SISTEM POLITIK INDONESIA
“ Lembaga - lembaga Negara setelah
Amandemen UUD 1945 “
DISUSUN OLEH:
HENDRY (2013-021-055)
SEKSI B
FIABIKOM (ILMU ADMINISTRASI
BISNIS)
Bagian 1. Kekuasaan Negara dan Lembaga Negara
yang memiliki dasar aturan. Lalu kekuasaan juga harus legitimatif yang artinya mampu mengintegrasikan kepentingan-kepentingan politik sehingga kekuasaan sah dan mendapatkan dukungan dari masyarakat. Dalam hal ini, kekuasaan mengatur hubungan internal manusia dalam masyarakat. Cara mengatur hubungan-hubungan interaksi manusia makan negara menetapkan cara-cara dan batas-batas sampai dimana kekuasaannya dapat digunakan terhadap individu, golongan atau asosiasi.
Distribusi Kekuasaan dibagi ke dalam dua cara, yaitu :
1. Secara vertikal, yaitu pembagian kekuasaan menurut tingkatannya, dalam hal ini yang dimaksud ialah pembagian kekuasan antara beberapa tingkat pemerintahan.
2. Secara horizontal, yaitu pembagian kekuasaan menurut fungsinya secara horizontal.
Konsep-konsep lembaga negara, secara konseptual lembaga negara diartikan sebagai alat perlengkapan negara atau dapat disebut juga organ negara. Adanya Trias Politika dalam kekuasaan yang artinya “ pemisahan kekuasaan” tidak dapat dipertahankan lagi. Dengan berkembangnya konsep mengenai negara kesejahteraan, dimana lembaga eksekutif bertanggung jawab atas kesejahteraan seluruh rakyat dan karena itu harus menyelenggarakan perencanaan perkembangan ekonomi dan sosial secara menyeluruh, maka fungsi kekuasaan negara sudah jauh melebihi tiga macam fungsi kekuasaan negara yang disebut oleh Montesquieu.
Adanya kedudukan negara, kedudukan negara diarikan sebagai suatu posisi, yaitu posisi suatu lembaga negara dibandingkan dengan lembaga negara lain. Lalu kedudukan negara dapat diartikan sebagai fondasi yag didasarkan pada fungsi utamanya.
Kriteria lembaga negara dibagi menjadi dua kriteria yakni yang pertama dari segi hirearki yang berkenaan dengan bentuk sumber normatif kewenangan lembaga negara. Kedua, dari krieria kualitas fungsinya yakni lembaga negara dibedaakan yang bersifat utama atau penunjang. Didalam hirearki, lembaga negara terbagi atas beberapa lapisan. Untuk kualitas dari fungsinya itu dapat dilihat dari tugasnya sebagai yang utama dan yang sebagai penunjang di suatu lembaga negara.
Bagian 2. Lembaga Negara Utama
Lembaga legislatif atau parlemen pada mulanya dipandang sebagai representasi warga negara dalam rangka ikut serta menentukan jalannya pemerintahan. Keputusan suatu lembaga legislatif dinyatakan sebagai keputusan rakyat. Dalam susunan legislatif, mayoritas ada pada masyarakat dan lembaga eksekutif bertanggungjawab kepada legislatif. Adanya fungsi dalam legislatif yaitu fungsi legislasi, yaitu fungsi membuat undang. Ada kaitannya dalam pembuatan undang-undang. Kedua fungsi pengawasan, memilikin kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap eksekutif.
2. Lembaga Eksekutif
Lembaga eksekutif dalam tafsiran trias politika, hanya melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh lembaga kekuasaan lainnya terutama melaksanakan apa yang telah dirumuskan dan diputuskan oleh lembaga legislatif. Adanya sistem pemerintahan parlementer, di setiap negara memiliki perbedaan dalam sistem pemerintahan yang bersifat parlementer. Ada pula sistem pemerintahan pesidensial, meletakkan presiden sebagai pusat kekuasaan negara. Lalu terakhir adanya sistem pemerintahan campuran, jadi dalam sistem pemerintahan campuran ini terlihat ciri-ciri sistem pemerintahan parlementer dan presidensial yang masing-masing menonjol.
3. Lembaga Yudikatif
Lembaga Yudikatif, merupakan cabang yang diorganisasikan secara tersendiri. Dalam kekuasaan yudikatif terdapat dua sistem yang berlaku di dunia,yakni Common Law dan Civil Law system. Common Law ini bukan berupa aturan-aturan yang telah dikodifisir (dimasukkan dalam kitab undang-undang). Lalu Civil Law, hukumnya tidak diciptakan secara sengaja oleh hakim. Kekuasaan yudikatif di Indonesia diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 24 ayat 1 yang berbunyi : kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan Kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Kekuasaan Kehakiman ada pada Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, agama, peradilan militer dan lingkungan peradilan tata usaha negara dan sebah Mahkamah Konstitusi.
