ANALISIS ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH TERHADAP REALISASI TATA KELOLA ANGGARAN PEMBANGUNAN
NOVIA ANDRIANA
MAGISTER ILMU EKONOMI
NAMA PEMBIMBING UTAMA Prof. Dr. Pudjihardjo, SE., MS.
NAMA PEMBIMBING II Dr. Susilo, SE., MS.
ABSTRACT
Novia Andriana: Postgraduate Economics Faculty of Brawijaya University,
Februari 11th 2011. Analysis of Local Income Expenditure Budgeting toward
Arrangement System Realitation of Development Budgeting in Jombang Regency Government Education Sector. Supervisor: M. Pudjihardjo, co-supervisor: Susilo.
This research specifically analyzes how: (1) the consistency between local income expenditure budgeting with arrangement system realitation of development budgeting in jombang regency government education sector that see from financial aspect, (2) efficiency and effectivity degree arrangement system realitation of development budgeting education sector that was allocated from local income expenditure budgeting that see from budgeting realitation, expenditure estimate and education sector expenditure realitation of Jombang regency government.
Location of case study in Jombang regency in 2004 until 2008 year periode. The measurement analysis use balance score card method financial aspect also efficiency and effectivity degree value for money. The result of this research shows that: (1) there is consistency between local income expenditure budgeting with arrangement system realitation of development budgeting in jombang regency government education sector that see from financial aspect, (2) arrangement system of education sector development budgeting that was allocated from local income expenditure budgeting that see from budgeting realitation, expenditure estimate and education sector expenditure realitation of Jombang regency government was efficient with the result that more than 90% and effectivity degree 100% by knowing the realitation outcome achievement.
ABSTRAK
Novia Andriana: Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, 11 Februari 2011. Analisis Anggaran Pendapatan Belanja Daerah terhadap Realisasi Tata Kelola Anggaran Pembangunan di Sektor Pendidikan Pemerintah Kabupaten Jombang. Ketua Pembimbing: Pudjihardjo, Komisi Pembimbing: Susilo.
Penelitian ini secara spesifik menganalisis bagaimana: (1) konsistensi antara Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dengan realisasi tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang yang dilihat dari aspek finansial, (2) tingkat efisiensi dan efektivitas tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan yang teralokasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran, rencana belanja dan realisasi belanja sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang.
Lokasi studi kasus di Kabupaten Jombang pada periode tahun 2004 sampai tahun 2008. Analisis pengukurannya menggunakan metode Balance Score Card aspak finansial dan Value For Money tingkat efisiensi dan efektivitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terjadi konsistensi antara Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dengan realisasi tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang yang dilihat dari aspek finansial, (2) tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan yang teralokasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran, rencana belanja dan realisasi belanja sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang dikatakan efisien dengan nilai lebih dari 90% dan tingkat efektifitas 100% dengan memperhatikan outcome yang dicapai.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Negara Indonesia, pembangunan suatu negara sangat berpengaruh pada potensi daerah dengan sumber daya yang
berbeda-beda. Oleh karena itu,
pemberdayaan ekonomi daerah sangat penting sekali untuk ditingkatkan guna
menunjang peningkatan ekonomi
nasional. Dalam konteks ini, peran kebijakan pemerintah yang efektif dan efisien sangatlah penting diperlukan baik kebijakan ekonomi untuk daerah maupun kebijakan ekonomi untuk pemerintah pusat.
Sukses tidaknya pembangunan suatu negara pada umumnya dan daerah pada khususnya dalam menghadapi persaingan di era globalisasi, sangat dipengaruhi kuantitas dan kualitas dari sumber daya yang dimilikinya, baik Sumber Daya Alam (Natural Resources) berupa tanah yang subur, kandungan mineral berharga, dan bahan mentah bernilai ekonomis maupun Sumber Daya Manusia (Human Resources) berupa jumlah penduduk serta tingkat keterampilan atau pendidikannya.
Namun perlu diketahui bersama, bahwa kemajuan suatu negara tidak sepenuhnya bergantung kepada sumber daya alam. Contoh nyata dapat dilihat dari kemajuan dari negara-negara yang secara potensial miskin sumber daya alamnya seperti Jepang dan Korea, tetapi karena usaha peningkatan kualitas sumber daya manusianya hebat maka kemajuan negara tersebut cukup pesat, sebaliknya negara-negara yang potensial sumber daya alamnya (misalnya beberapa negara di
Asia Tenggara) tetapi kurang
mementingkan sumber daya manusianya, tingkat kemajuan negaranya kalah dengan Jepang dan negara maju lainnya.
Menyangkut sumber daya manusia, Todaro (2003) mengatakan :
“Sumber daya manusia (Human Resources)
– jumlah penduduk serta tingkat
keterampilan dan pendidikannya. Lebih jauh sumber daya manusia tidak hanya
jumlah penduduk dan tingkat
kekerampilannya, namun juga meliputi pandangan hidup mereka, kebudayaan,
sikap-sikap atau penilaian mereka
terhadap pekerjaan, akses mereka untuk
mendapatkan informasi, dan besar
kecilnya keinginan untuk memperbaiki diri secara kreatif dan otonom. Selanjutnya tingkat kecakapan administratif juga
merupakan komponen sumber daya
manusia yang penting karena hal tersebut seringkali menentukan dan ketetapan waktu pemerintah dalam memperbaiki struktur produksi secara keseluruhan.” Selanjutnya UNDP dalam laporannya tentang Pembangunan Sumber Daya Manusia (Human Resouces Development) tahun 2000 menyatakan bahwa ”Manusia
adalah kekayaan bangsa yang
sesungguhnya. Tujuan utama dari
pembangunan adalah menciptakan
lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur yang
panjang, sehat dan menjalankan
kehidupan yang produktif”. Pernyataan tersebut memberikan penekanan bahwa pembangunan berpusat kepada manusia, yang menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, dan bukan sebagai alat pembangunan. Pembangunan membutuhkan suatu
perubahan dinamika kehidupan
masyarakat. Dinamika perubahan tersebut harus berkembang terus menerus menuju ke keadaan yang lebih baik dan maju.
Untuk mencapai suatu perubahan
dinamika tersebut diperlukan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud menyangkut kuantitas dan kualitas pendidikan dan kesempatan masyarakat untuk mengakses pendidikan tersebut.
Pendidikan merupakan sebuah
investasi sumber daya yang sangat bermanfaat. MC Mahon dalam Nurkholis (2002) menyebutkan :
manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih
lama karena peningkatan gizi dan
kesehatan. Manfaat moneter adalah
manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan
pendapatan seseorang yang telah
menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya.”
Investasi pendidikan sebenarnya merupakan investasi jangka panjang. Nurkholis (2002), menyebutkan tiga alasan pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Ketiga alasan tersebut adalah, pertama, pendidikan merupakan alat perkembangan ekonomi bukan sekedar
pertumbuhan ekonomi; kedua,
memberikan nilai balik yang tinggi; ketiga, memiliki banyak fungsi seperti
sosial-kemanusiaan, politis, budaya, dan
kependidikan. Keluaran dari pendidikan tersebut adalah sumber daya manusia yang berkualitas.
Untuk membiayai sebuah Investasi,
maka dibutuhkan perencanaan
pembangunan bidang pendidikan dan sumber dana. Menurut teori perencanaan pembangunan bidang pendidikan yang dikemukakan Coombs dalam Sa’ud (2005) adalah penggunaan analisa yang rasional
dan sistematis terhadap proses
pembangunan pendidikan dengan tujuan
agar pendidikan lebih efisien dan
menanggapi kebutuhan dan tujuan
murid-murid dan masyarakat. Sedangkan
perencanaan pendidikan menurut Beeby (Soenarya, 2000), suatu kegiatan jauh melihat kedepan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas dan pembiayaan sistem pendidikan sesuai dengan realitas ekonomi dan sosial suatu negara.
