5
III. METODE PENELITIAN
A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tungau predatorPhytoseius sp. dan tungau hama T.urticae, lem tanglefoot daun singkong, dan polen. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah mikroskop stereo, Thermo hygrometer, nampan, busa,cover glass, box ice, kaca pembesar (luv), kapas, kuas kecil,black tile, kertas tissue tidak berparfum, label dan plastik hitam.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Tempat pengambilan sampel berupa daun singkong adalah di perkebunan singkong Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Pengamatan sampel yang didapat serta pemeliharaan tungau predatorPhytoseius sp. dilakukan di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan dari Bulan Januari 2014 sampai Maret 2014.
B. Metode Penelitian
1. Rancangan Percobaan
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap, perlakuan yang dicobakan ada 3, yaitu augmentasi inundatif tungau predator Phytoseius sp. kontrol (K1) dengan rasio pelepasa 1:4, rendah (k2) dengan rasio pelepasan 2:4 dan tinggi k3) dengan rasio pelepasan 4:4 dilakukan dengan 3 kali ulangan, dan 3 kali pengambilan sampel dengan interval 1 minggu. Variabel yang diamati meliputi kepadatan relatif tungau predatorPhytoseius sp. danT. urticaesebelum dan sesudah augmentasi tungau predator Phytoseuis sp. Parameter yang diukur adalah banyaknya tungau hama T. urticae sebelum dan sesudah augmentasi tungau predatorPhytoseuissp.
2. Cara Kerja
a. Pengambilan Sampel Daun Singkong
6
Keterangan: 1-9 = Titik Pengambilan Sampel. Gambar 3.1. Skema Titik Sampling Tanaman Singkong
Dari 5 lembar daun paling bawah dari sekelompok tanaman singkong yang memperlihatkan gejala serangan tungau hama dipetik 3 lembar daun, kemudian dimasukkan kedalam kantung plastik hitam. Seluruh daun tersebut diperiksa dibawah mikroskop binokuler. Di lakukan 3 kali ulangan pengambilan sampel daun dengan interval 1 minggu.
b. Perhitungan (awal) Rata-rata
Individu tungau
Phytoseius
sp. dan
T.urticae
pada setiap Sekelompok Tanaman yang Tersampling
Seluruh daun sampel diamati di bawah mikroskop binokuler dengan perbesaran 100X dengan posisi daun terbalik. Tungau hama T.urticae dan tungau predator Phytoseius sp. yang di temukan dari 3X pengambilan sampel tersebut dihitung untuk mengetahui rata-rata jumlah kelimpahan awalT.urticaedanPhytoseiussp. perluas daunnya. Hal tersebut bertujuan untuk menentukan berapa tungau predator Phytoseius sp. yang akan dilepas secara masal (augmentasi) ke area perkebunan singkong pada setiap kelompok tanaman yang tersampling, sehingga didapatkan perbedaan jumlah pelepasan Phytoseius sp. hal tersebut dijadikan sebagai perlakuan penelitian.
c. Pengambilan dan Perbanyakan Tungau
Phytoseius
sp. Berdasarkan
Metode Overmeer et al., (1982)
dalam
Klashort, 1996).
Seluruh daun singkong yg telah diambil diperiksa di bawah mikroskop binokuler. Phytoseiussp. yang diperoleh dipindah ke tempat pemeliharaan, yang terdiri atas nampan plastik berisi air dengan busa di dalamnya. Di atas busa yang basah, diletakan black tile yang pada bagian tepinya ditaruh kertas tissue yang tidak berparfum. Bagian ujung kertas terendam dalam air, sedangkan diatas kertas dibuat tanggul yang mengelilingibalck tilemenggunakan lemtangle foot. Tanggul lem ini untuk mencegah agar tungau predator tidak melarikan diri dari arena uji. Tungau dipelihara dengan pemberian makanan berupa stadium telur T.urticae yang diambil langsung dari tanaman singkong atau dengan pemberian pakan
1 2 3
6
7
5 4
7
alternatif berupa polen bunga kering. Perkembangan tungau Phytoseius sp. diamati selama 20 hari.
d. Percobaan Teknik Augmentasi inundatif tungau
Phytoseius
sp.
Setiap 3 titik dari 9 titik pengambilan sampel dijadikan sebagai 1 perlakuan, sehingga terdapat 3 perlakuan yang akan diujikan yaitu augmentasi inundatif Phytoseius sp. kontrol (K1) dengan rasio pelepasan 1:4, augmentasi inundatif Phytoseiussp. rendah (K2) dengan rasio pelepasan 2:4, dan augmentasi inundatif Phytoseiussp. tinggi (K3) dengan rasio pelepasan 4:4. Acuan dasar rasio pelepasan masal Phytoseiussp. untuk setiap perlakuan yaitu 1:4, dimana 1 ekorPhytoseius sp. untuk mengendalikan 4 ekorT.urticae. Augmentasi inundatifPhytoseiussp. ini dilakukan setelah 20 hari pemeliharaan Phytoseius sp. di laboratorium, yang kemudian dilepaskan ke area perkebunan singkong sesuai dengan perlakuan yang diujikan (K1, K2, dan K3).
e. Cara Kerja Teknik Pelepasan Tungau
Phytoseius
sp.
Phytoseius sp. hasil pemeliharaan dibawa menggunakan ice box. Pelepasan tungau predator Phytoseius sp. dilakukan dengan menggunakan koas untuk memindahkanPhytoseiussp. dari tempat pemeliharaan (rearing) ke lembar daun ke 5 paling bawah pada tanaman singkong yang sama pada saat pengambilan sampel awal, untuk membantu dalam pemindahan tungau Phytoseiussp. dapat digunakan kaca pembesar (luv). Selama 20 x 24 Jam setelah pelepasan augmentasi inundatif tungau predatorPhytoseiussp. dilakukan 3X pengambilan sampel daun kembali, kemudian dihitung kembali rata-rata tungau T.urticae dan tungau Phytoseiussp yang ditemukan perluas daunnya.