengan mengajakku nonton bioskop. 

Sesekali  aku  juga  mendengar  suara  ganjil  dari  kamarnya.  Suatu  ketika,  malam  yang  lengang  dikejutkan  oleh  teriakan  bercampur  tangis  penuh  amarah.  Aku  keluar  dari  kamarku  dan  bergegas  menghampiri  kamar Ibu. Kuketuk kamarnya. Setelah sekian lama menunggu, barulah ia  membuka  pintu.  Katanya  aku  telah  mengganggu  tidur  lelapnya.  Ia  menuduhku berkhayal mendengar teriakan seseorang (hlm. 15—16). 

 

Keadaan keluarga yang berangsur membaik seiring berjalannya waktu dan terbebasnya  Ibu  dari  rutinitas  yang  berkaitan  dengan  pekerjaannya  juga  mendukung  proses 

katarsisnya.  Ibu  mengungkapkan  masalahnya  dan  kebenaran  satu  per  satu  kepada  “Aku,” 

Ibuku  akhirnya  pensiun  dan  giliranku  membiayai  hidup  kami  karena  aku  sudah bekerja. Kami sering pergi bersama di akhir pekan, tetapi aku tahu  ada  misteri  dalam  dirinya  yang  tidak  pernah  dapat  kubongkar.  Ia  selalu  menyimpan sesuatu, termasuk tentang penyakitnya yang ternyata sudah  lama menggerogoti tubuhnya. 

Ia mengidap kanker leher rahim (hlm. 16).   

“Aku”  tidak  bersikap  ekstrem  atas  kenyataan  yang  selama  ini  disembunyikan  Ibu  darinya. “Aku” hanya berusaha menemani Ibu hingga pada akhirnya Ibu mengungkap  rahasia besar—sebuah kebenaran—yang selama ini disembunyikannya, 

Aku  tidak  tahu  harus  marah  atau  sedih.  Kucoba  menghabiskan  waktu  lebih banyak dengannya. Aku ingin membuatnya bahagia. 

... 

(7)

Ia  mengajakku  ke  loteng.  Ya,  loteng  yang  dulu  luar  biasa  menarik.  Aku  sudah  melupakannya,  seperti  aku  telah  lupa  wajah  Ibu  semasa  ia  menjadi tukang cerita nomor satu. 

... 

Tanpa  menghiraukan  wajahku  yang  penuh  keengganan,  Ibu  menuntunku menuju sebuah cermin. Ia berdiri tepat di depan cermin itu,  lalu menunjuk bayangan di dalamnya. Ia berujar pasti, 

“Lihatlah. Itulah Pemintal Kegelapan.”  ... 

Kutajamkan  penglihatanku.  Kubawa  ingatanku  pada  masa‐masa  ketika  kami  masih  menikmati  misteri  loteng  itu,  mengucapkan  selamat  datang  pada  imajinasi  liar  tanpa  batas  dan  malam‐malam  meringkuk  di  balik  selimut.  Tiba‐tiba  kusadari  aku  tengah  merinding.  Aku  memang  melihat  Ibu.  Ya,  perempuan  itu.  Rambutnya  terurai,  wajahnya  penuh  guratan  pedih,  matanya  nyalang  seperti  bola  api  yang  menari‐nari  melumatkan  siapa  pun  yang  menatap.  Hantu  perempuan  yang  memendam  cinta,  rindu,  sakit,  nafsu,  amarah—memintal  gairah  pekat  tanpa henti, tanpa selesai. 

Ibu telah jujur pada akhirnya. Tak ada misteri, tak ada teka‐teki.  Ibuku. 

Pemintal Kegelapan (hlm. 16—18).   

Dalam “posisinya” sebagai “ahli psikoanalisa,” “Aku” tidak pernah bertanya kepada Ibu  tentang  masalah  yang  dihadapinya,  apalagi  mendesaknya  untuk  berterus  terang;  “Aku” pernah menyatakan, “Semuanya berseliweran di kepalaku, namun tak satu hal 

pun  yang  berani  kutanyakan  pada  Ibu.”  Terlepas  dari  perasaan  takutnya  untuk  bertanya  kepada  Ibu,  “Aku”  telah  “menggunakan”  metode  asosiasi  bebas;13  “Aku”  hanya  menempatkan  dirinya  sebagai  pendengar  yang  baik.  Pada  akhirnya,  Ibu  pun 

mengungkap kebenaran dengan kemauannya sendiri.   

(8)

Lalu  apakah  artinya  menjadi  pengarang  perempuan  dalam  suatu  kebudayaan  yang  definisi  otoritas  sastranya  yang  paling  mendasar,  seperti kita lihat, adalah patriarkal, baik secara tersirat maupun tersurat?  Jika  menjadi  polaritas  yang  dipertentangkan  dan  mempertentangkan  antara malaikat dan monster, Putri Salju yang manis dan bodoh dan Ratu  galak  dan  gila,  adalah  citra  utama  sastra  tradisional  yang  ditawarkan  kepada  kaum  perempuan,  bagaimana  penggambaran  semacam  itu  mempengaruhi  cara  perempuan  menggunakan  pena?  Jika  cermin  sihir  Ratu bercakap‐cakap dengan suara sang Raja, bagaimana petuah‐petuah  Raja  yang  abadi  berdampak  pada  suara  Ratu?  Karena  suara  Raja  adalah  suara  utama  yang  ia  dengar,  apakah  kemudian  Ratu  mencoba  untuk  bersuara  seperti  Raja,  meniru  nadanya,  lagu  dan  irama  suaranya,  pemakaian  kata‐kata  dan  sudut  pandangnya?  Atau  apakah  ia  ‘melawan’  dengan kosa katanya sendiri, getaran suaranya sendiri, mempertahankan  sudut pandangnya sendiri?14 

 

Lebih lanjut juga dinyatakan, 

Namun,  dibandingkan  dengan  pertempuran  perkasa  antara  ayah  dan  anak  dalam  tradisi  laki‐laki,  kekhawatiran  kepengarangan  ini  bagi  perempuan  bisa  benar‐benar  melumpuhkan.  Diwariskan  bukan  hanya  dari  satu  perempuan  ke  perempuan  yang  lain,  tetapi  juga  dari  bapak‐ bapak  sastra  patriarkal  yang  keras  kepada  pewaris  perempuannya  yang  telah diinferiorisasi, dan hal itu menjadi benih suatu penyakit, atau, suatu  kekurangan, suatu gangguan, suatu kecurigaan, yang meluas bagai noda  melalui  gaya  dan  struktur  karya  sejumlah  perempuan,  terutama  yang  menulis  sebelum  abad  ke‐20.  Karena  jika  perempuan  masa  kini  menggoreskan pena dengan sepenuh daya otoritas, mereka hanya dapat  melakukan  itu  karena  nenek  moyang  perempuannya  di  abad  ke‐18  dan  ke‐19 telah berjuang dalam ketersendirian yang terasa sebagai kegilaan,  dalam  keadaan  gelap‐tidak‐dikenal  yang  terasa  sebagai  kelumpuhan  dalam  mengatasi  kekhawatiran‐kepengarangan  yang  endemis  bagi  subkultur sastra.15 

