BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hotel sebagai salah satu industri jasa yang menyediakan jasa penginapan mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga timbul banyak persaingan dalam industri ini. Di masa krisis yang melanda seperti saat ini, banyak pihak yang menyadari adanya tuntutan untuk memiliki kemampuan dalam membuat rencana pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam upaya pengembangan ini, pihak manajemen khususnya di bidang jasa seperti hotel dapat melakukan perbaikan ke dalam, yaitu dengan melakukan performance appraisal. Menurut Rivai (2005) evaluasi kinerja (performance evaluation) yang dikenal juga dengan istilah penilaian kerja (performance appraisal), performance rating, performance assessment, employee evaluation, merit, rating, efficiency rating, service rating, pada dasarnya merupakan proses yang digunakan perusahaan untuk mengevaluasi job performance. Jika dikerjakan dengan benar, hal ini akan memberikan manfaat yang penting bagi karyawan, departemen sumber daya manusia, maupun bagi hotel itu sendiri (Kosasih, 2007). Knowledge management menjadi bidang yang penting dalam proses pembelajaran sebuah organisasi. Pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi harus mampu memberikan kemajuan bagi organisasi itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan pengentahuan manajemen yang kuat agar mengakar disetiap individu dalam organisasi dan tidak hilang begitu saja dengan didukung infrastuktur dan teknologi untuk penyebaran informasi dilingkungan organisasi.
oleh Fatwan (2006), faktor yang mempengaruhi lingkungan bisnis saat ini bukan lagi era informasi, tetapi sudah beralih ke era pengetahuan (Kosasih,2007).
Untuk menghasilkan kinerja yang baik, maka perusahaan membutuhkan sistem yang baik pula. Sistem ini bukan hanya peraturan atau standar yang ada melainkan juga melibatkan pihak-pihak yang terkait langsung yaitu sumber daya manusianya. Salah satu sistem manajemen yang menawarkan suatu disiplin yang memperlakukan intelektual sebagai aset yang dikelola adalah knowledge management (Honeycutt, 2002), yang diukur dengan 3 variabel yaitu personal knowledge, job procedure, dan technology. Dalam prakteknya knowledge management dapat menjadi petunjuk tentang pengelolaan asset perusahaan yang menjadi pilar perusahaan dalam menciptakan nilai. Perusahaan perlu mengetahui sejauh mana knowledge management berperan didalam meningkatkan kinerja karyawan khususnya di indusrti perhotelan.
1.2Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah adanya pengaruh antara knowledge management terhadap kinerja karyawan pada Departemen Front Office Swissbell Manokwari Hotel ?
2. Bagaimana penerapan antara knowledge management terhadap kinerja karyawan pada Departemen Front Office Swissbell Manokwari Hotel ?
1.3Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan proposal ini adalah :
1. Untuk menganalisis dan menguji pengeruh penerapan antara knowledge management terhadap kinerja karyawan pada Departemen Front Office Swissbell Manokwari Hotel ?
2. Untuk menganalisis dan menguji faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan pada Departemen Front Office Swissbell Hotel Manokwari ?
1.4Manfaat Penelitian
Manfaat penyusunan proposal ini yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Pimpinan Swissbell Manokwari Hotel, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para pimpinan manejerial untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan pada Swissbell Hotel Manokwari.
2. Pada Peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan menjadi sumber referensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian yang sama namun pada tempat atau objek yang berbeda.
1.5Sistematika Penulisan
BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Knowledge Management
Knowledge management menjadi guidance atau petunjuk tentang pengelolaan intangible assets atau asset yang tak terbatas dan yang menjadi pilar perusahaan dalam menciptakan nilai (dari produk/ jasa/ solusi) yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggannya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai nilai buku perusahaan harus disertai dengan pemahaman nilai intangible assets perusahaan. Jenis penerapan knowledge management ada dua, yaitu:
1. Tacit Knowledge
Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al., 2004). Berdasarkan pengertiannya, maka tacit knowledge dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan). Menurut Bahm (1995:199) penelitian pada sifat dasar pengetahuan seketika mempertemukan perbedaan antara knower dan known, atau seringkali diartikan dalam istilah subject dan object, atau ingredient subjective dan objective dalam pengalaman (Kosasih, 2007).
2. Explicit knowledge
Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al, 2004). Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya secara independent. Explicit knowledge dalam penelitian ini adalah job procedure dan technology. Job procedure adalah tanggung jawab atau tugas yang bersifat formal atau perintah resmi atau cara melakukan hal-hal.
