Te
Te
kn
kn
ol
ol
og
og
i
i
Ka
Ka
re
re
t
t
:
:
Mo
Mo
di
di
fi
fi
ka
ka
si
si
Mo
Mo
le
le
ku
ku
l
l
Ka
Ka
re
re
t
t
Ke
Ke
lo
lo
mp
mp
ok
ok
7
7
DEWI SRIANA
DEWI SRIANA
(1407123456)
(1407123456)
DHANI NUR MIFTAHUDDIN
DHANI NUR MIFTAHUDDIN
(1407113410)
(1407113410)
NANDRA SAPUTRA
NANDRA SAPUTRA
(1407114799)
(1407114799)
NAZSHA NAYYAZSHA NAZARIS
NAZSHA NAYYAZSHA NAZARIS
(1407112594)
(1407112594)
VIVI NOVRIYANI
Mo
Mo
di
di
fi
fi
ka
ka
si
si
Mo
Mo
le
le
ku
ku
l
l
K
K
ar
ar
et
et
:
:
Pe
Pe
nd
nd
ah
ah
ul
ul
ua
ua
n
n
•
•
Pengertian Umum :
Pengertian Umum :
Adalah
Adalah
suatu pr
suatu pr
oses modifikasi
oses modifikasi
molekul k
molekul k
aret u
aret u
ntuk
ntuk
menghasilkan produk karet yan
menghasilkan produk karet yan
g lebih
g lebih
unggul
unggul
•
•
T
T
uj
uj
ua
ua
n
n
:
:
Un
Un
tuk
tuk
pen
pen
gem
gem
ban
ban
ga
ga
n
n
pr
pr
odu
odu
k
k
mel
mel
alu
alu
per
per
bai
bai
ka
ka
n
n
k
k
ele
ele
mah
mah
an
an
sif
sif
at
at
ny
ny
a
a
dan
dan
men
men
ing
ing
ka
ka
tk
tk
an
an
k
k
eun
eun
ggu
ggu
lan
lan
at
at
au
au
unt
unt
uk
uk
men
men
sin
sin
tes
tes
is
is
bah
bah
an
an
baru yang sifatnya berbeda dari karet alam
baru yang sifatnya berbeda dari karet alam
•
•
Aplikasi
Aplikasi
: LNR (
: LNR (
Liquid Natural Rubber
Liquid Natural Rubber
), MNR (
), MNR (
Maleated Natural Rubber
Maleated Natural Rubber
),
),
EPR (
Modifikasi Molekul Karet : 1.Grafting
•
Pengertian :
Grafting atau pencangkokan adalah suatu proses pemasukkan suatu substrat
atau bahan kedalam suatu induk. Jadi, grafting natural rubber adalah suatu jenis modifikasi
karet alam dengan cara memasukkan suatu substrat atau senyawa lain (seperti maleated
anhidrat dan metil metakrilat) ke dalam rantai karet alam membentuk suatu kopolimer
(Steven, 2001).
•
Tujuan
: Tujuan dari pencangkokan adalah diharapkan bahwa senyawa produk nanti akan
memiliki sifat yang lebih unggul dari karet alam biasa atau dengan kata lain membawa sifat
baik dari karet alam dan senyawa yang dicangkokkan ke dalamnya (Steven, 2001).
•
Prinsip Kerja
:
Grafting biasanya terjadi pada letak-letak yang bisa menerima reaksi-reaksi
transfer, seperti pada karbon-karbon yang bersebelahan dengan ikatan rangkap dua dalam
polidiena atau karbon-karbon yang bersebelahan dengan gugus karbonil. Radiasi adalah
metode yang paling banyak dipakai untuk memberikan letak-letak aktif untuk kopolimerisasi
grafting. Proses ini dikerjakan dengan radiasi ultraviolet atau cahaya tampak, dengan atau
tanpa fotosensitizer tambahan atau dengan radiasi ionisasi (Steven, 2001).
Gambar 1.1 Reaksi proses grafting (Steven, 2001)
1.Inisiasi
Inisiasi adalah proses pembentukan radikal bebas oleh inisiator supaya senyawa yang akan dicangkokkan dapat berikatan dengan rantai utama. Inisiator terbagi dua, yaitu :
1.1. Zat yang dapat membentuk radikal bebas : a. Peroksida
Diantara berbagai tipe inisiator, peroksida (RooR) dan hidroperoksida (RoH) merupakan jenis yang paling banyak dipakai, tidak stabil terhadap panas dan terurai menjadi radikal radikal pada suatu suhu dan laju yang bergantung pada strukturnya. Peroksida yang paling umum dipakai adalah benzoil peroksida, yang mengalami homolisis termal untuk membentuk radikal-radikal benzoil oksi dapat dilihat pada reaksi berikut ini :
Gambar 1.1.1 Benzoil peroksida menjadi benzyl oksi (Steven, 2001)
-Tahapan yang biasanya digunakan untuk mencangkokkan suatu senyawa ke dalam rantai karet alam adalah sebagai berikut :
b. Fotokimia Keuntungan:
1.Tingkat Inisiasi dapat dikontrol oleh intensitas cahaya dan sumber radikal
2.Tanpa pelarut
Kelemahan:
1.Terbatas pada aplikasi permukaan-jenis
1.2 Radiasi
Dapat juga digunakan radiasi, (biasanya sinar ultra-violet), untuk membuat radikal bebas sepanjang rantai utama (backbone).