 

(9)

Ia menjadi alat untuk mengenali diri sendiri bagi sang Ratu. Seperti telah diketahui, di  dalam  kisah  Snow  White,  Ratu  sering  bertanya  kepada  cermin  sihirnya  tentang  perempuan  tercantik  di  dunia.  Hal  senada  juga  dilakukan  Ibu  di  akhir  cerpen  untuk  menegaskan kepada dirinya sendiri dan “Aku” bahwa ia adalah Pemintal Kegelapan— hantu perempuan penghuni loteng gelap yang selama ini diceritakannya kepada “Aku.”  Dalam  skala  luas,  dengan  melihat  unsur‐unsur  intrinsiknya  sekaligus  dalam  kaitannya  dengan  tulisan‐tulisan  lain  yang  senada,  cerpen  “Pemintal  Kegelapan”  adalah  suara  perempuan  (pengarangnya?)  yang  ingin  menyuarakan  realitas  dan  problematika  perempuan  yang  selama  ini  berada  di  bawah  bayang‐bayang  kuasa  patriarkal.  Perempuan  memiliki  kehidupannya  sendiri,  perempuan  bisa  saja  mengambil  pilihan‐ pilihan  yang  mungkin  dapat  mengantarnya  mencapai  kebahagiaan,  tapi  bagaimana  pun ia tetap tidak dapat—atau sulit—memisahkan dirinya teror berkepanjangan yang  dibisikkan oleh budaya patriarkhi. 

 

Perempuan yang Membongkar Dongeng Cinderella dalam Cerpen “Perempuan Buta 

Tanpa Ibu Jari” 

Cerpen  “Perempuan  Buta  Tanpa  Ibu  Jari”  mengisahkan  perjalanan  pahit  hidup  perempuan  buta  yang  dinarasikan  oleh  perempuan  buta  itu  sendiri.  Cerpen  ini  pada  dasarnya  adalah  sebuah re‐creating  atas  dongeng  Cinderella.  Di  sini  berlaku  prinsip 

(10)

lamanya  bersama  pangeran.  Di  dalam  cerpen  ini,  nama  Cinderella  diubah  menjadi  Sindelarat. Si perempuan buta adalah saudara‐perempuan tiri Sindelarat. Menurutnya,  Sindelarat  tidak  sebaik  yang  diceritakan  orang‐orang  selama  ini,  “Adik  tiriku  Larat  memang  piawai  memasang  muka  manis  ...  Perhatikan  betapa  ia  ingin  menampilkan  citra  gadis  baik‐baik  yang  tidak  materialistis.  Puh!  Sangat  tidak  realistis.  Kalau  tak  peduli kekayaan, mengapa ia bersikeras pergi ke pesta untuk bertemu Gusti Pangeran  mahakaya?”  (hlm.  31).  Cerpen  ini  juga  menampilkan  sisi  kelam  dari  dongeng  Cinderella, yaitu pada saat kedua saudara‐perempuan tiri Sindelarat mencoba sepatu  yang dibawa pangeran. Karena kaki mereka terlalu besar, ibu mereka memerintahkan  mereka melakukan sesuatu yang mengerikan, 

Ibuku menyodori pisau, “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau  tak  akan  terlalu  banyak  berjalan.  Jadi  kau  tak  membutuhkannya.”  Maka  kuambil pisau itu dan kugigit bibirku saat aku berusaha memutuskan ibu  jari  kakiku.  Kubuang  bagian  kecil  tubuhku  itu  ke  tempat  sampah  untuk  menjadi  santapan  anjing.  Kini  kusadari,  Nak,  dunia  ini  memang  penuh  dengan  sepatu  kekecilan  yang  hanya  menerima  orang‐orang  termutilasi  (hlm. 33). 

 

Pada  kutipan  tersebut  terlihat  bahwa  penyebab  perempuan  menderita  bukan  hanya  laki‐laki,  tapi  juga  sesama  perempuan.  Meskipun  didasari  oleh  kasih  sayang  kepada  anaknya,  bagaimana  pun  si  ibu  telah  membuat  anaknya  menderita  dengan 

memaksakan  pemikirannya.  Kalimat  terakhir  di  situ  juga  menarik  dalam  kaitannya  dengan realitas (norma) yang seolah‐olah begitu mengekang kebebasan perempuan— dan manusia pada umumnya—untuk menjadi dirinya sendiri dan menentukan pilihan 

dan  menyebabkannya  mau  tidak  mau  harus  “memutilasi”  dirinya  supaya  dianggap  “sesuai”  dengan  norma  yang  berlaku.  Lebih  lanjut  diceritakan  pula  oleh  perempuan  buta bahwa Sindelarat tidak “berbahagia selama‐lamanya,” 

Oh, ya, Larat tidak hidup berbahagia selama‐lamanya seperti yang dikira  banyak  orang.  Ia  meninggal  saat  melahirkan  putrinya  yang  keenam.  Hampir  setiap  tahun  ia  hamil  karena  kerajaan  membutuhkan  putra  mahkota.  Ia  tak  lagi  cantik—pahanya  ditimbuni  lemak  dan  perutnya  lembek seperti tahu. Ia mati karena pendarahan berkepanjangan, sebagai  penutup cantik kisah yang banjir darah ini (hlm. 36). 

 

(11)

secara keseluruhan, cerpen ini dapat dianggap sebagai teks dekonstruksi atas dongeng  Cinderella.  Dongeng  Cinderella  dengan  berbagai  konvensi  yang  selama  ini  telah  dikenal  baik  sama  halnya  dengan  falogosentrisme  yang  mengutamakan  kestabilan  makna dalam pola pikiran dan sistem patriarkhi. Kestabilan makna—atau dengan kata  lain  “kebenaran  tunggal”—tersebut  dibongkar  oleh  cerpen  ini  dengan  menghadirkan  “kebenaran‐kebenaran”  tandingan.  Sosok  Cinderella/Sindelarat  yang  pada  dongeng  diceritakan  sebagai  gadis  baik  hati  sebenarnya  materialistis  dan  tidak  sebaik  yang  diceritakan selama ini. Kehidupan Cinderella/Sindelarat pascaperistiwa pencarian oleh  pangeran  dengan  berbekal  sepatu  sebelah  ternyata  begitu  menderita  dan  seolah  menjadi tumbal kelangsungan sebuah dinasti kerajaan. And they live happily ever after  pun  dibongkar  menjadi  penderitaan  perempuan  pascapernikahan;  perempuan  tidak  bisa menikmati kebahagiaan di dalam sebuah pernikahan dan tidak bisa benar‐benar  menjadi  dirinya  sendiri  karena  ia  memiliki  kewajiban  yang  dibebankan  kepadanya  untuk melayani suaminya, menghasilkan keturunan, dan sebagainya.19 

