• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISKA AYU HANDAYANI FKIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RISKA AYU HANDAYANI FKIK"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

MOTIVASI SUAMI MENDUKUNG PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN CIAWI

KABUPATEN BOGOR TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Oleh :

Riska Ayu Handayani

1113101000023

PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

i JAKARTA

Skripsi, Januari 2018

Riska Ayu Handayani, NIM: 1113101000023

Motivasi Suami Mendukung Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor Tahun 2017

xv + 155 halaman + 2 bagan + 2 tabel + 4 lampiran

ABSTRAK

Cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi Tahun 2015 adalah sebesar 29.41% dari target puskesmas yaitu sebesar 90%. Berdasarkan studi pendahuluan, dari 24 istri yang memberikan ASI eksklusif terdapat 20 istri yang mendapat dukungan dari suami. Hal tersebut membuktikan bahwa pengaruh suami cukup besar dalam memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif peneliti ingin mengetahui Motivasi Suami Mendukung Pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi.

Informan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah lima pasang suami istri yang memiliki anak bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik penetapan informan menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa suami dapat termotivasi karena mengetahui beberapa hal terkait ASI ekslusif, suami juga memberikan sikap yang positif mendukung ASI eksklusif, serta suami termotivasi karena mampu mendukung secara emosional, informasi, penghargaan, dan fisik. Selain itu, suami juga dapat termotivasi karena ASI eksklusif memberi manfaat bagi bayi mereka, mendukung ASI eksklusif merupakan tanggung jawab dan kewajiban suami, peran suami sangat dibutuhkan untuk membantu istri menyukseskan ASI eksklusif, serta ASI eksklusif dapat memberi keuntungan bagi suami. Gambaran dukungan yang diberikan suami dan dirasakan oleh istri adalah berupa dukungan emosional, informasi, penghargaan, dan fisik. Saran untuk pelayanan kesehatan dalam upaya meningkatkan motivasi suami mendukung pemberian ASI eksklusif dengan cara memberi penyuluhan pasca istri melahirkan dan menganjurkan suami menemani istri untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

(3)

ii

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES STUDY PROGRAM PUBLIC HEALTH

STATE ISLAMIC UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Undergraduate Thesis, Januari 2018

Riska Ayu Handayani, NIM: 1113101000023

Motivation Husband Supports Exclusive Breastfeeding in Work Area Puskesmas Kecamatan Ciawi Bogor Year 2017.

xv + 155 pages + 2 charts + 2 table + 4 appendixes

ABSTRACT

The coverage of exclusive breastfeeding in the work area of Puskesmas Kecamatan Ciawi in 2015 was 29.41% of target puskesmas that was equal to 90%. Based on preliminary studies, of 24 wives who gave exclusive breastfeeding there were 20 wives who received support from their husbands. It was proved that the influenced of husband is big enough in motivation mother to gave exclusive breastfeeding. Therefore, to increased the coverage of exclusive breastfeeding, researchers would to know Motivation Husband Supports Exclusive Breastfeeding in the work area of Ciawi District Health Center.

Informants were needed in this study were five couples who had children of infants 6-12 months of age in the Work Area Puskesmas Ciawi District Bogor Regency. The research method used is qualitative research with phenomenology approach. Determination technique of informant use purposive sampling. Methods of data collection using in-depth interview techniques and observation.

The results of this study indicate that the husband could be motivation because knowing some things related to exclusive breastfeeding, the husband also provides a positive attitude to support exclusive breastfeeding, and husband motivated because he could support emotionally, information, appreciation, and physical. And then, husbands could be motivated because exclusive breastfeeding benefits their babies, supporting exclusive breastfeeding is the responsibility and obligation of the husband, the role of husband was needed to help the wife succeed exclusive breastfeeding, and exclusive breastfeeding could benefit the husband. An overview of the supported that the husband provides and perceives by his wife is in the form of emotional support, information, appreciation, and physical. Suggestions for health services in an effort to increased motivation of husbands support exclusive breastfeeding by providing counseling post-wife giving birth and encouraging husbands accompanying wives to perform initiation of early breastfeeding.

(4)
(5)
(6)
(7)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Riska Ayu Handayani

Tempat, tanggal Lahir : Jakarta, 19 Januari 1995 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status : Belum Menikah/ Mahasiswa

Alamat :Jalan PALAD No.18 RT 005/03 Kelurahan Jati Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur

HP : 085714133804

Email : [email protected]

Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/Kesehatan Masyarakat

PENDIDIKAN

1. Sekolah Dasar Negeri Jati 04 Jakarta 2001-2007

2. SMP Negeri 92 Jakarta 2007-2010

3. SMA Negeri 53 Jakarta 2010-2013

4. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2013-sekarang

ORGANISASI

1. PASKIBRA 2008-2009

2. Sekretaris MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) 2011-2012

3. Rohani Islam 2011-2013

4. Marcing Band 2011-2012

(8)

vii Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Motivasi Suami Mendukung Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor” yang disusun dan diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Sholawat serta salam juga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun metodologi. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik serta saran yang dapat membangun tulisan ini menjadi lebih baik.

Banyak pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, doa, serta kerjasama yang luar biasa dalam penyusunan skripsi ini. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Beserta Prof. Dr. dr. Sardjana, SpOG (K), SH,. Maftuha M.Kep, Ph.D, dan Fase Badriah, SKM, M.Kes, Ph.D, selaku Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(9)

viii

4. Ibu Fase Badriah SKM, M.Kes, Ph.D, ibu Narila Mutia MKM, Ph.D, ibu Ratri Ciptaningtyas, MHS., dan ibu Laily Hanifah, SKM, M.Kes., selaku dosen penguji skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing serta memberi saran kepada penulis selama penyusunan skripsi.

5. Seluruh Staf Puskesmas, Bidan Desa, dan Kader di Puskesmas Kecamatan Ciawi yang telah banyak membantu dan memudahkan penulis turun lapangan mengambil data dan menyelesaikan skripsi.

6. Orang tua dan keluarga tercinta yang telah banyak memberi kasih sayang, doa, dan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabat penulis yang bersedia memberikan tempat untuk tinggal selama proses pengambilan data yaitu Khoirunnisa Damayanti dan keluarganya.

8. Sahabat-sahabat seperjuangan Rati Mahisara, Desy Nur Wahyuni, Mira Rizkia P., Aisyah Fatimah, dan Annisa Ayu SL yang telah memberi dukungan dan saling mengingatkan penulis selama penyelesaian skripsi.

9. Teman-teman peminatan promosi kesehatan, teman-teman kesehatan masyarakat, dan adik-adik kelas yang mendukung, mengingatkan, menghibur, serta memberi masukan kepada penulis selama proses pembuatan skripsi.

Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Jakarta, Januari 2018

(10)

ix

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR BAGAN ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Masalah ... 5

C. Tujuan ... 5

1. Tujuan Umum ... 5

2. Tujuan Khusus ... 6

(11)

x

1. Manfaat penelitian bagi pembaca ... 6

2. Manfaat penelitian bagi institusi kesehatan ... 6

3. Manfaat penelitian bagi penulis ... 7

E. Ruang Lingkup... 7

BAB II ... 8

TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. ASI Eksklusif ... 8

B. Manfaat ASI Eksklusif ... 8

C. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ... 9

D. Dukungan Suami ... 10

E. Faktor yang Mempengaruhi Dukungan Suami ... 11

F. Jenis Dukungan ... 12

G. Cara Suami untuk Keberhasilan ASI Eksklusif ... 13

H. Motivasi ... 14

I. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi ... 15

J. Jenis-Jenis Motivasi ... 15

K. Kerangka Teori ... 18

BAB III ... 19

KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ... 19

A. Kerangka Berpikir ... 19

B. Definisi Istilah ... 20

(12)

