• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Kemampuan Self Regulation siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengembangkan Kemampuan Self Regulation siswa"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

M

engembangkan Kemampuan

Self Regulation

untuk Meningkatkan Keberhasilan Akademik Siswa

Handy Susanto*)

*) Mantan Guru Bimbingan dan Konseling SMPK BPK PENABUR Tasikmalaya

Pendahuluan

atu pertanyaan yang sering kita hadapi ataupun kita renungkan adalah apa yang kita harapkan baik saat ini peran kita sebagai guru ataupun sebagai orang tua terhadap anak-anak kita? Tentunya sebagian besar dari kita bahkan setiap guru ataupun orang tua akan mengharapkan anak-anak kita dapat berhasil dan sukses dalam mengikuti pendidikannya. Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa kita mengharapkan dapat melihat setiap anak kita (tanpa kita harus berteriak-teriak) dengan sendirinya membuka buku pelajaran, mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah yang diterimanya? Ataukah ternyata yang saat ini kita hadapi kenyataannya sangat

bertentangan dengan apa yang kita bayangkan, bahkan mungkin ada yang berkata dalam hatinya bahwa melihat anak-anak mampu belajar sendiri, mengerjakan tugasnya tanpa harus disuruh-suruh, tanpa harus keluar teriakan dari mulutnya, tanpa harus berargumentasi merupakan hal yang mustahil yang dapat mereka lihat pada diri anak mereka.

Seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, kesibukan orang tua yang sangat padat dengan dalih untuk mencari penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup, membuat komunikasi antara orang tua dan anak sangat sulit untuk terjalin. Padatnya jadwal bekerja orang tua membuat setiap anak tidak memiliki lagi waktu untuk bersama-sama dengan orang tuanya. Padahal waktu kebersamaan antara orang Abstrak

Keberhasilan seseorang dalam menjalankan proses pendidikannya tidak hanya ditentukan oleh tingkat intelegensi (IQ) yang dimilikinya, tetapi dibutuhkan juga kemampuan meregulasi dirinya selama mengikuti proses pendidikan. Kemampuan ini lebih dikenal dengan istilah self regulation meliputi kemampuan untuk mulai mencoba menentukan nilai yang ingin diperolehnya, merencanakan membuat jadwal pelajaran, membagi waktu antara belajar dan bermain, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasinya di sekolah.

Kata kunci: Intelligence Quotient (IQ), Self Regulation, kemampuan akademik

Intelligence Quotient (IQ) is not the only one factor in determining some one to be successful in his/ her study. Besides, a person needs the skill to regulate him/herself during learning process. This skill, known as self regulation, includes the ability to determine the goals that he/she wants to reach, to plan learning schedule, to organize time to study and to play, and to prepare him/herself for the examination so that he/she can finally show his/her better performance at school.

(2)

tua dan anak sangatlah penting untuk selalu dikembangkan dan dijaga kualitasnya.

Jika kita mengharapkan anak-anak kita mampu untuk belajar tanpa harus disuruh, tentunya pada awalnya membutuhkan dorongan dan bimbingan orang tua. Suatu hal yang mustahil dapat dicapai oleh orang tua jika mereka mengharapkan anak-anaknya dapat belajar dengan sendirinya tanpa dimulai dengan adanya dukungan orang tua. Di sinilah peran orang tua untuk dapat mengembangkan kemampuan anak untuk mulai mencoba menentukan nilai yang ingin diperolehnya, merencanakan untuk membuat jadwal pelajaran, mampu membagi waktu antara belajar dan bermain, mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasinya di sekolah. Kemampuan-kemampuan tersebut tercakup dalam kemampuan meregulasi diri dalam bidang a k a d e m i k .

(www.pikiran-rakyat.com). Perkembangan self regulation sebenarnya su-dah mulai ber-langsung pada saat anak mulai memasuki ling-kungan sekolah. Di sekolah, anak-anak dituntut untuk dapat mengikuti proses belajar mengajar,

misalnya belajar untuk memusatkan perhatian pada saat pelajaran sedang berlangsung, mencatat setiap pelajaran yang diperolehnya selama di kelas, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu dituntut perhatian dari orang tua masing-masing untuk mulai menerapkan disiplin sejak dini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gunarsa (1991), bahwa kebiasaan disiplin diri dan disiplin waktu akan mendukung kelancaran perkembangan kognitif sehingga anak mampu mencapai keberhasilan prestasi yang optimal.

