• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada PT.Bank Sumut Cabang Simalingkar, Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada PT.Bank Sumut Cabang Simalingkar, Medan"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1Pendidikan dan Pelatihan

Dalam rangka persaingan ini organisasi/perusahaan harus memiliki

sumber daya yang tangguh. Sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan

perusahaan tidak dapat dilihat sebagai bagian yang berdiri sendiri, tetapi harus

dilihat sebagai satu kesatuan yang tangguh membentuk suatu sinergi. Dalam hal

ini peran sumber daya manusia sangat menentukan.

Semula SDM merupakan terjemahan dari “human resources”, namun ada

pula ahli yang menyamakan sumber daya manusia dengan “manpower” (tenaga

kerja). Bahkan sebagian orang menyetarakan pengertian sumber daya manusia

dengan personal (personalia, kepegawaian, dan sebagainya).Manajemen sumber

daya manusia merupakan bidang strategis dari organisasi. Manajemen sumber

daya manusia harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan tradisional untuk

mengelola orang secara efektif dan untuk itu membutuhkan pengetahuan tentang

perilaku manusia dan kemampuan mengelolanya.

Manajemen sumber daya manusia adalah pendayagunaan, pengembangan,

penilaian, pemberian balas jasa, dan pengelolaan individuanggota organsisasi atau

kelompok pekerja. Manajemen sumber daya manusia juga dapat diartikan sebagai

suatu kebijakan dan praktik yang dibutuhkan seseorang yang menjalankan aspek “orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen, meliputi

(2)

Guna mencapai tujuan manajemen sumber daya manusia yang telah

dikemukakan, maka sumber daya manusia harus dikembangkan dan dipelihara

agar semua fungsi organisasi dapat berjalan seimbang. Kegiatan sumber daya

manusia merupakan bagian proses manajemen sumber daya manusia yang paling

sentral, dan merupakan suatu rangkaian dalam mencapai tujuan organisasi.

Kegiatan tersebut akan berjalan lancar, apabila memanfaatkan fungsi-fungsi

manajemen.

Edy Sutrisno (2009:9) menyatakan bahwa fungsi manajemen sumber daya

manusia yang dimaksud adalah sebagai :

1. Perencanaan

Perencanaan adalah kegiatan memperkirakan tentang keadaan tenaga kerja,

agar sesuai dengan kebutuhan organisasi secara efektif dan efisiensi, dalam

membantu terwujudnya tujuan.

2. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengatur pegawai dengan

menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi,

dan koordinasi, dalam bentuk bagan organisasi.

3. Pengarahan dan Pengadaan

Pengarahan adalah kegiatan memberi petunjuk kepada pegawai, agar mau

kerja sama dan bekerja efektif serta efisiensi dalam membantu tercapainya

tujuan organisasi.

4. Pengendalian

Pengendalian merupakan kegiatan mengendalikan para pegawai agar menaati

(3)

5. Pengembangan

Pengembangan merupakan proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,

konseptual, dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.

6. Kompensasi

Kompensasi merupakan pemberian balas jasa langsung berupa uang atau

barang kapada para pegawai sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada

organisasi.

7. Pengintegrasian

Merupakan kegiatan untuk mempersatukan kepentingan organisasi dan

kebutuhan pegawai, agar tercapai kerjasama yang serasi dan saling

menguntungkan.

8. Pemeliharaan

Merupakan kegiatan pemeliharaan atau meningkatkan kondisi fisik, mental

dan loyalitas, agar mereka tetap mau bekerjasama sampai pensiun.

9. Kedisiplinan

Merupakan salah satu fungsi manajemen sumber daya manusia yang penting

dan merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi, karena tanpa adanya

kedisiplinan, maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.

10.Pemberhentian

Merupakan putusnya hubungan kerja suatu karyawan dari suatu organisasi.

Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan organisasi,

(4)

2.1.1 Pendidikan 2.1.1.1Pengertian

Dalam mengerjakan suatu pekerjaan tertentu yang asing, maka perlu

mempelajari terlebih dahulu cara mengerjakan pekerjaan tersebut. Tidak ada

seseorang yang mampu melaksanakan suatu tugas dengan baik apabila tidak

mempelajari terlebih dahulu, bahkan apabila pekerjaan tersebut terlihat mudah.

Orang yang belum memili pengalaman akan memiliki kesukaran dan

melaksanakannya. Jadi, pendidikan dan pelatihan sangat diperlukan.

Pendidikan dan pelatihan hendaknya meningkatkan dan meningkatkan

kemampuan yang diharapkan itu. Dalam pendidikan dan pelatihan tersebut, harus

disadari bahwa manajemen melakukan invenstasi waktu, uang, dan masa depan

perusahaan.

