• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Unggah Ungguh dalam Masyarakat Ja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Budaya Unggah Ungguh dalam Masyarakat Ja"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Budaya

Unggah-Ungguh

dalam Masyarakat

Jawa, Sebagai Salah Satu Stretegi

Pembangunan Nasional

Oleh:

Mohammad Sahlan

(2)

Tulisan ini merupakan sebuah pengantar tentang budaya

unggah-ungguh

dalam masyarakat Jawa yang dapat diambil sebagai salah satu

strategi pembangunan nasional. Budaya

unggah-ungguh

dalam

masyarakat Jawa sendiri telah banyak dilupakan oleh para kawula

muda Jawa, sehingga sangat penting dilakukan beberapa tindakan

untuk melestarikan budaya luhur tersebut, dan dapat dimanfaatkan

untuk perdamaian dan kerukunan Indonesia, demi suksesnya

pembangunan nasional.

Diantara nilai budaya

unggah-ungguh

dalam masyarakat Jawa adalah

sikap saling menghormati, menghargai, sopan santun dalam berbicara

dan bersikap, dan kebijaksanaan bertindak terhadap orang lain.

Paragraf bagian awal-awal berisi tentang latar belakang masalah di

Indonesia, dilanjut pada paragraf pertengahan berisi tentang

bagaimana budaya

unggah-ungguh,

dan paragraf-paragraf terakhir

berisi tentang konstekstualiasi budaya

unggah-ungguh

terhadap

pembangunan nasional Indonesia.

(3)

Budaya Unggah-Ungguh dalam Masyarakat Jawa Sebagai Salah Satu Stretegi Pembangunan Nasional

Era globalisasi saat ini tidak dapat dihindari oleh semua negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Pada tahun 2016 mendatang, negara-negara yang tergabung dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) akan saling bersaing dalam semua bidang pendidikan, budaya hingga ekonomi. Bangsa Indonesia sampai saat ini masih belum maksimal untuk melakukan program-program yang mengarah dalam mempersiapkan masyarakatnya menuju MEA. Jika dilihat secara perjanjian MEA sendiri, semua negara yang berada dalam lingkup ASEAN akan bebas masuk dan melakukan kegiatan di negara yang tergabung dalam komunitas ini. Kegagapan masyarakat Indonesia pastinya tidak diharapkan oleh pemerintah untuk mengahadapi kondisi ini. Namun bagaimanapun juga setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia haruslah berusaha untuk mempersiapkan, meskipun hanya dengan tindakan yang kecil.

Kondisi masyarakat Indonesia sampai saat ini yang sebentar lagi akan terintegrasikan dengan MEA belum mengarah pada kerukunan yang mutlak dan masih dalam kondisi yang rawan terhadap konflik-konflik sosial. Hal ini tidak dapat dihindari dan dilupakan oleh setiap warga negara Indonesia, mengingat kondisi negara Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat beragam suku, agama, ras, geografis dan budaya. Keberagaman ini dipandang sebagai celah juga kekuatan yang dapat menjadi penyebab konflik sosial dalam masyarakat atau menjadi pendukung kerukunan masyarakat. Selain itu perbedaan ini juga bisa menjadi suatu penguat dari bangsa Indonesia, jika masyarakat Indonesia dapat berlaku bijak dan arif dalam mengelola keberagaman tersebut.

(4)

para kawula muda Jawa sudah kurang menjalankan norma dan nilai masyarakat terutama

unggah ungguh tersebut. Sebenarnya apa maksud dari unggah-ungguh itu sendiri?

Istilah unggah-ungguh dalam Bausastra Jawa, Poerwadarminta (1939) mempunyai arti tata aturan berbahasa yang sesuai dengan tata norma nilai masyarakat (Jawa). Dikuatkan juga oleh Mangunsuwito (2002), unggah-ungguh yaitu sopan santun atau tata krama. Dengan demikian bisa dirangkaikan bahwa unggah-ungguh merupakan tata aturan, tata krama, sopan santun yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat Jawa. Sesuai dengan kasus yang dijelaskan di atas, inti dan pokok dari unggah-ungguh adalah bagaimana seseorang bertindak sopan, menghormati, bertindak sesuai, berperilaku yang semestinya (baik), menghargai, dan juga berbahasa yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat yang berlaku.

