ANALISIS PENGELOLAAN LAHAN KERING
SEBAGAI TEMPAT BUDIDAYA TANAMAN DI KEBUN
AKADEMIK FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
TADULAKO
LAPORAN LENGKAP
BABUL RAHMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
ANALISIS PENGELOLAAN LAHAN KERING
SEBAGAI TEMPAT BUDIDAYA TANAMAN DI KEBUN
AKADEMIK FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
TADULAKO
LAPORAN LENGKAP
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Nilai Praktikum Pada Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
BABUL RAHMAN
E 281 16 278
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
Menyetujui,
Koordinator asisten bidang Asisten Penanggung Analisis Sumber Daya. jawab
Fitriah Balosi, SP A rdyansyah, SP.
Disahakan oleh:
a.n Dosen Penanggung Jawab Praktikum Koordinator Umum Praktikum Integrasi
Smester Ganjil Tahun 2017-2018
Andi Agir A.Lanyala, SP
Palu, Desember 2017
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Analisis Pengelolaan Lahan Kering sebagai Tempat Budidaya TanamanDikebun Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
Nama : Babul Rahman
Stambuk : E 281 16 278
PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Karya ilmiah ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya
sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing.
2. Dalam karya ilmiah ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas
dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama
pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
3. Pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang
telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma
yang berlaku diperguruan tinggi ini.
Palu, Desember 2017
Yang membuat pernyataan,
RINGKASAN
Babul Rahman (E 281 16 278).Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung
(Zea Mays L) Dan Bawang Merah (Allium Cepa L)Terhadap Kebutuhan Nitrogen Menggunakan Bagan Warna Daun. (dibimbing oleh Zainuddin Basri dan Usman Made, 2017).
Ekologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, sesuatu kajian mengenai hubungan anorganik serta lingkungan organik di sekitarnya yang kemudian pengertian ini diperluas, menjadi kajian mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Klimatologi pertanian ialah cabang ilmu iklim atau cuaca terapan yang mempelajari tentang hubungan antara proses-proses fisik di atmosfer (unsur-unsur cuaca) dan proses pertanian
Agronomi sebagai cabang ilmu-ilmu pertanian yang mencakup pengelolaan lapang produksi dan menghasilkan produksi maksimum. Ilmu Agronomi merupakan ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi maksimum..
Hortikultura merupakan cabang dari agronomi. Berbeda dengan agronomi, hortikultura memfokuskan pada budidaya tanaman buah (pomologi/frutikultur), tanaman bunga(florikultura), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat -obatan (biofarmaka), dan taman (lansekap). Salah satu ciri khas produk hortikultura adalah perisabel atau mudah rusak karena segar.
Tanah merupakan benda yang berasal dari bebatuan di dalam bumi dan merupakan komponen utama pemberi kehidupan ke seluruh makhluk hidup. Dimana proses terbentuknya tanah memerlukan waktu yang begitu lama dengan membutuhkan jutaan tahun sehingga menjadi tanah yang murni melalui proses pelapukan fisik, kimiawi, serta pelapukan mekanik.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Lengkap dengan judul “Analisis Pengololaan Lahan Kering Sebagai Tempat Budidaya Tanaman Di Kebun Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako”dengan baik. Laporan Lengkap ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian Laporan Lengkap ini, terutama kepada yang terhormat :
1. Andi Agir A.Lanyala, SP. selaku koordinator umum praktikum integrasi. 2. Fitriah Balosi, SP. Selaku Koordinator asisten bidang Analisis Sumber Daya. 3. Ardywansyah, SP. Selaku Asisten Penanggung Jawab.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyusunan Laporan Lengkap ini, namun sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan kehilafan. Olehnya itu dengan penuh rasa rendah hati penulis menerima kritikan dan saran yang sifatnya membangun. Semoga skrips ini dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Amin .
Palu, Desember 2017
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL... i
HALAMAN JUDUL…………....... ii
PENGESAHAN………... iii
PERNYATAAN KEASLIAN... iv
RINGKASAN... iv 2.1.1 Tanaman Bawang Merah... 4
2.1.2 Tanaman Jagung Manis... 5
II.2. Landasan Teori……... 5 II.2.1. Klasifikasi dan Botani Tanaman…... 5
2.2.1.1 Tanaman Bawang Merah ………... 5
2.2.1.2 Tanaman Jagung Manis ………..…………... 8
II.2.2. Syarat Tumbuh………... 9
2.2.2.1 Tanaman Bawang Merah ……….………... 9
2.2.2.2 Tanaman Jagung Manis ……..………….………... 11
II.2.3. Pupuk dan Pemupukan…….………..…………... 12
II.2.4. Pemeliharaan……….………..…………... 13
III.1. W
III.3.1. Persiapan Media Tanaman... 17
III.3.2. Persemaian………... 17
III.4.4. Kondisi Siklum Ekologi……... 19
III.4.5. Jenis Hama dan Penyakit serta teknik pengendalian... 20
III.4.6. Komponen Tumbuh Tanaman…………... 20
3.4.6.1 Tinggi Tanaman... 20
3.4.6.2 Jumlah Anakan………... 20
3.4.6.3 Diameter Batang………... 21
3.4.6.4 Jumlah Daun Tanaman... 21
3.5 Analisis Data ... 21
4.1.1 Kondisi Tanah……….…... 22
4.1.2 Kondisi Iklim……….…... 24
4.1.3 Kondisi Siklus Ekologi……….……... 27
4.1.4 Jenis Hama dan Penyakit Serta Teknik Pengendalin... 29
IV.2. Ko mponen Tumbuh………... 32
IV.2.1. Tinggi Tanaman…….…... 32
IV.2.2. Jumlah Daun……….…... 33
IV.2.3. Diameter Batang……….…... 34
IV.2.4. Jumlah Umbi dan Anakan……….…... 35
V. KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Ke simpulan... 36
V.2. Sa ran... 38 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BIODATA PENULIS
Nomor Halaman 1. Grafik Pengamatan Suhu Tanah MingguPertama...22 2. Grafik Pengamatan Suhu Tanah Minggu Kedua...22 3. Grafik Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama
Tinggi Tiang 30 cm...24 4. Grafik Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama Tinggi
Tiang 100 cm...24 5. Grafik Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama Kedua
Tiang 30 cm...25 6. Grafik Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama Kedua
DAFTAR TABEL
1. Pengamatan Jenis Hama dan Penyakit... 42
2. Tanaman Bawang Merah dari 7 HST-49 HST... 43
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah mempunyai sifat kompleks, terdiri atas komponen padat yang berinteraksi dengan cairan dan udara. Komponen pembentuk tanah merupakan padatan, cairan dan udara jarang berada dalam kondisi setimbang, selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di atas permukaan tanah yang dipengaruhi oleh suhu udara, angin dan sinar matahari (Lugito,2012).
Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman mempunyai makna yang sangat penting didalam menentukan keberhasilan tujuan membudidayakan tanaman. Secara harfiah, perlindungan adalah sesuatu yang diberikan untuk melindungi sesuatu atau seseorang yang tak kuat atau lemah terhadap suatu ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses hidupnya yang normal. Sedangkan, tanaman adalah tumbuhan yang dibudidayakan atau ditanam oleh manusia untuk tujuan tertentu. Tujuan tersebut, selain untuk konsumsi, adalah untuk mencapai hasil atau produksi tanaman yang berkuantitas tinggi dan berkualitas baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi yang membudidayakan (Fika , dkk. 2007).
Hortikultura merupakan cabang dari agronomi. Berbeda dengan agronomi, hortikultura memfokuskan pada budidaya tanaman buah (pomologi/frutikultur), tanaman bunga (florikultura), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat-obatan (biofarmaka), dan taman (lansekap). Salah satu ciri khas produk hortikultura adalah perisabel atau mudah rusak karena segar(Zulkarnain 2010).
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk-pembahasannya (Fika , dkk. 2007).
penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah ko ntrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas (Hasmar, 2009).
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan Praktikum ini adalah :
1. Mendapatkan Dosis pupuk yang tepat pada metode pemberian pupuk secara konvensional.
2. Mengetahui metode pemberian pupuk yang lebih baik terhadap penggunaan Nitrogen
3. Mendapatkan Dosis pupuk Nitrogen yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Bawang merah (Allium Cepa L.)
1.3 Manfaat Penelitian
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
2.1.1 Bawang Merah
2.1.1 Jagung
Penelitian dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tanaman jagung Indonesia”. Hasil analisis regresi Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) termasuk famili graminae subfamili panicoidae dan termasuk tanaman monokotiledonus (Admaja, 2006). Berdasarkan tipe pembungaannya jagung manis termasuk tanaman monoecius yang memiliki bunga yang terpisah pada satu tanaman. Berdasarkan tipe penyerbukannya, jagung manis termasuk tanaman yang menyerbuk silang. Jagung manis sulit dibedakan dengan jagung biasa. Perbedaannya terletak pada warna bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan pada jagung manis berwarna putih sedangkan jagung biasa berwarna kuning kecoklatan. Rambut pada jagung manis berwarna putih sedang jagung biasa berwarna kemerahan (Admaja, 2006).
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Klasifikasi dan botani
2.2.1.1 Bawang Merah
Bawang merah merupakan tanaman berumbi lapis berwarna
keungu-unguan, yang memiliki nama latin Allium Cepa L. Bawang merah pada umumnya
memiliki bau yang khas yang tajam. Bawang merah (Allium Cepa L.) tergolong
Kerajaan Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Liliopdia, Ordo Aaparagales,
Secara morfologi, bagian tanaman bawang merah dibedakan atas akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Akar tanaman bawang merah terdiri atas akar pokok (primary root) yang berfungsi sebagai tempat tumbuh akar adventif (adventitious root) dan bulu akar yang berfungsi untuk menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan zat-zat hara dari dalam tanah. Akar dapat tumbuh hingga kedalaman 30 cm, berwarna putih, dan jika diremas berbau menyengat seperti bau bawang merah (Pitojo, 2003).
Batang tanaman bawang merah merupakan bagian kecil dari keseluruhan kuncup-kuncup. Bagian bawah cakram merupakan tempat tumbuh akar. Bagian atas batang sejati merupakan umbi semu, berupa umbi lapis (bulbus) yang berasal dari modifikasi pangkal daun bawang merah. Pangkal dan sebagian tangkai daun menebal, lunak dan berdaging, berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Apabila dalam pertumbuhan tanaman tumbuh tunas atau anakan, maka akan terbentuk beberapa umbi yang berhimpitan yang dikenal dengan istilah “siung”. Pertumbuhan siung biasanya terjadi pada perbanyakan bawang merah dari benih umbi dan kurang biasa terjadi pada perbanyakan bawang merah dan biji. Warna kulit umbi beragam, ada yang merah muda, merah tua, atau kekuningan, tergantung spesiesnya. Umbi bawang merah mengeluarkan bau yang menyengat (Wibowo, 2005).
seperti bau bawang merah. Setelah kering di penjemuran, daun tanaman bawang merah melekat relatif kuat dengan umbi, sehingga memudahkan dalam pengangkutan dan penyimpanan (Sunarjono, 2003).
Bunga bawang merah terdiri atas tangkai bunga dan tandan bunga. Tangkai bunga berbebentuk ramping, bulat, dan memiliki panjang lebih dari 50 cm. Pangkal tangkai bunga di bagian bawah agak menggelembung dan tangkai bagian atas berbentuk lebih kecil. Pada bagian ujung tangkai terdapat bagian yang berbentuk kepala dan berujung agak runcing, yaitu tandan bunga yang masih terbungkus seludang. (Sumadi, 2003).
Seludang tetap melekat erat pada pangkal tandan dan mengering seperti kertas, tidak luruh hingga bunga-bunga mekar. Jumlah bunga dapat lebih dari 100 kuntum. Kuncup bunga mekar secara tidak bersamaan. Dari mekar pertama kali hingga bunga dalam satu tandan mekar seluruhnya memerlukan waktu sekitar seminggu. Bunga yang telah mekar penuh berbentuk seperti payung (Pitojo, 2003).
Bunga bawang merah merupakan bunga sempurna, memiliki benangsari dan putik. Tiap kuntum bunga terdiri atas enam daun bunga yang berwarna putih, enam benang sari yang berwarna hijau kekuning-kuningan, dan sebuah putik, kadang-kadang di antara kuntum bunga bawang merah ditemukan bunga yang memiliki putik sangat kecil dan pendek atau rudimenter, yang diduga sebagai bunga steril. Meskipun jumlah kuntum bunga banyak, namun bunga yang berhasil mengadakan persarian relatif sedikit (Wibowo, 2005).
dan berukuran kecil. Pada waktu masih muda, biji berwarna putih bening dan setelah tua berwarna hitam (Pitojo, 2003).
