• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA LUBUK LINGGAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA LUBUK LINGGAU"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN ANTARA

PENYUSUNAN DED STADION SILAMPARI

TAHUN ANGGARAN 2014

(2)

KATA PENGANTAR

Laporan Antara ini merupakan tahap pertengahan dalam proses penyusunan dan perencanaan Stadion Silampari Kota Lubuklinggau. Laporan ini terwujud berkat kerjasama antara Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Lubuklinggau dengan konsultan yang dipercaya menysusun perencanaan tersebut.

Secara garis besar Laporan Antara ini mencakup beberapa hal pokok antara lain, eksisting lokasi, eksisting fungsional, analisa fungsional, konsep desain, dan hasil desain

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberi masukan sehingga dapat tersusunnya buku laporan ini. Cukup disadari bahwa dalam penyusunan Laporan Antara ini masih terdapat beberapa kekurangan, namun harapan kami semua semoga Laporan Antara ini dapat bermanfaat bagi pembangunan di Kota Lubuklinggau pada umumnya dan Pengembangan Stadion Silampari pada khususnya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Lubuklinggau, November 2014

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 GAMBARAN UMUM... 1

1.2. KEBUTUHAN FUNGSIONAL RUANG ... 2

1.3 TINJAUAN LOKASI... 2

BAB II. DESAIN KAWASAN... 5

2.1 DASAR PERTIMBANGAN RENCANA ... 5

2.1.1 Dasar Pertimbangan Rencana ... 5

2.2. KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN ... 6

BAB III ... 7

PENGEMBANGAN DESAIN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL... 7

3.1 RANCANGAN MEKANIKAL ... 7

3.1.1 Sistem Transportasi... 7

3.1.2 Pekerjaan Plumbing ... 8

3.2 KONSEPSI PERENCANAAN MEKANIKAL ... 13

3.2.1 Sistem Listrik Arus Kuat (LAK)... 13

3.2.2 Sistem Listrik Arus Lemah (LAL)... 19

3.3. KONSEPSI PERENCANAAN ELEKTRIKAL ... 24

3.3.1. Sistem Penangkal Petir ... 24

3.3.2. Sistem Tata Suara ... 25

(4)

DAFTAR TABEL

TABEL: 3.1... 8

LEBAR MINIMUM PEDESTRIAN MENURUT ... 8

PENGGUNAAN LAHAN SEKITARNYA ... 8

Tabel 3.1. Sistem Penangkal Petir... 18

DAFTAR GAMBAR

Gambar 11. Analisa Site Eksisting Stadion Silampari... 3

Gambar 1.2 Analisa Wilayah di Sekitar Eksisting... 4

(5)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 GAMBARAN UMUM

Stadion Silampari merupakan stadion yang telah lama ada di Kota Lubuklinggau. Namun, kondisi stadion tersebut dapat dikatakan kurang terpelihara. Untuk itu pemerintah Kota Lubuklinggau berencana ingin membangun kembali Stadion Silampari untuk keperluan yang lebih luas.

Pada perencanaan Stadion Silampari Kota Lubuklinggau, perencana melakukan perombakan terhadap kondisi tribun yang sudah tidak layak, selanjutnya luas lahan yang ada akan dikembangkan sebagai taman (ruang terbuka hijau) dan menambah fasilitas olahraga lainnya.