xi

B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 28

C. Informan Penelitian ... 28

D. Metode Pengumpulan Data ... 29

E. Metode Pengambilan Data ... 29

F. Instrumen Penelitian ... 30

G. Teknik Analisis Data... 30

H. Reliabilitas dan Validitas Data... 32

BAB V ... 35

HASIL PENELITIAN ... 35

A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 35

B. Karakteristik Informan ... 36

C. Gambaran Motivasi Suami ... 40

1. Motivasi Intrinsik ... 40

2. Motivasi Ekstrinsik ... 47

3. Amotivasi ... 53

D. Gambaran Dukungan Suami ... 54

1. Dukungan Emosional ... 54

2. Dukungan Informasi ... 54

3. Dukungan Penghargaan ... 56

(13)

xii

BAB VI ... 59

PEMBAHASAN ... 59

A. Keterbasan Penelitian... 59

B. Motivasi Suami ... 59

1. Motivasi Intrinsik ... 59

2. Motivasi Ekstrinsik ... 66

3. Amotivasi ... 75

C. Dukungan Suami ... 76

1. Dukungan Emosional ... 77

2. Dukungan Informasi ... 78

3. Dukungan Penghargaan ... 80

4. Dukungan Fisik ... 82

BAB VII ... 84

SIMPULAN DAN SARAN ... 84

A. Simpulan ... 84

B. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(14)

xiii

Bagan 2.1 Kerangka Teori Hal. 14

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Istilah Hal. 16

(16)

xv

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

Lampiran 2 Matriks Wawancara

Lampiran 3 Matriks Observasi

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai dengan status gizi

masyarakat yang baik, salah satu usaha untuk memperbaiki status gizi yaitu

dengan memberikan ASI eksklusif. Menurut WHO (dalam Kemenkes RI,

2014), menyusui eksklusif adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman

lain termasuk air putih selama menyusui 0-6 bulan, kecuali obat-obatan,

vitamin atau mineral tetes, dan asi perah juga diperbolehkan. Air Susu Ibu

(ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan

garam-garam anorganik yang disekresi oleh kelenjar mamae ibu yang berguna

sebagai makanan bagi bayinya (Narfin, 2013). Air Susu Ibu merupakan

nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung kebutuhan energi dan

zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi .

Adapun dampak jika bayi tidak diberi ASI secara eksklusif yaitu bayi

akan lebih mudah terkena resiko terjadinya penyakit infeksi seperti infeksi

saluran pencernaan (diare), infeksi saluran pernafasan dan infeksi telinga serta

menghambat sistem kekebalan tubuh bayi dan terjadinya karies dentis

(kerusakan gigi) pada bayi (Haryani, 2014). Menurut data WHO (World

Health Organization), dinegara berkembang jumlah balita yang meninggal

(18)

(Kemenkes RI, 2015). Penderita diare yang dilaporkan di Indonesia adalah

sebanyak 4.017.861 jiwa (Kemenkes RI, 2015). Menurut Profil Kesehatan

Provinsi Jawa Barat tahun 2015, jumlah penderita diare di Jawa Barat tahun

2015 sebanyak 1.084.766 orang dengan jumlah kematian 42 orang. Persentase

kasus penderita diare adalah sebanyak 49,56% balita dan 50,44% usia diatas

lima tahun, dengan jumlah kematian 34 orang balita dan 8 orang usia diatas

lima tahun. Cakupan diare di Provinsi Jawa Barat adalah sebesar 85,6%.

Kabupaten Bogor merupakan wilayah dengan cakupan diare diatas rata-rata

Provinsi Jawa Barat yaitu 90%.

Selain itu, Kabupaten Bogor memiliki cakupan Balita Bawah Garis

Merah (BGM) yang berpotensi gizi buruk yaitu sebesar 2,5% (>28.724 orang)

diatas rata-rata Provinsi Jawa Barat 1,2% (14.362 orang) (Profil Kesehatan

Jawa Barat, 2015). Sedangkan kasus gizi buruk yang tercatat di Jawa Barat

adalah sebanyak 2.895/26.518 jiwa. Gizi buruk dapat menyebabkan

terjadinya kematian pada balita. Pemberian ASI secara eksklusif dapat

menekan angka kematian bayi sekaligus meningkatkan status gizi balita yang

pada akhirnya akan meningkatkan status gizi masyarakat menuju tercapainya

kualitas sumber daya manusia yang memadai (Purwiyanti, 2011).

ASI eksklusif sangat dibutuhkan oleh bayi usia 0-6 bulan, akan tetapi

cakupan ASI eksklusif masih rendah. Data UNICEF (United Nation Childrens

Fund) pada tahun 2012 menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif didunia

adalah sebesar 39% (UNICEF, 2012). Profil kesehatan Provinsi Jawa Barat

tahun 2015 menunjukan, cakupan ASI eksklusif di Provinsi Jawa Barat adalah

(19)

3

di Indonesia. Cakupan tersebut masih dibawah cakupan nasional yaitu sebesar

52,3%.

Wilayah kabupaten Bogor menjadi wilayah pertama yang cakupannya

lebih besar dari cakupan ASI eksklusif di Jawa Barat. Menurut profil

kesehatan Jawa Barat tahun 2015, persentase bayi yang diberikan ASI

eksklusif di Kabupaten Bogor sebesar 50,7%. Walaupun cakupan ASI

eksklusif di Kabupaten Bogor diatas cakupan ASI eksklusif di Jawa Barat,

Akan tetapi menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015,

wilayah Ciawi merupakan lima besar wilayah dengan cakupan ASI terendah

di Kabupaten Bogor dengan cakupan sebesar 17,6%. Sedangkan cakupan ASI

eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi tahun 2015 adalah

sebesar 29,41%, cakupan tersebut masih dibawah target puskesmas 90% dan

target nasional 80% (Profil Kesehatan Jawa Barat, 2015).

Rendahnya ASI eksklusif menjadi masalah yang belum terselesaikan

diwilayah Puskesmas Kecamatan Ciawi. Menurut pemegang program gizi

keluarga di puskesmas tersebut, penyebab rendahnya cakupan ASI eksklusif

diantaranya adalah kurangnya produksi ASI, kurangnya dukungan suami dan

banyaknya ibu menyusui yang bekerja. Pendapat tersebut sejalan dengan

penelitian Agus dan Utaminingrum (2012) yang menunjukan bahwa masih

banyak suami yang berpendapat bahwa menyusui adalah urusan ibu dengan

bayinya, sehingga suami kurang peduli. Suami juga mempercayakan masalah

perawatan bayi kepada istri dan mengingatkan hal-hal bahaya bagi bayi

(20)

Walaupun dukungan suami rendah, akan tetapi peran suami sangat

penting dalam menyukseskan pemberian ASI eksklusif. Menurut Roesli

(2005), banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI

Eksklusif salah satunya adalah dukungan sosial suami. Suami sebagai

breastfeeding father (sebutan untuk Ayah pendukung ASI) harus memberikan

dukungan yang konkrit. Suami merupakan faktor pendukung pada kegiatan

yang bersifat emosional dan psikologis yang diberikan kepada ibu menyusui.

Sekitar 80% sampai 90% produksi ASI ditentukan oleh keadaan emosi ibu

yang berkaitan dengan refleks oksitosin ibu berupa pikiran, perasaan dan

sensasi. Apabila hal tersebut meningkat akan memperlancar prosuksi ASI

(Ramadani dan Hadi, 2010). Dukungan suami (dukungan emosional,

dukungan penghargaan/penilaian, dukungan instrumental/fisik dan dukungan

informatif) sangat diperlukan agar pemberian ASI Eksklusif bisa tercapai

(Farida dkk, 2014).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada 38 ibu

yang mengunjungi posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi

menunjukan bahwa terdapat 24 ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif.

Dari 24 ibu tersebut, sebanyak 12 ibu mendapat dukungan dari suami untuk

memberi ASI eksklusif. Selain itu, sebanyak 8 dari 24 ibu yang memberi ASI

eksklusif mendapat dukungan dari suami dan pihak lainnya seperti orang tua

dan ibu mertua. Sedangkan 4 dari 24 ibu yang memberi ASI eksklusif tidak

mendapat dukungan dari suami. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan

(21)

5

karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Motivasi Suami

Mendukung Pemberian ASI Eksklusif.

