PENGUKURAN PENGARUH KESIAPAN TERHADAP
KEBERHASILAN PENERAPAN SISTEM
UBIQUITOUS COMPUTING
DI UIN SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sistem Informasi
Oleh:
GREGORYO GUSTI NIM: 1113093000012
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
SKRIPSI
PENGUKURAN PENGARUH KESIAPAN TERHADAP KEBERHASILAN PENERAPAN SISTEM UBIQUITOUS COMPUTING DI UIN SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sistem Informasi
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Oleh:
GREGORYO GUSTI 1113093000012
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v ABSTRAK
Gregoryo Gusti – 1113093000012, Pengukuran Pengaruh Kesiapan Terhadap Keberhasilan Penerapan Sistem Ubiquitous Computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di bawah bimbingan A’ang Subiyakto, M.Kom, Nur Aeni Hidayah, MMSI.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki visi dan misi untuk menjadi universitas riset dan universitas kelas dunia, salah satu upaya untuk itu adalah dengan peningkatan proses pembelajaran. Dalam penerapan pembelajaran ini, peneliti masih menemukan beberapa kelemahan sehingga berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan penerapan sistem Ubiquitous Computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya Fakultas Sains dan Teknologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kuantitatif dengan model (Technology Readiness Index) dan Keberhasilan Sistem Informasi yang dikembangkan oleh Subiyakto. Model ini memiliki 23 hipotesis dengan 9 variabel yaitu optimism, innovativeness, discomfort, insecurity, information quality, system quality, service quality, user satisfaction, dan success information system. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara khusus berdasarkan aspek penerapan sistem baru, tingkat kesiapan didalamnya berpengaruh terhadap keberhasilan penerapan sistem. Metode pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis data PLS-SEM dengan SmartPLS versi 3.0. Hasilnya, terdapat 23 hipotesis yang diuji 11 hipotesis yang diterima atau berpengaruh dan 12 hipotesis tidak diterima. Sehingga faktor-faktor pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan sistem yaitu optimism melalui system quality, service quality, dan user satisfaction.
Innovativeness melalui information quality dan service quality. Insecurity
berpengaruh secarah negatif melalui information quality, system quality, dan
service quality, Information quality melalui user satisfaction. Service quality
melalui user satisfaction, user satisfaction melalui success information system. Penelitian ini memberikan hasil kepada Pengelola Ubiquitous Computing UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam pengembangan sistem berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan terhadap keberhasilan penerapan sistem.
vi KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat, hidayah dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul
“Pengukuran Pengaruh Kesiapan Terhadap Keberhasilan Penerapan Sistem
Ubiquitous Computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” dengan baik.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Besar
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta keluarga, sahabat serta para pengikutnya hinga akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa terselesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua penulis, Bapak Gusti Darman dan Ibu Reviana Gusti.
Terimakasih bapak, ibu, untuk dukungan moril dan materil, serta kasih
sayang, dan doa yang luar biasa untuk saya menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Agus Salim, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
3. Ibu Nia Kumaladewi, MMSI selaku Ketua Program Studi Sistem Informasi
Fakultas Sains dan Teknologi dan Ibu Meinarini Catur Utami, MT selaku
Sekretaris Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi.
4. Bapak A’ang Subiyakto, M.Kom sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan arahan, bimbingan, pandangan dan dukungan baik secara moral
vii
banyak terima kasih kembali untuk waktu, tenaga, dukungan, arahan, saran,
dan kritikan yang membangun agar skripsi ini dapat terselesaikan dengan
baik.
5. Ibu Nur Aeni Hidayah, MMSI sebagai Dosen Pembimbing II yang tidak
pernah bosan dan lelah untuk membimbing, memotivasi, dan mengingatkan
penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
6. Seluruh dosen Program Studi Sistem Informasi yang telah memberikan ilmu
yang bermanfaat kepada penulis selama perkuliahan.
7. Seluruh karyawan Fakultas Sains dan Teknologi yang telah banyak
membantu penulis dalam perkuliahan, terutama dalam menyelesaikan
administrasi yang berkaitan dengan skripsi.
8. Bapak Sarwoto Wijoyo Latisuro, MSi selaku Inisiator Pengelolaan Sistem
Ubiquitous Computing dan Bapak Aji Abdul Wahab, S.S selaku pengelola sistem Ubiquitous Computing yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.
9. Kedua abang tersayang yang selalu mendoakan, memotivasi, memberikan
pandangan terhadap skripsi saya serta mendukung saya untuk menyelesaikan
skripsi ini. You two are the best brothers in the world, love you.
10. Sahabat-sahabat sepermainan saya Anrihal, Satya, Budi, Diaz, Tiara, Reza,
Arsal, Priscilla, Tio, dan anjun terimakasih sudah menjadi sahabat berbagi
tawa, suka, dan duka. Dan Andisya Meutia yang selalu mendoakan dan
viii
11. Seluruh teman-teman seperjuangan Sistem Informasi 2013, khususnya untuk
Faizal, Tris, Fauzan, Luqman, Ariful, Hersy, Bella, Prima dan Reza terima
kasih untuk kebersamaannya selama ini. Terima kasih telah membantu dan
memotivasi penulis untuk bisa menyelesaikan skripsi ini. Kebersamaan
selama ini sangat berarti bagi penulis. See you on the top guys! Love!
12. Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis memohon kepada Allah SWT agar seluruh dukungan, bantuan, dan
bimbingan dari semua pihak dibalas pahala yang berlipat-lipat. Selain itu, penulis
menyadari penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna sehingga saran dan kritik dapat disampaikan melalui
[email protected]. Akhir kata, semoga penelitian ini dapat memberikan
manfaat dan sekaligus menambah ilmu bagi kita semua. Amiiin yaa Rabbal Alamin.
