Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue di RSUP Haji Adam Malik Pada Tahun 2015

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus

Dengue (DENV), yang membentuk dengue komplex dalam genu Flavivirus, Famili Flaviviridae (Lindenbach et al., 2007)4

2.2. Etiologi Demam Berdarah Dengue

Virus yang menyebabkan DBD adalah flavivirus. Ada empat serotipe virus

iaitu DEN–1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Virus ini sensitif terhadap panas dan rentan terhadap berbagai disinfektan yang umum termasuk etanol , natrium hipoklorit , dan glutaraldehyde . Namun, virus ini stabil dalam darah kering dan eksudat selama beberapa hari di kamar suhu. Setelah terinfeksi, vektor nyamuk mengaktifkan virus kira-kira 1 hingga 4 bulan.6 Ke empat serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia dan Dengue-3 merupakan serotipe yang paling luas dan kasus DBD yang berat dan disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue -4.1

2.3. Vektor Penularan Demam Berdarah Dengue

(2)

2.4. Epidemiologi Demam Berdarah Dengue

Penyakit DBD pertama kali dijumpai di Filipina pada tahun 1953. Tiga dekad

kemudian kasus DBD sudah dapat ditemukan di banyak negara sebagai contoh Kamboja, China, India dan sebagainya.7 Penderita DBD yang paling banyak merupakan dari Asia. Sejak tahun 1968-2009, WHO mencatat Negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara8

Di Indonesia, kasus DBD pertama kali diduga di Surabaya pada tahun 1968.

Namun, konformasi pasti melalui isolasi diperoleh pada tahum 1970. Pada tahun 1972, DBD dilaporkan di Bandung dan di Yogyakarta. Pada tahun 1994, penyakit DBD telah menyebar ke 27 provinsi di Indonesia.3

IR meningkat dari 0.05/100.000 pada tahun 1968 kepada 38-40/100.000 pada tahun 2013. IR paling tinggi pada tahun 2010 dengan 86/100.000. CFR menurun dari 41% pada tahun 1968 kepada 0.73% pada tahun 2013.

Dari tahun 1993, insidensi umur penderita yang paling banyak adalah antara umur 5-14 tahun. Insidensi penderita berumur 15 tahun ke atas meningkat dengan stabil dan terlihat penurunan insidensi pada anak-anak kecil sejak 1999.

Pada tahun 2013, 5 provinsi yang mempunyai IR yang tertinggi adalah Bali (168.5/100,000), Jakarta (104.0/100,000), Yogyakarta (96.0/100,000), Kalimantan Timur (92.7/100,000) and Sulawesi Tenggara (66.8/100,000).9

(3)

2.5. Gejala Klinik Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

2.5.1. Demam Dengue

Dengue adalah penyebab umum dari demam di daerah tropis.10 Setelah masa inkubasi 2-7 hari , tiba-tiba mengalami demam. Demam biasanya disertai dengan retro - orbital atau frontal sakit kepala . Mialgia dan nyeri tulang juga terjadi segera setelah onset demam. Ruam makula sementara akan muncul disetai dengan mual, muntah, limfadenopati, dan gangguan pengecapan. Gejala-gejala ini disertai dengan leukopenia dan berbagai derajat trombositopenia. Setelah satu atau dua hari penurunan suhu badan sehingga normal, ruam makulopapular generalisata morbiliformis muncul kecuali pada bagian telapak tangan dan kaki. Pasien biasanya pulih dari gejala tanpa komplikasi sekitar seminggu setelah timbulnya penyakit .11

2.5.2. Demam Berdarah Dengue

(4)

2.6. Diagnosa Demam Berdarah Dengue

Gejala DBD sangat bervariasi, WHO 2011 membagi DBD kepada 4 derajat:13

Derajat I : Demam disertai manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif), bukti rembesan plasma, trombositopenia dan peningkatan hematokrit.

Derajat II : Gejala-gejala derajat I, disertai perdarahan spontan.

Derajat III : Gejala-gejala derajat I atau II disertai dengan kegagalan sirkulasi (nadi lemah, tekanan darah sempit ≤ 20mmHg), hipotensi, dan gelisah,

Derajat IV : Gejala-gejala derajat III disertai shock berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO (2011). Terdiri dari kriteria klinis dan laboratorium.

2.6.1. Kriteria KlinisDemam Berdarah Dengue13

a) Demam tinggi mendadak (>39˚C), berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari.

b) Tanda-tanda perdarahan ditandai dengan uji torniquet positif, petekia, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gingiva, hematemesis dan melena.

c) Hepatomegali, pembesaran hati.

(5)

2.6.2. Hasil Laboratorium Demam Berdarah Dengue13

a) Trombositopenia (<100.000/mm3)

b) Hemakonsentrasi ( kadar Ht >20% dari normal) c) Anemia

d) Effusi Pleura

2.7. Patogenesis dan Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

Virus Dengue berkembang biak dalam sel retikuloendotelial setelah masuk dalam tubuh manusia. Terjadinya respon imun humoral maupun selular, antaranya anti netralisasi, anti-hemaglutinin dan anti komplemen. Pada infeksi pertama dengue primer antibodi mulai terbentuk, pada infeksi sekunder kadar antibodi meningkat.

