PELAYAN PEREMPUAN SEBAGAI DAYA TARIK
PELANGGAN WARUNG KOPI
CETHOT
(Studi Tentang Keterlekatan Antara Pelayan Dan Pelanggan Di Warung Kopi Cethot Kabupaten Tulungagung)
JURNAL
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosiologi Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dengan Minat Sosiologi Ekonomi
Oleh:
M. FEBY FAJRIN CLOEDIANSYAH 0811213013
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JURNAL PENELITIAN
PELAYAN PEREMPUAN SEBAGAI DAYA TARIK PELANGGAN WARUNG KOPI CETHOT
Disusun Oleh:
M. Feby Fajrin Cloediansyah Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
2013
ABSTRACT
The shape embededness happened between servant women and customers at the coffee shop cethot was analyzed. The purpose of this study was to analyze the process of formation of embededness between waitress and customer in a coffee shop cethot Serut village.
To meet these objectives, the study uses the concept embededness consisting of three proportions that economic action is social action, economic action in its social in situations economic and institutions in construction social. There is also a concept in embededness Oversocialized and Undersocialized where this concept would explain the motivation waitress job in selecting and running. The method uses qualitative case study approach. Informants were selected using purposive techniques. Sources of data obtained through observation, interviews, and documentation.
The result showed that embededness that occurs between the customer and the café maid cethot due to continuous interaction between servant women with the customers so as to form a embededness between waitress and customer in a coffee shop cethot.
Keywords: Embededness, Female Waitress, Customer, Coffee shop cethot
PENDAHULUAN
Pada kenyataannya warung kopi bukan sekedar tempat untuk didatangi diwaktu luang maupun meluangkan waktu untuk didatangi, tetapi juga merupakan salah satu sarana yang
tempat berdiskusi mulai dari kehidupan beragama, politik, ekonomi, bisnis dan lain-lain. Dapat dikatakan pembicaraan di warung kopi mulai dari yang sangat penting hinggga yang sama sekali tidak penting terjadi di warung kopi.
Di berbagai daerah warung kopi selalu di didatangi oleh lelaki. Hal ini juga terlihat jelas di berbagai kedai kopi yang ada di Tulungagung, hampir sebagian besar pelangganya adalah laki-laki. Bahkan dalam hal penyebutan nama warung kopi pun terjadi kecenderungan menggunakan nama laki-laki, misalkan saja beberapa contoh nama warung kopi yang cukup popular di telinga para penikmat kopi Tulungagung itu adalah warung kopi Waris, warung kopi Soden, warung kopi Pak Yun, dan beberapa warung kopi lain yang menggunakan nama laki-laki pemilik warung tersebut. Dengan kecenderungan seperti ini tak salah rasanya jika beberapa pemilik warung kopi memilih menggunakan jasa perempuan seksi dan cantik sebagai pelayan untuk menarik laki-laki sebagai pengunjung dominan warung kopi. Karena para pemilik warung kopi beranggapan bahwa hampir setiap laki-laki memiliki ketertarikan terhadap perempuan,
Para penikmat kopi Tulungagung pun mempunyai sebutan khusus buat warung kopi dengan pelayan-pelayan seksi beserta servis ekstra ini, mereka biasa menyebutnya dengan sebutan warung Kopi Cethot atau warung kopi genit. sebutan ini biasa dipakai karena di warung kopi ini pengunjung diperkenankan untuk
Nyethot1. Pada kenyataannya sebagian masyarakat yang datang ke warung kopi tidak hanya datang, duduk, ngobrol, dan minum kopi saja, namun didalamnya terdapat suatu proses interaksi sebagai daya tarik individu untuk datang ke warung kopi (Maspram, 2010:3). Hal inilah yang menjadikan sebagian masyarakat yang memiliki modal mendirikan warung kopi dengan menghadirkan perempuan sebagai daya tariknya. Namun, di warung kopi Cethot ini perempuan tidak hanya sebatas daya tarik saja, melainkan terdapat suatu fenomena kegenitan yang menyebabkan warung kopi Cethot ini laris dikunjungi oleh kaum laki-laki. Konsep keterlekatan yang dikemukakan oleh Granovetter dapat digunakan sebagai alat analisis dalam mengkaji hubungan antara pelayan wanita dengan pelanggan warung kopi Cethot. Perhatian tersendiri oleh Granovetter, mengajukan keterlekatan yang digunakan untuk menjelaskan fenomena perilaku ekonomi dalam hubungan sosial, yaitu tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Tindakan tersebut tidak terbatas terhadap tindakan aktor individual sendiri tetapi juga mencakup perilaku ekonomi yang lebih luas, dan kesemuanya terpendam dalam suatu jaringan hubungan sosial. Tindakan yang dilakukan oleh anggota jaringan adalah terlekat karena ia diekspresikan
1
Mencubit ringan atau mencolek di bagian
dalam interaksi dengan orang lain. Selanjutnya, Granovetter menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan jaringan hubungan sosial adalah suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama di antara individu-individu atau kelompok-kelompok. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Granovetter, memperlihatkan bahwa kuatnya suatu ikatan keterlekatan memudahkan seseorang untuk menciptkan suatu hubungan yang saling membutuhkan (Granovetter, dalam Damsar, 1997:48).