Jakarta, Desember 2017
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………...i
LEMBAR PERSETUJUAN………. ii
LEMBAR PENGESAHAN………. iii
LEMBAR PERNYATAAN………....iv
ABSTRAK……….………...v
KATA PENGANTAR………...vi
DAFTAR ISI………...ix
DAFTAR GAMBAR………...xiv
DAFTAR TABEL……….... xv
DAFTAR LAMPIRAN……….. xvi
BAB I………...1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah ... 5
1.4 Tujuan dan Sasaran Penelitian ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
x
1.7 Model Penelitian ... 8
1.8 Pertanyaan Penelitian ... 10
1.9 Daftar Singkatan... 13
1.10 Sistematika Penulisan ... 13
BAB II…………...….……….. 15
2.1 Konsep Dasar Sistem ... 15
2.1.1 Pengertian Sistem ... 15
2.1.2 Karakteristik Sistem ... 15
2.2 Konsep Dasar Informasi ... 18
2.3 Pengertian Sistem Informasi ... 18
2.3.1 Definisi Sistem Informasi ... 18
2.3.2 Komponen Sistem Informasi ... 19
2.4 Definisi Pengukuran ... 21
2.5 Definisi Pengaruh ... 22
2.6 Definisi Kesiapan ... 22
2.7 Konsep Dasar Kesiapan Teknologi ... 23
2.8 Definisi Kesiapan Teknologi ... 25
2.9 Definisi Keberhasilan ... 25
2.10 Konsep Dasar Sistem Ubiquitous Computing ... 26
2.10.1 Definisi Ubiquitous Computing ... 26
2.10.2 Definisi Ubiquitous Learning ... 27
2.10.3 Karakteristik Ubiquitous Learning ... 30
xi
2.11.1 Kajian Teori Technology Readiness Index ... 33
2.11.2 Kajian Teori Model Keberhasilan SI Delone dan McLean ... 36
2.11.3 Model IPO Logic ... 42
2.11.4 Literatur Sejenis ... 44
2.12 Definisi Populasi dan Sampel ... 48
2.13 Teknik Pengambilan Sampel... 49
2.14 Teknik Menentukan Ukuran Sampel ... 53
2.15 Definisi Skala Likert ... 54
2.16 SEM (Structural Equation Modelling) ... 55
2.16.1 Teknik Analisis SEM ... 56
2.17 Smart PLS (Partial Least Square) ... 59
2.18 Model yang Diadopsi ... 65
2.18.1 Variabel TRI dan Keberhasilan SI ... 68
2.18.2 Indikator TRI dan Keberhasilan SI ... 68
2.18.3 Hipotesis ... 71
BAB III ... 74
3.1 Pendekatan Penelitian ... 74
3.2 Prosedur Penelitian... 75
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 77
3.4 Instrumen Penelitian... 78
3.5 Pemrosesan dan Pengumpulan Data ... 81
xii
BAB IV ... 83
4.1 Hasil Analisis ... 83
4.1.1 Hasil Analisis Demografi... 83
4.2 Hasil Analisis Model Pengukuran (Outer model) ... 88
4.2.1 Individual Item Realibility ... 88
4.2.2 Internal Consistency Reliability ... 90
4.2.3 Average Variance Extracted (AVE) ... 91
4.2.4 Discriminant Validity ... 92
4.3 Hasil Analisis Model Struktural (Inner Model) ... 96
4.3.1 Path Coefficient (β) ... 96
4.3.2 Coefficient of Determination (R2) ... 99
4.3.3 t-test ... 100
4.3.4 Effect Size ( ) ... 101
4.3.5 Predictive Relevance ( ) ... 102
4.3.6 Relative Impact (q²) ... 103
4.4 Interpretasi Hasil dan Diskusi Hasil ... 105
4.4.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil Analisis Data Demografis ... 105
4.4.2 Interpretasi dan Diskusi Hasil Model Pengukuran ... 106
4.5 Interpretasi dan Diskusi Hasil Analisis Struktural Model... 107
BAB V ... 125
5.1 Limitasi ... 125
5.2 Kesimpulan ... 125
5.2 Saran ... 129
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Model Penelitian...9
Gambar 2.1 Karakteristik Sistem...17
Gambar 2.2 Komponen Sistem Informasi...20
Gambar 2.3 Model Penelitian ………....24
Gambar 2.4 Model Penelitian...26
Gambar 2.5 Concept of U-Learning.………....27
Gambar 2.6 E-Learning………... ……….28
Gambar 2.7 Technology Readiness Index (TRI)……….…………..35
Gambar 2.8 Model Keberhasilan SI ……….37
Gambar 2.9 Pengembangan Model Keberhasilan SI ...42
Gambar 2.10 IPO Logic…….………..43 Gambar 2.11 Kategori Sampel ……….50 Gambar 2.12 Analisis Model Persamaan Struktural …..………..56
Gambar 2.13 Model Penelitian……….67
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian...76
Gambar 4.1 Diagram Lingkaran Jenis Kelamin Responden...84
Gambar 4.2 Diagram Lingkaran Pekerjaan Responden...85
Gambar 4.3 Diagram Pendidikan Responden………...86 Gambar 4.4 Diagram Pengaruh Kesiapan Terhadap Keberhasilan Sistem Ubiquitous Computing………...87
Gambar 4.5 Hasil Analisis Outer Loading Model SmartPLS...95
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Istilah………..13
Tabel 2.1 Perbedaan U-Learning, E-Learning, M-Learning...32
Tabel 2.2 Literatur Sejenis...44
Tabel 2.3 Variabel Model Technology Readiness Index (TRI) dan Keberhasilan Sistem Informasi...68
Tabel 2.4 Indikator Model Technology Readiness Index (TRI) dan Keberhasilan Sistem Informasi...69
Tabel 3.1 Indikator dan Butir Pertanyaan Pengujian...79
Tabel 4.1 Hasil Uji Loading Factor SmartPLS...89
Tabel 4.2 Hasil Uji Composite Realibility...90
Tabel 4.3 Hasil Uji Avarage Variance Extracted...91
Tabel 4.4 Hasil Uji Discriminant Validity SmartPLS...93
Tabel 4.5 Hasil Uji Path Coefficient SmartPLS...97
Tabel 4.6 Hasil Uji Coefficient Of Determination………..99 Tabel 4.7 Hasil Uji t-Test...100
Tabel 4.8 Hasil Uji Predictive Relevance...102
xv
DAFTAR LAMPIRAN
1 BAB I
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, teknologi informasi (TI) telah menjadi kebutuhan setiap individu, TI
dapat membantu setiap individu dalam menjalankan aktivitasnya dan meningkatkan
efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Teknologi informasi menurut (Sutabri,
2012) ialah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk
memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam
berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang
relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan keperluan pribadi, bisnis, dan
pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan
keputusan. Penerapan teknologi informasi yang selaras dengan proses/strategi
bisnis suatu organisasi akan meningkatkan kinerja organisasi tersebut dan
memberikan nilai tambah keunggulan kompetisi dalam persaingan bisnis
(Adityawarman, 2012; Nastiti & Hadi, 2014).
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh (Handayani & Sudiana, 2015)
pentingnya penggunaan teknologi informasi mulai disadari oleh organisasi modern,
terutama dalam era globalisasi di mana perusahaan dituntut untuk semakin
kompetitif dan berdaya saing. Oleh karena itu menjadi penting untuk memacu
tingkat pemanfaatan dan penggunaan teknologi informasi di organisasi.
Keberadaan teknologi informasi tidak bisa dilepaskan peranannya dalam proses
2
Penggunan sistem informasi pada organisasi saat ini telah mengalami
peningkatan. Hal ini disampaikan oleh (Handayani, 2005) bahwa penggunaan
sistem dalam organisasi meningkat secara drastis. Peningkatan ini selain
dikarenakan tuntutan organisasi modern, juga disebabkan oleh masyarakat yang
haus akan informasi. Sistem informasi akan membantu organisasi untuk
menyajikan informasi secara cepat, akurat dan terbuka seperti yang diharapkan oleh
masyarakat. Masyarakat saat ini mempunyai pemikiran maju yang lambat laun akan
meninggalkan cara-cara manual dan membuat terobosan baru untuk mendapatkan
informasi. Akan tetapi, perlu disadari bahwa pembangunan suatu sistem informasi
pada organisasi memerlukan investasi biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu,
dalam proses pembangunan sistem informasi diperlukan perencanaan yang matang
sehingga sistem informasi akan berkeja sesuai kebutuhan dan terintegrasi dengan
baik.
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan
salah satu perguruan tinggi islam di Indonesia yang memiliki amanat untuk
memajukan umat islam Indonesia dan menjadi perguruan tinggi unggulan. Maka
dari itu salah satu perkembangan di era sekarang ini khususnya pada Teknologi
Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah mengimplementasikan salah satu
pengembangan sistem e-learning yakni Ubiquitous Computing yang berfungsi untuk meningkatkan sistem pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa menjadi
lebih efektif dan efisien dengan menggunakan sebuah tablet komputer yang
berguna untuk mengakses materi yang telah dimasukkan. Ubiquitous computing
3
komputer dan membuatnya tersedia di seluruh lingkungan fisik, hasilnya komputer
akan secara efektif tidak terlihat oleh pengguna dan akhirnya akan menyatu dengan
kehidupan sehari-hari mereka. Di sisi lain berdasarkan hasil observasi, penerapan
ubiquitous computing itu sendiri bisa dikatakan belum optimal karena pengguna hanya dapat menggunakan sistem di satu ruangan saja seharusnya dapat
dioptimalkan dengan alat atau device yang sudah ada seperti android dalam bentuk apk sehingga content nya dapat di download atau diakses di mana pun pengguna berada. Sehingga beberapa dosen dan mahasiswa yang telah menggunakan sistem
ini belum merasakan dampak maksimal keberadaan Ubiquitous Computing dan penerapannya tidak secara menyeluruh di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Masalah-masalah tersebut tentu saja dapat mengurangi kesiapan sistem yang
digunakan serta dapat menghambat pengguna dalam penerapannya.