Dalam norma masyarakat Jawa unggah-ungguh umumnya dilakukan oleh orang yang memiliki status lebih rendah ke status sosial yang lebih tinggi. Akan tetapi dalam konsep norma masyarakat Jawa yang baik, budaya unggah-ungguh diberikan dan dilakukan oleh dan kepada semua status sosial masyarakat dan tidak memandang status sosial yang dimiliki. Perbedaan dalam penerapan unggah-ungguh ini adalah dalam bidang penerapan, yaitu perbedaan bahasa yang dituturkan oleh orang tua kepada orang muda, perbedaan perlakuan praktis mencium tangan yang dilakukan anak muda kepada orang yang lebih tua, dan inti dari semua perlakuan itu adalah bagaimana memperlakukan orang lain dengan lemah lembut dan baik meskipun penerapan praktisnya berbeda.

Budaya unggah-ungguh selain dalam arti berlaku sopan juga berlaku saling menghargai dan menghormati orang lain. Masyarakat Jawa tidak akan berbicara sendiri ketika sedang dalam forum dengan raja, kiyai, tokoh-tokoh masyarakat lainya, ataupun hanya dalam bertamu. Hal ini pernah terjadi pada pengalaman pribadi penulis, yaitu pada suatu ketika penulis masih kelas SMP (Sekolah Menengah Pertama) diajak bertamu kepada sanak saudara, penulis ingin mengajak pulang ibu, namun dia langsung mencubit dan memarahi penulis karena forum pembicaraan orang tua dan tamu lainya masih terlaksana. Dalam kejadian itu terlihat bahwa seorang orang tua Jawa akan memberi teguran kepada anaknya ketika tidak memiliki unggah-ungguh dalam bertamu di masyarakat. Dan kasus-kasus yang hampir serupa masih banyak dan belum bisa dipaparkan ditulisan ini.

(5)

terhadap semua orang, pada saat ini kurang dijalankan lagi oleh para remaja. Mereka para remaja1 sudah tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, tidak bisa bersikap

unggah-ungguh terhadap orang lain dan yang paling fatal adalah kepada orang yang lebih tua. Para orang tua Jawa yang mendapatkan perlakuan tidak di-unggah-ungguh tadi akan sering mengungkapkan pernyataan “Cah saiki wes padha ora due unggah-ungguh karo wong tuo” , atau “Orang muda jaman sekarang sudah tidak lagi mempunyai sopan santun, unggah-ungguh, terhadap orang tua. Hal ini menjadi “catatan besar” bagi kaum muda Jawa akan pentingnya unggah-ungguh.

Secara umum budaya unggah-ungguh menjadi suatu ciri khas dalam masyarakat Indonesia, terutama Jawa. Di masyarakat Indonesia selain Jawa, mungkin mempunyai budaya yang serupa dengan unggah-ungguh ini. Di masyarakat Sunda (misalnya) memiliki kebudayaan bahasa tingkat tutur yang juga hampir mirip dengan bahasa Jawa. Sebutan Indonesia sebagai bagian dari bangsa Timur memang benar demikian, karena dengan banyaknya kebudayaan masyarakat yang menjunjung tinggi moral dan etika masyarakat.

