• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARTAI POLITIK ANTARA PILAR DEMOKRASI DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PARTAI POLITIK ANTARA PILAR DEMOKRASI DA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PARTAI POLITIK : ANTARA PILAR DEMOKRASI DAN BENALU DALAM SISTEM DEMOKRASI INDONESIA

Oleh ; Agung Mazkuriy

PROLOG

Dalam negara demokrasi, kebebasan berekspresi dan berkumpul dijamin oleh

konstitusi, hal tersebut sebagaimana diamanatkan UUD 45. Konsepsi demokrasi memberikan

landasan dan mekanisme kekuasaan berdasarkan prinsip persamaan dan kesederajatan

manusia dalam kontrak sosial. Demokrasi menempatkan manusia sebagai pemilik kedaulatan

yang kemudian dikenal dengan prinsip kedaulatan rakyat1.

Menurut Robert Dahl, ada delapan syarat jaminan bersifat konstitusional dalam

tegaknya demokrasi; pertama,adanya kebebasan untuk membentuk dan mengikuti organisasi;

kedua, adanya kebebasan berekspresi; ketiga, adanya hak memberikan suara; keempat,

adanya eligibilitas untuk menduduki jabatan publik; kelima, adanya hak para pemimpin

politik untuk berkompetisi secara sehat untuk merebut dukungan dan suara; keenam, adanya

tersedianya sumber-sumber informasi alternatif ; ketujuh, adanya pemilu yang bebas dan adil;

dan kedelapan, adanya institusi-institusi untuk menjadikan kebijakan pemerintah tergantung

pada suara-suara (pemilih rakyat) dan ekspresi pilihan (politik) lainnya2.

Partai politik mempunyai posisi (status) dan peranan (role) yang sangat penting dalam

setiap sistem demokrasi. Partai memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara

proses-proses pemerintahan dengan warga negara. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa

partai politiklah yang sebetulnya menentukan demokrasi, Sebagaimana dikatakan

Schattscheider (1942), “Political parties created democracy”. Maka, partai politik idealnya

merupakan salah satu pilar penting untuk diperkuat derajat pelembagaannya (the degree of

institutionalization) dalam setiap sistem politik yang demokratis. Bahkan, oleh Schattscheider

dikatakan pula, “Modern democracy is unthinkable save in terms of the parties”3.

Namun demikian, banyak juga pandangan kritis dan bahkan skeptis terhadap partai

politik dengan menganggap bahwa partai politik itu tidak lebih daripada kendaraan politik

bagi sekelompok kecil elite yang memiliki akses ke kekuasaan atau berniat memuaskan

‘nafsu birahi’ kekuasaannya sendiri. Partai politik hanya berfungsi sebagai alat bagi segelintir

orang yang kebetulan beruntung dan berhasil memenangkan suara rakyat yang mudah

1 Jimly Assidique,

Demokrasi Dan Hak Asasi Manusia, e-paper, diakses tanggal 27 April 2015. 2 Jimly Assidique,

Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi; Serpihan Pemikiran Hukum, Media dan HAM, Konstitusi Pers, Jakarta, 2005, hlm. xiii.

3

(2)

dikelabui, untuk memaksakan berlakunya kebijakan-kebijakan publik tertentu ‘at the expense

of the general will’ (Rousseau, 1762)4.

Apalagi melihat fungsi partai politik dalam kontek ke-Indonesia-an yang bisa dibilang

jauh dari panggang dalam fungsinya sebagai bagian penting pilar demokrasi. Hal ini terlihat

jelas dengan data yang dirilis Kemendagri pada September 2014 bahwa dalam rentang

2005-2014, setidaknya ada 3.169 anggota DPRD yang tersangkut korupsi, 318 diantaranya Kepala

Daerah. Lantas, sudah benarkah wacana tentang dana satu triliyun untuk Parpol yang

digulirkan pertama kali oleh Mendagri Tjahjo Kumolo dibawah rezim Presiden Jokowi ?

Partai Politik

Menurut UU No.2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang diperbaharui dengan dengan

UU No. 2 Tahun 2011, Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk

oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan

cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat,

bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan parpol adalah untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan guna

melaksanakan /mewujudkan program-program yang telah mereka susun sesuai dengan

ideologi tertentu. Parpol sendiri juga mempunyai fungsi, antara lain; 1) Parpol sebagai saran

komunikasi politik, 2) Parpol sebagai sarana sosialisasi politik, 3) Parpol sebagai sarana

rekrutmen politik, dan 4) Parpol sebagai sarana pengatur konflik5.

