• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laplitian Tata Kelola Kepeminpinan dan B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laplitian Tata Kelola Kepeminpinan dan B"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI

DALAM MENURUNKAN KEMATIAN IBU

DI PROVINSI NTT SELAMA TAHUN 2009-2015

Asnawi Abdullah

Ignatius Henyo Kerong

Anung Sugihantono

(2)

DAFTAR ISI

1 Executive Summary ...7

1.1 Purpose of the Assignment ...9

1.2 Achievement against TOR ...9

1.3 Implementation issues ...9

1.4 Significant findings ... 10

1.5 Recommendations ... 10

2 Introduction ... 11

2.1 Context ... 12

2.2 Tujuan Penelitian ... 13

3 Methods ... 14

3.1 Research Design ... 14

3.2 Variables and Measurement ... 14

3.3 Population and Sample ... 15

3.4 Photo Peta Lokasi Penelitian dan Trend Kematian Ibu ... 15

3.5 Data Analysis ... 16

3.6 Research Team ... 16

4 Results ... 17

4.1 Tata Kelola Organisasi ... 17

4.1.1 Organisasi Formal ... 17

4.1.1.1 Perubahan Pimpinan ... 17

4.1.2 Organisasi Informal ... 18

4.1.2.1 Unit Pemantauan Ibu Hamil ... 21

4.1.2.2 Photo Jejaring 2H2 ... 21

4.1.2.3 Pekan Keselamatan Ibu dan Anak (PKIA) ... 21

4.1.2.4 Photo Snap-shot Kegiatan PKIA ... 22

4.1.2.5 Manajemen Pengendalian Persalinan dari Desa (MP2D) ... 22

4.1.3 Kepemimpinan Formal ... 22

4.1.3.1 Kepemimpinan Dinas Kesehatan ... 23

4.1.3.2 Kepemimpinan Puskesmas ... 23

4.1.3.3 Kepemimpinan Bappeda ... 24

4.1.4 Kepemimpinan Informal ... 24

4.1.4.1 Kepemimpinan PKK ... 24

4.1.4.2 Formulir Sederhana Pemantauan Bayi ... 25

(3)

4.2 Budaya Organisasi ... 26

4.2.1 Budaya Organisasi Dinas Kesehatan ... 26

4.2.2 Budaya Organisasi per Dimensi ... 27

5 Conclusion and Recommendation ... 30

Annexes

Annex 1: Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi NTT

Annex 2: Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kab. Kupang

Annex 3: Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kab. Flotim

Annex 3: Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kab. Ngada

Annex 4: Kuesioner Penilaian Budaya Organisasi

Tables, Grafik, Gambar dan Photo

Table 1: Karakteristik Market Culture

Table 2: Karakteristik Family/Clan Culture

Table 3: Karakteristik Adhocracy Culture

Table 4: Karakteristik Hierarchy Culture

Table 5: Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi per Dimensi

Table 6: Perbandingkan Dimensi Budaya Organisasi Dinas Kesehatan

Grafik 1: Trend Kematian Ibu per Kabupaten di Provinsi NTT selama 2009-2014

Grafik 2: Profil Budaya Organisasi Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Prov NTT

Gambar 1: Peta Provinsi NTT dan Lokasi Penelitian

Gambar 2: Stuktur Organisasi (Formal) & Perubahan Pimpinan di Jajaran Dinas Kesehatan

(selama 2009-2015)

Gambar 3: Perubahan Pimpinan Puskesmas (selama 2009-2015)

Photo Snap-shot Kegiatan PKIA

Photo Jejaring 2H2

(4)

Abbreviations

2H2 2 hari sebelum dan setelah melahirkan

AIPHSS Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening

AIPMNH Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health

APM Audit Maternal Perinatal

BBLR Berat Badan Lahir Rendah

BOK Bantuan Operasional Kesehatan

BPKD Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah

BPP Badan Penyantun Puskesmas

BULD Badan Layanan Umum Daerah

DFAT Department of Foreign Affairs and Trade

Flotim Flores Timur

Kab Kabupaten

KIA Kesehatan Ibu dan Anak

KIBLA Kesehatan Ibu dan dan Bayi Baru Lahir

MP2D Manajemen Pengendalian Persalinan dari Desa (MP2D).

Musrenbangdes Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa

NTT Nusa Tenggara Timur

OCAI Organizational Culture Assessment Instrument

P4K Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi

Perdes Peraturan Desa

PKIA Pekan Keselamatan Ibu dan Anak

PKK Pembinaan Kesejahteraan Keluarga

PML Performance Management Leadership

PONED Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar

PONEK Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial / Emergensi Komperhensif.

RSUD Rumah Sakit Umum Daerah

(5)

Acknowledgement

Kegiatan penelitian tata kelola, kepemimpinan dan budaya organiasi dalam menurunkan

kematian ibu di Provinsi NTT selama tahun 2009-2015 ini didanai oleh Pemerintah Australia

(DFAT) melalui program Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening

(AIPHSS).

Terimakasih kepada pimpinan dan staf:

Dinas Kesehatan & Bappeda Provinsi NTT;

Dinas Kesehatan & Bappeda Kabupaten Kupang;

Dinas Kesehatan & Bappeda Kabupaten Flores Timur;

Dinas Kesehatan & Bappeda Kabupaten Ngada;

Puskesmas Oesao;

Puskesmas Tarus;

Puskesmas Oekabiti;

Puskesmas Waiwadan;

Puskesmas Waimana;

Puskesmas Lewolaga;

Puskesmas Riung;

Puskesmas Waipana; dan

(6)

Lembar Persetujuan

LAPORAN PENELITIAN

TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI

DALAM MENURUNKAN KEMATIAN IBU

DI PROVINSI NTT SELAMA 2009-2015

Telah disetujui,

Direktur Jenderal Binkesmas

Kementerian Kesehatan R.I.

dr. Anung Sugihantono, M.Kes

Pembina Utama / IV E

NIP. 196003201985021002

Telah di review pada tanggal

……

Mei 2016 oleh:

(7)

1 Executive Summary

Latar Belakang: Program Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health

(AIPMNH) telah berkontribusi dalam menurunkan jumlah kematian ibu di Provinsi NTT

khususnya di 14 Kabupaten sekitar 42% dari 266 kasus kematian pada tahun 2009 menjadi 154

pada tahun 2014. Hasil ecological study menggunakan time-series analisis data F1-F8 tingkat

kabupaten selama periode 2009-2014, menunjukkan bahwa penurunan kematian ibu di Prov

NTT erat kaitannya dengan: 1) peningkatan cakupan persalinan di fasilitas kesehatan (P value

0.0001), 2) peningkatan rasio bidan di desa (P value 0.001) dan 3) peningkatan rasio

Puskesmas yang didukung oleh program (P value 0.035). Namun demikian, variabel penting

lainnya seperti tata kelola (governance), kepemimpinan pemangku kepentingan (terutama

Dinas Kesehatan) di daerah dan budaya organisasi (organizational culture) belum sepenuhnya

dikaji dan diteliti. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara penurunan kematian

ibu di Provinsi NTT dengan tata kelola, kepemimpinan dan budaya organisasi. Apakah

penurunan kematian ibu di Provinsi NTT dibeberapa Kabupaten selama ini ada kaitannya

dengan tata kelola organisasi (baik formal maupun informal), kepemimpinan yang kuat dan

budaya organisasi yang mendukung upaya penurunan kematian ibu.

Metode: Kajian ini menggunakan retrospective research design. Outcome variabel adalah

jumlah kematian ibu selama periode tahun 2009-2015 yang selama ini telah dikumpulkan dan

divalidasi oleh data manager program AIPMNH. Sedangkan variabel independen: tata kelola,

kepemimpinan dan budaya organisasi, dikumpulkan pada saat dilakukan penelitian. Tata kelola

organisasi formal formal (Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten dan

Puskesmas) dikumpulkan menggunakan form matrik pengumpulan data. Perubahan pimpinan

selama 2009-2015 diindentifikasi. Data kepemimpinan dan budaya organisasi Dinas Kesehatan

dan Puskesmas dikumpulkan menggunakan in-depth-interview dan standar kuesioner

Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI). Kriteria inklusi responden miminal telah

memiliki masa kerja dua tahun. Pengisian keusioner di pandu oleh dua orang peneliti (AA dan

HK). Triangulasi variabel kemimpinan dilakukan dengan Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda

(Provinsi dan Kabupaten). Penelitian dilakukan di tiga Kabupaten yang memiliki tren penurunan

kematian ibu secara konsisten selama tahun 2009-2014 yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten

Flores Timur, dan Kabupaten Ngada. Tiap kabupaten, tiga Puskesmas diambil secara random.

