BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara beriklim tropis, sehingga di Indonesia banyak dijumpai berbagai macam buah. Salah satunya adalah buah semangka. Buah semangka banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat indonesia, karena buah ini mengandung banyak air yang cocok dengan iklim di Indonesia yang cenderung panas.
Buah semangka biasanya hanya dimakan daging buahnya saja oleh masyarakat, sementara kulit dan bijinya dibuang begitu saja. Padahal ada kandungan yang tidak diketahui oleh masyarakat yaitu cittrulline, yang bermanfaat sebagai penurun hipertensi pada penderita hipertensi.
Oleh karena itu, penulis memanfaatkan limbah kulit semangka sebagai teh, dikarenakan zat yang terkandung dalam kulit semangka, yaitu cittrullin. Sehingga limbah kulit semangka dapat dijadikan sebagai produk yang ekonomis dan memiliki khasiat sebagai obat herbal.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, dapat diidentifikasikan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara pengolahan kulit semangka menjadi teh untuk penderita hipertensi?
2. Berapa kadar karbohidrat, protein, dan lemak yang terkandung dalam teh kulit semangka ?
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam percobaan ini, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara pengolahan kulit semangka menjadi teh sebagai obat Hipertensi.
2. Untuk mengetahui banyaknya kadar karbohidrat, protein, dan lemak yang terdapat dalam teh kulit semangka.
Dalam makalah ini, penulis membahas tentang:
1. Pembuatan produk
2. Analisa kadar karbohidrat dalam produk
3. Analisa kadar Protein dalam produk
4. Analisa kadar lemak dalam produk
1.5 Penjelasan Istilah
1. aldehida (aldehyde): suatu molekul organik dengan ikatan rangkap ke atom oksigen sebagai ganti dua atom hidrogen pada ujung rantai. (kamus kimia, hlm. 1)
2. Analisis kuantitatif (quantitative analysis): analisis kimia suatu bahan untuk menetapkan berapa banyak komponen-komponen tertentu yang dikandungnya. (kamus kimia, hlm. 2)
3. Basa, larutan (basic solution): suatu larutan, dalam mana konsentrasi OH-lebih besar daripada konsentrasi H+. (kamus kimia, hlm. 4)
4. Bobot (weight): gaya berat yang bekerja pads benda oleh tarikan bumi; istilah ini secara longgar digunakan untuk menyatakan massa. (kamus kimia, hlm. 5)
5. distilat (distillate): embunan uap dari suatu penyulingan. (kamus kimia, hlm. 8) 6. ekstraksi pelarut (solvent extraction): proses dengan mana suatu zat terlarut yang
dila rutkan dalam satu pelarut ditarik ke dalam suatu pelarut lain, yang tak dapat campur dengan pelarut pertama. (kamus kimia, hlm. 9)
7. ekuivalen (equivelent): suatu satuan pengukuran, yang sama dengan satu bobot ekuivalen, untuk banyaknya materi dalam suatu contoh zat. (kamus kimia, hlm. 9) 8. eter (ether): suatu senyawa organik dengan dua gugus hidrokarbon dilekatkan pada
sebuah atom oksigen. (kamus kimia, hlm. 12)
9. indikator asam-basa (acid-base indicator): suatu asam atau basa organik yang warnanya berubah dalam jangka pH tertentu. (kamus kimia, hlm. 19)
10. keton (ketone): suatu turunan hidrokarbon dalam mana oksigen yang terikat dengan ikatan rangkap, menggantikan dua hidrogen pada suatu karbon yang bukan karbon ujung. (kamus kimia, hlm. 24)
11. konsentrasi (concentration): angkabanding massa atau volume zat terlarut terhadap massa atau volume pelarut atau larutan yang dinyatakan secara khusus (banyak satuan yang berlianan). (kamus kimia, hlm. 25)
13. normalitas (N; normality): suatu satuan untuk mengukur konsentrasi larutan: ekuivalen zat terlarut/L larutan. (kamus kimia, hlm. 29)
14. oksidasi (oxidation): suatu reaksi dalam mana keadaan oksidasi suatu zat ditambah. (kamus kimia, hlm. 30)
15. pelarut (solvent): biasanya komponen utama suatu larutan, ke dalam mana zat terlatur itu melarut.(kamus kimia, hlm. 32)
16. pH: logaritma negatif dari konsentrasi H+ dalam suatu larutan pH = -log[H+]7. (kamus kimia, hlm. 35)
17. polisakarida (polysaccharide): suatu polimer yang terdiri dari banyak monomer sakarida. (kamus kimia, hlm 35)
18. senyawa (compound): suatu zat murni dengan komposisi tertentu (kecuali bertolida) yang dapat diuraikan menjadi senyawa lain. (kamus kimia, hlm. 40) 19. titrasi (Titration): metode untuk menetapkan konsentrasi suatu larutan dengan meng
ukur volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui, dengan mana larutan anu itu bereaksi sempurna. (kamus kimia, hlm. 46)
20. uap (vapor): keadaan gas (dari) suatu zat pada kondisi, apda mana zat itu biasanya terdapat terutama sebagai cairan atau zat padat. (kamus kimia, hlm. 47)
1.6 Manfaat Penelitian
Dalam praktikum ini, penulis berharap agar :