B. Fokus Masalah

Cakupan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Ciawi sebesar

29,41% masih dibawah target puskesmas 90% dan target nasional 80%. Salah

satu yang berpengaruh dalam keberhasilan ASI Eksklusif adalah adanya

dukungan suami. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh

peneliti kepada 38 ibu yang mengunjungi posyandu di wilayah kerja

Puskesmas Kecamatan Ciawi, terdapat 24 ibu yang menyusui bayinya secara

eksklusif. Hasil studi pendahuluan tersebut menunjukan bahwa dari 24

responden tersebut yang mendapatkan dukungan dari suami dan termotivasi

memberikan ASI Eksklusif adalah sebanyak 20 orang. Hal tersebut

membuktikan bahwa pengaruh suami cukup besar dalam memotivasi ibu

untuk memberikan ASI Eksklusif. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui “Motivasi Suami Mendukung Pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja

Puskesmas Kecamatan Ciawi”.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Motivasi Suami

Mendukung Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas

(22)

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran motivasi instrinsik (motivasi yang datang dari

dalam diri) suami dalam mendukung istri memberikan ASI Eksklusif

b. Mengetahui gambaran motivasi ekstrinsik (motivasi yang datang

karena adanya tekanan dari luar diri) suami dalam mendukung istri

memberikan ASI Eksklusif

c. Mengetahui gambaran amotivasi (tidak adanya motivasi) suami dalam

mendukung istri memberikan ASI Eksklusif

d. Mengetahui gambaran dukungan suami kepada istri yang memberikan

ASI Eksklusif

D. Manfaat

1. Manfaat penelitian bagi pembaca

Dapat memberi informasi tentang motivasi suami dan pentingnya

dukungan suami terhadap istri yang memberikan ASI Eksklusif. Serta

dapat dijadikan sebagai acuan penelitian serupa berikutnya.

2. Manfaat penelitian bagi institusi kesehatan

Memberi saran atau alternatif solusi untuk dapat mengatasi permasalahan

ASI Eksklusif dan pembuatan program dalam meningkatkan cakupan

(23)

7

3. Manfaat penelitian bagi penulis

Dapat memberi pengetahuan tentang peran dan dukungan suami terhadap

istri dalam memberi ASI Eksklusif dan dapat dijadikan sebagai

pengalaman belajar untuk turun lapangan.

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini membahas tentang Motivasi Suami Mendukung

Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi

Kabupaten Bogor. Informan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah

pasangan suami istri yang memiliki anak bayi usia 6-12 bulan di Wilayah

Kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor. Penelitian akan

dilaksanakan pada bulan Agustus-November 2017. Metode penelitian yang

(24)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,

laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu,

yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. (Narfin, 2013) Air susu ibu

(ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung

kebutuhan energy dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama

kehidupan bayi (Narfin, 2013).

Adapun dampak jika bayi tidak diberi ASI secara eksklusif yaitu bayi

akan lebih mudah terkena resiko terjadinya penyakit infeksi seperti infeksi

saluran pencernaan (diare), infeksi saluran pernafasan dan infeksi telinga serta

menghambat sistem kekebalan tubuh bayi dan terjadinya karies dentis

(kerusakan gigi) pada bayi (Haryani, 2014).

B. Manfaat ASI Eksklusif

Terdapat manfaat yang didapatkan dengan menyusui bagi bayi, ibu,

keluarga dan negara. Manfaat bagi bayi antara lain adalah makanan alamiah

yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah untuk dicerna, komposisi zat

gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi;

(25)

9

mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6

bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4,

Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin; Perkembangan

psikomotorik lebih cepat; Menunjang perkembangan kognitif; Menunjang

perkembangan penglihatan; Memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak;

Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat; dan Dasar untuk

perkembangan kepribadian yang percaya diri. (Narfin, 2013).

Manfaat bagi ibu antara lain adalah Mencegah perdarahan pasca

persalinan dan mempercepat kembalinya rahin kebentuk semula; Mencegah

anemia defisiensi zat besi; Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum

hamil; Menunda kesuburan; Menimbulkan perasaan dibutuhkan; dan

Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. (Narfin, 2013).

Manfaat bagi keluarga antara lain adalah Mudah dalam proses

pemberiannya; Mengurangi biaya rumah tangga; dan Bayi yang mendapat ASI

jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat. (Narfin, 2013).

Sedangkan manfaat bagi negara adalah Penghematan untuk subsidi anak sakit

dan pemakaian obat-obatan; Penghematan devisa dalam hal pembelian susu

formula dan perlengkapan menyusui; dan Mendapatkan sumber daya manusia

(SDM) yang berkualitas. (Narfin, 2013).

C. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

Menurut Farohiatul (2011), penyebab pemberian ASI non ekslusif

adalah pengetahuan ibu, kondisi kesehatan ibu, dukungan suami, sosial

(26)

yang salah tentang kolostrum, serta anggapan tentang bayi yang menangis

ketika sudah disusui berarti bayi masih lapar dan harus diberi tambahan),

adanya promosi susu formula terutama dari petugas kesehatan, serta adanya

tanggapan positif dari ibu terhadap susu formula dan pengaruh orang tua

(Haryani, 2014).

Faktor yang memengaruhi pemberian ASI Eksklusif yaitu ada faktor

internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendidikan, pengetahuan,

sikap, kondisi psikologis ibu, dan status persalinan. Sedangkan faktor

eksternal meliputi pekerjaan, sosial ekonomi, dukungan suami, budaya

setempat, peran kelompok potensial, advokasi, iklan susu formula, sikap

petugas kesehatan, penyuluhan (Purwiyanti, 2011).

D. Dukungan Suami

Dukungan adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain, baik

moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan

kegiatan (menurut Sarwono, 2003). Suami adalah pria yang menjadi pasangan

resmi seorang wanita (menurut KBBI, 2005). Suami juga berperan sebagai

pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan memberi rasa aman, sebagai kepala

keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota

masyarakat dari lingkungannya. Suami memunyai peran memberi dukungan

dan ketenangan bagi ibu yang sedang menyusui, dalam praktik sehari-hari

tampaknya peran ayah ini justru sangat menentukan keberhasilan menyusui

(Narfin, 2013).

Jika ibu menyusui, ayah harus memberikan sandang dan pangan.

(27)

11

dapat mengungkapkan sikap melindungi, sikap memelihara, rasa kasih sayang,

rasa cinta kepada bayinya. Sikap ayah ini membawa dampak berarti dalam

perkembangan anak selanjutnya ayah dapat memengaruhi bayinya dengan

cara tidak langsung, yaitu melalui dorongan yang diberikan kepada ibu

(Narfin, 2013).

E. Faktor yang Mempengaruhi Dukungan Suami

Menurut Cholil dkk (dalam Hargi, 2013) menyimpulkan beberapa

faktor yang mempengaruhi dukungan suami, antara lain adalah:

1. Budaya

Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia yang umumnya masih

tradisional (Patrilineal), menganggap wanita tidak sederajat dengan kaum

pria, dan wanita hanyalah bertugas untuk melayani kebutuhan dan

keinginan suami saja. Anggapan seperti ini dapat mempengaruhi perlakuan

suami terhadap istri.

2. Pendapatan

Sekitar 75%-100% penghasilan masyarakat dipergunakan untuk

membiayai seluruh keperluan hidupnya. Secara nyata dapat dikemukakan

bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan

ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga harus memperhatikan

kesehatan keluarganya.

(28)

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan

pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga. Semakin rendah

pengetahuan suami maka akses terhadap informasi kesehatan bagi

keluarga akan berkurang sehingga suami akan kesulitan untuk mengambil

keputusan secara efektif.

F. Jenis Dukungan

Menurut Cohen dan Syme tahun 1985 mengklasifikasikan

dukungan sosial dalam 4 kategori yaitu :

1. Dukungan informasi, yaitu memberikan penjelasan tentang situasi dan

segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi

individu. Dukungan ini, meliputi memberikan nasihat, petunjuk, masukan

atau penjelasan cara seseorang bersikap.

