TUGAS PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
STRATEGI PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
POTENSI PARIWISATA
KAWASAN WADUK
JEHEM KABUPATEN
DISUSUN OLEH :
AFIDAH MUSHOLINA F.
3611100022
SITA ANDIASTUTI
3611100038
ANUGRAH DIMAS SUSETYO
3611100054
ALGA TRIWIRYA WIBISONO
3611100062
STRATEGI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN POTENSI
PARIWISATA KAWASAN WADUK JEHEM
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
iii
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH
DAN KOTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan laporan penelitian dengan judul “STRATEGI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN POTENSI PARIWISATA KAWASAN WADUK JEHEM KABUPATEN BANGLI’’ .Laporan metode penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat untuk tugas akhir mata kuliah pembiayaan pembangunan pada program Strata-1 di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan metode penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan laporan tugas ini.
Kami menyadari laporan ini tidak luput dari berbagai kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikannya sehingga akhirnya laporan ini dapat memberikan manfaat yang banyak bagi bidang pendidikan dan penerapan dilapangan serta bisa dikembangkan lagi lebih lanjut.
Surabaya, 29 Desember 2014
Penyusun
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG...1
1.2. RUMUSAN MASALAH...2
1.3. TUJUAN PENULISAN...2
1.4. RUANG LINGKUP... 2
1.5. METODE PENULISAN...2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENGERTIAN PARIWISATA...4
2.2. PENGERTIAN ECOWISATA...5
2.3. SUMBER PEMBIAYAAN...7
2.3.1. PEMBIAYAAN KONVENSIONAL...7
2.3.1.1. ...STRUKTUR ANGGARAN DANA PUSAT 7 2.3.1.2 STRUKTUR ANGGARAN DANA DAERAH...8
2.3.2. PEMBIAYAAN NON-KONVENSIONAL...9
BAB 3 PEMBAHASAN 3.1. GAMBARAN UMUM...10
3.1.1. LOKASI WISATA WADUK JEHEM...10
3.1.2. PENATAAN KAWASAN WADUK JEHEM...10
3.1.3. RENCANA INVESTASI OBYEK WISATA WADUK JEHEM...11
3.1.4. KOMPONEN SARANA PRASARANA PARIWISATA...11
3.1.5. SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN...12
3.1.5.1. PEMBIAYAAN KONVENSIONAL...12
3.1.5.2. PEMBIAYAAN NON-KONVENSIONAL...14
3.1.6. KOMPONEN BIAYA PEMBANGUNAN...14
3.1.7. ANALISIS KRITERIA INVESTASI...16
BAB IV SKEMA PENANGANAN KASUS 4.1. ANALISIS FINANSIAL SEDERHANA...19
4.2. SUMBER PEMBIAYAAN YANG RELEVAN...21
BAB V KESIMPULAN & REKOMENDASI
5.1. KESIMPULAN... 24
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Ekowisata merupakan suatu model pengembangan wisata alam yang bertanggung jawab di daerah yang masih alami atau daerah-daerah yang dikelola secara alami dimana tujuannya selain untuk menikmati keindahan alam juga melibatkan usaha konservasi serta peningkatan pendapatan masyarakat setempat.
Pada dasarnya ekowisata merupakan perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan lingkungan, ekonomi, dan sosial. Secara ekonomi pengembangan ekowisata harus dapat memberi keuntungan bagi penyelenggaranya bagi setiap wilayah yang memiliki dan mengembangkan ekowisata. Dalam pengelolaan yang terpadu, ekowisata berpotensi untuk menggerakkan ekonomi wilayah dan mensejahterakan rakyat di sekitar kawasan yang dikembangkan sebagai pariwisata alam, dengan mekanisme pembiayaan dana untuk kegiatan konservasi sumberdaya alam dan secara ekonomis akan memberdayakan masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat dan seluruh stakeholder dalam menjamin keamanan dan keberadayaan sumberdaya alam sangat membantu dalam memajukan potensi alam yang dimiliki pada setiap wilayah.