Dalam konteks nasional, Pendidikan merupakan salah satu hak dasar warga negara Indonesia. Untuk itu Pemerintah
mempunyai kewajiban dalam
menyelenggarakan pendidikan dan
memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. Pemerintah
dalam penyelenggaraan pendidikan
tersebut telah mendapat dukungan berupa
adanya persetujuan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang
menetapkan anggaran pendidikan
minimal 20% dari APBN dan APBD. Hal ini sesuai dengan penjelasan pasal 167 UU No. 32 tahun 2004 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah diwajibkan melakukan peningkatan pelayanan dasar pendidikan, dengan ketentuan sekurang-kurangnya 20%. Berkaitan dengan alokasi
anggaran pendidikan seperti yang
tercantum dalam undang-undang tersebut di atas, berarti akan menghabiskan seperlima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Alasan bidang pendidikan mendapat alokasi besar antara lain dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009 disebutkan bahwa :
“Kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah. Pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memenuhi hak-hak dasar warga negara. Pada tahun 2003 rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 7,1 tahun dan proporsi penduduk berusia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SLTP ke atas masih 36,2 persen. Sementara itu angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun ke tas masih sekitar 10,12 persen. Pada saat yang sama Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk 7-12 tahun sudah mencapai 94,4 persen, namun APS penduduk usia 13 – 15 tahun baru mencapai 81,0 persen dan APS penduduk usia 16-18 tahun baru mencapai 50,97 persen. Tantangan tersebut semakin berat
dengan adanya disparitas tingkat
pendidikan antar kelompok masyarakat yang cukup tinggi seperti antara antara penduduk kaya dan penduduk miskin, antara penduduk laki-laki dan penduduk
perkotaan dan perdesaan, dan antar daerah.”
Perencanaan dan pengalokasian
anggaran menjadi sangat penting untuk membiayai program pemerintah guna
menaikkan kuantitas dan kualitas
pendidikan. Dimana pendidikan yang baik memerlukan anggaran yang cukup untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia di
Indonesia pada umumnya dan di
Kabupaten Jombang pada khususnya sesuai dengan ruang lingkup penelitian ini.
Sejak diberlakukannya Otonomi
Daerah pada tahun 2001, salah satu isu
yang menyertai reformasi adalah
bergesernya kebijakan dekonsentrasi
menjadi desentralisasi dalam asas
penyelenggaran pemerintah daerah.
Desentralisasi pada dasarnya merupakan transfer dari kekuasaan dan tanggung jawab untuk fungsi-fungsi publik dari pemerintah pusat kepada pemerintahan di bawahnya (daerah Propinsi dan daerah
Kabupaten/Kota). Seperti yang
dikemukakan oleh Koswara (2001) dalam Nurcholis (2005), PBB memberikan batasan tentang desentralisasi sebagai berikut:
”Decentralization refers to the transfer of authority away front the national capital wheter bv deconcentation (i.e.delegation) to field office or by devolution to local authorities or local bodies”
Sedangkan menurut Rondinelli (1983) dalam Nurcholis (2005) merumuskan:
“Decentralization is the transfer of planning, decision making, or ad-ministrative authority from the central government to its field organizations, local administrative units, semi-autonomous and parastatal organization, local government, or non government organization”
Perubahan kebijakan pemerintahan tersebut terwujud dengan keluarnya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang kemudian digantikan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun
1999 yang kemudian digantikan oleh Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Tujuan pokok dari UU No. 22 Tahun 1999 jo UU No. 32 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan daerah otonom yang mandiri dalam rangka menegakkan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan UUD 1945. Sedangkan tujuan pokok dari UU No. 25 Tahun 1999 jo UU No. 33 Tahun 2004 adalah upaya untuk memberdayakan
dan meningkatkan kemampuan
perekonomian daerah, menciptakan sistem
pembiayaan daerah yang adil,
proporsional, rasional, transparan,
parsitipatif, bertanggung jawab, dan
mewujudkan sistem perimbangan
keuangan yang baik antara pemerintah pusat dan daerah (Sidik dalam Tambunan, 2001). Maka berdasarkan Undang-undang tersebut, pemerintah baik pusat maupun daerah merupakan satu kesatuan yang tak
dapat dipisahkan dalam upaya
penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan masyarakat. Misi utama kedua undang-undang tersebut tidak hanya keinginan untuk melimpahkan keuangan pembiayaan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah, tetapi yang lebih penting adalah peningkatan efisiensi pengelolaan sumber daya keuangan dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat (publik), memudahkan masyarakat untuk untuk memantau dan mengontrol penggunaan dana yang bersumber dari APBD, selain untuk menciptakan persaingan yang sehat antar daerah dan mendorong timbulnya
inovasi yang pada intinya adalah
penyelenggaraan pemerintahan daerah secara partisipatif.
Sejalan dengan Undang-undang
tersebut, bahwa bidang pendidikan
Pelimpahan kewenangan di bidang pendidikan, dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah atau kabupaten pada hakekatnya merupakan pemberdayaan semua lembaga pendidikan yang ada di
daerah. Hal dimaksud agar dapat
berperan secara aktif memberikan
kontribusi meningkatkan kualitas
pendidikan. Jika selama ini pengelolaan sekolah sebagai lembaga pendidikan tersentralisir dan semuanya ditentukan dari pusat, maka pada era otonomi daerah diberikan kewenangan seluas-luasnya bagi lembaga pendidikan, untuk mengelola berdasarkan aspirasi maupun kebutuhan masyarakat sekitarnya. Namun tetap
berada dalam koridor pendidikan
nasional.
APBD merupakan salah satu
dokumen rencana kinerja dari aspek finansial, dimana anggaran itulah yang
akan digunakan pemerintah daerah
sebagai dasar untuk melakukan
pembangunan daerahnya. Sedangkan
indikator kinerja kegiatan
pembangunannya adalah ukuran
kuantitatif pada kualitatif yang
menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan yang telah ditetapkan yang dikategorikan dalam masukan (input), keluaran (output), hasil (outcomes), manfaat (benefit) dan dampak (impacts) kegiatan pembangunan daerah tersebut. Indikator-indikator tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengindikasikan sejauh mana keberhasilan pencapaian sasaran. Dalam hubungan ini, penetapan indikator kinerja kegiatan merupakan
proses identifikasi, pengembangan,
seleksi, dan konsultasi tentang indikator kinerja atau ukuran kinerja atau ukuran
keberhasilan kegiatan dan
program-program instansi. Dari berbagai indikator tersbut, dapat diketahuilah sejauh mana tingkat efisiensi dan efektivitas anggaran yang direncanakan dengan realisasinya terhadap pembangunan daerah.
Kabupaten Jombang adalah salah satu Kabupaten yang berada di Propinsi Jawa
Timur. Kabupaten Jombang sebagai
daerah otonom memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola daerahnya sendiri. Dengan adanya otonomi daerah membawa konsekuensi kepada Kabupaten Jombang harus memenuhi kewajibannya
untuk menyelenggarakan kegiatan
pendidikan serta berkewajiban untuk mendanai kegiatan pendidikan.
Selanjutnya tentang alasan peneliti untuk memilih studi kasus Pemerintah
Kabupaten Jombang adalah bahwa
Kabupaten Jombang merupakan
kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang sudah mampu menyelenggaran APBD
yang mandiri. Jika dilihat dari
pertumbuhan ekonominya sejak
diberlakukan otonomi daerah, Kabupaten Jombang terus mengalami peningkatan, tahun 2000 sebesar 2%, tahun 2001 sebesar 3,33%, tahun 2002 sebesar 3,97%, tahun 2003 sebesar 4,91%, tahun 2004 sebesar 5,10% kemudian tahun 2005 sebesar 5,15%. Dari data tersebut dapat diketahui secara umum bahwa perekonomian telah berada pada track record yang benar dan terus
mempertahankan momentum
stabilitasnya. Bahkan ketika inflasi pada tahun melonjak sebesar 15,40 % akibat kenaikan harga BBM kita masih mampu tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan tahun sebelumnya, atau tepatnya lebih cepat sedikit. Double digit inflation. atau inflasi dua digit terbukti tidak terlalu mencemaskan sepanjang faktor-faktor non ekonomi, seperti stabilitas social politik terjaga dengan baik.