2.2.1.2 Tanaman Jagung
Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays saccharata Sturt. Klasifikasi tanaman jagung manis adalah sebagai berikut Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Sub division:
Angiospermae ,Kelas:Monocotyledonae, Ordo: Poales, Famili : Poaceae, Genus :
Zea, Spesies: Zea mays saccharata Sturt.
jagung merupakan tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga tipe akar, yaitu akar lateral, akar adventif, dan akar udara. Akar lateral tumbuh dari radikula dan embrio. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini tumbuh dari buku paling bawah, yaitu sekitar 4 cm di bawah permukaan. Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah permukaan tanah. Perkembangan akar jagung tergantung dari varietas, kesuburan tanah, dan keadaan air tanah. Batang tanaman jagung tidak bercabang, berbentuk silinder. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi tanaman jagung tergantung varietas, umumnya berkisar 100 cm sampai 300 cm. Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8 helai sampai 48 helai tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut ligula, fungsi ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang (Purwono dan Hartono,2005).
bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Dua floret dibatasi oleh sepasang
glumae (gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol, yang tumbuh dari buku di antara batang dan pelepah daun. Umumnya satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina(Purwono dan Hartono,2005). Biji jagung terletak pada tongkol (janggel) yang tersusun memanjang. Pada tongkol tersimpan biji-biji jagung yang menempel erat, sedangkan pada buah jagung terdapat rambut-rambut yang memanjang hingga keluar dari pembungkus (kelobot). Setiap tanaman jagung terbentuk satu sampai dua tongkol. Biji jagung memiliki bermacam-macam bentuk dan bervariasi. Perkembangan biji dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain varietas tanaman, tersedianya makanan di dalam tanah dan faktor lingkungan seperti sinar matahari dan kelembaban udara. Biji jagung manis yang masih muda mempunyai ciri bercahaya dan berwarna jernih seperti kaca sedangkan biji yang telah masak dan kering akan menjadi keriput atau berkerut (Purwono dan Hartono,2005).
2.2.2 Syarat Tumbuh
2.2.2.1 Bawang Merah
kemarau atau di akhir musim penghujan. Dengan demikian, bawang merah selama hidupnya di musim kemarau akan lebih baik apabila pengairannya baik (Wibowo, 2005).
Daerah yang paling baik untuk budidaya bawang merah adalah daerah beriklim kering yang cerah dengan suhu udara panas. Tempatnya yang terbuka, tidak berkabut dan angin yang sepoi-sepoi. Daerah yang mendapat sinar matahari penuh juga sangat diutamakan, dan lebih baik jika lama penyinaran matahari lebih dari 12 jam. Perlu diingat, pada tempat-tempat yang terlindung dapat menyebabkan pembentukan umbinya kurang baik dan berukuran kecil (Wibowo, 2005).
Dataran rendah sesuai untuk membudidayakan tanaman bawang merah. Ketinggian tempat yang terbaik untuk tanaman bawang merah adalah kurang dari 800 m di atas permukaan laut (dpl). Namun sampai ketinggian 1.100 m dpl, tanaman bawang merah masih dapat tumbuh. Ketinggian tempat suatu daerah berkaitan erat dengan suhu udara, semakin tinggi letak suatu daerah dari permukaan laut, maka suhu semakin rendah (Pitojo, 2003). Tanaman bawang merah menghendaki temperatur udara antara 25 - 32 oC. Pada suhu tersebut udara agak terasa panas, sedangkan suhu rata-rata pertahun yang dikehendaki oleh tanaman bawang merah adalah sekitar 30 oC. Selain itu, iklim yang agak kering serta kondisi tempat yang terbuka sangat membantu proses pertumbuhan tanaman dan proses produksi. Pada suhu yang rendah, pembentukan umbi akan terganggu atau umbi terbentuk tidak sempurna (Sumadi, 2003).
Tanaman bawang merah lebih baik pertumbuhannya pada tanah yang gembur, subur, dan banyak mengandung bahan-bahan organik. Tanah yang sesuai bagi pertumbuhan bawang merah misalnya tanah lempung berdebu atau lempung berpasir, yang terpenting keadaan air tanahnya tidak menggenang. Pada lahan yang sering tergenang harus dibuat saluran pembuangan air (drainase) yang baik. Derajat kemasaman tanah (pH) antara 5,5 – 6,5 (Sartono, 2009).
2.2.2.2 Jagung
Tanaman jagung manis (Zea mays sachhrata Sturt) dan tanaman bawang merah (Allium cepa) dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi 1300 m di atas permukaan laut (dpl), kisaran suhu antara 13ºC sampai 38ºC dan mendapat sinar matahari penuh. Tanaman jagung dan bawang merah tumbuh dan berproduksi optimum di dataran rendah Indonesia sampai ketinggian 1800 m di atas permukaan laut (dpl), dan memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 mm per tahun sampai 200 mm per tahun selama masa pertumbuhan.
Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung dan bawang merah harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan hasil produksi yang optimum.
2.2.3 Pupuk dan Pemupukan
Untuk menghindari dampak negatif akibat penggunaan pupuk (terutama pupuk kimia) terhadap lingkungan hidup, khususnya terhadap tanah, penggunaan pupuk hendaknya diperhitungkan sesuai dengan kondisi lahan setempat. Pemberian pupuk yang berlebihan tanpa memperhatikan waktu dan dosis dapat mengakibatkan tanaman keracunan dan tanah menjadi pejal atau keras. Tanah yang pejal atau keras sukar diolah, jika musim penghujan tanah menjadi licin dan liat karena pori-pori tanah tertutup oleh sisa pupuk kimia yang tidak terserap oleh tanaman. Akibatnya, pertukaran udara dan air di dalam tanah tidak berjalan lancar, sehingga terjadi akumulasi residu pupuk yang akhirnya akan meracuni tanah, air, dan tanaman itu sendiri. Dampak negatifnya cukup luas, baik bagi kehidupan organisme tanah yang bermanfaat maupun terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, pemupukan hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati agar tidak menimbulkan pemborosan yang akan menambah biaya produksi. Sebaliknya, pemupukan yang dilakukan dengan baik dan benar dapat meningkatkan produksi dan pendapatan per satuan luas. Tanaman perlu diberi tambahan unsur hara terutama pupuk Nitrogen (N), Fosfor (F), dan Kalium (K) yang masing-masing terdapat dalam Urea, TSP dan KCl. Bawang merah memerlukan N 205 kg/ha, P 125 kg/ha, dan K 155 kg/ha (Sumadi, 2003).
cara ditugal pada tanah yang telah ditentukan batas- batasnya (Pitojo, 2003). b. Pembenaman Pupuk dibenamkan pada alur-alur di antara barisan tanaman. Alur-alur untuk menempatkan pupuk dibuat seperti parit yang berukuran kira-kira 2 cm dengan kedalaman 3 cm, dan jarak 3-5 cm. Pembuatan alur harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memutus atau merusak akar serabut yang menjalar ke samping (Pitojo, 2003).
