• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI BERB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI BERB"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTANSI PENDIDIKAN KARAKTER DI BERBAGAI

JENJANG PENDIDIKAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Antropologi Pendidikan Dosen Pengampu: DR. Siti Irene Astuti D.

Disusun Oleh:

1. Fitriatik (14803241079)

2. Erna Fitriana (14803244002)

3. Muliawan Muhammad K (14803244011)

4. Rizki Rohana Putri (14803244015)

5. Itsna Cahya Fajriani (14803244016)

PENDIDIKAN AKUNTANSI C 2014 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada era sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi setiap lapisan masyarakat. Setiap individu memerlukan pendidikan agar dapat menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Dalam pelaksanaan pendidikan diperlukan adanya sarana dan prasarana yang mendukung pendidikan tersebut. Sarana yang dibutuhkan untuk mendukung berhasilnya pendidikan adalah lingkungan sekolah yang baik. Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu pendidikan. Menurut para ahli, kondisi lingkungan berpengaruh terhadap pendidikan yang dilakukan oleh individu.

Sekarang kondisi di dunia pendidikan di Indonesia sedang “menderita sakit”. Alasan mengapa kondisi Indonesia saat ini dikatakan dalam kondisi sakit adalah kerena sekarang ini makin banyaknya tindakan-tindakan amoral yang terjadi di Indonesia. penyakit masyarakat yang kini sedang menjangkit bangsa kita diantaranya makin banyaknya kasus korupsi, pencurian, pembegalan, meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba. Dalam lingkungan pendidikan sendiri masalah yang kini patut menjadi perhatian adalah kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah, dan kasus bullying. Masalah ini merupakan masalah yang serius karena apabila hal ini tidak segera mendapat perhatian maka akan menimbulkan masalah yang lebih serius lagi yang berakibat pada generasi selanjutnya.

(3)

dapat terwujud. Agar pendidikan karakter tersebut dapat terwujud maka diperlukan adanya lingkungan yang tepat. Dari penjelasan di atas, maka penulis menggagas ide sederhana yang di tuliskan dalam makalah ini, dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter di Berbagai Jenjang Pendidikan”.

B. Rumusan Masalah

1. Permasalahan apa saja yang melatarbelakangi pentingnya model sekolah pendidikan karakter?

2. Apa itu budaya sekolah? Dan bagaimana budaya sekolah pada sekolah yang menerapkan pendidikan karakter?

3. Bagaimana implementasi pendidikan karakter di berbagai jenjang pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi?

4. Hal apa saja yang menghambat implementasi gagasan pendidikan karakter? 5. Bagaimana solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan implementasi

gagasan pendidikan karakter? C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui impelementasi pendidikan karakter di berbagai jenjang pendidikan.

2. Nilai-nilai apa saja yang seharusnya ada di sekolah agar terwujudnya pendidikan karekter kepada siswanya, sehingga mencegah adanya tindakan amoral di dunia pendidikan.

3. Mengetahui tentang budaya sekolah pada sekolah yang menerapkan pendidikan karakter.

D. Manfaat Penulisan

(4)

BAB II

LANDASAN TEORI

Sebelum kita membahas mengenai permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia, sebaiknya kita melihat definisi dari pendidikan itu sendiri terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.

Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut:

“Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14)”.

Negara juga telah mengatur tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 (Versi Amandemen) pasal 31 yaitu sebagi berikut :

1. Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

2. Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

(5)
(6)

BAB III PEMBAHASAN

A. Permasalahan yang Melatarbelakangi Pentingnya Model Sekolah Pendidikan Karakter

(7)

dan kebanyakan pengecut, penakut, dan manipulatif. Pada intinya mahasiswa telah kehilangan kesadaran yang tercermin dari gaya hidup, watak dan tindakannya.

Bentuk rusaknya karakter yaitu dengan adanya fenomena-fenomena saat ini yang pertama adalah banyak terjadi kekerasan di lingkungan sekolah yang berdampak pada pembentukan karakter. Terdapat beberapa bentuk kekerasan, meliputi :

1. Kekerasan antara peserta didik, contohnya adalah kasus school bullying

yaitu perilaku agressif yang dilakukan secara berulang – ulang oleh seseorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebu. Perilaku tersebut terbagi menjadi lima kategori yaitu:

a. Kontak fisik langsung, seperti memukul, menjambak, menendang, mengunci di dalam ruangan dan lain sebagainya.

b. Kontak verbal langsung, seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan dan mengintimidasi.

c. Perilaku non verbal langsung, seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah namun biasanya disertai dengan bullying fisik atau verbal.

d. Perilaku non verbal tidak langsung, seperti mendiamkan seseorang dan memanipulasi persahabatan.

e. Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku fisik atau verbal). 2. Kekerasan dalam bentuk perpeloncoan yang biasanya terjadi karena

hubungan senioritas-junioritas contohnya biaasa terjadi pada saat adanya masa orientasi siswa atau OSPEK, senior yang memperlakukan junior sewenang – wenang.