Lembaga Kepresidenan adalah lembaga yang memegang kekuasaan pemerintahan yang didalam teori Trias Politika disebut eksekutif, yakni lembaga negara yang memegang kekuasaan untuk melakukan undang-undang. Lembaga kepresidenan di sebut juga lembaga negara karena negara merupakan sistem yang secara konstitusi terdiri atas unsur rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat. Presiden memiliki fungsi sebagai kepala pemerintahan presidensial.
Adanya kekuasaan presiden dalam perundang-undangan, kekuasaannya luas,teridiri dari kekuasaan mempersiapkan dan mengusulkan pembentukan undang-undang, lalu kekuasaan menetapkan peraturan pemeritah, kekuasaan menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang, dan kekuasaan menetapkan peraturan presiden.
Adanya kekuasaan presiden di bidang Yudisial. UUD Negara Republik Indonesia telah pula memberikan kekuasaan yudisial ini kepada presiden, terkait dengan grasi (kewenangan presiden memberi pengampunan dengan cara meniadakan atau mengubah atau mengurangi pidana bagi seseorang yang di jatuhi pidana dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap), rehabilitasi (pengembalian pada kedudukan atau keadaan semula seperti sebelum seseorang dijatuhi pidana atau dikenai pidana), amnesti (kewenangan presiden meniadakan sifat pidana atas perbuatan seseorang atau sekelompok orang), abolisi (kewenangan presiden meniadakan penuntutan).
Adanya kekuasaan presiden dalam hubugan luar negeri. Jenis kekuasaan presiden dalam hubungannya dengan luar negeri adalah menyatakan perang, bekerja sama, lalu juga berdamai satu sama lain. Pelembagaan sistem presidensial dalam lembaga kepresidenan. Rumusan UUD 1945 sebelum di amandemen, yaitu pertama, kedudukan presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala negara. Kedua, presiden mempunyai hak prerogatif untuk mengangkat dan memberhentikan menteri.
BAB 4. LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT
Dalam system ketatanegaraan didunia dewasa ini, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memiliki struktur yang unik karena merupakan lembaga perwakilan yang kedudukannya diatas parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD)kekuasaan MPR itu tidak terbatas dan tidak ditetapkan secara limitative melainkan enunsiatif, artinya selain kekuasaan yang ditetapkan menurut pasal – pasal dalam UUD 1945, MPR juga mempunyai kekuasaan – kekuasaan lainnya.
Ketentuan ini didasarkan pada Penjelasan UUD 1945, dimana terdapat istilah MPR sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia (Vertrelingsorgan des Willens des Staatsvolkes) yang menimbulkan berbagai macam penafsiran sebagai berikut:
1. Penafsiran yang member pengertian bahwa MPR itu sama atau identik dengan rakyat.
2. Penafsiran yang mengartikan MPR sebagai suatu badan seluruh lapisan dan golongan rakyat akan diwakili dalam badan itu.
Kekuasaan MPR yang besar ini dalam parktek ketatanegaraan selama berlakunya UUD 1945 sebelum amandemen, tidak jarang diselewengkan atau dipergunakan sebagai alat memperbesar kekuasaan presiden diluar ketentuan UUD 1945, seperti pemberian kekuasaan tidak terbatas kepada Presiden Soeharto melalui Ketetapan MPR No. V/MPR/1998 Tentang Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus Kepada Presiden/Mandataris MPR RI Dalam Rangka Penyuksesan dan Pengamanan Pembangunan Nasional Sebagai Pengalaman Pancasila. Perubahan tersebut juga berimplikasi pada pengurangan kewenangan MPR, yaitu:
1. MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi Negara.
2. MPR tidak lagi sebagai pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat
3. MPR tidak lagi berwenang memilih dan mengangkat presiden dan/ wakil presiden.
4. MPR tidak lagi dapat meminta pertanggungjawabam presiden.
Dengan demikian kini kekuasaan MPR berdasarkan UUD Negara Rebuplik Indonesia Tahun 1945 Pasal 3, yakni:
3. MPR hanya dapat memberhentikan presiden dan/ wakil presiden dalam masa jabatannya menurut UUD.
BAB 5. LEMBAGA KEHAKIMAN
Pada dasarnya, penafsiran hukum yang dilakukan oleh hakim terikat pada asas – asas umum, antara lain asas proporsionalitas, asas subside, dan asas patut. Menurut ilmu hokum dikenal empat macam penafsiran, yakni:
1. Penafsiran subjektif, hukum ditafsirkan sesuai kehendak pembentuknya seperti ketika peraturan itu ditetapkan. 2. Penafsiran objektif, merupakan kebalikan dari penafsiran
subjektif. Dalm penafsiran objektif, hokum ditafsirkan sesuai dengan adat istiadat, kebiasaan sehari – hari.
