Program Studi Ilmu Filsafat
diajukan oleh
NAZWAR 13/354421/PFI/00363
Kepada
PROGRAM MASTER FILSAFAT PROGRAM STUDI ILMU FILSAFAT
FAKULTAS FILSAFAT UNIVERSITAS GADJAH MADA
1
Pemahaman manusia terhadap makna agama menentukan sikap terhadapnya. Bagi para pemeluk agama yang berusaha taat, agama adalah jalan hidup yang menjadi acuan segala tindakan. Seorang yang memaknai agama sebagai ‘sesuatu yang adanya hanya berdasarkan keyakinan’ saja, melahirkan pemahaman agama yang taklid. Agama disikapi sebagai suatu prinsip yang tidak perlu diperdebatkan dan cukup diyakini saja. Sehingga, sikap mereka dalam berkehidupan (agama) cenderung tertutup (eksklusif). Sebaliknya, seseorang yang mempunyai pandangan bahwa, agama sebagai jalan hidup yang dinamis harus dimaknai secara kontekstual. Agama dihadirkan sebagai suatu ‘paket’ produk yang keberadaannya tidak lepas dari campur tangan manusia sehingga layak untuk dipertanyakan. Disisi lain, pesan kebijaksanaan yang melekat pada agama dinilai beberapa kalangan sebagai suatu ‘kerumitan yang tidak menemukan titik kepastian. Kebenaran yang dibawa agama tidak memberikan kejelasan ‘bukti terkait asal-usulnya. Sehingga, orang-orang yang mempunyai pemahaman demikian melahirkan sikap penolakan akan kebenaran agama. Pemahaman mereka tentang kebenaran menegasikan kebijaksanaan yang dibawa oleh agama. Pemaknaan terhadap agama demikian melahirkan pengamalan dan sikap terhadap agama yang beragam pula.
pandang hidup di zaman modern adalah bertumpu pada rasio. Agama sebagai ‘wadah untuk kehidupan yang secara gamblang ditimbang secara rasional. Secara spesifik bagi kaum intelektual zaman modern, segala sesuatu yang misterius tidak lain adalah ketidaktahuan manusia sehingga harus dibuktikan secara positivistik. Padahal, sejatinya setiap agama tentunya mengandung nilai-nilai yang bersifat ortodoks (sakral) yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh nalar (rasio).
Franz Magnis-Suseno (2006: 53) mengatakan, bagi kaum modern yang mengagungkan rasio, agama seluruhnya harus dapat dimengerti oleh nalar. Sehingga, agama direduksikan menjadi ajaran moral, suatu lembaga untuk membuat manusia bertindak beradab. Takhta rasionalitas dan makna tidak lagi milik Allah melainkan rasio dan kehendak manusia itulah yang menjadi titik fokus kesatuan dan arti (Wora, 2006: 55). Agama bagi kaum modern tidak lain adalah alat untuk suatu tujuan tertentu dan melepaskan makna agama sebagai suatu yang terintegrasi dengan kehidupan.
Pola pemikiran yang digagas oleh Auguste Comte ini menjadi peletak dasar perkembangan ilmu pengetahuan yang diikuti dan terus dikembangkan oleh para intelektual/ilmuwan zaman modern. Mitos dan agama yang dianut masyarakat dianggap sebagai tahapan perkembangan kebudayaan manusia yang paling awal. Jadi, menurut Comte, cara berfikir manusia, juga masyarakat di mana pun akan mencapai puncaknya pada tahap positif, setelah melampui tahap theologik dan metafisik (Wibisono, 6). Tahapan positivistik yang menurutnya puncak kebudayaan manusia dan dapat dipertanggungjawabkan.
melatarbelakangi sikap orang modern terhadap kebenaran (dalam) agama secara skeptis dan cenderung atheis.