Menurut Anshori (2004) dalam Kosasih (2004) selaku pihak yang mencetuskan knowledge management, salah satu bentuk konkret dari explicit knowledge adalah standard operation procedure. Standard operation procedure atau prosedur pelaksanaan dasar dibuat untuk mempertahankan kualitas dan hasil kerja, dimana tugas-tugas akan semakin mudah dikerjakan dan tamu akan terbiasa dengan sistem pelayanan yang ada. Teknologi merupakan salah satu elemen pokok yang terdapat pada knowledge management, dikenal sebagai media yang mempermudah penyebaran explicit knowledge.
2.2 Kinerja Karyawan
Kinerja merupakan hasil kerja atau karya yang dihasilkan oleh masing-masing karyawan untuk membantu badan usaha dalam mencapai dan mewujudkan tujuan badan usaha. Pada dasarnya kinerja dari seseorang merupakan hal yang bersifat individu karena masing-masing dari karyawan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Kinerja seseorang tergantung pada kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh (Dale, 1992:3). Menurut Bernardin dan Russel (1993:382) terdapat 6 kriteria untuk menilai kinerja karyawan, yaitu:
1. Quality
Tingkatan dimana proses atau penyesuaian pada cara yang ideal di dalam melakukan aktifitas atau memenuhi aktifitas yang sesuai harapan.
2. Quantity
Jumlah yang dihasilkan diwujudkan melalui nilai mata uang, jumlah unit, atau jumlah dari siklus aktifitas yang telah diselesaikan.
3. Timeliness
Tingkatan di mana aktifitas telah diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dari yang ditentukan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk aktifitas lain.
4. Cost effectiveness
Tingkatan dimana penggunaan sumber daya perusahaan berupa manusia, keuangan, dan teknologi dimaksimalkan untuk mendapatkan hasil yang tertinggi atau pengurangan kerugian dari tiap unit.
5. Need for supervision
Tingkatan dimana seorang karyawan dapat melakukan pekerjaannya tanpa perlu meminta pertolongan atau bimbingan dari atasannya.
6. Interpersonal impact
2.3Penelitian Terdahulu
1. Kosasih (2007)
Pengaruh knowledge management terhadap kinerja karyawan pada Depatemen Front Office Surabaya Plaza Hotel. Dari keseluruhan analisis yang telah dilakukan, penulis dengan menggunakan regresi linier berganda dan dibantu Analisis Path dengan menggunakan permodelan SEM (Structure Equation Modelling), serta menemukan bahwa adanya pengaruh langsung antara job procedure ke kinerja sehingga menunjukan arah yang posistif namun nilainya sangat kecil yaitu sebesar 0,099. Namun apabila melihat pengaruh secara total antara personal knowledge dan job procedure ke kinerja maka perolehan nilainya akan lebih tinggi, dengan pertimbangan sebagai berikut :
Pengaruh total terhadap kinerja = (o,561 x 0,099) + 0,499 = 0,555, yang artinya job procedure yang di imbangi dengan personal knowledge akan memberikan pengaruh yang baik bagi kinerja karyawan hotel. Menurut Kosasih (2007) secara keseluruan implementasi knowledge management di Surabaya Plaza Hotel sudah cukup baik, hal ini juga dapat dilihat dari program-program yang ada dan menawarkan bentuk pelatihan atau training agar karyawan diberi kesempatan untuk mengembangan pengetahuan yang dimilikinya. Program lain yang diadakan yaitu sharing best practices yang menjadi wadah bagi para karyawan untuk melakukan transfer knowledge demi peningkatan kinerja hotel.
2. Warouw (2014)
mengetahui pengaruh seluruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) dan koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Pengaruh antara teknologi, job procedure dan personal knowledge dapat dilihat melalui koefisien korelasi. Hasil koefisien korelasi atau R sebesar 0,723 hal ini menunjukkan bahwa pengaruh teknologi, job procedure dan personal knowledge terhadap Kinerja operasional, mempunyai pengaruh yang positif yaitu sebesar 72,3% . Hasil Koefisien Determinasi atau R square adalah Nilai Adjusted R Square (Adj R2) adalah sebesar 0,492. Hal ini berarti bahwa besarnya peran atau kontribusi secara bersama-sama atau simultan dari variabel X1 atau Teknologi, X2 atau Job procedure, koefisien regresi X3 atau Personal knowledge, adalah sebesar 0,492 atau 49,2%. Sedangkan sisanya (100% -49,2% = 50,8%) yaitu sebesar 50,8% dijelaskan oleh variabel lainnya atau sebab lainnya di luar model penelitian.