Pada infeksi pertama, antibodi yang memiliki aktivitas netralisasi yang mengenali protein E dan monoklonal antibody terhadap NS1, Pre M dan NS3, dari virus akibatnya terjadi lisis sel yang telah terinfeksi virus tersebut melalui aktivitas netralisasi atau aktivasi komplemen. Akhirnya banyak virus dilenyapkan dan penderita mengalami penyembuhan, terjadilah kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus yang sama, tetapi apabila terjadi antibodi non-netralisasi yang memiliki sifat memacu replikasi virus, keadaan pasien akan menjadi parah. Infeksi kedua dipicu oleh virus dengue dengan serotipe yang berbeda, virus dengue berperan sebagai super antigen setelah difagosit oleh monosit atau makrofag. Makrofag ini menanpilkan Antigen Presenting Cell (APC) yang membawa muatan polipeptida spesifik yang berasal dari Mayor Histocompatibility Complex (MHC). 14

(6)

seperti hemokonsentrasi, tekanan darah rendah dan sebagainya apabila kehilangan plasma yang banyak. Perubahan kedua adalah terjadinya gangguan pada hemostasis seperti perubahan vaskular, trombositopenia dan koagulopati.

Temuan konstan pada DBD adalah aktivasi sistem komplemen, dengan penurunan besar dalam kadar C3 dan C5. Fenomena perdarahan pada infeksi dengue dan mediator yang mengakibatkan permeabilitas vaskular yang belum pasti. Kompleks imun ditemukan pada DBD tetapi peran mereka belum jelas. Peningkatan replikasi virus dalam makrofag oleh antibodi heterotipik merupakan penunjang akan DBD. Pada infeksi sekunder dengan serotipe yang berbeda dari penyebab infeksi primer, antibodi-virus dengue masuk ke dalam sel. Reaksi-silang CD4+ dan CD8+ limfosit sitotoksik diaktifkan. Aktivasi sel T dan lisis monosit yang terinfeksi dimedia oleh limfosit sitotoksik menyebabkan pelepasan cepat sitokin yang dapat mengakibatkan rembesan plasma dan perdarahan DBD.7

2.8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Demam Berdarah

Dengue15

Menurut Jhon Gordon (1950) terjadinya suatu penyakit disebabkan oleh lebih dari satu faktor (Multiple Causal), seperti agent, penjamu (host), dan lingkungan (environment).

1) Faktor Agent

(7)

2) Faktor Penjamu (Host)

Penjamu yang dimaksudkan adalah manusia yang kemungkinan menderita DBD. Faktor manusia berhubung kait dengan perilaku dan peran serta dalam kegiatan pemberantasan vektor pada masyarakat. Mobilitas penduduk yang tinggi memudahkan penularan virus dengue. Faktor umur dan kekuatan daya tahan tubuh dari serangan penyakit juga mempengaruhi. Tambahan pula, faktor pendidikan mempengaruhi cara berfikir dalam penerimaan penyuluhan yang diberikan dan cara mengatasi DBD.

3) Faktor Lingkungan

a) Sanitasi lingkungan dan kualitas pemukiman yang kurang baik merupakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan pemularan penyakit.

b) Ketinggian tempat juga berpengaruh, pada ketinggian >1000 meter dari permukaan laut, tidak ditemukan nyamuk Ae aegypti.

c) Air hujan menambahkan takungan air sebagai tempat pertumbuhbiakan disamping menambahkan kelembapan udara. Kelembapan dan temperatur sepanjang musim hujan sangat kondusif bagi kelangsungan hidup nyamuk.

d) Virus dengue hanya endemis di wilayah tropis dimana iklim dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. e) Kepadatan penduduk meningkatkan penularan DBD karena

(8)

2.9. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue

Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah jika diperlukan. Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun hasil laboratorium. Kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak terjadinya demam. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada kondisi tersebut dikurangi secara bertahap. Selain pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau tidak, pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites juga perlu waspadai.

Cairan kristaloid (ringer laktat, ringer asetat, cairan salin) maupun koloid dapat diberikan. WHO menganjurkan pemberian kristaloid sebagai cairan standard sebagai terapi DBD karena dibandingkan dengan koloid, kristaloid lebih mudah didapat dan lebih murah. Jumlah cairan yang diberikan sangat bergantung dari banyaknya kebocoran plasma. Pada kasus DBD derajat 1 dan 2, cairan diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance) adalah 3000-5000 ml/24 jam pada pasien dewasa dengan berat badan 50 kg, derajat 3 dan 4, diberikan cairan secara bolus atau tetesan cepat antara 6-10 mg/kg berat badan dan setelah hemodinamik stabil, kecepatan cairan dikurangi secara bertahap sehingga kondisi benar-benar stabil.

Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum).

(9)

cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna.16

2.10. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue

1. Mengunakan ikan pemakan jentik untuk mengendalikan populasi larva vektor DBD.

2. Partisipasi masyarakat dalam program 3M PLUS yaitu pertama menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain. Kedua, menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD. 3. Memakai baju lengan panjang dan celana panjang utuk mengurangi kontak

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...