Dengan mempertimbangkan fungsinya, kawasan Gedung Subkos Garuda Kota Lubuklinggau akan perencanaan berupa; Masterplan Kawasan Stadion Silampari antara lain review perencanaan

1. Jogging Track dengan panjang keseluruhan ± 850 m. 2. Taman Kota

3. Panggung Pertunjukan 4. Lapangan basket 5. Lapangan Volley 6. Lapangan Volley pantai 7. Food Corner.

(6)

1.2. KEBUTUHAN FUNGSIONAL RUANG

Kebutuhan Ruang didapat dari fungsi atau kebutuhan perencanaan Kawasan Stadion Silampari yang antara lain sebagai berikut.

a. Sebagai sarana olahraga.

b. Mempertahankan fungsi sebagai ruang public. c. Sebagai sarana rekreasi.

d. Fungsi ekonomis yang mampu menjaminsustainabilitykawasan.

e. Ikon identitas Kota Lubuklinggau

f. Memberikan kontribusi bagi lingkungan kota

Berdasarkan fungsi di atas maka kebutuhan ruang pada kawasan Stadion Silampari Kota Lubuklinggau adalah sebagai berikut:

a. Jogging Track dengan panjang keseluruhan ± 850 m. b. Taman Kota

c. Panggung Pertunjukan d. Lapangan basket e. Lapangan Volley f. Lapangan Volley Pantai g. Food Corner

h. Tugu Linggau bisa i. WC Umum

(7)

Gambar 11. Analisa Site Eksisting Stadion Silampari

Analisa :Lahan di site eksisting masih mampu dikembangkan untuk rencana site berdasarkan fungsinya.

(8)

B. Analisa Wilayah di Sekitar Eksisting

.

Gambar 1.2 Analisa Wilayah di Sekitar Eksisting

Analisa: Di sekitar wilayah perencanaan adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Hal ini cocok digunakan sebagai ruang terbuka hijau dan mendukung kebutuhan ruang public untuk wilayah perkotaan

(9)

BAB II. DESAIN KAWASAN

2.1 DASAR PERTIMBANGAN RENCANA

2.1.1 Dasar Pertimbangan Rencana

Yang menjadi dasar utama pertimbangan dalam penyusunan DED Stadion Silampari Kota Lubuklinggau adalah :

1. Lokasi Stadion Silampari Kota Lubuklinggau yang akan dikembangkan sudah sesuai dengan arahan pemanfaatan ruang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Lubuklinggau 2012-2013 Perda Nomor 1 Tahun 2012). Kesesuaian dengan RTRW Kota Lubuklinggau ini penting sekali karena mengingat fungsi RTRW Kota Lubuklinggau sebagai acuan atau pedoman dalam menentukan kegiatan utama dari suatu kawasan dalam kerangka pengembangan wilayah (regional development).

2. Kesesuaian lokasi kawasan industri dengan RTRW Kota Lubuklinggau yang telah di-perda-kan berarti tidak ada hambatan dalam aspek legalitas, berarti juga memberi jaminan kelayakan lokasi bagi para investor. Hanya saja perlu sedikit penyesuaian dengan rencana kebutuhan ruang kawasan industri. 3. Kota lubuklinggau sebagai kota pusat orientasi kawasan sekitarnya, dalam hal

ini termasuk kawasan perencanaan, maka perlu diarahkan pola dan perkembanganya. Pengembangan Kota Lubuklinggau lebih ditekankan pada pola dan arah sebaran permukiman yang akan berkembang serta pusat-pusat kegiatan sosial ekonominya.

(10)

2.2. KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN

Jika sebelumnya kawasan stadion Silampari hanya berupa stadion untuk sepak bola, perencanaan kali ini berupaya untuk mengangkat prasarana olah raga lainnya dan menambahkan taman sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat. Hasil desain kawasan Stadion Silampari Kota Lubuklinggau dapat dilihat dari gambar berikut.

(11)

BAB III

PENGEMBANGAN DESAIN MEKANIKAL DAN

ELEKTRIKAL

3.1 RANCANGAN MEKANIKAL

3.1.1 Sistem Transportasi

Umum

Sistem transportasi pada bangunan menitik beratkan pada sistem transportasi vertikal dan horizontal. Transportasi horizontal menghubungkan ruang-ruang pada satu lantai. Transportasi vertikal menghubungkan antar lantai pada bangunan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

 Kemudahan

Suatu ruas jalan perlu dilengkapi dengan pedestrian way apabila disepanjang ruas jalan tersebut terdapat penggunaan lahan yang mempunyai potensi menimbulkan pejalan kaki.