Mulia Nasution (1994:71) mengemukakan, pendidikan adalah suatu

proses, teknik dan metode belajar mengajar dengan mentransfer suatu

pengetahuan dari seseorang kepada orang lainsesuai dengan standar yang telah

ditetapkan sebelumnya. Malayu Hasibuan (Edisi revisi:69) mengemukakan,

Pendidikan meningkatkan keahlian teoritis, konseptual dan moral kayawan,

sedangkan latihan bertujuan untuk meningkatkan teknis pelaksanaan pekerjaan

karyawan.

Mangkuprawira Tb. Sjafri (2002) memberikan pemahaman mengenai

indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian

(5)

a. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan

yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang

akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

b. Kesesuaian jurusan adalah sebelum para pegawai direkrut terlebih dahulu

perusahaan menganalisis tingkat pendidikan dan kesesuaian jurusan

pendidikan pegawaitersebut agar nantinya dapat ditempatkan pada posisi

jabatan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya tersebut. Dengan

demikian karyawan dapat memberikan kinerja yang baik bagi perusahaan.

2.1.2 Pelatihan

Menurut Gomes (2003:197), pelatihan adalah setiap usaha untuk

memperbaiki performasi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang

menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada kaitannya dengan

pekerjaannya. Bernardin dan Russell (1998:172) mendefinisikan pelatihan sebagai

usaha pengenalan untuk mengembangkan kinerja tenaga kerja pada pekerjaan

yang dipikulnya atau juga sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya.

EdySutrisno (2009:62) mengemukakan bahwapelatihanadalah

pengetahuan praktis beserta penerapannya, guna meningkatkan keterampilan,

kecakapan, dan sikap yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai

tujuan. Menurut Edwin B.Flippo (2004:215), indikator-indikator yang digunakan

dalam program pelatihan antar lain :.

a. Fasilitas Pelatihan

Fasilitas yang digunakan dalam pelatihan mencakup semua alat peraga atau

(6)

pelaksanaan pelatihan. Perlengkapan alat-alat peraga tersebut sangat penting

mengingat tidak semua hal dapat dijelaskan secara mudah hanya dengan

menggunakan bahasa. Instruktur dan peserta latihan sering lebih terbantu

memahami materi pelatihan dengan berbagai perlengkapan alat peraga, untuk

itu keberadaan perlengkapan sangat diperlukan karena berhungan dengan

materi pelatihan.

b. Instruktur Pelatihan

Instruktur pelatihan merupakan orang yang sudah cukup menguasai materi

pelatihan yang akan dibahas dalam pelaksanaan pelatihan. Instruktur tersebut

dapat berasal dari karyawan yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan

yang cukup baik dan dapat pula berasal dari lembaga pelatihan atau orang

yang secara khusus dipersiapkan untuk melakukan pelatihan. Tetapi sebaiknya

instruktur akan lebih baik apabila berasal dari bagian yang secara khusus

dididik untuk melakukan pelatihan.

c. Materi Pelatihan

Materi pelatihan merupakan bahan ajaran yang menjadi pokok pelatihan,

dimana bahan ajaran tersebut telah disususun sedemikian rupa agar mudah

dipahami. Materi pelatihan harus berhubungan dengan kepentingan peserta

latihan agar lebih bermanfaat dalam menunjang penyelesaian pekerjaan yang

ditanganinya.

d. Waktu Pelatihan

Waktu pelatihan dapat dilakukan sambil bekerja dan dapat pula diberikan

(7)

bekerja dan untuk menjalani pelatihan secara bersamaan, sehingga apa yang

dipelajari dapat secara langsung diterapkan ditempat kerja. Namun untuk

karyawan dengan jenis pelatihan tertentu sulit dilakukan sambil bekerja,

karena pelatihan tersebut membutuhkan pelatihan khusus.

e. Manfaat Pelatihan

Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

peserta pelatihan. Oleh karena itu program pelatihan harus dirancang

sedemikian rupa agar semua peserta pelatihan memperoleh manfaat yang

maksimum dari pelaksanaan pelatihan.

2.1.3 Perbedaan Pendidikan dan Pelatihan Kerja

Menurut Malayu Hasibuan (2009:83), pendidikan dan latihan memiliki

perbedaan-perbedaan sebagai berikut :

Tabel 2.1 Perbedaan antara Pendidikan dan Pelatihan

No Perbedaan Latihan Pendidikan

1

Pendidikan yang dilakukan oleh instansi kepada pegawainya, mulai

tingkat manajemen bawah ke manajamemen tingkat atas, karena pendidikan untuk

tingkat ini lebih banyak untuk memahami, meneliti, dan memberikan jalan keluar

untuk suatu kasus (persoalan). Pemecahan yang dilakukan untuk kasus tersebut,

(8)

Pelatihan lebih banyak dilakukan untuk tingkat manajemen bawah, karena

setiap pelatihan dimaksudkan untuk dapat meningkatkan kemampuan operasional

aktiva-aktiva tetap yang ada diperusahaan.Sebelum pelaksanaan program

pelatihan terlebih dahulu ditentukan sasaran/tujuan apa yang ingin dicapai. Karena

pelaksanaan suatu program pelatihan memerlukan pengorbanan yang tidak kecil

baik berupa biaya, wajtu, dan sumber daya manusia yang terbuang selama

pelatihan dilangsungkan. Jadi sasaran yang ingin dicapai oleh perusahaan harus

setimpal dengan pengorbanan yang dilakukan.