Penelitian dilakukan selama dua minggu dengan rata-rata 2-3 hari per Kabupaten.

Hasil Penelitian: Secara umum, selama periode 2009-2015, struktur organisasi Dinas

(8)

dengan range periode kepemimpinan 4 sampai 7 tahun. Periode Kadinkes Flotim mencapai 6

tahun, Kadinkes Provinsi dan Dinkes Kab Kupang mencapai 6 tahun. Suatu periode yang relatif

cukup lama untuk menjalankan berbagai program dan stretegi penurunan kematian ibu di

masing-masing wilayah administratifnya. Suatu periode yang memungkinkan pimpinan memiliki

waktu yang cukup untuk melaksanakan kebijakannya dan mendorong lahirkanya berbagai

organisasi informal (ad-hoc) yang bersifat fungsional disemua level pemerintahan desa.

Organisasi-organisasi informal seperti 2H2 Center, PKIA, MP2D, Paroki Siaga lahir dan

dibentuk sesuai dengan situasi dan kondisi daerah sebagai bentuk inovasi daerah dalam

merespon kegalauan mereka dengan masih tingginya kematian ibu daerahnya.

Pimpinan Dinas Kesehatan baik di Provinsi, maupun di Kabupaten sangat visioner,

kepemimpinannya dipersepsikan sangat kuat (strong leadership), dan sangat

target-oriented, berupaya dan berkeinginan keras (hard driver) untuk menurunkan kematian ibu dan

neonatal di wilayahnya. Gaya kepemimpinan tersebut bahkan sangat terasa sampai ke

Puskesmas.

Peran kepemimpinan informal juga sangat terasa, mulai dari PKK, Tokoh Gereja, Mentor,

Badan Penyantun Kesehatan/Puskesmas, semuanya mereka mengambil peran yang cukup

besar dalam upaya penurunan kematian ibu di daerahnya.

Budaya organisasi, “market culture” atau result- atau target-oriented culture sangat terasa; umumnya mereka perasaan bersalah, bila tidak bisa mencapai target yang telah ditentukan.

Selain market culture, family/clan culture juga sangat terasa, terutama di Dinas Kesehatan

Kabupaten Ngada. Suasana kekeluargaan, keakraban cukup dominan dan terasa sampai

dilingkungan Puskesmas.

Kesimpulan: Kerberhasilan penurunan kematian ibu secara konsisten di tiga kabupaten

penelitian didukung oleh kepemimpinan yang cukup kuat (strong leadership) dengan periode

waktu kepemimpinan yang cukup memungkinkan untuk melaksanakan kebijakan yang telah

digagas dan menciptakan budaya organisasi target-oriented culture dan inovatif dalam

menggerakkan keterlibatan organisasi informal dan masyarakat untuk mengambil peran aktif

(9)

1.1 Purpose of the Assignment

Secara umum, kajian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata-kelola, kepemimpinan

dan budaya organisasi selama pelaksanaan program AIPMNH di NTT pada tahun 2009-2015

dan keterkaitannya dengan pencapaian sasaran program akhir (end of program outcome) dari

program AIPMNH (i.e. penurunan kematian ibu).

1.2 Achievement against TOR

Merujuk kepada TOR/Contract, kajian ini diharapkan menghasilkan tigat output utama,

mencakup:

1. identifikasi perubahan yang terjadi dalam bidang tata laksana/struktur pemerintahan dalam

kurun waktu 2009-2015 dan keterkaitannya dengan dalam mencapai sasaran program akhir

dalam hal ini penurunan angka kematian ibu di NTT;

2. identifikasi perubahan key personel pada pemangku kebijakan dalam kurun waktu

2009-2015 dan keterkaitannya dengan dalam mencapai sasaran program akhir dalam hal ini

penurunan angka kematian ibu di NTT; dan

3. pemetaan perubahan budaya organisasi pemerintahan dalam kurun waktu 2009-2015 dan

keterkaitannya dengan dalam mencapai sasaran program akhir dalam hal ini penurunan

angka kematian ibu di NTT.

1.3 Implementation issues

Tantangan utama penelitian ini adalah bagaimana menyelesaikan tiga tujuan penelitian dalam

waktu yang relatif singkat (2-3 hari per Kabupaten) dengan responden/key informan dari

beberapa instansi terkait: Dinas Kesehatan, Bappeda dan Puskesmas. Isu geografis akses ke

lokasi. Misalnya, untuk menuju ke Puskesmas Riung itu memerlukan waktu tempuh 6 jam

pulang pergi dari ibu kota Kabupaten. Di dalam TOR, unit analisis mencakup beberapa

stakeholder lain, namun hasil diskusi dengan Dirjen Binkesmas dan Dinas Kesehatan Provinsi,

unit analysis di fokuskan pada key-stakeholder, yaitu Dinas Kesehatan dan Puskesmas; dan

triangulasi dengan Bappeda.

Kunci keberhasilan penelitian, dua peneliti AA dan HK cukup memahami program AIPMNH. HK

terlibat sejak awal projek, mulai sebagai District Program Coordinator (DPC) sampai menjabat

dengan Program Manajer AIPMNH. HK juga sangat familiar dan hubungan baik dengan

(10)

pengumpulan data. AA juga terlibat dalam program AIPMNH sebagai Research Adviser selama

empat tahun. Pengalaman ini cukup membantu interpretasi dan analisis data penelitian.

1.4 Significant findings

Penelitian ini memperkuat asumsi bahwa kerberhasilan penurunan kematian ibu di Provinsi

NTT sangat dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan yang kuat, target-oriented dan inovatif

dalam memobilisasi organisasi informal dan keterlibatan aktif masyarakat; kepemimpinan yang

mampu membangun kepercayaan dan dukungan stakeholder yang meluas sehingga program

kesehatan ibu dan anak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan kehidupan

masyarakat sehari-hari. Integrasi program kedalam budaya dan tatanan masyarakat setempat

sangat menentukan sense of belonging masyarakat dan keberlanjutan suatu program. Dengan

pendekan tersebut, beberapa program yang dilaksanakan di wilayah penelitian seperti Pekan

Keselamatan Ibu dan Anak (PKIA), Paroki Siaga dan MP2D yang diterima dengan baik oleh

masyarakat, dan telah manjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

1.5 Recommendations

Integrasi upaya-upaya penurunan kematian ibu ke dalam tatanan kehidupan dan budaya

masyarakat setempat perlu menjadi perhatian utama pelaksanaan kebijakan kesehatan ibu dan

anak dimasa mendatang. Adopsi program seperti 2H2 center ke daerah lain, belum tentu

berhasil dengan baik, tanpa mengintegrasikan program tersebut ke dalam tatanan sosial

budaya masyarakat setempat. Setiap daerah mempunyai keunikan dan karakteristik tersediri,

indentifikasi, pemahaman dan integrasikan budaya ke dalam program kesehatan ibu dan anak

menjadi sesuatu kenisyaan.

Hasil kajian ini perlu diseminasi tidak hanya ke dalam laporan kegiatan, namun perlu di

format ulang menjadi manuscript untuk publikasi jurnal.

Sampel kajian ini perlu diperluas, tidak hanya di kabupaten yang menujukkan penurunan

angka kematian yang konsisten selama tahun 2009-2015, namun juga mencakup beberapa

kabupaten lain yang memiliki trend yang berbeda sehingga memungkinkan dilakukan analisis

perbandingan.

(11)

2 Introduction

Program Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (AIPMNH) bekerja di

Provinsi NTT sejak tahun 2009 sampai tahun 2015 (6 tahun), terutama di 14 Kabupaten/Kota.