Pedestrian hendaknya ditempatkan disisi luar bahu jalan atau di sisi luar jalur lintasan. Pedestrian juga sedapat mungkin diletakkan pada sisi dalam saluran drainase terbuka atau diatas saluran drainase tertutup dengan plat beton yang memenuhi syarat. Adapun dimensi pedestrian yang diatur adalah sebagai berikut :

- Ruang Bebas Pedestrian

(12)

- Lebar Pedestrian

Lebar pedestrian harus mampu menampung volume pejalan kaki yang ada. Oleh karena itu lebarnya harus disesuaikan dengan potensi pergerakan pejalan kaki masing-masing guna lahan. Ketentuan lebar pedestrian untuk masing-masing penggunaan lahan dilihat dari table berikut.

TABEL: 3.1

LEBAR MINIMUM PEDESTRIAN MENURUT PENGGUNAAN LAHAN SEKITARNYA

Penggunaan Lahaan Sekitarnya Lebar Minimum (M)

Perkantoran Sumber : Dirjen Bina Marga Direktorat Pembinaan Jalan Kota

3.1.2 Pekerjaan Plumbing

Meliputi instalasi air bersih, instalasi air limbah (air kotor, air bekas), STP, Drainase.

3.1.2.1. Sistem Penyediaan Air Bersih

(13)

Disamping 3 (tiga) uraian tersebut perlu diperhatikan pula kondisi dari airnya. Sarana air selain dipergunakan untuk fasilitas toilet juga dipergunakan untuk keperluan minum. Sehingga jenis ini yang dipakai harus memenuhi standar air minum.

b. Referensi

Sebagai dasar perencanaan digunakan referensi sebagai berikut :

 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No : 441/Kpts/1998 tanggal 10 November 1998 tentang persyaratan Teknis Bangunan Gedung.

 Pedoman Plambing Indonesia 1979

 Standar Nasional Indonesia (SNI) Plumbing 2000

 Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing

 Normalisasi Indonesia (NI)

 Peraturan Daerah (PERDA)

 NFPA Standard

c. Standar Pemakaian Air

Prakiraan perhitungan pemakaian air didasarkan kepada ketentuan :100 Liter/hari/orang

d. Prakiraan Pemakaian Air

1. Pemakaian Air

Berdasarkan standar pemakaian air yang telah disebutkan di atas maka kebutuhan air bersih diperkirakan sebesar: 100 liter/hari/orang.

2. Keperluan Penyediaan Pemadam Kebakaran

(14)

kebakaran selama 45 menit, maka kebutuhan air untuk kebakaran (45 x 1000 x 3,785) = ± 170 m

e. Sumber Air

Dari sumber air PDAM dan Deep Well.

Kapasitas Reservoir

 Ground Reservoir : 223 m³

 Top Reservoir : 12 m³

f. Sistem Distribusi

Menggunakan sistem pemompaan dan gravitasi. Air dari Main Ground Reservoir dipompakan ke Top Reservoir. Dari Top Reservoir didistribusikan ke setiap outlet dengan sistem gravitasi.

3.1.2.2. Sistem Pembuangan Air Kotor

a. Umum

Dengan adanya aktivitas manusia dibutuhkan air bersih, maka diperlukan perencanaan untuk buangan dari pemakaian air tersebut. Yang termasuk dalam sistem pembuangan air kotor adalah:

 Sistem pengumpulan (waste water collector) berupa pipa pembawa utama dan cabang.

(15)

 Jumlah sanitary fixtures yang diukur berdasarkan nilai fixtures unit.