Studi kelayakan terhadap pembangunan waduk yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Satuan Kerja Sementara Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Bali, Bagian Pelaksana Kegiatan Pengelolaan Sumber Air/PPSA Bali melalui Kegiatan Studi Kelayakan Waduk Jehem di Kabupaten Bangli, Tahun Anggaran 2005, dilakukan dengan lingkup pemanfaatanhanya untuk pemenuhan air irigasi dan airbaku di Kabupaten Bangli. Tahap perencanaan waduk ini seperti Desain Detail (DD), Model Test dan Analisis Terhadap Dampak Lingkungan (Amdal) juga telah dilaksanakan. Hasil kajian ekonomi pada studi kelayakan menyatakan bahwa pembangunan waduk layak untuk dilaksanakan.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
karena terletak pada kawasan ekowisata bukit Bangli dimana terletak obyek wisata Pura Kehen yang hanya berjarak sekitar 500 meter serta desa tradisional Pengelipuran berjarak sekitar 1 km dari waduk tersebut. Potensi ini merupakan manfaat tak langsung (secondary benefit) yang akan dicoba untuk dianalisis sehingga keberadaan waduk tersebut bisa memberikan nilai berupa pengembangan sektor pariwisata.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penyususan laporan ini adalah sebagai berikut :
a.
Bagaimana strategi pembiayaan pembangunan yang relevan dalam proses pembangunan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli ?b.
Dari manakah sumber dana untuk biaya pembangunan dan pengelolaan kawasan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli ?1.3. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dalam penyususan laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan strategi pembiayaan pembangunan yang relevan dalam proses pembangunan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli.
b. Mengidentifikasi sumber-sumber dana pembiayaan yang relevan untuk biaya pembangunan dan pengelolaan kawasan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli.
1.4. RUANG LINGKUP
Laporan studi kelayakan ini mengambil studi pembiayaan pembangunan kawasan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli. Dalam makalah ini mengulas pembiaayan pembangunan kawasan ekowisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Metode penulisan dalam studi kasus pembiayaan pembangunan dan pengelolaan kawasan wisata Waduk Jehem Kabupaten Bangli terbagi dalam 5 ( lima ) bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode
penulisan dan ruang lingkup. BAB II KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi mengenai struktur anggaran pusat, struktur anggaran daerah,
sumber pembiayaan konvensional dan non-konvensional. BAB III PEMBAHASAN
Pada bab pembahasan berisi mengenai gambaran umum yang meliputi komponen biaya, analisa kriteria investasi, sumber pembiayaan, strategi pembiayaan, simpulan isu pembiayaan / critical review. Berisi mengenai eksplorasi instrumen pembiayaan yang meliputi kajian struktur anggaran daerah dan pusat, sumber pembiayaan konvensional dan non-konvensional.
BAB IV SKEMA PENANGANAN KASUS
Berisi mengenai analisa finansial sederhana, sumber pembiayaan, dan strategi implementasi pembiayaan.
BAB V PENUTUP
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. PENGERTIAN PARIWISATA
Dalam Undang-Undang RI nomor 9 tahun 1999 disebutkan definisi pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Sedangkan orang yang melakukan kegiatan wisata disebut dengan Wisatawan.
Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait dengan hal tersebut. Obyek dan daya tarik pariwisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
mengatakan bahwa pada hakekatnya pariwisata berkelanjutan harus terintegrasi pada tiga dimensi. Tiga dimensi tersebut adalah, (1) dimensi lingkungan, (2) dimensi ekonomi, dan (3) dimensi sosial. Selanjutnya berdasarkan konteks pembangunan berkelanjutan, pariwisata berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai: pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dengan tetap memperhatikan kelestarian (conservation, environmental dimention), memberi peluang bagi generasi muda untuk memanfaatkan (economic dimention) dan mengembangkannya berdasarkan tatanan sosial ( social dimention ) yang telah ada.