Hubungan antara budaya unggah-ungguh ini dengan pembangunan nasional lantas apa? Sesuai dengan penjelasan singkat di paragraf-paragraf sebelumnya bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat multikultural, memiliki beraneka budaya, agama, dan ras akan dapat menimbulkan ketegangan sosial antar kelompok. Ketegangan antara masyarakat muslim ambon dengan Kristen pada 1998 yang mengakibatkan banyak pertumbahan darah dan korban merupakan bentuk ketidak siapan masyarakat dalam menghargai perbedaan (meskipun ada faktor lain). Hal ini seharusnya ditanggulangi dengan pemanfaatan budaya-budaya lokal Indonesia sendiri demi keberlangsungan kerukunan di Indonesia. Budaya Jawa unggah-ungguh yang merupakan budaya unggulan masyarakat Jawa dapat menjadi bahan pelajaran dan pengkajian mendalam untuk pemahaman keberagaman di Indonesia. Masyarakat Indonesia seharusnya memahami dan menjalankan prinsip berlaku sopan santun, berlaku hormat, berlaku sesuai norma yang ada yang dalam masyarakat Jawa diistilahkan dengan

unggah-ungguh. Perilaku demikian akan mendorong kerukunan dan kedamaian bangsa Indonesia, yang kemudian bangsa Indonesia akan lebih mudah dalam menyalurkan pembangunan di setiap daerah dan tidak terganggu lagi tentang konflik-konflik sosial masyarakat.

(6)

Pandangan lain yang mengatakan bahwa kebudayaan Jawa cenderung bersifat kolot sebenarnya mereka hanya berpandangan pada sisi negatifnya saja. Budaya unggah-ungguh

misalnya jika dijalankan dengan baik, dan dilengkapi dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju, akan dapat saling melengkapi. Pengaruh kebudayaan Barat (westernisasi) tidak mungkin ditelan mentah-mentah oleh masyarakat jika mereka masih mengamalkan budaya

unggah-ungguh. Mereka akan tetap berunggah-ungguh terhadap orang yang lebih tua, orang lain, ilmu pengetahuan, bahkan alam. Unggah-ungguh terhadap alam akan dilakukan dengan memanfaatkan alam dengan sebijak-bijaknya. Unggah-ungguh terhadap ilmu pengetahuan juga demikian, yakni ilmu pengetahuan akan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk kepentingan bangsa dan masyarakat dunia. Kemudian dari penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa budaya unggah-ungguh dapat dijadikan rule model (teladan) bagi masyarakat Indonesia, demi terwujudnya kerukunan dan kedamaian bangsa.

Sumber Ide dan Inspirasi:

Magnis Suseno SJ, Fanz. 1984. Etika Jawa. Jakarta: PT Gramedia

Mulder, Niels. 1973. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Poerwadarminta, 1939. Bausastra Jawa.

Referensi

Dokumen terkait

Data yang digunakan dalam penelitian yaitu kalimat berbahasa Jawa ragam krama siswa kelas VII SMP Negeri 1 Mejobo yang mengandung kesalahan penerapan

Dengan tayangan video/kartun contoh penerapan tataran bahasa dan unggah- ungguh siswa dapat memahami penerapan tutur kata dalam bahasa jawa sesuai dengan unggah-ungguh

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara unggah-ungguh ragam krama pada mata pelajaran bahasa Jawa melalui metode role playing pada

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang berhasil mendapatkan fakta- fakta tentang pembelajaran PAI yang menggunakan unggah- ungguh bahasa Jawa dianggap lebih

Hasil kajian yang dilakukan peneliti, media pembelajaran yang paling efektif digunakan dalam proses pembelajaran unggah-ungguh di Sekolah Dasar yaitu media kamus

Diana Rahmayanti, 2021: Pembelajaran Materi Unggah-Ungguh Basa Jawa Dalam Kemampuan Berbicara Sopan Santun Peserta Didik Kelas IV MIMA 35 Nurul Ulum Ambulu

Sehingga dilihat dari hasil tersebut Terdapat pengaruh Kebiasaan Berbicara Bahasa Jawa terhadap pemahaman Konsep unggah-ungguh Bahasa Jawa pada siswa kelas V SD di Gugus

Oleh karenanya, perlu diadakan suatu rumusan atau konsep mengenai cara penanaman unggah-ungguh dan budi pekerti yang baik kepada siswa, tidak hanya dalam hal berperilaku yang baik,