Dalam memperhitungkan jumlah sanitary fixtures diperhitungkan berdasarkan tabel kebutuhan sanitary fixtures dengan ratio populasi untuk jenis bangunan, sesuai dengan Peraturan Plambing Indonesia. Sehingga pada dasarnya kedua cara tersebut diatas dapat menghasilkan beban air kotor yang mendekati.

c. Estimasi Beban Air Kotor

Sebagai estimasi nilai besaran air kotor berkisar ± 80 % dari pemakaian air bersih (domestic water) per hari, yakni sebesar :

Gedung Dibale = ± 80 % x 53 m3 = 42,4 m3/hari ≈ 42 m3 /hari

d. Sistem Pengumpulan Air Kotor

Diadakan pemisahan antara jaringan air kotor dari WC / closet dan air kotor dari urinal dengan jaringan air buangan dari lavatory dan floor drain.

Setiap fixtures unit yang terpasang dilengkapi dengan U-trap dan pada awal saluran dipasang Clean Out (CO) untuk maintenance. Dari jaringan pipa air kotor tersebut disalurkan ke saluran drainase kota.

e. Standar Toilet

Berdasarkan standar toilet umum Indonesia maka terdapat standar perhitungan sebagai berikut: (SNI)

a. Toilet umum pria

 Satu WC untuk 20 sampai 100 pengunjung ; tambahan 1 WC untuk setiap tambahan 50 pengunjung

(16)

 Satu wastafel untuk setiap tambahan 25 pengunjung berikutnya. b. Toilet umum wanita

Sama dengan standar toilet untuk pria dikalikan 1,5

3.1.2.3. Sistem Pengolahan Akhir (Final Disposal)

Digunakan sistem sentral Sewage Treatment Plant (STP) untuk pengolahan akhir dengan tipe Kombinasi extended aeration activating sludge system yang berkapasitas± 42 m³/hari.

Material penampung terbuat dari konstruksi beton yang terbagi dari beberapa bagian yang merupakan tahapan proses untuk mendapatkan kualitas air buangan yang dipersyaratkan.

Proses Sewage Treatment Plant (STP)

Proses Sewage Treatment Plant (STP) melalui tahapan proses sebagai berikut:

Equalization Tank

Proses penstabilan kualitas air kotor dengan dipasangan alat communitor dan air blower yang berfungsi untuk menghancurkan dan mengaduk raw material.

Aeration Compartment

(17)

Proses pembubukan chloor untuk desinfection effluent yang masih mengandung bakteri.

Dengan melalui beberapa proses tersebut diatas kualitas air limbah yang akan dibuang sudah memenuhi persyaratan air buangan, yakni dengan nilai BOD ± 20 mg/liter dan Suspended Solid (SS) ± 30 mg/liter. Selanjutnya untuk memanfaatkan kembali air tersebut diatas dilengkapi beberapa sistem tahapan penyaringan.

3.2 KONSEPSI PERENCANAAN MEKANIKAL

3.2.1 Sistem Listrik Arus Kuat (LAK)

Bangunan Gedung agar berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya, perlu dilengkapi sarana utilitas yang sesuai dengan kemajuan teknologi pada saat ini, dengan beberapa aspek sistem sesuai kebutuhan pada Gedung.

3.2.1.1 Dasar Perancangan

Dasar perancangan ini mengacu kepada standar dan referensi dari :

 Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) edisi tahun 2000, SNI.04-0225-2000 yang berlaku.

 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No : 29/PRT/2006 tentang persyaratan Teknis Bangunan Gedung

 Petunjuk dan pengarahan yang merupakan kebutuhan dan kerangka acuan dari pihak pemilik/ Pemberi tugas.

 Standar dan peraturan-peraturan/ ketentuan-ketentuan yang berlaku pada PLN distribusi Sumatera Selatan.

 Standar Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung, SNI : 03 – 2396 -2001.

(18)

Bangunan Gedung, SNI : 03 – 6575 -2001.