Dengan konsep kemitraan dengan pemerintah pusat, daerah dan pemangku kepentingan

lainnya, pendekatan supply dan demand side, serta mendukung berbagai inisiatif dan inovasi

pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat

kabupaten/kota, AIPMNH telah berkontribusi dalam menurunkan jumlah kematian ibu sekitar

42% dari 266 kasus kematian pada tahun 2009 menjadi 154 pada tahun 2014.

Hasil ecological study menggunakan time-series analisis terhadap data F1-F8 tingkat

kabupaten selama periode 2009-2014, menunjukkan bahwa penurunan kematian ibu di Provinsi

NTT tersebut erat kaitannya dengan: 1) peningkatan cakupan persalinan di fasilitas kesehatan

(P value 0.0001), 2) peningkatan ratio bidan per desa (P value 0.001); dan 3) peningkatan rasio

Puskesmas yang didukung oleh program - pendampingan (P value 0.035). Namun demikian,

variabel penting lainnya seperti tata kelola (governance), kepemimpinan pemangku

kepentingan (key-stakeholder) di daerah dan budaya organisasi (organizational culture) belum

sepenuhnya dikaji. Variabel-variabel ini dihipotesiskan juga cukup berperan dalam peningkatan

performance system kesehatan di suatu daerah (Siddiqi et al., 2009) termasuk penurunan

kematian ibu di Provinsi NTT. Governance system itu bisa berkaitan dengan inovasi-inovasi

yang diperkenalkan oleh pemerintah daerah (Dodgson R. et al., 2002; World Health

Organization, 2000), termasuk kapasitas organisasi baik organisasi formal maupun organisasi

informal yang membentuk perilaku dan budaya organisasi dan budaya masyarakat yang

mendukung upaya penurunan kematian ibu (North, 1990).

Walaupun program AIPMNH secara resmi telah berakhir pada Desember 2015, Kementerian

Kesehatan memandang perlu untuk dilakukan sebuah kajian/telaah tambahan khususnya

dalam bidang tata laksana pemerintahaan dan perubahan kepemimpinan yang terjadi selama

periode 2009-2015. Apakah faktor governance, leadership dan budaya organisasi juga

berperan dalam penurunan kematian ibu di Provinsi NTT.

Kajian mengenai hubungan antara tata kelola, kepemimpinan, budaya organisasi dan outcome

program (i.e. kematian ibu) belum banyak dilakukan, terutama pada level kabupaten/kota.

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara penurunan kematian ibu di Provinsi NTT

dengan tata kelola, kepemimpinan dan budaya organisasi selain intervensi program yang

dilakukan oleh oleh program Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health

(AIPMNH). Dengan perkataan lain, apakah penurunan kematian ibu di Provinsi NTT ada

(12)

kepemimpinan yang kuat dan budaya organisasi yang mendukung upaya penurunan kematian

ibu.

2.1 Context

NTT merupakan salah satu provinsi dengan angka kematian ibu dan kematian bayi yang relatif

cukup tinggi dibandingkan dengan 34 provinsi lainnya di Indonesia. Angka kematian bayi

diestimasi sebesar 45/1000 (nasional 34/1000) selama periode 2007-2012 (DHS 2012). Di

periode yang sama, angka kematian neonatal di estimasikan mencapai 26/1000 (national

20/1000). Angka kemiskinan di Provinsi ini juga relatif tinggi mencapai 20.4% in 2012 (urutan

ketiga tertinggi di Indonesia) dan index pembangunan manusia (human development index)

juga relatif rendah (68.8, urutan ke tiga terendah).

Sejak satu dekade belakangan, NTT telah menjadi prioritas pembangunan dan bantuan,

temasuk bantuan dari pemerintah Australia. Pada tahun 2009, program kemitraan pemerintah

Australia dan Indonesia dalam upaya menurunkan kematian ibu dan neonatal di NTT di

canangkan melalui program AIPMNH. Pada awalnya, program AIPMNH di fokuskan pada

upaya menurunkan kematian ibu dan bayi sesuai dengan kebijakan MPS dan mendukung

sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program kesehatan ibu dan anak yang lebih

efektif di tingkat kabupaten/kota. Awalnya program AIPMNH hanya di tiga kabupaten/kota

kemudian diperluas mencapai 14 kabupaten/kota pada tahun 2010 dan terus mendukung ke 14

kabupaten ini sampai tahun 2014. Sesuai dengan rekomendasi midterm review 2010, AIPMNH

kemudian lebih difokuskan pada dukungan terhadap strategi-strategi inovatif yang di gagas oleh

kabupaten/kota dalam upaya menurunkan kematian ibu dan anak bayi dan program di fokuskan

baik dari demand maupun supply side.

Secara umum, program AIPMNH di fokuskan pada tiga komponen utama: 1). pelayanan klinis

dan peran serta masyarakat; 2) penguatan sistem kesehatan; dan 3) reformasi sistem kinerja

dan akuntabilitas (informasi detail dapat di akses di http://www.aipmnh.org/. Penguatan

pelayanan klinis difokuskan kepada upaya penguatan sistem rujukan terpadu bagi ibu dan bayi,

mengembangkan program sister hospital, penguatan sistem puskesmas PONED, pelatihan

instruktur klinis (clinical instructor) dan program magang, penguatan mekanisme supervisi

fasilitatif, evaluasi paska pelatihan. Sedangkan penguatan peran serta masyarakat dilakukan

melalui puskesmas reformasi, desa siaga KIA, perencanaan desa, revitalisasi posyandu dan

rumah tunggu. Program penguatan sistem kesehatan daerah dilakukan melalui PML RSUD – mencakup perubahan status rumah sakit menjadi BLUD, akreditasi Puskesmas dan Rumah

Sakit, managemen aset, renovasi dan konstruksi Puskesmas dan Rumah sakit, penguatan

fasilitas air bersih, mendukung pembangunan rumah tunggu dan membantu peralatan PONED

(13)

melalui pelatihan e-procurement, website, menfasilitasi mentor BOK, pengembangan Unit

Pengelola Kemitraan (UPK) di Bappeda, membantu perumusan kebijakan dan peraturan yang

mendukung program KIA serta memfasilitasi kegiatan penelitian dan dokumentasi menyangkut

dengan kesehatan ibu dan anak.

Performance review program AIPMNH dilakukan 23 Novermber 2015 menyajikan beberbagai

pencapaian dan tantangan. Salah satu pencapaian program program kemitraan AIPMNH

adalah berhasilnya menurunkan jumlah kematian ibu secara bermakna (sekitar 42%), namun

penurunan jumlah kematian neonatal belum mencapai target yang diharapkan. Analisis

penyebab kematian neonatal dilakukan dan beberapa risk factor didokumentasikan untuk

tindaklanjuti dimasa mendatang. Dokuementasi dan pencapaian lainnya dapat baca di web

AIPMNH http://aipmnh.org/web_en/ dan publikasi journal (Abdullah et al., 2016).

2.2 Tujuan Penelitian

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata-kelola, kepemimpinan dan budaya

organisasi selama pelaksanaan program AIPMNH di NTT pada tahun 2009-2015 dan

keterkaitannya dengan pencapaian sasaran program akhir (end of program outcome) dari

program AIPMNH (i.e. penurunan kematian ibu).

Secara khusus, kajian ini mempunyai empat tujuan:

1) mengkaji struktur tata kelola organisasi (i.e. Dinas Kesehatan dan organisasi informal)

selama periode tahun 2009-2015;

2) mengkaji kepemimpinan Dinas Kesehatan dan Puskesmas selama tahun 2009-2015;

3) mengkaji budaya organisasi Dinas Kesehatan dan Puskesmas selama tahun 2009-2015;

dan

4) menganalisis keterkaitan antara tata kelola, kepemimpinan dan budaya organisasi dengan

(14)

3 Methods

3.1 Research Design

Penelitian ini menggunakan retrospective study design. Pada saat penelitian ini dilakukan,

variabel outcome penelitian telah ada, telah dikumpulkan selama ini (selama program AIPMNH

tahun 2009-2015). Sedangkan prediktor outcome variabel dikumpulkan secara retrospective

pada saat penelitian dilakukan pada tahun 2016.