Pelaksanaan pembangunan di
Kabupaten Jombang didasari oleh
paradigma pertumbuhan yang di
dalamnya juga mengandung unsur
pemberdayaan masyarakat dan
pemeratan. Kemudian mengenai data
APBD, setelah OTODA rata-rata
jumlahnya surplus dengan bantuan DAU dan DAK yang relatif tidak terlalu besar dibanding kabupaten lain di Jawa Timur.
satu-satunya yang menjadi masalah bahwa suatu perencanaan anggaran itu dapat
memaksimalkan realisasi program
pembangunan daerah atau tidak. Tetapi bagaimana pemerintah daerah dapat bertindak secara efisien serta bertanggung jawab atas anggaran pembangunan serta rencana kerja yang baik dengan berbagai indikator kinerja yang sesuai.
Secara khusus, mengapa penelitian ini dirasa perlu dilakukan, bahwasanya ada beberapa persoalan yang terjadi di Kabupaten Jombang berkaitan dengan
realisasi tata kelola anggaran
pembangunan sektor pendidikan.
Kabupaten Jombang dalam
menyelenggarakan pendidikan
menghadapi permasalahan pendidikan
menyangkut sarana dan prasarana
pendidikan, kualitas pendidikan, tenaga pendidik serta keperluan sekolah lainnya.
Sebelum Otonomi Daerah, banyak
program-program pembangunan bidang pendidikan yang belum terlaksana dengan baik karena keterbatasan dana dari pemerintah yang selalu tersentralisir di pemerintah pusat. Banyak sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai,
gedung sekolah rusak, dan lain
sebagainya. Masih banyak guru yang maksimal hanya mempunyai jenjang pendidikan sampai D2.
Kondisi permasalahan pendidikan lainnya adalah keterbatasan dana APBD dan manajemen pengelolaan keuangan pemerintah daerah untuk prioritas sektor pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sumber dana pembangunan pendidikan adalah berasal
dari APBD, sedangkan sumber
penerimaan terbanyak masih berasal dari DAU dan DAK.
Di Kabupaten Jombang, lima tahun
terakhir, anggaran pendidikan yang
direalisasikan setelah dikurangi gaji guru jumlahnya masih kurang dari 10%, ini juga setara dengan anggaran pendidikan yang
direalisasikan di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur. Sebagai perbandingan, berikut data realisasi anggaran di beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur:
Tabel 1.1
Rata-rata Realisasi Anggaran Pendidikan di Beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur
Daerah DAK % dari Total Blj APBD
(-) DAK
Kab. Tuban 10,986,000,000 5.7
Kab. Lamongan 35,190,000,000 4.6
Kab. Sidoarjo 2,428,000,000 4.3
Kab. Situbondo 18,280,000,000 6.1
Kab. Pasuruan 37,506,000,000 6.9
Kab. Jombang 14,505,000,000 2.6
Kab. Banyuwangi 26,335,000,000 3.5
Kab. Pacitan 23,493,000,000 4.0
Kota Gresik 11,931,000,000 2.8
Kota Madiun 18,409,000,000 3.4
Kota Kediri 8,245,000,000 8.0
Kota Surabaya 2,455,000,000 4.0
Sumber : Seknas FITRA, data diolah dari dokumen APBD
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa
Kabupaten Jombang mengalokasikan
anggaran pendidikan dari total belanja APBD dikurangi DAK pendidikan sebesar
daerah kecil, maka nilai DAU dan DAK harus lebih besar. Namun yang menjadi penting dari pemabahasan ini bahwa meskipun persentase anggaran dari APBD untuk sektor pendidikan kecil, namun mampu atau tidak untuk menyeleseikan permasalahan pendidikan di Kabupaten Jombang.
Namun jika dilihat dari nilai IPM Kabupaten Jombang dibanding IPM di beberapa Kabupaten lain besarnya masih urutan ke 7 sebesar 71,85 dari 29 kabupaten di Jawa Timur. Nilai IPM Kabupaten Jombang ini, besarnya masih di atas IPM nasional dan IPM Propinsi Jawa Timur.
Tabel 1.3
IPM Kabupaten/Kota di Jawa Timur
No Wilayah IPM
Nasional 71.17
Propinsi Jawa Timur 70.38 Kabupaten Kota
1 Kabupaten Pacitan 70.91 2 Kabupaten Trenggalek 72.15 3 Kabupaten
Tulungagung 72.45
4 Kabupaten Blitar 72.74 5 Kabupaten Kediri 70.85 6 Kabupaten Sidoarjo 75.35 7 Kabupaten Mojokerto 72.51 8 Kabupaten Jombang 71.85 9 Kabupaten Magetan 71.79 10 Kabupaten Gresik 73.49
Sumber: BPS Jawa Timur
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Indeks Pembangunan Manusia
Kabupaten Jombang relatif tinggi
dibanding Kabupaten Lain di Jawa Timur dengan anggaran APBD yang relatif kecil dibanding Kabupaten/Kota lain di Jawa Timur. Padahal IPM merupakan gambaran dari kualitas sumber daya manusia suatu
daerah. Tetapi anggaran yang
dialokasikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (pendidikan) kecil.
Ada ketimpangan dalam anggaran
pembangunan sektor pendidikan disini.
Oleh karena itu, kajian penelitian ini mencoba untuk menganalisis efisiensi dan efektivitas APBD sebagai sumber dana pembangunan sektor pendidikan terhadap
realisasi tata kelola anggaran
pembangunan sektor pendidikan dari
Pemerintah Kabupaten berdasarkan
prinsip anggaran berbasis kinerja. Maka secara spesifik, judul penelitian ini adalah
”Analisis Anggaran Pendapatan Belanja Daerah terhadap Realisasi Tata Kelola Anggaran Pembangunan di Sektor Pendidikan Pemerintah Kabupaten Jombang.”
1.2 Rumusan Masalah
Dengan latar belakang dan
permasalahan di atas, maka rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana konsistensi antara
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dengan realisasi tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008 yang dilihat dari aspek finansial.
2. Bagaimana tingkat efisiensi dan
efektivitas tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan
yang teralokasi dari Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran, rencana belanja dan realisasi belanja
sektor pendidikan pemerintah
Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1 Untuk menganalisis konsistensi antara
2 Untuk menganalisis tingkat efisiensi dan efektivitas tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan
yang teralokasi dari Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran, rencana belanja dan realisasi belanja sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008.
2.1 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat baik bagi penulis maupun bagi pihak lain:
1.4.1 Manfaat Pengetahuan
Manfaat dari segi pengetahuan adalah dapat mengetahui apakah optimalisasi
perencanaan Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah sesuai dengan realisasi
pembangunan sektor pendidikan di
Kabupaten Jombang, yang dapat dijadikan masukan dalam melakukan kebijakan dan pengalokasian dana yang benar, serta kajian bagi masyarakat luas untuk ikut
berpartisipasi dalam pembangunan
ekonomi di wilayahnya.
Penelitian ini juga digunakan sebagai
bahan referensi dalam proses
pengembangan ilmu, terutama dalam hal ini adalah untuk pengembangan ilmu ekonomi publik dan keuangan daerah. 1.4.2 Manfaat praktis
1. Bagi mahasiswa dan masyarakat,
sebagai referensi dalam pembuatan
karya tulis dan pengembangan
penelitian selanjutnya serta sebagai upaya mendorong mahasiswa peka dan kritis terhadap permasalahan yang terjadi seperti ini dan juga ingin menumbuhkan rasa peduli bagi masyarakat tentang adanya masalah yang disampaikan dari penelitian ini.