 

Tidak  hanya  sebatas  pembongkaran  atas  dongeng  Cinderella,  cerpen  ini  juga  menyajikan hal‐hal yang berkaitan dengan realitas keperempuanan, 

Tahun demi tahun berlalu dan kami menjadi bunga yang siap dipetik. Tapi  sial,  siapa  yang  dilirik  para  pemuda  di  pasar  ataupun  alun‐alun?  Larat.  Kendati ia tak lagi bergaun indah, wajahnya masih tetap cantik. Kulitnya  kuning  bercahaya.  Rambutnya  hitam  bak  mayang.  Tubuhnya  semampai,  pinggangnya  kecil,  kakinya  apalagi.  Tutur  katanya  lembut  merayu.  Sedangkan  kami—yang  lebih  mewarisi  rupa  Ayah  daripada  kecantikan  Ibu—bertubuh  besar  dan  berkulit  gelap.  Kami  saudara  Larat  hanya  bisa  gigit  jari  saat  tetangga  mengomentari  kesempurnaannya  setiap  waktu.  Dan  betapa  was‐wasnya  kami  kala  mengetahui  para  laki‐laki  mengantre  di depan pintu hanya untuk melamar Larat! (hlm. 31—32) 

 

(12)

ingin  suaranya  didengar;  berdasarkan  cerita  di  dalam  cerpen  secara  keseluruhan,  ia  pun mendapatkan pendengar. Hanya saja, ia tidak yakin apakah pendengar itu benar‐ benar mendengar dan memercayai ceritanya; ia menutup ceritanya dengan “Tapi ah,  siapa yang akan mendengarkan seorang perempuan buta yang dimutilasi?”21 (hlm. 36)  Demikiankah realitas para Liyan? Meskipun ada kebenaran di dalam suaranya, akankah  seorang Liyan tetap menjadi Liyan dan tidak pernah mendapat pengakuan? 

 

Perempuan  Fragmentatif,  Komoditas,  dan  “Tak  Terlihat”  dalam  Cerpen  “Misteri 

Polaroid” 

Cerpen “Misteri Polaroid” mengisahkan seserpih kehidupan laki‐laki fotografer mode,  Jose,  yang  dinarasikan  oleh  asistennya,  Andri,  yang  juga  laki‐laki.  Cerpen  ini  menarik  karena  mengangkat  realitas  keperempuanan  yang  dilihat  melalui  sudut  pandang  laki‐ laki.  Sebagai  fotografer  mode,  Jose  memiliki  kuasa  untuk  memberikan  penilaian  atas  perempuan‐perempuan model yang dipotretnya, 

Matanya  yang  tajam  tanpa  ampun  bisa  membedakan  calon  supermodel  dengan calon pecundang, atau menarik garis batas antara wajah eksklusif  dan  wajah  murahan.  Ia  bisa  mengukur  dengan  pasti  hidung  yang  terlalu  panjang,  terlalu  pesek,  dagu  yang  terlalu  condong  ke  depan,  pipi  yang  terlalu  lebar,  garis‐garis  muka  yang  terlalu  maskulin,  wajah  yang  tidak  simetris (hlm. 77). 

 

Obyeknya  adalah  model  Indo  favorit  Jose,  Sofia,  yang  sedang  naik  daun  sebagai  presenter  acara  televisi.  Jose  mengagumi  mata  cokelatnya  yang  mirip  kacang  almon,  batang  hidungnya  yang  tinggi,  tulang  pipi  Audrey  Hepburn‐nya yang aristokrat, dan bibirnya yang penuh. Wajah Eropa yang  sudut‐sudutnya  tak  bercacat,  sempurna  untuk  difoto  dari  jarak  dekat.  Dan  foto  ini  memang  hanya  tentang  wajah.  Tak  ada  tubuh,  tangan,  ataupun kaki. 

... 

“Lihat, wajahnya mahal,” komentar Jose. “Tapi kalau salah angle dia bisa  mirip kuda” (hlm. 87—88). 

 

(13)

citra  perempuan.  Sayangnya,  perempuan  (model  dan  calon  model)  sendiri  menganggap  hal  ini  semacam  kartu  mati  yang  mau  tidak  mau  harus  mereka  terima.  Dengan kata lain, keindahan fisik perempuan di mata laki‐laki seolah‐olah sama artinya  dengan hidup‐mati perempuan (model di dunia hiburan). 

 

Penilaian atas perempuan sebagai sesuatu yang fisikal dan fragmentatif ternyata tidak  hanya dilakukan oleh laki‐laki (Jose) saja, tapi juga oleh sesama perempuan, 

“Vin,  Vin...”  Jose  mengeluh  setelah  membalas  ciuman  persahabatan  itu.  “Kenapa pakai si Susi?” 

“Susan?” 

“Susan, whatever. Wajahnya flat.” 

“Ya,  aku  tahu.  Tapi  tidak  ada  pengambilan  gambar close  up.  Fokus  kita  kaki dan sepatu” (hlm. 78). 

 

Kini  Vina  datang  dengan  wajah  yang  berbeda:  Aileen,  model  berwajah  oriental. 

... 

“Ia tidak terlalu tinggi,” Jose meneliti. 

“Ya,  ya,  kakinya  memang  agak  pendek.  Torsonya  yang  panjang,”  timpal  Vina. 

“Dadanya tidak rata, itu yang penting untuk konsep ini” (hlm. 83—84).   

Dengan mengatakan “Tapi tidak ada pengambilan gambar close up” (untuk Susan) dan 

“Torsonya  yang  panjang”  (untuk  Aileen),  Vina  seolah‐olah  memberikan  pembelaan  kepada  keduanya.  Hanya  saja,  tidak  demikian  kenyataannya.  Bukannya  mengatakan  “Ah,  wajahnya  tidak flat,  bahkan  dia  sebenarnya  manis”  (untuk  Susan)  dan  “Ia  tinggi 

(14)

suaranya,  suaranya  tidak  diperhitungkan;  yang  berhak  memberikan  penilaian  kepada  perempuan adalah laki‐laki (dan perempuan) pemegang kuasa. 

 

Di  dalam  cerpen  ini,  perempuan  juga  digambarkan  sebagai  komoditas.  Perempuan  sebagai komoditas diperkuat dengan kisah tentang masa lalu hantu perempuan yang  “mengganggu” sesi pemotretan di studio Jose, 

Konon  di  rumah  ini,  tak  lama  sesudah  kemerdekaan,  memang  ada  gadis  yang  bunuh  diri.  Ayahnya  terbelit  hutang.  Karena  di  keluarga  itu  ia  yang  tercantik, keluarganya memaksanya menjadi istri muda seorang pedagang  kaya.  Si  gadis,  yang  sebetulnya  tidak  dekat  dengan  lelaki  mana  pun,  menolak  keputusan  sepihak  itu.  Tapi  di  rumah  itu  ia  tak  memiliki  suara  (hlm. 86).  

