• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AGAMA DALAM SEKOLAH SEBAGAI H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDIDIKAN AGAMA DALAM SEKOLAH SEBAGAI H"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN AGAMA DALAM SEKOLAH SEBAGAI HAK DAN

Pada era modern seperti ini, agama menjadi suatu hal yang penting untuk diajakan. Pelajaran agama dapat diberikan kepada siswa melalui berbagai media, salah satunya sekolah. Kurikulum yang sudah ditetapkan pemerintah mengatur bahwa pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Metodologi yang digunakan adalah metode desktriptif korelatif. Dalam mengumpulkan data, penulis memakai cara wawancara dan studi pustaka. Hak dan kewajiban warga negara secara umum dan dalam bidang pendidikan diatur sedemikian rupa dalam UUD. Sebuah SD Negeri di Legok, Tangerang adalah contoh nyata dari sekolah yang tidak memiliki tenaga pendidik yang memadai dalam hal pelajaran agama. Siswa beragam non-Muslim, termasuk siswa beragama Kristen tidak memiliki guru agama Kristen. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Kesimpulan akhirnya adalah pendidikan agama di dalam lingkungan sekolah merupakan suatu hak dan kewajiban yang diterima seorang siswa sebagai seorang warga negara di dalam negaranya.

Kata kunci : (Hak dan kewajiban warga negara, pendidikan agama, dan sekolah)

PENDAHULUAN

(2)

Kewarganegaraan; d.Bahasa Indonesia; e.Membaca dan menulis; f.Matematika; g.Pengantar sains dan teknologi; h.Ilmu bumi; i.Sejarah khusus dan sejarah umum; j.Kerajinan tangan dan kesenian; k.Pendidikan jasmani dan kesehatan; l.Menggambar; dan m.Bahasa Inggris.” (2001, hal. 115).

Pengajaran agama yang dilakukan di lingkungan sekolah tidak boleh diajarkan oleh sembarang guru. Guru agama seharusnya adalah seorang pengajar yang kompeten dalam agama yang diajarkannya, sehingga pelajaran agama yang diterima siswa tidak salah dan menjadi sesat pada akhirnya. Pada kenyataannya banyak sekolah negeri di Indonesia yang tidak menyediakan fasilitas pendukung untuk pelajaran agama ini. Sekolah negeri yang terdiri dari berbagai siswa dengan latar belakang agama yang berbeda tidak memiliki tenaga pengajar agama yang berkompeten bahkan terkadang siswa tidak memiliki guru agama yang sesuai dengan agama yang siswa pegang.

Sebuah SD Negeri di Legok yang beralamat di Jalan Raya Karawaci, Legok, Tangerang adalah contoh nyata dari pemaparan kasus di atas. Sekolah ini memiliki jumlah murid sebanyak 721, 27 diantaranya beragama Kristen, 2 siswa beragama Katolik, 2 siswa beragama Hindu, dan 11 siswa beragama Budha. Sekolah ini memiliki 2 guru agama Islam dan tidak memiliki guru agama Kristen maupun guru agama lain. Kenyataan ini cukup mencengangkan bagi penulis. Ketidakadaan guru Agama Kristen di sini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain jumlah siswa Kristen yang ada di sekolah ini tidak cukup memadai untuk memenuhi syarat pemerintah agar siswa beragama Kristen memiliki guru agama tersendiri.

(3)

jurnal ini para pembaca menyadari bahwa seorang siswa berhak dan wajib menerima pendidikan agama di dalam sekolahnya. Untuk mencapai tujuan di atas, penulis membatasi masalah. Batasan masalah yang dibahas yaitu pendidikan agama khususnya agama Kristen dalam sekolah, sebagai hak dan kewajiban warga negara yang menganut agama Kristen.

METODOLOGI

Metode penelitian yang digunakan penulis dalam pembuatan jurnal ini adalah metode desktiptif korelatif. Yang dimaksud dengan penelitian deskriptif adalah pengambaran tentang suatu kejadian sosial yang terjadi di masyarakat, yang sifatnya mencari dan bukan menguji. Sedangkan penelitian korelatif adalah penelitian yang menggabungkan data-data yang ada. Sesuai dengan pengertian tersebut penulis menggabungkan data-data hasil tanya jawab yang sudah didapat dengan landasan teori yang penulis gunakan.

TINJAUAN TEORITIS

(4)

Tangerang. Penulis mewawancarai 2 orang siswa kelas 5 SD dan 2 orang guru dengan lokasi penelitian di sebuah SD Negeri di Legok, Tangerang.