 Standar-standar Negara lain seperti : BS, VDE, AVE, JIS, ASTM, ISO dan sebagainya yang setara sejauh tidak bertentangan dengan aturan-aturan yang berlaku.

3.2.1.2. Beban Listrik

Beban-beban listrik yang ada dalam bangunan ini, terdiri atas :

 Lampu penerangan di dalam dan di luar bangunan

 Stop Kontak.

 Air Conditioning & Ventilasi Mekanik.

 Pompa Distribusi Air Bersih.

 Pompa Air Buangan dan Air Kotor.

 Pompa Pemadam Kebakaran.

 Komputer.

 Peralatan Audio

 Peralatan Kontrol.

 dan lain-lain.

Prakiraan seluruh beban listrik dihitung berdasarkan luas efektif lantai bangunan dan asumsi peralatan yang akan dipasang nantinya.

Kriteria beban listrik yang digunakan sebagai dasar perhitungan adalah :

 Penerangan : ± 20 VA/m²

 Stop kontak : ± 20 VA/m²

(19)

Dari kriteria diatas diperoleh prakiraan besarnya beban listrik dengan memperhitungkan faktor penggunaan/ demand faktor dan faktor kebersamaan/ Coincident Factor, maka maksimum demand load diprakirakan sebesar : ± 1.323 kVA.

3.2.1.3 Penyediaan Daya Listrik

Penyediaan sumber daya listrik untuk bangunan ini dilayani dari pusat daya listrik di Power House

a. Sumber Daya Listrik Utama

 Penyambungan dan suplai daya listrik dari sumber daya listrik PLN melalui tegangan menengah 20 kV.

b. Kebutuhan Daya Listrik

 Estimasi beban listrik untuk kebutuhan bangunan perkantoran dihitung masih berdasarkan layout awal bangunan dan juga ruangan yang dibutuhkan untuk peralatan utama sistem elektrikal. Perhitungan perlu direview kembali setelah perencanaan final dari arsitek diterima dan juga perencanaan dari sistem penerangan dan peralatan lainnya telah selesai.

 Total estimasi beban listrik yang dibutuhkan untuk bangunan perkantoran adalah 1.385 kVA (standard daya tersambung PLN), direncanakan menggunakan transformator 1 x 1.600 kVA, 20 kV/380 V.

c. Sumber Daya Cadangan

(20)

dan auto synchronizing.

 Bangunan power house untuk penempatan diesel genset direncanakan di lantai semi basement

 Sistem akustik dan vibrasi pada ruang genset dan juga exhaust genset harus direncanakan untuk mencegah terjadinya noise dan vibrasi yang tinggi dari ruang genset yang berdampak pada area publik.

 Tangki utama bahan bakar harus disediakan untuk kapasitas operasi genset selama 2 x 24 jam.

3.2.1.4 Sistem Distribusi

Sistem distribusi listrik 20 kV adalah dengan sistem radial. Dari panel utama pembagi tegangan menengah 20 kV didistribusikan ke transformator (20 kV -380/220 V).

(21)

3.2.1.5 Sistem Proteksi

Sistem proteksi dilakukan bertingkat untuk proteksi hubungan singkat dan beban lebih. Disamping itu sistem pentanahan netral trafo dan sistem pentanahan pengamanan terhadap tegangan sentuh.

3.2.1.6 Sistem Penerangan

Kuat penerangan rata-rata :

 Parkir : ± 20 – 30 Lux

 Lapangan olahraga dan Jalan

: ± 20 – 30 Lux

Jenis lampu yang direncanakan adalah T.L. Fluorescent dan Down Ligh PLC dengan tipe disesuaikan dengan fungsi ruangan atau Incandescent (Pijar).

Pengaturan hidup atau mati lampu dilengkapi dengan Control Lighting System.

3.2.1.7 Sistem Pentanahan

Sistem Pentanahan Netral Trafo, rangka panel adalah berdasarkan standar yang berlaku.