Dari yang selama ini diamati oleh penulis, tampaknya cukup banyak siswa yang tergolong underachiever. Siswa yang menunjukkan prestasi yang kurang optimal, padahal pada saat dilakukan pemeriksaan psikologis (psikotest) untuk mengetahui potensi kecerdasannya

ternyata mereka merupakan siswa yang cerdas (superior atau bahkan gifted).

Menurut Boekaerts, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan seorang siswa untuk mencapai prestasi yang optimal. Di antaranya adalah intelegensi, kepribadian, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah. Namun selain faktor-faktor tersebut ternyata self regulation turut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi yang optimal. Meskipun seorang siswa memiliki tingkat intelegensi yang baik, kepribadian, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah yang mendukungnya, namun tanpa ditunjang oleh kemampuan self regulation maka siswa tersebut tetap tidak akan mampu mencapai prestasi yang optimal, (dalam Boekaerts, 2005).

Pentingnya kemampuan self regulation dalam menunjang keberhasilan seseorang dalam mencapai prestasi yang optimal ditunjang oleh hasil survey yang d i l a k u k a n Yayasan Kese-jahteraan Anak Indonesia terha-dap 306 orang siswa kelas IV sampai VI Sekolah Dasar m e n u n j u k k a n bahwa pada tahun 1997 rata-rata anak menonton televisi sekitar 26 jam/ m i n g g u , kemudian pada tahun 2001 meningkat menjadi sekitar 35 jam/ minggu atau sama dengan 5 s/d 6 jam per hari. Sebanyak 50% responden menyadari bahwa mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi sehingga mereka cenderung lupa untuk belajar (Kompas, 24 Juli 2001). Hal yang senada juga diungkapkan oleh salah seorang guru Sekolah Dasar Negeri yang menyatakan bahwa proses belajar seringkali terabaikan hanya karena anak terlalu sering bermain playstation. (www.kompas.com). Di sini jelas terlihat bahwa ketidakmampuan anak dalam mengatur jadwal belajar dengan bermain (merupakan salah satu kemampuan dalam self regulatian academik) membuat proses belajar menjadi terabaikan.

Meskipun seorang siswa memiliki

tingkat intelegensi yang baik,

kepribadian, lingkungan rumah, dan

lingkungan sekolah yang

mendukungnya, namun tanpa

ditunjang dengan kemampuan

Self

Regulation

maka siswa tersebut tetap

tidak akan mampu mencapai prestasi

(3)

Memang kita tidak dapat menyangkal bahwa perkembangan zaman begitu cepat, perkembangan teknologi sangat cepat, dan tuntutan zaman semakin tinggi memberikan pengaruh sedikit banyak pada pencapaian prestasi anak. Salah satu contohnya, dengan maraknya bermunculan permainan di komputer (games online). Mungkin sulit bagi kita untuk mencegah anak untuk tidak bermain games di komputer, menonton televisi terus menerus, ataupun dengan semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan yang membuat mereka selalu ingin bermain di tempat-tempat tersebut. Sungguh tidak bijak bagi kita untuk menolak kemajuan zaman. Yang menjadi persoalan bagi kita semua, bahkan mungkin inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita untuk ke depan adalah bagaimana kita membantu anak-anak kita, siswa-siswi kita dalam mengembangkan kemampuan self regulation agar dapat menunjang keberhasilannya dalam mencapai prestasi yang optimal.

Tinjauan Pustaka

Keberhasilan seorang anak dalam pendidikannya tidak dapat dicapai begitu saja. Anak yang dapat meraih keberhasilan dalam pendidikannya tentunya melalui proses yang cukup panjang dan ditentukan oleh berbagai macam faktor. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama di mana seorang anak mulai belajar beradaptasi agar mereka dapat berhasil saat masuk ke dalam lingkungan di luar keluarga. Dengan perkataan lain bahwa pendidikan untuk seorang anak bukanlah dimulai di lingkungan sekolah, tapi keluarga merupakan lingkungan pendidikan anak yang pertama. Di dalam lingkungan keluarga anak dapat memperoleh pendidikan salah satunya adalah disiplin yang nantinya pada saat anak terbiasa untuk menerapkan disiplin bagi dirinya, maka akan turut mempengaruhi perkembangan self regulation.

Pendidikan Anak di dalam

Lingkungan Keluarga

Menurut Gunarsa (1991), anak membutuhkan rasa aman dan terlindungi yang tentunya pertama kali didapatkan di dalam lingkungan keluarga. Rasa aman yang diberikan oleh keluarga merupakan salah satu syarat bagi

kelancaran proses perkembangan anak. Sebagai langkah awal, orang tua perlu sampai pada kesepakatan mengenai pendidikan anak.