1. Dapat memanfaatkan limbah sekitar menjadi produk yang bermanfaat.
2. Produk yang dibuat dan yang sudah dianalisa dapat menurunkan penyakit hipertensi dari penderita.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Menurut riset dari Bhimu Patil, seorang peneliti dan direktur Texas A&M's Fruit and Vegetable Improvement Center, Amerika Serikat, pada daging dan kulit/pulp buah semangka ditemukan zat citrulline. citrullinelebih banyak ditemukan pada kulit
semangka yakni sekitar 60 persen dibanding dagingnya. Zat ini juga dapat ditemukan pada semua warna semangka dan yang paling tinggikandungannya adalah jenis semangka kuning. Zat citrullineini akan bereaksi dengan enzim tubuh ketika
dikonsumsi dalam jumlah yang cukup banyak lalu diubah menjadi arginin, asam amino non essensial yang berkhasiat bagi jantung dan kekebalan tubuh.Kulit/pulpbuah semangka juga kaya akan vitamin, mineral, enzim, dan klorofil. Vitamin-vitamin yang terdapat pada kulit buah semangka meliputi vitamin A, vitaminB2, vitamin 6, vitamin E, dan vitamin C. Kandungan vitamin E, vitamin C, dan protein yang cukup banyak pada kulit buah semangka dapat digunakan untuk menghaluskan kulit, rambut, dan membuat rambut tampak berkilau. Sedangkan betakaroten dan likopen yang terdapat pada kulit buah semangka dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan untuk
mengencangkan kulit wajah dan mencegah timbulnya keriput pada wajah. (forum.banjarmasinpost.co.id)
Cara memanfaatkan kulit/pulpsemangka dapat dikatakan tidak sulit. Di beberapa negara seperti Amerika Selatan, Rusia, Ukraina, Rumania, Bulgaria, dan Arab, kulit buah semangka sering dibuat acar atau dimakan sebagai sayuran. Kulit buah semangka juga dapat diminum setelah dijus dengan campuran buah lainnya. Selain itu, kulit buah semangka dapat langsung digunakan dengan cara diparut dan ditempel pada wajah sebagai masker atau digosok-gosokkan pada kulit kepala untuk menghilangkan ketombe dan membuat rambut tampak lebih berkilau.(forum.banjarmasinpost.co.id)
2.2Manfaat Sitrulin
Sitrulin memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia :
Citrulline membantu mengeluarkan amonia dari hati sehingga dapat bersifat detoksifikasi
Citrulline merupakan prekusor arginin yang dapat mensekresi asam nitrit (NO) untuk vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah, sehingga sitrullin dapat berperan untuk mengatasi hipertensi. (bujikuda.blogspot.com)
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan kesakitan yang tinggi. Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustarmi,et al.2005).Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler seperti stroke, gagal ginjal, serangan jantung, dan kerusakan ginjal (Sutanto, 2010)
2.4Dasar teori metodelogi. 2.4.1 Karbohidrat
Karbohidrat banyak terdapat di alam, diantaranya dalam bentuk pati, kapas, gula pasir, dan kayu. Karbohidrat adalah polihidroksi dari aldehida atau keton. Karbohidrat yang sederhana yang tidak terikat pada karbohidrat lain dinamakan gula sederhana atau monosakarida (Wilbraham, A. C, 1992).
