(
Studi Etnografi Virtual Tentang Perilaku Komunikasi Pelanggan dalam Komunitas Virtual Ibu Dan Aku Yang Dibentuk Oleh PT Combiphar)PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Oleh : Nama : Kania Khoirunnisa
NIM : 1406015152
Peminatan : Hubungan Masyarakat
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLOTIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
ridho dan hidayah-Nya proposal skripsi ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Terimakasih peneliti ucapkan kepada dosen pembimbing …
atas ilmu yang disampaikan di kelas sehingga memberikan pengetahuan yang cukup bagi peneliti untuk bisa menyelesaikan tugas ini.
Proposal berjudul “ Perilaku Komunikasi Pelanggan Dalam Komunitas
Virtual Ibu Dan Aku Di Media Sosial Facebook (
(
Studi Etnografi Virtual TentangPerilaku Komunikasi Pelanggan dalam Komunitas Virtual Ibu Dan Aku Yang
Dibentuk Oleh PT Combiphar) ” disusun oleh peneliti dalam rangka memenuhi
tugas mata kuliah Metode Penelitian Komunikasi , peneliti menyadari bahwa
dalam penyusunan proposal ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat peneliti harapkan untuk menyempurnakan proposal ini. Semoga apa yang telah dituangkan dalam
proposal penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, September 2017
Peneliti
HALAMAN PERSETUJUAN...iii
2.1. Paradigma Konstruktivisme...8
2.2. Hakekat Komunikasi...9
2.2.1. Pengertian komunikasi...9
2.3.1. Definisi Public Relations...17
2.4.1. Definisi Komunikasi Antarbudaya...23
2.4.2. Definisi Budaya dan Kebudayaan...25
2.4.3. Hubungan Budaya dan Komunikasi...26
2.4.4. Unsur – Unsur Kebuadayaan...27
2.4.5. Hambatan Komunikasi Antarbudaya...27
2.5. Media Baru...28
2.5.1. Sejarah Internet...28
2.5.2. Media Sosial...30
2.5.4. Cyberculture (Budaya Siber)...32
2.5.5. Teori Komunikasi Dimediasi Komputer (CMC)...32
2.6. Teori Situasional Publik ( Situational Theory Of Public)...33
2.7. Teori Berbasis Komunitas ( Community – Based Theory)...34
2.8. Perilaku Komunikasi...35
2.9. Publik dan Pelanggan...35
2.9.6. Komunitas Virtual...36
2.12.3. Prinsip – Prinsip Etnografi Virtual...44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...51
3.1. Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian...51
3.1.1. Pendekatan Kualitatif...51
3.4. Metode Analisis Media Siber...55
3.5. Lokasi Penelitian dan jadwal Penelitian...56
3.5.1. Lokasi Penelitian...56
DAFTAR PUSTAKA...57
LAMPIRAN – LAMPIRAN...58
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Secara etimologi istilah komunikasi atau dalam Bahasa inggris communication berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari
kata communis yan berarti “sama”. “Sama” disini maksudnya adalah sama
makna mengenai apa yang dipercakapkan. (Effendy, 2006 : 9). Sedangkan, definisi komunikasi adalah proses pertukaran makna dengan adanya umpan
balik yang menghubungkan sumber dan penerima pesan. Seseorang dapat menjadi pengirim maupun penerima dalam sebuah interaksi, tetapi tidak dapat menjadi keduanya sekaligus. (West & Turner, 2013:13). Menurut
Raymond S. Ross dalam (Mulyana, 2008 : 69) . Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih, , dan mengirimkan simbol – simbol sedemikian
rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.
Komunikasi dapat dilakukan secara tatap muka dan melalui media.
Pada era virtual saat ini muncul istilah komunikasi virtual, yaitu prores penyampaian pesan yang dikirimkan melalui internet atau cyberspace.
(Warner, 2001: 447). Definisi virtual sendiri merupakan proses pengubahan suau konsep dan pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan bentuk gambar, tulisan, grafik , dan lain – lain agar dapat
Seperti pada penjelasan sebelumnya, komunikasi virtual berlangsung di dalam cyberplace, dan salah satu contoh dari cyberplace adalah media sosial
Ardianto dalam buku Komunikasi 2.0 mengungkapkan, bahwa media sosial, disebut jejaring sosial online bukan media massa online karena media sosial memiliki kekuatan sosial yang sangat mempengaruhi opini publik yang berkembang di masyarakat. Penggalangan dukungan atau gerakan massa bisa terbentuk karena kekuatan media online mampu membentuk opini, sikap, dan perilaku publik atau masyarakat. (Ardianto, 2011: xii).
Jika biasanya, aktifitas public relations dilakukan secara offline maka
sekarang, media sosial dimanfaatkan untuk program public relations. Hal
ini dilakukan pula oleh PT Combhipar, mereka menggunakan media sosial facebook untuk membentuk sebuah komunitas virtual yang bernama Ibu
dan Aku. Saat ini sudah ada 13 ribu fans dari komunitas tersebut, komunitas tersebut dibentuk agar PT Combiphar dapat dengan mudah melakukan
hubungan dengan pelanggan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan brand serta memberikan edukasi mengenai hidup sehat. (www.swa.co.id. Combhipar Remajakan Merek Hingga Bentuk Komunitas Virtual diakses
tanggal 4 Agustus 2017, pukul 12:42 WIB)
Komunitas virtual dinilai penting untuk menjalin hubungan dengan
pelanggan, memberikan konten – konten yang bermanfaat dan solusi kepada
pelanggan, hal itu akan membuat pelanggan akan percaya dan melirik untuk
membeli produk jasa. (www.komunitasvirtualmarketer.com.Pentingnya
Menjalin Hubungan Dengan Pelanggan diakses tanggal 4 Agustus 2017,
Di dalam komunitas Ibu dan aku, pelanggan tidak hanya dapat
berkomunikasi dengan perusahaan saja, tetapi dengan pelanggan lain juga.
Mereka dapat melakukan interaksi, membagi pengalaman atau informasi
yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak di Fanpage Facebook
komunitas virtual Ibu dan Aku.
Pada penelitian kali ini, peneliti ingin meneliti perilaku komunikasi
pelanggan yang menjadi publik di dalam komunitas Virtual Ibu dan Aku
yang dibentuk oleh PT Combhipar. Sebagai Public Relations, penting
mengetahui perilaku komunikasi publiknya dalam komunitas. Perilaku
komunikasi ini merupakan suatu tindakan atau perilaku komunikasi baik itu
berupa verbal ataupun nonverbal yang ada pada tingkah laku seseorang .
menurut kwick dalam Notoatmojo (2003).
Di dalam komunitas terdapat perilaku komunikasi yang mempunyai
karakteristik yang khas , hal ini yang ingin diteliti oleh peneliti pada
komunitas virtual Ibu dan Aku yang dibentuk oleh PT Combiphar Pada
penelitian ini peneliti ingin mengulas dan menjelaskan peran dari pelaku
komunikasi dalam komunitas virtual ibu dan aku, pesan – pesan yang
dipertukarkan, pola interaksi, kohesivitas , norma dan budaya siber yang
yang terbentuk dalam komunitas tersebut.
Beberapa penelitian terdahulu terkait etnografi komunikasi atau
etnografi virtual antara lain:
1. Studi Etnografi Komunikasi Terhadap Penggunaan Bahasa dalam
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Ia menggunakan paradigma konstrutivis, dengan
pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam komunikasi antar
anggota Kaskus, mereka membuat thread dan posting sebagai sebuah
pesan. Pola pembentukkan bahasa Kaskus adalah dengan mengikuti tren terkini dan menggunakan interferensi bahasa, alih kode dan campur
kode.
2. Dakwah di Media Sosial; Etnografi Virtual pada Fanpage Facebook KH
Abdullah Gymnastiar oleh Rizki Hakiki, 2011, Fakultas Ilmu Dakwah
dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis
penelitian deskriptif, dengan metodologi etnografi virtual. Hasil dari
penelitian menyatakan bahwa pengikut fanpage Facebook KH.