3.2.1.8 Sistem Penangkal Petir

(22)

Tabel 3.1. Sistem Penangkal Petir.

Sistem Penangkal Kelebihan Kerugian

Franklin/

Sangkar FaradayCocok untuk bangunan tinggi

Jarak jangkau lebih luas

Baik untuk bangunan memanjang

Kurang efisien

Biaya lebih mahal

Mengganggu estetika

bangunan

Thomas/

Radioaktif

Jarak jangkau luas

Tidak terlalu tinggi

(23)

c. Saluran Penghantar; kabel Coaxial ukuran minimal berpenampungan 50 mm2,

d. Penambat/KLEM ; kabel COAXIAL,

e. Pertanahan ; Tahanan tanah harus lebih kecil dar 2 Ohm.

f. Bak kontrol; Pada setiap ground road harus dibuat bak pemeriksaan.

Penempatan Air Terminal/ Finial pada bagian atap bangunan kemudian disalurkan ke tanah melalui penghantar/ Down Conductors tembaga ke bak kontrol serta dilengkapi elektroda pentanahan (Grounding Electrodes).

3.2.2 Sistem Listrik Arus Lemah (LAL)

3.2.2.1 Dasar Perancangan

Dasar Perancangan ini mengacu kepada standar dan referensi dari :

 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No : 29/PRT/2006 tentang persyaratan Teknis Bangunan Gedung

 Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, Keputusan Menteri Negara PU No.: 10/KPTS/2000/1 Maret 2000

 Standar Nasional Indonesia (SNI).

 Kebutuhan dan pengarahan teknis dari pihak pemilik.

 Rekomendasi dari standar-standar Negara lain seperti NFPA dan lain-lain.

 Standar PT. TELKOM dan CCITT.

 Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000.

 Peraturan Daerah (PERDA)

a. Sistem Tata Suara

(24)

 Informasi pada saat terjadi kebakaran/ voice evacuation dan public address Paging mic dilengkapi chime/ gong/ alarm, cassette deck, tuner, mixer pre amplifier dan power amplifier.

Dari power amplifier disalurkan ke Master Distribution Frame (MDF) dari MDF ke IDF dan dari IDF ke Terminal Box (TB) pada setiap lantai dan untuk selanjutnya dari TB didistribusikan ke ceiling speaker. Sound Pressure Level (SPL) direncanakan berdasarkan standar bangunan di Indonesia berkisar antara 70-80 dB, dengan memperhitungkan faktor-faktor kerugian, fungsional, jarak, maka direncanakan type ceiling speaker terpakai berkapasitas 1,5 - 3 watt dengan SPL 90 dB.

Agar suara dapat diterima sama pada setiap posisi/ bidang maupun ruang, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

- Sistem akustik ruang

- Luas ruangan dan tinggi/ rendahnya ceiling - Design arsitektural

- Design struktur

 Professional sound system digunakan pada ruang serba guna

 Conference System digunakan pada ruang rapat/ sidang, workshop, Car Call digunakan untuk memanggil supir yang berada didaerah dekat parkir.

(25)

detector, manual detector yang disesuaikan dengan kemungkinan dari macam kebakaran.

 Fungsi gedung sebagai obyeknya.

 Mempertimbangkan keadaan bangunan dengan peninjauan sistem ventilasi mekanik, ketinggian dan luas ruangan pelayanan.

 Kaitan teknis dengan sistem fire fighting/ pemadam kebakaran dan terhadap sarana instalasi lainnya seperti sistem distribusi daya listrik, pintu-pintu kebakaran dan pemberian informasi awal dengan tanda-tanda penunjuk (indikator).

Pendeteksian dini dapat dilakukan secara otomatis maupun dengan cara manual terhadap setiap kejadian atau sumber kebakaran. Monitoring maupun deteksi awal dilakukan dengan menggunakan : temperature detector dan smoke detector. Sistem kontrol dirancang per bagian lantai ruang atau zone untuk memudahkan pendeteksian awal api.

