• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENILAIAN PENYAKIT TANAMAN MENTI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENILAIAN PENYAKIT TANAMAN MENTI (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENILAIAN PENYAKIT TANAMAN MENTIMUN ( Cucumis sativus )

OLEH :

WENNY WIDIASTUTI 05121401031

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada budidaya tanaman umumnya, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu kendala yang perlu diperhatikan dan ditanggulangi. Perkembangan serangan OPT yang tidak dapat dikendalikan akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah lain yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi. Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya.

Organisme pengganggu tanaman dikelompokan menjadi 3 kelompok utama yaitu hama, penyakit, dan gulma. Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tanaman dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman. Gangguan terhadap tanaman yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tanaman, tetapi penyakit merusak tanaman dengan mengganggu proses – proses dalam tubuh tanaman sehingga mematikan tanaman. Oleh karena itu, tanaman yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian.

Tanaman mentimun pada masa pertumbuhannya tidak terlepas dari hama dan penyakit yang dapat menghambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui jenis dan persentase penyakit yang menyerang tanaman mentimun.

B. Tujuan

(3)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Mentimun a) Klasifikasi dan Morfologi

Adapun klasifikasi ilmiah dari tanaman mentimun adalah : Kingdom : Plantae

Tanman mentimun berasal dari bagian utara India kemudian masuk ke Cina pada tahun 1882 De Condole memasukkan tanaman ini kedalam daftar tanaman asli India. Pada akhirnya tanaman ini menyebar keseluruh dunia teruutama didaerah tropikaTanaman mentimun tidak tahan terhadap hujan yang terus menerus. Pertumbuhannya memerlukan kelembaban udara yang tinggi, tanah subur yang gembur dan mendapat sinar matahari penuh dengan drainage yang baik. Kementimun sebaiknya dirambatkan ke para-para dan tumbuh baik dari dataran rendah sampai 1.300 m dpl. Tanaman mentimun diduga berasal dari daerah pegunungan Himalaya di India Utara. Tanaman semusim, merayap atau merambat, berambut kasar, berbatang basah, panjang 0,5-2,5 m.

Tanaman mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai daun. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai panjang, bentuknya bulat telur lebar, bertaju 3-7, dengan pangkal berbentuk jantung, ujung runcing, tepi bergerigi. Panjang 7-18 cm, lebar 7-15 cm, warnanya hijau. Bunganya ada yang jantan berwarna putih kekuningan, dan bunga betina yang bentuknya seperti terompet. Buah mentimun bulat panjang, tumbuh bergantung, warnanya hijau berlilin putih, setelah tua warnanya kuning kotor, panjang 10--30 cm, bagian pangkal berbintil, banyak mengandung cairan.

(4)

bisa dimakan mentah, direbus, dikukus atau disayur. Bisa juga dibuat acar atau dimakan bersama rujak. Banyak jenis mentimun yang ada di pasar, seperti mentimun biasa, mentimun krai, mentimun wuku, mentimun poan dan mentimun watang. Tanaman mentimun adalah tanaman yang melakukan perbanyakan dengan menggunakan biji.

b) Syarat Tumbuh

Tanaman mentimun mempunyai daya adaptasi cukup luas terhadap lingkungan tumbuhnya. Di Indonesia mentimun dapat di tanam di dataran rendah dan dataran tinggi yaitu sampai ketinggian ± 100 m di atas permukaan laut (Sumpena 2001).

Tanaman mentimun tumbuh dan berproduksi tinggi pada suhu udara berkisar antara 20-320 C, dengan suhu optimal 270 C. Di daerah tropik seperti di Indinesia keadaan suhu udara ditentukan oleh ketinggian suatu tempat dari permukaan laut. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman mentimun, pertumbuhan tanaman mentimun, terlebih pada saat mulai berbunga karena curah hujan yang tinggi akan banyak menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).

Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk lahan pertanian cocok untuk ditanami mentimun. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan kualitas yang baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur dan gembur, kaya akan bahan organik, tidak tegenang, pH-nya 5-6. Namun masih toleran terhadap pH 5,5 batasan minimal dan pH 7,5 batasan maksimal. Pada pH tanah kurang dari 5,5 akan terjadi gangguan penyerapan hara oleh akar tanaman sehingga pertumbuhan tanaman terganggu, sedangkan pada tanah yang terlalu basa tanaman akan terserang penyakit klorosis (Rukmana, 1994).