Abdullah Gymnastiar yang sudah mencapai 3.793.327 orang itu
dipengaruhi oleh popularitas Aa Gym sebagai seorang da’i yang sudah
lama berdakwah sejak tahun 1999. Karena dalam fanpage Facebook
KH. Abdullah Gymnastiar tidak pernah memasang iklan guna
memperbanyak jumlah like atau mad’u. Alasan Aa Gym berdakwah
melalui fanpage Facebook KH.Abdullah Gymnastiar adalah untuk
mad’u Aa Gym yang memiliki akun Facebook pribadi untuk mengakses pesan – pesan dakwah melalui media sosial.
3. Pengungkapan Identitas Diri Melalui Media Sosial : Studi Mengenai
Etnografi Virtual Melalui Virtual Vlog oleh Siti Nadila Tenri Ajeng Fitrya, 2017, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik , Universitas
Hasanuddin Makasar. Penelitian ini menggunakan metode etnografi virtual, di dukung teori pengungkapan diri dan teori identitas sosial.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek penelitian (Ricis) mengungkapkan identitas dirinya dengan efektif dan terbuka. Karena Ricis menunjukkan aktivitas sehari – harinya dan memberikan
informasi pribadi dalam vlognya. Dalam pola komunikasi dengan penggemar, Ricis melakukan secara efektif karena adanya timbal balik
dari kedua belah pihak dan aktifnya Ricis dalam membalas komentar para penggemar di Youtube secara nonverbal maupun verbal.
3.1. Perumusan Masalah
3.1.1. Bagaimana perilaku komunikasi pelanggan dalam Komunitas Virtual Ibu dan Aku di Media Sosial Facebook?
3.1.2. Bagaimana cyberculture yang terbentuk dalam Komunitas Virtual
Ibu dan Aku di Media Sosial Facebook?
3.2. Pembatasan Masalah
3.2.1. Perilaku komunikasi pelanggan 3.2.2. Cyberculture
3.3. Tujuan Penelitian
3.3.1. Menjelaskan perilaku komunikasi pelanggan dalam Komunitas
Virtual Ibu dan Aku di media sosial Facebook dengan metode Etnografi Virtual
3.3.2. Menjelaskan cyberculture yang terbentuk dalam Komunitas Virtual
Ibu dan Aku di media sosial Facebook dengan metode Etnografi
Virtual
3.4. Kontribusi Penelitian
3.4.1. Kontribusi Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah pengetahuan tentang perilaku komunikasi pelanggan atau publik
dalam komunitas virtual. Penelitian ini menggunakan teori public
relations yaitu teori situasional publik dan teori berbasis komunitas. Dengan kasus dalam penelitian ini diharapkan pembaca dapat
mengerti kegunaan teori tersebut.
3.4.2. Kontribusi Metodologis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang penerapan metodologi penelitian etnografi virtual dan metodelogi analisis media siber dalam penelitian komunitas virtual.
3.4.3. Kontribusi Sosial
Peneliti berharap penelitian ini dapat berguna bagi pengguna
berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan pengguna lain dalam cyberculture .
3.4.4. Kontribusi Praktis
Peneliti berharap agar hasil penelitian ini dapat menjadi masukan
bagi praktisi public relations yang membentuk komunitas virtual,
untuk lebih memahami perilaku komunikasi pelanggannya sehingga komunikasi dengan pelanggan lebih efektif lagi.
3.5. Sistematika Penulisan
Dalam BAB I PENDAHULUAN berisikan latar belakang, masalah yang menjadi alasan untuk melakukan penelitian, rumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan penelitian, serta kontribusi akademis, metodelogis, dan sosial.
Dalam BAB II LANDASAN PEMIKIRAN berisikan paradigma skonstruktivisme, konsep tentang komunikasi, konsep komunikasi
kelompok, public relations, komunikasi virtual , perilaku komunikasi
publik dan pelanggan , komunitas virtual, Komunitas Ibu dan Aku,
budaya siber, teori situasional publik , dan teori berbasis komunitas, dan profil PT Combiphar
Dalam BAB III METODOLOGI PENELITIAN , berisikan pendekatan penelitian kualitatif, jenis penelitian deskriptif, dan metode penelitian etnografi virtual, penentuan informan , metode pengumpulan
BAB II LANDASAN PEMIKIRAN
2.1. Paradigma Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970–an oleh Jese Deli dan rekan – rekan sejawatnya. Konstruktivisme menyatakan bahwa induvidu melakukan
interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut paradigm ini, realitas tidak menunjukkan dirinya
dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009: 107).
Paradigma konstruktivisme menyatakan bahwa realitas itu ada dalam
beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya.
(.Moleong,2013:69)
Paradigma konstruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigm lainnya, yaitu ontologi, epistemologi,
dan metodelogi. Level ontology, paradigm konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk. Dan maknanya
teks dan percakapan, tulisan, atau gambar. Sedangkan dialektik adalah penggunaan dialogsebagai pendekatan agar subjek yang diteliti dapat
ditelaah pemikirannya dan membandingkannya dengan cara berpikir peneliti. Dengan begitu harmonitas komunikasi dan interaksi dapat dicapai dengan maksimal. (Neuman, 2003:75).
2.2. Hakekat Komunikasi
2.2.1. Pengertian komunikasi
Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik induvidu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari – hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia
itu sendiri. Manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya (Widjaja 2008:1)
Menurut Pawito dan Sardjono (1994):
Komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan (lewat satu saluran) dari satu sumber kepada penerima
dengan maksud mengubah perilak, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku lainnya. Sekurang – kurangnya didapati 4
(empat) unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver) .
Komunikasi merupakan suatu rangkaian proses yang halus dan sederhana, dengan berbagai unsure sinyal, sandi, arti, dapat
isyarat. Baik berupa percakapan pribadi maupun melalui media massa dengan audience. Ketika manusia berinteraksi saat itulah mereka
berkomunikasi, saat orang mengawasi orang lain mereka melakukan melalui komunikasi (Smith dalam Blake dan Haroldsen, 2003: 2-3)
Deddy mulyana (2005: 61 -69) mengkatagorikan definisi –
definisi komunikasi ke dalam tiga konsep berikut:
1. Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat selebaran, surat kabar,
majalah, radio, atau televisi. 2. Komunikasi Sebagai Interaksi
Komunikasi merupakan proses hubungan sebab – akibat atau aksi – reaksi, kausal. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban
verbal atau nonverbal, kemudian orang pertama bereaksi lagi setelah menerima respon atau umpan balik dari orang kedua, dan
begitu seterusnya.
3. Komunikasi Sebagai Transaksi
Komunikasi adalah proses dinamis yang secara berkesinambungan
mengubah pihak – pihak yang berkomunikasi. Berdasarkan pandangan ini, maka orang – orang yang berkomunikasi dianggap
menafsirkan pesan. Setiap saat mereka bertukar pesan verbal atau pesan nonverbal.
2.2.2. Model Komunikasi
Peneliti menggunakan model Two Way Asymetrical
Communication yang menggambarkan pendekatan yang lebih maju
atau canggih untuk mengembangkan pesan – pesan yang memungkinkan guna mendorong publik – publik strategis agar
mengikuti keinginan organisasi. Penelitian Grunig mengemukakan bahwa tindakan PR yang sangat efektif dilakukan melalui apa yang ia
sebut the two way symetrical model. Pada model ini, PR didasarkan
pada strategi penggunaan penelitian dan komunikasi untuk mengelola konflik dan meningkatkan pemahaman publik – publik strategis.