3. Fitriasmi (2010)
Berdasarkan hasil penelitian tentang evaluasi kesuksesan aplikasi knowledge management dalam organisasi memperoleh hasil sebagai berikut: Kualitas sistem berhubungan positif terhadap penggunaan sistem. Hasil perhitungan software Smart PLS 2.0 menunjukkan bahwa faktor kualitas pengetahuan berpengaruh positif signifikan terhadap penggunaan system dengan koefisien beta sebesar 0,314737 dan t value sebesar 2,719701. Hal ini berarti, hipotesis pertama terdukung. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh DeLone dan McLean (2003); Almutairi dan Subramanian (2005); Sabherwal et al. (2007); Halawi et al. (2008) dalam Warouw (2014) yang menunjukkan bahwa kualitas sistem berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem.
user friendly, adanya ketersediaan sistem, akses yang cepat, terintegrasi, memiliki fitur yang menarik, dan memiliki fungsi kegunaan menstimulus pengguna untuk terus menggunakan sistem K-Lynx. Konteks penelitian ini adalah bank sentral dengan karyawan yang mempunyai tingkat kesibukan cukup tinggi, sehingga perlu adanya sistem yang dapat mereka akses setiap saat. Liu (2003) berpendapat bahwa tuntutan syarat kualitas sistem oleh pengguna akan beragam tergantung pada perbedaan tugas, tipe bisnis, dan lain-lain. Hal ini berarti bahwa K-Lynx mampu memenuhi tuntutan-tuntutan yang dipersyaratkan oleh pengguna, sehingga penting bagi Bank Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas sistem K-Lynx.
2.4 Kerangka Berpikir
H1
H2
H3 H4
Sumber : Warouw (2014)
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Personal Knowledge (X1)
Job Procedure (X2)
Technology (X3)
2.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori di atas, dan penelitian terdahulu maka disusun hipotesis sebagai berikut :
H1 : Personal knowlegde diduga berpengaruh terhadap kinerja karyawan Swisbell Manokwari Hotel,
H2 : Job procedure diduga berpengaruh terhadap kinerja karyawan Swissbell Manokwari Hotel,
H3 : Technology diduga berpengaruh terhadap kinera karyawan Swissbell Manokwari Hotel,
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research) dengan metode kuantitatif. Lokasi peneliitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu pada Swissbell Manokwari Hotel. Sasaran yang menjadi objek peneliti yaitu karyawan yang telah bekerja selama minimal 1 tahun dan menempati Departemen Front Office pada Swissbell Manokwari Hotel.
3.2 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah seluruh kumpuan elemen yang menunjukan ciri-ciri tertentu yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan. Populasi juga dapat diartikan sebagai wujud keneralisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Kumpulan elemen atau objek maupun subjek itu menunjukan jumlah, sedangkan cirri-ciri tertentu menunjukan karakteristik dari kumpulan itu (Sanusi, 2011 dalam Warouw, 2014). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh karyawan Departemen Front Office Swissbell Manokwari Hotel.
2. Sampel
menggunakan teknik pengambilan sampel secara non probabilitas yaitu teknik pengambilan sampel yang ditentukan berdasarkan pertimbangan oleh penelitii. Sedangkan dalam penarikan sampelnya, peneliti menggunakan cara purposive sampling atau judgment sampling yang merupakan cara penarikan sampel berdasarkan kriteria yang paling baik dalam menetapkan sampel penelitian (Kundjojo, 2009). Yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu karyawan yang telah berkerja minimal 1 tahun dan menempati Departemen Front Office pada Swissbell Manokwari Hotel.
3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitan ini adalah metode nonprobability sampling atau pengambilan sampel secara non probabilitas yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur untuk dipilih menjadi sampel. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan cara purposive sampling atau penarikan sampel yang dilakukan dengan memilih subjek penelitian berdasarka kriteria spesifik yang ditetapkan oleh peneliti (Kundjojo, 2009), atau pengambilan sumberdata dengan pertimbangan tertentu berdasarkan hasil yang diharapkan (Sugiyono, 2014).
3.4 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabelnya
1. Personal knowledge adalah pengetahuan yang diperoleh karyawan room division berupa pengalaman baik dari kejadian sehari-hari ataupun dari sumber lainnya (Carrillo, 2004 dalam Warouw 2014). Indikatornya adalah :
b. Community & networks, dengan mempunyai komunitas, orang dapat membangun dan memelihara jaringan serta dapat bertukar informasi dan ide.
2. Job procedure adalah tanggung jawab atau tugas yang harus dijalankan oleh karyawan roomdivision berdasarkan Standard Operation Procedure yang ada dan sifatnya formal (Carrillo, 2004 dalam Warouw 2014). Indikatornya adalah :
a. Ekspektasi, hal ini hampir sama dengan target, dengan sedikit membuat target lebih dari rata-rata.
b. Peningkatan kinerja, karyawan akan meningkatkan kinerja lebih baik dari yang sudah ditentukan.
c. Pelatihan, Pelaksanaan prosedur kerja yang sesuai dengan ekspektasi harus bersamaan dengan pelatihan yang baik dari manajer, agar orientasi dari prosedur kerja dapat tercapai.