2.2. PENGERTIAN ECOWISATA
Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata yang diarahkan dapat memadukan pembangunan ekonomi sekaligus dapat membangkitkan pendanaan untuk usaha-usaha pelestarian sumberdaya sebagai atraksinya. Menurut The International Ecotourism Society (2002) dalam Subadra (2007), mendifinisikan ekowisata sebagai berikut: Ecotourism is “responsible travelto natural areas that conserves the environment and sustains the well-being of local people.” Dari definisi ini, disebutkan bahwa ekowisata merupakan perjalanan wisata yang berbasiskan alam sehingga lingkungan, ekosistem, dan kearifan-kearifan lokal yang ada di dalamnya harus dilestarikan keberadaannya.
INECOM dalam Bappeda Kabupaten Bangli (2002) menyebutkan ekowisata adalah penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan/atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan kebudayaan) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
Para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap lingkungan dan budaya setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai konservasi. Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:
1. Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat
2. Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi)
3. Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata) 4. Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai
ekonomi)
Ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism). Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pola ekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF, 2009).
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakat akan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi ekowisata perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan di suatu daerah. Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah diharapkan membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai peran dan keahlian masing-masing. Beberapa aspek kunci dalam ekowisata berbasis masyarakat adalah:
1. Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatan ekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi) 2. Prinsip local ownership (pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat
setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat) 3.
Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata (nilai ekonomi dan edukasi)
3. Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)
4. Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggung jawab masyarakat setempat, termasuk penentuan biaya untuk wisatawan (nilai ekonomi dan wisata) (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF, 2009).
2.3. SUMBER PEMBIAYAAN
Sumber pembiayaan pembangunan terdiri dari dua jenis, yakni sumber pembiayaan konvensional dan non-konvensional. Secara teoritis, modal bagi pembiayaan pembangunan perkotaan dapat diperoleh dari 3 sumber dasar:
1. pemerintah/publik 2. swasta/private
3. gabungan antara pemerintah dengan swasta
2.3.1.
PEMBIAYAAN KONVENSIONAL
2.3.1.1.
STRUKTUR ANGGARAN DANA PUSAT
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang. APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun
dengan undang-undang. Struktur APBN yang sekarang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan Negara dan Hibah b. Belanja Negara
c. Keseimbangan Primer d. Surplus/Defisit Anggaran e. Pembiayaan
Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah: 1. Belanja Negara. Belanja terdiri atas dua jenis:
a. Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi : Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya.
b.Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan.
a. Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat Utang Negara, serta penyertaan modalnegara.
b.Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
2) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo dan Moratorium.
2.3.1.2 STRUKTUR ANGGARAN DANA DAERAH
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31Desember. Adapun APBD terdiri atas:
1.Anggaran pendapatan, terdiri atas :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain.
b. Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus
c.Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat. 2. Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah.
3. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.
2.3.2.
PEMBIAYAAN NON-KONVENSIONAL
Sumber pembiayaan non-konvesional merupakan sumber-sumber pembiayaan yang diperoleh dari kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Strategi Pembiayaan Non-Konvensional :
1. Kemitraan pemerintah – swasta 2. Kewajiban Paksa
3. Peningkatan invenstasi swasta murni
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
BAB III
PEMBAHASAN
3.1.
GAMBARAN UMUM
3.1.1.
LOKASI WISATA WADUK JEHEM
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
dan penataan yang baik diharapkan akan mampu menjadi obyek yang menarik serta memberikan nilai tambah bagi kehidupan pariwisata di Bali.
3.1.2.
PENATAAN KAWASAN WADUK JEHEM
Penataan kawasan obyek wisata ini mengambil rujukan dari lokasi yang telah ada di tempat lain yaitu pada Waduk TelagaTunjung di Kabupaten Tabanan, dimana guna meningkatkan nilai jual kawasan waduk dilakukan dengan menyiapkan prasarana dan sarana di sekitar lokasi waduk menjadi obyek wisata (Anonim, 2003). Sementara Bukit Bangli sangat layak untuk dikembangkan sebagai obyek wisata dengan konsep ekowisata (Anonim, 2002).