3. Kekerasan pendidik terhadap peserta didik

(8)

semua mata pelajaran dimana hal – hal tersebut membuat jiwa siswa menjadi tertekan dan hasilnya mereka tidak bisa belajar dengan baik. Selain itu perilaku yang tidak senonoh yang dilakukan guru kepada siswanya misal pencabulan.

4. Kekerasan yang bersifat sistemik dan ideologis, sistem pendidikan kurikulum dan model pembelajaran yang menumpulkan potensi – potensi siswa.

Mahatma Gandhi mengatakan bahwa akar dari kekerasan adalah kemewahan tanpa bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, ilmu tanpa kepribadian, sains tanpa humanitas, penyembahan tanpa pengorbanan dan politik tanpa nilai.

Kedua, bentuk lemahnya karakter pelajar dan mahasiswa disebabkan karena “cinta”. Pelajar tingkat sekolah dasar pun sudah mengenal pacaran. Padahal pacaran merupakan perusak mental, karakter, dan kecerdasan. Terbukti dengan perilakunya sehari – hari karena pacaran jadi tidak fokus dalam belajar, banyak waktu terbuang sia – sia, dan banyak menimbulkan perbuatan – perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar. Kerusakan kepribadian seorang mahasiswa juga disebabkan oleh cinta yang hanya “main-main” melanggar prinsip – prinsip etika dan menunjukkan dangkalnya pengetahuan serta rusaknya karakter.

(9)

Diperlukan keoptimisan untuk mengatasi rusaknya karakter siswa di berbagai jenjang sekolah dengan model pendidikan karakter yang diimplementasikan dengan strategi yang baik sehingga segala hambatan dalam penerapannya dapat diatasi, dan akan terbukti bahwa sekolah ternyata bisa memperbaiki kerusakan karakter bangsa.

B. Budaya Sekolah

(10)

Menurut Nusyam (2011), setidaknya ada tiga budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu budaya akademik, budaya nasional serta lokal, dan budaya demokratis. Ketiga kultur ini harus menjadi prioritas yang melekat dalam lingkungan sekolah.

1. Budaya Akademik

Kultur akademik memiliki ciri pada setiap tindakan, keputusan, kebijakan, dan opini didukung dengan dasar akademik yang kuat. Artinya merujuk pada teori, dasar hukum, dan nilai kebenaran yang teruji. Dengan demikian, kepala sekolah, guru, dan siswa selalu berpegang pada pijakan teoritik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kesehariannya. Kultur akademik tercermin pada kedisiplinan dalam bertindak, kearifan dalam bersikap, serta kepiawaian dalam berpikir dan berargumentasi. 2. Budaya Nasional dan Lokal

Budaya nasional tercermin pada pengembangan sekolah yang memelihara, membangun, dan mengembangkan budaya bangsa yang positif dalam kerangka pembangunan manusia seutuhnya. Sekolah akan menjadi banteng pertahanan terkikisnya budaya akibat gencarnya serangan budaya asing yang tidak relevan seperti budaya hedonisme, individualisme, dan materialisme. Di sisi lain sekolah terus mengembangkan seni tradisi yang berakar pada budaya lokal yang dikreasi untuk dikemas secara modern dengan tetap mempertahankan keasliannya. 3. Budaya Demokratis

Kultur demokratis menampilkan corak berkehidupan yang mengakomodasi perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan. Kultur ini jauh dari pola tindakan diskriminatif dan otoririanisme serta sikap mengabdi atasan secara membabi buta. Warga sekolah selalu bertindak objektif, transparan, dan bertanggung jawab.

Menurut Lickona, terdapat enam elemen budaya sekolah yang baik, yaitu sebagai berikut.

1. Pimpinan sekolah memilik kepemimpinan moral dan akademik. 2. Disiplin ditegakkan di sekolah secara menyeluruh.

(11)

4. Organisasi siswa menerapkan kepemimpinan demokratis dan menumbuhkan rasa bertanggung jawab bagi para siswa untuk menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah yang terbaik.

5. Hubungan semua warga sekolah bersifat saling menghargai, adil, dan bergotong royong.

6. Sekolah meningkatkan perhatian terhadap moralitas dengan menggunakan waktu tertentu untuk mengatasi masalah-masalah moral.