Pemupukan melalui daun di lakukan dengan cara disemprotkan langsung pada tanaman, terutama bila pupuk yang digunakan dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro yang biasa digunakan terdapat pada pupuk pelengkap cair (PPC) dan pemupukan biasanya dilakukan bersamaan dengan penyemprotan pestisida. Agar pestisida dan pupuk lebih efektif kerjanya, maka ketika menyemprot dapat ditambah zat perekat, misalnya Agristik. Pupuk daun yang diberikan adalah Gandasil dan Vitabloom (Pitojo, 2003).
2.2.4 Pemeliharaan
(tanaman berumur 35-50 hari), diperlukan pengairan dengan interval 2-4 hari sekali. Pada akhir pemasakan umbi tanaman hanya memerlukan sedikit air karena air yang berlebih dapat menyebabkan umbi busuk (Rahayu, 2007).
Gulma merupakan pesaing utama bagi tanaman bawang merah, terutama dalam memperoleh sinar matahari dan unsur-unsur hara tanah. Lahan yang tidak disiangi menyebabkan tanaman tumbuh lambat karena gulma (rumput) tumbuh dan berkembang sangat cepat. Akibatnya, jarak tanaman menjadi lebih rapat dan lahan menjadi lembab. Hal ini mendorong timbulnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh cendawan, dan sebagai media yang sesuai untuk bertelur bagi ngengat kupu (Agrotis ipsilon Hufn). Oleh karena itu, penyiangan harus dilakukan terutama pada fase pembentukan anakan (tanaman berumur 10-21 hari), dan fase pembentukan umbi (tanaman berumur sekitar 30-35 hari), dan pada waktu berumur (50-55 hari) atau fase pemasakan umbi (Wibowo, 2005).
Selain penyiangan, tanah perlu juga digemburkan. Tanah yang gembur akan memberikan cukup ruang bagi umbi untuk berkembang dengan sempurna, sehingga ukuran tanaman menjadi besar-besar dan bentuknya pun baik (Sumadi, 2003).
Penyiangan, pandangiran, dan pembumbunan, akan berdampak baik terhadap pertumbuhan tanaman karena tidak terjadi persaingan dalam memperoleh makanan dan sinar matahari dengan gulma lainya. Pendangiran akan mengembalikan kondisi tanah yang memadat menjadi gembur, sehingga mempermudah pertumbuhan dan perkembangan akar serta umbinya. Selain itu, peredaran udara dalam tanah menjadi lebih lancar, sehingga kehidupan organisme dalam tanah yang bermanfaat bagi tanaman dapat dipertahankan keberadaannya (Sumadi, 2003).
Hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah antara lain adalah ulat grayak Spodoptera, Thrips, Bercak ungu Alternaria, busuk umbi Fusarium, busuk putih Sclerotum, busuk daun Stemphylium dan virus (Sartono, 2009). Pengendalian hama dan penyakit merupakan kegiatan rutin atau tindakan preventif yang dilakukan petani bawang merah. Umumnya kegiatan ini dilakukan pada minggu kedua setelah tanam dan terakhir pada minggu kedelapan dengan dengan interval 2-3 hari sekali (Rahayu, 2007).
Pengendalian hama dan penyakit yang tidak tepat (pencampuran 2-3 jenis pestisida, dosis yang tidak tepat, sprayer yang tidak standar) dapat menimbulkan masalah yang serius (kesehatan, pemborosan, resistensi hama dan penyakit, residu pestisida, dan pencemaran lingkungan). Salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi jumlah pemakaian pestisida adalah dengan tidak mencampurkan beberapa jenis pestisida, memakai konsentarasi pestisida yang dianjurkan, memakai sepuyer (nozzle) standar dengan tekanan pompa yang cukup (Rahayu, 2007).
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di lahan kompleks Fakultas Pertanian, tepatnya di depan Fakultas FAPETKAN Universitas Tadulako. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober sampai Desember 2017.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis menulis, mistar, meter, cangkul, kamera, jaring, kuas, glass aqua, Automatic Wasnner System (AWS), embro meter, evapotrans, parameter pide, teomograf, global radiasi, dan solar panel. Bahan yang di gunakan pada penelitian ini adalah bibit jagung manis, air, pupuk, detergen, alcohol, dan tali raffia.
3.3 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Pada tanaman jagung manis faktor pertama adalah jarak tanam (A) yang terdiri dari 4 level yaitu 80cm x 40cm (A1), 75cm x 40cm (A2), 75cm x 50cm (A3) dan
70cm x 50cm (A4). Faktor kedua adalah jenis pupuk (B) yang terdiri dari 2 level
yaitu NPK (15:15:15) 600 kg/ha (360 g/petak) (B1), dan Urea 300 kg/ha (180
g/petakan), sp-36 300 kg/ha (180 g/petakan), Kcl 200 kg/ha (120 g/petakan) (B2).
(B1), Urea 200 kg/ha (40 g/petakan),sp-36 140 kg/ha (28 g/petakan) (B2), Kcl 80
kg/ha (B3). Kombinasi perlakuan berbagai jenis pupuk dan jarak tanam
3.3.1 Persiapan Media Tanaman
Pengolahan lahan dengan menggemburkan tanah dalam petakan dan mencabut gulma didalam dan diluar sekitar petakan. Setelah itu lahan disiram hingga kapasitas lapang, hal ini dilakukan beberapa hari sebelum tanam.
3.3.2 Persemainan
Pada penelitian ini, tanaman jagung (Zea mays sachhrata Sturt) dan tanaman bawang merah (Allium cepa) tidak dilakukan persemaian, dimana penanaman di lakukan langsung di lahan petakan penelitan.