Di zaman pra-modern (dimana semua agama-agama besar dunia dapat ditemukan di zaman ini), sikap masyarakat yang mempunyai corak pemikiran Postmodern, yang secara sistemtatis digagas oleh Jean Francois Lyotard memposisikan agama dalam pandangannya juga tidak kalah cerobohnya. Konsepsi individual yang memandang makna kebenaran didasarkan pada konteksnya masing-masing membuat universalitas dalam agama gugur. Dalam postmodernisme, segala grand narrative (narasi besar)-jalur strategi intelektual yang mengklaim bahwa ada prinsip-prinsip kebenaran, kesejahteraan, makna kehidupan, dan moral yang bersifat universal- ditolak dan diganti dengan narasi-narasi kecil, dengan nilai-nilai mitos, spiritual, dan ideologinya yang spesifik (Haber, 1994: 4).
Kaum perenial berpendapat, pluralitas postmodernisme adalah sebuah pluralitas yang simpang siur, liar dan tak beraturan, serta penuh kontradiksi. Dalam pluralitas postmodernisme, tidak ada saling keterkaitan di antara unsur-unsur pluralitas tersebut (Wora, 2006: 105). Dengan penolakan konsep universalitas ala Lyotard tersebut secara otomatis juga menafikan pembahasan yang masuk pada ranah metafisika. Keyakinan akan adanya realitas dibalik realitas yang tampak dalam kajian metafisika menjadi nihil. Begitupun dalam memahami agama, Tuhan yang terdapat dalam keyakinan umat beragama menjadi tidak terbaca, baik itu Tuhan yang bersifat personal (transendent), dan bahkan Tuhan yang diyakini adanya sebagai realitas yang impersonal (immanent). Faktor demikianlah yang menggeser hakikat agama dan pada saat yang sama mencabut rasa religiusitas di zaman ini.
Realitas dalam pandangan modern dan postmodern adalah bersifat bineritas; modern dengan corak rasio yang bersifat universal, dan postmodernisme mengakui kebenaran yang bersifat plural, pada posisi tersebut kaum perennial menjadi sintesa dari keduanya. Perenialisme mengakui kebenaran yang plural sekaligus terdapat unsur yang bersifat universal. Pluralitas perenialisme adalah sebuah pluralitas terintegrasi (Wora, 2006: 112). Realitas dipandang sebagai suatu yang bersifat plural juga saling terkait satu sama lain. Jadi, pandangan terhadap realitas itu boleh berbeda-beda, namun realitas itu sendiri Cuma satu, dan menyeluruh (Wora, 2006: 114).
diwariskan Renaissance kepada kita adalah kebingungan sekitar agama dan tanah air dalam kultus sentimental ‘humanisme’ (Schuon, 2002: 35). Menurut Schuon, realitas pada hakikatnya adalah satu. Pemahaman akan realitas yang hakiki tersebut adalah ditempuh dengan jalan intuisi. Namun demikian, meskipun pemahaman realitas didasarkan atas pengalaman intuisi yang bersifat personal, pengenalan akan dasar-dasar tentang realitas tersebut adalah dengan jalan agama. Agama adalah metode yang tidak dapat ditinggalkan untuk memahami hakikat realitas.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan tiga masalah kajian dalam penelitian ini. Rumusan masalah tersebut, yaitu:
1. Bagaimana perbincangan makna agama dalam ruang lingkup filsafat agama?
2. Bagaimana pandangan Frithjof Schuon tentang makna agama?
3. Bagaimna pertautan Pemikiran Frithjof Schuon dengan pluralitas agama di Indonesia?
3. Keaslian Penelitian
Peneliti telah melakukan telaah atas berbagai karya baik berupa buku-buku ilmiah, skripsi, tesis, jurnal, ataupun sumber ilmuah lain, dan berpendapat belum ada kajian pemikiran Frithjof Scoun dalam pespektif filsafat agama di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Meskipun banyak pemikir, ahli sejarah dan perbandingan agama sering memakai pola pemikiran yang dikembangkan Schuon sebagai landasan atau dasar dalam teori/konsep mereka, namun belum ada yang mengkaji pemikiran Schuon dengan tema demikian secara sistematis.