PEMBAHASAN

1. Hak dan kewajiban warga negara

Menurut Srijanti, A. Rahman, dan Purwanto S.K. (2006, hal. 74), “Hak warga negara adalah sesuatu yang dapat dimiliki oleh warga negara dari negaranya.” Dalam buku yang sama, “kewajiban adalah hubungan timbal balik dari masyrakat kepada negara terhadap hak yang sudah diterimanya.” (hal. 74). Berdasarkan UUD 1945 pasal 26 ayat (1) “Yang menjadi warga negara ialah orangorang bangsa Indonesia asli dan orangorang bangsa lain yang disahkan dengan undangundang sebagai warga negara.” Hak dan kewajiban warga negara yang terkait dengan pendidikan tertulis dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) sampai (5), penulis memfokuskan pada ayat (1) , “(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” (UUD 1945, pasal 31). Selain ayat-ayat yang sudah penulis sebutkan di atas, Meneteri Pendidikan Nasional juga menyebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab IV bagian kesatu tentang hak dan kewajiban warga negara, pasal 5 ayat (1), “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.” (2003, hal. 10).

(5)

dalam kegiatan politik pemerintahan, termasuk salah satunya pendidikan di dalam sekolah bagi siswa-siswi usia dasar. (Srijanti, Rahman A., & Purwanto, S.K, 2006).

Andri, siswa Kristen di sebuah SD Negeri di Legok, Tangerang yang duduk di bangku sekolah kelas 5 SD adalah warga negara Indonesia, terbukti dari identitas diri yang tercantum dalam Kartu Keluarga dan kartu pelajarnya. Sebagai warga negara, ia berhak mendapatkan pendidikan terkhusus pendidikan agama seperti yang telah dipaparkan pemerintah dalam peraturan perundang-undangan di atas. Haknya sebagai warga negara adalah mendapatkan pendidikan sesuai dengan kapasitasnya dan kewajibannya adalah berkontribusi dalam pemerintahan melalui peran sertanya sebagai seorang siswa di dalam sekolah dasar. Tidak ada hal yang dapat membantah keputusan yang sudah ditetapkan pemerintah dalam suatu peraturan tertulis ini.

2. Pendidikan agama

(6)

diajarkan dan dikembangkan secara bersamaan. Siswa yang pandai tetapi tidak berakhlak mulia kemungkinan besar akan salah dalam mempergunakan ilmu yang sudah didapatnya sewaktu bersekolah.

Dalam Peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, pasal 6 ayat (1), menyatakan bahwa “Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menegah terdiri atas: a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;” (2007, hal. 6).

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Maksud dari diberikannya pelajaran agama dan akhlak mulia ini adalah membentuk siswa-siswi menjadi seseorang yang beriman kepada Tuhan dan memiliki etika serta budi pekerti yang baik sebagai perwujudan konkret dari pendidikan agama (Standart Nasional Pendidikan, 2007, hal. 58).

Andri sebagai seorang warga negara yang terjamin hak dan kewajibannya, berhak menuntuk haknya yang tidak terpenuhi. Siswa ini tidak mendapatkan pendidikan agama Kristen yang seharusnya diberikan kepadanya dari pihak sekolah. Haknya untuk menerima pendidikan agama tertulis jelas di dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional oleh Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia BAB V tentang peserta didik dalam pasal 12 ayat (1) a, “ Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.” (Menteri Pendidikan Nasional, 2003, hal. 12).

(7)

sebagai warga negara dalam menerima pendidikan agama Kristen seakan menjadi tidak penting. Padahal pendidikan agama Kristen yang benar sangatlah penting untuk diajarkan kepada siswa tersebut, supaya siswa tersebut memiliki pengetahuan yang benar tentang agama yang dianutnya dan siswa dapat bertumbuh dalam agama dan akhlak mulia.

3. Sekolah

Seperti pemaparan yang dikemukakan oleh penulis, sekolah menjadi salah satu media yang dapat digunakan untuk media dalam mendidik agama bagi seorang siswa-siswi. Sekolah adalah lembaga resmi formal yang dibentuk dengan persetujuan dari pemerintahan. Sekolah dasar negeri sebagai lembaga resmi pemerintahan, diatur juga di dalam undang-undang.

Di dalam sekolah, dibutuhkan tenaga pendidik ahli yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkannya kepada siswa. Pemeritah sudah menetapkan syarat-syarat agar seseorang menjadi tenaga pendidik profesional. Penulis khusus membahas tentang tenaga pendidik dalam mata pelajaran agama Kristen.