3.3.3 Penanaman
3.3.4 Pemupukan
Pemupukan dilakukan secara bersamaan antara tanaman jagung manis (Zea mays sachhrata Sturt) dan bawng merah (Allium cepa) sebanyak tiga kali, yaitu pemupukan dasar, dan pemupukan pada tanaman sebanyak dua kali. Pemupukan dasar dilakukan satu minggu sebelum penanaman dengan kapur Dolomit dengan tujuan untuk mengoptimalkan kembali pH tanah dan unsur hara tanah. Pemupukan pertama dilakukan pada tanaman pada umur 15 hst dan pemupukan kedua dilakukan 45 hst. Jenis pupuk yang digunakan pada tanaman Jagung berdasarkan kode plot B2 yaitu Urea 300 kg/ha (180 g/petakan), sp-36 300 kg/ha (180 g/petakan), Kcl 200 kg/ha (120 g/petakan) dan tanaman bawang merah (Allium cepa) dengan kode plot B1 yaitu Urea 300 kg/ha (60 g/petakan), sp-36 210kg/ha (42 g/petakan), dan Kcl 120 kg/ha (24 kg/petakan).
3.3.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan penyiangan. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari hinnga tanaman sudah mulai berbuah atau mendekati masa panen. Sedangkan penyiangan dilakukan sesuai kondisi tanah dan tanaman.
3.4 Variabel Pengamatan
3.4.1 Komponen Lokasi
3.4.2 Kondisi Tanah
Membersihkan lokasi terlebih dahulu dari rerumputan kemudian melakukan penggalian lubang menggunakan cangkul dan sekop dengan ukuran lubang 3 x 2 x 2 meter, setelah mencapai ukuran, mengambil sampel tanah menggunakan ring sampel sebagai tanah utuh, dan sebagai tanah tidak utuh kita simpan didalam plastik es dengan memberikan kode pada masing-masing sampel.
3.4.3 Kondisi Iklim
Pada praktikum ini langkah awal yaitu memasang atau menancapkan tiang ke dalam tanah, dengan masing-masing ketinggian yaitu ketinggian 2 meter, dan 80 cm dan 30 cm. Kemudian mengikat alat evaporasi (fice) berdasarkan dengan ketinggian, kemudian melakukan pengamatan pada setiap harinya pada pukul 12.00 dan 16. 00 WITA, mencatat hasil dari penguapan air oleh sinar matahari atau proses evaporasi.
3.4.4 Kondisi Siklus Ekologi
3.4.5 Jenis hama dan penyakit serta teknik pengendalian
Cara kerja dari praktikum ini adalah mengamati tanaman budidaya dari berbagai serangan hama, apa bila terdapat hama pada tanaman teknik pengendaliannya yaitu dengan cara mengambil serangga seperti belalang yang hinggap pada tanaman lalu membuangnya sejauh mungkin, begitu pun dengan penyakit pada tanaman apabila terdapat penyakit maka yang harus kita lakukanyaitu mencabut tanman tersebut dari tempat budidaya agar tanaman budidaya yang berada disekitarnya tidak terkena/ terkontaminasi oleh penyakit pada tanaman tersebut.
3.4.6 Komponen Tumbuh Tanaman
3.4.6.1 Tinggi Tanaman
Mengetahui tinggi dari sutau tanaman yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap tanaman, pengukuran tanaman dilakukan dengan cara menyiapkan meteran mengukur tanaman dari batas pangkal batang ke ujung daun tanaman, kemudian mencatat hasil pengukuran.
3.4.6.2 Jumlah Anakan
3.4.6.3 Diameter Tanaman
Langkah awal yaitu melakukan pengukuran dengan cara melilitkan tali pada batang tanaman jagung setelah itu mengukur tali yang telah dililitkan di batang jagung tanaman berapa cm pada panjang lingkaran batang tanaman setelah memasukkan jumlah lingkaran kedalam rumus 2 π r2atau 3,14 kemudian
mencatat hasil dari hasil perhitungan tersebut itulah yang menjadi ukuran diameter pada tanaman jagung.
3.4.6.4 Jumlah Daun Tanaman
Mengukur jumlah daun tanaman yaitu dengan cara menghitung jumlah helaian daun dari masing-masing tanaman. Semakin tinggi atau semakin subur suatu tanaman maka jumlah daun akan semakin banyak.
3.5 Analisis Data
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Komponen Tumbuh
4.1.1 Kondisi Tanah
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
25
Gambar 1. Grafik Pengamatan Suhu Tanah Minggu Pertama
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
Kondisi tanah yang ada pada bedeng pengamatan diukur dari suhu bawah tanah, dimana dilakukan 2 kali pengamatan dalam dua minggu yakni pada minggu pertama dan minggu kedua.
Kondisi tanah yang diukur melalui suhu bawah tanah pada minggu pertama suhu bawah tanah tertinggi diangka 31oC terjadi pada hari senin dan
selasa lalu suhu tanah terendah diangka 27oC pada hari sabtu. Sedangkan kondisi
suhu bawah tanah pada minggu kedua tertinggi diangka 30oC pada hari kamis dan
suhu tanah terendah diangka 26 oC pada hari rabu.
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah.Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat celcius, derajat farenheit, derajat Kelvin dan lain-lain (Kemala Sari Lubis, 2007).
4.2 Kondisi Iklim
Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
0 1 2 3 4 5 6 7
Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
Gambar 4. Grafik 4 Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama Tinggi Tiang 100 cm
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat 0
2 4 6 8 10 12
Gambar 6. Grafik 6 Pengamatan Evaporasi Minggu Pertama Kedua Tiang 100 cm
Kondisi iklim dapat diamati melalui pengamatan evaporasi melalui alat ukur fice yang digantungkan dengan ketinggian tiang 30 cm dan 100 cm di kebun akademik agar diketahui tinggi evaporasi pada tanaman.
Dari data grafik yang diperoleh diketahui eveporasi tertinggi pada minggu pertama terjadi pada hari rabu yakni 9,4 ml (Tiang 100 cm) dan 5,9 ml (Tiang 30 cm) dan evaporasi terendah terjadi pada hari senin pada tiang 30 cm yakni 3 ml dan pada hari kamis pada tiang 100 cm yakni 4 ml.