dalam skripsinya tersebut pengertian dan konsep matafisika secara umum dalam pandangan Fritjhof Schuon. Kedua, ulasan tentang Filsafat Perenial dalam tesis dengan judul Konsep Ketuhanan dalam Filsafat Perenial (Analisis Konseptual bagi Pluralisme Agama di Indonesia) yang disusun Arqom Kuswanjono pada tahun 2001. Peneliti berpendapat bahwa kajian dalam tulisan tersebut relevan dalam kajian ini terkait dengan relevansinya dengan kemajemukan agama di Indonesia. Sebab, dalam buku itu diungkapkan bahwa keberagaman agama merupakan hikmah dan tidak menjadi halangan untuk kelangsungan hidup beragama di Indonesia.
4. Manfaat Penelitian
Penelitian pemikiran dalam filsafat agama dengan tokoh Frithjof Schuon ini diharapkan dapat membawa manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap wawasan dan khazanah keilmuan filosofis terkait makna dan pengahayatan agama. Penelitian ini bisa membawa manfaat bagi kaum intelektual dan akademisi di lingkungan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta secara khusus, maupun bagi bangsa dan Negara secara umum untuk bersikap ilmiah, religius dan bijaksana dalam berbagai segi kehidupan
2. Manfaat Praktis
1. Memperoleh pengetahuan tentang konsep esoterisme dan eksoterisme Frithjof Schuon dalam penghayatan agama.
2. Sebagai tambahan pengetahuan/perspektif untuk mendukung pembangunan karakter bangsa Indonesia.
B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan:
2. Menjabarkan, menganalisis, dan menginterpretasikan makna agama dalam pemikiran Fitjhof Schoun dalam perspektif Filsafat Agama. 3. Kontekstualisasi konsep atau makna agama dalam pandangan Frithjof
Shuon dengan pluralitas agama di Indonesia. C. Tinjauan Pustaka
Peneliti telah melakukan tela’ah terhadap karya-karya yang terbatas, beberapa karya yang relevan dengan penelitian ini antara lain adalah karya Frithjof Schuon sendiri, yaitu, “The Transcendent Unity of Religions” (1975) yang dialihbahasakan oleh Saafroedin Bahar menjadi Mencari Titik Temu Agama-agama. Pembahasan makna agama dalam buku ini cukup komprehensif. Schuon memaparkan dasar-dasar filosofis dalam pemikirannya, antara lain tentang metafisika dan kebenaran, dan pegertian agama-agama besar dunia. Dimensi-dimensi filosofis tersebut kemudian diulas kembali oleh Schuon dalam karya selanjutnya, “Islam and The Perennial Philosophy” (1976) yang dialihbahasakan oleh Rahmani Astuti menjadi Islam dan Filsafat Perenial. Pembahasan tentang keragaman agama yang merupakan manifestasi dari Tuhan (yang satu) juga terdapat dalam buku ini, hanya saja, penjelasan tentang agama Islam mendapat porsi yang lebih banyak.
perkembangan manusia berkaitan dengan agama. Selain itu, agama-agama besar dalam buku itu diulas dari garis sejarah lahirnya.
Pandangan Frithjof Schuon tentang agama sebagaimana yang didiskripsikan di atas, pernah diulas oleh Komar dalam kajian tesisnya yang berjudul Konsep Kesatuan Transenden sebagai Salah Satu Solusi Konflik Atas Nama Agama: Perspektif Filsafat Perennial Frithjof Schuon tahun 2007. Dalam kajian tersebut, Komar (2007: iv) mengatakan bentuk agama-agama yang dimaksud Frithjof Schuon adalah dalam dimensi eksoteris yang bersifat relatif, namun di dalamnya terkandung muatan substansi yang sama dan mutlak pada dimensi esoteris. Inilah yang disebut dengan kesatuan transenden agama-agama. Dalam kajiannya tersebut, Komar berpendapat bahwa pemikiran Frithjof Schuon tersebut sangat relevan untuk dijadikan pintu masuk dialog antar umat beragama.