Untuk mengembangkan suatu sistem yang ada, maka diperlukan
pengukuran sejauh mana kesiapan ubiquitous computing terhadap keberhasilan pembelajaran ini diterapkan. Kesiapan dalam aspek teknologi atau Technology Readiness adalah bagaimana seorang individu atau organisasi dapat dengan siap beradaptasi, menggunakan dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan mereka
sehari-hari (Lazuardi, 2013).Dari kesiapan tersebut apakah berpengaruh terhadap
keberhasilan sistem, menurut (Indrajit, 2000) keberhasilan ialah penerapan sistem
informasi tidak tergantung pada besarnya dana investasi yang didedikasikan,
namun terletak pada keampuhan strategi yang dipilih dan diterapkan oleh suatu
institusi. (Subiyakto & Ahlan, 2013) menjelaskan salah satu tantangan pemanfaatan
4
Dalam studi ini peneliti menggunakan gabungan Technology Readiness Index (TRI) yang dikembangkan oleh (Parasuraman & Colby, 2015) kesiapan teknologi dan keberhasilan SI (Delone & McLean, 2003), yang dikembangkan oleh
(Subiyakto, 2017) model kesiapan dan keberhasilan SI. Penelitian ini dilakukan
karena belum adanya penelitian tentang topik ini sehingga belum diketahui sejauh
mana kesiapan terhadap keberhasilan penerapan sistem ubiquitous computing.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif karena
menurut (Sugiyono, 2013) metode penelitian ini berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kauntitatif/statistik
dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Berdasarkan
pembahasan diatas makan penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan
judul “Pengukuran Pengaruh Kesiapan Terhadap Keberhasilan Penerapan Sistem
Ubiquitous Computing Di UIN Jakarta”. Penelitian ini diharapkan dapat
menghasilkan pertimbangan untuk pihak terkait untuk rencana pengembangan
sistem ubiquitous computing dan diharapkan dapat menjadi model alternatif.
1.2 Rumusan Masalah
Sistem informasi telah menjadi kebutuhan bagi perguruan tinggi terlebih
perguruan tinggi seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memiliki visi dan
misi untuk menjadi universitas riset dan universitas kelas dunia, salah satu upaya
5
Hidayatullah Jakarta telah mengembangkan suatu proses pembelajaran dengan
menggunakan sistem yang dinamakan ubiquitous computing. Dalam penerapan pembelajaran ini praktek dilapangan memperlihatkan bahwa sistem belum berjalan
secara optimal. Mungkin saja hal ini terjadi karena belum dioptimalkannya alat-alat
yang sudah ada. Dari hal tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui kesiapan sistem
yang mempengaruhi keberhasilan penerapannya berdasarkan persepsi pengguna.
Kesiapan dalam aspek teknologi atau Technology Readiness adalah bagaimana seorang individu atau organisasi dapat dengan siap beradaptasi, menggunakan dan
memanfaatkan teknologi dalam kegiatan mereka sehari-hari (Lazuardi, 2013).
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap, apakah faktor
kesiapan pengguna di dalam memanfaatkan teknologi ubiquitous computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berpengaruh terhadap keberhasilan penerapan sistem
itu sendiri? Dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan terhadap
keberhasilan penerapan sistem ubiquitous computing?.
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
1) Penelitian ini dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya
terkait dengan penerapan Sistem ubiquitous computing di Fakultas Sains dan Teknologi. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Sains
Teknologi UIN Jakarta yang beralamat di Jl. Ir.H. Djuanda No.95,
Ciputat.
2) Proses yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengukur pengaruh
6
yang akan dilakukan pada para Dosen dan Mahasiswa di FST UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3) Secara teori, penelitian ini mengadopsi 9 variabel dari penggabungan
model TRI (Parasuraman & Colby, 2015) dan keberhasilan proyek SI
(Delone & McLean, 2003) yang telah dikembangkan oleh (Subiyakto,
2017).
4) Teknik analisis data kuantitatif ini penulis menggunakan metode
PLS-SEM dan untuk pengelolaan data yang didapat peneliti menggunakan
softwareSmartPLS versi 3.0.M3.
1.4 Tujuan dan Sasaran Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1) Mengetahui status pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan sistem
ubiquitous computing.
2) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan terhdap
keberhasilan penerapan sistem ubiquitous computing. Merujuk pada tujuan penelitian diatas, sasaran penelitian ini ialah:
1) Diketahuinya status pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan
penerapan sistem ubiquitous computing berdasarkan persepsi pengguna, khususnya para dosen, mahasiswa, dan staf multimedia FST
7
2) Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan terhadap
keberhasilan penerapan sistem ubiquitous computing berdasarkan model penelitian yang digunakan persepsi penggunanya.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.
1) Secara teoritis, model kesiapan dan keberhasilan sistem yang
digunakan dapat menjadi model alternatif untuk digunakan oleh
penelitian selanjutnya.
2) Secara metodologis, mendorong pemanfaatan penelitian mengunakan
metode kuantitatif dalam penyusunan skripsi khususnya di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3) Secara praktis, menjadi bahan untuk dipertimbangkan oleh pihak yang
terkait dalam rencana pengembangan sistem ubiquitous computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
1.6 Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode untuk membantu
dalam melakukan analisis. Penelitian ini menggunakan dua model yang
digabungkan untuk mengukur pengaruh kesiapan dalam penelitian ini berupa model
TRI 2.0 (Parasuraman & Colby, 2015) dan model Keberhasilan Sistem Informasi
8
Kedua model tersebut di kombinasikan sehingga menghasilkan model baru dalam
pengukuran pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan sistem, kuesioner yang
dibuat dari pemaduan variabel dan indikator dari kedua model tersebut. Pada
penelitian ini sampel responden adalah dosen, staf multimedia, dan mahasiswa yang
khususnya telah menggunakan sistem ubiquitous computing di fakultas sains
teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kuesioner disebarkan secara langsung
penyebaran secara langsung bertujuan untuk mendapatkan responden yang
sesuai/yang telah menggunakan melalui interaksi secara langsung. Tahap akhir
seluruh kuesioner yang telah terisi akan ditampung di MS. Excell dan nantinya akan
dianalisis. Analisis penelitian ini secara kuantitatif menggunakan pendekatan PLS
dengan SmartPLS versi 3.0.
1.7 Model Penelitian
Model yang digunakan pada penelitian ini mengadopsi, mengkombinasi, dan
mengadaptasi (Subiyakto, 2017) dua model peneliti. Pertama penggunaan model
Technology Readiness Index (TRI) oleh (Parasuraman & Colby, 2015). Sedangkan model keduanya model Keberhasilan Sistem Informasi oleh (Delone & McLean,
2003), dan dikembangkan oleh (Subiyakto, 2017). Model peneltian pengukuran
pengaruh kesiapan terhadap keberhasilan penerapan sistem ini terdiri dari 9 variabel
yaitu Optimism (OPT), Innovativeness (INN), Discomfort(DIS), Insecurity (INS),
9
asumsi mengenai model logika input-process-output oleh (Davis, 1998), teori lingkungan proyek oleh (Howsawi, Eager, & Bagia, 2011; McLeod & MacDonell,
2011; Subiyakto & Ahlan, 2014). Berikut model yang diajukan pada penelitian ini:
Gambar 1.1 Model Penelitian (Subiyakto, 2017)
Keterangan: OPT: Optimisme DIS: Discomfort
INQ: Information Quality INN: Innovativeness INS: Insecurity SYQ: System Quality
SVQ: Service Quality USF: User Satisfaction
10 1.8 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan tujuan dan sasaran pada penelitian ini, maka pertanyaan penelitian
dalam hal ini:
Q.1 Apakah kesiapan berpengaruh terhadap keberhasilan penerapan sistem
ubiquitous computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?