(5)

a) Morfologi

Penyakit mosaik pada timun merupakan penyakit yg disebabkan oleh Cucumber Mosaic Virus (CMV) atau Virus Mosaik Ketimun. Virusnya disebut Marmor astrictum Holmes. Selain itu, juga diketahui ada jenis virus lain yg menyerang tanaman timun yakni Zucchini Yellow Mosaic Virus (ZYMV).

Vektornya CMV berupa Aphid dan Thrips. Aphid memiliki mulut berupa alat tusuk dan hisap. Pada saat ia berada di permukaan daun, Aphid akan menghisap zat-zat dari daun, sehingga otomatis dia akan bisa menularkan penyakit (virus) dan memperbanyak diri dalam tanaman tersebut. Sedangkan Thrips bekerja dengan menusuk klorofil (zat hijau daun) yang sangat diperlukan dalam proses pembuatan zat makanan bagi tumbuhan. Akibatnya, daun menjadi pucat dan tidak dapat memasok kebutuhan organ lain. (Sinaga, 2006)

CMV termasuk dalam kelompok Cucumovirus, bersama-sama dengan Peanut stunt virus (PStV) dan Cabaio aspermy virus (CAV). CMV mempunyai tiga RNA genom beruntai tunggal (RNA 1, 2, 3), satu RNA subgenom (RNA 4). Masing-masing RNA ini mempunyai fungsi genomic yang berbeda. Virus ini mempunyai kisaran inang terluas di antara virus tanaman yang diketahui saat ini, dilaporkan dapat menginfeksi lebih dari 800 spesies tumbuhan, dapat menyebabkan kerugian besar pada berbagai jenis tanaman. Lebih dari 60 isolat CMV sudah diketahui sifat-sifatnya. Berdasarkan 10 beberapa kriteria, isolat CMV dibagi menjadi subgroup I dan II membaginya berdasarkan bobot RNA 1 dan RNA 2, isolat CMV subgroup I dari isolat subgroup II.

(6)

vektor, biji, bahan perbanyakan tanaman, dan alat mekanis. Pengendalian penyakit CMV yang banyak dilakukan hanyalan bersifat sebagai pencegahan misalnya penggunaan bibit tahan atau bebas viru, eradikasi tanaman terinfeksi, pengendalian vektor dan proteksi silang.

b) Gejala Serangan

Tanaman mentimun yang terinfeksi virus mosaik menjadi terganggu metabolismenya sehingga tanaman terhambat pertumbuhannya, junlah buah sedikit dan berukuran kecil. Gejala spesifik berupa terjadinya klorosis pada daun (daun trotol kuning), belang hijau coklat, permukaan daun berlekuk-lekuk (bergelombang), ukuran permukaan daun lebih kecil, daun berlepuh hijau gelap (blister), pertumbuhan tanaman lebih pendek, daun berbentuk mangkuk atau cawan.

Penyebaran virus ini dapat secara langsung karena gesekan bagian tanaman yang sakit ke daun atau bagian tanaman lain yg sehat karena adanya angin, oleh kutu daun (Aphis gossypii Glow), pekerja kebun dan peralatan pertanian. Pertumbuhan tanaman yang terserang virus relatif lebih kerdil. Mula-mula tulang daun menguning atau terjadi jalur kuning sepanjang tulang daun. Daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, ukuran daun lebih kecil dan lebih sempit dari ukuran daun yang normal, atau menjadi seperti tali sepatu karena lembaran daun menghilang yang tinggal hanya tulang daun saja. Virus mosaik mentimun sering menyebabkan gejala bisul atau kutil pada buah.

Virus Cucumis Mosaic Virus masuk ke dalam jaringan melalui luka pada daun lalu memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh jaringan tanaman secara sistemik. Gejala awal serangan virus ini ditandai dengan adanya warna mosaik kuning atau warna hijau muda mencolok pada daun. Kelanjutanya pucuk daun menumpuk keriting diikuti dengan bentuk helaian daun menyempit atau cekung, buah kecil, bengkok dan ringan. Secara keseluruhan tanaman yang terserang virus ini akan tumbuh secara tidak normal, menjadi lebih kerdil dibandingkan dengan tanaman sehat.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

(7)

Praktikum ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya setiap hari Rabu dimulai dari

tanggal 12 Maret 2014 – 16 April 2014 pukul 13.00 WIB ds selesai.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, cangkul dan kayu lanjaran. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah lahan dan tanaman menmentimun.

C. Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah sebagai

berikut :

1. Rendam benih mentimun untuk mengetahui mana mentimun yang baik untuk ditanam.

2. Semai 10 benih mentimun selama satu minggu sebelum ditanam dilahan.

3. Setelah dilakukan penyemaian, tanam bibit mentimun ke lahan yang sudah dibersihkan .

4. Catat perlakuan terhadap tanaman mentimun setiap minggu.

5. Amati penyakit yang menyerang setiap tanaman mentimun yang tumbuh. 6. Hitung dan catat presentasi tanaman mentimun yang terserang penyakit.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

(8)

a) Kerusakan Mutlak ( Persentase serangan )

(9)
(10)

11

Penyakit tanaman menimbulkan dua gejala kerusakan, yaitu gejala kerusakan mutlak (persentase kerusakan) dan gejala kerusakan bervariasi (intensitas serangan). Gejala kerusakan mutlak adalah gejala rusaknya secara mutlak dari tanaman, atau bagian tanaman, batang, malai, daun serta dapat menyebabkan kematian tanaman secara mutlak. Gejala kerusakan bervariasi adalah gejala rusaknya tanaman atau bagian tanaman seperti daun serta dapat menimbulkan kerusakan bervariasi.

(11)

persentasi gejla kerusakan mutlak dan gejala kerusakan bervariasi adalah 9 tanaman mentimun. Persentase kerusakan mutlak dari 9 tanaman adalah sebesar 88,8 % hal ini dikarenakan dari 9 jenis tanaman yang mengalami kerusakan atau terkena penyakit adalah sebanyak 8 tanaman dan 1 tanaman lagi tidak terserang penyakit.

Tanaman 1 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 0 % karena dari 3 helai daun pada tanaman ini tidak ada yang terserang penyakit.

Tanaman 2 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 48,2 %. Dari 14 helai daun yang ada pada tanaman 2, ada 1 helai daun dengan persentase kerusakan <25 %, 2 helai daun dengan persentase kerusakan 51-75% dan 5 helai daun dengan kerusakan >75%.

Tanaman 3 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 12,5 %. Dari 8 helai daun yang ada pada tanaman 3, ada 2 helai daun dengan persentase kerusakan <25% dan 1 helai daun dengan persentase kerusakan 26-50%.

Tanaman 4 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 32,1 %. Dari 7 helai daun yang ada pada tanaman 4, ada 3 helai daun dengan persentase kerusakan 51-75% dan 4 helai daun memiliki persentase kerusakan 0%.

Tanaman 5 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 30 %. Dari 10 helai daun yang ada pada tanaman 10, ada 4 daun dengan persentase kerusakan <25% dan 2 helai daun dengan persentase kerusakan >75%.

Tanaman 6 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 25 %. Dari 3 helai daun pada tanaman 6 ada 1 helai daun dengan persentase gejala kerusakan <25% dan 1 helai daun dengan persentase gejala kerusakan 26-50%.

Tanaman 7 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 25 %. Dari 11 helai daun terdapat 2 helai daun dengan persentase kerusakan > 75 %.

Tanaman 8 memiliki persentase gejala kerusakan sebesar 50 %. Dari 2 helai daun terdapat 1 helai daun dengan gejala kerusakan >75 %.

Tanaman 9 memiliki persentase kerusakan sebesar 56,25 %. Dari 4 helai daun terdapat 1 helai daun dengan persentase kerusakan <25% dan 2 helai daun dengan persentase kerusakan >75 %.

(12)

umumnya jenis serangan penyakit yang menyerang tanaman mentimun yang mengalami gejala kerusakan adalah penyakit mosaic mentimun dan layu bakteri

Penyakit mosaik pada timun merupakan penyakit yang disebabkan oleh Virus Mosaik Ketimun. Tanaman timun yang g terinfeksi virus menjadi terganggu metabolismenya sehingga tanaman terhambat pertumbuhannya, jumlah buah sedikit dan berukuran kecil. Gejala spesifik berupa terjadinya klorosis (daun bertrotol warna kuning), belang hijau coklat, permukaan daun berlekuk-lekuk (bergelombang), ukuran permukaan daun lebih kecil, daun berlepuh hijau gelap (blister), pertumbuhan tanaman lebih pendek, daun berbentuk mangkuk atau cawan. Penyebaran virus ini dapat secara langsung karena gesekan bagian tanaman yang sakit ke daun atau bagian tanaman lain yg sehat.