2. Bagi pemerintah, sebagai input dalam
pengambilan kebijakan ekonomi
khususnya yang menyangkut
kebijakan keuangan daerah di sektor pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Perencanaan Pembangunan Daerah 2.1.1.1 Perencanaan
Abe (2005) menjelaskan perencanaan adalah susunan (rumusan) sistematik mengenai langkah-langkah yang akan
dilakukan dimasa depan, dengan
pertimbangan-pertimbangan yang
seksama atas potensi-potensi, faktor-faktor
internal dan pihak-pihak yang
berkepentingan dalam mencapai tujuan tertentu.
Nawawi (2003) mengemukakan
sebagai berikut “Perencanaan adalah proses pemilihan dan penetapan tujuan, strategi, metode, anggaran, dan standar (tolok ukur) keberhasilan suatu kegiatan”.
Pengertian ini menunjukkan bahwa
perencanaan merupakan proses atau rangkaian beberapa kegiatan yang saling
berhubungan dalam memilih salah satu dari beberapa alternatif tentang tujuan
yang ingin dicapai oleh sebuah
organisasi/perusahaan. Kemudian memilih strategi dan metode untuk mencapai tujuan tersebut.
2.1.1.2 Pembangunan dan Pembangunan Ekonomi
Secara sederhana terminologi
pembangunan kerap diartikan sebagai proses perubahan ke arah keadaan yang lebih baik. Pengertian pembangunan menurut Kartasasmita (1997) adalah suatu proses yang berkesinambungan dari peningkatan pendapatan riil perkapita
melalui peningkatan jumlah dan
produktivitas sumber daya. Dengan
definisi ini pembangunan dapat dimaknai sebagai kegiatan nyata dan berencana
untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat. Menurut Irawan dan
pembangunan ekonomi sebagai usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan per kapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi
disamping menaikkan pendapatan
nasional riil, juga untuk meningkatkan produktivitas.
2.1.1.3 Perencanaan Pembangunan
Berdasarkan UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional, Perencanaan Pembangunan
disebutkan sebagai sebuah sistem,
sehingga membentuk sistem
pembangunan nasional. Dalam undang-undang tersebut yang dimaksud dengan
Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional adalah satu kesatuan tata cara
perencanaan pembangunan untuk
menghasilkan rencana-rencana
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah.
2.1.1.4 Perencanaan Pembangunan Daerah
Perencanaan pembangunan daerah
merupakan bentuk dari perumusan
kepentingan lokal dalam memenuhi
kebutuhan daerah itu sendiri. Mendukung
pendapat tersebut, Abe (2002)
mengemukakan perencanaan daerah
merupakan proses menyusun
langkah-langkah yang diselenggarakan oleh
pemerintah daerah dalam rangka
menjawab kebutuhan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2.1.2 Konsep Perencanaan
Pembangunan Bidang Pendidikan 2.1.2.1 Pendidikan
Di dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan
Nasional, disebutkan bahwa yang
dimaksud dengan pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”
2.1.2.2 Perencanaan Pendidikan
Perencanaan Pembangunan
Pendidikan menurut Coombs dalam Sa’ud (2005) adalah penggunaan analisa yang rasional dan sistematis terhadap proses pembangunan pendidikan dengan tujuan
agar pendidikan lebih efisien dan
menanggapi kebutuhan dan tujuan murid-murid dan masyarakat.
Sedangkan perencanaan pendidikan menurut Beeby (Soenarya, 2000), suatu kegiatan jauh melihat kedepan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas dan pembiayaan sistem pendidikan sesuai dengan realitas ekonomi dan sosial suatu negara.
2.1.3 Manfaat dan Biaya Pendidikan 2.1.3.1 Manfaat Pendidikan
Ada dua konsep dasar manfaat dari pendidikan yang diperoleh seseorang, yaitu:
1. Pendidikan seringkali diasumsikan
sebagai faktor terpenting penentu
ekonomi dan kesuksesan sosial
seseorang.
2. Pendidikan juga sangat berkaitan erat dengan pendapatan dan keberhasilan.
2.1.3.2 Biaya Pendidikan
Ada dua konsep dasar biaya dari pendidikan, yaitu:
1. Pengeluaran pendidikan terdiri dari pengeluaran dasar saat ini seperti
pembayaran gaji guru dan
pengeluaran untuk periode yang akan datang (biasanya disebut anggaran capital). Pengeluaran untuk bangunan baru dan peralatan, perbaikan dan
sebagainya tidak dihitung sebagai biaya dasar.
2. Pada saat yang sama, biaya yang
dikeluarkan saat ini tidak hanya merupakan pengeluaran langsung
tetapi semua biaya kesempatan
(contohnya: biaya sosial pendidikan
sekolah tinggi, dalam hal ini
pengeluaran langsung oleh sekolah atau pelajar).
2.1.4 Otonomi Daerah
2.1.4.1 Konsep Otonomi Daerah
Otonomi daerah merupakan suatu
perwujudan pelaksanaan desentralisasi dan merupakan penerapan konsep teori “areal division of power” yang membagi kekuasaan secara vertikal, yaitu daerah dibawahnya.
Konsep desentralisasi atau
otonomi daerah merupakan konsekuensi dari bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana konsep tersebut merupakan sistem perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang
akomodatif terhadap inisiatif dan
tanggung jawab masyarakat daerah.
2.1.4.2 Tinjauan Otonomi Daerah
Berlakunya UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 merupakan titik awal berjalannya otonomi daerah (reformasi pemerintahan daerah dan reformasi pengelolaan keuangan daerah di Indonesia). Kedua UU ini telah membawa perubahan mendasar pada pola hubungan antar pemerintahan dengan keuangan antara pusat dan daerah. Dan seiring dengan waktu, pemerintah mengeluarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
2.1.5 Desentralisasi dan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2.1.5.1 Desentralisasi
Desentralisasi dapat dimaknai sebagai suatu bentuk transfer kewenangan dan
tanggung jawab dari Pemerintah Pusat kepada level pemerintahan yang lebih
rendah, atau sektor privat untuk
menjalankan fungsi-fungsi publik.
Pengertian desentralisasi menurut
Rondinelli dalam Adnan (2001) adalah
transfer tanggungjawab dalam
perencanaan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat, unit yang berada di bawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba.
2.1.5.2 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah
Menurut Supriyono (2003)hubungan keuangan pusat dan daerah menyangkut pengelolaan pendapatan (revenue) dan
penggunaannya (expenditure) untuk
kepentingan pengeluran rutin maupun
pembangunan daerah dalam rangka
memberikan pelayanan publik yang
berkualitas, responsible dan akuntable. Prinsip pada pembagian sumber keuangan menurut Supriyono (2003) adalah money follow functions yang tercermin dalam
undang-undang tentang perimbangan
keuangan pusat daerah. Prinsip money follow function menurut Bahl dalam Saragih (2003), setiap penyerahan atau
pelimpahan wewenang pemerintahan
membawa konsekuensi pada anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan kewenangan tersebut.
2.1.6 Keuangan Daerah
kompleknya persoalan yang dihadapi. Selain itu, peranan keuangan daerah yang makin meningkat akan dapat mendukung pelaksanaan otonomi daerah.
2.1.7 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
2.1.7.1 Definisi Anggaran
Anggaran secara umum dapat
diartikan sebagai rencana keuangan yang mencerminkan pilihan kebijakan suatu institusi atau lembaga tertentu untuk suatu periode di masa yang akan datang.
Anggaran juga dipahami sebagai
pernyataan yang berisi perincian
penerimaan dan belanja operasional
maupun belanja modal, bersama dengan rencana untuk tahun yang akan datang (Tony Byrne dalam Rinusu, 2003).
2.1.7.2 Fungsi Anggaran
Menurut Mardiasmo (2002) anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu pertama, sebagai alat
perencanaan; kedua, sebagai alat
pengendalian, ketiga, sebagai alat
kebijakan fiskal, keempat, sebagai alat politik, kelima, sebagai alat koordinasi dan
komunikasi, keenam, sebagai alat
penilaian kinerja, ketujuh, sebagai alat motivasi, dan kedelapan, sebagai alat menciptakan ruang publik.