Ngainun Naim dalam disertasinya yang berjudul Pluralitas Agama: Studi Komparatif Pemikiran Frithjof Schuon dan Nurcholish Madjid (2011) mempunyai harapan yang sama akan terciptanya pluralitas agama melalui dialog antar agama. Konsep eksoterisme dan esoterisme yang dikemukakan Frithjof Schuon menurut Naim adalah keniscayaan. Keragaman agama-agama adalah kenyataan yang harus dihormati (Naim, 2011: x). Riset kepustakaan yang diterapkan Naim dalam
penelitiannya ini adalah dengan metode historis, komparatif, deskriptif-analisis dan
Nurcholish Madjid dalam Pengantar untuk buku Tiga Agama Satu Tuhan (1990:xxvii) menarik konsep tersebut kerana yang lebih praktis, ia menghimbau kaum inklusif (Muslim) diperintahkan untuk membuka diri dan mengajak kaum ahli kitab menuju ke “pokok-pokok kesamaan”, yaitu menuju ke ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa (Monoteisme, tawhid). Dengan mengutip N.J. Woly (1998), Nurcholish Madjid memetakan perlunya dialog antar agama untuk memperjernih makna agama dalam tiga sikap dialog berikut:
Pertama, sikap yang ekslkusif dalam melihat agama lain.
Kedua, sikap inklusif dengan memandang agama-agama lain adalah bentuk implicit agama kita.
Ketiga, sikap pluralis dalam pengertian, memandang agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai Kebenaran yang Sama. Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran yang sama.
Pentingnya perbincangan bentuk (eksoterik) dan esensi (esoterik) dalam agama juga ditegaskan oleh Eric J. Sharpe (1975: 253) dengan tiga poin berikut:
1. Meningkatkan pengetahuan yang lebih baik antara pemeluk agama dan tradisi.
2. Menegaskan unsur-unsur yang universal di semua agama.
3. Membangkitkan keyakinan bahwa agama-agama mempunyai tanggung jawab besar untuk bekerja sama menyebarkan moralitas di dunia.
Beragam bentuk agama (eksoterik) yang bersifat manifestasi dari ‘yang hakikat’ dipandang berbeda oleh George A. Lindleck (1985: 16) yang dikutip oleh Emanuel Wora (2006: 107-109) dalam buku Perenialisme: Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme. George A. Lindleck memandang bahwa pentingnya rekonsiliasi doktrin untuk memahami permasalahan mengenai agama. Ragamnya bentuk agama dipandang Goerge sebagai ekspresi rasa dan skema interpretatif-komprehensif yang biasanya terkandung di dalam mitos atau cerita yang kemudian diritualkan. Bentuk agama yang identik dengan doktrin-doktrinnya yang kemudian dihadirkan sebagai produk budaya (seperti layaknya mitos).
karena itu rahasia kekuatannya adalah harapan akan kebenaran itu sendiri. Pengalaman (individual) keagamaan bagi Freud tak lain adalah neurosis psikologis yang akan mengakibatkan neurosis obsesional universal (Freud, 1927: 150).