Penyakit layu pada mentimun juga dapat disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Penyakit layu bakteri juga mematikan, tidak lama setelah gejala tampak. Tanaman timun yg terserang bakteri gejala layu tampak pada bagian tubuh tanaman, Setelah beberapa waktu, tanaman akan layu secara keseluruhan. Gejala luar layu bakteri mirip dengan layu fusarium. Kedua penyakit ini dapat dibedakan dengan melihat gejala bagian dalam tanaman. Pada layu bakteri, batang timun jika dipotong akan tampak berlendir (lendir berwarna kemerahan), Akibat serangan bakteri ini, jaringan pembuluh pengangkutan di dalam batang tidak berfungsi sehingga pengangkutan air dan zat-zat hara terhenti. Penyebaran bakteri ini dapat melalui air, serangga, nematoda, alat-alat pertanian yang baru dipergunakan untuk menebang tanaman sakit lalu digunakan untuk memangkas tanaman lain yg sehat. Bakteri dapat menginfeksi ke seluruh tubuh tanaman.

Untuk menghindari penyakit pada tanaman maka perlu dilakukan yang baik terhadap tanaman mentimun seperti pemberian pestisida untuk memberantas hama dan penyakit.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

(13)

1. Organisme pengganggu tanaman dikelompokan menjadi 3 kelompok utama yaitu hama, penyakit, dan gulma.

2. Penyakit tanaman adalah gangguan terhadap tanaman yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.

3. Gejala kerusakan mutlak adalah gejala rusaknya secara mutlak dari tanaman, atau bagian tanaman, batang, malai, daun serta dapat menyebabkan kematian tanaman secara mutlak.

4. Gejala kerusakan bervariasi adalah gejala rusaknya tanaman atau bagian tanaman seperti daun serta dapat menimbulkan kerusakan bervariasi.

5. Untuk menghindari penyakit pada tanman maka perlu dilakukan perawatan tanaman dengan baik seperti pemberian pestisida secukupnya untuk memberantas hama dan penyakit tanaman.

B. Saran

Pada saat praktikum, diharapkan agar para praktikan dapat melakukan pengambilan data dan perhitungan dengan teliti terhadap tanaman yang terserang penyakit agar hasil yang didapatkan menjadi lebih akurat. Selain itu, praktikan diharapkan dapat menambah pengetahuan dengan membaca buku mengenai penyakit yang menyerang tanaman mentimun.

(14)

Anonim 1. Penyakit Timun. Tersedia (Online) : http :// penyakitutama. Blogspot .com/2007/09/penyakit-timun-6.html. Diakses pada tanggal 19 April 2014.

Anonim 2. Laporan Penilaian Kerusakan Penyakit Tanman. Tersedia (Online) :

http://panjaitansumitro.blogspot.com/2012/05/penilaian-kerusakan-penyakit-tanaman_7589.html . Diakses pada tanggal 19 April 2014.

Anonim 3. Laporan Praktikum Budidaya Mentimun. Tersedia (Online) :

http://budidayamentimun.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-budidaya-mentimun.html. Diakses pada tanggal 19 April 2014.

Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Sinaga, Meity Suradji. 2006. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya. Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun. Jakarta : Penebar Swadaya.

(15)

Tanaman 1 Tanaman 2 Tanaman 3

Tanaman 4 Tanaman 5 Tanaman 6

Referensi

Dokumen terkait

Nama paket pekerjaan : Belanja Bahan Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman Perkebunan Kegiatan Pengendalian OPT Tanaman Kopi (PBKo) di Kabupaten Tabanan dan Kabupaten

Senjang hasil tersebut antara lain disebabkan penerapan teknologi usahatani jagung di tingkat petani masih belum optimal, serangan organisme pengganggu tanaman

Karya tulis berjudul Pengelolaan tanaman dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Bawang Merah (Allium ascalonicum L) di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera

Senjang hasil tersebut antara lain disebabkan penerapan teknologi usahatani jagung di tingkat petani masih belum optimal, serangan organisme pengganggu tanaman

Senjang hasil tersebut antara lain disebabkan penerapan teknologi usahatani jagung di tingkat petani masih belum optimal, serangan organisme pengganggu tanaman

1) Menyiapkan rumusan kebijakan di bidang identifikasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tanaman semusim, tanaman rempah dan penyegar, tanaman

PERLINDUNGAN TANAMAN Menurut UU 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh Organisme Pengganggu

Dokumen ini membahas penerapan ambang pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) pada budidaya bawang merah untuk mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan efisiensi