Bagi sebagian masyarakat, warung kopi Cethot memang terdengar asing, karena pada umumnya masyarakat awam mengetahui warung kopi yang menjual minuman kopi adalah warung kopi. Namun bagi masyarakat Tulungagung khususnya di Desa Serut nama warung kopi Cethot ini tidaklah terdengar asing lagi. Warung-warung kopi ini di asumsikan oleh sebagian besar masyarakat sebagai warung kopi yang menghadirkan perempuan cantik berpakaian seksi sebagai pelayannya.
Berbeda dengan warung kopi pada umumnya, di dalam warung kopi Cethot kita tidak akan di suguhkan dengan tempat yang menarik bahkan kadang terlihat membosankan dan tidak begitu nyaman. Meski tempatnya terletak di desa, para pengunjung warung ini justru jauh lebih ramai dari warung kopi yang ada di kota. Dari sisi rasa dan aroma kopi yang disajikan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan warung-warung kopi yang ada di Tulungagung. Namun, keberadaan
pramusaji cantik dengan dandanan yang menarik perhatian pengunjung itulah yang membuat warung kopi Cethot digemari pengunjung.
LANDASAN TEORI
Granoveter menjelaskan bahwa yang dimaksud keterlekatan adalah merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung diantara para aktor (pelaku) ekonomi. Pelaku ekonomi yang dimaksud adalah tidak hanya terbatas pada tindakan aktor (pelaku) individual saja, tetapi juga mencakup perilaku ekonomiyang lebih luas, seperti penetapan harga dan institusi-institusi ekonomi, yang ada dalam suatu jaringan sosial adalah suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama diantara individu-individu atau kelompok-kelompok Kegiatan-kegiatan dalam proses produksi, distribusi,dan konsumsi sangat banyak dipengaruhi oleh keterlekatan orang dalam hubungan sosial. Ide dasar aliran pemikiran ini dapat dirujuk kepada tiga proposisi utama yang diajukan oleh Swedbergh dan Granoveter yaitu (Granoveter dan Swedbergh, dalam Damsar, 2009:142). :
1. Tindakan ekonomi adalah tindakan sosial.
2. Tindakan ekonomi disituasikan secara sosial.
tindakan ekonomi dapat dipandang sebagai suatu tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku orang lain. Seperti dalam sebuah interaksi sosial atau hubungan sosial yang terjadi dalam memperhatikan orang lain, berbicara dengan mereka, memikirkan mereka dan memberi senyuman kepada mereka. Aktor selalu mengarahkan
tindakannya kepada perilaku orang lain melalui makna-makna yang terstruktur. Ini menjelaskan bahwa
tindakan aktor selalu
menginterpretasikan kebiasaan-kebiasaan, adat, dan norma-norma yang dimiliki dalam sistem hubungan sosial yang sedang berlangsung. Jadi sebenarnya setiap tindakan individu yang terjadi dalam situasi sosial, merupakan sebuah gambaran tindakan yang telah pernah ada sebelumnya pada diri individu seperti kebiasaan yang pernah dilakukan (Granovetter, Damsar, 2009 : 32).