Keluarga merupakan tempat bagi anak untuk memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat. Di dalam lingkungan keluarga yang menerapkan disiplin, anak akan memperoleh dasar untuk mulai mengembangkan sikap sosial dan kebiasaan berperilaku. Kebiasaan disiplin diri dan disiplin waktu akan mendukung kelancaran perkembangan kognitif sehingga anak mampu mencapai keberhasilan prestasi yang optimal.

Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, beberapa kendali dialihkan dari orang tua kepada anak itu sendiri, walaupun prosesnya terjadi secara bertahap (Maccoby, 1994 dalam Santrock, 2002). Masa ini dikenal dengan masa koregulasi. Proses koregulasi adalah suatu periode transisi antara kuatnya kendali orang tua pada masa awal anak-anak dengan meningkatnya pengurangan pengawasan pada masa remaja.

Selama masa koregulasi ini, orang tua harus: 1. Memonitor, menuntun, dan mendukung

anak dari jauh.

2. Menggunakan waktu secara efektif ketika mengadakan kontak langsung dengan anak dalam arti bahwa setiap orang tua harus membangun suatu hubungan yang berkualitas dengan anak.

3. Memperkuat kemampuan anak untuk memantau perilakunya sendiri, mengadopsi standar-standar perilaku yang sesuai, menghindari resiko yang membahayakan, dan merelakan kapan dukungan dan kontak orang tua yang dengan tepat.

Self Regulation

Self-regulation dapat dipahami sebagai penggunaan suatu proses yang mengaktivasi pemikiran, perilaku, dan affects (perasaan) yang terus menerus dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

(4)

faktor-faktor personal, tingkah laku, dan lingkungan secara konstan berubah selama proses belajar dan berperilaku. Faktor-faktor tersebut juga harus diobservasi dengan feedback yang mengarah pada dirinya.

Struktur Sistem

Self Regulation

Setiap orang akan berusaha untuk meregulasi fungsi dirinya dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Winne, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Oleh karena itu yang membedakan hanyalah efektivitas dari self regulation itu sendiri. Pada waktu seseorang mampu mengembangkan kemampuan self regulation secara optimal, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal. Sebaliknya pada saat seseorang kurang mampu mengembangkan kemampuan

self regulation dalam dirinya, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya tidak dapat dicapai secara optimal. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulation ini bisa disebabkan oleh kurang berkembangnya salah satu fase dalam proses self regulation terutama pada fase forethought dan performance control yang tidak efektif (Bandura, 1991; Zimmerman, 1998 dalam Boekaerts, 2000).

Berdasarkan perspektif social cognitive, proses self regulation digambarkan dalam tiga fase perputaran : Fase forethought (perencanaan), performance or volitional control (pelaksanaan), self reflection (proses evaluasi). Fase forethought berkaitan dengan proses-proses yang berpengaruh yang mendahului usaha untuk bertindak dan juga meliputi proses dalam

menentukan tahap-tahap untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Fase performance or volitional control meliputi proses-proses yang terjadi selama seseorang bertindak dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya. Fase self reflection meliputi proses yang terjadi setelah seseorang melakukan upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan pengaruh dari respon (feedback) terhadap pengalamannya yang kemudian akan memberikan pengaruh pada fase forethought dalam menetapkan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilaksanakannya. Ketiga fase tersebut terus menerus berulang dan membentuk suatu siklus.

Secara ringkas proses yang terjadi dalam ketiga fase tersebut dalam dilihat dari tabel di bawah ini:

1. Fase Forethought

Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat dalam fase Forethought:

a. Task Analysis

Yang menjadi inti task analysis meliputi penentuan tujuan (goal setting) dan strategic planning. Goal Setting dapat diartikan sebagai penetapan / penentuan hasil belajar yang ingin dicapai oleh seorang siswa, misalnya memecahkan persoalan matematika selama proses belajar berlangsung (Locke & Lathan, 1990 dalam Boekaerts, 2000). Goal system dari seseorang yang mampu melakukan self regulation tersusun secara bertahap. Proses