3.2 Variables and Measurement

Outcome variabel adalah jumlah kematian ibu selama periode tahun 2009-2015 yang selama ini

dikumpulkan dan divalidasi oleh data manager program AIPMNH. Data kematian dikumpulkan

tidak hanya jumlah kematian per puskesmas namun by name by address untuk meningkatkan

validasi data dan menghindari double counting pelaporan data kematian terutama data yang

dilaporkan oleh Puskesmas dan Rumah Sakit. Sedangkan variabel independen tata kelola,

kepemimpinan dan budaya organisasi dikumpulkan pada saat kunjungan lapangan penelitian

ini. Tata kelola organisasi formal formal (Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan

Kabupaten dan Puskesmas) dikumpulkan menggunakan form matrik pengumpulan data. Data

Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kasubag Perencanaan, Kasie Kesehatan Ibu dan

Anak (KIA) dan seluruh kepala Puskesmas selama tahun 2009-2015 diindentifikasi, periode

masa jabatan dan perubahannya dicatat untuk dianalisis.

Data kepemimpinan dan budaya organisasi Dinas Kesehatan dan Puskesmas dikumpulkan

menggunakan in-depth-interview dan standar kuesioner Organizational Culture Assessment

Instrument (OCAI). Kuesioner mencakup enam komponen: dominant characteristics;

organizational leadership; management of employees, organizational glue, strategic emphases

dan criteria of sucsess. Kuesioner terlampir (Annex 5). Setiap partisipan dimintakan

mendistribusikan 100 poin kepada empat pilihan tipe budaya organisasi, mulai dari yang sangat

dominan – alternatif pilihan yang sangat sesuai dengan kondisi yang dialami oleh partisipan selama bekerja di Dinas Kesehatan atau Puskesmas. Kriteria inklusi partisipan untuk

memberikan penilaian budaya organisasi miminal telah memiliki masa kerja dua tahun.

Pengisian keusioner di pandu oleh dua orang peneliti (AA dan HK). Triangulasi variabel

kemimpinan dilakukan dengan kepala bidang di Bappeda yang membawahi aspek sosial

(15)

3.3 Population and Sample

Kabupaten yang dipilih adalah kabupaten yang menunjukkan penurunan kematian ibu secara

konsisten selama tahun 2009-2014. Tiga kabupaten (Kupang, Flotim dan Ngada) memenuhi

memenuhi kriteria tersebut dan diambil sebagai sampel penelitian. Setiap kabupaten, tiga

Puskesmas diambil sebagai sampel. Puskesmas pertama di ambil secara random, kemudian

dua Puskesmas lainya dipilih berdasarkan geogarfis terdekat dengan puskesmas random.

3.4 Photo Peta Lokasi Penelitian dan Trend

Kematian Ibu

Gambar 1: Peta Provinsi NTT dan Lokasi Penelitian (Merah)

(16)

3.5 Data Analysis

Kajian ini menggunakan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif, mengekplorasi dan

kuantifikasi perubahan tiga variabel utama penelitian: 1) tata-laksana; 2) kepemimpinan; 3) dan

budaya organisasi. Perubahan tatalaksana menggunakan analisis matrik perubahan; variabel

kepemimpinan menggunakan analisis kualitatif; dan budaya organisasi menggunakan

competing value framework yang dikembangkan oleh Cameron dan Quinn (Cameron & Quinn,

2006) menggunakan empat kuadran: internal dan integration vs external focus dan

differentiation; stability dan control vs flexibility dan discretion dengan menggambarkan empat

budaya organisasi: clan/family culture, adhocracy culture, market culture dan hierarchy culture.

3.6 Research Team

Ide awal penelitian ini berasal dari dan pemikiran dr Anung Sugihantono, M.Kes (Direktur

Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI) dan ide ini mengemuka pada saat

presentasi performance review committee, 23 November 2015. Ide tersebut kemudian

dikembangkan oleh saudara Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, MSc.HPPF, DLSHTM, Ph.D dan

bertindak sebagai konsultan/peneliti. Penelitian lapangan dilakukan bersama dengan dr.

(17)

4 Results

4.1 Tata Kelola Organisasi

4.1.1 Organisasi Formal

Secara umum, struktur formal organisasi pemerintah daerah baik di provinsi maupun di

kabupaten tidak mengalami perubahan selama lima tahun terakhir ini. Struktur organisasi Dinas

Kesehatan dibentuk berdasarkan Perda masing-masing daerah mengacu pada Peraturan

Pemerintah (PP) No 41 Tahun 2007, tentang pedoman Organisasi Perangkat Daerah. Variasi

diantara kabupaten/kota hanya pada nomenklatur bidan dan seksi, tidak pada jumlah bidang

dan seksi. Misalnya, di Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Bidang Sumber Daya Manusia

(SDM) dibawah koordinasi Bidang Yankes; sementara di Dinkes Provinsi, SDM merupakan

bidang tersendiri. Perbedaan nomenklatur di bidang Farmasi. Di Dinkes Provinsi berada

dibawah koordinasi Bidang Yanmed, sedangkan di Dinkes Kab Kupang, kefarmasian dibawah

koordinasi bidang Farmasi, Sarana dan Prasarana.

4.1.1.1 Perubahan Pimpinan

4.1.1.1.1 Pimpinan Dinas Kesehatan

Gambar 2 memperlihatkan peta perubahan pimpinan (Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang,

Kasie KIA dan Perencanaan) Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten

selama 7 tahun dari 2009 sampai 2015. Secara umum, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes)

tidak banyak mengalami perubahan; selama periode 2009-2015 rata-rata Dinas Kesehatan

dipimpin oleh 1-2 orang Kepala Dinas dengan periode kepemimpinan rata-rata 4 sampai 7

tahun. Di Flotim, periode Kadinkes mencapai 7 tahun. Untuk Dinkes Provinsi dan Dinkes Kab

Kupang, periode kepemimpinan masing-masing mencapai 6 tahun. Suatu periode yang relatif

cukup lama untuk menjalankan berbagai program dan stretegi penurunan kematian ibu di

masing-masing wilayah administratifnya (lihat kotak kebijakan menyangkut kesehatan ibu dan

anak). Suatu periode yang memungkinkan pimpinan memiliki waktu yang cukup untuk

melaksanakan kebijakannya dan mendorong jajaranya untuk terus melaksanakan strategi

penurunan kematian Ibu dan anak secara konsisten. Sedangkan periode Kepala Bidang/Kepala

Seksi secara umum relatif lebih singkat. Selama periode 2009-2015, rata-rata di pimpinan oleh

1-3 orang, dengan periode relatif bervariasi. Umumnya, terjadi pengantian atau rotasi Kepala

(18)

4.1.1.1.2 Box: Driving Factor Kebijakan Pemerintah Daerah tenang KIA

4.1.1.1.3 Pimpinan Puskesmas

Gambar 3 memperlihatkan peta perubahan pimpinan Puskesmas selama tahun 2009-2015.

Selama periode tersebut, Puskesmas rata-rata di pimpin oleh satu sampai tiga orang. Beberapa

Puskesmas, periode Kepala Puskesmas mencapai 7 tahun, umumnya terlihat di Kabupaten

Ngada. Secara umum juga terlihat, perubahan pimpinan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten

juga diikuti dengan perubahan beberapa pimpinan Puskesmas. Di Kabupaten Kupang, 73%

Kepala Puskesmas diganti/dirotasi setelah terjadi pengantian Kepala Dinas Kesehatan.

Kabupaten Flotim, proses rotasi dan penggantian Kepala Bidang/Seksi terjadi pada tahun 2014

yang kemudian diikuti dengan pergantian/rotasi sekitar 45% kepala Puskesmas. Sedangkan di

Kabupaten Ngada, pergantian pimpinan Dinas Kesehatan (Kepala Dinas, Kepala

Bidang/Seksi), tidak serta merta diikuti dengan pergantian/rotasi kepala Puskesmas.

4.1.2 Organisasi Informal

Selama lima tahun terakhir telah terbentuk beberapa organisasi informal (ad-hoc) yang bersifat

fungsional disemua level pemerintahan sampai ke level desa. Organisasi-organisasi informal ini

dibentuk sesuai dengan situasi dan kondisi daerah sebagai bentuk inovasi daerah dalam upaya

menurunkan kematian ibu dan anak. Organisasi-organisasi informal tersebut diuraikan secara

ringkas berikut ini.