Dalam bahasa sederhana, two way symmetrical model menjelaskan
bahwa lebih baik berbicara dan mendengar dibading hanya berbicara saja, serta lebih baik bernegosiasi dengan publik – publik dibanding
mencoba dengan kekuatan untuk mengubah mereka. (Gold Paper No.12,1997, IPRA)
2.2.3. Elemen Komunikasi
Komunikasi telah kita definisikan sebagai usaha penyampaian pesan antarmanusia. Dari definisi tersebut, terlihat
bahwa untuk dapat terjadi proses komunikasi minimal terdiri dari unsur-unsur komunikasi seperti berikut (Vardiansyah, 2004: 18 - 28)
Pengirim pesan yang dimaksud disini adalah manusia mengambil inisiatif dalam berkomunikasi. Komunikator kita
definisikan sebagai manusia yang berakal budi yang berinisiatif
menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif
komunikasinya.
b. Penerima Pesan: Komunikan
Komunikasi didefinisikan sebagai manusia berakal budi,
kepada siapa pesan komunikator didefinisikan. c. Pesan
Pesan pada dasarnya bersifat abstrak. Untuk membuatnya
konkret agar dapat dikirim dan diterima oleh komunikan, manusia dengan akal budinya menciptakan sejumlah lambing
komunikasi berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Karena itu lambang komunikasi disebut juga bentuk pesan.
d. Saluran Komunikasi dan Media Komunikasi
Saluran komunikasi adalah jalan yang dilalui pesan
komunikator untuk sampai ke komunikannya. Terdapat dua jalan agar pesan komunikator sampai ke komunikannya, yaitu
tanpa media yang berlangsung face-to-face, atau dengan media.
Medium komunikasi kita artikan sebagai sebagai alat perantara yang sengaja dipilih komunikator untuk menghantarkan
media komunikasi adalah pemilihan dan penggunaan alat
Terdapat tiga tataran pengaruh dalam diri komunikan, yaitu kognitif (seseorang menjadi tahu tentang sesuatu), afektif (sikap seseorang terbentuk, misalnya setuju atau tidak setuju
terhadap sesuatu), dan konatif (tingkah laku, yang membuat seseorang bertindak melakukan sesuatu).
f. Umpan Balik
Umpan balik dapat kita maknai sebagai jawaban komunikan
atas pesan komunikator yang disampaikan kepadanya.
2.2.4. Fungsi Komunikasi
William I.Gorden dalam (Mulyana, 2005: 5 – 30) mengkatagorikan
fungsi komunikasi menjadi 4: 1. Sebagai Komunikasi Sosial
Komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita,
aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain
hubungan dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi maka akan terbangun kerja sama dengan masyarakat.
2. Sebagai Komunikasi Ekspresif
Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan perasaan – perasaan kita. Perasaan – perasaan tersebut terutama dikomunikasikan
melalui pesan – pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah , dan benci dapat
disampaikan lewat kata – kata, namun bisa disampaikan secara lebih ekspresif lewat perilaku nonverbal.
3. Sebagai komunikasi ritual
Suatu komunitas sering melakukan upacara – upacara sepanjang
tahu dan sepanjang hidup, yang disebut sebagai rites of passage,
mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, dan lain – lain.
4. Sebagai Komunikasi Instrumental
Komunikasi instrumental beberapa tujuan umum, yaitu menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap,
menggerakan tindakan, dan juga menghibur.
2.2.5. Konteks Komunikasi
Kategorisasi berdasarkan tingkat (level) paling lazim digunakan
komunikasi yang melibatkan jumlah peserta paling banyak. Terdapat tujuh konteks komunikasi (West & Turner, 2013 : 34 – 43), yaitu:
2.2.5.1. Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dengan diri sendiri. Ini merupakan dialog internal dan bahkan dapat terjadi
bahkan saat bersama dengan orang lain sekalipun. Komunikasi intrapersonal biasanya lebih sering berulang daripada komunikasi
lainnya. Konteks ini juga unik dibanding dengan konteks lainnya, karena konteks ini mencangkup saat dimana kita membayangkan, 2.2.5.2. Komunikasi Antarpribadi komunikator untuk memaksimalkan fungsi berbagai macam saluran,
(penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan penciumana) untuk digunakan dalam sebuah interaksi. Dalam konteks ini, saluran –
saluran ini berfungsi secara simultan bagi kedua partisipan interaksi. 2.2.5.3. Komunikasi Kelompok
Komunikasi ini terdiri dari beberapa orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Konteks kelompok memberikan
kesempatan pada induvidual untuk mendapatkan berbagai perspektif terhadap satu persoalan. Dalam konteks kelompok banyak orang
kelompok. Dalam kelompok pemecahan masalah atau kelompok kerja secara khusus, banyak sudut pandang dapat membawa keuntungan. 2.2.5.4. Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi mencakup komunikasi yang terjadi di dalam dan di antara lingkuangan yang besar dan luas. Jenis komunikasi ini sangat bervariasi karena komunikasi organisasi juga meliputi
komunikasi antarpribadi (percakapan antara atasan dan bawahan), kesempatan berbicara di depan publik (presentasi yang dilakukan oleh
para eksekutif dalam perusahaan), kelompok kecil (kelompok kerja yang mempersiapkan laporan), dll. Hal yang membedakan konteks ini dengan yang lainnya adalah adanya hierarki dalam hampir semua
organisasi. Hierarki adalah prinsip – prinsip pengaturan di mana orang diberikan urutan di atas atau di bawah yang lain.
2.2.5.5. Komunikasi Publik
Komunikasi publik atau penyebaran informasi dari satu orang kepada banyak orang. Dalam berbicara di depan publik, para pembicara biasanya memiliki tiga tujuan utama yaitu memberi informasi,
menghibur, dan membujuk. Tujuan yang terakhir – persuasi- adalah inti dari komunikasi retorika.
2.2.5.6. Komunikasi Massa
Komunikasi Massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (majalah, surat kabar) atau elektronik (radio, televise), berbiaya relative mahal, yang dikelola oleh suatu lembaga
Komunikasi lintas budaya merujuk pada komunikasi antara induvidu – induvidu yang latar belakangnya berbeda. Induvidu – induvidu ini
tidak harus berasal dari negara yang berbeda. Di negara yang penduduknya beragam seperti Amerika Serikat, kita dapat mengalami komunikasi lintas budaya dalam sebuah negara bagaian, sebuah
komunitas, dan bahkan dalam satu blok.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konteks komunikasi antarbudaya untuk meneliti cyberculture yang ada dalam sebuah komunita virtual dengan metode etnografi virtual.
2.3. Public Relations
2.3.1. Definisi Public Relations
Public Relations atau Hubungan Masyarakat adalah sebuah ilmu dalam rumpun ilmu sosial, dan menjadi bagian ilmu dari induknya
ilmu komunikasi. Selain ilmu, Humas pun menjadi sebuah profesi dibidang komunikasi, yakni profesi staf Humas, konsultan humas, penyelenggara event, perancang iklan untuk keiatan Humas, dan
tenaga ahli di kementrian dan organisasi nirlaba. Seiring semakin dibutuhkannya kehadiran Humas dalam suatu organisasi, lembaga
atau perusahaan atau sebagai Humas Konsultan, berbagai faktor yang dikarenakan: (1) Dinamika organisasi atau perusahaan semakin besar dan berkemban ; (2) persaingan antara organisasi atau perusahaan
semakin kritis, mereka tidak mau kepentingan terganggu; (5) perkembangan teknologi komunikasi yang luar biasa; (6) besarnya
pengaruh opini publik, sikap publik, perilaku publik, citra publik, dan reputasi publik pada keadaan sosial ekonomi, keberadaan , dan stabilitas suatu perusahaan semakin besar; (7) Pengaruh media massa
konvensional; (8) Suatu organisasi perusahaan tidak mungkin berdiri sendiri tanpa dukungan dan citra . (Ardianto,2014, 1-3)
Definisi menurut J.C., Seidel dalam (Saputra & Nasrullah, 2011 : 1 -2) Public Relations adalah proses kontinu dari usaha – usaha
manajemen untuk memperoleh goodwill langganannya, pegawainya
dan publik umumnya; ke dalam dengan mengadakan analisa dan perbaikan – perbaikan terhadap diri sendiri, keluar dengan
mengadakan pernyataan – pernyataan.