Memadukan kawasan ekowisata Bukit Bangli dengan bangunan waduk yang akan dilengkapi dengan sarana prasarana dan atraksi pariwisata memerlukan perencanaan penataan yang matang dan konsekuen. Kawasan pariwisata akan direncanakan seperti berikut: Posisi bangunan waduk pada daerah aliran sungai/DAS tukad Melangit akan menjadi bangunan utama yang akan dimanfaatkan sebagai obyek panorama yang menarik dinikmati oleh wisatawan. Ditawarkan pula untuk atraksi wisata tirta berupa atraksi wisata perahu tanpa mesin, aktivitas memancing dan berkemah di sekitar waduk. Kemudian pada bagian tepi sisi barat waduk akan dibangun fasilitas penunjang pariwisata berupa bangunan kios kerajinan, restoran, museum subak dan bale subak agung, wantilan, pura subak, stage/panggung pertunjukan, kantor pengelola, parkir dan fasilitas lainnya.
Areal lahan persawahan yang terletak pada daerah hilir waduk akan dikelola dan ditata bersama penduduk sekitar menjadi suatu atraksi wisata yang bisa dinikmati oleh wisatawan, dimana para petani dengan aktivitas pertaniannya sesuai tata nilai tradisi subak akan menjadi subyek dan obyek atraksi itu sendiri. Agar lebih atraktif maka para wisatawan akan diberikan kesempatan untuk ikut serta terlibat dalam aktivitas petani tersebut. Kawasan waduk Jehem akan dipadukan dengan kawasan ekowisata Bukit Bangli termasuk obyek wisata Pura Kehen dan kawasan Desa Tradisional Pengelipuran menjadi satu kesatuan kawasan dengan julukan Segitiga Kawasan Obyek Wisata Pengelipuran-Kehen-Waduk Jehem.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
serta akan dibangun hubungan yang harmonis antara pengelolaan fasilitas pariwisata tersebut dengan budaya dan kehidupan masyarakat sekitar lokasi.
3.1.3.
RENCANA INVESTASI OBYEK WISATA WADUK JEHEM
Obyek wisata Waduk Jehem dibangun di areal yang juga masih dalam kawasan Ekowisata Bukit Bangli. Untuk mewujudkannya diperlukan penataan komponen fasilitas pariwisata dengan mengestimit luasan masing-masing fasilitas serta estimasi biaya yang dibutuhkan dan rencana sumber pendapatannya. Dalam penentuan detail rencana investasi ini ditentukan berdasarkan rujukan pada pengelolaan obyek-obyek wisata sejenis yang telah ada sebelumnya, misalnya obyek wisata waduk Telaga Tunjung serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di sekitar waduk Jehem itu sendiri disamping juga dengan melakukan survey dan perbandingan terhadap obyek-obyek wisata alam buatan yang banyak terdapat di Bali.
3.1.4.
KOMPONEN SARANA PRASARANA PARIWISATA
Fasilitas wisata yang akan dibangun meliputi fasilitas akomodasi, atraksi wisata tirta, wisata petualangan alam dan atraksi wisata bercocok tanam sesuai nilai-nilai tata laksana subak. Komponen-komponen sarana prasarana pariwisata dari kawasan Waduk Jehem adalah; Restoran, Camping Ground, Jalan Lingkungan, Lintasan tracking, Moda Transportasi air (wisata air), Dermaga perahu, Fasilitas Parkir, Kios Seni, Kios buah/jajanan khas Bali, Stage
Pertunjukkan, Kantor Pengelola, Museum Subak, Bale Subak Agung dan Wantilan, Tempat Suci, Areal persawahan, Bale Bengong.
3.1.5.
SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Sumber pembiayaan pembangunan terdiri dari dua jenis yakni sumber pembiayaan konvensional dan non-konvensional. Secara teoritis, modal bagi pembiayaan pembangunan perkotaan dapat diperoleh dari 3 sumber dasar:
1. Pemerintah/publik 2. Swasta/private
3. Gabungan antara pemerintah dengan swasta
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
A. Struktur Anggaran Dana Pusat
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang. APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun dengan undang-undang. Struktur APBN yang sekarang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan Negara dan Hibah b. Belanja Negara
c. Keseimbangan Primer d. Surplus/Defisit Anggaran e. Pembiayaan
Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah 1. Belanja Negara. Belanja terdiri atas dua jenis:
a. Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
1) Dana Bagi Hasil 2) Dana Alokasi Umum 3) Dana Alokasi Khusus 4) Dana Otonomi Khusus 2. Pembiayaan meliputi
a. Pembiayaan dalam negeri meliputi pembiayaan perbankan, privatisasi, surat utang Negara, serta penyertaan modal Negara. b. Pembiayaan luar negeri meliputi:
1) Penarikan pinjaman luar negeri terdiri atas pinjaman program dan pinjaman proyek
2) Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri terdiri atas 3) Jatuh Tempo dan Moratorium.
B. Struktur Anggaran Dana Daerah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Ada pun APBD terdiri atas:
1. Anggaran pendapatan, terdiriatas :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain. b. Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana
Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus
c. Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat. 2. Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
3. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.
3.1.5.2. PEMBIAYAAN NON-KONVENSIONAL
Pembiayaan non konvensional dari kerja sama pihak pemerintah dengan stakeholder lain yang terkait baik swasta maupun masyarakat seperti joint venture, konsesi, konsolidasi lahan, dll. Instrument pembiayaan non-konvensional inilah yang biasanya menjadi sumber pembiayaan alternatif apabila pemerintah mengalami kendala pendanaan dalam melakukan suatu pembangunan. Dari berbagai jenis instrumen pembiayaan yang ada ternyata hanya beberapa saja yang telah diterapkan di Indonesia secara intensif dan umumnya masih bersifat konvensional (pajak, pinjaman, retribusi, dll). Mengingat makin terbatasnya keuangan negara, maka akan sangat bermanfaat apabila potensi yang dimiliki masing-masing di daerah digali secara optimal, khususnya bagi instrumen keuangan yang bersifat non-konvensional.
3.1.6.
KOMPONEN BIAYA PEMBANGUNAN
Komponen biaya merupakan bagian yang penting dalam menentukan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan dalam pembangunan dan pengelolaan kawasan pariwisata Waduk Jehem Bali. Di dalam suatu pembangunan secara menyeluruh. Pembiayaan tentunya tidak hanya sebatas pada biaya konstruksi fisik saja melainkan pembiayaan secara komprehensif meliputi pekerjaan eksternal dan juga pekerjaan khusus. Namun sebelum mengetahui secara detail biaya pada masing-masing sub komponen pembangunan. Maka penting untuk mengetahui bagaimana konsep pembangunan dan pengelolaan kawasan pariwisata Waduk Jehem Bali yang akan dilaksanakan yaitu:
1. Biaya Persiapan
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
2. Biaya Pembangunan Infrastruktur
Pelaksanaan pembangunan infrastruktur mencakup biaya pekerjaan pematangan tanah, fasilitas utama, fasilitas penunjang, dan landscape dan utilitas.
3. Biaya Operasional dan Managemen
Biaya yang termasuk dalam penyediaan peralatan dan interior.