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk dunia, khususnya bagi penduduk negara yang sedang berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat hanya 4 Kal (kkal), karbohidrat merupakan sumber kalori yang murah. Selain itu beberapa golongan karbohidrat menghasilkan serat-serat yang berguna bagi pencernaan. Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. CX(H2O)y dan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Monosakarida : misalnya glukosa b. Di – dan tri- sakarida : misalnya maltosa c. Polisakarida : misalnya pati
Monosakarida adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Disakarida adalah produk kondensasi dua unit monosakarida, contohnya maltosa dan sukrosa. Oligosakarida adalah produk kondensasi tiga sampai sepuluh monosakarida, sebagian besar oligosakarida tidak dicerna oleh enzim dalam tubuh manusia. Polisakarida adalah produk kondensasi lebih dari sepuluh unit monosakarida, contohnya pati dan dekstrin yang mungkin merupakan polimer linear atau bercabang.
Gambar : Glukosa
Pati adalah bentuk polimer simpanan glukosa pada tumbuhan dan merupakan sumber energi utama dalam makanan (Murray, R, 2006).
Untuk penentuan kadar pati dalam suatu bahan dapat dikerjakan dengan menghidrolisa pati dengan asam atau enzim sehingga diperoleh gula reduksi.
C6H10O5 + H2O C6H12O6 Pati glukosa BM = 162 BM = 180
Setelah diketahui jumlah gula reduksi hasil hidrolisa pati tersebut maka dapat dihitung jumlah pati yaitu dengan mengalikan dengan suatu faktor konversi sebesar 0,90. Faktor konversi ini diperoleh dari perbandingan berat molekul pati dengan jumlah berat molekul gula reduksi yang dihasilkan.
Faktor konversi =
Jika pati dipanaskan dengan asam akan terurai menjadi molekul-molekul yang ebih kecil secara berurutan, dan hasil akhirnya adalah glukosa. Molekul-molekul pati mula-mula pecah menjadi unit-unit rantai glukosa yang lebih pendek yang disebut dextrin. Dextrin ini dipecah lebih jauh menjadi maltosa (dua unit glukosa) dan akhirnya maltosa pecah menjadi glukosa.
Pati dextrin maltosa glukosa
Hidrolisis pati dapat juga dilakukan oleh kegiatan enzim. Dalam pencernaan, enzim amilase memecah pati menjadi maltosa. Amilase juga terdapat pada tepung dan biji berkecambah. Pada produk-produk tersebut enzim ini biasanya dikenal dengan nama diastase. Diastase penting pada pembuatan roti dan pembuatan bir karena enzim ini dapat menghasilkan gula (maltosa) yang seterusnya oleh enzim yang dihasilkan khamir akan dipecah lebih lanjut menjadi alkohol dan karbon dioksida (Gaman, P. M, 1981).
Penentuan karbohidrat
Penentuan karbohidrat dalam suatu bahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu uji kualitatif dan uji kuantitatif. Banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan banyaknya karbohidrat dalam suatu bahan yaitu antara lain dengan cara kimia, secara fisik, cara enzimatik atau biokimia dan cara kromatrografi. Penentuan yang termasuk polisakarida maupun oligosakarida memerlukan perlakuan pendahuluan yaitu hidrolisa terlebih dahulu sehingga diperoleh monosakarisa. Bahan dihidrolisa dengan asam atau enzim pada suatu keadaan yang tertentu. Penentuan monosakarida yang dihasilkan dapat dengan salah satu cara berikut :
Cara Luff Schoorl
sudah cukup maka diperlukan indikator amilum. Apabila larutan berubah warnanya dari biru menjadi putih berarti titrasi sudah selesai. Agar perubahan warna biru menjadi putih dapat tepat maka penambahan amilum diberikan pada saat titrasi hampir selesai. Reaksi yang terjadi dalam penentuan gula cara Luff dapat dituliskan sebagaiberikut :
Metode Luff Schoorl menggunakan suatu reagen alkalin yang terdiri dari cupri sitrat, setelah dipanaskan dengan suatu larutan yang terdiri dari gula reduksi, potassium iodida dan asam ditambahkan setelah pendinginan dan pembebasan iodin, yang mana ekuivalen terhadap copper yang tidak tereduksi, dititrasi dengan sodium tiosulfat(Egan, H, 1981).