2. Dukungan emosional, yang meliputi ekspresi empati misalnya

mendengarkan, bersikap terbuka, menunjukkan sikap percaya terhadap

sesuatu yang dikeluhkan, mau memahami, ekspresi kasih sayang dan

perhatian. Dukungan emosional akan membuat penerima merasa berharga,

nyaman, aman, terjamin, dan disayangi.

3. Dukungan instrumental adalah bantuan yang diberikan secara langsung,

bersifat fasilitas atau materi misalnya menyediakan fasilitas yang

diperlukan, meminjamkan uang, memberikan makanan, permainan atau

bantuan yang lain.

4. Dukungan penilaian, dukungan ini bisa terbentuk penilaian yang positif,

(29)

13

menunjukkan perbandingan sosial yang membuka wawasan seseorang

yang sedang dalam keadaan stres.

G. Cara Suami untuk Keberhasilan ASI Eksklusif

Beberapa cara yang dapat dilakukan suami untuk keberhasilan ASI

Eksklusif (Hikmawati, 2008):

1. Setiap saat, siang atau malam, bila bayi ingin minum, ambillah bayi dan

gendong ke ibunya untuk disusui.

2. Selalu sendawakan bayi setelah menyusu. Cara sendawa yang paling tepat

adalah dengan menggendong tegak kemudian perut bayi diletakkan pada

pundak ayahnya.

3. Ganti popoknya sebelum atau sesudah bayi menyusu

4. Gendong bayi dengan kain, biarkan ia merasakan kehangatan badan

ayahnya

5. Tembangkan bayi bila ia gelisah dengan cara menggendong,

menepuk-nepuk, atau menggoyang-goyang tempat tidur goyangnya

6. Sekali-kali mandikan bayi atau bila sudah sedikit lebih besar mandilah

bersama-sama

7. Biarkan bayi berbaring di dada ayahnya agar ia dapat mendengar detak

jantung sang ayah, bunyi nafas, dan kehangatan kulit ayahnya

(30)

H. Motivasi

Dalam diri individu ada sesuatu yang menentukan perilaku, yang

bekerja dengan cara tertentu untuk mempengaruhi perilaku tersebut. Penentu

perilaku ini disebut dengan motif. Motif merupakan sesuatu yang

menimbulkan perilaku pada organisme. Menurut Ahmadi (2002) motif

manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak

lainnya yang berasal dari dalam dirinya, untuk melakukan sesuatu. Motif tidak

selalu dapat diamati dari perilaku, atau dapat dikatakan bahwa perilaku yang

nampak tidak selalu menggambarkan motifnya, motif tidak selalu seperti yang

nampak, bahkan kadang-kadang motif berlawanan dengan perilaku yang

nampak. Perilaku yang nampak sama belum tentu dilatarbelakangi oleh motif

yang sama, sebaliknya motif yang sama belum tentu menghasilkan perilaku

yang sama (Afifah, 2007).

Beberapa ahli memberikan kesamaan antara motif dan kebutuhan atau

dorongan (needs). Menurut Ahmadi (2002) (dalam Afifah, 2007), motif juga

dapat timbul karena adanya kebutuhan. Kebutuhan dapat dipandang sebagai

kekurangan sesuatu, dan ini menuntut segera pemenuhannya, untuk segera

mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai suatu

kekuatan atau dorongan alasan, yang menyebabkan seseorang bertindak untuk

memenuhi kebutuhan. Dari batasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa

motif adalah yang melatarbelakangi individu berbuat sesuatu untuk mencapai

tujuan tertentu (Afifah, 2007).

Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat dalam diri

(31)

15

laku. Sedangkan, motif adalah suatu alasan/dorongan yang menyebabkan

seseorang berbuat/melakukan tindakan tertentu. Motivasi juga dapat dikatakan

suatu keadaan siap terjadi suatu perbuatan, karena dapat berubah dala waktu

yang relatif singkat tergantung pengaruh dari dalam dan luar individu tertentu.

Oleh karena itu, pembahasan motivasi akan memberikan jawaban atas pertanyaan “mengapa orang dapat bertindak/bersikap demikian?”. (Handoko,

1992)

I. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Menurut Gerungan (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi motivsi

diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari segala sesuatu dari dalam

individu itu sendiri. Faktor internal meliputi kondisi fisik, mental, herediter,

keinginan dalam diri sendiri, dan kematangan usia. Sedangkan, Faktor

eksternal adalah faktor motivasi yang timbul dari luar diri seseorang yang

merupakan pengaruh dari orang lain atau lingkungan. Faktor eksternal

meliputi lingkungan, dukungan, fasilitas, media, agama dan spiritual, sosial

ekonomi, serta kebudayaan.

J. Jenis-Jenis Motivasi

Menurut Ryan dan Deci (2000) motivasi memiliki tiga jenis yaitu

motivasi intrinsik, ekstrinsik, dan amotivasi. Motivasi Intrinsik adalah suatu

dorongan yang ada dalam diri individu dimana individu tersebut merasa

senang dan gembira setelah melakukan serangkaian aktifitas. Terdapat tiga

(32)

(stimulant), dan kecakapan (accomplishment). Pengetahuan (knowledge)

adalah motivasi yang terjadi karena adanya kesenangan dan kepuasan terhadap

penguasaan pengetahuan. Stimulasi (stimulant) adalah motivasi yang timbul

karena adanya kesenangan merasakan suatu sensasi. Kecakapan

(accomplishment) adalah motivasi yang terjadi karena adanya kesenangan dan

kepuasan terhadap penguasaan kemampuan. Secara garis besar, motivasi

intrinsik memiliki unsur-unsur seperti suatu ketertarikan (interest),

kesenangan (enjoyment), dan kepuasan (inherent satisfaction).

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang bersumber dari rangsangan

atau dorongan dari luar. Selain itu motivasi ekstrinsik muncul karena adanya

pengharapan baik berupa imbalan maupun menghindari konsekuensi. Ada

empat macam motivasi ekstrinsik yaitu Identification Regulation, Introjected

Regulation, Integrated Regulation, External Regulation. Identification

Regulation adalah motivasi yang timbul karena individu merasakan kesadaran

akan manfaat yang ditimbulkan dari suatu tindakan atau perilaku. Introjected

Regulation adalah motivasi yang muncul atas dasar kewajiban, kontrol diri,

tanggung jawab dan adanya dorongan internal. Integrated Regulation adalah

motivasi yang muncul karena adanya kesadaran dan mampu menyesuaikan

diri serta melibatkan diri dengan kepentingan orang lain. External Regulation

adalah motivasi yang muncul untuk menghindari hukuman dan mendapat

penghargaan.

Sedangkan, Amotivasi adalah tidak adanya niat dan motivasi dari

dalam diri seseorang yang dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal

(33)

17

niat, tidak menghargai, ketidakmampuan, dan kurang kontrol terhadap suatu

tindakan atau perilaku, sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi oleh faktor

(34)

K. Kerangka Teori

Berdasarkan jenis-jenis motivasi yang telah dijelaskan, maka dapat

disimpulkan kerangka teori sebagai berikut.

Motivasi

Jenis-Jenis Motivasi

Intrinsik: -Pengetahuan -Stimulasi

- Kemampuan/Kecakapan

Ekstrinsik

-Identifikasi Regulasi -Introjeksi Regulasi -Integrasi Regulasi -Eksternal Regulasi

Amotivasi

Bagan 2.1 Kerangka Teori

Sumber: Ryan dan Deci (2000); Cohen dan Syme (1985) Dukungan Suami

Dukungan

Emosional

Dukungan

Informasi

Dukungan

Penghargaan

Dukungan

(35)

19 BAB III

KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

A. Kerangka Berpikir

Motivasi

Jenis-Jenis Motivasi

Bagan 3.2 Kerangka Berpikir Dukungan Suami

Dukungan

Emosional

Dukungan

Informasi

Dukungan

Penghargaan

Dukungan

Fisik Amotivasi

Intrinsik: -Pengetahuan -Stimulasi

- Kemampuan/Kecakapan

Ekstrinsik

(36)

B. Definisi Istilah

Tabel 3.1 Definisi Istilah

Istilah Definisi Istilah Cara Ukur Alat Ukur

ASI Eksklusif Air susu ibu diberikan kepada bayi usia 0-6 bulan tanpa memberikan air, madu, susu formula, tajin, susu lainnya, dan makanan tambahan lainnya, kecuali vitamin, mineral, dan cairan imunisasi. (Kemenkes RI, 2014)

Wawancara Pedoman

wawancara,

Suami Seorang laki-laki yang berstatus menikah, memiliki bayi berusia 6-12 bulan dan mendukung pemberian ASI Eksklusif kepada bayi tersebut ketika bayi berusia 0-6 bulan.