Dari data grafik yang diperoleh diketahui eveporasi tertinggi pada minggu kedua terjadi pada hari kamis yakni 10,2 ml (Tiang 100 cm) dan 7,1 ml (Tiang 30 cm) dan evaporasi terendah terjadi pada hari rabu pada tiang 30 cm yakni 3,8 ml dan pada tiang 100 cm yakni 3,8 ml.
dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi. Jika uap air menguap ke atmosfer maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti,agar proses tersebut berjalan terus,lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering, pergantian itu hanya mungkin jika ada angina,yang akan menggeser komponen uap air,kecepatan angina memegang peranan penting dalam proses evaporasi, (Wahyuningsih, 2004).
Faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi, antara lain perbedaan tekanan uap, laju molekul air meningglakan permukaan air tergantung pada tekanan uap dari zat cair suhu udara, angina, tekanan atmosfer, kualitas air. Dan permukaan bidang evaporasi, ( Suyono ,2004).
4.1.3 Kondisi Siklus Ekologi
Pada praktikum lapang ini siklus ekologi ditinjau dua aspek yakni siklus biogeokimia dan agroekosistem yang ada di kebun akademik.Pengamatan silklus biogeokimia yang dilakukan yakni pengamatan siklus hidrologi melalui evaporasi.Pengamatan agroekosistem yang dilakukan pengamatan kelimpahan arthropoda.
salah satu unsur iklim dimana terjadi penguapan dan uap air mempercepat proses kondensasi.
Siklus hidrologi merupakan proses pengeluaran air dan perubahannya menjadi uap air yang mengembun kembali menjadi air yang berlangsung terus-menerus tiada henti-hentinya. Sebagai akibat terjadinya sinar matahari maka timbul panas. Dengan adanya panas ini maka air akan menguap menjadi uap air dari semua tanah, sungai, danau, telaga, waduk, laut, kolam, sawah dan lain-lain dan prosesnya
disebut penguapan (evaporation) . Penguapan juga terjadi pada semua tanaman yang disebut transpirasi (transpiration), (Soedibyo, 2003).
Pengamatan agroekosistem yakni dilakukan pengamatan kelimpahan arthropoda yang ada di kebun akademik.Pengamatan telah dilakukan 2 kali melalui pemasangan perangkap pada bedengan budidaya.
Berdasarkan pengamatan dan identifikasi, secara kumulatif pada lahan akademik terdiri dari 2 ordo yaitu orthoptera dan hymenoptera dan 3 famili dari filum Arthropoda yakni Acridoidea, Gryllidae dan Formicidae.
Berdasarkan familinya Arthropoda yang dijumpai dari Formicidae yakni semut hitam (Dolichoderus thoracicus Smith) dan Acridoidea yakni belalang kayu (Valanga nigricornis) dan Gryllidaeyakni jangkrik celiring (Gryllus mitratus).
Keberadaan semut sangat terkait dengan kondisi habitat dan beberapa faktor pembatas utama yang mempengaruhi keberadaan semut yaitu suhu rendah, habitat yang tidak mendukung untuk pembuatan sarang, sumber makanan yang terbatas serta daerah jelajah yang kurang mendukung. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka diambil pengamatan terhadap strata vegetasi, spesies pohon, ketebalan serasah, suhu tanah, kerapatan tajuk, pH tanah, kelembaban udara. Strata vegatasi meliputi komposisi penyusun suatu ekosistem misalnya pohon, perdu dan semak, serta tumbuhan bawah.Spesies pohon yaitu jenis pohon yang terdapat di setiap ekosistem, apakah hanya tersusun dari satu jenis pohon atau lebih. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap ketersediaan makanan bagi semut (Andersen, 2000).
Ekosistem yang alami memiliki keanekaragaman yang tinggi dibandingkan ekosistem pertanian.Indeks keanekaragaman cenderung tinggi pada komunitas yang lebih lama dan cenderung rendah pada komunitas yang baru dibentuk (Kedawung dkk, 2013).
V. nigricornis disebut juga belalang kayu, yang mempunyai ciri-ciri antena pendek, sayap depan lurus dan agak keras, sayap belakang berbentuk seperti selaput, memiliki panjang tubuh 6,2 cm. serta mempunyai kaki belakang yang lebih panjang dari kaki depan (Sofyan, 2010).
4.1.4 Jenis Hama dan Penyakit Serta Teknik Pengendalian
OPT yang menyerang tanaman jagung manis (Zea mays L) yakni belalang kayu (V. nigricornis) dan Cendawan Exserohilumturcicum. Dimana V. nigricornis
menyerang tanaman pada umur 7 HST sampai dengan 49 HST dengan gejala serangan adanya lubang-lubangpada daun tanaman jagung manis (Zea mays L.). Cendawan Exserohilum turcicummenyerang tanaman jagung manis pada umur 35 HST dengan gejala serangannya yang telah diamati adanya bercak coklat panjang tubuhnya dari kepala sampai abdomen lebih kurang 28 mm. Antena lebih pendek dari pada tubuh, pronotum tidak memanjang ke belakang.Femur tungkai belakang membesar dan terdapat bercak-bercak berwarna merah.Pada abdomen terdapat tympanum (Terry & Taufik, 2008).
yang beredar di pasaran sehingga petani mempunyai banyak pilihan dan kemudahan untuk memperoleh pestisida dan tidak tertarik pada pestisida nabati; (3) sulitnya memperoleh bahan baku dalam jumlah banyak karena masyarakat enggan mengembangkannya dan hanya mengandalkan pada alam; dan (4) sulitnya proses pendaftaran dan perizinan karena umumnya pestisida nabati dikembangkan oleh pengusaha kecil (Kardinan, 2011).
Salah satu penyakit utamayang dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga 70% yaitu hawar daun yang disebabkan oleh jamur Exserohilumturcicum
(Pass.) Leonard et Sugss (Ogliari et al., 2005).
Cara pengendalian hawar daun bakteri yaitu menanam varietas tahan
Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5, melakukan radikasi tanaman yang
terinfeksi bercak daun dan penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb
dan dithiocarbamate (Surtkanti, 2011).
Menurut Moekasan et al. (2012), ulat bawang (S. exigua) merupakan salah
satu hama pada tanaman bawang merah yang menyerang sepanjang tahun, baik
padamusim kemarau maupun pada musim hujan. Menurut Nurjanani dan Ramlan
(2008), kehilangan hasil akibat serangan S. exigua bervariasi dari 3,80% sampai
100% tergantung pengelolaan budidaya bawang merah.