.

(19)

Gambar 2: Stuktur Organisasi (Formal) & Perubahan Pimpinan di Jajaran Dinas Kesehatan (selama 2009-2015)

1. Dinas Kesehatan Provinsi NTT

2. Dinkes Kab. Kupang

3. Dinkes Kab. Flotim 4. Dinkes Kab. Ngada

*Kabid Pel. Medik/SDM *Kabid SDM /PSM *Kabid SDM /PSM ** Kabid Farmasi

Keterangan Warna:

Sekarang (1st)

Sebelumnya (2nd)

Sebelumnya (3nd)

(20)
(21)

4.1.2.1 Unit Pemantauan Ibu Hamil

Disemua kabupaten/kota di Provinsi NTT memiliki unit pemantauan ibu hamil dengan variasi nama

yang berbeda. Di Kabupaten Flotim, unit pemantauan ibu hamil bernama 2H2 Center. 2H2 Center ini

merupakan pengembangan sistem surveillance KIA yang ada selama ini, dengan lebih fokus pada

monitoring ibu hamil dua hari sebelum dan dua hari setelah melahirkan. 2H2 Center memanfaatkan

teknolgi sistem SMS yang menghubungkan berbagai no Hp key-stakeholder di desa, kecamatan,

dinas kesehatan kabupaten dan rumah sakit dalam waktu yang bersamaan (Gambar X: Peta Wilayah

Kerja 2H2). Unit ini dikembangkan pada tahun 2011 di Kab Flotim, kemudian di adopsi oleh

kabupaten/kota lainnya. Misalnya di Kabupaten Kupang, unit pemantauan bernama 7H2 (7 hari

sebelum dan 2 hari setelah melahirkan). Informasi detail mengenai 2H2 Center dapat dibaca di Modul

2H2 Center (Yosep et al., 2012)

4.1.2.2 Photo Jejaring 2H2

Sumber: Dinas Kesehatan Flotim

4.1.2.3 Pekan Keselamatan Ibu dan Anak (PKIA)

PKIA merupakan gerakan moral dan teknis untuk melibatkan semua komponen masyarakat

(community mobilization) untuk meningkatkan kepedulian masyarakat kepada ibu hamil, ibu

melahirkan dan bayi baru lahir. Kegiatan ini merupkan bagian yang tidak terpisahkan dari 2H2 Center;

bahkan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan 2H2 Center. Gerakan ini dilakukan selama

seminggu penuh setiap tahun dan dilakukan secara serentak di seluruh kecamatan. Kegiatan PKIA

tidak ubahnya seperti sebuat pesta rakyat yang melibatkan sebagian besar masyarakat, termasuk

keterlibatan anak-anak sekolah. Kegiatan PKIA mulai dengan apel bersama seluruh komponen

masyarakat, pawai bersama keliling kota dan kecamatan, menaikkan bendera revolusi KIA di rumah

ibu hamil, pemasangan stiker P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi)

(22)

4.1.2.4 Photo Snap-shot Kegiatan PKIA

1. Apel bersama komponen masyarakat 2. Pawai bersama keliling kota/kecamatan

3. Menaikkan bendera revolusi KIA 4. Pemasangan stiker P4K

Sumber: Photo dokumentasi dr Henyo

4.1.2.5 Manajemen Pengendalian Persalinan dari Desa (MP2D)

Di Kabupaten Kupang, desa siaga lebih di kenal dengan istilah Papan Siaga. Papan Siaga

dikembangkan untuk memperkuat sistem informasi di tingkat desa melalui ketersediaan papan

Manajemen Pengendalian Persalinan dari Desa (MP2D). MP2D ini befungsi sebagai bentuk kontrol

bersama antara pemerintah desa dan unsur masyarakat lainnya terhadap semua ibu hamil yang ada

di desa tersebut.

4.1.3 Kepemimpinan Formal

Kepemimpinan formal difokuskan pada kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala

Puskesmas. Aspek kepemimpinan juga akan di uraikan di bagian budaya organisasi mengingat

(23)

4.1.3.1 Kepemimpinan Dinas Kesehatan

Kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan baik di Provinsi, maupun di tiga kabupaten di semua wilayah

penelitian sangat kuat (strong leadership). Sebagai ilustrasi, program 2H2 lahir di Flotim itu lahir dari

kegelisahan Kepala Dinas, kenapa kematian ibu selama ini tidak turun-turun. Dia mengibaratkan

seperti permainan bola kaki, bola hanya berputar ditengah lapangan saja, hanya bermain indah saja,

tidak mampu mengeksekusi ke gawang. Selama ini setiap kematian ibu dilakukan AMP, namun

sumber akar permasalahan utama tidak sepenuhnya diketahui. Lalu muncul ide pendampingan.

Pendampingan dihari hari krusial. 2 Hari sebelum dan 2 Hari setelah melahirkan. 2 hari sebelum

melahirkan merupakan waktu yang sangat krusial bagi seorang ibu hamil, hari sangat gelisah, sangat

emosional, dan sering kali sulit membuat keputusan yang tepat. Sehingga tidak mengherankan, bila

keputusan melahirkan dirumah atau di faskes sangat ditentukan oleh siapa yang mendampinginya

pada waktu-waktu krusial tersebut. Bila seorang dukun berada disampingnya, maka keputusan

melahirkan di rumah akan menjadi pilihannya. Sebaliknya bila bidan berada disampingnya, persalinan

di faskes akan menjadi pilihannya. Oleh karena itu, dihari-hari krusial mau melahirkan, seorang ibu

hamil harus didampingi oleh nakes, tidak oleh dukun biar keputusan yang diambilnya tepat. Gagasan

dan ide inovatif ini kemudian direalisasi dengan dibentuk 2H2 center yang kita kenal selama ini.

Dalam pelaksanaan, nilai-nilai harkat martabat manusia, lebih ditanamkan sekadar upaya penurunan

kematian ibu. Kepala Dinas Kesehatan terus menyakinkan masyarakat bahwa melahirkan bayi di

sarana fasilitas kesehatan yang memadai lebih baik, lebih aman dan lebih bermartabat dari pada

melahirkan di rumah.

Disamping itu, keberhasilan pelaksanaan 2H2 sangat ditentukan oleh keterlibatan stakeholder dan

masyarakat, lalu di cetuskan gagasan bagaimana upaya terbaik melibatkan masyarakat dengan

menggunakan budaya masyakat Flotim yang relative senang dengan pesta rakyat; lalu di cetuskan

gagasan Pekan Keselamatan Ibu dan Anak (PKIA), sebuah gerakan pesta rakyat, melibatkan semua

komponen masyarakat. Inovasi 2H2 tidak hanya berhenti untuk memantau ibu hamil; pada tahun

2013, di gagas konsep 2H2 Plus, plus memantau perkembangan bayi, terutama bayi lahir dengan

BBLR. Sekarang ini, konsep 2H2 juga ingin dikembangkan untuk permasalahan kesehatan

masyarakat lainnya, seperti penanganan masalah stunting.

4.1.3.2 Kepemimpinan Puskesmas

Manyoritas Puskesmas yang diteliti sudah sudah cukup responsif dan terbuka. Salah satu faktor

pendorong adalah perubahan status Puskesmas menjadi Puskesmas Reformasi. Perubahan ini

cukup terlihat di Kabupaten Ngada. 13 dari 14 Puskesmas di Kabupaten Ngada telah berubah

menjadi Puskesmas Reformasi. Hal ini telah berdampak positip dalam keterlibatan aktif masyarakat

dalam mendukung berbagai program Puskesmas, termasuk program kesehatan ibu dan anak.