Motivasi Motivasi adalah yang melatarbelakangi individu (suami) berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu.

(37)

21 yang ada dalam diri individu dimana

adalah Motivasi yang terjadi

karena adanya kesenangan dan

kepuasan terhadap penguasaan

pengetahuan. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

karena dalam dirinya

mengetahui hal terkait ASI

Stimulasi (stimulant) adalah

Motivasi yang timbul karena

adanya kesenangan merasakan

suatu sensasi. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

karena senang melihat istri

memberi ASI Eksklusif.

Kecakapan (accomplishment)

adalah Motivasi yang terjadi

karena adanya kesenangan dan

kepuasan terhadap penguasaan

(38)

kemampuan. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

karena dalam dirinya mampu

ekstrinsik adalah

Motivasi yang

bersumber dari

rangsangan atau

dorongan dari luar.

Identifikasi Regulasi:

Motivasi yang timbul karena

individu merasakan kesadaran

akan manfaat yang ditimbulkan

dari suatu tindakan atau

perilaku. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

karena mengetahui manfaat

ASI Eksklusif bagi anak dan

dasar kewajiban, kontrol diri,

tanggung jawab dan adanya

dorongan internal. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

karena mengetahui tanggung

(39)

23

jawab dan kewajiban sebagai

suami yang peduli terhadap

ASI eksklusif.

Integrasi Regulasi:

Motivasi yang muncul karena

adanya kesadaran dan mampu

menyesuaikan diri serta

melibatkan diri dengan

kepentingan orang lain. Suami

memiliki keinginan untuk

mendukung ASI Eksklusif

karena sadar untuk melibatkan

dirinya dalam kepentingan

kesehatan anak dan istrinya.

Wawancara

menghindari hukuman dan

mendapat penghargaan. Suami

yang mendukung ASI

Eksklusif karena mengetahui

keuntungan yang didapat jika

(40)

Amotivasi Tidak adanya niat dan motivasi

untuk melakukan suatu

tindakan (mendukung ASI

Eksklusif), tindakan tersebut

(mendukung ASI Eksklusif)

dapat dipengaruhi oleh faktor

internal dan eksternal dari

individu tersebut. Suami yang

mendukung ASI Eksklusif

tetapi tidak memiliki niat atau

motivasi (hanya mengikuti

aturan, tradisi, dan faktor

Dukungan Suami Tindakan suami yang dapat

membantu kelancaran

suami kepada istrinya dalam

memberikan ASI Eksklusif,

Wawancara

mendalam

Pedoman

wawancara,

(41)

25

seperti memberi pujian, kasih

sayang dan perhatian.

Adanya informasi yang

meliputi nasihat, petunjuk,

saran, ataupun umpan balik

dari suami terhadap istrinya

dalam memberikan ASI

Eksklusif

Penilaian positif dari suami

terhadap istrinya dalam

memberikan ASI Eksklusif

seperti setuju dengan

keputusan istri memberi ASI

eksklusif dan tidak melakukan

segala tindakan yang

menggagalkan pemberian ASI

Eksklusif.

istrinya selama memberikan

ASI Eksklusif seperti

(42)

memenuhi kebutuhan nutrisi

istri, membantu istri mengurus

bayi, dan memberikan alat atau

bahan untuk mendukung

kelancaran pemberian ASI

Eksklusif

observasi lapangan (field

note), dan hp

(alat perekam

(43)

27 BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan

fenomenologi. Menurut Speziale dan Carpenter (2003), pendekatan

fenomenologi yaitu penelitian yang berfokus pada penemuan fakta yang ada.

Menurut Meleong (2013), penelitian fenomenologi meliputi pengalaman

tentang persepsi manusia seperti kepercayaan, kepedulian, keinginan, kasih

sayang, perasaan, serta indera yang ada dalam tubuh manusia. Menurut

Bogdan dan Biklen (1982) (dalam Iskandar, 2009), penelitian dengan

pendekatan fenomenologi berusaha memahami makna dari suatu peristiwa

atau fenomena yang saling berpengaruh dengan manusia dalam situasi

tertentu. Penelitian dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi

bertujuan untuk dapat menggali lebih dalam kenyataan atau pengalaman

hidup informan sehingga informan dapat lebih terbuka dalam

menggambarkan perilaku yang dilakukan dan pengalaman yang dialami

(Haryani, 2014). Menurut peneliti, pendekatan fenomenologi adalah cara

yang dilakukan peneliti dalam mendekati informan untuk mengetahui

motivasi dari persepsi serta pengalaman informan dalam mendukung ASI

Eksklusif. Oleh karena itu, peneliti akan mendekati informan yang memiliki

(44)

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ciawi

Kabupaten Bogor Jawa Barat, yaitu pada bulan Agustus-November 2017.

Adapun alasan terpilihnya Puskesmas Kecamatan Ciawi sebagai tempat

penelitian adalah karena cakupan ASI Eksklusif Puskesmas Kecamatan

Ciawi tahun 2015 masih sangat rendah yaitu sebesar 29,41% dari target

capaian puskesmas yaitu sebesar 90%.

C. Informan Penelitian

Teknik penentuan informan dalam penelitian adalah dengan cara

purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik penetapan

informan yang sesuai dengan kategori atau kriteria penelitian (Iskandar,

2009). Informan pada penelitian ini adalah beberapa pasang suami istri yang

memilliki bayi berusia 6-12 bulan. Informan terdiri dari informan utama dan

informan pendukung. Informan utama adalah suami, sedangkan informan

pendukung adalah istri dan kader. Dalam pendekatan fenomenologi

penentuan jumlah informan menurut Creswell (1998; eds 2014), bahwa

ukuran sampel yang digunakan adalah 5 – 25 orang. Jumlah informan dalam

penelitian ini adalah 5 pasang suami istri dan kader yang mengenal dekat

informan. Akan tetapi, jumlah informan dapat bertambah sesuai dengan

(45)

29

Kriteria informan yang akan diteliti adalah suami dan istri yang

memiliki bayi berusia 6-12 bulan, suami mendukung ASI Eksklusif, istri

memberikan ASI secara eksklusif selama 0-6 bulan, serta kader yang dekat

dengan pasangan suami istri yang menjadi informan, serta suami dan istri

yang bertempat tinggal di wilayah kerja UPT Puskesmas Kecamatan Ciawi.

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan data primer

dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui Indepth Interview

(wawancara mendalam), dan observasi. Data sekunder diperoleh melalui

laporan terkait masalah yang diteliti seperti data persentase ASI eksklusif di

wilayah Puskesmas Kecamatan Ciawi dan data program (KIA, Gizi

Keluarga, dan Promosi Kesehatan) terkait ASI eksklusif.

E. Metode Pengambilan Data

1. Wawancara

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara mendalam

agar peneliti mendapatkan keterangan dari informan untuk keperluan

informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Peneliti akan melakukan

probing (menggali lebih dalam) dengan mengajukan pertanyaan yang

lebih terinci pada poin-poin pertanyaan saat wawancara informan untuk

mendapatkan jawaban yang lebih lengkap. Wawancara mendalam

(46)

sampai 2 jam tergantung pada topik pembahasannya (Badriah & Alkaff,

2013). Dalam hal ini, peneliti akan menyesuaikan waktu wawancara

dengan kesepakatan dan situasi informan.