Sedangkan sumber keuangan partai politik itu sendiri sebagaimana diatur UU No.2 Tahun

2011 tentang perubahan atas UU No.2 tentang Partai Politik berasal dari; 1) iuran anggota, 2)

sumbangan yang sah menurut hokum, 3) bantuan keuangan dari Anggaran pendapatan dan

Belanja Negara/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Partai Politik Sebagai Penggerak Demokrasi

Munculnya partai-partai dengan berbagai ideologi yang melatarbelakangi tak lepas dari

karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk. Sebagaimana dikatakan oleh John

Furneral (1942: 446), masyarakat Indonesia atau Hindia-Belanda ketika itu merupakan

4

Ibid,.

(3)

masyarakat plural (plural society)6 yang banyak memberi kontribusi tidak kecil bagi lahirnya

partai-partai politik dalam sistem multi partai.

Penjelasan tentang lahirnya partai-partai baru pernah dikemukakan oleh Gary W. Cox

tentang strategic entry. Dikatakan menurut Cox, pada dasarnya, munculnya partai-partai baru

merupakan keputusan elite politik untuk memasuki arena pemilihan umum sebagai kontestan

baru7. Keputusan demikian didasarkan pada tiga pertimbangan penting, yaitu biaya untuk

memasuki arena (cost of entry), keuntungan-keuntungan yang didapat manakala duduk

dikekuasaan (benefits of office), dan danya kemungkinan untuk memperoleh dukungan dari

para pemiih (probably of receiving electoral support)8. Maka, semakin kecil biaya yang

timbul dari pembiayaan pendirian partai baru, ditambah adanya keuntungan yang cukup besar

didalam kekuasaan, serta masih terbukanya kemungkinan memperoleh dukungan dari

pemilih, maka akan semakin besar kemungkinan munculnya partai-partai baru.

Oleh karena itu, sistem kepartaian yang baik sangat menentukan bekerjanya sistem

ketatanegaraan berdasarkan prinsip “checks and balances” dalam arti yang luas. Sebaliknya,

efektif bekerjanya fungsi-fungsi kelembagaan negara itu sesuai prinsip “checks and

balances” berdasarkan konstitusi juga sangat menentukan kualitas sistem kepartaian dan

mekanisme demokrasi yang dikembangkan di suatu negara.

Secara umum, para akademisi bidang ilmu politik menjelaskan adanya 4 (empat)

fungsi partai politik. Keempat fungsi partai politik itu menurut Miriam Budiardjo, meliputi

sarana9: (i) sarana komunikasi politik, (ii) sosialisasi politik (political socialization), (iii)

sarana rekruitmen politik (political recruitment), dan (iv) pengatur konflik (conflict

management). Dalam istilah Yves Meny dan Andrew Knapp10 , fungsi partai politik itu

mencakup fungsi (i) mobilisasi dan integrasi, (ii) sarana pembentukan pengaruh terhadap

perilaku memilih (voting patterns); (iii) sarana rekruitmen politik; dan (iv) sarana elaborasi

pilihan-pilihan kebijakan.

Partai politik sebagai pilar demokrasi perlu ditata dan disempurnakan untuk

mewujudkan sistem politik yang demokratis guna mendukung sitem presindentil yang efektif.

Penataan dan penyempurnaan partai politik diarahkan pada dua hal utama, yaitu, pertama,

membentuk sikap dan perilaku partai politik yang terpola atau sistematis sehingga terbentuk

6 Prof. Dr. Kacung Marijan,

Sistem Politik di Indonesia, Kencana Prenada Media, Jakarta, cetakan ke-2, 2011, hlm. 61.

7

Ibid.hlm. 63. 8

Ibid.

9

Miriam Budiardjo, Pengantar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 2000, hlm. 163-164. 1010

(4)

budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip dasar sistem demokrasi demi terciptanya

pemerintahan yang check and balance. Hal ini ditunjukkan dengan sikap dan perilaku partai

politik yang memiliki sistem seleksi dan rekrutmen keangotaan yang memadai serta

mengembangkan sistem pengkaderan dan kepemimpinan politik yang kuat. Kedua,

memaksimalkan fungsi partai politik terhadap rakyat melalui pendidikan politik dan

pengkaderan serta rekrutmen politik yang efektif untuk menghasilkan kader-kader calon

pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang politik.11

Untuk mewujudkan dan mendukung hal tersebut, maka partai politik membutuhkan

pendanaan yang cukup. Dengan adanya pendanaan yang diberikan oleh pemerintah atau

Negara kepada partai politik diharapkan partai politik mampu menjalankan tujuan dari partai

politik sebagai pilar demokrasi. Karena selama ini partai politik memerlukan anggaran yang

sangat besar untuk menjalankan kegiatannya.