Keterlibatan masyarakat aktif terwadahi dalam organisasi informal Badan Penyantun Puskesmas

(BPP). Konsorsium BPP, dibentuk Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) untuk tingkat

(24)

4.1.3.3 Kepemimpinan Bappeda

Semua Bappeda diwilayah penelitian cukup responsive dan mendukung sepenuhnya upaya

penurunan kematian ibu. Mereka cukup terpapar dengan program KIA, terutama melalui program

AIPMNH yang berkantor di gedung Bappeda. Wujud support dari Bappeda terlihat dari upaya

Bappeda untuk lebih mengoptimalisasi peran dan Puskesmas dalam memberikan pelayanan

kesehatan masyarakat, terutama pelayanan kesehatan ibu dan anak di desa, Bappeda mendorong

perencanaan Puskesmas di intergrasikan de dalam perencanaan regular desa (Musyawarah

Perencanaan Pembangunan Desa/Musrenbang Desa). Bappeda Kabupaten, menyambung baik dan

mendukung instruksi Guburnur NTT No 03 Tahun 2015 tentang Pedoman Intergrasi perencanaan

Puskesmas dengan Musrebangdes. Instruksi ini di rancang oleh Bappeda Provinsi dengan dukungan

financial dan technical support dari program AIPMNH. Selama ini program AIPMNH telah mendukung

dan menfasilitasi banyak Peraturan Desa (Perdes) yang pro kesehatan.

4.1.4 Kepemimpinan Informal

Beberapa bentuk kepemimpinan informal cukup berperan dalam berbagai program kesehatan ibu dan

anak di wilayah penelitian. Program-program tersebut telah di uraikan di bagian atas. Bagian ini

diuraikan secara ringkas beberapa contoh bentuk kepemimpinan informal, terutama kemimpinan PKK

dan tokoh masyarakat dalam upaya menurunkan kematian ibu.

4.1.4.1 Kepemimpinan PKK

PKK mengambil peran penting dalam melaksanakan kebijakan Revolusi KIA. Kesehatan Ibu dan

Anak telah menjadi fokus utama program PKK. Keselamatan ibu hami menjadi tema utama dalam

berbagai kegiatan PKK. Misalnya, tema utama pelaksanaan Jambore Kader PKK tingkat Provinsi

adalah kesehatan ibu dan anak. Slogan, teriakan Yel-Yel Penurunan Kematian Ibu mengwahana

dikalangan peserta jamboree. Seorang kader yang diwawancarai oleh Kupang Post dengan tegas

mengatakan bahwa "Kerja kami adalah melakukan sosialisasi agar kematian ibu dan anak semakin

lama semakin menurun". Lebih lanjut dia mengatakan bahwa "Tugas kader memberikan sosialisasi

agar ibu-ibu melahirkan di rumah sakit agar selamat, baik ibu maupun bayinya. Inilah konsep program

pokok PKK yang harus kami kerjakan di lapangan,"1 Lebih lanjut, bekti lain keterlibatan aktif PKK,

juga dapat dilihat dari upaya penyelamatan bayi baru lahir. Misalnya, formulir berikut yang

dikembangkan oleh Kemenkes dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT diadopsi dan digunakan oleh

kader PKK untuk mendorong masyarakat dan keluarga agar mampu secara dini melakukan

pembantuan bayi baru lahir.

(25)

4.1.4.2 Formulir Sederhana Pemantauan Bayi

4.1.4.3 Kepemimpinan Tokoh Masyarakat

Peran tokoh masyarakat, terutama tokoh agama (i.e. gereja) sangat kuat terlihat di Kabupaten

Ngada. Gereja prihatin dan terpanggil dengan masih tingginya kematian ibu. Kepedulian konkrit

dengan disusunya modul Katekese Paroki Siaga Kesehatan. Modul telah digunakan untuk

menggerakkan umat, meningkatkan kesadaran baru dalam peningkatan kualitas kesehatan ibu dan

anak. Satu Paroki bisa mencakup lebih dari satu desa dengan beberapa jejaring Katakese. Katakese

merupakan kelompok pembinaan umat khususnya ibu hamil. Paroki Siaga juga bertujuan untuk

meningkatkan kesadaran para suami dan keluarga agar menjadi suami siaga dan keluarga siaga.

Di Kabupaten Ngada, peran Mentor baik Mentor Puskesmas Reformasi maupun Mentor Desa Siaga

cukup di apresiasi oleh Bappeda, Dinas Kesehatan dan stakeholder lainnya. Mereka telah mengambil

peran aktif penghubungan antara masyarakat dengan pemerintah. Mentor berasal dari tokoh

masyarakat (mantan anggota DPRD dan wartawan). Mereka didukung sepenuhnya oleh pemerintah

daerah dengan memberikan tunjangan 7 juta per bulan untuk dua orang Mentor Puskesmas

(26)

4.2 Budaya Organisasi

4.2.1 Budaya Organisasi Dinas Kesehatan

Secara umum, baik Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas (kecuali

di Kabupaten Ngada), tipe budaya organisasi yang sangat dominan adalah “Market Culture” (Garfik 2). Organisasi sangat result-oriented, sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target

(target-oriented). Suasana kompetitif cukup terasa dan selalu ingin menunjukkan yang terbaik, terutama

dalam pencapaian target-target yang telah ditentukan. Pimpinan mempunyai keinginan keras, hard

driver dan demanding. Prestasi dan pencapaian tujuan organisasi menjadi bagian penting yang

menyatukan semua orang dalam organisasi (perekat organisasi atu glue organization). Agresivitas

dalam pencapain target menjadi hal yang lumrah dalam organisasi dan sering menjadi pembicaraan

utama sehari-hari. Fokus jangka panjang adalah bagaimana dapat mencapai tujuan organisasi yang

lebih terukur.

Table 1: Karakteristik Market Culture

Leader type hard driver, kompetisi

Value driver pencapaian target

Theory for effectiveness kompetisi agresif

Quality strategy meningkatkan produktifitas staf, membangun partnership dengan pihak lintas sector/program dan meningkatkan kompetisi

Khusus untuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Kabupaten Ngada, family/clan culture cukup

dominan, terutama di tingkat Puskesmas. Keakraban, suasana kekeluargaan cukup terasa baik di

Dinas Kesehatan maupun di lingkungan Puskesmas. Dalam kegiatan organisasi sehari-hari, Kepala

Dinas atau Kepala Puskesmas lebih diposisikan sebagai mentor atau fasilitator. Peningkatan

kapasistas sumber daya manusia merupakan fokus pengembangan organisasi jangka panjang.

Ukuran keberhasilan dilihat sejauh mana bisa memberika pelayanan terbaik buat masyarakat,

kepuasan pasien dan staf. Disamping itu family culture dapat dilihat dari karekteristik berikut ini.

Table 2: Karakteristik Family/Clan Culture

Leader type Fasilitator, mentor

Value driver Komitmen, komunikasi

Theory for effectiveness Pengembangan sumber daya dan partisipasi

Quality strategy Pemberdayaan, kerjasa sama team, keterlibatan staf, open communication,

Selain family culture, adhocracy culture juga cukup terasa di organisasi Dinas Kesehatan Ngada.

Dinas Kesehatan dipandang sebagai tempat yang kondusif untuk berkreatifitas. Pimpinan dipandang

sebagai innovator dan staf mendukung dan berkomitmen untuk melaksanakan inovasi-inovasi. Ada

(27)

Table 3: Karakteristik Adhocracy Culture

Leader type Innovator

Value driver Pelayanan-pelayanan inovatif

Theory for effectiveness Inovatif, vision, sumber daya untuk mencapai efektifitas Quality strategy Continuous improvement, membuat standar-standar baru

Tipe budaya organisasi lain (hierarchy culture), tidak begitu dominan dirasakan di Dinas Kesehatan

atau Puskesmas. Organisasi yang dominan dengan hierarchy culture biasanya suauna kerja sangat

terkesan formal dan struktural. Perilaku sangat dipengaruhi oleh prosedur formal. Pemimpin

organisasi cenderung memposisikan diri sebagai coordinator dan organizer yang baik.

Peraturan-peraturan dan kebijakan formal menjadi perekat dalam organisasi. Tujuan jangka panjang organisasi

bagaimana memastikan agar organisasi lebih efisien dan berjalan dengan baik.