Pada umumnya petani bawang merah mengandalkan penyemprotan
pestisida sintetik untuk mengatasi serangan ulat S. exigua dengan menggunakan
dosis yang tinggi, tanpa memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan seperti
hama menjadi resisten, masalah residu dan terbunuhnya musuh alami (Moekasan
Kadang-kadang pada larva yang terinfeksi, miselia B. bassiana hanya
ditemukan pada ujung tubuh dan tidak terlihat jelas.Hal ini dapat terjadi akibat
kondisi suhu dan kelembaban ruangan kurang yang sesuai sehingga B. bassiana
tidak dapat tumbuh dengan baik pada permukaan tubuh serangga (Herlinda, dkk,
2005).
4.2 Komponen Tumbuh
4.2.1 Tinggi Tanaman
Hasil pengamatan rata-rata tinggi tanaman bawang (Allium ascalonicum
L) disajikan pada table 2 menunjukkan bahwa setiap minggunya tinggi tanaman
bertambah namun ada kode tanaman yang berkurang tinggi tanamannya akibat
dari daun bawang segar yang sebelumnya dijadikan patokan untuk menghitung
tinggi terserang oleh ulat Spodoptera exigua sehingga pengukuran tinggi
berpindah pada daun bawang yang lainnya, sehingga tinggi terlihat berkurang.
Namun tinggi tanaman yang tertinggi pada umur 7 minggu atau 49 HST yakni
pada tanaman 3 dengan tinggi 38 cm dan tinggi tanaman terpendek pada tanaman
2 yakni 28 cm.
Hasil pengamatan rata-rata tinggi tanaman jagung manis (Zea mays L.)
disajikan pada table 3 menunjukkan bahwa setiap minggunya tanaman mengalami
pertambahan tinggi.Perbandingan tinggi diambil dari data 7 minggu setelah tanam
atau 49 HST. Dimana tanaman yang memiliki pertumbuhan paling cepat dengan
tinggi 159 cm ialah pada tanaman 4 dan terlambat dengan ukuran tinggi batang
Pertumbuhan, produksi dan mutu hasil jagung manis dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan seperti kesuburan tanah. Upaya
yang dapat dilakukan unuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan
pemberian pupuk baik pupuk organik maupun pupuk anorganik, (Setiawan, 1993).
Pemupukan nitrogen dapat meningkatkan aktifitas akar sehingga
merangsang pembelahan sel-sel meristematik dan memacu pertumbuhan tanaman.
Dengan mengaplikasikan pupuk yang mengandung nitrogen maka akan
memercepat pertambahan tinggi tanaman (Adrianton dan Wahyudi, 2005).
Rendahnyanilai pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada perlakuan pemotongan umbi bibit diduga diakibatkan oleh rusaknya mata tunas, sehingga pertumbuhan tunas danpembentukan anakan terhambat dan mengakibatkan tanaman tumbuh tidak maksimal (Samadi dan Cahyono, 2005).
4.2.2 Jumlah daun
Hasil pengamatan jumlah daun tanaman bawang (Allium ascalonicum L)
disajikan pada table 2 menunjukkan bahwa setiap minggunya jumlah daun
tanaman bawang semakin bertambah dimana pada pengamatann 49 HST. Jumlah
daun terbanyak pada tanaman 3 dengan jumlah daun sebanyak 28 helai daun dan
jumlah daun yang paling sedikit pada tanaman 12 dengan jumlah daun sebanyak
11 daun.
Hasil pengamatan jumlah daun tanaman jagung manis (Zea mays L.)
disajikan pada table 3 menunjukkan bahwa setiap minggunya tanaman mengalami
setelah tanam atau 49 HST.Dimana jumlah daun terbanyak pada tanaman 3 yakni
sebanyak 13 helai daun dan yang paling sedikit pada tanaman 1 yakni sebanyak
10 daun.
Jumlah daun tanaman merupakan komponen yang dapat menunjukkan pertumbuhan tanaman. Pembentukan daun sendiri sebetulnya dipengaruhi oleh sifat genetik tanaman, namun lingkungan yangbaik dapat mempercepat pembentukkan
tersebut. Jumlah daun tidak dipengaruhi oleh lingkungan tetapi jumlah daun dipengaruhi oleh sifat genetis tanaman hingga fase berbunga (Putra et. al., 2012).
4.2.3 Diameter Batang
Hasil pengamatan jumlah batang tanaman jagung manis (Zea mays L.) disajikan pada tabel 3 menunjukkan bahwa setiap minggunya tanaman mengalami penambahan diameter batang. .Perbandingan diameter batangdiambil dari data 7 minggu setelah tanam atau 49 HST. Dimana diameter batang terluas ialah tanaman 2,3 dan dengan luas 9 cm3. Pertambahan diameter batang ini diakibatkan
oleh rangsangan unsur N, P dan K dari pengaplikasian pupuk yang diberikan yakni pupuk urea, Sp36 dan KCl.
4.2.4 Jumlah Umbi dan Anakan
Hasil pengamatan jumlah umbi dan anakan tanaman bawang (Allium ascalonicum L) disajikan pada tabel 2 menunjukkan bahwa setiap minggunya jumlah umbi dan anakan tanaman bawang semakin bertambah dimana perbandingan dilakukan pada pengamatann 49 HST. Dimana jumlah anakan terbanyak pada tanaman 2 yaitu 7 anakan dan yang sedikit pada tanaman 10 dan 12 yaitu 2 anakan.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum lapang yang telah dilakukan maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Suhu bawah tanah tertinggi pada minggu pertama terjadi di hari senin dan selasa sedangkan pada minggu kedua terjadi di hari kamis. Suhu bawah tanah sendiri mempengaruhi penyerapan air oleh akar.
2. Eveporasi tertinggi pada minggu pertama terjadi pada hari rabu yakni 9,4 ml (Tiang 100 cm) dan 5,9 ml (Tiang 30 cm) dan eveporasi tertinggi pada minggu kedua terjadi pada hari kamis yakni 10,2 ml (Tiang 100 cm) dan 7,1 ml (Tiang 30 cm). Kecepatan evaporasi sendiri dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu tekanan uap, laju molekul air meningglakan permukaan air tergantung pada tekanan uap dari zat cair suhu udara, angina, tekanan atmosfer, kualitas air.