3. Penafsiran restriktif atau penafsiran secara sempit, hokum diberikan arti terbatas menurut bunyi peraturan tersebut. 4. Penafsiran ekstensif atau penafsiran secara luas, hukum ditafsirkan dengan member arti lebih luas daripada apa yang tersurat.
Pada awal reformasi seleksi dan rekrutmen hakim agung yang sebelumnya didominasioleh pemerintah (departemen Kehakiman) dan Mahkamah Agung digeser oleh peran DPR dengan menggunakan mekanisme fit and proper test. Menurut LelP dan koalisi NGO (organisasi nonpemerintah), beberapa kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kurang transparan dan Akuntabel
2. Permainan Uang dan Politik Dagang Sapi 3. Kurang Maksimalnya Keterlibatan Masyarakat 4. Parameter Kurang Objektif
5. Kompetensi yang Lemah
BAB 6. LEMBAGA KEUANGAN NEGARA
A. Bank Indonesia
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana bagi masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan hidup rakyat banyak. Bank merupakan bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu negara sehingga mempunyai peranan yang sangat penting dalam kedua sistem tersebut.
dan pengawasan perbankan; (iii) pengaturan sistem pembayaran. Fungsi bank Indonesia memegang peranan yang sangat penting antara lain bank Indonesia diberikan tugas untuk mengatur peredaran uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah , mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Agar tugas itu dapat di lasanakan secara efektif maka dari itu bank Indonesia diberikan kewenangan dan tenggung jawab yang lebih luas dalam mengatur dalam melaksanakan dan mengatur kegiatan kliring dan jasa transfer serta penyelesaian akhir transaksi pembayaran antarbank.
B. Badan Pemeriksa Keuangan
Pada dasarnya pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara berada pada pemerintah karena mereupakan bagian dari pemerintahan negara.hal ini didasarkan bahwa pemerintah wajib memenuhi tugas negara sebagaimana yang termaktub dalam Alinea Keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka memenuhi fungsi negara maka pemerintah memerlukan pendanaan yang setiap tahun ditetapkan dalam bentk Undang-Undang Anggaran dan Pendapatan Negara (UU APBN). Maka dari itu secara kontitusional pemeriksa pengelolaan serta tanggung jawab keuangan negara dilakka oleh suatu lembaga negara yang bernama “Badan Pemeriksa Keuangan”. Fungsi-fungsi dari BPK adalah 1 Fungsi Operatif , 2 Fungsi Yudikatif , 3 Fungsi
Rekomendatif. Dan selanjutnya pemeriksaan yang menjadi tugas BPK meliputi : (i) pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara dan (ii) pemeriksaan atas tanggung jawab mengeni keuangan negara. Berkaitan dengan pertanggungjawaban tersebut penting karena akan menjadi bahan bagi DPR, DPD dan DPRD untuk menilai kebijakan pemerintah yang menurut Wirjono Prodjodikoro meliputi dua aspek yaitu rechtmatigheid yaitu mengenai kewajiban pemerintah untuk tidak menyimpang dari pasal-pasal APBN. Doelmatigheidb yaitu mengenai kewajiban pemerintah untu menggunakan uang negara dalam rangkabergrooting secara sebaik-baiknya yang betul-betul bermanfaat bagi nusa dan bangsa.
BAB 7. Lembaga Negara Bantu
- Tiadanya kredibilitas lembaga-lembaga negara yang telah ada akibat asumsi adanya korupsi yang sistematik , mengakar dan sulit untuk diberantas.
- Tidak independennya lembaga-lembaga negara yang ada karena satu sama lain hanya tunduk di bawah pengaruh satu kekuasaan negara atau kekuasaa lainnya.
- Ketidakmampuan lembaga-lembaga negara yang ada untuk melakuka tugas-tugas yang urgen dilakukan alam masa transisi demokrasi karena persoalan birokrasi dan KKN.
- Pengaruh global, dengan pembentukan apa yang dinamakan
auxiliary organ state agency atau watchdog institution di banyak negara.
- Tekanan lembaga-lembaga internasional tidak hanya
persyaratan untuk memasuki pasar global tetapi juga untuk membuat demokrasi sebagai satu-satunya jalan bagi negara yang asalnya beraa dibawah kekuasaan otoriter.
Di Indonesia kini terdapat sekitar 30 lebih lembaga negara bantu di bentuk, yakni ( tidak semua disebutkan) :
1. Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan 2. Komisi Pengawasan Persaingan Usaha
3. Dewan Pers
4. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 5. Komisi Ombudsman Republik Indonesia 6. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 7. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) 8. Komisi Perlindungan Anak
9. Dewan Pendidikan
10. Komisi Pemilhan Umum (KPU) 11. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
12. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan 13. Komisi Yudisial
14. Komisi Hukum Nasional 15. Komisi Kepolisian