C. Implementasi Pendidikan Karakter di Berbagai Jenjang Pendidikan 1. Implementasi Pendidikan Karakter di TK (PAUD)

Pada beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa terdapa hubungan erat antara keberhasilan akademik serta perilaku pro-sosial anak, sehingga diperlukan suasana lembaga PAUD yang menyenangkan dan kondusif agar proses pembelajaran berlangsung efektif. Begitu pula pemelajaran di Taman Kanak-kanak (TK). Pendidikan kanak-kanak (TK) merupakan salah satu bentuk PAUD yang memiliki peran penting untuk mengembangkan keperibadian anak serta mempersiapakan peserta didik memasuki jenjang selanjutnya. Sebagai salah satu bentuk pendidikan anak usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini sekurang-kurangnya 4 tahun sampai memasuki jenjang pendidikan dasar. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menyatakan: “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pembinaan rangsangan pendidikan untuk membentuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

(12)

memberikan rekomendasi tentang kompetensi yang harus dicapai oleh anak-anak usia TK yang mencakup: percaya diri (confidence), rasa ingin tahu (curiosity), motivasi, kemampuan kontrol diri (self-control), kemampuan bekerja sama (cooperation,)mudah bergaul dengan sesamanya, mampu berkonsentrasi, rasa empati, kemampuan berkomunikasi.

2. Implementasi Pendidikan Karakter di SD (Sekolah Dasar)

Proses belajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan pemahaman para guru mengenai karakteristik siswa dan proses pembelajarannya, khususnya di SD. Dalam psikologi perkembangan, usia peserta didik di SD berada dalam periode late childhood (akhir masa kanak-kanak). Mereka kira-kira berada dalam rentang usia antara enam/tujuh tahun sampai sekitar tiga belas tahun. Periode ini ditandai dengan kondisi yang sangat memengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak.

Pada saat anak masuk ke kelas satu, terjadi perubahan besar dalam kehidupan anak. Mereka dihadapkan pada suasana lingkungan baru yang menuntut mereka dapat menyesuaikan diri. Masuk ke kelas satu inilah merupakan peristiwa penting dalam kehidupan anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan sikap, nilai, dan perilaku. Hal yang sama juga terjadi pada setahun atau dua tahun terakhir pada masa kanak-kanak (late childhood). Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang menonjol, yang dapat mengakibatkan perubahan sikap, nilai, dan perilaku. Disebabkan menjelang berakhirnya periode ini, anak mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja. Pada masa-masa akhir kanak-kanak lah seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

(13)

ini akan menambah perasaan harga diri dan menjadikannya sebagai anak yang berguna sehingga anak menjadi suka bekerja sama, dapat menunjukkan keakuaannya tentang jenis kelamin, mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu berbagi, dan mandiri. Sementara itu, play skills terkait dengan kemampuan motorik, seperti melempar, menangkap, berlari, dan keseimbangan. Anak yang terampil dapat membuat penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sekolah dan masyarakat.

Pendidikan di SD dilaksanakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dikembangkan oleh guru. Proses pembelajaran harus dirancang guru sehingga kemampuan siswa, bahan ajar, proses belajar, dan sistem penilaian sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Kecenderungan belajar anak usia SD memiliki tiga ciri-ciri.

a. Konkret

Konkret mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret, yaitu yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik. Proses belajar dilakukan dengan dihadapkan pada peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, sehingga lebih nyata, faktual, bermakna, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

b. Integratif

Pada tahap usia SD, anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan. Mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu. Hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif, yaitu dari hal umum ke bagian demi bagian.

c. Hierarkis

Pada tahap usia SD, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Berikut terdapat nilai-nilai berbasis pendidikan karakter yang dapat diterapkan di SD.

1. Keteladanan

(14)

Misalnya, nilai disiplin, kebersihan dan kerapian, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras. Kegiatan ini meliputi berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, dan datang tepat waktu.

2. Pembiasaan Spontan

Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang tidak baik akan dikoreksi dan yang baik akan dipuji. Kegiatan ini tidak terjadwal dalam kejadian khusus, seperti pembentukan perilaku memberi senyum-sapa-salam, membuang sampah pada tempatnya, budaya antre, mengatasi perkelahian, saling mengingatkan ketika melihat pelanggaran tata tertib sekolah, dan lain sebagainya.

