LAPORAN PRAKTIKUM KELELAHAN KERJA
1. WAKTU PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Selasa, 24 November 2015 Waktu : 16.30-16.45 WIB
Tempat : Kediaman responden
2. DASAR TEORI
2.1 Definisi Kelelahan Kerja
Kelelahan bagi setiap orang memiliki arti tersendiri dan bersifat subyektif. Lelah adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja. Kelelahan merupakan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh menghindari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan (Suma’mur, 1996).
Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2004). Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja (Suma’mur, 1989). Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Eko Nurmianto, 2003).
Menurut Cameron kelelahan kerja merupakan kriteria yang kompleks yang tidak hanya menyangkut kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi dan penurunan produktivitas kerja. (Ambar, 2006)
Kelelahan kerja (job bournout) adalah sejenis stress yang banyak dialami oleh orang-orang yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan terhadap manusia lainnya seperti perawat kesehatan, transportasi, kepolisian, dan sebagainya. (Schuler, 1999).
Kelelahan akibat kerja sering kali diartikan sebagai menurunnya efisiensi, performans kerja dan berkurangnya kekuatan /ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan yang harus dilakukan (Wignjosoebroto, 2000).
2.2 Jenis Kelelahan Kerja
Kelelahan kerja berakibat pada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh (Suma’mur, 1996). Kelelahan kerja dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
1) Berdasarkan proses dalam otot
Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum (AM Sugeng Budiono, 2003):
a. Kelelahan Otot (Muscular Fatigue)
Fenomena berkurangnya kinerja otot setelah terjadinya tekanan melalui fisik untuk suatu waktu disebut kelelahan otot secara fisiologi, dan gejala yang ditunjukan tidak hanya berupa berkurangnya tekanan fisik, namun juga pada makin rendahnya gerakan. Pada akhirnya kelelahan fisik ini dapat menyebabkan sejumlah hal yang kurang menguntungkan seperti: melemahnya kemampuan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya dan meningkatnya kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja, sehingga dapat mempengaruhi produktivitas kerjanya.Gejala Kelelahan otot dapat terlihat pada gejala yang tampak dari luar atau external signs (AM Sugeng Budiono, 2003)
semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan semakin lelah kondisi otot seseorang (Tarwaka, 2004).
b. Kelelahan Umum (General Fatigue)
Gejala utama kelelahan umum adalah suatu perasaan letih yang luar biasa. Semua aktivitas menjadi terganggu dan terhambat karena munculnya gejala kelelahan tersebut. Tidak adanya gairah untuk bekerja baik secara fisik maupun psikis, segalanya terasa berat dan merasa “ngantuk” (AM Sugeng Budiono, 2003).
Kelelahan umum biasanya ditandai berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena monotoni, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan dirumah, sebab- sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi (Tarwaka, 2004).
2) Berdasar penyebab kelelahan
Menutut Kalimo dibedakan atas kelelahan fisiologis, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh faktor lingkungan (fisik) ditempat kerja, antara lain: kebisingan, suhu dan kelelahan psikologis yang disebabkan oleh faktor psikologis (konflikkonflikmental), monotoni pekerjaan, bekerja karena terpaksa, pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk (Ambar, 2006)
Menurut Phoon disebabkan oleh kelelahan fisik yaitu kelelahan karena kerja fisik, kerja patologis ditandai dengan menurunnya kerja, rasa lelah dan ada hubungannya dengan faktor psikososial.(Ambar, 2006)
3) Berdasarkan waktu terjadinya
a. Kelelahan akut, terutama disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh secara berlebihan.
b. Kelelahan kronis, menurut Grandjean dan Kogi (1972) terjadi bila kelelahan berlangsung setiap hari, berkepanjangan dan bahkan kadang-kadang telah terjadi sebelum memulai suatu pekerjaan.
2.3 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kelelahan Kerja
Timbulnya rasa lelah dalam diri manusia merupakan proses yang terakumulasi dari berbagai faktor penyebab yang mendatangkan ketegangan (stress) yang dialami oleh tubuh manusia (Wignjosoebroto,2000).
Yang termasuk faktor internal antara lain : faktor somatis atau faktor fisik, gizi, jenis kelamin, usia, pengetahuan dan sikap atau gaya hidup. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah keadaab fisik lingkungan kerja (kebisingan, suhu, pencahayaan, faktor kimia (zat beracun), faktor biologis (bakteri, jamur), faktor ergonomi, kategori pekerjaan, sifat pekerjaan, disiplin atau peraturan perusahaan, upah, hubungan sosial dan posisi kerja atau kedudukan.