Hubungan Masyarakat adalah fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat
antaraorganisasi dengan publik yang memengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut. Humas membantu masyarakat yang
kompleks dan pluralistik untuk menentukan keputusan dan menjalankan fungsi secara lebih efektif dengan memberikan kontribusi pemahaman bersama diantara kelompok dan institusi.
sukarela, yayasan, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, dan institusi religius. (Cutlip, Center, dan Broom, 2009: 6)
2.3.2. Fungsi Public Relations
Menurut ( Cutlip dan Center, 2009 : 7) Sebagai sebuah fungsi
manajemen, Public Relations mencakup hal – hal sebagai berikut:
1. Memperkirakan, menganalisis, dan mengintepretasikan opini dan
sikap publik, dan isu – isu yang mungkin memengaruhi operasi dan rencana organisasi, baik itu pengaruh buruk maupun baik.
2. Memberi saran kepada manajemen di semua level di dalam organisasi sehubungan dengan pembuatan keputusan, jalannya tindakan, dan komunikasi, dan mempertimbangkan ramifikasi
publik dan tanggung jawab sosial atau kewarganegaraan organisasi.
3. Meriset, melaksanakan, dan mengevaluasi secara rutin program – program aksi dan komunikasi untuk mendapatkan pemahaman publik yang dibutuhkan untuk kesuksesan tujuan organisasi, Ini
mungkin mencakup program marketing, finansial , pengumpulan data, karyawan, komunitas atau hubungan pemerintah, dan
program – program lain.
5. Menentukan tujuan, rencana, anggaran, rekrutmen dan training stafmengembangkan fasilitas, mengelola sumber daya yang
dibutuhkan untuk melakukan semua hal tersebut.
2.3.3. Marketing Public Relation
Marketing Public Relations adalah sebuah proses perencanaan, eksekusi, dan evaluasi program- program yang mendorong atau menganjurka pembelian dan kepuasankonsumen melalui komunikasi
yang kredibel dalam menyampaikan informasi dan menciptakan impresi yang mengidentifikasi perusahaan dan produknya dengan
kebutuhan, keinginan, perhatian, dan kepentingan konsumen. (Kriyantono,2008:58).
Menurut (Ardianto,2009:121) Marketing Public Relations ini
adalah konsep Public Relations yang berorientasi pemasaran. Sebelum
dan sesudah kegiatan marketing dijalankan, maka perlu diakses
dahulu atau dipelihara oleh public relations dengan melakukan pembentukan citra suatu produk atau jasa yang positif. Bila citra perusahaan, produk atau jasa sudah positif dimata konsumen, maka
mempermudah upaya pemasaran publik untuk menjadi pelanggan.
Menurut (Suparmo,2011:57), tujuan Marketing Public Relations
adalah:
2. Membangun kepercayaan konsumen
3. Introduksi produk baru
4. Menghidupkan kembalidan repostitioning produk yang sudah
mentas
5. Mengkomunikasikan benefit barudari produk lama
6. Mempromosikan penggunaan baru bagi produk lama
7. Melibatkan orang dengan produk
8. Membangun interest atas kategori produk
9. Membuka pasar baru
10. Mencapai pasar sekunder
2.3.4. Cyber Public Relations
Cyber Public Relations menurut Onggo (2004:1) adalah inisiatif public relations yang menggunakan media internet sebagai saran
publisitasnya. Menurut Bob Julius Onggo dalam bukunya yang
berjudul “Cyber Public Relations” (2004:56) mengatakan bahwa ada
beberapa aturan dasar agar pesan yang dikirim melalui media online
ke komunitas online dapat diterima dengan baik, yaitu:
1. Pasrtikan sesuai dengan topik diskusinya
3. Berikan informasi yang bermutu
4. Jangan mengirim pesan komersial atau promosi.
Ada beberapa aturan dalam komunitas Online (Onggo, 2004:62)
yaitu:
1. Jangan gunakan huruf besar semuanya
2. Jangan mempromosikan iklan jika memang tidak diperbolehkan
3. Selalu siap memberikan kontribusi informasi yang bermutu.
4. Jangan kasar atau sarkastis
5. Jangan masukkan semua pesan terdahulu saat menjawab email. Masukkan saja bagian yang relevan.
6. Periksalah lebih dulu pesan yang hendak anda kirim. Periksa lagi
tata bahasa dan ejaannya. Periksa subjectnya.
7. Jangan lupa menggunakan sig.fil
8. Jangan mengirim pesan yang terlalu panjang karena kecil
kemungkinan mereka akan membaca semuanya. Di media online
kebanyakan orang hanya membaca beberapa paragraf di awal dan di akhir, selbihnya hanya meloncat – loncat di setiap paragraf.
10. Jangan sekedar menjawab tanpa menyampaikan informasi yang edukatif.
2.4. Komunikasi Antarbudaya
2.4.1. Definisi Komunikasi Antarbudaya
Menurut William B. Hart II , 1996 dalam (Lilliweri, 2011:8) . Komunikasi antarbudaya dapat diartikan dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi.
Komunikasi antarbudaya dapat diartikan melalui beberapa pernyataan sebagai berikut :
1. Komunikasi atarbudaya adalah pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang.
2. Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan – pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajener
antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
3. Komunikasi antarbudaya merupakan pembagian pesan yang terbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan secara lisan
4. Komunikasi antarbudaya adalah penglihatan informasi dari seseorang yang berkebudayaan tertentu kepada seseorang yang
berkebudayaan lain.
5. Komunikasi antarbudaya adalah pertukaran makna yang berbentuk simbol yang dilakukan dua orang yang berbeda latar
belakang buayanya.
6. Komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan pesan yang
dilakukan seseorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek tertentu.
7. Komunikasi antarbudaya adalah setiap proses pembagian informasi, gagasan atau perasaan di antara mereka yang berbeda
latar belakang budayanya. Proses pembagian informasi itu dilakukan secara lisan dan tertulis, juga melalui bahasa tubuh, gaya atau tampilan pribadi , atau bantuan hal lain di sekitarnya
yang memperjelas pesan. (Lilliweri, 2011:8)
2.4.2. Definisi Budaya dan Kebudayaan
Dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia (2003:169). Budaya diartikan sebagai (1) pikiran, akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang duah berkembang (beradab,
(2010:49) . Budaya adalah berbagai pola tingkah laku yang tidak bisa dilepaskan dari ciri khas kelompok masyarakat tertentu,
misalnya adat istiadat.
Budaya didefinisikan dalam empat bagian atau pola pandang. Budaya atau kultur sebagai produk (dikenal dengan
sebutan teks, entah itu berupa lukisan, dekorasi kue, dan sebagainya), praktis (seperti bernyanyi, mengirim pesan), institusi
(museum, pemerintahan – sebagai buah badan yang memproduksi dan membuat regulasi), dan teori sebagai sebuah upaya memahami ketiga pola sebelumnya. Budaya merupakan apa yang
induvidu lakukan dan perbuat dalam konteks interaksi dengan induvidu lainnya. Ketika memasukkan teknologi internet di dalam
definisi ini, yang dilakukan itu mengambil lokasi di dunia virtual. (Bell,2005:3). Dalam pendekatan etnografi, budaya diartikan sebagai konstruksi sosial maupun historis yang mentransmisikan
pola – pola tertentu melalui simbol, pemaknaan, premis, bahkan tertuang dalam aturan. (Nasrullah, 2017: 14).
Kebudayaan menurut ilmu antropologi pada hakikatnya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
Tylor dalam Koentjaraningrat, 1996:73) mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, dan lain – lain.
2.4.3. Hubungan Budaya dan Komunikasi
Hubungan antara budaya dan komunikasi penting dipahami untuk memahami komunikasi antarbudaya, oleh karena melalui
pengaruh budayalah orang – orang belajar berkomunikasi. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek sosiao atau peristiwa.
Cara – cara kita berkomunikasi, keadaan – keadaan komunikasi kita, semua itu terutama merupakan respons terhadap dan fungsi
budaya kita, semua itu terutama merupakan respon terhadap fungsi budaya kita. Komunikasi itu terkait oleh budaya. Sebagaimana budaya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, maka
praktik dan perilaku komunikasi induvidu – induvidu yang diasuh dalam budaya – budaya tersebut pun akan berbeda pula
(Mulayana,2006:25).