Khusus pendeteksian kebakaran menggunakan rate of rise detector, smoke detector dimana setiap pendeteksian diruangan akan pula meng

'initiate' lampu dan alarm di ruang kontrol, alarm di dalam ruangan serta indikator di depan ruangan yang bersangkutan dan di panel kontrol.

Penyampaian / penyelusuran sinyal pada detector secara langsung ataupun dengan cara perlambatan waktu (time delay) sampai kepada langkah lanjut sistem kontrol, memberi aksi-aksi antara lain :

 Urut-urutan bunyi sirene/ warning dan pengelompokannya dalam hal ini menurut per bagian lantai ruangan.

 Memicu (trigger)/ mengaktifkan bekerjanya sistem Pressurizition fan, Grounded Lift.

(26)

Sistem fire alarm menggunakan Master Control Fire Alarm (MCFA) type Semi Addressible dimana kapasitasnya 1 Loops dan diharuskan diletakkan di ruang operator yang berfungsi 24 jam sedangkan panel annunciator di ruangan keamanan/ security. Sistem dilengkapi dengan penggunaan Rate of Rise Detector, Fixed Temperatur Detector, Smoke Detector, Manual Push Button Break Glass Station dan Alarm Bell.

d. Sistem Keamanan (Security system) / CCTV

 Sistem keamanan dan CCTV digunakan untuk mengamankan wilayah ataupun bagian dari aktivasi wilayah, dari tindakan kriminal ataupun tindakan melanggar hukum.

 Sistem CCTV yang akan digunakan pada kawasan ini terdiri dari perangkat perekaman (Network Video Recorder), perangkat pengatur (Video Management), perangkat penampakkan gambar (Work Station, Video Monitor) dan camera

 Pemilihan jenis camera untuk CCTV sistem seperti fixed camera atau Pan-Tilt-Zoom disesuaikan dengan denah yang terdeteksi CCTV, demikian juga halnya dengan ukuran lensa camera.

e. Building Automation System (BAS)

(27)

 Memonitor, mengontrol dan merecord peralatan VAC, plumbing dan sanitasi.

 Memonitor, mengontrol dan merecord peralatan traffic dan transportasi dalam gedung dan dalam komplek gedung.

 Program pengaturan pemakaian energi untuk menghemat rekening listrik.

 Program pencatatan jangka waktu operasi beberapa peralatan utama untuk agenda maintenance atau penggantian part.

e.1 Peralatan Pompa Air dan Hydrant (Distribusi Air, Hydrant

dan lain-lain)

 Mengamati status hidup/ matinya pompa

 Memberikan tanda alarm trip off

 Memberikan jadwal waktu pemeliharaan pompa secara otomatis

e.2 Peralatan Tanki (Tanki Air atau Bahan Bakar dan lain-lain)

 Mengamati tinggi/ rendahnya permukaan air pada tanki air dan permukaan bahan bakar pada tanki bahan bakar.

e.3 Peralatan Daya Listrik

 Mengamati status hidup/ matinya dari incoming masing-masing panel

 Mengatur hidup/matinya dari generator set

 Mengukur besarnya arus, tegangan faktor daya, serta frekwensi dari generator set

 Operasi switching pengaman, panel dan memberikan tanda alarm trip off.

e.4 Peralatan Fire Alarm

 Mengamati tanda-tanda alarm

(28)

 Alarm, evakuasi dan lain-lain

e.5 Peralatan Sewage Treatment Plant (STP)

 Status Pompa

 Tanki

 Blower

3.3. KONSEPSI PERENCANAAN ELEKTRIKAL

3.3.1. Sistem Penangkal Petir

Standard dan Peraturan

 SNI no.04-0255-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL).

 SNI no.03-7013 tahun 2004 Sistem Proteksi Petir pada Bangunan Gedung.