Oemar Hamalik (2007:16) menyatakan sasaran dan tujuan yang ingin

dicapai dari pelatihan adalah :

1. Mendidik, melatih serta membina tenaga kerja yang memilih keterampilan

produktif dalam rangka pelaksanaan program organisasi dilapangan.

2. Mendidik, melatih serta membina unsur-unsur ketenagakerjaanyang memiliki

kemampuan-kemampuan dan hasrat belajar terus untuk meningkatkan dirinya

sebagai tenaga yang tanggu, mandiri, profesional, beretos kerja yang tinggi,

dan produktif.

3. Mendidik, melatih serta membina tenaga kerja sesuai dengan bakat, minat,

nilai, dan pengalamannya masing-masing (individual).

4. Mendidik dan melatih tenaga kerja yang memiliki derajat relevansi yang

tinggi dengan kebutuhan pembangunan.

2.1.4 Kriteria Karyawan yang Mengikuti Diklat

Adapun yang menjadi kriteria-kriteria pegawai pada Bank Sumut untuk

(9)

a. Peserta diklat adalah seluruh pegawai Bank Sumut yang sudah lulus ujian test

masuk pegawai dan yang telah resmi atau sah menjadi pegawai Bank Sumut.

b. Peserta diklat adalah pegawai yang akan atau telah menduduki jabatan

struktural dan fungsional

c. Peserta Diklat adalah pegawai yang membutuhkan peningkatan kompetensi

teknis dalam pelaksanaan tugasya.

2.1.5 Manfaat Pendidikan dan Latihan

Sondang P. Siagian (2008:183) menyebutkan manfaat diadakannya

program diklat menjadi dua adalah :

a. Manfaat bagi perusahaan atau instansi

1) Peningkatan produktivitas kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain

karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan

tugas, tumbuh suburnya kerjasama antar berbagai satuan kerja yang

melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bukan spesialistik,

meningkatkan tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta

lancarnya koordinasi sehingga organisasi bergerak sebagai satu kesatuan

yang utuh.

2) Terwujudnya hubungan serasi antar atasan dan bawahan antara lain karena

adanya pendelegasian wewenang, interaksi yang didasarkan pada sikap

dewasa baik secara teknik maupun intelektual, saling menghargai, dan

adanya kesempatan bagi bawahan untuk berpikir dan bertindak secara

(10)

3) Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat

karena melibatkan seluruh pegawai yang bertanggung jawab

menyelenggarakan kegiatan-kegiatan operasional dan tidak sekedar

diperintahkan oleh para manajer.

4) Meningkatkan kesempatan kerja bagi seluruh tenaga kerja dalam

organisasi dan dalam komitmen organisasional yang lebih tinggi.

5) Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui penerapan gaya

manajerial partisipatif.

6) Memperlancar jalannya komunikasi yang efektif yang pada gilirannya

memperlancar proses perumusan kebijaksanaan organisasi dan

operasionalnya.

7) Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya adalah tumbuh

suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan dikalangan anggota

organisasi.

b. Manfaat bagi para pegawai

1) Membantu pegawai membuat keputusan yang lebih baik.

2) Meningkatkan kemampuan para pegawai untuk menyelesaikan masalah

yang dihadapi

3) Terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasi.

4) Timbulnya dorongan dalam diri para pekerja untuk terus meningkatkan

kemampuan kerjanya.

5) Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stres, frustasi, dan

(11)

6) Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan

oleh karyawan dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknik

maupun intelektual.

7) Meningkatkan kepuasan kerja.

8) Semakin besarnya pengakuan atas kemampuan seseorang.

9) Semakin besarnya tekad pekerja untuk lebih mandiri.

10)Mengurangi ketakutan menghadapi tugas yang baru dimasa mendatang.

2.1.6 Sasaran Pendidikan dan Latihan

Menurut Edy Sutrisno (2009:69) mengatakan bahwa sasaran pendidikan

dan latihan adalah :

a. Meningkatkan Produktivitas kerja

Pelatihan dapat meningkatkan performance kerja pada posisi jabatan yang

sekarang. Apabila tingkat performanya, maka berakibat peningkatan dari

produktivitas dan peningkatan keuntungan bagi perusahaan.

b. Meningkatkan Mutu Kerja

Berarti peningkatan baik kualitas maupun kuantitas. Tenaga kerja yang

berpengetahuan jelas akan lebih baik dan akan lebih sedikit berbuat kesalahan

dalam organisasi.