 

Semakin  lengkaplah  “keterpurukan”  perempuan‐perempuan  di  dalam  cerpen  ini.  Selain sebagai keindahan fragmentatif dan komoditas, perempuan ternyata juga “tidak  memiliki  suara.”  Sekali  lagi,  seperti  halnya  Jose  yang  memiliki  peran  “menyuarakan”  suara  perempuan  untuk  menjadi  model  papan  atas  atau  pecundang,  di  sini  sosok  bapaklah  yang  memiliki  peran  “menyuarakan”  suara  anak  perempuannya,  tentu  saja  bukan  dalam  artian  positif  bagi  anak  perempuannya.  Sosok  bapak  yang  begitu  dominan  memiliki  kuasa  untuk  menentukan  jalan  hidup  anak  perempuannya  dan 

memaksanya  menjadi  istri  muda  (bukan  istri  pertama)  pedagang  kaya,  yang  semata‐ mata  untuk  membebaskan  dirinya  dari  hutang;  ketika  perempuan  memiliki  kuasa  untuk memilih, justru pilihan itu adalah kematian. Saya membaca hantu perempuan di 

dalam  cerpen  ini  bukan  hanya  sebagai  hantu  perempuan,  tapi  sebagai  sesuatu  yang  ingin  didengar,  sesuatu  yang  ingin  bersuara.  Hal  tersebut  terlihat  melalui  kemunculannya  pada  beberapa  sesi  pemotretan.  Ia  tidak  berniat  membuat  keonaran  atau  mendatangkan  bencana  bagi  orang‐orang,  ia  hanya  ingin  eksistensinya  diakui.  Saya pikir ini adalah sebuah ironi karena (hantu) perempuan ternyata baru mendapat  perhatian sekaligus pengakuan ketika ia telah mati. 

 

(15)

Kulihat  Susan  berbaring  miring  di  sofa,  berpose  seperti  Cleopatra  di  singgasananya.  Ia  mengenakan  jaket  bulu  berwarna  ungu  tua  dan  rok  mini korduroy berwarna ungu muda. Rok itu adalah alasan mengapa ia  dipilih: pahanya kecil dan kaki‐kakinya langsing. Tapi ada sesuatu yang  menutupi kaki itu. Seberkas cahaya kemerahan memanjang. 

... 

Itu adalah siluet kaki (hlm. 81).   

Kuperhatikan  lagi  foto  Aileen.  Seandainya  ia  arwah  penasaran,  mengapa Aileen hendak dicekiknya? 

Tunggu. 

Itu  bukan  gerakan  mencekik.  Tangan‐tangan  yang  seolah  tak  bermula  itu  begitu  lemas,  tidak  memaksakan  apa‐apa.  Jari‐jarinya  tidak  hanya  menempel di leher, tapi juga tulang selangka. 

Ia tidak mencekik, tetapi ingin memeluk.  ... 

Sang  Arwah  ingin  mendekap  dan  memagut,  mungkin  bermain‐main,  seperti ketika ditindihnya kaki Susan dengan kakinya (hlm. 87). 

 

Konsep  Liyan  (the  other)  berlaku  di  sini.  Sebagai  perempuan,  hantu  perempuan  itu  telah  menjadi  Liyan  dalam  ruang  patriarkhi,  ia  tidak  memiliki  kuasa  untuk  bersuara,  lebih‐lebih memilih; satu‐satunya pilihan yang bisa diambilnya adalah bunuh diri, “Dua  minggu  sebelum  perkawinannya,  ketika  tak  ada  orang  di  rumah  kecuali  dirinya,  ia  mengurung  diri  di  kamar.  Tetangga  berdatangan  karena  mencium  bau  asap  dari 

rumah itu. Sang putri mengamini kebisuan. Ia membakar diri.” (hlm. 86) Ke‐Liyan‐an  hantu  perempuan  tersebut  semakin  “parah”  karena  selain  perempuan,  ia  juga  perempuan lesbian, dan pada akhirnya ia adalah hantu. 

 

(16)

dari  sudut  pandang  laki‐laki.  Hal  tersebut  terlihat  dalam  percakapan  antara  Jose  dan  Andri, 

“Seniman  memanfaatkan  resolusi  polaroid  yang  berbeda  dengan  film,”  tutur Jose dalam salah satu ceramahnya. “Warna polaroid terlalu intens,  terlalu  dramatis.  Terkesan  tak  nyata.  Lucas  Samara  mempercayai  fotografi polaroid untuk mendapatkan imaji‐imaji fantastis.” 

“Maksudmu?” 

“Intinya,  Andri,”  Jose  menepuk  bahuku.  “Polaroid  kerap  menipu.  Berlebihan. Artifisial.” 

“Lalu Warhol dengan kelamin‐kelaminnya?”  “Murahan” (hlm. 84—85). 

  

Kehidupan  perempuan‐perempuan  model  bisa  saja  tidak  seindah  penampilannya  di  iklan‐iklan  atau  sampul  majalah.  Mereka  menjadi  sesuatu  yang  artifisial.  Adakalanya,  seperti  Aileen,  mereka  harus  membangun  imej  baru  untuk  menutupi  masa  lalunya  yang  mungkin  “kelam”  untuk  ukuran  dunia  hiburan  meskipun  di  dalam  “kekelaman”  itu mungkin ada keindahan yang sesungguhnya, 

Di  dunia  hiburan  semua  orang  diharapkan  lahir  dengan  jubah  perak,  seperti  kertas  alumunium  berkilap‐kilap;  tak  akan  terlepas  meski  ditanggalkan. Jubah orang‐orang rupawan ini menjadikan mereka bagian  dari hidup yang selalu dibicarakan sekaligus mengisolasi mereka di langit.  Mereka  harus  disalib  di  tengah  taburan  bintang  agar  tidak  kehilangan  kemilau (hlm. 83). 

 

Dalam  skala  yang  lebih  luas,  cerpen  ini  tidak  sakadar  menyajikan  realitas  keperempuanan,  khususnya  di  dunia  hiburan,  tapi  sekaligus  kritik.  Di  satu  sisi  ia  memperlihatkan ketertindasan perempuan; perempuan sebagai objek dan komoditas. 

Di sisi lain ia juga menyajikan keberterimaan perempuan yang tanpa perlawanan atas  ketertindasan tersebut; segala kepalsuan di dalam dunia hiburan seolah‐olah diterima  begitu  saja  oleh  perempuan  karena  hanya  dengan  begitulah  perempuan  dapat  bertahan hidup. 