(5)

tersebut dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang sama dengan hasil yang pernah dicapai. Bentuk kedua dari task analysis adalah strategic planning. Strategi ini merupakan suatu proses dan tindakan seseorang yang bertujuan dan diarahkan untuk memperoleh dan menunjukkan suatu keterampilan yang dapat digunakannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. (Zimmerman, 1989 dalam Boekaerts, 2000). Strategi yang dipilih secara tepat dapat meningkatkan performance dengan mengembangkan kognitif, mengontrol affect, dan mengarahkan kegiatan motorik (Pressley & Wolloshyn, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Perencanaan dan pemilihan strategi membutuhkan penyesuaian yang terus menerus karena adanya perubahan-perubahan baik dalam diri siswa itu sendiri ataupun dari kondisi lingkungan.

b. Self Motivation Beliefs

Yang menjadi dasar task analysis dan strategic planning adalah self motivation beliefs yang meliputi self eficacy, outcome expectation, intrinsic interest or valuing, dan goal orientation. Self eficacy merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk memiliki performance yang optimal untuk mencapai tujuannya, sementara outcomes expectation merujuk pada harapan seseorang tentang pencapaian suatu hasil dari upaya yang telah dilakukannya (Bandura, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Sebagai contoh, self eficacy yang mempengaruhi goal setting adalah sebagai berikut: semakin mampu seseorang meyakini kemampuan mereka sendiri, maka akan semakin tinggi tujuan yang mereka tetapkan dan semakin mantap ia akan bertahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya (Bandura, 1991; Locke & Latham, 1990 dalam Boekaerts, 2000).

2. Fase Performance / Volitional control

a. Self Control

Proses self control seperti self instruction, imagery, attention focusing, dan task strategies, membantu siswa menfokuskan pada tugas yang

dihadapinya dan mengoptimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Salah satu perilaku yang dapat diamati pada saat seseorang sedang berada di fase ini adalah saat anak mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak memperlihatkan verbalisasi dalam mengingat rumus-rumus matematika (self instruction), mencoba untuk membentuk suatu gambaran mental secara utuh misalnya dengan cara melakukan proses encoding (imagery) ataupun mencoba berbagai teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat dengan mudah menghapalkan rumus-rumus matematika tersebut (attention focusing). b. Self Observation

Proses Self observing, mengacu pada penelusuran seseorang terhadap aspek-aspek yang spesifik dari performance yang mereka tampilkan, kondisi sekelilingnya, dan akibat yang dihasilkannya (Zimmerman & Paulsen, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Penetapan tujuan yang dilakukan pada fase forethought mempermudah self observation, karena tujuannya terfokus pada proses yang spesifik dan terhadap kejadian di sekelilingnya.

3. Fase Self Reflection

a. Self Judgement

Self judgement meliputi self evaluation terhadap performance yang ditampilkannya dalam upaya mencapai tujuan dan menjelaskan penyebab yang signifikan terhadap hasil yang dicapainya. Self evaluation mengarah pada upaya untuk membanding informasi yang diperolehnya melalui self monitoring dengan standar atau tujuan yang telah ditetapkan pada fase forethought.

b. Self Reaction

(6)

Disfungsi

Self Regulation

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang kurang mampu untuk mengembangkan self regulation.

1. Kurangnya pengalaman belajar dari lingkungan sosial adalah faktor yang pertama yang menyebabkan kegagalan seseorang dalam mengembangkan self regulation. Seringkali mereka mengalami kesulitan untuk mengembangkan self regulation disebabkan mereka tumbuh di rumah atau lingkungan yang tidak mengajarkan mereka untuk melakukan self regulation, tidak diberikan contoh, atau pun tidak diberikan reward (Brody, Stoneman, Flor, 1996 dalam Boekaerts, 2000).

2. Batasan kedua yang menghambat seseorang dalam mengembangkan kemampuan self regulation bersumber dari dalam dirinya yaitu adanya sikap apatis (disinterest). Hal ini disebabkan dalam menggunakan teknik-teknik self regulation yang efektif dibutuhkan atisipasi, konsentrasi, usaha, self reflection yang cermat. Sebagai contohnya, kebanyakan guru akan melaporkan bahwa murid-murid yang tidak aktif di kelas akan menunjukkan prestasi yang kurang dan jarang mengumpulkan tugas-tugas yang diterimanya (Steinberg, Brown, Dornbusch, 1996 dalam Boekaerts, 2000).

3. Gangguan suasana hati, seperti mania atau depresi adalah batasan ketiga yang dapat menyebabkan disfungsi self regulation. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami depresi cenderung menunjukkan perilaku menyalahkan diri sendiri, salah dalam mempersepsikan hasil perilaku mereka, bersikap negatif (Bandura, 1991 dalam Boekaerts, 2000).