Q.2 Apa saja faktor yang mempengaruhi pengaruh kesiapan terhadap
keberhasilan penerapan sistem ubiquitous computing di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?
Q.2.1 Apakah Optimisme (Optimism) berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Informasi (Information Quality)?
Q.2.2 Apakah Optimisme (Optimism) berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Sistem (System Quality)?
Q.2.3 Apakah Optimisme (Optimism) berpengaruh secara
signifikan terhadap Kualitas Layanan (Service Quality)? Q.2.4 Apakah Optimisme (Optimism) berpengaruh secara signifikan
terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)?
Q.2.5 Apakah Inovasi (Innovativeness) berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Informasi (Information Quality)?
11
Q.2.7 Apakah Inovasi (Innovativeness) berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Layanan (Service Quality)? Q.2.8 Apakah Inovasi (Innovativeness) berpengaruh secara
signifikan terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)? Q.2.9 Apakah Ketidaknyamanan (Discomfort) berpengaruh negatif
secara signifikan terhadap Kualitas Informasi (Information Quality)?
Q.2.10 Apakah Ketidaknyamanan (Discomfort) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Kualitas Sistem (System Quality)? Q.2.11 Apakah Ketidaknyamanan (Discomfort) berpengaruh
negatif secara signifikan terhadap Kualitas Layanan (Service Quality)?
Q.2.12 Apakah Ketidaknyamanan (Discomfort) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)?
Q.2.13 Apakah Ketidakamanan (Insecurity) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Kualitas Informasi (Information Quality)?
Q.2.14 Apakah Ketidakamanan (Insecurity) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Kualitas Sistem (System Quality)? Q.2.15 Apakah Ketidakamanan (Insecurity) berpengaruh negatif
12
Q.2.16 Apakah Ketidakamanan (Insecurity) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)?
Q.2.17 Apakah Kualitas Informasi (Information Quality)
berpengaruh secara signifikan terhadap Kepuasan Pengguna
(User Satisfaction)?
Q.2.18 Apakah Kualitas Informasi (Information Quality)
berpengaruh secara signifikan terhadap Keberhasilan Sistem
Informasi (Success Information System)?
Q.2.19 Apakah Kualitas Sistem (System Quality) berpengaruh secara signifikan terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)?
Q.2.20 Apakah Kualitas Sistem (System Quality) berpengaruh secara signifikan terhadap Keberhasilan Sistem Informasi
(Success Information System)?
Q.2.21 Apakah Kualitas Layanan (Service Quality) berpengaruh secara signifikan terhadap Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)?
Q.2.22 Apakah Kualitas Layanan (Service Quality) berpengaruh secara signifikan terhadap Keberhasilan Sistem Informasi
13
Q.2.23 Apakah Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)
berpengaruh secara signifikan terhadap Keberhasilan sistem
informasi (Success Information System)?
1.9 Daftar Istilah
Tabel 1.1 Daftar Istilah
OPT : Optimism
INN : Innovativeness
DIS : Discomfort
INS : Insecurity
INQ : Information Quality
SYQ : System Quality
SVQ : Service Quality
USF : User Satisfaction
SIS : Success Information System
TRI : Technology Readiness Index
ISQ : Information System Quality
OP : Organizational Performance
TR : Technology Readiness
FST : Fakultas Sains dan Teknologi
1.10 Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan laporan penelitian, pembahasan terbagi dalam lima bab yang
14 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan secara singkat mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, pertanyaan penelitian, batasan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian,
metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini membahas mengenai dasar-dasar teori yang mendukung tentang
Pengukuran Pengaruh Kesiapan Terhadap Keberhasilan Penerapan Sistem
Ubiquitous Computing di UIN Jakarta.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini membahas tentang metodologi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu
metode pengumpulan data dan metode analisis yang digunakan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan profil singkat perusahaan dan membahas hasil-hasil yang
diperoleh dari hasil evaluasi.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan yang berkenaan dengan hasil pemecahan masalah serta
beberapa saran untuk pengembangan keberhasilan sistem ubiquitous computing
15 BAB II
2.1 Konsep Dasar Sistem 2.1.1 Pengertian Sistem
Secara umum, sistem dapat diartikan kumpulan elemen yang saling berhubungan
dan berinteraksi dalam satu kesatuan untuk menjalankan suatu proses pencapaian
suatu tujuan yang sama (Sutarman, 2012). Sistem adalah serangkaian komponen
yang saling berhubungan yang menghasilkan hasil tertentu (Shelly & Rosenblatt,
2012). Dalam bidang sistem informasi, sistem diartikan sebagai sekelompok
komponen yang saling berhubungan, bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama
dengan menerima input serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur. Apabila suatu komponen tidak memberikan kontribusi terhadap sistem
untuk mencapai tujuan, tentu saja komponen tersebut bukan bagian dari sebuah
sistem. (Mulyanto, 2009).
2.1.2 Karakteristik Sistem
Menurut Sutabri (2012), suatu sistem memiliki karakteristik atau sifat-sifat tertentu,
yaitu:
1) Komponen sistem (Components)
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang sering disebut
dengan subsistem yang saling berinteraksi, yang artinya saling
bekerjasama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem
16
2) Batas sistem (Boundary)
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem
dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas
sistem memungkinkan suau sistem dipandang sebagai satu kesatuan.
Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) sistem itu sendiri.
3) Lingkungan luar sistem (Environments)
Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun di luar batas dari
sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem
dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan bagi
sistem tersebut.
4) Penghubung sistem (Interface)
Penghubung yang dimaksud adalah media yang dapat menghubungkan
antara subsistem dengan subsistem lainnya. Melalui penghubung ini
memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu sistem ke
subsistem yang lain.
5) Masukan sistem (Input)
Masukan yaitu energi yang dimasukkan ke dalam sistem, dimana dapat
berupa masukan perawatan dan masukan sinyal. Masukkan perawatan
adalah energi yang diinputkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi, sedang masukan sinyal adalah energi yang diproses untuk mendapatkan
17
6) Keluaran sistem (Output)
Keluaran yaitu hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan
menjadi keluaran yang berguna dan sisa pem buangan.
7) Pengolah sistem (Process)
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan
merubah input menjadi output. 8) Sasaran sistem (Objective)
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective).
18 2.2 Konsep Dasar Informasi
Menurut Sutabri (2012) informasi adalah data yang telah diklasifikasikan atau
diolah atau diinterpretasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan
keputusan. Sedangkan menurut Jogiyanto (2007), informasi adalah data yang diolah
menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Serta
menurut Mulyanto (2009) informasi yaitu sesuatu yang menunjukan hasil
pengolahan data yang diorganisasikan dan berguna kepada orang yang
menerimanya. Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa informasi ialah
data yang telah melewati proses pengolahan untuk penambahan nilai yang berguna
bagi penggunanya dan dapat digunakan untuk hal – hal yang penting.
2.3 Pengertian Sistem Informasi 2.3.1 Definisi Sistem Informasi
Sistem informasi dapat didefinisikan secara teknis sebagai suatu komponen yang
saling berhubungan yang mengumpulkan (mendapatkan-kembali), memproses,
menyimpan, dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pengambilan
keputusan, koordinasi dan pengawasan dalam organisasi (Laudon & Laudon,
2007). Selain mendukung pembuatan keputusan, koordinasi, dan pengawasan,
sistem informasi dapat membantu manajer dalam menganalisa masalah dan
menvisualisasi masalah-masalah kompleks. Informasi yang diberikan oleh sistem
informasi menjelaskan salah satu sistem utama dilihat dari apa yang telah terjadi di
19
(Jati & Herry, 2012). Sebuah sistem informasi merupakan kumpulan dari perangkat
keras dan perangkat lunak komputer serta perangkat manusia yang akan mengolah
data menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak tersebut (Kristanto, 2008).