 

Perempuan “Terselubung,” Diabaikan, dan Bertindak dalam Cerpen “Sang Ratu” 

(17)

yang menilai kelaki‐lakiannya berdasarkan hal‐hal yang berkaitan dengan harta, tahta,  dan wanita, 

Sebelum  terpenjara  dalam  jeruji  perkawinannya,  Herjuno  adalah  petualang cinta. Sebagai laki‐laki masa lalu, ia masih mengagungkan nilai‐ nilai lelaki feodal sejati. Menurutnya atribut ksatria modern adalah uang  orang  tua  (sebagai  ganti  tanah  warisan)  yang  bisa  digunakan  untuk  memulai perusahaan kecil, mobil terbaru (sebagai ganti kuda gagah), dan  perempuan‐perempuan  langsing  berkorset  (sebagai  ganti  dara‐dara  berstagen) (hlm. 132). 

 

Bagi  Herjuno  yang  womanizer,  perkawinan  adalah  semacam  belenggu  atas  kebebasannya “berpetualang.” Perkawinannya terasa sebagai penjara karena Herjuno  terpaksa  menikahi  perempuan  yang  dihamilinya  di  luar  nikah,  dan  perempuan  yang  demikian sebenarnya tidak sesuai dengan perempuan ideal menurut Herjuno, 

Seumur  hidupnya  Herjuno  mengenal  dua  jenis  perempuan  yang  senantiasa  dipacarinya  pada  saat  yang  bersamaan:  yang  perawan  dan  yang  tidak.  Baginya  sudah  jelas,  perempuan  non‐perawan  adalah  untuk  bermain‐main. Sementara itu ia menghabiskan waktunya untuk menguji  para perawan. Jika dalam masa pacaran mereka “menyerahkan kesucian  untuknnya”  (ini  istilah  favorit  Herjuno—kuno  sekali  untuk  abad  21,  bukan?),  itu  berarti  mereka  tidak  lulus  ujian,  tidak  tahan  godaan,  dan  tidak layak dijadikan istri. (hlm. 132). 

 

“Jangan  main‐main  dengan  (ke)perawan(an),”  mungkin  hal  itulah  yang  tersirat  dari 

bagian  ini.  Herjuno  telah  bermain‐main  dengan  perempuan  (tidak  perawan  maupun  perawan), ia pun harus menikahi perempuan yang dihamilinya. Di satu sisi hal tersebut  mendatangkan malapetaka bagi Herjuno, tapi di sisi lain mendatangkan berkah karena 

(18)

menjadikan  Herjuno  dapat  mengenyam  kehidupan  yang  lebih  baik.  Di  dalam  cerpen  ini,  perempuan  sebagai  rekan  atau  pendukung  laki‐laki  dalam  meraih  keberhasilan  diperkuat  pada  subplot  yang  mengisahkan  hubungan  antara  Ratu  Kidul  dengan  Panembahan  Senopati.  Subplot  ini  muncul  berkaitan  dengan  usaha  Herjuno  untuk  menafsirkan  mimpinya.  Ia  pergi  ke  paranormal—bernama  Ki  Joko  Kuncoro—dan  mendapat penjelasan bahwa “mimpi Herjuno bukanlah sembarang mimpi. Perempuan  cantik  dalam  mimpinya  bukanlah  perempuan  biasa,  melainkan  Ratu  Pantai  Selatan.  Bertemu dengannya bisa punya makna ganda: keberuntungan atau kehancuran.” (hlm.  136).  Lebih  lanjut,  Ki  Joko  Kuncoro  menyarankan  Herjuno  untuk  mencari  titisan  Ratu  Kidul dan “Jika kau bisa memegangi pelananya, ia akan membawamu ke tempat yang  tak  pernah  kaubayangkan”  (hlm.  139);  menaklukkan  Ratu  Kidul  berarti  mendapatkan  kekuasaan  yang  tidak  terbayangkan  sebelumnya.  Herjuno  pun  mulai  memerhatikan  setiap  perempuan  yang  ditemuinya  sambil  menerka‐nerka  apakah  perempuan  itu  titisan Ratu Kidul. Pencarian Herjuno pun berakhir pada seorang perempuan, 

Perempuan  itu  bercelana  panjang  hitam  dan  berjaket  kulit  hitam  ketat.  Tubuhnya  langsing  namun  kokoh.  Ia  mirip  seekor  kalajengking.  Mewah,  berkilat‐kilat,  menakutkan.  Pelupuk  matanya  disapu  warna  kelabu  kehitaman, membuat sepasang mata indahnya seperti mata kucing yang  menyala‐nyala  di  kegelapan.  Ketika  ia  bicara,  suaranya  sekental  Bloody  Mary (hlm. 14). 

 

Herjuno  terbuai  oleh  keindahan  fisik  perempuan  itu.  Hal  ini  membawanya  ke  jalan  pengkhianatan  atas  istrinya.  Ia  tidak  menyadari  bahwa  ia  sedang  bermain‐main 

dengan  api  yang  sesungguhnya  karena  ia  hanya  melihat  penampakan  luar.  Herjuno  tidak menyadari bahwa titisan Ratu Kidul yang dicarinya selama ini sebenarnya tidak  jauh  darinya—Dewi.  Dewi  adalah  ibu  rumah  tangga  yang  baik  dan  bukan  tipe  perempuan yang bertingkah macam‐macam: “Anak mereka lahir tujuh bulan sesudah  perkawinan meriah itu. Sejak saat itu, Dewi Wulandari, S.E. menjadi ibu rumah tangga  seutuhnya. Mengurus bayi, menyusuinya sampai dua tahun” (hlm. 133). Lebih lanjut, 

(19)

suka  ke  kafe  atau  klub.  Ponselnya  pun  jarang  berbunyi  karena  ia  tak  punya banyak teman (hlm. 144—145). 

 

Pada bagian ini lagi‐lagi berlaku falogosentrisme. Seorang ibu rumah tangga yang baik  yang begitu mementingkan anaknya dan tidak suka neko‐neko dianggap membosankan  oleh  laki‐laki.  Sebagai  perempuan,  Dewi  tidak  terlalu  menggembar‐gemborkan  eksistensinya dengan melibatkan diri dalam kegiatan publik. Ia lebih memilih menjadi  ibu rumah tangga yang baik. Pilihan yang seperti ini pun medapatkan penilaian negatif  dari laki‐laki; pilihan perempuan meskipun tidak mendatangkan kerugian dan bahkan  menguntungkan laki‐laki ternyata tidak sepenuhnya bebas nilai (patriarkhi). Di sini pun  lagi‐lagi  penampakan  luar  mendapat  porsi  pertama  dan  utama  dan  menetapkan  penilaian. Herjuno dan Gus tidak melihat sesuatu di balik sosok Dewi. Hal ini terungkap  pada bagian akhir cerpen, 

Ia  menutupi  tangan  kanannya  dengan  tangan  kiri.  Kulihat  darah  menyembul  dari  genggaman  tangannya  dan  mengalir  cair  ke  bawah,  membasahi karpet. 