4. Batasan yang keempat yang sering dihubungkan dengan disfungsi self regulation adalah adanya learning disabilities, seperti masalah kurang mampu konsentrasi, mengingat, membaca dan menulis (Borkowski & Thorpe, 1994 dalam Boekaerts, 2000). Sebagai contoh, seorang anak dengan learning disabilities menetapkan goal academic yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak normal, memiliki masalah dalam mengontrol dorongannya, dan kurang akurat dalam menilai kemampuan yang mereka miliki.

Saran dan Aplikasi

Penulis mengakui bahwa dalam mengembangkan self regulation pada diri anak-anak sangatlah sulit. Akan ada begitu banyak tantangan yang kita hadapi saat mencoba untuk mengembangkan kemampuan self regulation, seperti pengaruh dari lingkungan pergaulan anak, perkembangan teknologi yang cenderung membawa anak-anak pada hal-hal yang negatif. Namun, satu hal yang harus kita pahami juga bahwa self regulation merupakan suatu kemampuan. Pada prinsipnya jika kemampuan tersebut dicoba untuk terus menerus digunakan / dilatih, maka pada suatu saat pasti kemampuan tersebut akan melekat pada diri anak-anak kita. Intinya pengulangan merupakan suatu hal yang mutlak harus dilakukan agar kemampuan tersebut dapat melekat pada diri anak-anak kita.

Di dalam usaha untuk melatih kemampuan ini pada anak-anak kita, peran orang tua (di rumah) dan guru (di sekolah) sangatlah penting. Orang tua dan guru (terutama yang mungkin akan lebih berperan adalah Guru Bimbingan dan Konseling) harus bersinergi untuk melatih kemampuan self regulation agar melekat pada diri anak-anaknya.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua bersama dengan guru: 1. Langkah pertama yang dapat kita latih adalah kita harus mencoba mengarahkan anak-anak kita untuk mulai menetapkan target pada saat mereka mengikuti proses belajar. Cobalah untuk memahami dan menghargai apapun target yang ditetapkan oleh anak-anak kita. Tujuannya adalah agar anak-anak kita mampu menetapkan goal setting selama mereka mengikuti proses belajar. Ajaklah anak-anak kita untuk berdiskusi dan bersikaplah terbuka terhadap anak kita. Dalam forum diskusi ini pula kita dapat mengatakan apa yang sebenarnya kita harapkan dalam diri anak-anak kita.

(7)

langkah-langkah yang akan mereka laksanakan, tetapi bukan untuk mengkritik langkah yang akan mereka tempuh. 3. Jika mereka telah menetapkan target yang

akan dicapai dan langkah-langkah yang akan dijalani untuk mecapai target tersebut, kita mulai membimbing mereka selama proses pencapaian target tersebut. Selama proses belajar tersebut, pastilah dibutuhkan kemampuan untuk konsentrasi terhadap tugas yang dihadapinya. Kita dapat menawarkan beberapa cara agar mereka dapat memusatkan perhatiannya selama mengikuti proses belajar, seperti teknik yang digunakan dalam quantum learning, misalnya dengan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana cara meningkatkan gelombang alpha di dalam otak kita sehingga kita mampu memusatkan perhatian (konsentrasi). Latihan ini terutama ditujukan untuk melatih kemampuan attention focusing. 4. Pada saat anak-anak mendapatkan tugas

di sekolah yang harus mereka kerjakan, mulailah dengan melatih mereka untuk membagi tugas-tugas tersebut menjadi bagian kecil dan memilah bagian-bagian yang penting. Misalnya, jika mereka menghadapi ulangan maka kita dapat mengajarkan untuk membagi bahan ulangan tersebut menjadi beberapa bagian dengan menetapkan skala prioritas (derajat kepentingannya), dan memulai mempelajari bahan ulangan dari bagian yang paling penting.

5. Langkah selanjutnya yang dapat kita latih adalah mencoba untuk mengevaluasi kembali target yang telah ditetapkan dengan hasil yang telah diperoleh selama ini. Ajaklah anak-anak kita untuk berdiskusi mengenai hal tersebut. Buatlah suasana diskusi yang terbuka agar anak-anak kita pun mampu untuk terbuka menyampaikan pendapatnya. Berikanlah pandangan-pandangan kita mengenai hasil yang telah didapatnya. Kemudian ajaklah kembali anak-anak kita untuk mulai menetapkan target yang baru, yang mengacu pada hasil evaluasi.