3. Pembiasaan Rutin

Pembiasaan rutin merupakan salah satu kegiatan pendidikan karakter yang terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di sekolah. Kegiatan ini dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contohnya, upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut, dll) setiap hari Senin, beribadah bersama atau shalat bersama setiap Zuhur (bagi yang beragama Islam), berdoa sewaktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru, tenaga kependidikan, atau teman. 4. Pengkondisian

Pengkondisian dilakukan dengan menciptakan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, adanya tempat sampah yang strategis, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam kelas, dan kesehatan diri.

(15)

ke arah yang benar. Pendidikan karakter bisa diajarkan melalui apa saja dan dimana saja, contoh yang formal yaitu sekolah. Di sekolah tentunya telah diajarkan nilai-nilai yang berkaitan pendidikan berkarakter yang di dalamnya berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan atau hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM. Hal itu terangkum dalam butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan. Berikut adalah daftar nilai-nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya :

a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan

Nilai religious maksudnya pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya sebagai contoh tiap pagi sebelum memulai pelajaran diadakan ngaji bersama atau sholat berjamaah di waktu Dhuhur.

b. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri a) Jujur

b) Bertanggung jawab c) Bergaya hidup sehat d) Disiplin

e) Kerja keras f) Percaya diri g) Berjiwa wirausaha

h) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif i) Mandiri

c. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama a) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain b) Patuh pada aturan-aturan social

(16)

d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan dan kebangsaan a) Peduli sosial dan lingkungan

b) Nilai kebangsaan c) Nasionalis

d) Menghargai keberagaman

3. Implementasi Pendidikan Karakter di SMA (Sekolah Menengah Atas) Usia-usia semasa SMA berada pada tingkatan remaja yang menuju pada kedewasaan. Mereka sudah dapat menempatkan dirinya sebagai bagian dari anggota masyarakat dan siap terjun ke masyarakat luas. Sebenarnya, pembentukan pendidikan karakter di jenjang SMA ini sama halnya dengan jenjang sebelumnya. Namun, masih terdapat perbedaan pada sikap dan perlakuan guru. Di SMA, guru tidak lagi menuntun penuh para peserta didiknya karena usia 16-18 tahun dianggap sudah mandiri dan mampu berpikir logis. Tetapi, bukan berarti peran guru itu hilang. Peran guru di SMA tetap ada yakni sebagai pendidik, pengajar, pembina, pendamping, dan lain sebagainya.

Lickona (1991:346) menyebutkan adanya 6 unsur moral positif yang hendaknya ditanamkan di lingkungan sekolah, khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat).

1. Kepala sekolah hendaknya memperlihatkan kepemimpinan moral akademik dengan cara:

a. Mengartikulasikan visi dan misi sekolah secara jelas.

b. Memperkenalkan semua warga sekolah dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dan strategi pencapaiannya serta penilaian terhadap tujuan-tujuan tersebut.

c. Meminta dukungan dan partisipasi para orang tua/wali siswa.

d. Memodelkan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan sekolah melalui interaksi dengan para guru, karyawan, siswa, dan orang tua/wali siswa.

2. Pihak sekolah membuat aturan-aturan atau disiplin sekolah (nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan) yang efektif dengan cara:

(17)

b. Mengatasi masalah-masalah perilaku siswa sekolah (nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan) dengan cara yang dapat membantu perkembangan moral mereka.

c. Memberikan jaminan bahwa nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang ditetapkan pihak sekolah akan ditegaskan sepenuhnya di lingkungan sekolah dan dengan segera akan menghentikan semua perilaku yang menyimpang.

3. Pihak sekolah menciptakan suasana sekolah yang nyaman dengan cara: a. Mendorong semua warga sekolah untuk memberikan perhatian

dan kepeduliannya antara satu dengan yang lain.

b. Memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk saling mengenal satu dengan lainnya, demikian juga dengan kepala sekolah, guru, karyawan.

c. Menjadikan sebagian besar siswa agar tertarik untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler.

d. Memperkuat kegiatan keolahragaan.

e. Memasang berbagai visualisasi atau famlet yang akan membantu perkembangan nilai, norma dan kebiasaan-kebiasaan yang positif. f. Menekankan setiap kelas untuk memberikan sumbangannya yang

positif dan bermanfaat bagi sekolah.

4. Pihak sekolah dapat menggunakan organisasi siswa (OSIS) untuk mempromosikan terbinanya warga sekolah yang memiliki tanggung jawab bersama terhadap sekolah yaitu dengan cara:

a. Menjadikan OSIS berperan memaksimalkan partisipasi mereka dan menguatkan interaksi diantara kelas-kelas yang ada dengan lembaga kesiswaan

b. Memberikan tanggung jawab kepada lembaga kesiswaan untuk dapat mengatasi persoalan-persoalan dan isu-isu yang memberikan akibat terhadap kualitas kehidupan sekolah.