c. Meningkatkan Ketepatan Dalam Perencanaan SDM

Pendidikan dan pelatihan yang baik bisa mempersiapkan tenaga kerja untuk

keperluan dimasa yang akan datang. Apabiila ada lowongan-lowongan, maka

(12)

d. Meningkatkan Moral Kerja

Apabila perusahaan menyelenggarakan program pendidikan dan latihan yang

tepat, maka dampak dari suatu organisasi pada umumnya akan menjadi lebih

baik. Dengan iklim kerja yang sehat, maka moral kerja juga akan meningkat.

e. Menjaga Kesehatan dan Keselamatan

Suatu pelatihan yang tepat dapat membantu menghindari timbulnya

kecelakaan-kecelakaan akibat kerja sehingga lingkungan kerja akan lebih

nyaman.

f. Menunjang Pertumbuhan Pribadi

Dimaksudkan bahwa program pendidikan dan latihan yang sebenarnya

member keuntungan kedua belah pihak yaitu perusahaan dan tenaga kerja itu

sendiri. Bagi tenaga kerja, jelas dengan mengikuti program pendidikan dan

latihan akan mematangkan dalam bidang kepribadian, intelektual dan

keterampilan.

2.1.7 Program Pendidikan dan Pelatihan

Sebelum suatu program pendidikan dan pelatihan dilaksanakan oleh

perusahaan, perlu dilakukan suatu analisa tentang pendidikan dan pelatihan untuk

kebutuhan perusahaan, perlu dibuat program pendidikan dan pelatihan yang sesuai

dan benar mencapai sasaran kebutuhan perusahaan, kaena suatu program

pendidikan dan pelatihan yang baik sasaran dari program tersebut tidak akan

tercapai.

Sondang P Siagian (2008:188) menyatakan program pendidikan dan

pelatihan akan berhasil baik atau mencapai sasaran sesuai kebutuhan, terkait atau

(13)

Untuk mencapai sasaran program pendidikan dan pelatihan haruslah :

a. Sebagai tolak ukur kelak untuk menentukan berhasil tidaknya program

pelatihan dan pengembangan.

b. Sebagai bahan dalam usaha menentukan langkah selanjutnya seperti isi

program dan metode pelatihan yang akan digunakan.

Faktor yang sangat menunjang keberhasilan program pendidikan dan

pelatihan adalah instruktur yang tepat serta mampu menyampaikan materi secara

jelas, sehingga memudahkan peserta untuk memahami.

2.1.8 Evaluasi Program Pendidikan dan Pelatihan

MangkuprawiraTb.Sjafri (2002:156) menyatakanbahwa evaluasi pelatihan

dan pengembangan dilakukan melalui langkah-langkah berikut :

a. Merumuskan kriteria yang terkait dengan tujuan dan pelatihan pengembangan,

dapat berupa kriteria input output proses, output, outcome, dan impact

pelatihan terhadap kinerja pekerjaan.

b. Para peserta mengikuti pretes untuk mengetahui tingkat pengetahuan mereka

yang ada sebelum pelatihan.

c. Para peserta mengikuti pelatihan dan dalam pengembangan yang dalam

prosesnya terjadi komunikasi interaktif dan tidak menutup kemungkinan pada

saat itupun dilakukan evaluasi pada para pesrta.

d. Setelah pelatihan dan pengembangan dilakukan seluruhnya, diadakan pascates

yang seharusnya hasilnya terjadi perubahan atau perbaikan pada perilaku

(14)

e. Menilai program ini apakah setiap perbaikan kepada para peserta memenuhi

kriteria evaluasi dan dapat dialihkan kedalam pekerjaan.

f. Menindaklanjuti program ini untuk dapat dilaksanakan pada kesempatan lain

yang tentunya memerlukan evaluasi apakah perlu perbaikan dan

penyesuaian-penyesuaian dengan perkembangan baru.

2.1.9 Metode Pendidikan dan Pelatihan

Metode latihan harus berdasarkan kepada kebutuhan pekerjaan tergantung

pada berbagai faktor, yaitu waktu, biaya, jumlah peserta, tingkat pendidikan dasar

peserta, latar belakang peserta, dan lain-lain. Jenis Metode pendidikan dan

pelatihan yaitu :

a. On the job trainning

Menurut Gary Dessler (2006:285), on the job trainning adalah metode yang

sangat popular dalam dunia pelatihan karyawan. OJT sendiri secara defenisi

adalah melatih seseorang untuk mempelajari pekerjaan sambil

mengerjakannya.

Pelatihan yang diberikan pada saat pegawai bekerja, sambil bekerja seperti

biasa, karyawan memperoleh pelatihan, sehingga dapat memperoleh umpan

balik secara langsung dari pelatihnya. Dilakukan oleh semua perusahaan,

terutama untuk karyawan baru sampai dengan karyawan yang berpengalaman.

Keuntungannya:biaya relatif kecil, peserta pelatihan dapat belajar sambil

melakukan pekerjaannya, serta tidak memerlukan ruang khusus.

Sondang P Siagian (2008:192) mengemukakan bentuk-bentuk

(15)

1) Pelatihan dalam jabatan: pelatihan dalam jabatan pada dasarnya

merupakan penggunaan teknik pelatihan dimana para peserta dilatih

langsung ditempat kerjanya.