Penggunaan SI dapat memberikan banyak manfaat, baik bagi organisasi/
perusahaan maupun bagi pengguna individual (user). Manfaat penggunaan SI bagi
perusahaan adalah dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.
Perusahaan dapat memperoleh informasi yang relevan, akurat, tepat waktu, dan
lengkap yang diperlukan oleh perusahaan yang berasal dari lingkungan internal
maupun ekternal perusahaan. Sedangkan bagi pengguna individual (user) penggunaan SI dapat memberikan manfaat yaitu meningkatkan produktivitas kerja,
kualitas output, dan efektifitas pekerjaan.
2.3.2 Komponen Sistem Informasi
Sistem informasi terdiri dari lima sumber daya yang dikenal sebagai komponen
sistem informasi. Kelima sumber daya tersebut adalah manusia, hardware,
software, data, dan jaringan. Kelima komponen tersebut memainkan peranan yang
sangat penting dalam suatu sistem informasi. Namun, dalam kenyataannya, tidak
semua sistem informasi mencakup kelima komponen tersebut. Misalnya, sistem
20
Gambar 2.2 Komponen Sistem Informasi (O’Brien, 2005)
Berikut merupakan penjelasan komponen dari sistem informasi:
1) Sumber Daya Manusia
Manusia mengambil peranan yang penting bagi sistem informasi.
Manusia dibutuhkan untuk mengoperasikan sistem informasi. Sumber
daya manusia dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu pengguna
akhir dan pakar sistem informasi. Pengguna akhir adalah orang-orang
yang menggunakan informasi yang dihasilkan dari sistem informasi,
sedangkan pakar sistem informasi orang-orang yang mengembangkan
dan mengoperasikan sistem informasi.
2) Sumber Daya Hardware
21
saja, melainkan semua media data seperti lembaran kertas dan disk
magnetik atau optikal.
3) Sumber Daya Software
Sumber daya software adalah semua rangkaian perintah (instruksi) yang digunakan untuk memproses informasi. Sumber daya ini tidak
hanya berupa program saja, tetapi juga berupa prosedur.
4) Sumber Daya Data
Sumber daya data bukan hanya sekedar bahan baku untuk memasukkan
sebuah sistem informasi, melainkan sebagai dasar membentuk sumber
daya organisasi.
5) Sumber Daya Jaringan
Sumber daya jaringan merupakan media komunikasi yang
menghubungkan komputer, memproses komunikasi, dan peralatan
lainnya, serta dikendalikan melalui software komunikasi. Sumber daya ini dapat berupa media komunikasi seperti kabel, satelit, dan dukungan
jaringan seperti modem, software, pengendalian, serta prosesor antar jaringan.
2.4 Definisi Pengukuran
Pengukuran adalah pemberian nilai negatif dari suatu obyek, dimana obyek
merupakan suatu entitas yang akan diteliti, sedangkan negatif adalah karakteristik
dari obyek tersebut (Jogiyanto, 2008). Pengukuran adalah suatu proses menjelaskan
22
pengukuran ialah merupakan suatu proses dimana dilakukan secara sistematis untuk
dapat memperoleh besaran kuantitatif dari suatu objek tertentu dengan
menggunakan alat ukur yang baku. Pendapat lain mengatakan bahwa pengukuran
merupakan kegiatan membandingkan dengan suatu ukuran tertentu sehingga
sifatnya menjadi kuantitatif (Arikunto & Jabar, 2004).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran ialah pemberian
suatu karakteristik pada objek tertentu sehingga objek tersebut dapat dibandingkan
dengan suatu ukuran tertentu sehingga memiliki nilai pasti.
2.5 Definisi Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Hasan, 2005) adalah daya yang ada atau
timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan
atau perbuatan seseorang. Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas bahwa
pengaruh adalah sesuatu yang ditimbulkan dari daya yang menyebabkan suatu
hubungan timbal balik dari suatu variabel yang membentuk atau mengubah variabel
lainnya oleh kekuatan yang dimiliki.
2.6 Definisi Kesiapan
Kesiapan menurut kamus psikologi adalah “tingkat perkembangan dari kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktekkan sesuatu” (Chaplin,
2006). Menurut Slameto (2010), kesiapan adalah kemampuan yang cukup baik fisik
dan mental. Kesiapan fisik berarti tenaga yang cukup dan kesehatan yang baik,
23
melakukan suatu kegiatan (Dalyono, 2012). Sedangkan menurut Oemar Hamalik
(2008), kesiapan adalah tingkatan atau keadaan yang harus dicapai dalam proses
perkembangan perorangan pada tingkatan pertumbuhan mental, fisik, sosial dan
emosional”.
2.7 Konsep Dasar Kesiapan Teknologi
Kesuksesan pengimplementasian teknologi baru di dalam sebuah organisasi sangat
ditentukan oleh faktor kesiapan brainware atau penggunanya (Sheu dan Kim, 2008 dalam Florestiyanto, 2012) baik secara lingkup internal maupun eksternal. Faktor
kesiapan dari pengguna dapat menjadi masalah yang sangat kompleks karena
pemikiran masing-masing orang berbeda dan bahkan dapat bertentangan.
Kompleksitas brainware sering kali menjadi salah satu penyebab gagalnya proyek pengimplementasian TIK menurut Ethie & Madsen (dikutip dalam Amaranti,
2006).
Suatu organisasi yang enggan, menolak dan tidak mampu melakukan
perubahan pada desain dan struktur organisasi yang dimilikinya sesuai dengan
tujuan penerapan teknologi yang diadopsi maka tidak akan mendapatkan
keuntungan dan manfaat dari teknologi tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa
penerapannya menjadi sia-sia bahkan gagal. Dari berbagai penelitian yang
dilakukan brainware merupakan salah satu kunci sukses dalam pengimplementasian TIK (Amaranti, 2006; Bhatti, 2005; Rotchanakitumnuai &
24
Tingkat kompetensi pengguna teknologi informasi menjadi faktor utama
penentu kesuksesan adopsi teknologi informasi. Kesuksesan implementasi maupun
adopsi teknologi baru terutama (TIK) pada sebuah institusi sangat ditentukan oleh
faktor kesiapan dan kemampuan pengguna (Jogiyanto, 2007). Salah satu kegagalan
dalam suatu organisasi terhadap pengimplementasian SI adalah kurangnya kesiapan
organisasi tersebut dalam hal kedewasaan proses bisnis, aspek budaya, teknologi
dan organisasi sehingga menyebabkan proses implementasi SI membutuhkan
waktu yang lebih banyak dari apa yang direncanakannya dan dapat menyebabkan
tim implementasi SI kehilangan semangat (Ptak dan Schragenheim, 2004). Dengan
adanya suatu pengukuran dan penilaian dalam tingkat kesiapan dan kemampuan
pengguna suatu teknologi maka akan meminimalisir tingkat kesalahan, kesulitan
dan resiko yang ada menurut Jogiyanto (dikutip dalam Pambudi, 2015).
25 2.8 Definisi Kesiapan Teknologi
Technology Readiness di definisikan sebagai kecenderungan untuk merangkul dan menggunakan teknologi baru untuk menyelesaikan tujuan dari berbagai pekerjaan
baik di rumah maupun di tempat pekerjaan (Parasuraman, 2000). Konsep
technology readiness dibangun untuk dapat menangkap keterbukaan pengguna kepada informasi teknologi baru dan aspek kegunaan teknologi (Parasuraman,
2000; Walczuch, Lemmink, & Streukens, 2007).
Setiap individu percaya bahwa kegiatan sehari-hari mereka akan lebih
efisien, dapat diatur pengaturan serta fleksibel dengan mengadopsi teknologi (Chen
et al. 2014). Adanya pengidentifikasian akan faktor-faktor yang mempengaruhi
kesiapan pengguna dalam pengadopsian teknologi penting agar tujuan dari adopsi
teknologi dapat tercapai dan lebih bermanfaat (Noprianto et al. 2017).