Table 4: Karakteristik Hierarchy Culture

Leader type Coordinator dan oganizer

Value driver Efisiensi, konsisten dan keseragaman

Theory for effectiveness Pengendalian dan Efisiensi

Quality strategy Error detection, process control, systematica problem solver dan quality tools

4.2.2 Budaya Organisasi per Dimensi

“Adhocracy Culture” juga cukup terasa di Dinas Kesehatan Provinsi, terutama pada komponen kepemimpinan organisasi, penekanan strategi dan kriteria keberhasilan. Sedangkan market culture,

karakteristik dominan, management bawahan dan perekat organisasi. Detail hasil analysis budaya

organisasi Dinas Kesehatan Provinsi per komponen budaya dapat dilihat pada Table 5 dan penyajian

secara grafik dapat dilihat di Annex 1. Perbandingan dengan demensi budaya Dinas Kesehatan

Kabupaten Kupang, Flotim dan Ngada dapat dilihat pada Table 6 dan secara grafik di sajikan di

Annex 2, 3 dan 4.

Table 5: Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi per Dimensi

1. Dominant Characteristics Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target (1)

2. Organizational Leadership Kepemimpinan organisasi cukup inovatif, kreatif, berani

mengambil resiko (risk taker) (2)

3. Management of Employees Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan

kompetitif, tuntutan dan prestasi kerja yang tinggi (1)

4. Organizational Glue

Perekat organisasi adalah penekanan pada prestasi dan pencapaian tujuan organisasi. Agresivitas dan pencapain target menjadi pembicaraan utama (1)

5. Strategic emphases Organisasi menekankan pentingnya upaya atau strategi

(28)

Grafik 2: Profil Budaya Organisasi Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Prov NTT

1. Dinkes Provinsi NTT

2.1 Dinkes Kabupaten Kupang 2.2 Puskesmas di Kab. Kupang

3.1 Dinkes Kabupaten Flores Timur 3.2 Puskesmas di Kab. Fores Timur

4.1 Dinkes Kabupaten Ngada 4.2 Puskesmas di Kab. Ngada

(29)

Table 6: Perbandingkan Dimensi Budaya Organisasi Dinas Kesehatan

Dimensi Budaya Organisasi Dinkes Provinsi Dinas Kesehatan Kab Kupang Dinas Kesehatan Kab Flotim Dinas Kesehatan Kab Ngada

1. Dominant Characteristics

(1) Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target

(3) Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target. Semua orang

berupaya melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat waktu.

Orang-orang sangat berdidikasi, bekerja keras dan berorientasi pada hasil kerja

(3) Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target. Semua orang berupaya melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat waktu. Orang-orang sangat berdidikasi, bekerja keras dan berorientasi pada hasil kerja

(3) Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian hasil/target. Semua orang berupaya melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat waktu. Orang-orang sangat berdidikasi, bekerja keras dan berorientasi pada hasil kerja.

2. Organizational Leadership

(2) Kepemimpinan organisasi cukup inovatif, kreatif, berani mengambil resiko (risk taker)

(2) Kepemimpinan organisasi cukup inovatif, kreatif, berani mengambil resiko (risk taker)

(2) Kepemimpinan organisasi cukup inovatif, kreatif, berani mengambil resiko (risk taker)

(1) Kepemimpinan organisasi berperan sebagai mentor, tutor, panutan dan fasilitator.

3. Management of Employees

(1) Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan kompetitif, tuntutan dan prestasi kerja yang tinggi

(3) Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan adanya kebebasan setiap individu untuk berinovasi dan berkreatifitas dalam menjalankan tugas masing-masing

(1) Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan kerja sama tim yang solid, consensus, dan partisipatif

(2) Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan adanya kebebasan setiap individu untuk berinovasi dan berkreatifitas dalam

menjalankan tugas masing-masing.

4. Organizational Glue

(1) Perekat organisasi adalah penekanan pada prestasi dan pencapaian tujuan organisasi. Agresivitas dan pencapain target menjadi pembicaraan utama

(4) Perekat organisasi adalah aturan dan kebijakan formal agar roda organisasi berjalan dengan baik

(3) Perekat organisasi adalah penekanan pada prestasi dan pencapaian tujuan organisasi. Agresivitas dan pencapain target menjadi hal yang lumrah dan pembicaraan utama

(1) Perekat dalam organisasi adalah loyalitas dan saling percaya satu sama lain. Hal ini berjalan dengan baik dalam organisasi.

5. Strategic emphases

(2) Organisasi menekankan pentingnya upaya-upaya atau strategi-strategi baru; pemikiran dan upaya-upaya baru sangat dihargai

(1) Organisasi menekankan pentingnya peningkatan kapasitas staf. Kepercayaan terhadap staf, keterbukaan, dan partisipasi

(1) Organisasi menekankan pentingnya peningkatan kapasitas staf. Kepercayaan terhadap staf, keterbukaan, dan partisipasi

(1) Organisasi menekankan pentingnya peningkatan kapasitas staf. Kepercayaan terhadap staf, keterbukaan, dan partisipasi.

6. Criteria of Success

(2) Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar memiliki upaya-upaya atau strategi-strategi inovatif baru

(3) Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar pengembangan staf, kerja sama tim, komitmen staf, dan kepedulian terhadap sesama

(3) Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar pencapaian target-target program

(1) Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar

pengembangan staf, kerja sama tim, komitmen staf, dan

kepedulian terhadap sesama.

(30)

5 Conclusion and Recommendation

Kajian ini menemukan beberapa driving factor keberhasilan Provinsi NTT dalam menurunkan

kematian ibu. Driving pertama adalah kepemimpinan; strong leadership sangat menonjol dirasakan

disemua kabupaten yang diteliti. Kepemimpinan tidak hanya mampu mendorong lahirnya kebijakan

seperti Pergub, Perbup atau Perda, namun pemimpin yang mampu melahirkan budaya organisasi

yang sejalan dengan upaya-upaya inovatif dalam mengimplimentasikan kebijakan yang tidak hanya

mampu memobilisasi masyarakat secara aktif namun mampu mengintegrasikan upaya-upaya inovatif

tersebut kedalam tatanan kehidupan budaya masyarakat setempat untuk menjamin keberlanjutan

sebuah program/kebijakan. Integrasi upaya-upaya penurunan kematian ibu ke dalam tatanan

kehidupan dan budaya masyarakat setempat sangat terasa disemua kabupaten yang diteliti, untuk itu

disarankan aspek ini harus menjadi perhatian utama dan serius dalam berbagai implementasi

kebijakan kesehatan ibu dan anak dimasa mendatang. Setiap daerah mempunyai keunikan dan

karakteristik tersediri; untuk indentifikasi, pemahaman dan integrasikan program kesehatan ibu dan

ke dalam kearifan sosial budaya masyarakat setempat menjadi sesuatu kenisyaan untuk menjamin

sense of bolonging masyarakat dan sustanaibility sebuah program.

Novetly kajian ini cukup jelas, untuk itu disarankan untuk diseminasi tidak hanya ke dalam laporan

kegiatan, namun perlu di format ulang menjadi manuscript untuk publikasi jurnal. Untuk itu, sample

penelitian perlu diperluas, tidak hanya di kabupaten yang menujukkan penurunan angka kematian

yang konsisten selama tahun 2009-2015, namun juga mencakup beberapa kabupaten lain yang

memiliki trend yang berbeda sehingga memungkinkan dilakukan analisis perbandingan dan hasil

(31)

Annex 1

Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi NTT

1. Karakteristik Dominan 2. Kepemimpinan Organisasi

3. Managemen Bawahan 4. Perekat Organisasi

(32)

Annex 2

Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang

1. Karakteristik Dominan 2. Kepemimpinan Organisasi

3. Managemen Bawahan 4. Perekat Organisasi

(33)

Annex 3

Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Flotim

1. Karakteristik Dominan 2. Kepemimpinan Organisasi

3. Managemen Bawahan 4. Perekat Organisasi

(34)

Annex 4

Komponen Budaya Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada

1. Karakteristik Dominan 2. Kepemimpinan Organisasi

3. Managemen Bawahan 4. Perekat Organisasi

(35)

Annex 5

Instrumen Penilaian Budaya Organisasi

Petunjuk Pengisian

Tujuan Instrumen ini untuk menilai enam dimensi kunci dari budaya organisasi (Organizational Culture Assessment Instrument – OCAI). Untuk mengisi instrument ini, Bapak/Ibu akan memberikan penilaian gambaran tentang bagaimana organisasi tempat Bapak/Ibu bekerja itu berjalan selama ini dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas organisasi. Tidak ada jawaban yang benar atau yang salah berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini, karena tidak ada budaya benar atau salah. Setiap organisasi biasanya memberikan response yang berbeda. Oleh karena itu, sangat diharapkan dapat merespon seperti apa adanya sehingga memberikan hasil penilaian yang akurat.