Buku selanjutnya yaitu Tren Pluralisme Agama yang disusun oleh Anis Malik Thoha (2005). Sebagai pemikir/ahli tentang agama, Anis Malik (2005:266) memandang berbeda terkait penggalian hakikat agama secara filosofis. Menurutnya, pendekatan filosofis terhadap agama (khususnya yang dikemukakan John Hick) adalah gagasan yang meredusir dan meminggirkan peran agama. Namun demikian, meskipun kritik yang dikemukakan Anis Malik cukup ketat dan kritis, pada karyanya tersebut, Anis Malik tidak memaparkan secara jelas terkait konsep pengganti dalam mengelola pluralitas agama yang ada. Ia hanya menghimbau kepada umat Muslim dalam menyikapi pluralitas yang ada dengan bertumpu pada penegasan jati diri atau identitas keagamaan dan pemberdayaan hubungan dengan agama, serta pengakuan terhadap peran agama yang meliputi kehidupan manusia.
Dalam karyanya tersebut, Anis menegasikan konsep yang dibawa melalui pendekatan ilmu (sejarah, antropologi, budaya dll.), filsafat dan perenial dalam meneropong agama, namun hal ini tidak diafirmasi lebih lanjut dengan menghadirkan konsep pengganti.
harapan terjadinya dialektika perspektif dalam melihat dan kemudian menganalisis konsep-konsep terkait objek material dan objek formal dalam penelitian ini agar dapat mendapatkan makna yang jelas dan komprehensif.
D. Landasan Teori
Peneliti mengangkat pemikiran tokoh Frithjof Schuon tentang Hakikat agama dalam perspektif filsafat agama. Objek material ini dimaksudkan untuk menjernihkan makna agama yang terkadang masih menjadi masalah.
Perbincangan filsafat agama tentang hakikat agama adalah penggalian bentuk dan hakikat agama. Frithjof Schuon, dalam buku Mencari Titik Temu Agama-agama (1975: 77) sebagai objek material dalam penelitian ini mengatakan: Agama adalah “bentuk” dari “jiwa”. Agama dianggap sebagai sesuatu yang bersifat esensi dan termanifestasi menjadi bentuk-bentuk agama tertentu. Huston Smith (1975: 11), selaku Pengantar dalam buku tersebut berpendapat semua agama hanya berbeda dalam bentuknya saja yaitu pada ranah. Meskipun kesatuan absolut, yaitu Tuhan, tidak dapat dilukiskan atau bahkan dijelaskan secara tepat, akan tetapi penjelasan seperti itu tetap diperlukan.
Menurut Nasr, religio perenis adalah penjelasan tentang aspek-aspek yang lebih dalam dari tradisi-tradisi (khususnya yang berkaitan dengan agama) dengan bahasa yang dapat dimengerti secara murni sekaligus setia kepada kebenaran Kekal.
Filsafat agama mempunyai orientasi penggalian makna hakikat dari setiap agama. Wilfred Cantwell Smith dalam The Meaning and The End of Religion (1962: 17) menyatakan perlunya mengkaji ulang terminologi agama. Menurut Smith, terminologi agama sangat problematik, ambigu, kontroversial yang mengundang polemik tak berujung dan tidak dapat dikenali di alam nyata. Sehingga menurut Smith, pentingnya pengkajian ulang atas terminologi agama baik secara historis maupun filosofis (filsafat agama).
Whitehead memandang agama sebagai entitas yang terus berproses. Menurutnya, agama selalu dalam ‘proses menjadi’ dan proses situ tidak akan pernah selesai dan tidak dapat didefinisikan dalam konteks das sein (Religion as it is) melainkan lebih pada agama sebagai das sollen (“religion as it should be”) (Whitehead, 2009: 33).
sebagai alternatif lain dalam proses pemikiran yang sintesis melainkan harus menerimanya sebagai suatu sumber kekuatan.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara bertindak menurut sistem aturan yang bertujuan agar kegiatan praktis terlaksana secara rasional dan terarah sehingga dapat mencapai hasil yang optimal (Anton H. Barkker: 1986, 6). Adapun metode dalam penelitian ini dilalui dengan penentuan tiga tahap berikut:
1. Bahan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan berdasarkan dua macam bahan yakni pustaka utama dan pustaka sekunder. Pustaka utama terdiri dari karya-karya Frithjof Schuon, sedangkan pustaka sekunder merupakan materi yang bersumber dari berbagai buku, jurnal, artikel dan tulisan lain, yang terkait dengan tema penelitian ini.