Untuk mengetahui secara spesifik seberapa besar jumlah biaya pada masing-masing sub komponen pembangunan dan pengelolaan kawasan pariwisata Waduk Jehem Bali dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.1
Rencana Anggaran Biaya Kawasan Pariwisata Waduk Jehem Bali
No Uraian Kegiatan Satua
Wisata Air m2 300 2,500,000 750,000,000 Arena Wisata Keluarga m2 200 2,500,000 500,000,000 Jogging Track m2 150 3,000,000 450,000,000 Camping Ground m2 150 2,000,000 300,000,000 Area Pemancingan m2 200 2,000,000 400,000,000 Pondok Penginapan m2 300 1,500,000 450,000,000 Kantor Pengelola m2 100 2,000,000 200,000,000
Gerbang/Gate m2 1 100,000,00
0
100,000,000
Musholla buah 1 10,000,000 10,000,000
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
Pujasera m2 50 4,000,000 200,000,000
Ruko (termasuk toko
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Diagram Analisa Kriteria Investasi
Sumber :Aini 2009
Berdasarkan banyaknya metode dalam menganalisa kriteria, maka metode yang digunakan untuk menentukan apakah kawasan pariwisata Waduk Jehem Bali feasible/ go atau no go project adalah NPV (net present value). Teknik net present value (NPV) merupakan teknik yang didasarkan pada arus kas yang didiskontokan. Ini merupakan ukuran dari laba dalam bentuk rupiah yang diperoleh dari suatu investasi dalam bentuk nilai sekarang. NPV dari suatu proyek ditentukan dengan menhitung nilai sekarang dari arus kas yang diperoleh dari operasi dengan menggunakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan kemudian menguranginya dengan pengeluaran kas netto awal. Net Present Value juga memiliki pengertian sebagai manfaat yang diperoleh pada suatu masa proyek yang diukur pada tingkat suku bunga tertentu. Dalam penghitungan NPV ini perlu kiranya ditentukan dengan tingkat suku bunga saat ini yang relevan. Selain itu, NPV juga bisa diartikan sebagai nilai saat ini dari suatu cash flow yang diperoleh dari suatu investasi yang dilakukan.
AnalisaKriteriaInvest
asi MetodeAnalisa
NPV (Net Present Value)
MetodeAnalisa
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
Average Return on Investment
Discounted cash flow (Internal Rate of Return)
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Adapun rumus dan ketentuan pada NPV sebagai berikut :
Interpretasi hasil:
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
BAB IV
SKEMA PENANGANAN KASUS
4.1.
ANALISIS FINANSIAL SEDERHANA
Analisis finansial yang dilakukan pada proyek ini adalah dengan analisis 4 prinsip pembiayaan untuk mendapatkan pembiayaan yang relevan yaitu prinsip BOT, Konsesi, Kontrak Pelayanan, Operasi dan Perawatan, serta Join Venture.
Prinsip BOT
Pada prinsip ini diperbolehkan karena pihak swasta sangat berpeluang untuk memperkuat branding Pembangunan Waduk Jehem ini. Baik untuk peningkatan fasilitas pendukung maupun penyedia jasa pariwisata dan fasilitas utama lainnya.
Prinsip Konsesi
Untuk prinsip konsesi ini peran swasta yang terlalu dominan. Oleh karena itu konsesi tidak efektif dalam metode pembiayaan pembangunan proyek pengembangan Waduk Jehem ini.
Prinsip Kontrak Pelayanan, Operasi dan Pelayanan
Prinsip ini melibatkan peran masyarakat pada operasional dan
perawatannya namun pada akhirnya membebankan biaya pengelolaannya kepada masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan proyek ini akan
berhenti di tengah jalan.
Prinsip Join Venture
Pada prinsip ini proporsi antara pemerintah, swasta dan juga masyarakat adalah seimbang. Sehingga akan memberikan peluang yang tinggi dalam pembangunan Waduk Jehem.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Tabel 4.1 Analisis Standar Belanja (ASB) Kabupaten Bangli Tahun 2008 N
o Uraian Luas (m2) Harga Satuan Total Harga 1 Museum Subak 800 Rp 3.000.000 Rp 2.400.000.000 2 Wantilan Subak 600 Rp 3.000.000 Rp 1.800.000.000 3 Kios Seni 480 Rp 3.000.000 Rp 1.440.000.000 4 Camping 8 Parkir 10000 Rp 970.000 Rp 9.700.000.000 9 Taman 3000 Rp 67.500 Rp 202.500.000 10 Stage 600 Rp 2.000.000 Rp 1.200.000.000 11 Bale Bengong Rp 40.000.000 12 Tempat Suci Rp 18.000.000 13 Restoran 800 Rp 3.000.000 Rp 2.400.000.000 14 Kantor
Pengelola 300 Rp 3.000.000 Rp 900.000.000 15 M & E Rp 500.000.000 Jumlah Rp 20.954.250.000
Kemudian dibutuhkan juga biaya untuk konsultan sebesar Rp 300.000.000,00 dan biaya untuk perijinan sebesar Rp 50.000.000,00. Sehingga total biaya pembangunan dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2 Total Biaya Pembangunan
2. Biaya Konstruksi (sesuai ASB) Rp 20.954.250.000
3. Biaya Konsultan Rp 300.000.000
4. Biaya Perijinan Rp 50.000.000
5. Biaya Operasional Rp 2.040.000.000
6. Biaya Pemeliharaan (tahun pertama) Rp 1.238.635.000
Jumlah Rp 35.382.885.000
Analisis Pendapatan
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
penyewaan tempat. Pada komponen penjualan paket wisata, harga-harga tiket ini juga telah termasuk perhitungan quide fee yang besarnya antara 17,5% (tamu domestik) hingga 20% (untuk tamu asing). Harga-harga ini juga telah disesuaikan dengan harga-harga tiket di pasaran untuk obyek wisata sejenis yang berlaku saat ini.