2.3.2 Lemak
Lemak adalah senyawa organik yang terdiri dari atom yang terdiri dari unsur C, H, dan O. Lemak bersifat larut dalam pelarut lemak, seperti benzene, eter, petroleum dan sebagainya. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi berbentuk padat disebut lemak. Sedangkan lemak yang mempunyai titik lebur rendah berbentuk cair disebut minyak. (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM.UI, 2007)
PERHITUNGAN
lemak (labu ak hir−labu awal) gram ba h an x100
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam thimble (selongsong tempat sampel). Pelarut yang digunakan adalah hexane dengan titik didih 60-80°C. Hexana digunakan karena lemak larut dalam pelarut organik.Thimble (selongsong) yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor. Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan (Darmasih, 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar condenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Prinsip ini merupakan prinsip kondensasi. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagairefluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 2 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih, 1997). Labu lemak yang akan digunakan, sebelumnya harus di oven terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air atau lemak yang menempel pada labu. Setelah di oven, labu lemak disimpan didalam desikator yang berisi silika gel. Silika gel berfungsi sebagai penyerap air dan menyeimbangkan suhu labu lemak agar dingin ketika penimbangan. Setelah proses soxhletasi selesai, maka labu lemak harus dikeringkan didalam oven 1050C selama 30 menit hingga aroma hexana tidak tercium
2.4.2 Protein
Protein merupakan sumber asam amino yang terdiri dari unsur C, H, O, dan N. Protein berfungsi sebagai zat pembangun jaringan-jaringan baru, pengatur proses metabolisme tubuh dan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh lemak dan karbohidrat (Winarno 1986).
menghubungkan suatu gugus karboksil satu asam amino dengan gugus amino asam amino lainnya sehingga terbentuk suatu polimer asam amino (Toha, 2001).
Jika protein dimasak dengan asam atau basa kuat seperti pada gambar 2.3, asam amino unit pembangunnya dibebaskan dari ikatan kovalen yang menghubungkan molekul-molekul ini menjadi rantai (Lehninger, 1990).
Analisis protein umumnya bertujuan untuk mengukur kadar protein dalam bahan makanan. Analisis protein dapat dilakukan antara lain dengan metode Kjeldahl, Lowry, Biuret, Bradford, turbidimetri dan titrasi formol (Sudarmadji, 2003).
Metode Kjeldahl dilakukan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya (Winarno, 1986). Prinsip analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: bahan organik di didihkan dengan asam sulfat pekat sehingga unsur-unsur dapat terurai. Atom karbon menjadi CO2 dan nitrogen menjadi amonium sulfat. Larutan tersebut kemudian dibuat alkalis dengan menambahkan NaOH berlebihan sehingga ion amonium bebas menjadi amonia bebas. Amonia yang dipisahkan dengan cara distilasi kemudian dijerat dengan larutan asam borat. Garam borat yang terbentuk dititrasi dengan HCl (Sudarmadji, 1996).
Kadar protein (%) = % N x faktor konversi Nilai faktor konversi berbeda tergantung sampel: 1. Sereal 5,7
2. Roti 5,7 3. Sirup 6,25 4. Biji-bijian 6,25 5. Buah 6,25 6. Beras 5,95 7. Susu 6,38 8. Kelapa 5,20 9. Kacang Tanah 5,46
Apabila faktor konversi tidak diketahui, faktor 6,25 dapat digunakan . Faktor ini diperoleh dari fakta rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16 %. Kadar Protein (%) = N x 100/16
= N x 6,25
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis PenelitianDalam praktikum kali ini, penulis melakukan penelitian pada limbah kulit semangka yang di jadikan sebagai teh kulit semangka. Pengujian dilakukan dengan metode analisa kuantitatif untuk menentukan kadar karbohidrat, protein, dan lemak.