a. Pustaka utama:
i. “Islam and The Perennial Philosophy” (1976) dialihbahasakan oleh Rahmani Astuti menjadi Islam dan Filsafat Perenial (Bandung: Mizan, 1993).
ii. “Esoterism as Principle and as Way” (1978).
iv. “The Transcendent Unity of Religions (1945). Dialihbahasakan oleh Saafroedin Bahar menjadi Mencari Titik Temu Agama-agama (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003).
v. Ringkasan Metafisika yang Integral dalam Ahmad Norma Permata (ed.), Perennialisme Melacak Jejak Filsafat Abadi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996).
b. Pustaka sekunder:
i. Aymard, Jean-Baptiste dan Laude, Patrick, 2005, Frithjof Schuon; Life and Teachings, Suhail Academy Lahore, Pakistan.
ii. Magniz-Suseno, Franz, 2006, Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyakarta. iii. Nasr, Seyyed Hossein, 1975, Kata Pengantar dalam Frithjof Schuon,
1993, Islam dan Filsafat Perenial, Mizan, Bandung.
iv. Smith, Huston, 1973, Kata Pengantar dalam Frijhtof Schuon, 1994, Mencari Titik Temu Agama-agama, (terj.) Safroedin, 1994, Pustaka Firdaus, Jakarta.
v. Smith, Huston, 1991, Agama-agama Manusia Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
2. Jalan Penelitian
Proses penelitian akan dilaksanakan melalui tahapan-tahapan berikut:
i. Pembagian objek kajian. Pembagian ini berdasarkan pada objek formal dan objek material. Data yang pertama berisi pustaka mengenai filsafat agama. Data yang kedua terbagi pada dua objek, pertama berisi tentang pustaka mengenai pemikiran Frithjof Schuon yang terdapat dalam karya-karyanya yang merupakan sumber primer dan, kedua berupa kajian tokoh yang berkaitan dengan objek (formal dan material) yang diangkat.
ii. Pengklasifikasian data. Jika pada tahap pengumpulan data penulis mengumpulkan data sebanyak mungkin, maka pada tahap ini data-data yang telah diperoleh mulai diklasifikasikan dan dipilah-pilah berdasarkan bab dan sub-sub bab yang telah penulis susun sesuai dengan rencana dan kebutuhan penelitian.
iii. Analisis data. Data yang telah diklasifikasikan dianalisis oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
iv. Penyajian data, pada tahap ini peneliti akan memaparkan hasil analisis secara sistematis berdasarkan sub-sub bab yang telah ditentukkan. Penyajian data diawali dari pokok-pokok pikiran atau unsur-unsur yang paling mendasar dan sederhana, kemudian menuju pada pokok pembahasan yang lebih rumit.
Analisis data adalah usaha konkrit untuk memberikan interpretasi terhadap data-data yang telah tersedia. Penelitian ini akan menggunakan analisis kualitatif karena data-data yang digunakan adalah data kualitatif, serta penjelasannya dalam bentuk ungkapan-ungkapan dan kalimat. Data dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan metode Hermeneutika yang terdiri dari tiga unsur metodis; deskriptif, verstehen dan interpretasi.
i. Deskriptif: konsep-konsep pemikiran filsuf dijabarkan dan dijelaskan dalam bentuk kalimat penjabaran maupun parafrase, sehingga dapat dipahami pola pemikiran, paham-paham apa yang mempengaruhinya dan kemungkinannya mempengaruhi pemikir lain. ii. Verstehen: data yang telah dikumpulkan akan dipahami karakteristik
masing-masing, kemudian diketahui makna tiap-tiap data.
iii. Interpretasi: pemahaman atas data yang telah diperoleh dan diketahui maknanya melalui penerjemahan karya filsuf dan memberikan pandangan penulis atas karya-karya tersebut. Pembahasaan peneliti atas pemahaman terhadap pemikiran yang diteliti.