Menurut Grandjean (1988). Faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan: sifat pekerjaan yang monoton (kurang bervariasi), intensitas lamanya pembeban fisik dan mental. Lingkungan kerja misalnya kebisingan, pencahayaan & cuaca kerja. Faktor psikologis misalnya rasa tanggungjawab dan khawatir yang berlebihan, serta konflik yang kronis/ menahun, status kesehatan dan status gizi.
Menurut Siswanto yang dikutip dari Ambar (2006), faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan:
a. Pengorganisasian kerja yang tidak menjamin istirahat dan rekreasi, variasi kerja dan intensitas pembebanan fisik yang tidak serasi dengan pekerjaan.
b. Faktor Psikologis, misalnya rasa tanggungjawab dan khawatir yang berlebihan, serta konflik yang kronis/ menahun.
c. Lingkungan kerja yang tidak menjamin kenyamanan kerja serta tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan pekerja.
d. Status kesehatan (penyakit) dan status gizi.
e. Monoton (pekerjaan/ lingkungan kerja yang membosankan)
Menurut Suma’mur (1989) terdapat lima kelompok sebab kelelahan yaitu: 1) Keadaan monoton
2) Beban dan lamanya pekerjaan baik fisik maupun mental
3) Keadaan lingkungan seperti cuaca kerja, penerangan dan kebisingan. 4) Keadaan kejiwaan seperti tanggungjawab, kekhawatiran atau konflik. 5) Penyakit, perasaan sakit dan keadaan gizi.
Menurut Setyawati (1994), faktor individu seperti umur juga dapat berpengaruh terhadap waktu reaksi dan perasaan lelah tenaga kerja. Pada umur yang lebih tua terjadi penurunan kekuatan otot, tetapi keadaan ini diimbangi dengan stabilitas emosi yang lebih baik dibanding tenaga kerja yang berumur muda yang dapat berakibat positif dalam melakukan pekerjaan.
2.4 Proses Terjadinya Kelelahan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2009) kelelahan kerja merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan, yang secara umum terjadi pada setiap orang, yang telah tidak sanggup lagi melakukan kegiatan. Pada dasarnya timbulnya kelelahan disebabkan oleh dua hal, yaitu:
1. Kelelahan Akibat Faktor Fisiologis (Fisik atau Kimia)
Kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul karena adanya perubahan fisiologis dalam tubuh. Dari segi fisiologis, tubuh manusia dapat dianggap sebagai mesin yang dapat membuat bahan bakar, dan memberikan keluaran berupa tenaga yang berguna untuk melakukan kegiatan. Pada prinsipnya, ada 5 macam mekanisme yang dilakukan tubuh, yaitu:
a. Sistem peredaran darah b. Sistem pencernaan c. Sistem otot d. Sistem syaraf e. Sistem pernafasan
Kerja fisik yang kontinyu, berpengaruh terhadap mekanisme tersebut, baik secara sendiri-sendiri maupun secara sekaligus. Kelelahan terjadi karena terkumpulnya produk sisa dalam otot dan peredaran darah, dimana produk sisa ini bersifat mambatasi kelangsungan kegiatan otot. Produk sisa ini mempengaruhi seratserat syaraf dan system syaraf pusat sehingga menyebabkan pegawai menjadi lambat bekerja jika sudah lelah.
2. Kelelahan Akibat Faktor Psikologis
seseorang., Sebab kelelahan ini dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya: kurang minat dalam bekerja, berbagai penyakit, keadaan lingkungan, adanya hukum moral yang mengikat dan merasa tidak sesuai, sebab-sebab mental seperti: tanggung jawab, kekhawatiran dan konflik. Pengaruh tersebut seakan-akan terkumpul dalam tubuh dan menimbulkan rasa lelah.
2.5 Akibat kelelahan kerja
Konsekuensi kelelahan kerja menurut Randalf Schuler (1999) antara lain: 1. Pekerja yang mengalami kelelahan kerja akan berprestasi lebih buruk lagi
daripada pekerja yang masih “penuh semangat”.
2. Memburuknya hubungan si pekerja dengan pekerja lain.
3. Dapat mendorong terciptanya tingkah laku yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup rumah tangga seseorang.
Menurut Suma’mur (1996) ada 30 gejala kelelahan yang terbagi dalam 3 kategori yaitu:
1. Menunjukkan terjadinya pelemahan kegiatan. Perasaan berat di kepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki merasa berat, sering menguap, merasa kacau pikiran, manjadi mengantuk, marasakan beban pada mata, kaku dan canggung dalam gerakan, tidak seimbang dalam berdiri, mau berbaring.
2. Menunjukkan terjadinya pelemahan motivasi. Merasa susah berpikir, lelah berbicara, menjadi gugup, tidak berkonsentrasi, tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu, cenderung untuk lupa, kurang kepercayaan, cemas terhadap sesuatu, tidak dapat mengontrol sikap, tidak dapat tekun dalam pekerjaan.