Komponen-komponen pendapatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: a. Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Tirta
Harga pendapatan dari penjualan paket wisata tirta adalah sebesar Rp 180.000,00 untuk wisatawan asing dan Rp81.000,00 untuk wisatawan domestik.
b. Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Bukit
Harga pendapatan dari penjualan paket wisata bukit adalah sebesar Rp235.000,00 untuk wisatawan asing dan Rp105.750,00 untuk wisatawan domestik.
c. Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Subak
Harga pendapatan dari penjualan paket wisata tirta adalah sebesar Rp 215.000,00 untuk wisatawan asing dan Rp96.750,00 untuk wisatawan domestik.
d. Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Lepas
Harga pendapatan dari penjualan paket wisata lepas adalah sebesar Rp 50.000,00 untuk wisatawan asing dan Rp22.500,00 untuk wisatawan domestik.
e. Pendapatan dari Penyewaan Kios Seni
Pendapatan dari penyewaan kios seni diperhitungkan bersumber dari 20 unit kios dengan ukuran 4 X 6 meter, dengan ongkos sewa Rp3.000.000,00 per toko/tahun. Dengan asumsi hanya 50% saja yang laku disewakan untuk tahun pertama akan didapatkan pendapatan sebesar Rp30.000.000,- Kemudian pada tahun kedua mulai laku tersewakan semua dengan harga sewa Rp63.000.000,-, setelah dinaikkan harga sewanya 5% setiap tahunnya.
4.2.
SUMBER PEMBIAYAAN YANG RELEVAN
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
(IRR) yang didapatkan adalah 23,22%, dimana jika dibandingkan terhadap bunga investasi tertinggi yang mungkin terjadi yaitu 15%, maka proyek ini cukup prospektif.
Nilai Benefit Cost Ratio (BCR) didapatkan sebesar 1,802, hal ini menunjukkan bahwa investasi ini cukup layak dilanjutkan karena nilai yang didapat lebih besar dari angka satu. Hal tersebut menunjukkan bahwa proyek ini cukup prospektif dan menguntungkan bila dilaksanakan.
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi agar bisa diambil langkah-langkah yang tepat untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang mungkin terjadi dan menjamin bahwa setiap rencana investasi aman untuk dilaksanakan.
Pemodelan pertama dilakukan dengan mengasumsikan bahwa semua komponen biaya mengalami kenaikan dengan angka pendekatan sebesar 10% sedangkan pendapatannya tetap, dan dari hasil analisis yang dilakukan pada kondisi ini didapatkan hasil NPV Rp. 11.214.465.248,16; IRR = 19,45 % dan BCR = 1,406. Dengan demikian dari hasil-hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa rencana investasi ini masih layak untuk dilanjutkan.
Pemodelan kedua dilakukan dengan mengasumsikan bahwa semua komponen pendapatan mengalami penurunan dengan angka pendekatan sebesar 10% sedangkan biaya-biaya yang dikeluarkan tetap, dan dari hasil analisis yang dilakukan didapatkan hasil NPV sebesar Rp 12.680.494.084,30; IRR = 20,48% dan BCR = 1,524. Hal ini menunjukan bahwa investasi ini cukup layak dilanjutkan.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
Dengan demikian dari hasil-hasil analisis sensitivitas tersebut dapat dinyatakan bahwa rencana investasi ini masih layak untuk dilanjutkan baik pada kondisi biaya-biaya meningkat, pada saat kondisi pendapatan turun, maupun saat mengalami kondisi biaya-biaya meningkat dan pendapatan turun pada waktu yang bersamaan.