2.1.7.3 Struktur Anggaran
Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas pendapatan daerah, belanja daerah, pembiayaan dan
transfer. Berdasarkan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2003 dan Standar Akuntansi Pemerintahan, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas (1) anggaran pendapatan, (2) anggaran belanja, (3) transfer, dan (4) pembiayaan.
2.1.7.4 Proses Anggaran
Proses atau tahap-tahap
penganggaran dalam pemerintahan pada dasarnya tidak berbeda antara sektor swasta dan sektor publik. menurut Mardiasmo (2002) siklus anggaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu (a) Tahap
persiapan anggaran (preparation), (b) Tahap ratifikasi (approval/ratification), (c) Tahap implementasi (implementation) dan Tahap pelaporan dan evaluasi (reporting and evaluation).
2.1.7.5 Kemampuan APBD
Dalam konteks desentralisasi, apabila
Pemerintah daerah melaksanakan
fungsinya secara efektif, dan diberikan kebebasan dalam pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik, maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan pajak, Pinjaman, maupun Subsidi/Bantuan dari Pemerintah Pusat.
2.1.8 Arti Penting Partisipasi
Arti penting partisipasi pada intinya terletak pada fungsinya. Fungsi pertama adalah sebagai sarana swaedukasi kepada masyarakat mengenai berbagai persoalan publik. Dalam fungsi ini, partisipasi
masyarakat tidak akan mengancam
stabilitas politik dan seharusnya berjalan di semua jenjang pemerintahan. Fungsi lain dari partisipasi adalah sebagai sarana
untuk menampilkan keseimbangan
kekuasaan antara masyarakat dan
pemerintah sehingga kepentingan dan pengetahuan masyarakat dapat terserap dalam agenda pemerintahan.
Arti penting partisipasi dapat juga
dilihat dari manfaatnya dalam
meningkatkan kualitas keputusan yang
dibuat karena didasarkan pada
kepentingan dan pengetahuan riil yang ada di dalam masyarakat. Partisipasi juga bermanfaat dalam membangun komitmen masyarakat untuk membantu penerapan suatu keputusan yang telah dibuat.
2.1.9Anggaran Kinerja
kerja (output) dari perencanaan alokasi biaya (input) yang telah ditetapkan.
PP 58/2005, Ps 1 (35)
Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang teruku
2.1.10 Komponen Rencana Kinerja
Dokumen rencana kinerja memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai dalam tahun yang bersangkutan,
indikator kinerja, dan rencana
pencapaiannya. Selain itu, dimuat pula keterangan yang antara lain menjelaskan keterkaitan dengan sasaran, kebijakan dengan programnya, serta keterkaitan
dengan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan oleh instansi/sektor lain (Yuwono, 2005).
2.1.11 Efisiensi
Efisiensi (daya guna) mempunyai pengertian yang berhubungan erat dengan
konsep produktivitas. Pengukuran
efisiensi dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara output yang
dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya
dan dana yang serendah-rendahnya
(spending well). Jadi pada dasarnya ada pengertian yang serupa antara efisiensi dengan ekonomi karena kedua-duanya
menghendaki penghapusan atau
penurunan biaya (cost reduction). Efisiensi diukur dengan rasio antara output dan input.
2.2 Penelitian Terdahulu
Ada beberapa peneliti yang sudah
melakukan penelitian mengenai
perencanaan pembangunan daerah bidang pendidikan dan penyusunan anggaran:
Roy Marganda Lumbantobing (2006) melalui penelitian berjudul Perencanaan
Pembangunan Bidang Pendidikan
Berdasarkan Kemampuan APBD
Kabupaten Tapanuli Utara. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa
perencanaan pembangunan bidang
pendidikan di Kabupaten Tapanuli Utara
dilaksanakan melalui berbagai
pendekatan, antara lain pendekatan
teknokratik, pendekatan politik,
pendekatan partisipatif, pendekatan atas bawah dan pendekatan bawah atas.
Mochammad Zeki Arifudin (2005) melalui penelitian berjudul Perencanaan
Pembangunan Bidang Pendidikan
berdasarkan Kemampuan Keuangan
Daerah (Kajian Perencanaan
Pembangunan Pendidikan Dasar Di Kota Depok, Jawa Barat).
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan bidang pendidikan di Kota Depok, didasarkan pada dokumen Rencana Strategis Kota Depok. Dalam APBD Kota Depok, Dana
Perimbangan masih memberikan
kontribusi yang paling besar. Alokasi
Anggaran pendidikan belum dapat
memenuhi ketentuan
perundang-undangan, sekurang-kurangnya 20% dari total APBD diluar gaji dan pendidikan kedinasan.
Nur Fatoni (2005) melalui penelitian
berjudul Pengaruh Partisipasi
Masyarakat Dalam Proses Penyusunan
Anggaran terhadap Efektivitas
Penggunaan Dana Anggaran (Studi pada Desa Ragajaya Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor Tahun 2002-2005). Hasil penelitian ini mengidikasikan terdapat
pengaruh yang signifikan antara
keterlibatan, kontribusi, tanggung jawab
secara simultan terhadap efektivitas
penggunaan dana anggaran.
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1 Kerangka Pemikiran
Asas Desentralisasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
UU 32 Th 2004 dan UU 33 Th 2004
Kebijakan Fiskal Kabupaten Jombang Sektor Pendidikan
Teori Perencanaan Pembangunan Daerah Teori Anggaran
APBD
Partisipasi Masyarakat
RENSTRA Dinas Pendidikan
Realisasi Tata Kelola Anggaran Pembangunan Sektor Pendidikan
Teori Efisiensi dan Efektivitas
Tingkat efisiensi dan efektivitas tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan yang teralokasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran, rencana belanja dan realisasi belanja sektor
pendidikan Pemerintah Kabupaten Jombang Otonomi Daerah
Teori Perencanaan Pembangunan Bidang
Pendidikan
RPJMD
3.2 Hipotesa
1. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
diduga cenderung konsisten dengan
realisasi tata kelola anggaran
pembangunan di sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008 yang dilihat dari aspek finansial.
2. Tata kelola anggaran pembangunan
di sektor pendidikan yang teralokasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi
anggaran, rencana belanja dan
realisasi belanja sektor pendidikan pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008 diduga cenderung efektif dan efisien.
3.3 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Ada beberapa variabel yang akan menjadi pertimbangan dalam mengukur efisiensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah terhadap realisasi tata kelola
anggaran pembangunan di sektor
pendidikan Pemerintah Kabupaten
Jombang. Dalam penelitian ini, variabel-variabel yang digunakan terdiri atas:
1. RAPBD adalah Rencana Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah.
2. Partisipasi masyarakat merupakan
sarana untuk menampilkan
keseimbangan kekuasaan antara
masyarakat dan pemerintah sehingga
kepentingan dan pengetahuan
masyarakat dapat terserap dalam agenda pemerintahan.
3. APBD merupakan suatu rencana
keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang APBD.
4. RENSTRA Pendidikan merupakan
suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima)
tahun secara sistematis dan
berkesinambungan dengan
memperhatikan potensi, peluang dan kendala yang ada atau mungkin timbul.
5. Realisasi tata kelola anggaran
pembangunan di sektor pendidikan merupakan perwujudan dari rencana strategik dalam tata kelola anggaran
pembangunan sektor pendidikan,
yang termuat dalam Rencana Kinerja Tahunan Dinas Pendidikan.
6. Efisiensi (daya guna) mempunyai
pengertian yang berhubungan erat
dengan konsep produktivitas.
Efisiensi diukur dengan rasio antara output dan input.
7. Efektivitas (hasil guna) adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka organisasi tersebut dikatakan berjalan dengan efektif.