Perlu usaha yang sangat besar dalam menjalankan langkah-langkah tersebut dan sungguh mustahil dapat dijalankan apabila

hubungan kita dengan anak cukup jauh. Oleh karena itulah sangatlah penting bagi kita untuk mulai membenahi kembali hubungan kita dengan anak. Seperti yang diungkapkan pada awal tulisan ini, bahwa untuk memulai mengembangkan self regulation ini adalah dorongan dari orang tua. Jadi tidak mungkin kita dapat melatih kemampuan self regulation jika hubungan kita dengan anak atau siswa kita kurang baik. Untuk menjalankan beberapa saran yang telah diuraikan di atas mensyaratkan satu hal yaitu keterbukaan antara orang tua dan anak, guru dan murid. Keterbukaan tersebut baru dapat tercipta jika hubungan antara keduanya pun baik. Namun, perlu disadari juga bahwa perkembangan self regulation tidak bisa terjadi secara instan. Semuanya mengalami suatu proses, dan yang pasti akan membutuhkan waktu yang cukup panjang agar self regulation dapat berkembang seutuhnya. Di sini penulis menekankan kepada setiap guru (terutama Guru Bimbingan dan Konseling) dan orang tua hendaklah tidak jemu-jemunya untuk membimbing terus setiap anaknya dalam rangka mengembangkan self regulation ini, karena ini merupakan suatu bentuk keterampilan yang harus terus menerus diulang.

Manfaatkanlah awal tahun pelajaran ataupun awal semester untuk mulai membentuk kemampuan ini, lalu dilakukan proses evaluasi sepanjang semester atau sepanjang tahun pelajaran tersebut dengan cara membagi menjadi beberapa waktu evaluasi, misalnya melakukan evaluasi 1 bulan atau 2 bulan sekali. Semakin sering melakukan evaluasi akan semakin baik karena hasil dari evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menetapkan atau merumuskan kembali tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan.

Kesimpulan

(8)

sekolah, membagi waktu antara belajar dan bermain, kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan.

Kemampuan ini tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif agar anak dapat mengembangkan kemampuan self regulation. Lingkungan yang kondusif seperti hubungan yang baik antara orang tua dan anak atau guru dan anak akan mendukung perkembangan self regulation karena dalam hubungan yang kondusif, maka akan tercipta suatu keterbukaan yang diperlukan untuk melaksanakan proses diskusi dan evaluasi.

Daftar Pustaka

Boekaerts, Monique; Pintrich, Paul; Zeidner, Mosche. (2000). Handbook of self regulation. California, USA: Academic Press

Gunarsa, Singgih D. (1991). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia

Santrock, John W. (1983). Developmental psychol-ogy; A Life-span approach, 5th ed. New Delhi:

McGraw-Hill, Inc; Ltd Publishing Com-pany

Santrock, John W. (2002). Life span developmental, 5th ed. Jakarta: Erlangga

http://www.kompas.com, 24 Juli 2001, Televisi menyita perhatian anak

http://www.pikiran-rakyat.com, 22 April 2001. http: //education.calumet.purdue.edu/

Referensi

Dokumen terkait

masi pengolahan laporan keuangan dana pensiun ini dapat digunakan oleh 2 masing aktor mempunyai hak akses yang berbeda, admin dapat mengolah seluruh data master yaitu

11.1 Meres pon makna dalam teks fungsional pendek  (misalnya b anner, poster, pa m  phlet, dll.) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar 

Optimasi Produksi Klon Karet Melalui Sistem Eksploitasi Berdasarkan Metabolisme Lateks.. Prosiding Lokakarya Nasional Pemuliaan

Apabila dalam masa pemulihan mata anda menjadi lebih sakit dari biasanya atau penglihatan anda tiba-tiba menjadi kabur kembali, anda harus segera datang ke Klinik Mata

Penelitian lain yang dilakukan oleh Park dan kawan-kawan (2003) yaitu tentang perubahan ukuran globul emulsi propofol yang dicampur dengan berbagai konsentrasi

Setelah menyelesaikan sesi ini peserta didik akan mampu melakukan anestesia umum dengan Intubasi atau LMA (inhalasi), regional SAB, regional anestesia epidural untuk

&etode ini dikeluarkan oleh ugust ?omte '3AD-3DCA(. &etode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang !aktual, yang positi!. 2a mengenyampingkan

) Dibawah ini yang termasuk 8ilum ada roto,oa Dibawah ini yang termasuk 8ilum ada roto,oa ke3uali7. Jawaban B. 'arena ara me3ium memiiki bentuk  'arena ara me3ium