Herjuno  pingsan.  Ketika  tangannya  terkulai,  aku  melihat  jari  tengahnya  hilang. 

Saat  itu  juga,  aku  menyadari  kehadiran  orang  lain  di  kamar  itu.  Perempuan itu. Ia memotong jari Herjuno. 

... 

Dia perempuan biasa yang pernah kujumpai saat makan malam di meja.  Dia Dewi, istri Herjuno. 

Perempuan  itu  sempat  mematung  menatapku.  Tiba‐tiba  kusadari  ia  tengah  membawa  rantai  yang  diikatkan  pada  seekor  makhluk  besar  menakutkan. Kalajengking raksasa. Perempuan itu, ya. 

Mereka  dedemit  yang  bahu‐membahu.  Persaudaraan  perempuan‐ perempuan halus yang tak terpecahkan. 

Sang  Ratu  dan  kalajengkingnya  lantas  terbang  melalui  jendela,  menghilang (hlm. 148—149). 

 

(20)

Arjuna dalam dunia pewayangan. Arjuna adalah sosok yang dikenal sebagai lanangane  jagad,  lelakinya  dunia,  karena  ia  memiliki  begitu  banyak  istri  dan  dicintai  banyak 

perempuan. Hanya saja, Arjuna di dalam cerpen ini kehilangan kelaki‐lakiannya karena  dikastrasi  oleh  perempuan.  Oleh  karena  itu,  predikat lanangane  jagad pun  secara  otomatis  runtuh  dan  menjadikan  dirinya  tidak  berarti  bagi  perempuan.  Hal  ini  diperkuat oleh pernyataan Gus, “Aku sempat bertanya‐tanya mengapa Herjuno masih  dibiarkan hidup sampai sekarang. Mengapa hanya jari tengah dan bukannya nyawa ...  Tapi  kemudian  kusadari  bahwa  Herjuno  tidak  cukup  berarti  bagi  Ratu  Kidul  untuk  mendapatkan  anugerah  itu:  hidup  sebagai  bayang‐bayang  tanpa  akhir”  (hlm.  150).  Pada  bagian  tersebut  semakin  terasa  kuat  adanya  “perempuan  yang  bertindak.”  Tindakan  ini  berupa  usaha  untuk  meruntuhkan  dominasi  patriarkhi  dengan  “cara  perempuan.”  Maksudnya,  perempuan  (Dewi/Ratu  Kidul)  tidak  menggunakan  “cara  laki‐laki” dan membunuh Herjuno, tapi hanya mengambil simbol kelaki‐lakian Herjuno.  Ada  semacam  penegasan  bahwa  perempuan  tampak  lemah  bukan  berarti  dia  memang lemah—dihadirkan melalui sosok Ratu Kidul yang terselubung oleh Dewi. Hal  ini  senada  dengan  pernyataan  Ki  Joko  Kuncoro:  perempuan  mampu  mendatangkan  keberuntungan  atau  kehancuran.23  Perempuan  mampu  mengambil  tindakan  yang  tidak terduga pada saat‐saat yang paling krusial, perempuan pun sebenarnya memberi  penilaian  kepada  laki‐laki  berkaitan  dengan  pantas‐tidaknya  laki‐laki  mendapat 

penghormatan—Herjuno  tidak  pantas  dihormati  karena  ia  telah  mengkhianati  perempuan. 

 

Epilog 

Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha menghadirkan realitas keperempuanan dari 

(21)

sendiri  dan  hidup  dalam  ruang  milik  laki‐laki.  Sosok  Ibu  dalam  “Pemintal  Kegelapan”  hadir  sebagai  perempuan  yang  terus‐menerus  dihantui  masa  lalunya  yang  pahit  sepanjang  hidupnya.  Ia  mampu  menjalani  hidup,  berkarier,  dan  menghidupi  keluarganya, tapi ada penderitaan yang dipendamnya sendiri sampai menjelang ajal. Ia  berusaha  menemukan  “penyembuhan”  dengan  cara  menceritakan  kembali  masa  lalunya kepada anaknya dan menegaskan kepada dirinya sendiri dan anaknya di akhir  cerita  bahwa  ia  adalah  Pemintal  Kegelapan.  Sosok  perempuan  yang  terpinggirkan  terlihat jelas pada cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari.” Tokoh perempuan buta di  sini berusaha membongkar sistem pakem yang selama ini telah mengisi relung pikiran  masyarakat.  Ia  menceritakan  kembali  peristiwa‐peristiwa  “sebenarnya”  di  balik  dongeng  Cinderella.  Ia  meyakinkan  pendengar  bahwa  tidak  ada  akhir  yang  bahagia  bagi  perempuan,  bahkan  ketika  ia  telah  menikah  dengan  seorang  pangeran  pujaan  jutaan  perempuan.  Perempuan  akan  selalu  tidak  dapat  menjadi  dirinya  sendiri,  tidak  dapat  menjalani  hidup  sesuai  dengan  keinginannya  sepenuhnya,  karena  ada  kewajiban‐kewajiban  yang  dibebankan  kepadanya  oleh  budaya  patriarkhi.  “Penindasan”  atas  perempuan  juga  tampak  pada  cerpen  “Misteri  Polaroid.”  Di  sini  perempuan  tidak  lebih  daripada  keindahan  fragmentatif,  komoditas  yang  harus  memenuhi  permintaan  pasar,  dan  sosok  hidup  yang  “tidak  memiliki  suara.”  Segala  bentuk  nilai  yang  melekat  pada  perempuan  ditentukan  oleh  (budaya)  laki‐laki,  yang 

karena  begitu  kuatnya  hingga  membuat  perempuan  terseret  ke  dalam  arus  dan  mengamini segala bentuk nilai tersebut. Perempuan sebagai keindahan fisikal kembali  tampak  dalam  cerpen  “Sang  Ratu.”  Hanya  saja,  perempuan  di  dalam  cerpen  ini  tidak 

berdiam  diri,  ia  bertindak  untuk  menunjukkan  keperempuanannya  meskipun  tetap  dalam  permainan  halus  dan  simbolis.  Perempuan  pun  sebenarnya  juga  memiliki  standar nilainya sendiri dalam memandang laki‐laki dan budaya patriarkhi. 

 

(22)

kehidupan yang tidak pernah mudah untuk dijalani, kehidupan yang tidak pernah usai  menghadirkan luka berkepanjangan, bagaikan hantu perempuan di dalam loteng yang  tak  kunjung  berhenti  memintal:  Karena  si  hantu  perempuan  tidak  menggunakan  benang untuk selimutnya. Ia memintal kegelapan. 