5. Pihak sekolah dapat menciptakan komunitas moral dengan cara:

a. Menyediakan waktu dan dukungan kepada para guru untuk bekerja bersama-sama dalam menyusun pembelajaran yang bermuatan karakter.

(18)

a. Melunakkan tekanan-tekanan akademik sehingga para guru tidak mengabaikan perkembangan sosial dan moral para siswa.

b. Mendorong para guru untuk senantiasa bekerja atas dasar nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang positif.

Nilai karakter diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran terwujud dalam interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan siswa, serta penugasan dan manajemen kelas. Interaksi siswa dengan guru pada kegiatan awal menerapkan nilai karakter religius pada kegiatan guru mengucapkan salam dan membiasakan siswa berdoa bersama. Pada kegiatan inti, ditemukan karakter disiplin, mandiri, kerjasama, tanggung jawab, dan komunikatif ketika guru memberikan materi pembelajaran lalu memberikan tugas beserta prosedur penugasan pada siswa baik secara individu maupun kelompok. Pada kegiatan penutup, ditemukan karakter religius ketika guru memberikan salam dan membiasakan siswa berdoa bersama ketika akhir pembelajaran.

Nilai karakter diimplementasikan dalam evaluasi pembelajaran terwujud dalam penilaian proses melalui kegiatan mengerjakan tugas dan dapat melalui pengamatan siswa di dalam kelas. Penilaian hasil didapatkan dari tugas yang telah dikerjakan siswa. Guru menunjukkan kekurangan dan memberikan bimbingan pada siswa yang belum dapat mencapai kompetensi dengan baik. Kegiatan tersebut merupakan usaha guru untuk menerapkan karakter percaya diri dan semangat pada siswa.

4. Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

(19)

Wahab, dalam konteks pembentukan karakter mahasiswa lebih banyak ditentukan oleh media massa.

Implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi perlu dirancang secara komprehensif dengan mencakup penyiptaan budaya dan lingkungan kerja. Dalam hal ini diperlukan peran serta aktif dari seluruh pemangku kepentingan internal – dosen, mahasiswa, karyawan, pimpinan, dan pemangku kepentingan eksternal, khususnya pengguna lulusan dan alumni. Kesempatan berperan aktif ini diharapkan akan menumbuhkan rasa ikut memiliki, yang pada gilirannya akan menjadi pendorong kuat untuk mendukung implementasinya. Dalam pengembangan pendidikan karakter di perguruan tinggi perlu dibangun budaya dan lingkungan kerja. Karena pengembangan karakter yang diinginkan memerlukan dukungan budaya dan lingkungan kerja yang tepat, yang dapat diciptakan berdasarkan nilai-nilai yang diinginkan. Terkait dengan hal ini, perlu juga dianalisis jenis lingkungan fisik yang diperlukan untuk mendukung penanaman nilai-nilai karakter yang diinginkan. Penciptaan budaya kerja dan penataan lingkungan ini hendaknya diwarnai nilai keragaman budaya yang ada di Indonesia untuk membuat para mahasiswa menghayati hakikat keragaman dalam kehidupan berbangsa Indonesia, yang antara lain tercermin dalam keragaman jenis musik, mode pakaian, rancangan ornamen, dan jenis makanan.

Sementara itu, perangkat aturan juga perlu disusun dengan sanksi yang edukatif (mendukung penanaman/penguatan nilai-nilai yang diinginkan), yang ditegakkan secara adil (berlaku untuk siapapun), dan tetap menekankan aspek pembinaan. Dalam hal ini, harus dipilih orang yang tepat untuk menyampaikan sanksi terkait. Dengan demikian, sanksi apapun akan dirasakan ada hikmahnya oleh yang bersangkutan. Dengan proses seperti ini, diharapkan warga kampus benar-benar belajar mengubah diri dengan kesadaran tinggi dan keikhlasan mendalam.

Implementasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi 1. Dalam Program Pendidikan dan Pengajaran

(20)

Perencanaan program pendidikan dan pengajaran jangka menengah dimulai dengan penyusunan kurikulum, yang diikuti dengan penyusunan silabus. Untuk menjamin agar pengembangan karakter memperoleh perhatian semestinya, dalam kurikulum masing-masing perguruan tinggi harus ada rumusan tujuan yang menyiratkan nilai-nilai karakter yang mesti melekat pada lulusan secara umum, sesuai dengan kelompok mahasiswa seperti mahasiswa calon tenaga vokasional (MCTV), mahasiswa calon tenaga profesional (MCTP), mahasiswa calon tenaga rekayasa (MCTR), maupun mahasiswa calon ilmuwan (MCI).

b. Pelaksanaan

Rencana dalam bentuk kurikulum hendaknya dijabarkan menjadi silabus untuk masing-masing mata kuliah sesuai dengan prinsip-prinsip yang dirumuskan dalam kurikulum dan tuntutan perkembangan bidang studi terkait. Mahasiswa mesti diberi informasi tentang cakupan aspek pembelajaran dan penilaian dengan pembobotannya, dengan penekanan pada penyadaran akan pentingnya aspek nilai-nilai karakter dalam setiap mata kuliah. Untuk itu, mahasiswa dilibatkan untuk menghayati keterkaitan nilai-nilai dalam setiap mata kuliah dengan kecerdasan kehidupan bangsa yang menjadi salah satu cita-cita kemerdekaan.

c. Penilaian

Program penilaian juga perlu direncanakan, dilaksanakan, dan dinilai dengan prosedur yang baku. Perencanaan penilaian harus menjamin bahwa, seperti halnya pembelajaran, penilaian hendaknya menjamin bahwa semua aspek diperhitungkan dengan pembobotan yang profesional.

2. Dalam Program Penelitian dan Pengembangan

(21)

pembelajaran menuju hasil yang diinginkan, yang sangat cocok untuk pendidikan karakter karena mencakup kegiatan refleksi, yang melibatkan semua pihak dalam kesejajaran. Kemudian perlu juga dilakukan penelitian pengembangan media pembelajaran karakter, mulai dari nilai-nilai karakter umum, nilai-nilai karakter khas bidang keilmuan, dan nilai-nilai khas bidang studi.

3. Dalam Program Pengabdian pada Masyarakat

Pengabdian pada masyarakat dilakukan dengan menfokuskan pada penularan praktik pendidikan karakter. Hasil penelitian pendidikan karakter hendaknya dibukukan dalam bahasa yang populer dan disebarkan ke semua pemangku kepentingan yang berada di masyarakat luas. Mengingat tingkat kemajuan masyarakat berbeda, cara penyebaran juga perlu disesuaikan, mulai dari yang tercanggih sampai ke lembaran-lembaran cetakan.

D. Hambatan Implementasi Model Pendidikan Karakter

Dalam penerapan model pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya berjalan dengan baik, terdapat berbagai hambatan seperti faktor pribadi siswa, budaya yang telah mengakar, permasalahan dalam internalisasi nilai-nilai melalui berbagai mata pelajaran, permasalahan kurang optimalnya praktik pendidikan dan pembelajaran untuk pengembangan kepribadian, tuntutan untuk mengikuti kurikulum, dan ketidakseimbangan implementasi programmed curriculum dengan

hidden curriculum.

1. Faktor Pribadi Siswa

(22)

dari diri mereka sendiri untuk perbaikan karakter. Sayangnya tidak semua pelajar peka terhadap keteladanan dari seorang guru, mereka kurang menperhatikan perilaku guru yang baik, justru kebanyakan pelajar yang diingat adalah hal – hal buruk yang dilakukan guru secara tidak sengaja, misalnya guru yang sering mengucapkan kata berulang kali dan itu menjadi hafalan bagi siswa. Itu menunjukkan kurangnya rasa hormat siswa terhadap gurunya. Oleh karena itu pengubahan kepribadian siswa perlu dilakukan dengan cara guru harus bisa memahami siswa yang belum memiliki karakter dengan cara yang berbeda, harus bisa menjadi sahabat mereka bukan musuh mereka.

Siswa yang dididik dengan latar belakang keluarga yang harmonis dan berada pada lingkungan yang baik akan cenderung memiliki karakter, sedangkan siswa yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis dan lingkungan yang kurang baik akan cenderung belum memiliki karakter. Sifat, perilaku, kebiasaan buruk yang telah mengakar sulit untuk dicabut. Hambatan penerapan model pendidikan karakter ini sebenarnya bisa dilakukan siswa yaitu dengan saling memberi contoh dari yang baik untuk perbaikan yang buruk.

2. Budaya yang Telah Mengakar

(23)

misalnya ketika mengerjakan ujian kesulitan karena tidak memperhatikan guru.