2) Rotasi pekerjaan: menggunakan teknik ini berarti bahwa pegawai dilatih

mengerjakan beraneka ragam tugas.

3) Sistem magang: sebagai pegawai belajar dari pegawai lain yang dianggap

lebih berpengalaman dan lebih mahir dalam melaksanakan tugas tertentu.

b. Off the job trainning

Teknik pelatihan yang dilakukan diluar waktu kerja, dan berlangsung dilokasi

jauh dari tempat kerja, agar perhatian peserta lebih terfokus. Peserta pelatihan

menerima presentasi tentang aspek tertentu, kemudian mereka diminta

memberikan tanggapan sebagaimana dalam kondisi yang sebenarnya. Dalam

teknik ini juga digunakan metode simulasi.

Bentuk pelatihan off the job trainning :

1) Pelatihan Vestibule: yang dimaksud dengan pelatihan vestibule adalah

metode pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, terutama yang

bersifat teknikal, tempat pekerjaan, akan tetapi tanpa mengganggu

kegiatan organisasi sehari-hari.

2) Role-Playing: metode Role-Playing sering digunakan apabila sasaran

pelatihan bukan diutamakan pada peningkatan keterampilan, melainkan

yang menyangkut keprilakuan, terutama yang berwujud kemampuan

(16)

3) Studi Kasus: penggunaan studi kasus dewasa ini sering digunakan sebagai

metode pelatihan, terutama bagi para manajer atau calon manajer yang

kemampuannya mengambil keputusan atau memecahkan masalah

merupakan sasaran pokok.

4) Simulasi: teknik ini merupakan suatu bentuk pelatihan dengan

menggunakan suatu alat mekanikal yang identik betul dengan alat yang

digunakan oleh peserta pelatihan dalam tugasnya.

5) Pelatihan Laboratorium: apabila manajemen merasa bahwa tukar menukar

pengalaman, pemahaman perasaan, perilaku, persepsi, dan reaksi orang

lain untuk berinteraksi dalam pekerjaan.

6) Belajar Sendiri:banyak karyawan yang mendorong karyawan lainnya

untuk belajar sendiri dan tetap terkendali melalui proses belajar yang

terprogram.

2.2Kinerja Karyawan

2.2.1 Pengertian Kinerja Karyawan

Pada dasarnya kebutuhan hidup manusia tidak hanya berupa material,

tetapi juga nonmaterial, seperti kebanggaan dan kepuasann kerja. Tiap individu

akan cenderung dihadapkan pada hal-hal yang mungkin tidak diduga sebelumnya

didalam proses mencapaikebutuhan yang diinginkan sehingga melalui bekerja dan

pertumbuhan pengalaman, seseorang akan memperoleh kemajuan dalam

hidupnya.

Kinerja pegawai adalah prestasi kerja atau hasil kerja (output) yang

(17)

jawab atau beban kerja yang diberikan kepadanya. Menurut Wirawan (2009:5)

menyatakan bahwa kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi

atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau profesi dalam waktu tertentu.

Menurut Amstrong dan Baron dalam Wibowo (2011:7) menyatakan kinerja

merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan

strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada

kepuasan ekonomi.

Oleh karena itu, tujuan kinerja SDM adalah untuk melihat kemampuan

usaha karyawan untuk mendapatkan hasi kerja (output) yang secara baik kualitas

maupun kuantitas, sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Setiap karyawan dituntut dalam memberikan hasil kerja yang baik agar

tercapainya tujuan perusahaan.

Indikator kinerja dipakai untuk aktivitas yang hanya dapat ditetapkan

secara kualitatif atau dasar perilakunya dapat diamati. Terdapat tujuh indikator

kinerja, dua diantaranya mempunyai peran sangat penting, yaitu tujuan dan motif.

Kinerja ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai untuk melakukannya

diperlukan adanya motif.tanpa dorongan motif untuk mencapai tujuan, kinerja

tidak akan berjalan. Dengan demikian, tujuan dan motif menjadi indikator utama

dari kinerja. Namun kinerja memerlukan adanya sarana, kompetensi, peluang,

standar, dan umpan balik.

Tujuh indikator kinerja karyawan yang digambarkan oleh Hersey dalam

(18)

a. Tujuan

Tujuan merupakan keadaa yang berbeda secara efektif dicari oleh seorang

individu atau organisasi untuk dicapai. Tujuan merupakan suatu keadaan yang

lebih baik yang ingin dicapai dimasa yang akan datang. Dengan demikian

tujuan menunjukkan arah kemana kinerja harus dilakukan.

b. Standar

Standar mempunyai arti penting karena memberitahukan kapan suatu tjuan

dapat diselesaikan. Standar merupakan suatu ukuran apakah tujuan yang

diinginkan dapat dicapai. Tanpa standar, tidak dapat diketahui kapan suatu

tujuan tercapai.