BAB IV
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk deskriptif kuantitatif.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Secara spesifik penelitian ini
dilakukan dalam wilayah Kabupaten Jombang. Penelitian ini dibatasi pada
efisiensi dan efektivitas anggaran
pendapatan belanja daerah terhadap
realisasi tata kelola anggaran
pembangunan di sektor pendidikan
Pemerintah Kabupaten Jombang tersebut.
Penelitian ini menggunakan batasan
temporal tahun 2004-2008, dimana jangka
waktu tersebut adalah masa
diberlakukannya kebijakan otonomi
3.3 Jenis Data dan Sumber Data
Data yang digunakan di sini adalah data sekunder dengan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Sumber data utama dalam penelitian ini diperoleh dari:
2. Dinas Pendidikan Nasional
Kabupaten Jombang
3. Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kabupaten Jombang
4. Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten
Jombang
5. Biro Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Timur.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber dengan melakukan studi kepustakaan dan pengamatan di
lapangan. Data yang diperoleh
disesuaikan dengan jangka waktu
penelitian, yaitu tahun 2004 sampai 2008.
3.5 Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan analisis pengukuran kinerja. Analisis ini
digunakan untuk mengidentifikasi
efisiensi APBD tersebut terhadap realisasi tata kelola anggaran pembangunan di sektor pendidikan Pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008. Ada dua tahap, yaitu:
1). Balanced Scorecard Aspek Finansial
Balanced Scorecard Model ini pada
awalnya memang ditujukan untuk
memperluas area pengukuran kinerja organisasi swasta yang profit oriented.
Pendekatan ini mengukur kinerja
berdasarkan aspek finansial dan non finansial yang dibagi dalam empat perspektif, yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses internal, dan perspektif inovasi dan pembelajaran.
Namun dalam penelitian ini, saya menggunakan satu perspektif saja yaitu perspektif finansial karena perspektif tersebut lebih spesifik dan relevan untuk menjawab rumusan masalah pertama yang dikemukakan di atas.
Perspektif finansial ini melihat kinerja
dari sudut pandang profitabilitas
ketercapaian target keuangan, sehingga didasarkan atas sales growth, return of investment, operating income dan cash flow
(quinlivan, 2000 dalam Mardiasmo, 2006). 2). Efektivitas
Mengukur tingkat output dari
organisasi sektor publik terhadap
target-targetpendapatan sektor publik.
Pengukuran tingkat efektivitas
memerlukan data-data realisasi
pendapatan dan anggaran atau target
pendapatan. Berikut formula untuk
mengukur tingkat efisiensi: Tingkat efektivitas:
Kriteria efektivitas:
• Jika diperoleh nilai kurang dari 100%
(x<100%) berarti efektif
• Jika diperoleh nilai sama dengan
100% (x=100%) berarti efektivitas berimbang
• Jika diperoleh nilai lebih dari 100%
(x>100%) berarti tidak efektif
Efektivitas (hasil guna) adalah ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam usaha mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Efektivitas merupakan
perbandingan outcome dan output.
Outcome merupakan dampak suatu
program atau kegiatan terhadap
masyarakat sedangkan output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program aktivitas dan kebijakan. Untuk mengukur tingkat efektivitas dalam pengelolaan keuangan dengan melihat perbandingan anggaran pendapatan dengan realisasinya dan persentase tingkat pencapaiannya (Mardiasmo, 2006).
3). Efisiensi
dalam bentuk relatif. Unit A adalah lebih efisien dibanding unit B, unit A adalah lebih efisien tahun ini dibanding tahun lalu, dan seterusnya.
Mengukur tingkat input dari
organisasi sektor publik terhadap tingkat outputnya sektor publik. Pengukuran tingkat efisiensi memerlukan data-data
realisasi biaya untuk memperoleh
pendapatan dan data realisasi pendapatan. Berikut formula untuk mengukur tingkat efisiensi:
Tingkat efisiensi:
Kriteria efisiensi adalah:
• Jika diperoleh nilai kurang dari 100%
(x<100%) berarti efisien
• Jika diperoleh nilai sama dengan
100% (x=100%) berarti efisiensi
berimbang
• Jika diperoleh nilai lebih dari 100%
(x>100%) berarti tidak efisien
Pengukuran efisiensi (efficiency).
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Kabupaten Jombang
5.1.1 Pemerintahan Daerah
Secara administrasi Kabupaten
Jombang terbagi menjadi 21 Kecamatan yang terdiri dari 302 desa dan 4 kelurahan serta meliputi 1.258 dusun.
5.1.2 Penduduk dan Tenaga Kerja
Jumlah penduduk Kabupaten
Jombang sepanjang tahun 2004-2008
mengalami peningkatan sebanyak 18.610 jiwa, berdasarkan hasil registrasi jumlah penduduk Kabupaten Jombang akhir tahun 2005 sebesar 1.165.720 jiwa, terjadi kenaikan 4.652 jiwa atau 0,40 persen
dibanding tahun sebelumnya yang
mencapai 1.161.068 jiwa, sedangkan pada tahun 2007 mencapai 174.050 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,43% per tahun. Sedangkan tingkat kepadatan penduduknya meningkat sebesar 1,5%.
5.1.3 PDRB Sektoral
Besaran PDRB per kapita atas dasar harga berlaku adalah sebagaimana pada tabel berikut:
Tabel 5.1 PDRB Per kapita
Tahun Jumlah (ribu rupiah)
2004 5.697,84
2005 6.691,42
2006 7.810,07
2007 8.289,58
2008 9.636,52
Sumber: BAPPEDA Kab.Jombang
Artinya, dibanding tahun sebelumnya telah tumbuh 5,15 %, dengan inflasi (harga produsen) sebesar 15,40 %. Angka-angka itu paling tidak merupakan tanda akan perlunya mempertahankan momentum yang ada untuk mencapai sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan.
5.1.4 Pertumbuhan Ekonomi
Usaha pemulihan ekonomi pasca
krisis nampaknya cukup
menggembirakan, hal ini terbukti dengan angka pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat selama lima tahun terakhir. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang semakin cepat selama 2000 - 2004
yaitu berturut-turut 3,33% (2001)
namun secara keseluruhan pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan cukup baik. Berikut ini datanya:
Tabel 5.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Tahun Jumlah (%)
Sumber: BAPPEDA Kab.Jombang
Secara umum bahwa perekonomian Kabupaten Jombang telah berada pada
track record yang benar dan terus
mempertahankan momentum
stabilitasnya. Inflasi pada tahun 2006 berkisar 10%, 2007 berkisar 7% (berada di bawah inflasi Jawa Timur) dan tahun 2008 berada pada 9%. Bahkan ketika inflasi melonjak sebesar 15,40 % akibat kenaikan
harga BBM kita masih mampu tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan tahun sebelumnya, atau tepatnya lebih cepat sedikit.
5.2 Deskripsi Data
5.2.1 Perkembangan Penerimaan APBD
Roda pemerintahan dan
pembangunan di daerah tidak akan
pernah bergerak kalau tidak ada
dana/anggaran pendapatan dan belanja yang cukup memadai. Sesuai dengan syarat pembangunan yang berkelanjutan, maka pemerintah daerah akan senantiasa meningkatkan anggaran pendapatan dan belanja daerahnya.
Pendapatan daerah selama tahun 2004-2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perkembangan realisasi pendapatan daerah selama tahun 2004-2008 adalah sebagai berikut:
Tabel 5.3
Realisasi Pendapatan Daerah Kebupaten Jombang Tahun 2004-2008 (jutaan rupiah)
Pendapatan 2004 2005 2006 2007 2008
PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil BUMD dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan lain-lain yang sah
10.446
Bagi Hasil (Pajak dan Bukan Pajak)
Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Khusus (DAK)
Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Propinsi
26.987
JUMLAH PENDAPATAN 416.320 443.996 620.639 708.348 808.380
Pendapatan daerah Kabupaten Jombang dalam lima tahun terakhir masih
didominasi oleh pendapatan Dana
Perimbangan yang proporsi rata-rata setiap tahunnya sebesar 83 %. Tingginya
proporsi pendapatan dari Dana
Perimbangan ini disebabkan adanya kenaikan yang cukup signifikan dari penerimaan DAU dan DAK terutama sejak tahun 2006.