Tanda-tanda psikis ini sering disertai kelainan-kelainan psikolatis seperti sakit kepala, vertigo, gangguan pencernaan,tidak dapat tidur dan lain-lain. Kelelahan kronis demikian disebut kelelahan klinis. Hal ini menyebabkan tingkat absentisme akan meningkat terutama mangkir kerja pada waktu jangka pendek disebabkan kebutuhan istirahat lebih banyak atau meningkatnya angka sakit. Kelelahan klinis terutama terjadi pada mereka yang mengalami konflik-konflik mental atau kesulitan-kesulitan psikologis. Sikap negatif terhadap kerja, perasaan terhadap atasan atau lingkungan kerja memungkinkan faktor penting dalam sebab ataupun akibat (Suma’mur, 1996).
3. TUJUAN
Mengukur dan mengetahui tingkat kelelahan kerja secara subjektif terhadap mahasiswa 4. MANFAAT
Untuk Mengukur dan mengetahui tingkat kelelahan kerja secara subjektif terhadap mahasiswa
5. ALAT DAN BAHAN
Lembar kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Research Committe) 6. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan lembar kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Research Committe) dan alat tulis
2. Mengajukan lembar kuesioner kepada responden untuk diisi sesuia dengan keadaan responden
3. Kuesioner dijawab atau diisi sendiri oleh responden
4. Skor yang diperoleh dari pengisian kuesioner IFRC dikalikan dengan skor tingkatan skala likers kemudian dijumlahkan dan dibandingkan dengan tabel klasifikasi tingkat kelelahan subjektif.
5. Hasil yang diketahui apakah tingkat kelelahan responden/pekerja termasuk dalam klasifikasi kelelahan rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi.
7. HASIL
Kuesioner Kelelahan Kerja Nama Responden : Tyas
Pekerjaan : Mahasiswa
Umur : 22 Tahun
Petunjuk Pengisian:
Anda diminta memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang terdapat pada kuesioner berikut sesuai dengan keadaan atau perasaan yang anda rasakan pada saat mengisi kuesioner ini dengan memberikan tanda (√) pada kolom yang telah disediakan.
Keterangan:
4. Sangat Sering (SS) = jika hampir tiap hari terasa
3. Sering (S) = jika 3-4 hari terasa dalam satu mingu 2. Kadang-Kadang (KK) = jika 1-2 hari terasa dalam satu minggu 1. Tidak Pernah (TP) = tidak pernah terasa
No .
Pertanyaan Pilihan Jawaban
SS S KK TP
1 Apakah saudara ada perasaan berat di kepala? √ 2 Apakah saudara merasa lelah di seluruh tubuh? √
3 Apakah saudara merasa berat di kaki? √ 4 Apakah saudara sering menguap saat bekerja? √
5 Apakah pikiran saudara kacau saat bekerja? √
6 Apakah saudara merasa ngantuk? √
7 Apakah saudara merasa ada beban pada mata? √
8 Apakah gerakan saudara terasa canggung dan kaku? √ 9 Apakah saudara merasakan saat berdiri tidak stabil? √
10 Apakah saudara saudara ingin berbaring? √
11 Apakah saudara merasa susah berpikir? √
12 Apakah saudara merasa malas untuk berbicara? √
13 Apakah saudara saudara merasa gugup? √
14 Apakah saudara saudara tidak dapat berkonsentrasi? √ 15 Apakah saudara merasa sulit memusatkan perhatian? √ 16 Apakah saudara mudah melupakan sesuatu? √
17 Apakah saudara merasakan kepercayaan diri berkurang? √
18 Apakah saudara merasa cemas? √
19 Apakah saudara merasa sulit untuk mengontrol sikap? √
20 Apakah saudara merasa tidak tekun dalam pekerjaan? √ 21 Apakah saudara merasakan sakit di bagian kepala? √ 22 Apakah saudara merasa kaku di bagian bahu? √ 23 Apakah saudara merasa nyeri di bagian punggung? √