Selain itu dengan adanya pemberian dana kepada partai politik dari pemerintah akan

membantu menekan sektor swasta yang masuk ke dalam partai poltik dan mengurangi

kendalinya atas parpol. Hal tersebut bisa menjadikan partai politik menjadi lebih mandiri.

Karena jika mengandalkan dari saku penyumbang atau pihak swasta , maka posisi dan fungsi

partai politik sebagai wahana pemerjuangan kepentingan rakyat menjadi tidak nyata.

Skeptis Masyarakat Kepada Partai Politik

Wacana yang bergulir saat ini adalah, partai politik mendapatkan kucuran dana dari

pemerintah sebanyak 1 trilliun dari APBN. APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan

negara ditetapkan setiap tahun dengan UU dan dilaksanakan secara terbuka dan

bertanggungjawab sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bila dikaji dari sisi normatifnya

pemberian bantuan pemerintah kepada Partai Politik itu telah menyimpang dari hakikat

parpol itu sendiri. Pemberian dana tersebut akan meruntuhkan esensi kehadiran parpol dalam

kehidupan berdemokrasi kita. Sebab menurut Prof.Miriam Budiarjo, parpol merupakan suatu

kelompok yang terorganisasikan dimana para anggotanya memunyai orientasi, cita-cita, dan

11

(5)

nilai-nilai yang sama. Tujuan kelompok ini adalah meperoleh kekuasaan politik dengan cara

kostitusional untuk melaksanakan kegiatannya.12

Pada dasarnya, Menteri Dalam Negeri tidak perlu mewacanakan adanya dana subsidi

parpol dari pemerintah, karena setiap orang yang akan mendirikan parpol tentu telah

memperhitungkan dana yang akan digunakan untuk biaya operasional parpol yang

dibentuknya. Artinya, setiap orang yang akan mendirikan parpol tentu sudah siap untuk

menanggung biaya operasional parpol itu. Konsekuensinya, parpol tidak perlu disubsidi oleh

pemerintah untuk biaya operasionalnya, karena para anggota parpol pun sudah banyak yang

kaya dan mapan dalam hidupnya. Hal ini tercermin dari iklan-iklan parpol yang tayang di TV

swasta.

Beberapa temuan dan kesimpulan dari hasil survei yang dilakukan oleh LSI saat ini,

fungsi partai sebagai saluran aspirasi publik dinilai negatif. Partai politik dinilai lebih banyak

memperjuangkan kepentingan golongan untuk mendapat jabatan atau kek uasaan ketimbang

memperjuangkan kepentingan rakyat.13

Bahkan di dalam UU Partai Politik dan Pemilu dilarang keras adanya bantuan/subsidi

dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk anggota parpol dalam bentuk

dana subsidi parpol. UU hanya membolehkan adanya bantuan/subsidi APBN untuk

melaksanakan pendidikan politik bagi anggota parpol dan masyarakat sebagaimana diatur

pada pasal 34 UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik dan itu pun diberikan ketika

parpol yang dinyatakan berhak memiliki kursi di DPR/DPRD dihitung berdasarkan jumlah

perolehan suara dimana setiap anggota parpol yang mendapat kursi di dewan dihargai Rp 108

juta, anggaran yang dikeluarkan Pemerintah mencapai Rp 13,1 milyar14.

Logikanya pemberian bantuan/subsidi yang diberikan kepada parpol bukan untuk biaya

operasional parpol secara keseluruhan. Pendidikan politik yang dimaksud disini berkaitan

dengan kegiatan :

a. Pendalaman mengenai empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu pancasila,

UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

12

http:berkas.dpr.go.idpengkajianfilesinfo_singkatInfo%20Singkat-VII-6-II-P3DI-Maret-2015-81.pdf. pada tanggal 5 mei 2015.

13

Laporan Rilis Survei "Partai Politik di Mata Publik" , diakses dari www.lsi.or.id/riset/436/Rilis-LSI-Partai-Politik-diMata-Publik , pada tanggal 10 Mei 2015 pukul 09:43

14

(6)

b. Pemahaman mengenai hak dan kewajiban warga Negara Indonesia dalam

membangun etika dan budaya politik

c. Pengkaderan anggota partai politik secara berjenjang dan berkelanjutan.

Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) pun menolak wacana pemberian

dana hingga Rp 1 triliun dari APBN kepada partai politik setiap tahun. Alasannya, praktik

menejemen parpol selama ini tidak transparan dan dikhawatirkan terjadi penyimpangan

dalam pengelolaan keuangan. Partai Politik juga belum mempunyai perangkat transparansi

dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana dari APBN. Riset Fitra menunjukkan bahwa

penggunaan bantuan keuangan parpol pada tahun 2010 tidak transparan dan tidak

akuntabel.15

Berikut Ranking Kader Parpol yang terjerat tindak pidana korupsi yang dirilis Metro

TV (Kamis 13/3/2014)

1. PDIP 84 Kasus

2. Golkar 60 Kasus

3. PAN 36 Kasus

4. Demokrat 30 Kasus

5. PPP 13 Kasus

6. PKB 12 Kasus

7. Hanura 6 Kasus

8. Gerindra 3 Kasus

9. PKS 2 Kasus

Dapat kita lihat dari data tersebut banyak partai politik yang melakukan korupsi. Jatah

Rp 1 triliun dari APBN justru akan menjadi bentuk korupsi baru. Dengan kondisi parpol yang

belum mempunyai perangkat transparansi dan akuntabilitas, ditambah dengan perilaku

politisinya yang masih koruptif dan pengelolaan partai yang masih oligarki, kondisi tersebut

justu akan menjadikan bantuan keuangan sebagai sarana korupsi baru bancakan dana

keuangan parpol.

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai

15

(7)

Politik, dalam Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa “ Bantuan keuangan adalah bantuan

keuangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah yang di berikan secara proporsional kepada Partai Politik

yang mendapat kursi Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang perhitungannya

didasarkan atas perhitungan jumlah suara dengan prioritas penggunaan untuk pendidikan

politik.”. Di dalam pasal tersebut dapat dilihat bahwa tujuan pemberian dana tersebut

diberikan secara proporsional. Lebih lanjut, Pasal 23 Peraturan Menteri No. 26 Tahun 2013

yang dimaksud “pendidikan politik” adalah; 1) meningkatkan hak dan kewajiban masyarakat

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; 2) meningkatkan partisipasi

politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara,dan; 3) meningkatkan kemandirian, kedewasaan, dan membangun karakter bangsa

dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Maka dari itu, pemberian dana sebesar 1 Triliun yang diwacanakan Tjahjo Kumolo

(Kemendagri) tidaklah sesuai dengan pendekatan anggaran berbasis kinerja dimana kinerja

parpol sebagai salah satu pilar demokrasi dalam bernegara masih buruk hingga saat ini.

Responden yang menjadi penelitian ini adalah partai Demokrat, Golkar, PDIP,

PKS,PAN, dan PPP tentang Pelaksanaan Agenda Pendidikan Politik, Data Primer 2010.

No Uraian Frekuensi Persentase

1 Terlaksana Semua 60 50,0

2 Terlaksana Sebagian 58 48,3

3 Terlaksana menjelang

Pemilu

2 1,7

Total 120 100

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian responden menyatakan bahwa tidak

semua agenda politik terlaksana. Hal ini menunjukkan adanya disparitas antara perencanaan

dan pelaksanaan pendidikan politik oleh partai responden tersebut.

Jika dana subsidi parpol itu disalurkan, maka sebesar Rp 12 triliun uang yang terkuras

dari APBN masuk ke kas 12 parpol yang mempunyai perwakilan di lembaga legislatif. Disatu

sisi, banyak pekerjaan rumah bagi Parpol untuk memperbaiki menejemen kepartaiannya

sebelum “mengemis” dana operasi dari APBN, karena selama ini masyarakat hanya disuguhi

(8)

sebagai bagian dari negara modern tetap berciri feodal, eksklusif dan tak merepresentasikan

Referensi

Dokumen terkait

c) Ganja dapat ditanam sendiri dan tidak perlu perawatan yang sulit. Di daerah Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat sendiri, ganja banyak tumbuh di daerah Talang

Risk of Malignancy Index Pemeriksaan untuk memprediksi keganasan tumor ovarium prabedah tidak bisa dengan satu pemeriksaan saja, perlu gabungan beberapa metode pemeriksaan, baik

Pulau Bali selain terkenal dengan destinasi wisata yang mendunia, juga terkenal akan kehidupan masyarakatnya yang hidup guyub dan rukun, meskipun terdiri dari

Manfaat langsung yang diperoleh dari pembangunan jembatan Suramadu ada- lah berupa nilai waktu yang pada dasar- nya merupakan penghematan waktu perjalanan yang

3.7.3 Sequence Diagram Memilih Latihan Home Halaman Latihan Latihan Angka Latihan Tubuh Latihan Alam Latihan Hewan Memuat Aplikasi() Tekan Button Latihan() Pilih Latihan

DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan darimana asal data dan kemana tujuan data yang keluar sistem, dimana data

Posisi penolong pada tindakan piat antung na'as buatan (*P4) adalah tersebut di bawah ini- kecuali.. "aris bahu penolong seaar dengan sumbu tulang dada

Saya/Kami dengan ini mengizinkan Penanggung untuk menggunakan atau memberikan informasi atau data mengenai Saya/Kami yang tersedia, diperoleh atau disimpan oleh Penanggung