2. Observasi

Kegiatan observasi meliputi pengamatan, pencatatan secara sistematik

kejadian-kejadian, perilaku, objek-objek yang dilihat, dan hal-hal yang

diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan.

Kegiatan observasi dilakukan untuk melihat secara realistis perilaku atau

kejadian dan untuk menjawab pertanyaan (Iskandar, 2009).

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman

wawancara mendalam, dan catatan lapangan (field note). Alat yang

digunakan adalah handphone, alat perekam (tape recorder), dan alat tulis.

G. Teknik Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini berupa pengumpulan data primer

dan sekunder, membuat transkrip wawancara, mengklasifikasikan data,

membuat matriks untuk klasifikasi data, dan menganalisa data untuk

membuat kesimpulan (Fikawati dan Syafiq, 2009).

Teknik analisa data menurut Miles dan Huberman (1984):

(47)

31

Reduksi data merupakan proses menyeleksi, memfokuskan,

menyederhanakan, mengabstraksikan, dan mengubah data yang

diperoleh. Reduksi data dapat dilakukan sebelum pengumpulan data dan

sesudah pengumpulan data. Sebelum pengumpulan data, reduksi data

yang dilakukan dapat berupa menentukan kerangka konsep, memilih

kasus, membuat pertanyaan penelitian, dan menentukan cara

pengumpulan data. Sedangkan setelah pengumpulan data, reduksi data

yang dilakukan dapat berupa menulis kesimpulan sementara, membuat

coding, memilih tema, membuat pengelompokan, dan menulis catatan

(Badriah & Alkaff, 2013).

2. Penyajian Data (display data)

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Penyajian data dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif. Pada

tahap ini peneliti akan menjelaskan dan menguraikan data-data yang

telah dikelompokan menjadi kalimat-kalimat yang bermakna agar sesuai

dengan tujuan umum dan tujuan khusus. Penyajian data merupakan

informasi yang diorganisasikan, diringkas, dan disusun sehingga

memungkinkan dibuat kesimpulan. Penyajian data dapat berupa matriks,

grafik, chart, atau networks (Badriah & Alkaff, 2013).

3. Kesimpulan (conclusion drawing/verification)

Pada tahap ini, peneliti akan menyimpulkan data yang sudah disajikan

secara naratif agar sesuai dengan tujuan penelitian. Penarikan

kesimpulan diverifikasi terus menerus selama proses analisis dengan

(48)

mencek data dari informasi lain, dan mengonfirmasikan dengan

kenyataan (Badriah & Alkaff, 2013).

Menurut Creswell (2010) (dalam Sugiyono, 2012) terdapat beberapa

langkah dalam menganalisis data sebagaimana berikut ini:

1. Mengolah data dan mengintrepetasikan data untuk dianalisis. Langkah ini

melibatkan transkrip wawancara, menscaning materi, mengerti data

lapangan atau memilah-milah dan menyusun data tersebut ke dalam

jenis-jenis yang berbeda tergantung sumber informasi.

2. Membaca keseluruhan data. Dalam tahap ini, menulis catatan-catatan

khusus atau gagasan-gagasan umum tentang data yang diperoleh.

3. Menganalisis lebih detail dengan mengkoding data. koding merupakan

proses mengolah materi atau informasi menjadi segmen-segmen tulisan

sebelum memaknainya.

4. Menerapkan proses koding untuk mendeskripsikan setting, orang-orang,

kategori, dan tema-tema yang akan dianalisis

5. Menunjukkan bagaimana deskripsi dan tema-tema ini akan disajikan

kembali dalam narasi atau laporan kualitatif.

6. Menginterpretasi atau memaknai data

H. Reliabilitas dan Validitas Data

Mengukur reliabilitas dalam kualitatif menurut Creswell (2010)

(49)

33

1. Mengecek hasil transkrip untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang

dibuat selama proses transkripsi.

2. Memastikan tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai

kode-kode selama proses koding. Hal ini dapat dilakukan dengan terus

membandingkan data dengan kode-kode atau dengan menulis cacatan

tentang kode-kode dan definisi-definisinya.

3. Untuk penelitian yang berbentuk tim, mendiskusikan kode-kode bersama

partner satu tim dalam pertemuan rutin sharing analisis.

4. Melakukan cross-check dan membandingkan kode-kode yang dibuat oleh

peneliti lain dengan kode-kode yang telah dibuat sendiri.

Menurut Creswell (2010) (dalam Sugiyono, 2012) validitas kualitatif

merupakan pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan

prosedur-prosedur tertentu. Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data

dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan

peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Menurut Moloeng (2007) (dalam Iskandar, 2009), dalam menguji

keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan

yang memanfaatkan sesuatu lain untuk keperluan pengecekan atau sebagai

pembanding terhadap data tersebut. Peneliti menggunakan triangulasi sebagai

cara untuk menguji validitas data. Triangulasi dibagi menjadi empat yaitu

triangulasi sumber, metode, penyidik, dan teori. Penelitian ini menggunakan

triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber adalah

pengujian untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan cara

(50)

triangulasi metode memungkinkan peneliti melengkapi kekurangan informasi

yang diperoleh metode tertentu dengan metode lainnya.

Triangulasi sumber melibatkan beberapa informan yaitu pasangan

suami istri dan kader. Tahap pertama informan kader digunakan sebagai

sumber yang mendukung data terkait kebenaran ASI Eksklusif dan kehidupan

pasangan suami istri yang akan menjadi informan. Tahap kedua istri

digunakan sebagai sumber yang mendukung data terkait bentuk-bentuk

dukungan suami yaitu dukungan informasi, penghargaan, penilaian, dan fisik.

Tahap ketiga, suami digunakan sebagai informan utama yang memberikan

data terkait jenis-jenis motivasi (internal, eksternal, dan amotivasi) yang

digunakan suami dalam mendukung ASI Eksklusif. Tahap keempat,

pernyataan para suami dan para istri dipilah kedalam sub tema penelitian

untuk diberi kesimpulan sementara.

Triangulasi metode melibatkan metode wawancara disertai wawancara

mendalam dan observasi. Seluruh informan akan diberikan pertanyaan

melalui wawancara disertai wawancara mendalam untuk mendapatkan data

yang sesuai dengan tujuan umum maupun khusus. Metode observasi

(51)

35 BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Puskesmas Kecamatan Ciawi terdiri dari lima desa yaitu desa Ciawi,

Bendungan, Pandansari, Banjarwaru dan Bitungsari. Perbatasan wilayah

kerja UPT Puskesmas Ciawi adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara: berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja Kabupaten

Bogor

2. Sebelah Timur: berbatasan dengan Kecamatan Megamendung Kab

Bogor

3. Sebelah Selatan: berbatasan dengan Kecamatan Caringin Kab Bogor

4. Sebelah Barat: berbatasan dengan Kota Bogor

Puskesmas Kecamatan Ciawi terletak di Kecamatan Ciawi dengan luas

wilayah 2.518 Hektar yang terdiri dari tanah darat 1471,827 M2 dan tanah

sawah 1046.173 M2 . Jumlah penduduk Kecamatan Ciawi 108.171

Jiwa,terdiri 55.912 jiwa laki laki dan 52.259 perempuan. Jarak Ibukota

Kecamatan Ciawi dengan Ibukota Kabupaten Bogor 28 km.

Menurut data Puskesmas Kecamatan Ciawi, cakupan ASI eksklusif

tiap wilayah kerja pada bulan Januari tahun 2016 adalah desa Ciawi

(21,4%), Bendungan (100%), Pandansari (12,5%), Banjarwaru (39%) dan

(52)

B. Karakteristik Informan

Informan penelitian memiliki kriteria yaitu suami dan istri yang

memiliki bayi berusia 6-12 bulan, suami mendukung ASI eksklusif, istri

memberikan ASI secara eksklusif selama 0-6 bulan, serta kader yang dekat

dengan pasangan suami istri yang menjadi informan, serta suami dan istri

yang bertempat tinggal di wilayah kerja UPT Puskesmas Kecamatan Ciawi.