F. Jadwal Penelitian
penyusunan hasil penelitian sesuai dengan analisis sebagaimana yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya. Tahap yang terakhir adalah penjabaran deskriptif-analisis. Tahap ini akan dilengkapi dengan hasil konsultasi atau bimbingan, revisi dan diskusi dengan pembimbing penelitian, sehingga rumusan masalah dapat terjawab, dan tujuan penelitian dapat dipenuhi.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan hasil penelitian ini akan dipaparkan sesuai dengan sistematika berikut:
Bab I, memaparkan penjelasan secara umum penelitian terkait isi penelitian. Secara berurutan: terdiri dari latar belakang penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, jadwal penelitian, dan sistematika penulisan dalam penelitian.
Bab II, berisi paparan tentang filsafat agama: terdiri dari definisi filsafat agama, ruang lingkup filsafat agama, hubungan filsafat agama dan pengertian/hakikat agama, dan persoalan-persoalan yang menjadi kajian dalam Filsafat Agama.
Bab III, berisi biografi Frithjof Schuon. Pada bagian ini akan dijabarkan secara garis besar karya-karya, tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran, pokok pemikiran, paradigma dan orientasi pemikiran Frithjof Schuon.
dalam pandangan Frithjof Schuon. Hakikat dan bentuk dalam bahasa Frithjof Schuon adalah Esoterisme dan Eksoterisme dalam pengahatan agama. Urutan penyusunan hasil analisis penelitian ini adalah analisis filosofis terkait sikap Frithjof Schuon terhadap keberagaman agama, pengertian istilah dan batasan-batasan Eksoterisme. Dalam bab ini juga akan dijelaskan Konsep Esoterisme dalam pandangan Frithjof Schuon, meliputi pengertian esoterisme dan konsep universalitas dalam agama-agama.
Bab V, berisi kontribusi pemikiran Frithjof Schuon tentang hakikat agama. Kontribusi tersebut dijabarkan dalam poin-poin berikut, pertama, dijelaskan terlebih dahulu agama-agama yang terdapat di Indonesia. Kedua, pemaparan bentuk penghayatan (Religious Experience) masyarakat Indonesia terhadap agama yang dianut. Ketiga, analisis peneliti berupa pertautan hakikat agama dalam pandangan Frithjof Schuon dengan pluralitas agama di Indonesia.
H. DAFTAR PUSTAKA
Bakker, Anton H., 1986, Metode-metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Freud, Sigmund, 1961, “The Future of An Illusion” dalam James and Anna Freud, “The Standard Edition of The Complete Psychological Works of Sigmund Freud, London: Hogurth Press.
Haber, Fern, 1994, “Beyond Postmodern Politics: Lyotard, Rorty, Foucault”, New York: Routledge.
Huxley, Aldous, 1946, “The Perennial Philosophy” , London: Fontana Books.
Iqbal, Muhammad, 1962, “The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (terj.) Ali Audah, dkk., 1966, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, Jakarta: Tintamas.
Komar, 2007, Konsep Kesatuan Transenden sebagai Salah Satu Solusi Konflik Atas Nama Agama: Perspektif Filsafat Perennial Frithjof Schuon, Tesis, Jakarta: Universitas Indonesia.
Legenhausen, M., 1999, “Islam and Religious Pluralisem”, (terj.) Arif Mulyadi & Ana Farida, 2010, Pluralitas dan Pluralisme Agama: Keniscayaan Pluralitas Agama sebagai Fakta Sejarah dan Kerancuan Pluralisme Agama dalam Liberalisme, Jakarta: Shadra Press.