Berdasarkan analisis di atas dengan nilai NPV lebih besar dari nol, nilai IRR lebih besar dibandingkan bunga investasi dan nilai BCR lebih besar atau sama dengan satu, serta Payback Period tercapai pada tahun ke 9 dari umur rencana investasi yang 20 tahun sehingga didapatkan sumber pembiayaan yang relevan untuk proyek ini adalah menggunakan prinsip BOT dan Join Venture.
4.3.
STRATEGI PENGIMPLEMENTASIAN SUMBER
PEMBIAYAAN TERPILIH
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
BAB V
KESIMPULAN & REKOMENDASI
5.1.
KESIMPULAN
Analisis finansial yang dilakukan pada proyek ini dengan analisis 4 prinsip pembiayaan untuk mendapatkan pembiayaan yang relevan yaitu prinsip BOT, Konsesi, Kontrak Pelayanan, Operasi dan Perawatan, serta Join Venture.
Untuk analisis biaya dengan presentase 30% modal sendiri dan 70% modal pinjaman. Biaya yang dibutuhkan adalah Rp 10.400.000.000,00 untuk penyediaan lahan pada obyek wisata dan Rp 400.000.000,00 untuk biaya penataan lahan. Untuk biaya konstruksi dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini. Kemudian dibutuhkan juga biaya untuk konsultan sebesar Rp 300.000.000,00 dan biaya untuk perijinan sebesar Rp 50.000.000,00.
Analisis pendapatan terdapat 4 komponen yaitu Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Tirta, Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Bukit, Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Subak, Pendapatan dari Penjualan Paket Wisata Lepas dan Pendapatan dari Penyewaan Kios Seni.
Dari hasil analisis didapatkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 19.397.935.290,73, dimana nilai tersebut lebih besar dari nol sehingga rencana investasi pengembangan obyek wisata pada pembangunan Waduk Jehem ini dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Nilai Internal Rate of Return (IRR) yang didapatkan adalah 23,22%, dimana jika dibandingkan terhadap bunga investasi tertinggi yang mungkin terjadi yaitu 15%, maka proyek ini cukup prospektif. Nilai
Benefit Cost Ratio (BCR) didapatkan sebesar 1,802, hal ini menunjukkan bahwa investasi ini cukup layak dilanjutkan karena nilai yang didapat lebih besar dari angka satu. Hal tersebut menunjukkan bahwa proyek ini cukup prospektif dan menguntungkan bila dilaksanakan. Dengan Payback Period yaitu 9 tahun dari rencana investasi 20 tahun.
MATA KULIAH PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
4
kondisi biaya-biaya meningkat dan pendapatan turun pada waktu yang bersamaan.
Berdasarkan analisis dengan nilai NPV lebih besar dari nol, nilai IRR lebih besar dibandingkan bunga investasi dan nilai BCR lebih besar atau sama dengan satu, serta Payback Period tercapai pada tahun ke 9 dari umur rencana investasi yang 20 tahun sehingga didapatkan sumber pembiayaan yang relevan untuk proyek ini adalah menggunakan prinsip BOT dan Join Venture.
5.2 REKOMENDASI
1. Agar pengembalian dana investasi bisa lebih cepat, maka peningkatan
image atau citra kawasan pengembangan yang baik adalah penting sehingga dapat menarik pengunjung yang lebih banyak. Dengan demikian pengunjung yang lebih banyak berakibat pada peningkatan pemasukan dari tiket.
2. Peningkatan image atau citra kawasan pengembangan salah satunya dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas pendukung yang memadai dan merata baik dari segi jumlah maupun kualitas. Fasilitas pendukung di sekitar wilayah pengembangan merupakan salah satu faktor penarik pengunjung untuk datang ke tempat wisata tersebut.