Seorang pendidik harus memiliki standart pendidik. Standart pendidik yang ditetapkan pemerintah tertulis dalam Standart Nasional Pendidikan (2007, hal. 2) “Standart pendidik adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.” Sebelum seseorang ditetapkan sebagai tenaga pendidik bagi suatu sekolah atau lembaga terkait lainnya, calon pengajar harus memenuhi syarat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

(8)

publik dan terbuka untuk semua kalangan. Andri sebagai siswa Kristen satu-satunya di kelas, tidak pernah mendapat pendidikan agama dari guru agama. Siswa hanya mendapatkan pendidikan tentang agama dari gereja dimana siswa berjemaat.

Saat pelajaran agama berlangsung, Andri dan Metta (beragama Budha) tetap diminta untuk berada di dalam ruang kelas. Mereka diperbolehkan untuk tidak memerhatikan pelajaran dan mereka diperbolehkan untuk melakukan aktifitas lain yang tidak menganggu siswa lain yang sedang belajar. Siswa juga diperkenankan untuk mengganti tugas yang diberikan dengan tugas yang sesuai dengan agama dianut siswa. Untuk menganti nilai test atau ujian yang dilaksanakan, siswa harus meminta soal sesuai agama yang dianutnya dari tempat ibadah siswa tersebut. Soal tersebut akan diberikan oleh gereja dan siswa akan mengerjakannya sehingga siswa tetap memiliki nilai agama. Meskipun sekolah tidak memiliki guru agama Kristen, tapi SD ini tidak membatasi hak siswa dalam beragama.

(9)

tersebut disampaikan oleh guru agama yang sesuai dengan agamanya (2003, hal. 12). Mengacu pada peraturan tersebut, seharusnya tidak ada syarat lain yang diajukan pemerintah agar sebuah lembaga sekolah dapat mengajukan permintaan pemberian guru agama, karena dididik oleh guru agama yang sesuai agamanya adalah bagian dari hak dan kewajiban warga negara.

Kesimpulan

Pendidikan agama dalam sekolah, berdasarkan peraturan pemerintah yang ada, merupakan bagian dari hak dan kewajiban warga negara. Dengan adanya penjabaran tentang pendidikan agama sebagai bentuk hak dan kewajiban warga negara, pembaca mengetahui bahwa saat ini ada banyak sekolah yang tidak memiliki guru agama tertentu untuk mendidik siswa mereka dengan agama yang dianutnya seperti sebuah SD Negeri di Legok, Tangerang. Kesadaran tentang adanya siswa Kristen bernama Andri yang tidak mendapatkan pendidikan agama dari tenaga pendidik yang seharusnya di SD ini juga turut terbangun setelah menelaah peraturan dan UUD terkait pendidikan. Kesimpulan akhir dari penulisan jurnal ini adalah pendidikan agama di dalam lingkungan sekolah merupakan hak dan kewajiban yang diterima seorang siswa sebagai seorang warga negara di dalam negaranya.

DAFTAR PUSTAKA

DPR RI. (n.d.). Mengutip dari situs. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Diperoleh 12 November 2013, dari http://www.dpr.go.id/id//uu-dan-ruu/uud1945.

Himpunan peraturan perundang-undangan bidang kependidikan tahun 1989-2000. (2001). Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri.

(10)

Munthe, A. P. (n.d.). Upaya meningkatkan penguasaan materi susunan tata surya dengan alat peraga sederhana. Tangerang.

Sistem pendidikan nasional (uu ri no 2 tahun 1989) dan peraturan pelaksanaannya. (1993). Jakarta: Penerbit Sinar Grafika.

Srijanti, Rahman, A., & Purwanto, S.K. (2006). Etika berwarga negara; Pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Referensi

Dokumen terkait

Pembiasaan men- jadi hal penting untuk menunjang upaya pengembangan PAI menjadi bu- daya agama di sekolah, karena pembiasaan merupakan hasil dari proses latihan terus menerus

serta mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hati.. Peranan Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Inpres Rajuni

(2) Faktor apa yang menentukan keberhasilan dari kelembagaan KKG dalam menjalankan fungsi meningkatkan profesional guru pendidikan agama Islam (GPAI) SD di Kecamatan Lima

Berdasarkan temuan penelitian di SD Negeri 2 Palatiga, guru memberikan materi Pendidikan Agama Islam dengan berbagai cara, meskipun hanya memberikan satu

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa peran Pendidikan Agama Islam dalam mengantisipasi ajaran Aluk Todolo sangat berperan sekali karena agama

Terkait dengan penelitian di SD Dua Mei data yang diperoleh hasil penjelasan wawancara dengan guru PAI Ibu Siti Komariah M.Pd.I menjelaskan tingkat kepedulian Sosial siswa yang mulai

FAKULTAS AGAMA ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Oktaviani Sagita 2015510057 UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK AKHLAK SISWA DI SMP NEGERI 3 TANGERANG

Upaya yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Tangerang Selatan dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa, terdiri dari beberapa tindakan,