2.9 Definisi Keberhasilan
Keberhasilan dari sistem informasi ditentukan bagaimana sistem itu dapat
dijalankan oleh pengguna dengan efektif, dan pengguna merasa puas menggunakan
sistem tersebut dan juga bagaimana perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari
sistem yang digunakannya. Doll dan Torkzadeh (1988) dalam Istianingsih dan
Wiwik Utami (2009) menyatakan bahwa kepuasan pengguna sistem informasi
dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan suatu sistem informasi. Kepuasan
pengguna akhir ini kemudian menjadi bagian dalam pengembangan model
26
Gambar 2.4 Model Penelitian (diadopsi dari Subiyakto, 2017)
2.10 Konsep Dasar Sistem Ubiquitous Computing 2.10.1 Definisi Ubiquitous Computing
Menurut Sakamura & Koshizuka (2005), ubiquitous computing dapat
dipertimbangkan sebagai “tren baru dari teknologi informasi dan komunikasi”.
Istilah ubiquitous computing diciptakan oleh Mark Weisler (1952-1999). Menurut Mark Weisler (1991) ubiquitous computing adalah metode untuk meningkatkan kegunaan komputer dan membuatnya tersedia di seluruh lingkungan fisik, hasilnya
komputer akan secara efektif tidak terlihat oleh pengguna dan akhirnya akan
27
Zhang (2005) mendefinisikan ubiquitous computing environment sebagai
“area yang terdefinisi dengan baik yang menggabungkan kumpulan sistem yang
telah ditanamkan (komputer, sensor, user interfaces, dan infrastruktur layanan)
yang diperkuat oleh teknologi komputasi dan komunikasi”.
Gambar 2.5 Concept of U-Learning (Kuo et al., 2007)
2.10.2 Definisi E- Learning
Menurut Soekartawi (2007) e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media
internet, jaringan komputer, maupun komputer stand alone. Sedangkan menurut Hartley (2001) yang menyatakan e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan
menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lainnya. Dari
28
bahwa e-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan
teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar tidak
hanya terbatas pada tatap muka dengan pengajar di dalam kelas, tetapi dapat
dilaksanakan kapan saja dan dimana saja selama sistem e-learning masih terhubung
jaringan internet.
Gambar 2.6 E-Learning (Hartley, 2001)
2. 10.3 Definisi Ubiquitous Learning
Seseorang dikatakan belajar, disaat ia berada di dalam proses dari memperoleh
pengetahuan atau keterampilan. Oleh karena itu, tidak dapat diasumsikan bahwa
dengan menuangkan informasi kepada seseorang, ia dapat dikatakan belajar.
29
karena itu, para peneliti dan pelajar percaya bahwa learning by doing (Schank,
1995) adalah cara terbaik untuk belajar. Learning by doing mengajarkan secara
implisit dibandingkan dengan secara eksplisit namun hal yang dipelajari secara
implisit hanya perlu dialami dengan cara yang tepat dan di waktu yang tepat.
Dengan demikian, kita perlu memperkenalkan para pelajar untuk berada di dalam
sebuah lingkungan yang bermanfaat bagi minat mereka. Namun, cara pembelajaran
ini sulit untuk diterapkan tanpa memiliki metodologi yang tepat untuk memperoleh
informasi pembelajaran dari situasi yang sebenarnya.
Dengan kemajuan dan penyebaran dari ubiquitous computing technologies,
proses pembelajaran dari lingkungan menjadi lebih mudah. Inilah saatnya teknologi
memungkinkan proses berbagi informasi dan komunikasi terjadi secara alami,
selalu dan terus menerus sepanjang hari. Contohnya, seorang pelajar yang
dilengkapi dengan sebuah mobile device dapat terhubung ke device lain, dan
mengakses jaringan dengan menggunakan teknologi komunikasi nirkabel
(Uemukai et al., 2004). Selain itu, disarankan juga bahwa komputer yang digunakan
oleh pelajar dapat menyediakan informasi dan layanan yang relevan saat mereka
membutuhkannya, dengan secara otomatis merasakan konteks data dan dengan
cerdas menghasilkan apa yang dibutuhkan (Cheng & Marsic, 2002). Visi ini juga
diberikan oleh Yang et al. (2006).
Dapat didefinisikan bahwa ubiquitous Computing learning sebagai penggunaan komputer yang tersebar di mana pengguna berada dengan jumlah
komputer yang disatukan dalam suatu lingkungan dan memungkinkan proses
30 2.10.3 Karakteristik Ubiquitous Learning
Tujuan dari u-learning adalah untuk menyediakan informasi yang tepat pada waktu
dan tempat yang tepat untuk mengakomodasi gaya hidup dan pekerjaan. Meski u-learning telah menarik perhatian para peneliti, kriteria atau karakteristik untuk pembentukan u-learning masih belum jelas (Hwang, 2006). Oleh karena itu, terdapat berbagai upaya untuk mengidentifikasi karakteristik dari u-learning. Chen et al. (2002) mengidentifikasi enam karakteristik dari m-learning dan sejak saat itu telah diadaptasi oleh beberapa peneliti untuk menjadi bagian dari karakteristik u-learning. Karakteristik tersebut adalah mendesaknya kebutuhan belajar, inisiatif untuk memperoleh pengetahuan, mobilitas pengaturan pembelajaran, interaktivitas
proses pembelajaran, menetapkan aktivitas instruksional, dan integrasi
instruksional konten.
Upaya pertama dalam mengusulkan karakteristik u-learning oleh Curtis (2002). Dibandingkan dengan Chen, Curtis mencantumkan karakteristik
berdasarkan pada tiga peluang utama yang unik untuk komputasi genggam.
Karakteristik yang meliputi ketetapan, aksesibilitas, dan kedekatan telah diakui oleh
peneliti lain (Ogata, 2004; Ogata & Yano, 2004; Chiu, 2008) sebagai hal yang
peling menonjol untuk u-learning. (Hiroaki Ogata & Yoneo Yano, 2004) memperluas karakteristik dengan mempertimbangkan mobilitas pelajar dalam
lingkungan komputasi yang tertanam. Mereka berhasil mengidentifikasi dua
31
et al. (2002), karakteristik utama dari u-learning adalah ketetapan, aksesibilitas, kedekatan, interaktivitas, dan penempatan kegiatan instruksional.
Di dalam diskusi sebelumnya, Hwang et al. (2008) menemukan bahwa lebih
tepat untuk menerapkan “contextaware u-learning” saat mendefinisikan istilah
u-learning. Dengan mengacu pada definisi tersebut, ia mangajukan beberapa karakteristik yang signifikan dari u-learning yang mencakup layanan tanpa batas, layanan context-aware dan layanan adaptif. Akhirnya, Chiu et al. (2008) mempertimbangkan untuk memanfaatkan context-aware dan ubiquitous computing technologies dalam lingkungan pembelajaran yang mendorong motif dan performa pelajar. Oleh karena itu, ia merangkum karakteristik utama dari u-learning sebagai berikut: mendesaknya kebutuhan belajar, inisiatif untuk memperoleh pengetahuan,
interaktivitas proses pembelajaran, situasi kegiatan instruksional, kesadaran
konteks, secara aktif menyediakan layanan personal, pembelajaran mandiri,
pembelajaran tanpa hambatan, menyesuaikan isi subjek, dan komunitas
pembelajaran. Adapun karakteristik dari u-learning adalah:
1) Permanency: Informasi tetap ada kecuali pelajar dengan sengaja
menghapusnya.
2) Accessibility: Informasi akan selalu tersedia kapanpun pelajar ingin
menggunakannya.
3) Immediacy: Informasi dapat segera didapatkan oleh para pelajar.