                                                                           

(23)

1

  Jan  Mukarovsky,  “Asthetische  Funktion,  Norm  und  ästhetischer  Wert  als  soziale  Fakten,” 

Mukarovsky  1970,  hlm.  7—112  dalam  Rien  T.  Segers, Evaluasi  Teks  Sastra,  terj.  Suminto  A.  Sayuti  (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2000), hlm. 31. 

2

  Istilah  ini  berasal  dari  Roman  Ingarden  dan  diperkenalkan  secara  luas  oleh  Felix  Vodicka.  Menurut Ingarden, karya sastra memiliki struktur yang objektif, yang tidak terikat pada pembaca, tetapi  sekaligus  memiliki  kemandirian  terhadap  kenyataan,  bersifat  skematik  dan  selektif,  tidak  pernah  menciptakan  gambaran  dunia  yang  sesungguhnya.  Setiap  karya  sastra  mengandung 

unbestimmtheitsstellen  atau  tempat‐tempat  kosong  yang  pengisiannya  terserah  pembaca;  Teeuw, 

Sastra  dan  Ilmu  Sastra:  Pengantar  Teori  Sastra   (Jakarta:  Pustaka  Jaya,  1988),  hlm.  190—191; cf.  Iser,  “Teks‐teks  fiksi  tidak  identik  dengan  situasi  nyata.  Teks‐teks  itu  tidak  memiliki  pasangan  (counterpart)  yang pasti dalam kenyataan. Dalam hal ini, teks‐teks tersebut hampir bisa dikatakan tidak bertempat, di  luar  substrata  historis  yang  menyertainya.  Namun,  sebenarnya  keterbukaan  inilah  yang  menyebabkan  teks‐teks  itu  mampu  membentuk  berbagi  situasi  yang  dilengkapi  oleh  pembaca  dalam  bacaan‐bacaan  pribadinya.  Keterbukaan  teks  fiksi  bisa  ditiadakan  hanya  dalam  tindakan  pembacaan;”  Wolfgang  Iser, 

Die  Apellstruktur  der  Texte:  Unbestimmtheit  als  Wirkungsbedingung  literarischer  Prosa (Konstanz:  Universitätsverlag, 1970) dalam D.W. Fokkema dan Elrud Kunne Ibsch, Teori  Sastra  Abad  Kedua  Puluh

terj. J. Praptadiharja dan Kepler Silaban, (Jakarta: Gramedia, 1998), hlm. 185.  3 Mengacu pada pendapat Culler, istilah kompetensi kesastraan atau 

literary competence dapat  dipahami  sebagai  “set  of  conventions  of  reading  literary  texts”  (perangkat  konvensi  untuk  membaca  teks  sastra).  Melalui  kemampuan  sistem  konvensi  itu  kita  merebut  makna  karya  sastra,  yang  disebut 

naturalization,  mengembalikan  yang  aneh  pada  yang  wajar;  Teeuw, ibid.,  hlm.  103—104,  mengutip  Jonathan  Culler, Structuralist  Poetics:  Structuralism,  Linguistics,  and  The  Study  of  Literature (London:  Routledge and Kegan Paul, 1975). Secara lebih luas, horison harapan bergantung pada statistik personal  tentang  seks,  pekerjaan,  pendidikan,  tempat  tinggal,  agama,  sikap  dan  norma  pembaca,  kompetensi  sastra  dan  linguistiknya,  pengalaman  analisisnya,  luas‐sempitnya  keakraban  dengan  pengirim  dan  sarana,  serta  situasi  resepsi  pembaca;  Wolfgang  Gast,  “Text  und  Leser  im  Feld  der  Massenkommunikation:  Űberlegungen  zur  Wirkungsanalyse  von  Unterhaltungsliteratur,” Wirkendes  Wort 25, 2:108—128, 1975 dalam Segers, op.cit., hlm. 42. 

4 Hans Robert Jauss, 

Toward  An  Aesthetic  of  Reception (Minneapolis: University of Minnesota 

Press, 1983), hlm. 24. Objektivitas horison harapan disusun melalui tiga kriteria, yaitu pertama, aturan  yang  terkenal  yang  berkaitan  erat  dengan  teks  yang  dibaca  pembaca,  kedua,  pengalaman  dan  pengetahuan  pembaca  terhadap  keseluruhan  teks  yang  telah  dibaca  sebelumnya,  dan ketiga,  kontras  antara fiksi dan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk menerima teks baru di dalam cakrawala  harapan yang “sempit” dan cakrawala pengetahuan hidupnya yang “luas.” 

5  Gadis  Arivia, 

Feminisme:  Sebuah  Kata  Hati (Jakarta:  Penerbit  Buku  Kompas,  2006),  hlm.  x.  Falogosentrisme adalah gabungan dari falosentrisme dan logosentrisme, suatu istilah yang diajukan oleh  Jacques  Derrida  dalam  gagasan‐gagasannya  yang  kemudian  dikenal  dengan  sebutan  dekonstruksi.  Logosentrisme  adalah  suatu  ideologi  yang  memperioritaskan  kestabilan  makna.  Dalam  sejarah  pemikiran Barat, logosentrisme didukung oleh keyakinan pada rasionalitas manusia (Descartes) dan oleh  penekanan  pada  bahasa  lisan  daripada  bahasa  tulisan  (Saussure).  Keinginan  untuk  mengontrol  makna  dan  stabilitas  itu,  menurut  Derrida  berbarengan  dengan  orientasi  yang  falosentris,  yang  mengedepankan  perspektif  laki‐laki  atas  perempuan.  Jadi,  falogosentrisme  adalah  suatu  pola  pikiran  dan bahasa dalam sistem patriarkhi; Melani Budianta, “Pendekatan Feminis terhadap Wacana,” Analisis  Wacana: dari Linguistik sampai Dekonstruksi (Yogyakarta: Penerbit Kanal, 2002), hlm. 208. 

6  Jack  Tresidder, 

The  Complete  Dictionary  of  Symbols  in  Myth,  Art  and  Literature  (London: 

Duncan Baird Publisher, 2004), hlm. 291. 

11  Freud  menemukan  fakta  bahwa  manakala  pasien  menjadi  dekat  dengan  akar 

permasalahannya,  resistensi  pun  terjadi;  Ruth  Berry, Seri  Siapa  Dia?  Freud,  terj.  Frans  Kowa  (Jakarta:  Erlangga, 2001), hlm. 28. 

12 

Ibid., hlm. 21. 

13  Metode  asosiasi  bebas  pertama  kali  digunakan  Freud  setelah  ia  menyadari  bahwa  dengan 

(24)

munculnya  hal‐hal  yang  amat  penting.  Oleh  karena  itu,  Freud  kemudian  membiasakan  diri  meminta  pasien mengatakan semua yang terlintas di benaknya; Max Milner, Freud  dan  Interpretasi  Sastra, terj.  Apsanti Djokosujatno, Sri Widaningsih, dan Laksmi (Jakarta: Intermasa, 1992), hlm. 10. 