Madjid, Nurcholish, 1998, Pengantar dalam buku Tiga Agama Satu Tuhan, Bandung: Mizan.
Munawar-Rachman, Budhy, 2010, Reorientasi Pembaruan Islam;Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Barus Islam Indoneia, Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, dan Paramadina.
Naim, Ngainun, 2011, Pluralitas Agama: Studi Komparatif Pemikiran Frithjof Schuon dan Nurcholish Madjid (2011) Disertasi, Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Schuon, Frithjof, 1945, “The Transcendent Unity of Religions”, (terj.) Saafroedin Bahar, 2003, Mencari Titik Temu Agama-agama, Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus.
, 1976, “Islam and The Perennial Philosophy”, (terj.) Rahmani Astuti, 1993, Islam dan Filsafat Perenial, Bandung: Mizan.
, 1995, “The Transfiguration of Man”, (terj.) Fahkruddin Faiz, 2002, Transfigurasi Manusia: Refleksi Antrosophia Perennialis, Yogyakarta: Qalam.
Sharpe, Eric J., 1975, “Comparative Religion: A History, New York: Charles Scribenr’s Sons.
Siswomihardjo, Koento Wibisono, Sejarah Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Suatu Tinjauan dari Perspektif Filsafati, Makalah Perkuliahan, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Smith, Huston, 1973, Kata Pengantar dalam Frijhtof Schuon, 1994, Mencari Titik Temu Agama-agama, (terj.) Safroedin, 1994, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Thoha, Anis Malik, 2005, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta: Perspektif.
Whitehead, Alfred North, Mencari Tuhan Sepanjang Zaman: Dari Agama Kesukuan Hingga Agama Universal. (terj.) Prof. Alois Agus Nugroho, Bandung: Mizan.
Rencana Daftar Isi
Halaman Judul Halaman Pengesahan Halaman Pernyataan Halaman Persembahan Halaman Moto
Prakata Daftar Isi Intisari Abstract
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang
1. Masalah penelitian 2. Perumusan masalah 3. Keaslian penelitian 4. Manfaat penelitian B. Tujuan Penelitian
C. Tinjauan Pustaka D. Landasan Teori E. Metode Penelitian
2. Jalan Penelitian 3. Analisis Hasil F. Jadwal Penelitian G. Sistematika Penulisan
Bab II Makna Agama dalam Ruang Lingkup Filsafat Agama A. Pengertian Filsafat Agama
1. Definisi dan Penggunaan Filsafat Agama 2. Hubungan Filsafat dengan Agama B. Persoalan-persoalan dalam Filsafat Agama
1. Pengalaman Keagamaan (Religiuos Experience) 2. Eksistensi Tuhan dan Persoalan Kejahatan 3. Bahasa Keagamaan
4. Spiritualitas 5. Kesakralan Agama
C. Filsafat Agama dalam Memaknai Agama
Bab III Latar Belakang Kehidupan dan Orientasi Pemikiran Frithjof Schuon A. Biografi Frithjof Schuon
B. Karya-karya dan Tokoh-tokoh yang Mempengaruhi Pemikiran Frithjof Schuon
Bab IV Hakikat dan Bentuk Agama dalam Pandangan Frithjof Schuon A. Pengertian Agama dalam pandangan Frithjof Schuon
B. Bentuk agama
1. Pengertian Eksoterisme 2. Batas-batas Eksoterisme
D. Substansi Agama dalam Konsep Esoterisme 1. Pengertian Esoterisme
2. Konsep Universalitas dalam Agama-agama
Bab V Kontribusi Pemikiran Frithjof Schuon Tentang Hakikat Agama dalam Mendukung Kemajemukan Agama di Indonesia
A. Agama-agama di Indonesia.
B. Bentuk Penghayatan Agama (Religious Experience) Masyarakat Indonesia
C. Pertautan Hakikat Agama dalam Pandangan Frithjof Schuon dengan Pluralitas Agama di Indonesia