3. Permasalahan dalam internalisasi nilai-nilai melalui berbagai mata pelajaran Sa’dun Akbar dari hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa disajikan berbagai mata pelajaran dalam praktik pendidikan tidak lain adalah dalam rangka kerangka untuk menghadirkan dan internalisasi nilai – nilai dari berbagai dunia nilai, yaitu simbolik, empirik, estetik, etik, sinnoetik, dan sinoptik yang diwujudkan dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan perilaku (membangun karakter) peserta didik. Namun pada praktiknya, banyak pengembang dan praktisi pendidikan kurang menyadari persoalan ini sehingga praktik pendidikan dan pembelajaran cenderung kurang berbasis pada nilai moral yang terkandung pada berbagai mata pelajaran yag disajikan. Dalam model sekolah dengan pendidikan karakter rentan terhadap hambatan ini Akhirnya pendidikan tetap saja hanya mampu melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah akan moral. 4. Permasalahan Kurang Optimalnya Praktik Pendidikan dan Pembelajaran

untuk Pengembangan Kepribadian

Di berbagai sekolah telah disajikan mata pelajaran pengembangan kepribadian seperti Pendidikan Agama baik Islam, Katolik, Kristen, dan agama lainya. Serta pendidikan kewarganegaraan namun pada praktiknya cenderung terpeleset dengan mementingkan aspek kognisi yang terlalu berat mempertajam daya pikir dari pada mempertajam mata hati dan agaka mengabaikan afekllsi dan konasi. Padahal aspek kognisi pada mata pelajaran tersebut tidak terlalu berpengaruh pada akhlak atau sikap siswa. Hal itu ditunjukkan di sekolah – sekolah penilaian diambil dari nilai ujian untuk mengetahui seberapa tingkat pemahaman siswa dimana belum tentu mencerminkan kesadaran untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari karena memang yang bisa diukur secara pasti adalah penilaian yang seperti itu yaitu nilai kognisi.

5. Ketidakseimbangan Implementasi Programmed Curriculum Dengan Hidden Curriculum.

(24)

senantiasa mengikuti perkembangan dan pembaharuan kurikulum artinya guru harus selalu belajar. Sementara pembelajaran sebagai elemen dasar dalam pendidikan pada hakikatnya adalah the guidence of learning activities

yaitu membimbing kegiatan siswa belajar yang nantinya dalam diri siswa terjadi perubahan tingkah laku yang teraktualisasi dalam ranah kognitif, psikomotorik dan afektif. Seharusnya fokus tidak hanya programmed curriculum namun juga pada hidden curriculum yaitu nilai – nilai karakter.

Meskipun banyak hambatan dalam implementasi model pendidikan karakter namun hal itu dapat diatasi dengan pengubahan sudut pandang pembelajaran di sekolah – sekolah.

E. Solusi Untuk Mengatasi Hambatan – Hambatan Penerapan Model Pendidikan Karakter

1. Guru lebih berkualitas dalam arti cerdas intelektual dan emosional. Dalam proses pembelajaran interaksi antara guru dan siswa dapat berlangsung dengan baik apabila terdapat kecocokan antara guru dan siswa. Dengan guru yang cerdas intelektual maka tidak akan mengalami kesulitan dalam membimbing siswa dan dapat mengatasi kesulitan – kesulitan yang dialami siswa. Dan cerdas secara emosional guru dapat memahami karakter siswa dengan baik dan dapat membimbing mereka untuk menjadi pribadi yang baik. Dengan menggunakan strategi – strateginya yang jitu untuk membangun karakter siswa.

2. Menyeimbangkan implementasi programmed curriculum dan hidden curriculum.

Kefokusan pembelajaran selain pada programmed curiculum tetapi juga

(25)

jenjang pendidikan, bahkan sampai pada tingkat ekonomi masyarakat, kemampuan yang dihasilkan dari hidden curiculum adalah pengembangan empati, berpikir realistis, optimis, ketekunan, etos kerja, mempunyai semangat hidup, keterampilan kerja, kerendahan hati, dan sopan santun. Oleh karena itu sangat dibutuhkan inovasi dan kreativitas guru untuk memformulasikan pendidikan karakter secara seimbang yang disesuaikan kondisi sekolah dan kemampuan siswa.

3. Pembiasaan – pembiasan yang baik pada siswa.

Untuk mengubah budaya siswa yang buruk perlu upaya sedikit demi sedikit untuk memperbaikinya misal dengan pemberian contoh untuk tidak terlambat, membiasakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat di kelas, dan membuat siswa selalu memperhatikan guru saat menerangkan pelajaran dengan guru berusaha mencari perhatian atau menggunakan cara mengjar yang lebih menarik dan sesuai dengan apa yang diinginkan siswa tetapi masih bisa diperoleh ilmunya.