Granovetter memberikan sebuah argumentasi bahwa tindakan ekonomi sebagai gambaran dari suatu garis kontinum, dengan tindakan sosial sebagai keseimbangannya. Kutub pertama dari kontinum tersebut adalah tindakan manusia yang taat kepada aturan dari sistem nilai dan norma yang berkembang secara konsensus yang diinternalisasi melalui sosialisasi. Sehingga aktor selalu mengarahkan tindakannya menurut aturan dari nilai dan norma yang diinternalisasi. Kutub lain dari kontinum dijelaskan oleh Granovetter yaitu tindakan aktor atau aktor bertindak berdasarkan kepatuhannya terhadap pilihan
rasional. Dari dua argumen yang telah dilontarkan tentang tindakan aktor, secara keseluruhan Granovetter tidak setuju dengan dua model tersebut (Granovetter 1992, Dalam Damsar 2009 :140).
Granovetter menegaskan bahwa tindakan aktor lebih melekat kedalam hubungan sosial konkrit yang sedang berlangsung. Ini berarti bahwa aktor mendefinisikan situasi sosialnya terlebih dahulu, sebelum menanggapi orang lain. Penjelasan Granovetter dalam hal ini menjelaskan proposisi yang kedua yaitu tindakan ekonomi disituasikan secara sosial. Dalam sebuah situasi sosial, tindakan ekonomi para aktor terlekat dalam jaringan hubungan sosial personal yang sedang berlangsung dari para actor tersebut (Granovetter, Dalam Damsar 2009 :142).
Intitusi yang dimaksudkan disini tidak sama dengan apa yang sering disebut lembaga yang mempunyai konotasi sebagai organisasi. Institusi adalah aturan main dari suatu masyarakat atau Negara atau organisasi, atau batasan-batasan yang diciptakan manusia untuk menstrukturkan interaksi antar manusia. Sedangkan organisasi atau lembaga adalah pemain atau pelaku kelompok individu yang terkait oleh keinginan bersama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Institusi sosial merupakan pengikat yang mengikat individu-individu dengan organisasi, yang mengatur perilaku didalam organisasi atau antar organisasi. Institui meliputi institusi formal dan inormal. Institusi formal adalah aturan-aturan yang digunakan oleh setiap figure otoritas untuk membentuk perilaku tertentu. Ini meliputi aturan-aturan tertulis seperti konstitusi, kontrak, undang-undang, dan sebagainya. Institusi informal adalah aturan-aturan yang digunakan oleh setiap individu untuk membentuk perilaku (sosial) mereka. Aturan-aturan ini biasanya tidak tertulis, tetapi diinternalisasikan secara pribadi atau sosial atau dapat diterima umum sebagai perilaku yang dikehendaki bersama. Aturan-aturan informal ini sering disebut sebagai Working Rules yang diapakai individu untuk membentuk perilakunya sehari-hari. Aturan-aturan adalah ketentuan-ketentuan tentang bentuk-bentuk tertentu dari perilaku yang disertai dengan sanksi positif atau negatif (Oliver E. Wilimsson, dalam damsar 2009: 155).
Granovetter menemukan dalam literatur sosiologi dan ekonomi, perdebatan antara oversocialized, yaitu tindakan ekonomi yang kultural dituntun oleh aturan berupa nilai dan norma yang diinternalisasi. Oversosialized, memandang bahwa semua perilaku ekonomi seperti memilih pekerjaan, melaksanakan profesi, menjual, membeli, menabung dan patuh terhadap segala sesuatu yang diinternalisasi dalam kehidupan sosial seperti nilai, norma, adat-kebiasaan dan tata kelakuan. Contoh, bekerja dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan, seperti juga pekerja lain. Namun bagi pekerja yang muslim tidak semua jasa bisa diperjual belikan, karena dia harus mempertimbangkan semua nilai dan norma agama Islam sebagai rujukan. Perilaku pekerja muslim yang menjadikan Islam sebagai rujukan dalam bekerja memperlihatkan bagaimana oversosialized terjadi dalam tindakan ekonomi (Granovetter, Damsar, 2009: 141).
Undersosialized, yaitu tindakan ekonomi yang rasional dan berorientasi pada pencapaian keuntungan individual, dalam menentukan apa yang sebenarnya menuntun orang dalam perilaku ekonomi. Undersosialized melihat kepentingan individu di atas segala-segalanya.