 Peraturan departemen tenaga kerja no.8, Pengawasan Instalasi Penyalur Petir.

 Pedoman Perencanaan Penangkal Petir, Departemen Pekerjaan Umum 1987.

 The Protection of Structure Against Lightning, British Standart Institution.

 DIN 57185 dan VDE 0185 : Ligthning Protection System

Perencanaan Sistem

Sistem peredam petir direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat mengamankan bahaya terhadap bangunan, yang diakibatkan sambaran petir.

(29)

lebih murah dan lebih praktis. Peredam petir yang direncanakan adalah type Early Streamer Emission dengan system perlindungan dengan metode Benjamin Franklin dengan asumsi tingkat sambaran rata-rata 25 KA, dengan sudut perlindungan 30 derajat. Terminal Pentanahan (Earth Terminal) dengan tahanan pentanahan 2-5 Ohm.

Sistem Pentanahan

Metode pentanahan yang digunakan adlaah kombinasi TNC-TNS. Guna menghindari perbedaan Tegangan antar peralatan listrik, terutama pada saat adanya Transient Tegangan atau Voltage Drop, maka seluruh peralatan listrik yang bersifat konduktif akan ditanahkan secara elektrik.

3.3.2. Sistem Tata Suara

Sistem ini direncanakan berfungsi untuk :

- Public address/paging sistem, back ground music

- Sebagai alat evakuasi apabila terjadi kebakaran/keadaan darurat - Car call untuk memanggil supir

- Conference system digunakan pada ruang rapat/ sidang, workshop,

3.3.3. Sistem Keamanan Kawasan

Sebagai ruang terbuka publik, kawasan Stadion Silampari tentunya harus memperhatikan faktor keamanan pengguna, kendaraan, dan kantin yang ada di kawasan. Untuk itu perlu adanya pengawasan terhadap orang-orang yang tidak bertanggung jawab khususnya dari lingkungan luar. System pengawasan dan pengindraan selalu dipantau 24 jam nonstop dengan peralatan yang digunakan dapat berupa:

(30)

- Digunakan untuk mengawasi kawasan gedung dari tindakan kriminal atau

pelanggaran hukum, penggunakan sistem CCTV sesuai dengan fungsi bangunan yang akan diamankan serta pemilihan camera disesuaikan daerah yang akan dideteksi.

- Dapat mengontrol dan memonitor bahkan merekam selama kegiatan

Gambar

Gambar 11. Analisa Site Eksisting Stadion Silampari
Gambar 1.2 Analisa Wilayah di Sekitar Eksisting
Gambar 2.1 Konsep Pengembangan Kawasan
Tabel 3.1. Sistem Penangkal Petir.

Referensi

Dokumen terkait

Arahan pengembangan ruang terbuka hijau dilakukan pada masing-masing kelurahan di Kecamatan Lubuk Baja sesuai dengan stadar yang berlaku, yaitu sebesar 20% untuk publik,

Rencana Kerja (Renja) Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Kabupaten Takalar Tahun 2021 adalah untuk memberikan arahan

Karena Jalan Ahmad Yani menghubungkan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo maka pertumbuhan kendaraan yang digunakan adalah nilai rata-rata dari keduannya (tabel

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang teregistrasi pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik ( LPSE ) dan memenuhi persyaratan : memiliki

Fenomena yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan, motivasi kerja dan lingkungan kerja yang telah dipaparkan di atas, tentunya dapat memberikan implikasi terhadap

Fokus pada tahap ini adalah bagaimana masalah – masalah bisa dijadikan sebagai kebijakan Publik yang dispesifikasikan dan diidentifikasikan. Mengapa hanya

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka proposisi dari penelitian ini adalah kinerja birokrasi publik di Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung tahun 2017 yaitu

Keberadaan ruang terbuka publik pada suatu kawasan di pusat kota sangat penting artinya karena dapat meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan baik itu dari segi lingkungan,