  Istilah  intertekstualitas  pertama  kali  digunakan  oleh  Julia  Kristeva  dalam  tulisannya  “Word,  Dialog, and Novel” yang ditulis pada tahun 1966 dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1967, yang  pada  dasarnya  merupakan  pengembangan  terhadap  pemikiran  Mikhail  Bakhtin;  dapat  dilihat  pada  Michael  Worton  dan  Judith  Still  (ed.), Intertextualiy:  Theories  and  Practices  (Manchester/New  York:  Manchester University Press, 1993), hlm. 1, 16, dan 33. Kristeva menyatakan, “... any text is contructed  as mosaic of quotations; any text is the absorption and transformation of another” (setiap teks dibangun  sebagai  mosaik  kutipan‐kutipan;  setiap  teks  merupakan  penyerapan  dan  transformasi  dari  teks  lain);  Julia Kristeva, “Word, Dialog, and Novel,” Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art,  Leon  S.  Roudiez  (ed.) (New  York:  Columbia  University  Press,  1980),  hlm.  66.  Untuk  selanjutnya,  istilah  intertekstualitas  mengalami  perkembangan.  Pada  awalnya,  intertekstualitas,  yang  berasal  dari  bahasa  Prancis intertextualité  hanya  mengacu  kepada  hubungan  antara  sebuah  teks  dengan  teks  lain  dalam  pengertian  harafiah,  bukan  dengan  pengaruh  seorang  pengarang  kepada  pengarang  lain  atau  segala  sesuatu yang menjadi sumber penciptaan sebuah karya sastra. Tetapi, dalam perkembangannya, istilah  intertekstualitas mengacu kepada hubungan antara sebuah teks dengan teks lain dalam pengertian yang  lebih luas. 

17  Michael  Riffaterre, 

Semiotics  of  Poetry  (Bloomington:  Indiana  University  Press,  1978),  hlm.149. 

18 

Ibid., hlm. 124. 

19  Dalam  sebuah  tulisannya,  Simone  de  Beauvoir  menyatakan  bahwa  sepanjang  sejarah, 

perempuan  sulit  tampak  menonjol  dalam  berbagai  bidang  profesi.  Bahkan,  dalam  profesi  kepenulisan  sastra  pun  perempuan  sangat  sulit  menghasilkan  tulisan‐tulisan  yang  baik.  Hal  ini  tidak  terlepas  dari  kedudukan  perempuan  di  dalam  rumah  tangga.  Meskipun  mereka  mungkin  memiliki  banyak  waktu  luang  di  rumah,  mereka  terikat  oleh  berbagai  bentuk  pekerjaan  domestik.  Mereka  harus  memikirkan  dan melibatkan diri dengan banyak hal di luar karirnya. Mereka harus membagi waktu antara kehidupan  profesional  dan  kehidupan  rumah  tangga;  Simone  de  Beauvoir,  “Perempuan  dan  Kreativitas,” Hidup  Matinya Sang Pengarang, terj. Haniah, Toeti Heraty (ed.) (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000), hlm.  91—117. 

20

  Pelabelan  “Liyan”  atau  the  other  pada  seseorang  atau  kelompok  tertentu  biasanya  didasarkan pada pola pikir dikotomis seperti baik‐buruk, normal‐abnormal, biasa‐tidak biasa. Pelabelan  semacam  ini  tentu  tidak  dapat  dilepaskan  dari  relasi  kuasa  yang  berlaku  waktu  itu;  pemegang  kuasa  “berhak” memberikan kepada pihak‐pihak yang “tidak memiliki kuasa.” Berkaitan dengan hal tersebut,  menurut  Cixous,  perempuan  eksis  dalam  dunia  yang  telah  didefinisikan  oleh  laki‐laki  dalam  aturan‐ aturan  yang  telah  ditetapkan  oleh  laki‐laki.  Laki‐laki  kemudian  menjadi self  dan  perempuan  menjadi 

other. Menurut Lacan, perempuan selalu menjadi Liyan. Pendiskriminasian terhadap perempuan terjadi  karena  ada  keterasingan  yang  dialami  perempuan  ketika  ia  tumbuh  dewasa,  ada  simbol‐simbol  dalam 

the law of the father yang tidak mereka mengerti karena simbol‐simbol tersebut dikomunikasikan lewat  bahasa maskulin; Arivia, op.cit., hlm. 6, 129, dan 203. 

21 Pernyataan perempuan buta ini senada dengan pemikiran Gayatri Spivak, “

Can the subaltern  speak?” Subaltern di  sini  dapat  dipahami  sebagai  pihak  inferior.  Istilah  ini  pertama  kali  diadopsi  oleh 

Antonio  Gramsci  untuk  mengacu  pada  kelompok‐kelompok  di  dalam  masyarakat  yang  berkedudukan  sebagai  objek  hegemoni;  Bill  Ashcroft,  Gareth  Griffiths,  dan  Helen  Tiffin, Key  Concept  in  Post‐colonial  Studies (London & New York: Routledge, 1998), hlm. 215. 

22

 Menurut Freud, bila seseorang (laki‐laki) tidak memiliki penis, ia tidak hanya merasakannya  sebagai suatu perbedaan seks, melainkan juga sebagai kehilangan; Milner, op.cit., hlm. 180. 

23  Berkaitan  dengan  hal  tersebut,  dalam  tradisi  sastra  dunia  juga  tampak  adanya  “dua  sisi” 

(25)

Referensi

Dokumen terkait

skripsi yang berjudul : Peluang Investasi Emas Jangka Panjang Melalui Produk Pembiayaan BSM Cicil Emas (Studi Pada Bank Syariah Mandiri K. Skripsi ini adalah

Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Negeri Semarang Nomor 14 Tahun 2012 tentang Pedoman Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi Mahasiswa Program Kependidikan

Aset keuangan FVTPL termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai FVTPL disajikan dalam laporan posisi

Produktivitas merupakan hasil dari efisiensi pengelolaan masukan dan efektivitas pencapaian sasaran yang berhubungan upah tenaga kerja, pengalaman, curahan waktu kerja untuk

Dari permasalahan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pendidikan kesehatan manajemen demam terhadap pengetahuan dan

Fungsi selanjutnya adalah sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat yang mendiami suatu wilayah negara, pemilihan umum merupakan aksi yang bersifat

Permasalahan selanjutnya adalah tidak semua guru di sekolah terutama guru di tingkat Sekolah Dasar mampu membuat atau merancang alat peraga pembelajaran sebagai alat bantu

Sebagai bahan pengembangan dan alternatif tentang kemampuan berpikir kritis dan Self-efficacy dengan pendekatan pembelajaran SAVI dan memanfaatkan Wingeom dalam