1. Keterlekatan Relasional
Keterlekatan relasional merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Misalnya, tindakan ekonomi dalam hubungan pelanggan antara penjual dan pembeli merupakan suatu bentuk keterlekatan relasional.
2. Keterlekatan struktural
Keterlekatan struktural adalah keterlekatan yang terjadi dalam suatu jaringan hubungan yang lebih luas. Jaringan hubungan yang lebih luas, bisa meruapakan institusi atau struktur sosial. Struktur sosial adalah suatu pola hubungan atau interaksi yang terorganisir dalam suatu ruang sosial. Ikatan Dokter Indonesia (IDI), misalnya, merupakan struktur sosial, karena di dalamnya terdapat struktur yang terorganisir seperti ketua, sekretaris dan anggota, anggaran dasar dan rumahtangga, dan sebagainya.
Dalam perilaku ekonomi tersebut melekat konsep kepercayaan (trust). pendekatan aktor yang lebih tersosialisasi memandang bahwa kepercayaan merupakan moralitas umum dalam perilaku ekonomi. Moralitas tersebut dipandang sesuatu yang umum dan universal terjadi dalam perilaku ekonomi. Pendekatan sosiologi ekonomi baru atau sering juga disebut pendekatan keterlekatan mengajukan pandangan yang lebih dinamis, yaitu bahwa kepercayaan tidak muncul dengan seketika tetapi terbit dari proses hubungan antar
pribadi dari aktor-aktor yang sudah lama terlibat dalam perilaku ekonomi secara bersama (Granovetter, Dalam Damsar 2009 :145).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertipe penelitian eksploratoris. Tipe eksploratoris digunakan untuk menggali data sehingga dapat memberikan pemahaman dan pengertian yang mendalam untuk meniliti tentang keterlekatan yang terjadi antara pelayan perempuan dengan pelanggan di warung kopi Cethot. Menurut Robert K. Yin (Yin, 2006: 46) studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial. Studi kasus secara umum dapat diartikan sebagai metode atau strategi penelitian sekaligus hasil sebuah penelitian pada kasus tertentu. Studi kasus dapat dipahami sebagai pendekatan untuk mempelajari, menerangkan dan menginterpretasikan suatu kasus dalam konteks yang alamiah tanpa adanya intervensi pihak luar. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus pada penelitian ini melihat fenomena bentuk keterlekatan dengan keberadaan pelayan perempuan di warung kopi cethot.
PEMBAHASAN
a. Proses terbentuknya keterlekatan diantara pelayan dan pelanggan warung kopi cethot
untuk menarik pelangganya. Dengan menggunakan berbagai cara, para pelayan perempuan warung kopi cethot ini berusaha menarik pelanggan sebanyak-banyaknya dan membuat para pelanggan ini mau kembali ke warung kopi tersebut. Usaha untuk membuat daya tarik tersebut warung kopi cethot ini menggunakan sisi genitnya para wedokan-wedokan yang bekerja atau bertugas untuk melayani dan menggoda para pelanggan ini. Sesuai dengan istilahnya cethot, Bahkan apabila sudah ada kecocokan antara pelanggan dan pelayan perempuan, bisa terjalin sebuah hubungan yang lebih dalam lagi.
b. Bentuk keterlekatan yang terjadi diantara pelayan dan pelanggan warung kopi cethot
Keseluruhan pelanggan yang datang ke warung kopi cethot ini untuk mencari sisi genit dan nakalnya dari pelayan perempuan yang ada di warung kopi inilah yang mereka cari. Keterlekatan ini ditimbulkan oleh kedua belah pihak yaitu kebutuhan ekonomi dari sisi pelayan perempuan dan kepuasan dari sisi pelanggan. Para pelayan perempuan ini akan terus berusaha untuk menggaet pelanggan sebanyak-banyaknya sehingga dengan adanya kumpulan dari pelanggan ini akan membentuk sebuah jaringan sosial seperti pelanggan akan mengajak rekannya yang lain agar mau datang ke warung kopi cethot ini. Sebaliknya dalam hubungan yang terjadi diantara pelayan perempuan dengan pelanggan warung kopi cethot ini bentuk keterlekatan struktural
antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot ini “tidak terjadi”. dikarenakan antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot tidak terdapat struktur yang jelas yaitu tidak adanya struktur hubungan yang terorganisir antara pelayan dan pelanggan Maupun hubungan antara kepala desa, masyarakat sekitar dan pemilik warung juga tidak memiliki struktur yang jelas yaitu tidak adanya struktur hubungan yang terorganisir karena hubungan yang terjadi antara kepala desa dengan pemilik warung hanya sebatas pemberi izin setelah itu tidak ada lagi campur tangan desa untuk ikut mengurus warung kopi cethot ini. Hubungan ini juga terjadi dengan hubungan antara pemilik warung kopi cethot dengan masyarakat sekitar dimana hubungan kerja diantara mereka juga tidak dilkukan dengan terorganisis secara jelas dan disengaja karena masyarakat sendirilah yang memiliki inisiatif sendiri dalam hal menjaga parkir di area warung kopi cethot ini. Tanpa ada koordinasi resmi sebelumnya diantara pemilik warung dan masyarakat sekitar warung kopi cethot. Didalam warung kopi cethot ini yang terjadi hanya hubungan antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot, sehingga dapat dikatakan tidak terdapat struktur yang jelas. Tidak seperti hubungan antara pemilik dan pelayan yaitu hubungan antara bos dan bawahan.
secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung dalam hal ini Hubungan antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot dapat dikatakan awalnya sebatas pelayan dan pelanggan tetapi dalam kenyataanya diwarung kopi cethot pelayan perempuan dalam bekerja tidak hanya melayani pelanggan dengan membuatkan kopi saja, tetapi para pelayan tersebut menambahkan perilaku-perilaku yang genit seperti mencium, memeluk dan meraba-raba kemaluan para pelangganya. Pelayan perempuan warung kopi cethot ini tidak dapat melakukan apapun jika pelanggannya tidak datang kembali ke warung kopi tersebut, tetapi para pelayan perempuan itu akan berusaha untuk membuat para pelanggannya betah dan mau kembali. Salah satunya adalah dengan mengenal dan berinteraksi terlebih dahulu dengan orang-orang yang datang hal ini juga termasuk dalam keterlekatan relasional.
Keterlekatan struktural disini dapat terjadi jika antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot maupun hubungan dengan kepala desa dan masyarakat sekitar terdapat suatu struktur yang terorganisir dalam suatu ruang sosial yaitu kepala desa, pemilik warung, pelayan perempuan, pelanggan dan masyarakat sekitar memiliki organisasi yang jelas seperti terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. Misalnya membuat perkumpulan ataupun ikatan dengan struktur yang jelas. Dari semua yang telah dijelaskan diatas, dan dari
penjelasan dua bentuk keterlekatan yang telah dijelaskan maka dapat dilihat dari bentuk-bentuk perilaku pelayan perempuan dengan para pelanggan warung kopi cethot ini dapat dijawab bahwa hubungan yang terjadi antara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot ini adalah sebuah bentuk keterlekatan yang relasional.
Dimana pelayan perempuan dan pelanggan bisa dikatakan awalnya hanya sebatas hubungan kerja seperti layaknya pelayan dengan pelanggan saja. Para pelayan perempuan akan menyajikan pesanan pelanggan dan pelanggan akan membayar sejumlah pesanannya meskipun pada praktiknya ada perilaku-perilaku plus yang dilakukan oleh para pelayan perempuan di warung kopi cethot ini. Hal seperti inilah yang terjadi di warung kopi cethot pelayan akan mendapat penghasilan yang banyak jika banyak pelanggan yang mau datang dan ngopi di warung kopi cethot ini. Tentu untuk dapat menarik para pelanggannya para pelayan perempuan berusaha seperti dengan mengenakan pakaian yang ketat yang menonjolkan bentuk dan lekuk tubuhnya serta berusaha melakukan perilaku-perilaku yang dapat menggoda para pelanggannya agar pelanggan dapat tertarik dan terus datang lagi untuk ngopi di warung kopi cethot ini.
lebih dengan memperkerjakan pelayan perempuan diwarung kopi cethot ini. Tidak hanya itu manfaat lain dengan hadirnya keberadaan warung kopi cethot yang didalam menjalankan usahanya terdapat wedokan ini, juga dapat dirasakan oleh pihak Kantor Desa seperti dapat menambah kas desa dari biaya izin awal membuka usaha yang dilakukan oleh pemilik warung cethot, dimana oleh pihak desa dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk kegiatan mempaving jalan di gang-gang kecil yang ada dekat pemukiman warga, ataupun untuk memperbaiki saluran air di daerah sekitar daerah Desa Serut.