5.2.2 Pendidikan
Kondisi sektor pendidikan di
Kabupaten jombang pada sampai tahun
2008 dapat dibaca diantaranya
berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana sekolah. Berdasarkan rasio jumlah guru terhadap murid dalam kurun waktu 2004 – 2008 jumlah murid SD/ MI di
Kabupaten Jombang mengalami
penurunan sebanyak 3.783 siswa yaitu dari sebanyak 128.492 siswa pada tahun 2005 menjadi sebanyak 124.709 siswa pada tahun 2009 atau turun sebesar 2,94%,
sementara jumlah guru mengalami
peningkatan sebanyak 1008 orang yaitu dari sebanyak 7.933 orang pada tahun 2005 menjadi sebanyak 8.941 orang pada tahun 2008 atau naik sebesar 12,71%.
Pada tingkat SMA/MA/SMK, pada kurun waktu 2004-2008, jumlah sekolah mengalami peningkatan sebanyak 6 unit, 167 unit pada tahun 2004 menjadi sebanya k 173 unit pada tahun 2008.
5.2.3 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Jombang
Angka IPM berkisar antara 0 hingga 100. Semakin mendekati 100, maka hal
tersebut merupakan indikasi
pembangunan manusia yang semakin baik.
Tabel 5.4
Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2004-2008
Sumber: Bappeda Kabupaten Jombang
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai IPM Kabupaten Jombang berada dalam kategori sedang atau menengah untuk nilai IPM antara 50-80.
5.3 Analisis dan Pembahasan
5.3.1 Perkembangan Realisasi Pendapatan Lima Tahun Terakhir
Pendapatan daerah selama tahun 2004-2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perkembangan realisasi pendapatan daerah selama tahun 2004-2008 adalah sebagai berikut:
Tabel 5.5
Realiasasi Pendapatan Tahun 2004-2008 (dalam jutaan rupiah)
N
371.178 395.006 554.336 627.909 710.778
3 Penerimaan
416.320 443.996 620.639 708.348 808.380
Sumber : BPKD Kabupaten Jombang
Pendapatan daerah Kabupaten
didominasi oleh pend Perimbangan yang prop setiap tahunnya sebesar
proporsi pendapatan
Perimbangan ini diseb kenaikan yang cukup penerimaan Dana Aloka dana Alokasi Khusus terut 2007.
Gambar 5.1
Sedangkan untuk penerim Asli Daerah proporsi setiap rata sebesar 10%, ter pendapatan retribusi daera
5.3.2 Perkembangan Re Lima Tahun Terakhir
Gambar 5.2
Berdasarkan analisis 2007, maka dari total b
Realisasi 416.3 444.0 620
-pendapatan Dana
proporsi rata- rata besar 83%. Tingginya
atan dari Dana
disebabkan adanya kup signifikan dari Alokasi Umum dan s terutama sejak tahun
bar 5.1
enerimaan Pendapatan si setiap tahunnya rata- , terutama berasal si daerah.
an Realisasi Belanja
bar 5.2
nalisis belanja tahun total belanja tersebut
sebesar 58,61 % merupakan be langsung, dimana di dalamnya belanja gaji pegawai yang m porsi sebesar 49,76 % dari tot dan bantuan untuk pemerin mengambil porsi 7,58 %. Dua je tidak langsung ini dalam lima
depan diperkirakan masi
mengambil porsi yang cukup be struktur belanja daerah.
5.3.3 BSC Aspek Finansial
Sesuai dengan yang dik dalam metode penelitian di a pengukuran BSC yang dilakuk penelitian ini menggunakan finansial. Perspektif ini melih dari sudut pandang penyedi daya dan ketercapaian target sebagaimana rencana organi
tertuang dalam RENSTRA
Pendidikan. Untuk mengetah keuangan, alat analisis rasio ad
teknik analisis untuk m
hubungan dari pos-pos terten neraca atau laporan keuangan individu atau kombinasi da laporan tersebut.
Rasio APBD per tahu prosentase adalah:
a) Rasio Penerimaan APBD
Tabel 5.6 Rasio Penerimaan AP
Thn Penerimaan APBD (Rp)
Total Penerim APBD (Rp
2004 416.319.775.326,13 2.997.682.515.4
2005 443.995.961.151,06 2.997.682.515.4
2006 620.639.218.516,82 2.997.682.515.4
2007 708.347.851.790,38 2.997.682.515.4
2008 808.379.708.662,45 2.997.682.515.4
b) Rasio Pengeluaran APBD
2007 2008 lamnya termasuk yang mengambil ari total belanja; pemerintah desa Dua jenis belanja m lima tahun ke
masih akan
up besar dalam
ng dikemukakan n di atas, maka dilakukan dalam nakan perspektif melihat kinerja enyedia sumber target keuangan organisasi yang
NSTRA Dinas
ngetahui kinerja asio adalah suatu
uk mengetahui
tertentu dalam
82.515.446,84 13,89
82.515.446,84 14,81
82.515.446,84 20,70
82.515.446,84 23,63
Tabel 5.7
Rasio Pengeluaran APBD
Thn Pengeluaran APBD (Rp)
Total Pengeluaran APBD (Rp)
Rasio (%)
2004 422.510.241.500,19 2.854.246.045.399,23 14,80 2005 412.229.228.404,57 2.854.246.045.399,23 14,44 2006 548.612.186.219,77 2.854.246.045.399,23 19,22 2007 635.050.179.177,29 2.854.246.045.399,23 22,25 2008 835.844.210.095,41 2.854.246.045.399,23 29,28
Nilai rasio di atas juga sebanding dengan rasio penerimaan dan pengeluaran
APBN dan APBD rata-rata di
Kabupaten/Kota lain di Indonesia pada
umumnya dan Jawa Timur pada
khususnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian di Indonesia. Misalnya saat krisis moneter tahun 2004-2005, hampir semua Kabupaten/Kota di
Indonesia mengalami penurunan
pendapatan APBD nya.
c) Rasio Pengeluaran APBD untuk
sektor pendidikan (penerimaan dana pendidikan)
Tabel 5.8
Rasio Pengeluaran APBD untuk Sektor Pendidikan
Pembangunan Sektor Pendidikan
!
Tabel 5.9
Rasio Penerimaan Dana Pembangunan Sektor Pendidikan
dapat diketahui bahwa sebenarnya
anggaran untuk pembangunan pendidikan yang diperoleh dari APBD rata-rata jumlahnya hanya berkisar antara 5 sampai 7%. Ini jauh dari ketentuan pemerintah pusat yang selalu menetapkan anggaran pendidikan lebih dari 20%.
e) Rasio Pengeluaran Dana Pendidikan
!
Tabel 5.10
Rasio Pengeluaran Dana Pendidikan
Th Pengeluaran Dana Pendidikan (Rp)
04 180.602.370.489,00 1.183.553.613.339,01 15,26
05 177.831.171.075,00 1.183.553.613.339,01 15,03
06 223.436.863.896,78 1.183.553.613.339,01 18,88
07 273.071.577.046,24 1.183.553.613.339,01 23,07
08 328.611.630.832,00 1.183.553.613.339,01 27,76
f) Rasio Pengeluaran Dana
Pembangunan Sektor Pendidikan
Tabel 5.11
Rasio Pengeluaran Dana Pembangunan Sektor Pendidikan
12,61 22.781.697.300 191.916.759.000 11,87
05
17,18 30.550.044.800 191.916.759.000 15,92
06
17,17 38.372.525.200 191.916.759.000 19,99
07
16,92 46.195.005.600 191.916.759.000 24,07
08
16,44 54.017.486.100 191.916.759.000 28,15
Melalui metode BSC aspek finansial,
program-program pembangunan
pendidikan selama lima tahun periode 2004-2008 dikatakan konsisten karena antara target dan realisasinya 100% terlaksana dengan baik yaitu melalui program: 1) pemerataan dan perluasan kesempatan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, 2) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, 3) peningkatan manajemen pendidikan. Disini diketahui bahwa:
Tabel 5.12
Rasio Dana Pembangunan Pendidikan tujuan pertama dari penelitian ini terjawab dimana sesuai hipotesa pertama yang
dikemukakan pada bab sebelumnya
bahwa Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah cenderung konsisten dengan
realisasi tata kelola anggaran
pembangunan di sektor pendidikan
pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008.