3.2 Subjek Penelitian
Dalam praktikum yang penulis lakukan untuk mencari kadar karbohidrat, lemak,dan protein dari sampel. Sampel yang juga merupakan subjek penelitian itu sendiri adalah teh dari kulit semangka.
3.3 Waktu Penelitian
Dalam melakukan praktikum yang penulis lakukan ada 4 tahap yang masing-masing memakan waktu satu pekan lebih denhgan rincian :
1. Pembuatan produk yaitu hari minggu, 14 September 2014 pukul 12.00-14.00(pengeringan dengan panas matahari) di rumah.
2. Penentuan kadar karbohidrat yaitu hari selasa, 7 Oktober 2014 dan 10 Oktober 2014 pukul 10.00-14.00 di laboratorium A2.
3. Penentuan kadar protein yaitu
Hari selasa, 4 November 2014 pukul 10.00-12.00 Hari jumat, 7 November 2014 pukul 11.00-16.00 Hari selasa, 11 November 2014 pukul 10.00-15.00 Hari kamis, 13 November 2014 pukul 11.20-15.00
Dalam praktikum ini, penulis melakukan praktikum dengan prosedur : 1. Prosedur pembuatan produk
2. Prosedur penentuan kadar karbohidrat - standarisasi
- Penentuan kadar
Kulit Semangka
Jemur di bawah panas matahari Oven
Keringkan dengan suhu 120°C
Seduh
KIO3
Titrasi
Titrasi hingga warna biru hilang
Tambah 5 ml KI 20 % dan 5 ml H2SO4
3. Prosedur penentuan kadar protein
Sampel (5 gr)
Refluks (1 jam)
Cek pH
Titrasi penentuan kadar metode
iodometri Pengenceran
reduksi
pH sedikit asam = 6 Tambah 100 ml HCl 3%
Encerkan hingga 250 ml dengan labu ukur
Diamkan hingga dingin
- Destruksi
- Destilasi
- Titrasi
Sampel (1 gram)
Tambahkan air 50 ml
Tambah 7,5 gram K2SO4 , 0,35 gram PbO, dan 15 ml H2SO4 pekat
Pemanasan hingga jenuh
Hasil destruksi
Destilasi
Tambah lempeng Zn, 15 ml K2SO4 4 % ,50 ml
NaOH 50 %
Destilat di tampung dalam erlenmeyer yang berisi HCl 0,1 N dan indikator PP
Biarkan hingga dingin
4. Prosedur penentuan kadar lemak
3.5 Variabel Penelitian
Pada praktikum yang penulis lakukan, variabel yang ada dalam praktikum ini adalah variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat Contohnya pengenceran 250 ml dan berat sampel. Sedangkan variabel bebasnya adalah konsentrasi tiap larutan (KI 20% , H2SO4 2 N, dll)
3.6 Definisi Operasional Variabel
- konsentrasi (concentration): angkabanding massa atau volume zat terlarut terhadap massa atau volume pelarut atau larutan yang dinyatakan secara khusus (banyak satuan yang berlianan). (kamus kimia, hlm. 25)
-
mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambah pelarut agar diperoleh volume yang lebih besar.Tambahkan 3 buah batu didih
Titrasi dengan NaOH
Sampel (2,5 gram)
Uapkan Dibungkus dengan kertas saring
dan ikat menggunakan benang
3.7 Instrumen Penelitian
Prosedur pembuatan produk
Prosedur analisa kadar karbohidrat dalam produk
Prosedur analisa kadar Protein dalam produk
Prosedur analisa kadar lemak dalam produk
Alat
No
Nama Alat
Spesifikasi
Jumlah1.
Erlenmeyer
250 ml
5
2.
Beaker Gelas
100 ml
3
3.
1 set alat Destilasi
-
-4.
1 set alat Soxhlet
-
-5.
Hot Plate
-
1
6.
Labu Ukur
50 ml
4
7.
Pipet Ukur
25 ml
2
8.
Pipet Filler
-
2
9.