2.4.4. Unsur – Unsur Kebuadayaan
Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 1996:80 -81), menemukan
bahwa terdapat tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang disebut sebagai isi pokok dari setiap
1. Bahasa
2. Sistem organisasi
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
5. Sistem mata pencaharian hidup
6. Sistem religi
7. Kesenian
2.4.5. Hambatan Komunikasi Antarbudaya
Hambatan – hambatan komunikasi antarbudaya adalah sebagai berikut (Chaney & Martin, 2004: ):
1. Hambatan Fisik : Berupa perbedaan sudut pandang tentang ras dan kelengkapan fisik.
2. Hambatan budaya : perbedaan dari sudut pandang kebiasaan.
3. Hambatan persepsi : Perbedaan dari sudut pandang pengindraan terhadap sesuatu hal.
4. Hambatan motivasi: Hambatan atas dasar perbedaan dorongan atau latar ideologi antar kelompok.
6. Hambatan emosi : Perbedaan karena wilayah impuls psikologis.
7. Hambatan bahasa : Perbedaan karena berbeda bahasa.
8. Hambatan nonverbal : Hambatan yang muncul ketika sign antara
dua kelompok berbeda makna dan arti sebagaimana yang dipahami oleh setiap kelompok.
9. Hambatan kompetitif: Terjadi bila setiap kelompok berdiri dalam satu lintasan yang sama dan tengah bersaing.
2.5. Media Baru
2.5.1. Sejarah Internet
Dalam E- Book Panduan Optimalisasi Media Sosial Kementerian Perdagangan RI , perkembangan sejarah internet adalah sebagai
berikut :
Pada tahun 1961, Leonard Kleinrock menulis artikel mengenai
“Aliran Informasi Dalam Jaringan Komunikasi Yang Besar”. Di mana hubungan komunikasi dalam teori dan konsepnya memakai model packet switching berbasis teknologi koneksi internet.
Pada tahun 1957 Uni Soviet meluncurkan Sputnik ke ruang angkasa. Amerika Serikat merespon dengan menciptkann DARPA (
Tahun 1965, Jaringan komputer berukuran besar pertama diciptakan. Sebuah komputer TX-2 di Massachusetts terhubung
dengan komputer lain berbasis di California memakai saluran telepon dengan kecepatan yang rendah.
Tahun 1969 ARPANET lahir. Mengubungkan empat titik :
University of California di Los Angles, Stanford Research Institute, University of California di Santa Barbara, dan University of Utah.
Jaringan dihubungkan bersama melalui circuit 50 Kbps. Pesan pertama yang akan dikirim adalah “Login”, namun terputus ketika huruf “G”” diketik.
Tahun 1972 email dikenalkan . Roy Tomison menciptakan apa yang kemudian menjadi standar format alamat email lewat internet.
Memakai tanda @ diantara nama pengguna dengan host’s.
Tahun 1988 Internet Relay Chat (IRC) dikembangkan. IRC
membuka kemungkinan pada chating secara real time dan menjadi
awal dari program pesan terkirim yang kita gunakan saat ini. Tahun 1991website dan isinya yang pertama berbasiskan pada protokol
pencarian keluar. Hal memungkinkan pengguna terhubung dengan
alamat dan halaman website yang dicarinya dengan mengetikkan kata
atau nama kunci.
Tahun 1995, Perdagangan melalui internet dan Javascript dikenalkan. Enskripsi Secure Sockets Layer (SSS) yang
pembayaran kartu kredit secara online menjadi lebih aman. Tahun 2000an , Google , Wikipedia, dan media sosial dari mulai Facebook,
Skipe, Twitter, Youtube diluncurkan
2.5.2. Media Sosial
Media Sosial adalah satu set baru komunikasi dan alat kolaborasi yang memungkinkan banyak jenis interaksi yang sebelumnya tidak
tersedia untuk orang biasa. (Brogan, 2010:11).
Menurut (Dailey, 2009:3) Media Sosial adalah konten online yang
dibuat menggunakan teknologi penerbitan yang sangat mudah diakses dan terukur. Paling penting dari teknologi ini adalah terjadinya pergeseran cara mengetahui orang, membaca dan berbagi cerita, serta
mencari informasi dan konten.
Definisi lain dikemukakan oleh (Kaplan, 2010:59). Menurutnya,
Media sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang
memungkinkan penciptaan dan pertukaran user – generated content”.
2.5.2.1. Karakteristik Media Sosial
Menurut Hadi Purnama (20011:116) media sosial
mempunyai beberapa karakteristik khusus diantaranya:
2. Aksesibilitas : sosial media lebih mudah diakses oleh publik dengan biaya yang terjangkau.
3. Penggunaan : Sosial media relatif mudah digunakan karena tidak memerlukan keterampilan dan pelatihan khusus.
4. Aktualitas: Sosial media dapat memancing respon khalayak lebih cepat.
5. Tetap : media dapat menggantikan komentar secara instan atau mudah melakukan proses pengeditan.
2.5.3. Facebook
Facebook, Inc. Beroperasi sebagai perusahaan jaringan sosial di seluruh dunia. Ini menyediakan satu set alat pengembangan dan
antarmuka pemrograman aplikasi yang memungkinkan pengembangan untuk mengintegrasikan dengan Facebook untuk membuat aplikasi mobile dan web. Produk perusahaan termasuk
Facebook app mobile dan Website yang memungkinkan orang untuk terhubung, berbagi, menemukan, dan berkomunikasi satu sama lain
pada perangkat mobile dan komputer pribasi, mesenger, mobile – to – mobile aplikasi pesan tersedia pada perangkat ponsel Androis, iOS, dan Windows. Misi Facebook adalah untuk memberi orang kekuatan
(www. Jurnalkomuputer.com, Facebook diakses tanggal 14 Agustus 2017, pukul 13:30)
2.5.4. Cyberculture (Budaya Siber)
Cyberculture atau budaya siber adalah praktik sosial maupun ilai – nilai dari komunikasi dan interaksi antarpengguna yang muncul di ruang siber dari hubungan antara manusaia dan teknologi maupun
antarmanusia dengan perantara teknologi. Budaya itu diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi melalui jaringan internet serta
jaringan yang terbentuk di antara pengguna. (Nasrullah, 2017:18) .
2.5.5. Teori Komunikasi Dimediasi Komputer (CMC)
Computer Mediated Communications (CMC) adalah suatu
transaksi komunikasi yang terjadi melalui penggunaan dua atau lebih komputer jaringan. Istilah tersebut secara tradisional disebut
komunikasi yang terjadi format komputer, misalnya, pesan instan,
e-mail, dan chat room. Komunikasi yang berlangsung di mediasi komputer ini memunculkan banyak definisi dari para ahli di bidang
komunikasi salah satu diantaranya oleh John December dalam
Thurlow, Lengel, Tomic, “ Computer Mediated Communication is a
process of human communication via computers, involving people, situated in particular contexts, engaging in processes to shape media for variety purposes” yang dapat dipahami bahwa komunikasi
komputer , melibatkan orang, terletak dalam konteks tertentu, terlibat dalam proses membentuk media untuk berbagai keperluan ( Thurlow,
Lengel, Tomic, 2004).
Menurut Walter (1996:84) , tidak ada kontak fisik dalam komunikasi melalui medium internet ini tidak akan berakibat fatal
atau bahkan mempengaruhi “pembangunan kesan” ketika seseorang berkomunikasi di internet, dikarenakan dua hal, yaitu (1) tanda verbal,
yaitu ketika seseorang termotivasi utuk membentuk sebuah kesan dan membangun hubungan di dunia maya, komunikator memanfaatkan segala sistem yang tersedia dalam medium internet untuk
menyampaikan pesan atau perasaannya.
2.6. Teori Situasional Publik ( Situational Theory Of Public)
Situasional Theori Of Public adalah teori yang dikenalkan oleh James E. Grunig dari Universitas Maryland. Teori ini mirip dengan teori market segmentation (segmentasi pasar) karena menggunakan sebuah metode bagi
segmen populasi umum ke kelompok – kelompok yang relevan bagi para praktisi PR.