Bapak/Ibu diminta untuk memberikan nilai untuk setiap pertanyaan berikut. Untuk memudahkan penilaian, Bapak/Ibu bayangkan bahwa organisasi dimana Bapak/Ibu bekerja itu dipimpinan oleh seorang atasan/pimpinan (misalnya Kepala Dinas, Kepala Kantor, Direktur, dsb). Bapak/Ibu bisa menfokuskan pada perubahan budaya organisasi yang merupakan target untuk perubahan.

Instrument ini terdiri dari enam pertanyaan.Setiap pertanyaan memiliki empat alternatif dengan total bobot poin 100.Bagilah 100 poin antara empat alternatif pertanyaan tergantung sejauh mana setiap alternatif tersebut mirip/sesuai dengan situasi di organisasi Bapak/Ibu bekerja. Berikan jumlah poin yang lebih tinggi ke alternatif pertanyaan yang paling mirip dengan situasi organisasi

Bapak/Ibu.Misalnya, untuk pertanyaan nomor 1, jika Bapak/Ibu berpikir alternatif A sangat mirip dengan situasi organisasi Bapak/Ibu, alternatif B dan C sedikit agak mirip, dan alternatif D tidak

mirip sama sekali, Bapak/Ibu mungkin memberikan 55 poin untuk A, 20 poin ke B dan C , dan 5 poin untuk D. Pastikan total sama dengan 100 poin untuk setiap pertanyaan.

Perlu diingat bahwa bahwa Bapak/Ibu memberikan penilaian untuk tigas situasi: 1. Situasi Saat ini, mengacu pada budaya organisasi seperti adanya saat ini.

2. Situasi Sebelumnya, mengacu pada budaya organisasi yang Bapak/Ibu rasakan/alami sebelumnya (pimpinan/atasan sebelumnya).

3. Situasi Harapan dimasa mendatang; didasarkan keinginan bagaimana organisasi yang Bapak/Ibu inginkan lima tahun ke depan.

1. KARAKTERISTIK ORGANISASI YANG DOMINAN

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

A

Organisasi adalah tempat yang menyenangkan untuk bekerja, orang-orang saling bertukar informasi. Suasananya tidak

ubahnya seperti sebuah keluarga besar.

B

Organisasi adalah tempat berkreatifitas yang sangat dinamis. Orang bersedia berkorban dan mengambil resiko untuk kepentingan organisasi.

C

Organisasi ini sangat berorientasi pada pencapaian

hasil/target. Semua orang berupaya melaksanakan tugasnya

dengan baik dan tepat waktu. Orang-orang sangat berdidikasi,

bekerja keras dan berorientasi pada hasil kerja.

D

Organisasi adalah tempat yang sangat formal dan

terstruktur. Semua pekerjaan diatur dengan prosedur yang sangat formal.

Total

100 100 100

2. KEPEMIMPINAN ORGANISASI

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

(36)

mengambil resiko (risk taker).

C Kepemimpinan dalam organisasi umumnya dianggap berorientasi pada hasil-hasil program.

D

Kepemimpinan dalam organisasi umumnya dianggap sebagai fungsi koordinasi, pengorganisasian agar program-program berjalan dengan lancar dan efisiensi.

Total

100 100 100

3. GAYA MANAJEMEN TERHADAP BAWAHAN

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

A Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan kerja sama tim yang solid, consensus, dan partisipatif.

B

Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan adanya kebebasan setiap individu untuk berinovasi dan berkreatifitas dalam menjalankan tugas masing-masing.

C Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan kompetitif, tuntutan dan prestasi kerja yang tinggi

D Gaya manajemen dalam organisasi ditandai dengan hubungan yang cukup harmonis dan suasana kerja yang baik.

Total

100 100 100

4. PEREKAT ORGANISASI

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

A Perekat dalam organisasi adalah loyalitas dan saling percaya satu sama lain. Hal ini berjalan dengan baik dalam organisasi.

B Perekat dalam organisasi adalah komitmen untuk berinovasi dan pengembangan. Penekanan pada upaya-upaya baru.

C

Perekat organisasi adalah penekanan pada prestasi dan pencapaian tujuan organisasi. Agresivitas dan pencapain target menjadi hal yang lumrah dan pembicaraan utama.

D Perekat organisasi adalah aturan dan kebijakan formal agar roda organisasi berjalan dengan baik.

Total

100 100 100

5. PENEKANAN STRATEGIS

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

A Organisasi menekankan pentingnya peningkatan kapasitas staf. Kepercayaan terhadap staf, keterbukaan, dan partisipasi.

B Organisasi menekankan pentingnya upaya-upaya atau strategi-strategi baru; pemikiran dan upaya-upaya baru sangat dihargai

C Organisasi menekankan pentinya prestasi dan kinerja yang baik. Pencapaian target-target yang telah ditentukan.

D Organisasi menekankan pentinya efisien dan pengendalian agar organisasi berjalan dengan baik

Total

100 100 100

6. KRITERIA SUKSES

Sekarang

Sebelumnya

Harapan

A

Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar pengembangan staf, kerja sama tim, komitmen staf, dan kepedulian terhadap sesama.

B Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar memiliki upaya-upaya atau strategi-strategi inovatif baru.

C Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar pencapaian target-target program.

D Organisasi mendefinisikan sukses atas dasar pelaksanaan program berjalan efisien sebagaimana direncanakan.

(37)

References

Abdullah A., Hort K., Butu Y. & Simpson L., Risk factors associated with neonatal deaths: a

matched case-control study in Indonesia, Glob Health Action, 2016;9:30445.

Cameron K.S. & Quinn R.E., Diagnosing and changing organizational culture : based on the

competing values framework, Rev. ed, San Francisco: Jossey-Bass; 2006. xiv, 242 p. p.

Dodgson R., Lee K. & Drager N., Discussion Paper No. 1: Global Health Governance; a

Conceptual Review. , London: Centre on Global Change & Health, Department of Health &

Development London School of Hygiene and Tropical Medicine and World Health Organization, 2002.

North D.C., Institutions, institutional change, and economic performance, Cambridge ; New York: Cambridge University Press; 1990. viii, 152 p. p.

Siddiqi S., Masud T.I., Nishtar S., Peters D.H., Sabri B., Bile K.M. & Jama M.A., Framework for

assessing governance of the health system in developing countries: Gateway to good governance, Health Policy, 2009;90(1):13-25.

World Health Organization. World Health Report: Health Systems Improving Performance, Geneva, Switzerland: 2000.

Gambar

Gambar 1: Peta Provinsi NTT dan Lokasi Penelitian (Merah)
Gambar 2: Stuktur Organisasi (Formal) & Perubahan Pimpinan di Jajaran Dinas Kesehatan (selama 2009-2015)
Table 1: Karakteristik Market Culture
Table 3: Karakteristik Adhocracy Culture
+2

Referensi

Dokumen terkait

Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.. adalah membuat suatu karya ilmiah yang

Pada Gambar 8 dapat dilihat juga bahwa sebagai akibat dari menurunnya daya poros pada beberapa campuran bahan bakar, maka konsumsi bahan bakar spesifik pada saat

Hal ini sesuai dengan pendapat Soedjana (1986) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik adalah kerangka konseptual sebagai

Indikator karyawan memberikan pelayanan kepada semua anggota tanpa memandang status sosial Berdasarkan tabel diatas, responden yang menyatakan sangat baik berjumlah paling

Soegiri Lamongan sudah membuat Rencana Bisnis Anggaran (RBA) namun belum definitif, belum ditandatangani Direktur Rumah Sakit dan belum diketahui Dewan Pengawas..

[r]

sistem kekeluargaan Cina : waris sebelah bapa dan pemerintah yang memusatkan kuasa bapa, kuasa suami yang tertinggi, mementingkan anak lelaki dsb.nya... Unsur Kesembilan:

15.1 Regulasi/legislasi keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang spesifik bahan atau campuran Tidak ada informasi tambahan. 15.2 Penilaian