Informan yang diteliti sebanyak lima pasang. Nama inisial pasangan informan

yang pertama adalah U (suami) dan M (istri). Nama inisial pasangan kedua M

(suami) dan J (istri). Nama inisial pasangan ketiga J (suami) dan N (istri).

Nama inisial pasangan keempat S (suami) dan A (istri). Nama inisial

pasangan kelima H (suami) dan S (istri). Berikut adalah karakteristik

(53)

37

Tabel 5.2. Karakteristik Informan

Informan Umur Bayi (bulan)

Jumlah Anak

(54)
(55)

39

tinggal dengan orang tua) Pasangan

5

7 1 Kampung

Seseupan Desa Bendungan (rumah berdekatan dengan rumah orang tua)

Pengurus dan Pengajar Pondok Pesantren

27 Ibu

Rumah Tangga

(56)

40 C. Gambaran Motivasi Suami

1. Motivasi Intrinsik

a. Pengetahuan

Para suami mengungkapkan pendapat mereka terkait apa

yang mereka ketahui tentang ASI eksklusif seperti pengertian dan

manfaat ASI eksklusif, membandingkan ASI dengan susu formula,

serta cara melancarkan ASI eksklusif. Pengetahuan para suami

terkait pengertian ASI eksklusif dinilai masih kurang karena masih

ada dari mereka yang kurang tepat mengungkapkan pengertian ASI

eksklusif. Sedangkan pengetahuan tentang ASI eksklusif lainnya

seperti manfaat, perbandingan ASI dengan susu formula, dan cara

melancarkan ASI, dinilai cukup beragam.

Berdasarkan keterangan beberapa orang suami, pengertian

ASI eksklusif merupakan Air Susu Ibu yang diberikan antara 0-6

bulan, kemudian Air Susu Ibu tidak boleh dicampurkan oleh air,

teh, madu, buah, dan makanan pendamping ASI lainnya dari usia

bayi 0 sampai 6 bulan. Berikut salah satu pendapat informan yang

tepat mengenai pengertian ASI eksklusif:

“dari melahirkan ya, mungkin kurang lebih 6 bulan,... kalo udah

boleh makan baru diberikan buah, air. Kalo baru lahir sampe 6

bulan mah ASI aja udah cukup. ... mungkin ya sepengetahuan saya

(57)

41

Walaupun begitu ada pula suami yang mengatahan bahwa

diusia 0-6 bulan boleh jika diberikan susu formula atau buah,

padahal istri mereka memberikan ASI eksklusif. Salah seoarang

suami memperbolehkan bayinya diberikan susu formula diusia 0-6

bulan apabila air susu ibunya sedikit. Alasannya agar bayinya tidak

kekurangan nutrisi makan dan minumnya. Sedangkan pendapat

suami lainnya yang setuju bayinya diberikan buah memiliki alasan

agar bayinya dapat tambahan nutrisi dari buah. Berikut pernyataan

informan:

“boleh diberikan susu formula paling. Kalo kekurangan... kalo

cukup mah engga, ya Alhamdulillah, ...” (Suami 3)

“ga boleh ya kalo baru lahir mah ya belum boleh.. tapi kalo buah

mah boleh diberikan.” (Suami 1)

Manfaat ASI eksklusif yang dipahami oleh para suami

diantaranya adalah baik untuk pertumbuhan, kesehatan, kekebalan

tubuh, kecerdasan, dan dapat mendekatkan hubungan ibu dan anak.

Berikut salah satu pendapat informan yang sama dengan pendapat

informan lainnya:

“buat pertumbuhan anak gitu, biar sehat anaknya. Haha” (Suami

2)

Para suami juga membandingkan ASI eksklusif dengan

(58)

lebih steril, alami, lebih sehat, dan dapat mencerdaskan bayi

mereka. Berikut salah satu pendapat informan:

“kalo setau saya kalo pake formula itu sebetulnya kalo buat

pertumbuhan sama, cepet gede juga kalo pake susu formula, kalo

diberikan ASI kan agak kurang (kurang besar pertumbuhan

fisiknya), tapi kalo kesehatan ya dijamin (untuk yang pakai ASI

eksklusif), kalo kecerdasan saya masih kurang tau tapi anak saya

pake ASI, alhamdulillah pinter mba,...” (Suami 4)

Pengetahuan lainnya menurut para suami adalah tentang

cara melancarkan ASI eksklusif yaitu dengan makan sayur yang

banyak, dan dari lahir sudah dibiasakan minum ASI. Berikut salah

satu pendapat informan yang terkait:

“hehe, ya kan kalo lagi menyusui kan harus makan sayur-sayuran,

begitukan?” (Suami 2)

Walaupun para suami belum memiliki pengetahuan yang

baik terkait ASI eksklusif, akan tetapi mereka tetap mendukung

ASI eksklusif dan mencari informasi terkait ASI eksklusif dengan

menemani istri konsultasi kesehatan atau mencari tahu melalui

media massa (internet).

b. Stimulasi

Suami memiliki reaksi yang positif ketika istri mengambil

(59)

43

bahwa suami termotivasi karena adanya stimulus dari istri yang

setuju memberi ASI secara eksklusif. Sikap atau reaksi suami

ketika istri memberikan ASI eksklusif dinilai cukup beragam.

Suami merasa bangga ketika istri memberi ASI eksklusif. Reaksi

lainnya muncul apabila istri tidak memberi ASI maka reaksi suami

akan khawatir dengan anaknya. Suami khawatir kepada bayinya

apabila kekebalan tubuhnya berkurang dan mudah jatuh sakit.

Ada pula suami yang bereaksi kecewa kepada istrinya.

Suami kecewa apabila istri tidak memberikan ASI eksklusif karena

istrinya tidak memenuhi ambisinya untuk memberi bayinya ASI

eksklusif. Ambisi tersebut muncul karena suami tidak ingin kalau

anaknya disebut sebagai ‘anak sapi’ dengan kata lain suami

menginginkan adanya interaksi dan hubungan yang harmonis

antara istri dan bayinya. Berikut adalah salah satu pendapat

informan yang terkait:

(kalau istri tidak memberi ASI) “saya agak kecewa juga ya,... kan

biar lebih deket sama ibunya aja kan ya, daripada dibilang susu

sapi, eh anak sapi, hahah,”(Suami 5)

Kemudian ada suami yang merasa bangga untuk alasan

kesehatan anaknya akan tetapi lebih menekankan perasaan

bersyukur dan bangganya karena alasan ekonomi. Sehingga

stimulasi tersebut bukan karena istri memberi ASI eksklusif

(60)

tindakan mendukung ASI eksklusif. Alasan ekonomi yang

dimaksud adalah biaya hidup sehari-hari yang dinilai berat tidak

dapat lagi dibebani dengan keperluan lainnya. Sehingga suami

sangat menyarankan kepada istri untuk berhemat salah satunya

tidak membeli susu formula, dan hanya memberikan ASI untuk

anaknya. Pekerjaan suami sebagai buruh bangunan (yang hanya

mendapatkan pekerjaan ketika ada panggilan) menjadi penyebab

kurangnya penghasilan keluarga. Berikut pendapat informan:

ya, gimana yak, hehe masalah keuangan ini hahah” (Suami 1)

c. Kemampuan

Kemampuan yang dimaksud oleh peneliti adalah dukungan

yang dapat dilakukan oleh suami yaitu berupa dukungan

emosional, penghargaan, informasi, dan fisik. Berbagai cara

dilakukan suami dalam mendukung istri memberi ASI eksklusif.

Sehingga dapat dikatakan bahwa suami termotivasi karena mampu

mendukung ASI eksklusif secara emosional, penghargaan,

informasi, dan fisik. Ada pula suami yang tidak mampu

mendukung lebih secara fisik dan informasi karena alasan sibuk

bekerja dan jarang dirumah.

Para suami mampu mendukung secara emosional,

penghargaan, informasi, dan fisik. Dukungan emosional yang

diberikan para suami diantaranya adalah perasaan bangga karena

(61)

45

banyak sehingga kebutuhan anak terpenuhi, perhatian kepada istri

agar istri sehat selalu dan berambisi mendukung ASI eksklusif.