Teori Situasional Publik terdiri dari dua variabel tidak bebas (perilaku komunikasi aktif dan pasif) dan tiga variabel bebas (masalah pengakuan, keterbatasan pengakuan, dan tingkat keterlibatan). Teori situasional berupaya
pemasaran produk dibandingkan publik – publik mereka. Grunig menekankan bahwa publik – publik ini menjadi target optimal untuk kampanye
komunikasi.
2.7. Teori Berbasis Komunitas ( Community – Based Theory)
Sejumlah pakar Public Relations terpanggil untuk memfokuskan kajian
pada komunitas dan membangun komunitas dalam praktik Public Relations.
Dean Kruckeberg dan Kenneth Stark pertama kali menyebutkan bahwa
Public Relations harus dipraktikkan sebagai sebuah upaya aktif memperbaiki dan memelihara rasa memiliki dalam komunitas. Sejumlah pendekatan lebih manusiawi dan saling mendukung (a) membuat anggota komunitas sadar
sama – sama memiliki kepentingan: (b) mengatasi keterasingan : (c) menggunakan teknologi untuk membentuk komunitas, (d) mempromosikan
pentingnya waktu luang untuk suatu aktivitas, (e) mengajak dalam mewujudkan komunikasi yang bisa dinikmati, (f) mengajak toleran dalam bekerja, (g) membantu komunitas berbagi pengalaman yang indah , (h)
membantu perkembangan hubungan persona. (Ardianto, 2016: 109).
2.8. Perilaku Komunikasi
Perilaku adalah perbuatan motoris seperti berbicara, jalan, berlari, bergerak, dan lainnya. Selain itu, perilaku juga mencakup macam – macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berfikir, dan beremosi.
2.9. Publik dan Pelanggan
Publik adalah kelompok – kelompok yang berkepentingan dengan aktivitas organisasi, dan lantaran berkepentingan maka kelompok – kelompok tersebut memengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan
perusahaan. (Wheelen dan Hunger, 1995:61). Sedangkan menurut (Kasali, 1994: 63) , Publik adalah sekumpulan kelompok yang berada di dalam
maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan.
Menurut Rhenald Kasali (Kasali, 1994:11) , Publik dibagi menjadi :
1. Publik Internal dan Publik Eksternal . Publik Internal adalah publik
yang berada di dalam organisasi, seperti karyawan, manajer dan pemegang saham. Publik eksternal adalah publik yang berada di luar organisasi seperti bank atau pemasok.
2. Publik primer, sekunder dan marginal. Dalam menjalankan kegiata public relations tentunya tidak semua stakeholder akan diterpa oleh
pesan – pesan yang disampaikan, sehingga disusunlah prioritas. Berdasarkan prioritas itu maka ditetapkan mana publik primer yang
merupakan publik yang paling penting, publik yang kurang penting atau publik sekunder , dan publik yang bisa diabaikan yakni publik marginal.
3. Publik tradisional dan publik masa depan. Publik tradisional adalah
seperti karyawan dan pelanggan. Sedangkan publik masa depan adalah publik yang pada masa depan diperkirakan akan memberikan
pengaruhnya pada organisasi seperti mahasiswa , peneliti dan konsumen potensial.
4. Proponents, opponents, dan uncommitted. Diantara publik – publik itu,
tentu ada publik yang menentang organisasi, yang berpihak pada
organisasi dan publik yang tak peduli.
5. Silent majority dan vocal majority. Dari kalangan publik yang
menentang atau memihak organisasi tentu ada yang menyatakan penentangan atau dukungannya secara vokal namun ada pula yang menyatakannya secara pasif.
2.9.6. Komunitas Virtual
Komunitas adalah kumpulan induvidu yang mendiami lokasi
tertentu dan biasanya terkait dengan kepentingan yang sama. (Iriantara, 2010:22). Dalam pengertian klasik, komunitas dipandang hanya salah satu
bagian dari publik yang dilayan dalam kegiatan Public Relations yang
dikatagorikan sebagai sebagai publik eksternal. Namun dalam Praktik
Public Relations muktahir, yang cenderung mengganti dan mengubah
istilah public dengan community, komunitas adalah semua stakeholder
yang dilayani organisasi (Hallahan (2003:89). Berikut adalah perbedaan
antara publik dan komunitas
Fokus
Menurut Rheingold (dalam Lee, 2002:3) Komunitas virtual
adalah agregasi sosial yang muncul dari Net ketika cukup banyak
orang melakukan diskusi – diskusi publik cukup lama, dengan perasaan manusia yang memadai, untuk membentuk jaringan hubungan pribadi di dunia maya”.
Sedangkan Lee (2002:2) kemudian mendefinisikan kembali komunitas virtual secara lebih umum menjadi sebuah dunia maya
yang didukung teknologi, berpusat pada komunikasi dan interaksi dari para peserta, sehingga mengakibatkan terbangunnya hubungan relasi di antara peserta.
2.10. Komunitas Ibu dan aku
Komunitas Ibu dan aku adalah media dan komunitas bagi para ibu
yang mempunyai buah hati berusia 4 – 12 tahun untuk bertukar informasi, diskusi dan solusi mengenai pentingnya menjaga kualitas hubungan dan kedekatan antara ibu dan anak. Komunitas ini dibentuk oleh PT
Combiphar pada tanggal 28 Maret 2011 di Jejaring sosial Facebook dalam bentuk Fan Page. Misi yang dibentuk oleh combiphar ini adalah
membangun komunitas serta sebagai media yang bisa menjadikan hubungan ibu dan anak lebih kompak, ibu lebih memahami anak dan bisa menjadi ajang ekspresi dan apresiasi. Pada saat peneliti mengakses
halaman Fan Page Facebook Ibu dan Aku, jumlah orang yang menyukai
halaman tersebut sebanyak 1.276.940 orang dan 1.274.542 orang yang
(http://m.facebook.com/pg/ibudanaku/about/mt) nav=1.com, diakses tanggal 14 Agustus 2017 pukul 14:29 WIB).
Selain Fan Page Facebook, PT Combiphar juga membuat Website
resmi komunitas virtual Ibu dan Aku dengan alamat web www.ibudanaku.com. Pelanggan harus mendaftar menjadi member dengan
email agar bisa berperan aktif melakukan aktivitas di komunitas ini. (www.ibudanaku.com, diakses pada tanggal 14 Agustus 2017 pukul 21:00
WIB) .
2.11. PT Combiphar
2.11.1. Sejarah
Combiphar didirikan pada tahun 1971 dari sebuah industri
rumahan di Bandung, yang memproduksi obat – obat antibiotika, analgesika dan obat batuk hitam legendaris.Combiphar kian berkembang, hingga pada 1983, Combiphar mendirikan pabrik
dengan skala yang lebih besar di Padalarang.
Pada tahun 1985, dua figur penting dalam perkembangan
dunia farmasi di Indonesia, DR. Biantoro Wanandi, Doctor of Natural Sciences dari Swiss sebagai Chief, Drug Policies and Management Unit di World Health Organisation (WHO) serta
Dengan satu visi besar, untuk memberikan akses lebih baik kepada masyarakat terhadap produk obat – obatan yang
berkualitas. Melalui kepemimpinannya, Combiphar terus berkembang dengan berbagai langkah starategis untuk meraih peluang.. Bahkan di saat krisis finansial melanda Indonesia,
periode ini menjadi cikal bakal perkembangan OBH Combi di seluruh nusantara.
Di bawah bendera Anugerah Group, Combiphar menjalin kerjasama dengan perusahaan – perusahaan farmasi terkemuka yang berasal lebih dari 19 negara diseluruh dunia melalui
kerjasama lisensi dan joint venture. Melalui kerjasama ii, Combiphar secara berkala menjalankan audit quality control serta
dibekali pelatihan dan ilmu terbaru dari para mitra berkaliber internasional, sehingga lebih menguatkan fondasinya untuk selalu mengutamakan kualitas tinggi.