3. Technology adalah media penyebaran informasi melalui sarana intranet yang digunakan untuk mendukung tiap kegiatan kerja didalam perusahaan (Carrillo, 2004 dalam Warouw 2014). Indikatonya adalah:
a. Pemahaman intranet sudah baik
b. Frekunsi pengunaan intranet
c. Fasilitas intranet dalam bekerja
4. Kinerja karyawan (Y) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2005:47 dalam Warouw, 2014). Indikatornya adalah :
a. Kualitas
b. Kuantitas
c. Ketepatan waktu
3.5 Pengujian Insrumen Penelitian 1. Uji Validitas
Uji Validitas Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Uji signikasikasi dilakukan dengan membandingkkan nilai r hitung (nilai Corrected Item - Total Correlation pada output Cronbach Alpha) dengan nilai r tabel untuk degree of freedom (df) = n - k, dalam hal ini n merupakan jumlah sampel dan k merupakan jumlah variabel independen. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya satu kuesioner. Satu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada pertanyaan kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Warouw, 2014).
2. Uji Reliabilitas
3.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Beberapa teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah :
1. Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya menyangkut sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi dan kondisi), (Kundjojo, 2009). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusi, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak telalu besar.
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data mmaupun peneliti terhadap narasumber atau sumber data (Kundjojo, 2009)
3. Kuisioner
Kuisioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya (Kundjojo, 2009)
3.7 Analisis Data
1. Regresi Linier Berganda
jumlahnya lebih dari satu. Adapun formula yang digunakan dalam metode analisis regresi berganda adalah sebagai berikut:
Y = α + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 +e i
Keterangan :
Y : Kinerja operasional α : Konstanta
b1, b2, b3 : Koefisien masing-masing faktor X1 : Technology
X2 : Job procedure X3 : Personal knowledge e : Standard error
2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Multikolineritas
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Dallam model regresi yang digunakan ditemukan adanya hubungan antara variable bebas. Dalam permodelan regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas (Ghozali, 2005).
b. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah dalam suatu model regres yang digunakan tidak ditemukannya persamaan variabel dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain, maka disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
c. Uji Normalitas
Model regresi yang baik dan dapat digunakan adalah yang memili distribusi data yang normal (Ferdinand, 2012).
3. Goodness of Fit Regression Modelling
Pengujian ini dilakukan untuk mengukur ketepatan dari fungsi regresi sampel yang digunakan menaksir nilai secara actual melalui metode statistik, dengan cara mengukur nilai koefisien determinasi, yaitu nilai statistik F dan nilai statistik t (Ghozali, 2005).
a. Uji F (Uji koefisien regresi secara bersama-sama)
Uji F adalah uji yang digunakan untuk menguji dan menunjukkan apakah semua variabel independen (X1: teknologi; X2: job procedure; X3: personal knowledge) yang dimasukkan ke dalam model secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (Y: kinerja operasional) (Ghozali 2005:83). Menentukan F tabel dan F hitung dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikasi sebesar 5% (α = 0,05).
b. Uji t (Uji koefisien regresi secara parsial)
DAFTAR PUSTAKA
Fitriasmi, Sebtina Mulya. 2010. Evaluasi Kesuksesan Aplikasi Knowledge Management Dalam Organisasi, Jurnal Dinamika Manajemen, Vol. 1, No. 1, 18-26
Kuncoro, Mudjarad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta : Erlangga.
Kosasih, Natalia. 2007. Pengaruh Knowledge Management Terhadap Kinerja Karyawan pada Departemen Front Office Surabaya Plaza Hotel, Jurnal Manajemen Perhotelan, Vol. 3, No. 2, 81 – 87
Warouw, Boby T ; Kawet, Lodje. 2014. Knowledge Manajement Terhadap Kinerja Operasional Pada PT. BTN (PERSERO) TBK. Cabang Menado, Jurnal EMBA, Vol. 2, No. 1, 234-242
Prastowo, Andi. 2014. Metode Penelitian Kualitatif dalam Prespektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta : Ar-ruzz Media.
TUGAS PROPOSAL METODOLOGI PENELITIAN BISNIS
PENGARUH
KNOWLEDGE MANAGEMENT
TERHADAP
KINERJA KARYAWAN
(STUDI KASUS DEPERTEMEN
FRONT OFFICE
SWISSBELL
MANOKWARI HOTEL)
Disusun oleh :
ALFRED. I. STEFANUS 2012 66 066