4. Memberikan aturan yang menuntut kesadaran bukan karena hukuman tetapi orientasi pada imbalan.

Siswa menaati peraturan karena akan ada hal yang dapat diperoleh misalnya mendapatkan hadiah, mendapatkan apresiasi yang baik dari guru bukan karena adanya unsur keterpaksaan karena takut menerima hukuman, dan selalu siswa selalu diberi nasihat untuk menaati peraturan untuk meningkatkan kesadarannya.

5. Mengoptimalkan praktik pendidikan untuk pengembangan kepribadian. Dalam pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan siswa lebih ditekankan pada praktiknya langsung dari pada materinya. Jadi tipe pembelajarannya siswa belajar materi, memahami lalu mempraktikkan. Penilaian tidak hanya dari segi kognitif tetapi juga afektif.

(26)

memperhatikan nilai – nilai karakter yang baik yaitu mengubah sudut pandang siswa belajar mengenai tujuan belajar sehingga prosesnya akan baik misalnya saat ujian berlangsung tanpa ada yang menyontek.

(27)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Model pendidikan karakter perlu diimplementasikan di berbagai jenjang pendidikan untuk mengatasi berbagai permasalahan lunturnya karakter pada siswa maupun guru. Fenomena – fenomena yang terjadi saat ini bisa diatasi dengan adanya model pendidikan karakter meskipun terdapat berbagai penghambat dalam penerapannya namun selalu ada solusi dari adanya penghambat tersebut. implementasi pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik berawal dari guru yang cerdas secara intelektual maupun emosional sehingga dapat memberikan contoh kepada siswanya kemudian siswa akan memiliki kesadaran untuk memiliki pribadi yang berkarakter. Meskipun dari latar belakang yang berbeda – beda dan memiliki sifat yang berbeda siswa sebagai input adanya pendidikan akan melalui proses yang terjadi pada model pendidikan karakter akan menghasilkan output manusia yang berkarakter. Proses tersebut memang tidak mudah namun harus optimis bahwa bisa dilakukan.

B. Saran

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Untuk Guru

(28)

2. Perancang kurikulum

Untuk mendukung kesuksesan pembelajaran yang berkarakter maka perlu adanya kurikulum yang mendukung. Oleh karena itu pembuat kurikulum seharusnya membuat kurikulum yang sesuai dan mendukung terwujudnya pendidikan berbasis character building.

3. Wali siswa

Pihak yang mendukung keberhasilan pendidikan karakter selain pihak instansi atua sekolah, juga wali siswa. Wali siswa hendaknya memberiri dukungan dengan cara memberikan fasilitas siswa untuk dapat berkembang.

4. Pihak sekolah selain pendidik

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Editor Prof. Darmiyati Zuchdi, E. D. (2011). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press.

Fatchul Mu’in (2011). Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik.Yogyakarta: am Ar-Ruzz Media

Prof. Dr.H.E. Mulyasa,M.Pd. (2011). Manajemen Pendidikan Karekter.

Jakarta: Bumi Aksara

Novan Ardy Wiyani, M. (2013). Konsep, Praktik, & Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD. Yogyakarta: am Ar-Ruzz Media.

http://eprints.uny.ac.id/8026/3/bab%202%20-%2007404244050.pdf diakses pada 01 April 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan karakter melalui pelajaran Seni Budaya di tingkat SMP Negeri se-Kecamatan Wonosari sudah berjalan dengan

Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat serta solusi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis budaya religius di SMP Negeri 4 Kota Batu.

Faktor Pendukung Pembelajaran Pendidikan Karakter Disiplin Dengan Memberi Identity Card di Kelompok A RA Islamiyah Bulaklo antara lain: 1) Kesadaran anak dalam

Berdasarkan pembahasan tentang penerapan budaya sekolah dalam pembentukan karakter yang dilakukan di SDN 3 Klangenan diketahui bahwa sekolah menerapkan nilai- nilai budaya seperti

Adapun hambatan-hambatan dalam penerapan pendidikan karakter melalui progam tahfidz Al-Qur’an di SD-IT Al-Imam Asy-Syafi’i, sebagai berikut: 1 Kurangnya dukungan dari orang tua, karena

Hambatan dalam Penanaman Nilai Karakter Bangsa dalam Meningkatkan Sikap Nasionalisme Siswa Faktor Internal berupa: 1 Ketidak jelasan penentuan tujuan dalam pendidikan karakter, 2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 Nilai-nilai karakter yang menjadi fokus dalam penerapan pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SDN 32 Cakranegara yaitu terdapat lima nilai

Pendidikan Karakter Pada aktual pendidikan karakter adalah keunggulan akhlak atau moral yang dibina dan dibangun dengan berbagai macam kebajikan yang pada dasarnya dimana didalamnya