3. Siklus ekologi ditinjau dari dua aspek yakni siklus biogeokimia dan agroekosistem. Siklus ekologi ditinjau melalu siklus hidrologi yakni melalui proses evaporasi. Untuk agroekosistem yang ada di kebun akademik banyak dijumpai Arthropoda dari 2 ordo yaitu orthoptera dan
4. OPT yang menyerang tanaman jagung manis (Zea mays L) yakni belalang kayu (Valanga nigricornis) dimana telah menyerang pada umur jagung 7 HST dengan gejala daun berlubang akibat bekas gigitannya dan Cendawan Exserohilum turcicum dimana gejala serangannya dinamakan penyakit hawar daun yakni coklat kekuningan.
OPT yang menyerang bawang merah (Allium ascalonicum L) yakni ulat
Spodoptera litura dimana menyerang pada umur 38 HST dengan menunjukkan gejala adanya warna putih transparan pada daun.
5. Tinggi tanaman dipengaruhi oleh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan seperti kesuburan tanah. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan mengaplikasikan pupuk yang mengandung unsur N. Pemupukan nitrogen dapat meningkatkan aktifitas akar sehingga merangsang pembelahan sel-sel meristematik dan memacu pertumbuhan tanaman.
6. Jumlah daun tanaman merupakan komponen yang dapat menunjukkan pertumbuhan tanaman. Pembentukan daun sendiri sebetulnya dipengaruhi oleh sifat genetik tanaman, namun lingkungan yang baik dapat mempercepat pembentukkan tersebut.
8. Unsur K memiliki fungsi untuk merangsang pertumbuhan umbi dan anakan sehingga pertumbuhan umbi dan anakan akan semakin optimal apabila ditambahkan pupuk dengan kandung K tinggi.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Adriantondan I. Wahyudi (2005).Respons tanaman jagung manis (Zea mays saccharata) terhadap pemberian bokashi kulit buah kakao dan pupuk N,P,K. Jurnal Agrisains Vol. 6 No. 1.
Atmadja,djaja surya.2006. Bawang merah untuk kesehatan.Jakarta:Bumi Aksara Andersen AN. 2000. Global ecology of rainforest ants: functional groupsin
relation to environmental stress and disturbance. In: Agosti D,Majer JD, Alonso LE, Schultz TR (eds). Ants: Standard Methods for
Ashari, S. 2007. Agronomi. Aspek Budidaya. UI-Press. 485 hal.
Bambang P..2012. Penuntun Praktikum Dasar –Dasar Perlindungan Tanaman. Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman. Bengkulu
Fika , dkk. 2007. Biologi 3 SMA dan MA Untuk Kelas XII . Jakarta: esis
Herlindal S, SarilEm, Pujiastutil Y, Suwandil, Nurnawati E danRiyanti A. 2005.
VariasiVirulensi Strain-strain Beauveriabassiana(Bals.) Vuill.terhadap Larva Plutellaxylostella(L.) (Lepidoptera: Plutellidae). J. Agritrop.
24(2)52-57.
Kamala sari lubis.2007.Aplikasi SuhudanAliran PanasTtanah.USU.Medan
Kardinan,A.(2011).Penggunaan dari Pestisida Nabati Sebagai Salah Satu Kearifan Lokal dalamTujuan Pengendalian dari Hama Tanaman Menuju Sistem Pert anian Organik.Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian. 4(4): 262-278. Kedawung, Wachju, Jekti. 2013. KeanekaragamanSeranggaTanamanTomat, J.
Philpott, S. M., and I. Armbrecht. 2006. Biodiversity in tropical agroforests and the ecological role of ants and ant diversity in predatory function. Ecological Entomology. 31: 369-377.
Lugito.2012.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Universitas Lampung.Bandar lampung Moekasan, T.K., Basuki, RS.,& L. Prabinigrum. 2012.Penerapan Ambang Penge
ndalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Bawang Mera h dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Pestisida. J. Hort. 22 (1) : 47-56.
Purwono, M. S. dan Hartono, R. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Bogor
Putra, R.Y., Haryati, H. Dan L.Mawarni. 2012. Respon Pertumbuhan dan Hasil Bawang Sabrang (Eleutherineamericana Merr.) pada Bebrapa Jarak Tanam dan Berbagai Tingkat Pemotongan Umbi Bibit. Jurnal online Agroekoteknologi Vol.1.No.1, Desember 2012.
Pitojo,setijo.2003.Bawang Merah. Kansius.Yogyakarta
Rahayu,E Dan B.V.A.2007.Bawang Merah.Penebar swadaya.Jakarta. 19 Hal. Rukmana,R.2000. Bawang merah budidaya dan pengolahan pasca Siwi, S., 2005, KunciDeterminasiSerangga, Kanisisus, Yogyakarta.
Sumarjono.2003. Bertanam 30 jenis sayur. Penebar swadaya.Jakarta.132 Hal Sumadi.2003.Intensifikasi Budidaya bawang merah. Kanisius.Yogyakarta.80 Hal Suriani,N. 2011. Pengaruh kerapatan Tanman dan zat pengatur Tumbuh terhadap
produksi umbi Bawang merah asal Biji kultifarbima. Jurnal hortikulturas,15(3):208-214
Suyono. 2004. Presipitasi, Evaporasidan Hidrologi Dasar. Universitas Gadjah Mada dengan Yayasan Pendidikan Cendana. Yogyakarta.
Terry, P. & M. Taufik. 2008. Inventarisasi Serangga Pemakan Gulma dan Populasi nyapada Tanaman Kacang Panjang (VignasinensisL.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 November 2008.Hal.94–102.
Winarto, L dan D. Napitupulu. 2010. Pengaruh Pemberian Pupuk N dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah. Jurnal Hortikultura 20 (1): 27-3.
Tabel 2. Tanaman bawang merah dari 7 HST – 49 HST
Minggu Tanaman
Parameter Pengamatan Tanaman Bawang Merah Tinggi
Tanaman JumlahDaun AnakanJumlah JumlahUmbi
8 32 cm 17 4 4
9 34 cm 26 6 5
10 34 cm 16 2 3
11 30 cm 24 4 4
BIODATA PENULIS
Penulis bernama lengkap Babul Rahman, lahir di Desa salumbia pada tanggal 16 mei 1998. Penulis merupakan anak dari pasangan suami-istri bernama Djamri Samad dan Nuriah. Dan anak kedua dari dua bersaudara. Penulis pertama kali masuk sekolah ditaman kanak-kanak Asmahul Husna, desa Salumbia, kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.