c. Umpan balik

Umpan balik merupakan masukan yang dipergunakan untuk mengukur

kemajuan kinerja, standar kinerja, dan pencapaian tujuan. Dengan umpan

balik dilakukan evaluasi terhadap kinerja dan sebagai hasilnya dapat

dilakukan perbaikan kinerja.

d. Alat atau sarana

Alat atau sarana merupakan sumber daya yang dapat dipergunakan untuk

membantu menyelesaikan tujuan dengan sukses. Alat atau sarana merupakan

fakyor penunjang untuk pencapaian tujuan. Tanpa alat atau sarana, tugas

pekerjaan spesifik tidak dapat dilakukan dan tujuan tidak dapat diselesaikan

sebagaimana seharusnya. Karena tanpa alat tidak mungkin dapat melakukan

(19)

e. Kompetensi

Kompetensi merupakan persyaratan utama dalam kinerja. Kompetensi

merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalankan

pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik.

f. Motif

Motif merupakan alasan atau pendorong bagi seseorang untuk melakukan

sesuatu. Manajer memfasilitasi motivasi kepada karyawan dengan insentif

berupa uang. Memberikan pengakuan, menetapkan tujuan menentang,

menetapkan standar terjangkau, meminta umpan balik, memberikan kebebasan

melakukan pekerjaan, menyediakan sumber daya yang diperlukan dan

menghapuskan tindakan yang bersifat disintensif.

g. Peluang

Pekerja perlu mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan prestasi kerjanya.

Terdapat dua faktor yang menyumbangkan pada adanya kekurangan

kesempatan untuk berprestasi, yaitu ketersediaan waktu dan kemampuan

untuk memenuhi syarat.

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Kinerja merupakan suatu konstruk multidimensional yang mencakup

banyak faktor yang mempengaruhinya. Wirawan (2009:6) menyatakan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah :

a. Faktor internal pegawai, yaitu faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan

faktor bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia berkembang.

Faktor-faktor bawaan misalnya, bakat, sifat pribadi, serta keadaan fisik dan

(20)

b. Faktor-faktor lingkungan internal organisasi, dalam melaksanakan tugasnya,

pegawai memerlukan dukungan organisasi tempat ia bekerja. Dukungan

tersebut sangat mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja pegawai, misalnya

penggunaan teknologi robot oleh organisasi.

c. Faktor lingkungan eksternal organisasi. Faktor-faktor lingkungan eksternal

organisasi adalah keadaan, kejadian, atau situasi yang terjadi dilingkungan

eksternal organisasi yang mempengaruhi kinerja karyawan. Misalnya, krisis

ekonomi dan keuangan yang terjadi di Indonesia meningkatkan inflasi,

menurunkan nilai nominal upah dan gaji karyawan, selanjutnya menurunkan

daya beli karyawan.

2.2.3 Penilaian Kinerja

Menurut Mangkuprawira Tb. Sjafri (2002:223) mengemukakan penilaian

kinerja merupakan proses yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi kinerja

pekerjaan seseorang. Apabila hal itu dikerjakan dengan benar, maka para

karyawan, penyelia mereka, departemen SDM, dan akhirnya perusahaan akan

menguntungkan dengan jaminan bahwa upaya para individu karyawan maupun

mengkontribusi pada fokus strategik dari perusahaan.

Stephen P.Robbins dan Mary Coulter (Edisi kedelapan:358)

mengemukakan “Metode-metode yang digunakan dalam penilaian kinerja

karyawan adalah sebagai berikut :

a. Essai Tertulis

Essai tertulis adalah teknik penilaian kinerja dimana penilai menuliskan

gambaran kekuatan dan kelemahan, kinerja dimasa lampau, dan potensi

(21)

b. Insiden Kritis

Pengguna insiden kritis memfokuskan perhatian penilai pada perilaku kritis

(penentu keberhasilan) atau utama yang memisahkan kinerja pekerjaan yang

efektif dari pekerjaan yang tidak efektif.

c. Skala Pemeringkat Grafis

Metode ini mencantumkan serangkaian faktor kinerja seperti jumlah dan mutu

pekerjaan, pengetahuan kerja, kerja sama, kesetiaan, kehadiran, kejujuran, dan

inisiatif.

d. Skala Pemeringkat Berdasarkan Perilaku

Skala ini menggabungkan unsur utama insiden kritis dan pendekatan skala

pemeringkatan grafis.

e. Perbandingan Berbagai Orang

Perbandingan berbagai orang membandingkan kinerja seseorang dengan orang

lain.

f. Umpan Balik 360 Derajat

Umpan balik 360 derajat adalah metode penilaian kinerja yang menggunakan

umpan balik dari penyelia, karyawan, dan rekan kerja.

2.2.4 Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hasil

kerja atau prestasi kerja yang diperoleh oleh organisasi, tim atau individu.