Buret
50 ml
2
10. Statif & Klem
-
2
11. Spatula
-
5
12. Kaca arloji
-
5
13. Corong gelas
-
2
14. Botol semprot
-
3
15. Krustang
-
1
16. Kertas saring
-
2
17. Labu alas bulat
-
1
18. Pendingin tegak
-
1
19. Beaker Gelas
500 ml
1
20. Erlenmeyer
100 ml
2
21. Labu ukur
100 ml
2
22. Labu ukur
500 ml
1
3.8 Teknik Pengumpulan Data
Pada praktikum yang penulis lakukan, pengumpulan data dilakukan dengan cara percobaan. Percobaan yang penulis lakukan meliputi analisa karbohidrat dengan metode luff schrool, analisa protein dengan metode kjelhdal, analisa lemak dengan
metode soxhlet.
3.9 Teknik Analisa Data
Pada praktikum ini teknik analisa data yang penulis lakukan yaitu statistik deskriptif, hal ini dikarenakan hanya mencari kadar karbohidrat, protein, dan lemak dalam kulit semangka.
1. KIO3 0,1 N
12. Teh kulit semangka
2.
H
2SO
42 N
13. Heksana
3.
Larutan KI 20%
14. Aquadest
4.
H
2SO
425%
15. K
2SO
44%
5.
Na
2S
2O
30,1 N
16. H
2SO
4Pekat
6.
Larutan HCl 3 %
17. NaOH 50%
7.
Indikator Amilum 1%
18. Indikator PP
8.
NaOH 30%
19. PbO
9.
Na
2CO
320. Lempeng Zn
10. CuSO4
21. HCl 0,1 N
dengan larutan HCL 3%
muda, berbentuk serbuk
serbuk
Pendinginan Sampel panas Sampel dingin Penetralan
Warna coklat pekat Warna coklat memudar
Penyaringan
Sampel hijau agak kebiruan
Pemanasan Larutan berwarna biru Larutan berwarna biru, mendidih dan didinginkan
Penambahan 15 mL KI 20 %
Larutan berwarna biru Larutan berwarna biru
Penambahan H2SO4 25 % 25 ml
Larutan berwarna biru Larutan berwarna kuning kecoklatan
Dititrasi dengan Na2S2O3
Larutan berwarna kuning kecoklatan
Larutan berwarna kuning muda
Penambahan 1 ml indikator amilum
Larutan berwarna kuning muda
Saat ditetesi berwarna biru, saat dikocok warna kembali
Ditrasi kembali dengan Na2S2O3
Larutan berwarna kuning
Larutan berwarna abu-abu muda pada ml ke 9,5
Protein a. destruksi
Uraian Sebelum Sesudah
Penimbangan sampel Sampel berbentuk serbuk padat berwarna coklat
penambahan K2SO4, PbO2, dan H2SO4 pekat
padat berwarna coklat dan cair
Panaskan hingga larutan jenuh
Sampel berwarna hitam dan cair
Sampel sedikit mengental
Pendinginan Sampel sedikit mengental, panas
Sampel sedikit mengental, dingin
Penambahan 100 mL aquades
Sampel sedikit mengental Sampel berbentuk cair dan ditambahkan lempeng Zn penambahan 15 ml K2SO4
4%
Sampel berwarna hitam Sampel berwarna hitam
Penambahan 50 ml NaOH
Sampel dimasukkan dalam labu destilasi
Sampel berwarna hitam Sampel berwarna hitam
uraian Sebelum sesudah Menimbang sampel
sebanyak 2,5005 gram
Sampel serbuk padat Sampel serbuk padat
Sampel di bungkus dengan kertas saring
Sampel serbuk padat Sampel dibungkus berbentuk selongsong
Sampel padat Sampel sedikit terendam pelarut, namun pelarut yang berada di dalam labu lemak sudah habis sama sekali. Ekstraksi dihentikan
4.2 Pembahasan Karbohidrat
Menimbang sampel sebanyak 3,0008 gr atau 3000,8 mg, yang berupa serbuk padat berwarna coklat muda. Sampel yang sudah di timbang, di panaskan dengan larutan HCL 3% (digunakan untuk menghidrolisis pati menjadi monosakarida) hingga mendidih dan larutan berwarna hitam yang memiliki endapan serbuk. Setelah itu di dinginkan, setelah dingin di cek pH nya menunjukkan pH 3. Dalam prosedur larutan di haruskan memiliki pH netral, akhirnya larutan di tambahkan NaOH 30%. Penambahan yang dilakukan terlalu banyak hingga pH menjadi 13, lalu tambahkan CH3COOH 3% sedikit demi sedikit hingga pH menjadi 6. Selanjutnya dilakukan pengenceran dengan aquadest kedalam labu ukur 500 ml, setelah itu pisahkan dengan filtrat dengan endapannya.