2.11.2. Visi
Menjadi perusahaan terkemuka di bidang perawatan kesehatan yang menyentuh kehidupan konsumen melalui peningkatan
2.11.3. Misi
Mengupayakan tingkat kualitas kesehatan konsumen yang lebih baik melalui produk dan layanan berkualitas serta terjangkau
dengan mempromosikan gaya hidup sehat
2.12. Etnografi
2.12.1. Etnografi Komunikasi
Studi Etnografi komunikasi adalah pengembangan dari antropologi linguistik yang dipahami dalam konteks komunikasi.
Studi ini diperkenalkan pertama kali oleh Dell Hymes tahun 1962, sebagai kritik terhadap ilmu linguistik yang terlalu memfokuskan
diri pada fisik bahasa saja. Definisi etnografi komunikasi itu sendiri adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikasi suatu masyarakat, yaitu cara – cara bagaimana bahasa dipergunakan
dalam masyarakat yang berbeda – beda kebudayaannya (Kuswarno, 2011:11)
Hymes menguraikan etnografi komunikasi melalui kata SPEAKING ( Martin & Nakayama, 2010 :88) . (S)cene yang merupakan setting komunikasi yang terjadi; (P)articipants, yakni
orang – orang yang terlibat dalam percakapan; (E)nd atau tujuan
akhir dari sebuah percakapan yang terjadi di antara partisipan;
digunakan dalam berkomunikasi; (K)ey merupakan kunci dari percakapan yang bisa berupa bunyi, pola, intonasi, dan sebagainya;
(I) instrumentality merujuk pada instrumen atau media yang digunakan dalam percakapan, (N) orms atau nilai – nilai yang dirujuk dari sebuah komunitas atau masyarakat; dan (G) enre
merupakan tipe atau kategori dari percakapan.
2.12.2. Etnografi Virtual
Etnografi virtual merupakan metodelogi yang digunakan untuk menyelidiki internet dan melakukan eksplorasi terhadap
intentitas (users) saat menggunakan internet tersebut. Etnografi virtual juga untuk merefleksikan implikasi – implikasi dari komunikasi termediasi di internet. (Hine,2000:15).
Lain halnya dengan Robert V. Kozinets. Ia menyebut etnografi virtual sebagai netnografi. Robert mendefinisikan
netnografi sebagai bentuk khusus atau spesial dari riset etnografi yang disesuaikan untuk mengungkapkan kebiasaan unik dari berbagai jenis interaksi sosial yang termediasi oleh komputer
termasuk dalam bidang marketing. Netnografi juga bisa
didefinisikan sebagai metodologi riset kualitatif yang mengadaptasi
teknik riset etnografi untuk mempelajari budaya dan komunitas
yang terjadi dalam komunikasi termediasi komputer atau computer
Sedangkan Jorgen Skageby menjelaskan bahwa online ethnographical atau etnografi online merupaka metode yang
digunakan secara kualitatif untuk memahami apa yang terjadi pada komunitas virtual. Dengan menggunakan observasi atau
wawancara secara online, teknik ini mencoba memaparkan tentang
kebiasaan komunitas yang lebih spesifik dan penggunaan teknologi dalam berkomunikasi (Daniel, 2011:410).
2.12.3. Prinsip – Prinsip Etnografi Virtual
Dalam buku etnografi Virtual (Nasrullah, 2017: 23 – 30) adalah sebagai berikut :
2.12.3.1. Keberadaan Peneliti Di Lapangan Virtual
Peneliti atau Etnografer mesti memahami persoalan
lapangan atau lokasi penelitian, Di internet dengan prinsip teknologi yang selalu hidup dan interaksi selalu terjadi setiap saat, keberadaan etnografer secara fisik
tidak sama dengan penelitian etnografi di offline. Lokasi internet juga menjadi lokasi yang unik, memiliki
prosedur dan hierarki yang berbeda, bahkan akses terhadap lokasi bisa menggunakan perngkat, baik keras (hardware) Imaupun lunak (software) .
Berbeda dengan komunitas offline yang lebih mudah untuk diteliti. Lapangan internet menawarkan
pendekatan yang berbeda terhadap definisi interaksi antara entitas secara virtual. Internet lebih jauh bahkan ditempatkan dalam etnografi virtual bagai budaya dan
artefak budaya itu sendiri. Internet memberikan beragam kesimpulan dengan beragam proses dan keterlibatan
entitas (pengguna dan perangkat teknologi) yang berkontribusi di dalamnya.
Oleh karena itu etnografer harus memahami konteks
berdasarkan situasi dan bagaimana prosedur teknologi itu terjadi. Jika dalam teori determinasi teknologi pengguna
maupun teknologi saling memengaruhi. Kondisi ini memerlukan improvisasi etnografer dalam melihat bagaimana interaksi itu terjadi di dunia virtual.
2.12.3.3. Medium Komunikasi Yang berkembang
Perangkat internet dalam konteks medium
komunikasi memiliki ragam jenis. Ia bisa berupa situs (web) , papan pesan ini bagi etnografer tidak sekedar dipandang sebagai media dalam perspektif perangkat
teknologi semata, tetapi menjadi medium yang juga bisa berkontribusi dalam penciptaan bahasa atau artefak –
yang sudah jadi dan tidak lentur/statis, internet selalu berkembang dan budaya di dalamnya akan berkembang
pula. Prinsip ini pada akhirnya membawa konsekuensi bahwa setiap penelitian yang dilakukan etnografer walau menggunakan medium yang sama berulang – ulang,
hasilnya selalu berbeda dan dapat memunculkan aspek – aspek baru.
2.12.3.4. Memahami Lokasi Dan Koneksitas Antarpengguna
Prinsip tentang medium internet sebagai lokasi yang disyaratkan dalam penelitian etnografi menjadi
berkembang dari sekedar lokasi. Internet dan entitas memberikan pergeseran pemahaman tentang lokasi
penelitian. Internet adalah tempat yang interaktif dan selalu bergerak sehingga lebih tepat dalam pendekatan etnografi virtual untuk melihat bagaimana tempat virtual
di internet itu dibuat dan dibuat kembali. Konsekuensi dari gagasan tentang lokasi tersebut memunculkan
pertanyaan yang serius sebab dalam etnografi kultur serta komunitas bisa didefinisikan dalam lapangan atau lokasi yang nyata. Penelitian dengan etnografi virtual harus
melepaskan dari pemahaman umum terhadap lokasi dan batas – batas fisik atau geografis, memfokuskan diri pada
2.12.3.5. Memberikan Batasan
Batasan dalam pengertian ini bukan batasan dalam
lokasi atau wilayah. Tantangan yang dihadapi oleh etnografer adalah memberikan batasan tentang koneksi yang dibuat antarentitas serta bagaimana koneksi iru
dibedakan antara yang virtual dan riil. Etnografer juga harus memutuskan kapan ia harus menghentikan
penggalian data dari interaksi yang tengah ditelitinya. Batasan ini menjadi penting karena prinsip internet yang selalu berkembang bisa menyebabkan etnografer terjebak
dalam ruang waktu yang tidak berkesudahan. 2.12.3.6. Situasi Sementara
Etnografi virtual berkaitan denga dislokasi, baik ruang maupun waktu. Pergesaran dari lokasi yang nyata menjadi lokasi yang temporal dan secara riil menjadi
virtual, etnografer harus memahami bahwa melakukan etnografi virtual adalah mengupas situasi sementara hasil
dari berbaurnya peneliti dengan subjek yang diteliti. Metode ini bersifat menghasilkan simpulan sementara. Hubungan antara etnografer dengan subjek yang diteliti
dan kontesnya pula sementara sebab pengguna media yang berbeda bisa menghasilkan simpulan yang berbeda
2.12.3.7. Menangkap Artefak Budaya Yang Parsial
Melakukan etnografi virtual dengan medium internet
pada prinsipnya adalah menggambarkan budaya dan artefak secara parsial atau tidak utuh. Fenomena yang diangkat dalam etnografi virtual merupakan kepingan –
kepingan semata, tidak menggambarkan bagaimana sesungguhnya kehidupan di internet itu berlangsung.