4) Interactivity: Pelajar dapat berinteraksi dengan rekan kerja, guru, dan
32
Tabel 2.1 Perbedaan antara U-Learning, M-Learning, dan E-Learning (Yahya, Ahmad, & Jalil, 2010)
Kriteria U-Learning M-Learning E-Learning
Konsep Belajar hal yang benar di tempat
33
5) Context-awareness: Lingkungan dapat menyesuaikan diri dengan situasi
nyata para pelajar untuk menyediakan informasi yang memadai bagi
pelajar.
2.11 Kajian Teori Sebelumnya
2.11.1 Kajian Teori Technology Readiness Index
Istilah Technology Readiness Index (TRI) awalnya diperkenalkan pada tahun 2000 oleh Parasuraman dan diterbitkan dalam jurnal layanan penelitian dengan judul A Multiple-Item Scale to Measure Readiness to Embrace New Technologies. Parasuraman mengusulkan untuk mengukur “kecendrungan orang untuk merangkul dan menggunakan teknologi baru untuk mencapai tujuan dalam kehidupan di rumah
dan di tempat kerja” (Parasurman, 2000), maksudnya adalah mengenai
kecenderungan masyarakat untuk menggunakan teknologi baru untuk membantu
tujuan kehidupan berumah tangga dan dalam pekerjaan. Dan sejak itu TRI telah
menjadi sebuah metrik yang diterima secara luas untuk mempelajari proses adopsi
teknologi produk dan layanan.
Sebagai skala multy-item, TRI terdiri dari 36 pertanyaan yang ditujukan untuk mengukur technology readiness. Skala 36-item terdiri dari empat dimensi komponen keyakinan yang berkaitan dengan teknologi yang memperngaruhi
tingkat seseorang dalam Technology Readiness. Keyakinan ini menetapkan kesediaan seseorang untuk berinteraksi dengan teknologi baru. Dari empat dimensi,
34
Kontributornya sebagai berikut:
1) Optimism (kepercayaan diri) yaitu menggambarkan sebuah ekspektasi dari kebenaran positif teknologi.
2) Innovativeness (inovasi) yaitu mengenai otoritas penggunaan teknologi.
Sedangkan inhibitor adalah:
3) Discomfort (ketidaknyamanan) adalah keraguan tentang jaminan orang awam akan pengalamannya dengan teknologi.
4) Insecurity (ketidakamanan) adalah resiko kemungkinan orang-orang melakukan transaksi berbasis teknologi (technology-based transactions).
Sebagai kontributor, optimisme dan inovasi sebagai penggerak dari
Technology Readiness. Pada kenyataannya, skor tinggi diukur pada dimensi-dimensi ini yang pada umumnya akan memperbesar kesiapan teknologi
(Technology Readiness). Sabaliknya, ketidaknyamanan dan ketidakamanan mencegah atau menunda, berkecenderungan membuat orang-orang untuk
menggunakan teknologi baru. Dengan demikian, skor tinggi yang diukur pada
dimensi-dimensi ini akan menurunkan seluruh kesiapan teknologi (Technology Readiness). Selama bertahun-tahun, TRI telah banyak bermanfaat bagi para peneliti yang tertarik pada media sosial, akses mobile dan layanan teknologi lainnya. Skala
35
bahasa untuk memfasilitasi perkembangannya di banyak Negara dan telah
digunakan di berbagai sektor layanan termasuk pendidikan, perbankan,
telekomunikasi, kesehatan dan layanan professional lainnya.
Gambar 2.7 Technology Readiness Index (Parasuraman, 2000)
Mengingat faktor TRI sebagai karakteristik tertentu antara technology motivated dan non-motivated, dengan melihat pada gambar di atas, kita dapat mempertimbangkan hipotesis sebagai berikut.
1) Optimsm (OPT): Pandangan optimis terhadap penggunaan teknologi, dan percaya bahwa teknologi akan memberikan
kontrol, peningkatan kinerja, dan efisiensi dalam kehidupan.
36
3) Discomfort (DIS): Kurangnya penguasaan terhadap penggunaan teknologi sehingga seseorang merasa terbebani atas teknologi
tersebut.
4) Insecurity (INS): Kurangnya kepercayaan seseorang terhadap integritas teknologi sehingga menimbulkan keraguan atas
teknologi.
2.11.2 Kajian Teori Model Keberhasilan SI Delone dan McLean
Jogiyanto (2007) menjelaskan mengenai model keberhasilan sistem informasi yang dikembangkan oleh Delone dan McLean. Tahun 1992, Delone dan McLean mengembangkan model keberhasilan sistem informasi yang terdiri dari enam elemen atau faktor didalamnya. Keenam elemen atau faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1) Kualitas sistem (system quality)
2) Kualitas informasi (information quality) 3) Penggunaan (use)
37
Gambar 2.8 Model Keberhasilan SI (Delone dan McLean, 1992)
Model keberhasilan di atas didasarkan pada proses dan hubungan kausal dari
dimensi-dimensi di model. Model ini tidak mengukur ke enam dimensi pengukuran
keberhasilan sistem informasi secara independen tetapi mengukurnya secara
keseluruhan satu mempengaruhi yang lainnya.
Pertimbangan proses beragumentasi bahwa suatu sistem terdiri dari beberapa
proses, yaitu satu proses mengikuti proses lainnya. Suatu model proses
mengusulkan bahwa suatu sistem informasi terdiri dari beberapa proses yaitu
sebagai berikut ini.
1) Suatu sistem informasi mula-mula dibuat berisi dengan banyak fitur,
yang dapat memperlihatkan beberapa tingkat kualitas sistem dan
informasinya.
2) Pemakai-pemakai dan manajer-manajer mempunyai pengalaman
38
mereka puas atau tidak puas dengan sistemnya atau produk
informasinya.
3) Penggunaan dari sistem dan produk informasinya kemudian
mempunyai dampak atau pengaruh (influence) di pemakai individual di dalam melakukan pekerjaannya, dan dampak-dampak individu ini
secara kolektif akan berakibat pada dampak-dampak organisasional.
Sejak tahun 1992 sampai tahun 2002, banyak penelitian yang telah merujuk
dan menggunakan model Delone dan McLean (1992). Kepopuleran model ini
menunjukkan bukti yang kuat dari kebutuhan untuk mengintegrasikan
penemuan-penemuan riset secara komprehensif di bidang sistem informasi. Model ini banyak
mengundang perhatian dari para peneliti, salah satunya adalah Peter B. Seddon
yang melontarkan kritik terhadap model yang diajukan oleh DeLone & Mclean.
Menurut Seddon dalam Jogiyanto (2007) masalah utama dari model D&M
(DeLone & McLean) adalah mencoba mengkombinasikan proses dan penjelasan
kausal dari keberhasilan sistem informasi di model mereka. Dengan demikian
model mereka tercampur antara model proses (process model) dan model varian
(variance model). Menanggapi kritik Seddon tersebut yang menyatakan bahwa proses dan kausal adalah dua konsep yang berbeda dan membingungkan untuk
digabungkan. DeLone & McLean (2003) menyetujui kritik ini.
39
penggunaan sistem informasinya. DeLone & McLean mendasarkan modelnya pada
model proses yang terdiri dari tiga komponen proses, yaitu:
1) Pembuatan dari suatu sistem informasi
2) Penggunaan sistem informasi tersebut
3) Konsekuensi atau dampak dari penggunaan sistem
Masing-masing dari proses-proses ini diperlukan (necessary), tetapi masih belum cukup (not sufficient) untuk suatu kondisi supaya dapat memberikan hasil (outcome). Misalnya tanpa penggunaan sistem, tidak akan ada konsekuensinya atau manfaatnya. Demikian juga dengan pemakaian sistem mungkin juga tidak akan
dihasilkan manfaat. Dengan demikian untuk memahami seluruh dimensi dari
keberhasilan sistem informasi, model varian atau model kausal diperlukan.
Kritik lainnya oleh Seddon, tentang pemakaian sistem (system use) adalah suatu perilaku (behavior), sehingga harus dikeluarkan sebagai pengukur sukses dari model kausal. DeLone & McLean (2003) tidak sependapat dengan kritik ini.