Dukungan penghargaan yang diberikan para suami

diantaranya adalah tidak setuju bila bayinya diberikan makanan

dan minuman selain ASI eksklusif karena belum cukup usia,

berusaha mempercepat atau melancarkan ASI dengan cara

tradisional, dan setuju mendukung ASI eksklusif. Berikut salah

satu bentuk dukungan penghargaan yang diberikan informan yaitu:

“kalo saya dari dulu belum pernah mba (puting lecet), kalo ASInya

kurang/dikit ya saya berusaha itu buat mempercepat itu saya pake

daun katuk satu pepaya muda, direbus, kalo engga jantung

pisang.” (Suami 4)

Dukungan informasi yang diberikan suami diantaranya

adalah memulai memberi ASI sejak baru lahir agar ASI terus

lancar dan banyak, jika ada kendala pada salah satu payudara atau

kedua payudara maka payudara digunakan secara bergantian untuk

memberi ASI, dan selama satu minggu bayi dapat bertahan tanpa

ASI jadi selama itu suami harus melakukan berbagai cara agar

produksi ASI banyak seperti memberi sayur dan buah untuk istri

serta merangsang dengan menyusui bayi. Berikut salah satu bentuk

dukungan informasi yang diberikan informan yaitu:

“waktu baru pas ngelahirin juga susah keluar tapi kan dari dokter

(62)

gapapa bayi masih bertahan gitu, jadi diusahain terus dipacu.”

(Suami 4)

Dukungan fisik yang diberikan suami diantaranya adalah

ada suami yang menggunakan pompa ASI agar produksi ASI

banyak, ada yang membeli susu untuk ibu menyusui agar produksi

ASI banyak, ada yang membelikan sayur dan buah sepulang kerja,

dan ada pula yang memberi pelayanan berupa membantu istri

mengendong bayi dan mengajak bermain anaknya (berdasarkan

observasi). Berikut salah satu bentuk dukungan fisik yang

diberikan informan yaitu:

“kalau selama masih ada ASInya mah ya paling pake pompa,..

waktu yang pertama begitu, pas pertama lahir mah pake gitu, tapi

pas udah kesininya mah udah makan sayuran itu, Alhamdulillah

banyak ya udah gitu.”(sambil mengendong kemudian memangku

bayinya) (Suami 2)

Adapula suami yang hanya mampu mendukung secara

emosional dan penghargaan. Alasan informan diantaranya adalah

informan jarang dirumah karena sibuk mencari uang sehingga

informan menyerahkan segala urusan rumah tangga termasuk

mengurus bayi kepada istrinya. Walaupun begitu suami tersebut

memberi dukungan dengan memuji istri (dukungan emosional),

(63)

47

eksklusif (dukungan penghargaan). Berikut dukungan emosional

informan terkait:

“wah bukan cuma bangga, (sambil menatap mesra istrinya dan

tersenyum, sang istri tertawa sambil malu-malu dan wajah

memerah)” (Suami 1)

Berikut dukungan penghargaan informan terkait:

“iya yakin saya hehe. (istrinya dapat mengurus anak dan memberi

ASI tanpa mencampur dengan susu formula)” (Suami 1)

2. Motivasi Ekstrinsik

a. Identifikasi Regulasi

Manfaat ASI eksklusif dirasakan oleh para suami cukup

beragam. Pengetahuan terkait manfaat ASI eksklusif didapatkan

berdasarkan pengalaman dan sumber informasi lainnya seperti

mengikuti konsultasi dan melalui media internet. Berdasarkan

keterangan para suami, dapat disimpulkan bahwa mereka

termotivasi karena menyadari banyaknya manfaat ASI eksklusif

bagi bayi mereka.

Para suami mengakui bahwa ASI eksklusif lebih bagus

karena nutrisi lebih banyak dari formula, makanan pertama bagi

bayi, kebutuhan makan dan minum anak, dapat mencerdaskan,

(64)

harmonis antara ibu dan anak. Berikut salah satu pendapat

informan:

“iya pinter, saya ga tau apa jangan jangan karna susu Eksklusif

apa engga, tapi setau saya Eksklusif bisa buat kesehatan otomatis

buat kecerdasan juga bisa,...” (Suami 4)

b. Introjeksi Regulasi

Para suami setuju bahwa mendukung ASI eksklusif

merupakan kewajiban dan tanggung jawab suami. Alasan mereka

menyetujui bahwa suami berkewajiban dukung ASI eksklusif

cukup beragam. Walaupun suami menyadari bahwa mendukung

ASI eksklusif merupakan kewajibannya, adapula suami yang tidak

mengetahui cara menjalankan kewajiban tersebut. Alasannya

karena pengetahuan mereka yang kurang terkait ASI eksklusif dan

kesibukan mereka bekerja. Hal tersebut berpengaruh pada

dukungan yang diberikan oleh suami kepada istri.

Alasan suami setuju berkewajiban mendukung ASI

eksklusif diantaranya adalah untuk kesehatan bayinya, ASI

memiliki kualitas yang lebih baik dari susu formula, dan agar bayi

tercukupi kebutuhan nutrisinya. Salah satu suami setuju dan

berjuang untuk kelancaran memberikan ASI istrinya. Upaya yang

dilakukan suami demi kelancaran ASI istrinya adalah menemani

(65)

49

dapat memicu produksi ASI yang lebih banyak. Berikut salah satu

pernyataan informan:

“ya saya tanggung jawab saya siap sedia makanya saya usahakan

biar istri saya sehat selalu, makanya kalo istri saya pusing pusing

langsung saya kontrol ke bidan gitu.... waktu baru pas ngelahirin

juga susah keluar tapi kan dari dokter udah ngasih tau ini selama

satu minggu ga pake minum ASI gapapa bayi masih bertahan gitu,

jadi diusahain terus dipacu.” (Suami 4)

Para suami setuju berkewajiban mendukung ASI eksklusif,

salah satu suami yang setuju berkewajiban mendukung ASI karena

ASI banyak sehingga bayi tidak merasa kekurangan makan dan

minum. Apabila ASI sedikit dan puting istri lecet maka suami akan

memberi susu formula kepada bayinya karena merasa bayinya akan

kekurangan nutrisi dan kasihan kepada istrinya jika dipaksa diberi

ASI ketika putingnya lecet. Walaupun begitu, suami tersebut tetap

dinyatakan bertanggung jawab mendukung ASI eksklusif karena

sebelum memberikan minum dan makanan lain selain ASI

eksklusif kepada bayinya, suami tersebut tetap mengupayakan

dengan memberi susu ibu menyusui untuk istri dan menyarankan

kepada istri untuk bergantian menggunakan payudara ketika

Gambar

Tabel 5.2 Karakteristik Informan
Tabel 3.1 Definisi Istilah
Tabel 5.2. Karakteristik Informan

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang

Kebijakan Pemerintah tentang pupuk bersubsidi untuk para petani dapat terlaksana dengan baik apabila program tersebut dapat berkesinambungan dan adanya kerja sama

pemnsarnn terhadap pcnlaku konsumen dalam memilih penginapan dan f.Jktor harga memiliki pcngaruh ynng paling domimm mempL'ngaruhi.. perilaku ォッョNセオュ・ョ@

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Penentuan subjek penelitian atau

Informasi Berisi Tentang Target dan realiasi Pendapatan Daerah dari DBH Royalti Pertambangan Umum yang telah maupun yang akan datang (2012 seterusnya).

Akan tetapi penambahan sari buah tomat melebihi 20% dalam pengencer natrium sitrat kuning telur pada penelitian ini, justru menurunkan persentase spermatozoa hidup

Dunia penerbangan saat ini benar-benar menjadi sorotan mass media, hal ini yang menjadi faktor mengapa dunia transportasi udara kita yang kurang baik dan tidak memiliki

1) Faktor – faktor yang berhubungan dengan praktik bidan dalam penggunaan algoritma manajemen terpadu bayi muda adalah pengetahuan, sikap terhadap manajemen terpadu