Bagi Hine, ada kerumitan menjangkau informan, lokasi , bahkan kultur secara utuh. Menggunakan etnografi virtual berarti mencoba memetakan bagaimana artefak
budaya itu terjadi dalam konteks tertentu.
Oleh karena itu, penggunaannya lebih sebagai
strategi yang relevan dalam memetakan budaya dibanding untuk sepenuhnya merepresentasikan realitas objek secara utuh. Menjadi penting utnuk
menyampingkan pengertian yang selama ini sudah dipahami tentang apa itu informasi penelitian, lokalitas
maupun budaya itu sendiri. Risikonya adalah diperlukan pengertian baru dan bahkan definisi ulang terhadap hal – hal tersebut.
2.12.3.8. Keterlibatan Penuh Dalam Interaksi Termediasi Keterlibatan penuh etnografer menjadi prinsip
perangkat tekologi yang digunakan oleh entitas dalam berinteraksi di komunitas ( lihat Carter 2011; Gatson &
Zweerink, 2011).
2.12.3.9. Komunikasi Virtual Dan Kehadiran Entitas
Etnografer maupun informan harus dirasakan
kehadiran antara keduanya. Bukan dalam konsepsi fisik, melainkan penggunaan teknologi bisa memediasi proses
penelitian dalam etnografi virtual.
Teknologi internet memungkinkan informan untuk tidak hadir dalam penelitian. Sebaliknya, etnografer juga
bisa tidak hadir di lokasi penelitian. Ketidakhadiran informan dan etnografer menjadi salah satu prinsip
dalam melakukan etnografi virtual. Hubungan yang terjadi dalam proses penelitian bisa terjadi secara temporal dan spasial melalui perantara teknologi
(Burrel,2009; Lindlof & Shatzer, 1998; Thurlow et al, 2004; Zaphiris & Ang,2009). Keduanya bisa ada selama
24 jam di internet. 2.12.3.10. Prinsip Virtual
Tim Jordan (1999:62-87) memberikan tiga tahap awal
prinsip virtualitas di internet: (1) identity fluidity adalah sebuah proses pembentukan identitas secara online
sama atau mendekati dengan identitasnya di dunia nyata. (2) Renovated hierarch adalah proses dimana ada urutan
struktural yang terjadi di dunia nyata direka kembali
menjadi online hierarchies dalam konteks yang berbeda;
yang dalam praktiknya kadang bersifat anti-hierarchical
; (3) informational space adalah informasi yang menggambarkan realita yang hanya berlaku di dunia
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian
3.1.1. Pendekatan Kualitatif
Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam – dalamnya melalui pengumpulan data. Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling bahkan populasi atau
samplingnya terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari
sampling lainnya. Disini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas data).
Periset adalah bagian integral data, artinya periset ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Dengan demikian, periser menjadi instrument riset yang harus terjun langsung di lapangan.
Karena itu riset ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan. Desain riset dapat dibuat bersamaan
atau sesudah riset. Desain dapat berubah atau disesuaikan dengan perkembangan riset. Bahkan untuk riset eksploratif, periset sama sekali tidak mempunyai konsep awal tentang apa yang diteliti,
sehingga tentu saja juga tidak mempunyai desain riset. Dengan tidak mendesain, dimaksudkan agar periset melakukan riset dalam setting
Menurut Creswell (2003), pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif –
konstruktif (misalnya, makna – makna yang bersumber dari pengalaman induvidu, nilai – nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu.
3.1.2. Jenis Penelitian Deskriptif
Menurut Sugiyono (2008: 15) penelitian deskriptif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme yang biasanya digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Sementara
itu Nawawi dan Martini (1994:73) mendefinisikan metode deskriptif sebagai metode yang melukiskan suatu keadaan objektif atau
peristiwa tertentu berdasarkan fakta – fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan umum berdasarkan fakta – fakta historis
tertentu.
3.1.3. Etnografi Virtual
Etnografi adalah riset yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana induvidu – induvidu menggunakan budayanya untuk memaknai realitas. Riset ini juga bertujuan untuk mendeskripsika
kepercayaan, dan sistem nilai dari suatu masyarakat.(Kriyantono, 2012:67).
Ciri khas penelitian lapangan etnografi adalah bersifat holistik – integratif, thick description, dan analisis kualitatif untuk mendapatkan native’s point of view . Teknik pengumpulan data yang utama adalah
observasi – partisipasi dan wawancara terbuka serta mendalam. (Ardianto, 2016:72)
3.2. Penentuan Informan
1. Anggota tipe devotees ( anggota yang memiliki aktivitas tinggi dalam
mengonsumsi produk, namun hanya sedikit melakukan kontak dan
berinteraksi dengan anggota komunitas) dan anggota tipe insiders (anggota group aktif yang selain berinteraksi dengan anggota lain, juga
menunjukkan aktivitas konsumsi yang tinggi pula terhadap sebuah produk) pada komunitas virtual Ibu dan Aku di Facebook maupun Website.
2.. Vice President Condumer Healthcare and Wellness Combiphar, Weitarsa Hendarto.
3.3. Metode Pengumpulan Data 3.3.1. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam adalah teknik mengumpulkan data atau
dengan frekuensi tinggi (berulang – ulang ) secara intensif. Biasanya wawancara mendalam menjadi alat utama pada penelitian kualitatif
yang dikombinasikan dengan observasi partisipan. Pada wawancara mendalam ini, pewawancara relatif tidak mumpyai kontrol atas respon infoman. (Ardianto, 2016:178).
3.3.2. Observasi Partisipan
Metode ini lebih memungkinkan periset mengamati kehidupan
induvidu atau kelompok dalam situasi riil, dimana terdapat setting yang riil tanpa di kontrol atau diatur secara sistematis seperti riset eksperimental. Metode ini memungkinkan periset terjun langsung dan
menjadi bagian dari periset bahkan hidup bersama – sama di tengah induvidu atau kelompok yang yang di observasi dalam jangka waktu
yang cukup lama. Periset memungkinkan untuk memahami apa yang terjadi, memahami pola – pola dan interaksi. Disini pada dasarnya , periset mempunyai dua peran partisipan dan sebagai periset.
(Kriyantono, 2012: 112) 3.3.3. Dokumentasi
3.4. Metode Analisis Media Siber
Metode Analisis Media Siber (AMS) merupakan perpaduan dan sekaligus
memandu proses menganalisis etnografi virtual. Setiap level dalam AMS memberikan gambaran bagaimana komunitas virtual yang ada di internet.
Pada prinsipnya, dalam menganalisis budaya di internet , AMS
memerlukan unit analisis, baik pada level mikro maupun makro. Dua analisis ini bisa disederhanakan dalam teks dan konteks . Di level makro penelitian
menguraikan bagaimana perangkat internet , tautan yang ada, sampai hal – hal yang bisa dilihat di permukaan. Sementara di level makro peneliti melihat konteks yang ada dan menyebabkan teks itu muncul serta alasan yang
mendorong kemunculan teks tersebut. Level mikro – makro pada praktiknya terbagi menjadi empat level, yakni ruang media, dokumen media, objek
media, dan pengalaman . (Nasrullah, 2017 :44).
Level Objek
Ruang Media ( Media Space) Struktur perangkat media dan
penampilan, terkait dengan prosedur perangkat atau aplikasi yang bersifat
teknis
Dokumen media (media archive) Isi, aspek pemaknaan teks/grafis
sebagai artefak budaya
Objek Media (media object) Interaksi yang terjadi di media siber,
komunikasi yang terjadi antaranggota
Pengalaman (experiental stories) Motif, efek, manfaat atau realitas
yang berhubungan secara offline
maupun online termasuk mitos.
3.5. Lokasi Penelitian dan jadwal Penelitian
3.5.1. Lokasi Penelitian
1. Fan page Facebook dan Website Komunitas Virtual Ibu dan Aku
PT Comphipar.
2. Kantor Pusat PT Combhipar. Prestius Sudirman Central Business