Tanggapan atau respon dari pihak desa tentang keberadaan warung kopi cethot ini ialah selama dalam menjalankan usahanya tidak mengganggu atau meresahkan masyarakat sekitar maka pihak desa bersama masyarakat juga tidak akan mempermasalahkanya. Pihak desa sendiri beranggapan bahwa izin warung kopi cethot ini sama saja dengan warung kopi pada umumnya, karena bagi pihak desa, orang yang mengerti dan memahami warung kopi cethot ini hanya pelanggan-pelanggan yang senang dengan adanya keberadaaan warung kopi cethot ini saja. Tapi bagi masyarakat awam yang tidak mengerti tentang seluk- beluk warung kopi cethot ini, maka masyarkatpun juga akan menganggap dari luar warung kopi cethot ini tetap seperti warung kopi biasa seperti pada umumnya.
Sedangkan manfaat ekonomi untuk masyatrakat sekitar, yaitu masyarakat sekitar dengan inisiatif sendiri dapat memanfaatkan banyakanya pelanggan yang berkunjung ke warung kopi cethot ini dengan menjaga parkir setiap motor yang diparkirkan di depan warung kopi cethot. Hal-hal demikianlah yang membuat warung kopi cethot ini menjadi berbeda dan unik bila dibandingkan dengan warung kopi pada umumnya yang ada di sekitar daerah Kabupaten Tulungagung.
sisi pelayan perempuan dan kepuasan dari sisi pelanggan. Para pelayan perempuan warung kopi cethot ini berusaha menarik pelanggan sebanyak-banyaknya dan membuat para pelanggan ini mau kembali ke warung kopi ini. Dan untuk dapat membentuk Keterlekatan pelayan perempuan dan pelanggan memerlukan sebuah interaksi secara terus-menerus.
Pelayan perempuan warung kopi cethot ini tidak dapat melakukan
apapun jika pelanggannya tidak datang kembali ke warung kopi tersebut, hal inilah yang termasuk dalam bentuk keterlekatan relasional. Sedangkan Keterlekatan struktural pada fenomena pelayan dan pelanggan di warung kopi cethot ini tidak dapat terjadi karena diantara pelayan perempuan dan pelanggan warung kopi cethot tidak terdapat suatu struktur yang terorganisir seperti memiliki organisasi yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Damsar. 2009. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta : Kencana.
______. 1997. Sosiologi Ekonomi. Jakarta : Rajawali Pers.
Effendy, Onong Uchyana. 1989. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra AdityaBakti.
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
______. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.
Nasution, Prof. Dr. S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito.
Narotama, Hendrasta. 2008. Makna Pelayan Perempuan Warung Kopi Bagi Masyarakat Desa Gebang, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Pambayun, Raka. 2011. “Kontestasin “Kebenaran” Seksualitas Di Warung Kopi Dalam Persepektif Sakral Dan Profane (Studi Genealogi Faucoult Pada Warung Kopi Pangku di Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek). Malang : Universitas Brawijaya Malang.
Toer, Koesalah Soebagyo. “Bersama Mas Pram”: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer. Published 2010 : Kepustakaan Populer Gramedia.
Yin, Robert K. 2006.Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Artikel dari Internet :
Online.Available at: http://azlinavashila.blogspot.com/2011/04/keterlekatan-sosiologi-ekonomi.html. Diakses pada tanggal 12 Agustus 2013.
Anonymous. http://goyangkarawang.com/2010/02/triangulasi-dan-keabsahan-data-dalam-penelitian/. (Online) Diakses pada tanggal 1 September 2013.
Online.Available at: http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/297/jiptummpp-gdl-s1-2009-hendrastan-14841-.pdf. (Online) Diakses pada tanggal 11 Juli 2013.
Anonymous.http://studentresearch.umm.ac.id/index.php/department_of_sociology/art icle/view/7608. (Online) Diakses pada tanggal 14 Juli 2013.
Online.Available at: http://habibngeblog.wordpress.com/2011/12/12/warung-kopi-pangku-tulungagung/. Diakses pada tanggal 15 Juli 2013.