Evaluasi kinerja akan memberikan umpan balik terhadap tujuan dan sasaran

kinerja, perencanaan, dan proses pelaksanaan kinerja. Evaluasi kinerja dapat pula

(22)

evaluasi kinerja dapat dilakukan langkah langkah untuk melakukan perbaikan

kinerja dimasa yang akan datang.

Menurut Kreitner dan Kinicki dalam M.Phil Wibowo (2009:375)

mengemukakan evaluasi kinerja merupakan pendapat yang bersifat evaluatif atas

sifat, perilaku seseorang, atau prestasi sebagai dasar untuk keputusan dan rencana

pengembangan personil.

Adapun manfaat evaluasi kinerja yaitu :

a. Meningkatkan prestasi kinerja karyawan

Dari hasil kerja atau pekerjaan karyawan, dapat diketahui masalah dan

produktivitas dalam bekerja. Dengan demikian, karyawan dapat memperbaiki

atau meningkatkan prestasi setelah mengetahui hasil atau umpan balik dari

adanya evaluasi tersebut.

b. Standar kompensasi yang layak

Dari hasil evaluasi prestasi, manajer dapat mengetahui berapa upah atau

kompensasi yang layak yang harus diberikan kepada karyawan. Hal ini

penting karena evaluasi prestasi dapat membantu dalam pengambilan

keputusan manajer, apakah pemberian upah, bonus, insentif, dan bentuk

kompensasi lain sudah layak dan adil bagi karyawan.

c. Penempatan karyawan

Pada periode tertentu karyawan akan mengalami promosi, mutasi, transfer,

dan demosi, oleh karena itu, sebelum pengambilan keputusan, manajer harus

dapat melihat hasil prestasi karyawan dalam sebuah evaluasi yang sudah

dilakukan, sehingga dapat meminimalisasi resiko kesalahan dalam

(23)

d. Pelatihan dan pengembangan

Hasil evaluasi dapat diketahu oleh manajer, dimana manajer melihat apakah

program pelatihan dan pengembangan diperlukan atau tidak.

e. Jenjang karier

Dari hasil evaluasi prestasi, manajer dapat menyusun jalur karier karyawan

sesuai dengan prestasi yang telah ditunjukkan karyawan.

f. Penataan staf

Hasil prestasi yang baik atau buruk, mencerminkan bagaimana manajemen

mengatur pengembangan sumber daya manusia di dalam organisasi.

g. Minimnya data atau informasi

Informasi yang akurat sangat dibutuhkan organisasi untuk mengambil

keputusan guna menempatkan karyawan, promosi, mutasi, transfer, demosi,

program pelatihan dan pengembangan, jenjang karier karyawan, dan

komponen-komponen lain dalam sistem informasi manajemen sumber daya

manusia. Informasi ini begitu pentingnya sehingga mampu mengurangi

kesalahan pengambilan keputusan yang tidak tepat.

h. Kesalahan desain pekerjaan

Adanya indikasi hasil evaluasi prestasi yang buruk merupakan tanda adanya

kesalahan dalam deskriptif desain pekerjaan yang tidak atau kurang cocok

pada karyawan.

i. Peluang kerja yang adil

Peluang kerja yang sama dan adil bagi karyawan bisa didapat apabila manajer

melihat hasil evaluasi dan mempertimbangkan kesempatan pekerjaan yang

(24)

j. Tantangan eksternal

Penilaian prestasi juga tergantung dari faktor-faktor lain seperti kepentingan

pribadi, kondisi finansial, kondisi kerja, keluarga, kesehatan, karyawan, dan

sebagainya.

2.2.5 Unsur-unsur Penilaian Kinerja Karyawan

Menurut Malayu Hasibuan (2007:95), unsur-unsur yang dinilai dalam

kinerja karyawan adalah sebagai berikut :

a. Kesetiaan

Penilaian mengukur kesetiaan karyawan terhadap pekerjaannya, jabatannya

dan organisasi.

b. Prestasi kerja

Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat

dihasilkan karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.

c. Kejujuran

Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tug-tugasnya memenuhi

perjanjian baik bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain.

d. Kedisiplinan

Penilai menilai disiplin karyawan dan mematuhi peraturan yang ada dan

melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan

kepadanya.

e. Kreativitas

Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan kretivitasnya

(25)

f. Kerjasama

Penilai menilai kesediaan karyawan berpartisipasi dan bekerja sama dengan

karyawan lainnya secara vertikal dan horizontal didalam maupun diluar

pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik.

g. Kepemimpinan

Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai

pribadi yang kuat dihormati, berwibawa dan dapat memotivasi orang lain.

h. Kepribadian

Penilai menilai karyawan dari sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai,

memberi kesan menyenangkan.

i. Prakarsa

Penilai menilai kemampuan berfikir yang orisinal dan berdasarkan inisiatif

sendiri untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberikan alasan.

j. Kecakapan

Penilai menilai kecakapn karyawan dalam menyatukan dan menyelaraskan

bermacam-macam elemen yang semua terlibat didalam penyusunan kebijakan.

k. Tanggung jawab

Penilai menilai kesediaan karyawan dalam mempertanggungjawabkan

kebijaksanaannya, pekerjaan, dan hasil kerjanya.