dengan pereaksi Luff-Schoorl ) (warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan). Penitrasian dengan Na2S2O3(larutan berwarna kuning muda) lalu tambahkan indikator amilum(perubahan warna tidak permanen, hanya saat ditetesi saja berubah menjadi biru) untuk memperjelas titik akhir tritasi. Lanjutkan titrasi hingga ml ke 9,5 larutan berubah warna menjadi abu-abu.
Lakukan standarisasi pada Natrium tiosulfat, dan mengkasilkan konsentrasi sebesar 0,1297 N dan 0.1333 N, sehingga menghasilkan rata-rata 0,13 N
Pada saat penambahan Amilum larutan tidak berubah menjadi warna biru, hanya saat ditetesi larutan berubah, dikarenakan penambahan H2SO4 yang terlalu banyak, sehingga sampel dalam suasana asam.
Dari praktikum ini, menghasilkan kadar karbohidrat sebesar 6,60 % yang sangat menyimpang jauh dari kandungan karbohitdrat di dalam kulit semangka yaitu sebesar 3,105 %.
Protein a. Destruksi
Timbang sampel sebanyak 1,0005 gr = 1000,5 mg yang berupa serbuk padat berwarna coklat. Setelah itu dicampurkan dengan K2SO4, PbO2, dan H2SO4 pekat. Kemudian dipanaskan hingga larutan jenuh. Dinginkan, lalu tambahkan aquadest sebanyak 100 ml. Masukkan lempeng Zn sebanyak 2 buah, tambahkan larutan K2SO4 4 % sebanyak 15 ml dan NaOH 50% sebanyak 50 ml. Sampel berwarna hitam yang dalam keadaan panas, ditambahkan indikator PP dan NaOH hingga pH basa.
b. Destilasi.
Masukkan hasil destruksi kedalam labu destilasi, dan masukkan batu didih 3 buah. Erlenmeyer yang di gunakan sebagai penampung destilat, sebelumnya telah di isi dengan HCl sebanyak 50 ml dan di tetesi indikator MM(untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebih) sebanyak 5 tetes. Destilat yang masuk ke erlenmeyer berwarna jernih, ditunggu sampai destilat ±75 ml.
Larutan yang sudah bercampur dengan destilat dititrasi dengan NaOH, lakukan titrasi secara duplo sampai berwarna kuning.
Selisih antara ml titrasi blanko dan sampel hanya 0,1 ml, mungkin karena pada saat proses destilasi sumbat yang digunakan untuk menutupi labu destilasi dan penyangga termometer jatuh ke dalam sampel yang memungkinkan adanya kontaminasi pada sampel.
Dari praktikum yang kami lakukan, diperoleh kadar protein sebesar 0,075 %, sedangkan kadar protein sebenarnya dalam kulit semangka sebesar 0,025 -0,045%. Hal tersebut dimungkinkan dipengaruhi karena dua faktor yaitu, pengeringan dengan panas matahari langsung sampel terkontaminasi dengan zat pengotor dan pengeringan dengan oven.