24 Apakah saudara merasa sesak napas? √
25 Apakah saudara merasa haus? √
26 Apakah suara saudara terasa serak? √
27 Apakah saudara merasa pening? √
28 Apakah saudara merasa ada yang mengganjal di kelopak mata?
√
Perhitungan:
Responden menjawab sejumlah: SS : 2*4 = 8
S : 8*3 = 24 KK : 17*2 = 34 TP :3*1 = 3 Total: 8+24+24+3= 69
Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kelelahan Subjektif Tingkat
Kelelahan Total Skor
Klasifikasi
Kelelahan Tindakan Perbaikan
1 30-52 Rendah Belum diperlukan adanya tindakan perbaikan
2 53-75 Sedang Mungkin diperlukan adanya tindakan perbaikan
3 76-98 Tinggi Diperlukan adanya tindakan perbaikan 4 99-120 Sangat tinggi Diperlukan tindakan perbaikan
sesegera mungkin
Berdasarkan hasil kuesioner di atas, skor yang diperoleh dari pengisian kuesioner IFRC oleh responden dikalikan dengan skor tingkatan skala likers kemudian dijumlahkan dan dibandingkan dengan tabel klasifikasi tingkat kelelahan subjektif. Hasil yang diketahui yaitu tingkat kelelahan responden termasuk dalam klasifikasi kelelahan sedang dimana skor yang didapat sebesar 69 dengan usia 22 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Responden masih berstatus mahasiswa sehingga jam kerja < 8 jam. Namun, dikarenakan adanya beberapa acara atau kegiatan seperti mengerjkan tugas dan sebagainya maka memicu terjadinya kelelahan. Oleh karena itu, kemungkinan diperlukan adanya tindakan perbaikan.
8. PEMBAHASAN
Kuesioner tersebut berisi 30 daftar pertanyaan. Didalam skala IFRC ini terdapat 30 pertanyaan gejala kelelahan yang disusun dalam bentuk daftar pertanyaan. Jawaban tiap pertanyaan dijumlahkan kemudian disesuaikan dengan kategori tertentu. Kategori yang diberikan antara laian: (Tarwaka, 2004)
Tabel 2. Daftar Gejala yang Berhubungan Dengan Kelelahan
Dalam pengukuran ini, responden selaku mahasiwa memiliki keluhan sebagai berikut: Tabel 3. Keluhan Kelelahan Responden
Pilihan jawaban Keluhan
Sangat Sering - Ngantuk - Haus
Sering - Lelah pada seluruh tubuh - Berat di kaki
- Menguap saat bekerja - Kurang sehat
- Sulit untuk mengotrol sikap
- Nyeri di bagain punggung - Anggota badan bergetar Kadang-kadang - Berat di kepala
- Kacau saat bekerja - Ada beban pada mata - Berdiri tidak stabil - Susah berfikir - Malas untuk bicara - Gugup
- Tidak dapat konsentrasi
- Mudah lupa - Cemas
- Tidak tekun kerja - Sakit di kepala - Sakit di bahu - Suara serak - Pening
- Sulit memusatkan perhatian kelopak mata Tidak pernah - Gerakan canggung dan kaku
- Kepercayaan diri berkurang
- Sesak napas
Berdasarkan hasil diatas, keluhan yang paling banyak terjadi dengan frekuensi 1-2 hari dalam seminggu yaitu berat di kepala, kacau saat bekerja, ada beban pada mata, berdiri tidak stabil. susah berfikir, malas untuk bicara, gugup, tidak dapat konsentrasi, sulit memusatkan perhatian, mudah lupa, cemas, tidak tekun kerja, sakit di kepala, sakit di bahu, suara serak, pening, dan ada yang mengganjal di kelopak mata.
Tingkat kelelahan kerja pada responden tergolong sedang sehingga diperlukan tindakan perbaikan tidak begitu mendesak untuk dilakukan. Namun, responden harus meminimalkan tingkat kelelahn kerjanya pada level rendah karena sebagai seorang mahasiswa dengan semester atas rentan terhadap kelelahan karena aktifitas yang padat. Hal yang dapat terjadi jika kita mengalami kelelahn kerja menurut Randalf Schuler yaitu prestasi lebih buruk lagi daripada pekerja yang masih “penuh semangat”, memburuknya hubungan si pekerja dengan pekerja lain dan dapat mendorong terciptanya tingkah laku yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup seseorang.
Tindakan yang perlu diperlukan untuk perbaikan bagi responden yaitu mengurangi kegiatan yang tidak terlalu penting, mengatur jadwal dengan rapi, istirahat cukup, dan atur pola makan. Tindakan paling peting adalah ketahuilah batas kemampuan fisik diri sendiri.
9. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil kuesioner, tingkat kelelahan responden adalah kategori sedang dengan jumlah skor 69. Tindakan perbaikan tidak mendesak untuk dilakukan. Namun, usahakan tingkat kelelahan diturunkan ke tingkat rendah karena sebagai mahasiswa memiliki jadwal yang cukup banyak. Hal ini dilakukan untuk menghindari penurunan kinerja dan kesehatan diri.
Tindakan yang perlu diperlukan untuk perbaikan bagi responden yaitu mengurangi kegiatan yang tidak terlalu penting, mengatur jadwal dengan rapi, istirahat cukup, dan atur pola makan. Tindakan paling peting adalah ketahuilah batas kemampuan fisik diri sendiri
Maharja, Rizky. 2015. Hubungan Beban Kerja Fisik, Shift Kerja dan Asupan Kalori dengan Kelelahan Kerja (Studi pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSU Haji Surabaya). Skripsi. Universitas Airlangga: FKM.