Mereka berargumentasi bahwa pemakaian sistem (use) harus mendahului dampak dan manfaat, mereka percaya bahwa pemakaian sistem merupakan pengukur yang
tepat untuk mengukur sukses di kebanyakan kasus.
DeLone & McLean (2003) lebuh lanjut mengatakan bahwa permasalahan
dengan menggunakan pemakaian sistem (use) sebagai pengukur keberhasilan adalah pada definisinya yang terlalu sederhana tanpa memperhatikan sifat dari
40
pemakaian sistem. Sehingga penghapusan pemakaian sistem (use) dari model ditolak oleh Delone dan McLean (2003). Selain itu, kenyataannya juga pemakaian
sistem (system use atau system usage) masih digunakan di banyak riset-riset empiris dan berlanjut dikembangkan dan diuji oleh peneliti-peneliti sistem informasi.
Telah banyak perubahan peran sistem informasi selama 10 tahun sejak
DeLone & McLean pertama kali dikenalkan. Dengan mengkaji lebih dari 100
artikel yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sistem informasi terkenal seperti
Information System research, Journal of Management Information Systems, dan
MIS Quarterly sejak tahun 1993, Delone dan McLean (2003) kembali memperbaiki modelnya dan mengusulkan model yang sudah dimukhtakhirkan terutama untuk
digunakan di e-commerce yang merupakan aplikasi yang belum banyak muncul di model awal.
Dari kontribusi-kontribusi penelitian-penelitian sebelumnya dan akibat
perubahan-perubahan dari peran dan penanganan sistem informasi yang telah
berkembang, DeLone & McLean (2003) memperbarui modelnya dan menyebutnya
sebagai model keberhasilan sistem informasi D&M yang diperbarui (updated D&M IS Success model). Hal-hal yang diperbarui dalam model ini adalah sebagai berikut.
1) Menambah dimensi kualitas pelayanan (service quality) sebagai tambahan dari dimensi-dimensi kualitas yang telah ada.
41
3) Menambahkan dimensi minat memakai (intention to use) sebagai alternatif dari dimensi pemakaian (use).
4) Pemakaian (use) dan kepuasan pemakai (user satisfaction) sangat erat berhubungan. Pemakaian (use) harus mendahului kepuasan pemakai (user satisfaction) sebagai suatu proses, tetapi pengalaman yang positif karena menggunakan (use) akan mengakibatkan kepuasan pemakai yang lebih tinggi sebagai suatu kausal. Secara sama, peningkatan
kepuasan pemakai akan mengakibatkan peningkatan minat
menggunakan (intention to use) dan kemudian akan menggunakan (use).
5) Jika manfaat-manfaat bersih (net benefits) positif akan menguatkan minat memakai, dan menggunakan serta tingkat kepuasan pemakai.
Umpan balik ini masih valid bahkan untuk manfaat-manfaat bersih
yang negatif.
6) Model yang diperbarui mempunyai arah panah untuk
mendemonstrasikan hubungan yang diusulkan antar dimensi-dimensi
keberhasilan dalam bentuk proses, tetapi tidak menunjukkan arah
hubungannya yang positif atau negatif dalam bentuk kausal.
Dari hasil analisis tersebut, maka Delone dan McLean (2003) mengusulkan
42
Gambar 2.9 Pengembangan Model Keberhasilan SI (Delone dan McLean, 2003)
2.11.3 Model IPO Logic
Beberapa penelitian menggunakan Input-Process-Output Logic pada model penelitiannya. Logika IPO di adopsi untuk tujuan yang sama dalam pengukuran
kualitas dari suatu sistem. Teori dasar sistem ini digunakan untuk dapat memberi
gambaran akan konsep sistematis dari suatu sistem (Subiyakto et al. 2014). Model
logika komputer IPO logic yang digunakan milik Davis (1998) dan sampai saat ini masih banyak digunakan dalam penelitian di bidang teknologi dan informasi.
Logika IPO ini digunakan pada penelitian yang bertujuan dalam hal pengukuran
kualitas suatu sistem. Teori dasar IPO digunakan juga untuk menggambarkan
konsep sistematis dari suatu sistem dan mudah dimengerti oleh para pengguna, para
desainer pun juga dapat mengevaluasi dan memperbaiki desain (Davis, 1998).
43
sebab-akibat atau hubungan tujuan dan dampak dari program ataupun proyek secara
langsung. Namun ini bukan berarti bahwa program tersebut dikatakan tidak
berhasil, tetapi kemungkinan adanya bahwa program sebagai salah satu dari banyak
faktor yang dapat mempengaruhi suatu dampak yang dapat ditimbulkannya
(Solihin, Dadang. 2012). Berikut adalah gambar 2.6 merupakan alur dari IPO logic.
44 2.11.4 Literatur Sejenis
Tabel 2.2 Literatur Sejenis
Referensi Tujuan Hasil
(Asnawi, 2014) Untuk mengetahui kesesuaian hubungan antara manusia, organisasi, dan teknologi pada manfaat pada implementasi sistem
Kualitas layanan terhadap penggunaan sistem memliki pengaruh yang rendah, kepuasan pengguna terhadap net benefit memiliki pengaruh yang rendah.
Berpengaruh signifikan kualitas sistem terhadap penggunaan sistem, Berpengaruh signifikan Kualitas sistem-kepuasan pengguna, Berpengaruh signifikan Kualitas informasi-penggunaan sistem, Berpengaruh signifikan Kualitas informasi-kepuasan pengguna, Berpengaruh signifikan Kualitas layanan-penggunaan sistem,
Berpengaruh signifikan Kualitas layanan-kepuasan pengguna, Berpengaruh signifikan Kepuasan pengguna-penggunaan sistem, Berpengaruh signifikan Struktur organisasi-lingkungan, Berpengaruh signifikan Berpengaruh signifikan Penggunaan sistem-net benefit, Berpengaruh signifikan Kepuasan pengguna net benefit, Berpengaruh signifikan Struktur-net benefit, Berpengaruh signifikan Lingkungan – net benefit
(Erlirianto, Noor Ali, & Herdiyanti, 2015)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Electronic Medical Record
45
Tabel 2.2 Literatur Sejenis (lanjutan)
Referensi Tujuan Hasil
(Tammubua, Sodjiono, & Sofyan, 2015)
Tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini melakukan evaluasi
faktor–faktor keberhasilan aplikasi pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan di
lingkungan
BPSDMPK-PMP Kemdikbud dari aspek human(pengguna), organization(organisasi BPSDMPKPMP ),
technology(teknologi).
1. Aspek teknologi, kualitas sistem (KS), kulitas Informasi (KI) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna (KP). Kualitas layanan (KL) yang ada berpengaruh positif dan tidak signifikan pada kepuasan kengguna (KP) dan penggunaan sistem.
2. Aspek pengguna, kepuasan pengguna (KP) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan aplikasi (U)
3.Aspek organisasi, Variabel struktur organisasi (SO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna (KP). Kepuasan Pengguna (KP ) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Manfaat (M).
(Bayu &
Muhimmah, 2013)
Bertujuan mengetahui dan mengevaluasi faktor-faktor yang mendukung kesuksesan penerapan SIMRS di RS PKU Muhammadiyah Sruweng
faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan sistem informasi tersebut sebagai berikut :
1. Faktor teknologi yaitu kualitas sistem dan kualitas informasi memiliki hubungan yang searah (positif) dan signifikan terhadap penggunaan sistem (System Use) dan kepuasaan pengguna (User Satisfaction) yaitu manusia sebagai pengguna akhir sistem.
2. Faktor manusia (Human) yaitu kepuasan pengguna (user satisfaction) berhubungan yang searah (positif) dan signifikan terhadap penggunaan sistem (system use) dan net benefit (manfaat sistem).