Pernyataan tersebut sesuai
(mendukung) dengan teori perencanaan pembangunan sektor pendidikan dan teori
perencanaan anggaran pembangunan
dimana perencanaan pembangunan harus disesuaikan dengan perencanaan anggaran
yang ada supaya program-program
pembangunan yang ada dapat terlaksana dengan baik.
5.3.4 Efisiensi
Efisiensi pengelolaan biaya
pendidikan Kabupaten Jombang per tahun dalam prosentase adalah:
"#
$
Efisiensi disini adalah
membandingkan antara input dan output. Input secara teori adalah realisasi belanja untuk memperoleh pendapatan, biaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah realisasi dana pendidikan (dana yang diperoleh dari APBD) sebelum digunakan untuk belanja kedinasan). Output secara teori adalah realisasi pendapatan, pendapatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah realisasi
pendapatan dana pendidikan yang
Tabel 5.13 Tingkat Efisiensi
Th
Realisasi Belanja Dana Pendidikan
04 180,602,370,489.00 184,513,555,184.00 97.88
05 177,831,171,075.00 196,231,047,998.00 90.62 06 223,436,863,896.78 242,207,982,543.93 92.25 07 273,071,577,046.24 296,835,463,720.66 91.99 08 328,611,630,832.00 343,034,182,800.00 95.80
Mengacu kepada metode penelitian
tersebut di atas tentang pedoman
penilaian dan kemampuan keuangan, maka kriteria pengelolaan keuangan daerah tersebut dikatakan cukup efisien, karena bernilai kurang dari 100%. Grafik berikut memperlihatkan perkembangan tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran Kabupaten Jombang selama 5 tahun (2004-2008).
Berdasarkan estimasi di atas
diketahui bahwa tingkat efisiensi
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dengan realisasi tata kelola anggaran
pembangunan di sektor pendidikan
pemerintah Kabupaten Jombang pada tahun 2004-2008 cenderung efisien.
Pernyataan tersebut sesuai
(mendukung) dengan teori efisiensi yang menyatakan bahwa efisiensi mempunyai pengertian yang berhubungan erat dengan
konsep produktivitas dimana
membandingkan antara rasio input dan output, dalam hal ini sektor pendidikan.
Efisiensi disini juga mendukung teori pembangunan ekonomi dimana dalam salah satu definisi pembangunan, tujuan
pembangunan ekonomi disamping
meningkatkan pendapatan nasional riil juga untuk meningkatkan produktivitas (sektor pendidikan).
Namun untuk melihat tujuan tata kelola anggaran pembangunan khususnya sektor pendidikan, efisiensi anggaran tidak
cukup, karena produk barang/jasa yang digunakan untuk social welfare harus diperhatikan juga efektivitasnya.
"# %
Efektivitas disisni adalah
membandingkan antara outcome dan output. Outcome secara teori adalah
realisasi pendapatan, dimana dalam
penelitian ini realisasi pendapatan adalah realisasi pendapatan dana pendidikan. Sedangkan output secara teori adalah
anggaran pendapatan, yang dalam
penelitian ini adalah anggaran pendapatan dana pendidikan. Dana pendidikan dalam penelitian ini adalah dana pendidikan yang teralokasi dari APBD.
Tabel 5.16
04 184,513,555,184.00 184,513,555,184.00 100 05 196,231,047,998.00 196,231,047,998.00 100 06 242,207,982,543.93 242,207,982,543.93 100 07 296,835,463,720.66 296,835,463,720.66 100 08 343,034,182,800.00 343,034,182,800.00 100
Efektivitas 100% berarti efektivitas
berimbang yang artinya adalah
ketercapaian outcomenya seimbang
dengan output yang ada. Angka disini tidak bersifat mutlak, yang lebih penting
adalah ketercapaian outcomenya.
Meskipun anggaran pembangunan sektor
pendidikan relatif kecil, Kabupaten
Jombang mampu melaksanakan tujuan
dari pembangunan suatu daerah
1. Kondisi sektor pendidikan menyangkut prasarana dan sarana pendidikan dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan sejumlah 84 lembaga. Jumlah TK negeri dan
swasta meningkat sebanyak 57
lembaga, sedangkan jumlah SD/MI
negeri dan swasta mengalami
penurunan sebanyak 5 lembaga dan jumlah SMP/MTs negeri dan swasta mengalami peningkatan sebanyak 18
lembaga. Sementara jumlah
SLTA/MA negeri dan swasta pada tahun 2007 meningkat sebanyak 14 lembaga.
2. Perkembangan pendidikan di Kabupa
ten Jombang sepanjang tahun 2004
sampai 2008 menunjukkan
perkembangan yang relatif stabil. Hal
ini dapat dilihat dari Angka
Partisipasi kasar (APK) untuk SD/MI
mencapai 104,21% dan APK
SMA/MA/SMK mencapai 86,59% di tahun 2008, APK untuk SMP/MTs sebesar 98,54% (prosentasenya di atas APK Jawa Timur yang hanya sebesar 92,13%) meningkat menjadi 101,58% di tahun 2008. Sedangkan Angka
mengindikasikan terjaganya
pemerataan dan perluasan
kesempatan belajar.
3. Angka putus sekolah yang dihitung berdasarkan angka (jumlah siswa) putus sekolah per 1.000 siswa pada setiap jenjang pendidikan sampai pada tahun 2008 untuk SD/ MI sebesar 0,09%, SMP/ MTs sebesar 0,40, serta SMA/ MA/ SMK sebesar 0,87%.
4. Indeks Pembangunan Manusia
68,40% di tahun 2004 meningkat 69,99% di tahun 2006 dan di tahun
2008 mencapai 72,32%, dengan
didominasi oleh indeks pendidikan yang nilainya di atas 73% dibanding indeks kesehatan dan indeks daya beli.
Sesuai hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi kekonsistensian antara anggaran yang tertuang dalam
APBD dengan anggaran yang
direncanakan dan yang direalisasikan untuk pembangunan sektor pendidikan. Dimana program pembangunan yang direncanakan dalam RENSTRA dinas pendidikan disesuaikan dengan alokasi anggaran dari APBD. Namun di sisi lain, dari hasil penelitian tersebut pemerintah Kabupaten Jombang ternyata memiliki tata kelola anggaran yang kurang baik, hal ini dapat dilihat dari perbandingan rasio metode BSC aspek financial bahwa antara yang dianggarkan dan realisasi sama, dengan tingkat rasio 100%. Kondisi ini menjelaskan bahwa dalam pengggarannya masih menggunakan cara lama yang terpetak-petak dengan sistem anggaran
yang sudah ada di tahun-tahun
sebelumnya. Jadi dalam merencanakan
program pembangunan pendidikan,
mengacu pada program-program
pembangunan yang belum terlaksana di tahun sebelumnya. Namun kembali pada keterbatasan anggaran yang teralokasi dari APBD. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan prinsip partisipasi masyarakat yang dalam teori nya menyatakan bahwa arti penting partisipasi terletak pada fungsi dan manfaatnya. Fungsi partisipasi adalah sebagai sarana untuk menampilkan
keseimbangan kekuasaan antara
masyarakat dan pemerintah sehingga kepentingan dan pengetahuan masyarakat
dapat terserap dalam agenda
pemerintahan. Sedangkan manfaat