2.3Hubungan Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan

Sumber daya manusia merupakan inti dan penggerak dari seluruh kegiatan

pada perusahaan, karena tanpa adanya manusia suatu kegiatan tidak mungkin

dapat berjalan. Setiap organisasi pastinya mengharapkan tenaga kerja/ karyawan

(26)

Karena dengan kinerja yang baik secara teoritis dapat mencapai tingkat

pengembangan karier karyawan yang lebih baik pula.

Kinerja karyaan sangat erat hubungannya dengan masalah pelatihan,

pengembangan, kenaikan pangkat, serta masalah struktur gaji. Informasi

mmengenai prestasi sangat dibutuhkan untuk turut serta dalam mnentukan

kebijaksanaan dibidang personalia. Setiap organisasi publik dituntut untuk dapat

menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Untuk dapat menyesuaikan

diri, maka setiap organisasi harus dapat meningkatkan kemampuan dan efektifitas

sumber daya manusianya. Hal ini dapat kita sadari karena manusia merupakan

sumber daya penting mencapai keberhasilan kerja.

Oleh karena itu kemampuan dan keterampilan karywan haruslah

ditingkatkan yaitu dengan cara mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat)

sesuai dengan tingkat jabatan yang diperolehnya. Pendidikan dan latihan (Diklat)

bagi para karyawan merupakan suatu kegiatan atau usaha yang mempunyai

maksud agar para karyawan dapat memperbaiki dan mengembangkan

pengetahuan, keterampilan, serta sikap karyawan dalam melaksanakan

kegiatannya. Pelaksanaan diklat merupakan suatu proses pendidikan jangka

pendek agar mempergunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir yang

dibuat untuk memperbaiki kinerja karyawan.

2.4Jenjang Diklat Pegawai

PT Bank Sumut memiliki beberapa jenjang diklat yang akan diberikan

kepada semua pegawai yang telah memenuhi syarat untuk mengikuti diklat yang

(27)

1. Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan

Pendidikan dan pelatihan prajabatan adalah diklat untuk membentuk wawasan

kebangsaan, kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil serta memberkan

pengetahuan dasar tentang system penyelenggaraan Pemerintah Negara dan

tentang bidang tugas serta budaya organisasinya agara mampu melaksanakan

tugas dan jabatan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pendidikan dan pelatihan

Prajabatan adalah merupakan syarat pengangkatan Calon Pegawai Negeri

Sipil (CPNS) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

2. Pendidikan dan Pelatihan dalam jabatan

Jenjang Pendidikan dan Pelatihan dalam Jabatan Pegawai Negeri Sipil ada 3

(tiga) jenis, yaitu:

a. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim)

Diklat Kepemimpinan adalah Diklat yang memberikan wawasan,

pengetahuan, keahlian ketrampilan, sikap dan perilaku dalam bidang

kepemimpinan aparatur, sehingga mencapai persyaratan kompetensi

kepemimpinan dalam jenjang jabatan struktural tertentu.

b. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional

Diklat Fungsional adalah diklat yang memberikan bekal pengetahuan dan/

atau ketrampilan bagi Pegawai Negri Sipil sesuai keahlian dan ketrampilan

yang diperlukan jabatan fungsional.

c. Pendidikan dan Pelatihan Teknis

Diklat teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis

yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas PNS. Kompetensi teknis tertentu

(28)

2.5Penelitian terdahulu

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama/

Tahun Judul Tujuan Penelitian

Kesimpulan

(29)

baru dan karyawan yang memiliki

Judul Tujuan Penelitian Kesimpulan

Gambar

Tabel 2.1  Perbedaan antara Pendidikan dan Pelatihan
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2. (Lanjutan)

Referensi

Dokumen terkait

Program Bidikmisi sangat diminati oleh masyarakat secara umum terutama bagi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi, hal ini terlihat dari jumlah pendaftar

Setelah dilakukan percobaan, ternyata hasilnya Lampu 5W dan 15 Watt menyala, sedangkan yang 60 Watt tidak menyala.

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Pemenang Nomor : 08/PBJ-K-3.P/IV.40/2012 tanggal 19 September 2012 perihal Penetapan Pemenang Pekerjaan Pembangunan RKB SMPN 2 Bandar Lampung

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Pemenang Nomor : 08/PBJ-K-4.P/IV.40/2012 tanggal 19 September 2012 perihal Penetapan Pemenang Pekerjaan Pembangunan RKB SMPN 5 Bandar Lampung

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Dokumen pengadaan, dengan terlebih dahulu melakukan

Saat aku berkesempatan mampir di lembah indah mereka, saat bicara dengan Mamak yang usianya hari itu sudah tujuh puluh tahun (meski masih terlihat gagah), aku mengerti satu

Demikian Pengumuman Pemenang Pengawasan Pembangunan Gedung Kantor SAR Timika Tahap II ini dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan

[r]