Lemak
Labu lemak disiapkan yang ukurannya sesuai dengan alat ekstraksi soxhlet yang akan digunakan. Bilas labu lemak dengan aquadest, lalu keringkan dalam oven selama 30 menit dengan suhu 105°C. Siapkan sampel sebanyak 2,5 gram, lalu bungkus dengan kertas saring dan ikat menggunakan benang, agar sampel tidak berhamburan. Setelah itu dinginkan dalam desikator, lalu masukkan pelarut n-Hexane sebanyak 100 ml yang seharusnya 200 ml, ini dikarenakan kekurangan dari pelarut tersebut. Masukkan sampel ke dalam ekstraktor dan pasang pendingin tegak, namun sebelum pencapaian 1 sirkulasi, pelarut habis dan ekstraksi di hentikan. Lalu hasil yang ekstraksi yang belum sempurna itu di tampung dalam botol air mineral, yang sebelumnya sudah ditimbang. Uapkan hasil ekstraksi hingga hanya lemak yang tertinggal, proses ini membutuhkan waktu sekitar ± 1 minggu. Lalu timbang hasilnya, dan hitung kadar yang di peroleh.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN.
Jadi dalam satu kantong teh kulit semangka yang berisi 2,5 gram terdapat 5,50 % karbohirat, 0,19 % protein, dan 0,044 % lemak.
5.2 SARAN.
1. Sebaiknya dalam analisa lemak, gunakan cara lain selain ekstraksi soxhlet. Misalnya metode Babcock
LAMPIRAN
KarbohidratBobot Sampel : 3, 0008 gr = 3000,8 mg ml standarisasi : I = 7,7 ml
II = 7,5 ml Volume pentitar blanko = 12 ml Volume pentitar sampel = 9,5 ml
1. Perhitungan standarisasi : I = N1 . V1 = N2 . V2
0,1 . 10 = x . 7,7 1 = 7,7x x = 0,1297 N
2. Perhitungan kadar :
V titrasi = V blanko – V sampel = 12 – 9,5
= 2,5 ml
2,5 = 2,0 = 4,8 mg 0,5 = 0,5 x 2,6 = 1,3 mg
4,8 mg + 1,3 mg = 6,1 mg
6,1x0,13
0,1 = 7, 93 mg
% karbohidrat
=
7,933000,8x25 = 0,0660 x 100 % = 6,60 % Protein
ml standarisasi : I = 29 ml II = 28,7 ml ml H2C2O4 : 25 mL N H2C2O4 : 0,1 N
Bobot Sampel : 1,0005 gr = 1000,5 mg Volume pentitar blanko = 13,1 ml Volume pentitar sampel = 12.1 ml
1. Perhitungan standarisasi : I = N1 . V1 = N2 . V2
II = N1 . V1 = N2 . V2 0,1 . 25 = x . 28,5 2,5 = 28,5 x x = 0.087 N
Rata-rata standarisasi = 0,086 N 2. Perhitungan kadar :
%N = (ml NaOH blanko – ml NaOH sampel ) × N. NaOH × 14,008 × 100% mg sampel
= (13,1–12,1)x0.086x14,008 1000,5 x100
=
0,1x0.0861000,5x14, 008x100=
0,012 %
Kadar protein (%) = % N x faktor konversi = 0,012 x 6,25
= 0,075 %
Lemak
1. Perhitungan Kadar.
lemak=(labuak h ir−labuawal) gram ba h an x100
= 14.58612.5005−14.5850x100
= 0.0011 2.5005 x100
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM.UI,2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Anthony, Wilbraham, C., dan Michael, B, Matta.1992. Pengantar Kimia
F.G.Winarno, 1992. Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama F.G.Winarno, 1985. Kedelai Bahan Pangan Masa Depan. Pusbangtepa IPB, Bogor Murray, et al.Biokimia Harper. Edisi 25.alih bahasa Andry Hartono. Jakarta : Penerbit EGC ; 2003
Sudarmadji, at al 1987. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi I. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Liberty.
Sudarmadji, Slamet at al. 1996. Prosedur Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit Liberty
Sudarmadji, S. 2003. Mikrobiologi Pangan. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta. Sherrington, K.B and Gamman, P.M. 1981. The Science of Food, an introduction to Food Science, Nutrition, and Microbiology. Second edition Press Plc. Headington Hill Hall, England.
Egan, H. Ronald S. Kirk dan Sawyer, R. 1981. Pearson’s Chemical Analysis of Foods. Eight edition. New York : Churchill Livingstone.
dalam Makanan Ternak dengan Metode Kering.
Maggy Thenawijaya, Lehninger. 1990. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Jakarta : Erlangga.