Inisiasi(1) Inisiasi(2)
2. Propagasi
Propagasi adalah proses pertumbuhan polimer sebagai akibat dari penggabungan monomer-monomer ke dalam rantai radikal aktif. Grafting biasanya terjadi pada letak-letak yang bisa menerima reaksi-reaksi transfer, seperti pada karbon-karbon yang bersebelahan dengan ikatan rangkap dua dalam polidiena atau karbon-karbon yang bersebelahan dengan gugus karbonil.
Radiasi langsung monomer dan polimer sekaligus lebih banyak digunakan. Karena kopolimerisasi mungkin terjadi. Monomer dan polimer harus dipilih dengan hati-hati. Pada umumnya, kombinasi terbaik adalah antara polimer yang sangat sensitif terhadap radiasi, yakni polimer yang membentuk konsentrasi radikal yang tinggi dan monomer yang tidak sangat sensitif. Homopolimerisasi bisa dikurangi
dengan memberikan radiasi yang sekejap sedangkan monomer
dibiarkan berdifusi melewati polimer. Grafting radiasi terhadap emulsi-emulsi polimer juga merupakan cara efektif untuk meminimumkan homopolimerisasi, karena medium reaksi tetap fluid bahkan pada tingkat konversi yang tinggi.
2.Propagasi 3.Terminasi
3. Terminasi
Terminasi adalah suatu proses penghentian propagasi, karena jika tidak dihentikan, maka akan terjadi degradasi pada produk.
Gambar 1.1 Reaksi proses grafting (Steven, 2001)
1.Inisiasi
Inisiasi adalah proses pembentukan radikal bebas oleh inisiator supaya senyawa yang akan dicangkokkan dapat berikatan dengan rantai utama. Inisiator terbagi dua, yaitu :
1.1. Zat yang dapat membentuk radikal bebas : a. Peroksida
Diantara berbagai tipe inisiator, peroksida (RooR) dan hidroperoksida (RoH) merupakan jenis yang paling banyak dipakai, tidak stabil terhadap panas dan terurai menjadi radikal radikal pada suatu suhu dan laju yang bergantung pada strukturnya. Peroksida yang paling umum dipakai adalah benzoil peroksida, yang mengalami homolisis termal untuk membentuk radikal-radikal benzoil oksi dapat dilihat pada reaksi berikut ini :
Gambar 1.1.1 Benzoil peroksida menjadi benzyl oksi (Steven, 2001)
-Tahapan yang biasanya digunakan untuk mencangkokkan suatu senyawa ke dalam rantai karet alam adalah sebagai berikut :
Gambar 1.1 Reaksi proses grafting (Steven, 2001)
Tahapan yang biasanya digunakan untuk mencangkokkan suatu senyawa ke dalam rantai karet alam adalah sebagai berikut :
Inisiasi(1) Inisiasi(2) 2.Propagasi 3.Terminasi
b. Fotokimia Keuntungan:
1.Tingkat Inisiasi dapat dikontrol oleh intensitas cahaya dan sumber radikal
2.Tanpa pelarut
Kelemahan:
1.Terbatas pada aplikasi permukaan-jenis
1.2 Radiasi
Dapat juga digunakan radiasi, (biasanya sinar ultra-violet), untuk membuat radikal bebas sepanjang rantai utama (backbone).
Gambar 1.1 Reaksi proses grafting (Steven, 2001)
Tahapan yang biasanya digunakan untuk mencangkokkan suatu senyawa ke dalam rantai karet alam adalah sebagai berikut :
Inisiasi(1) Inisiasi(2) 2.Propagasi 3.Terminasi
2. Propagasi
Propagasi adalah proses pertumbuhan polimer sebagai akibat dari penggabungan monomer-monomer ke dalam rantai radikal aktif. Grafting biasanya terjadi pada letak-letak yang bisa menerima reaksi-reaksi transfer, seperti pada karbon-karbon yang bersebelahan dengan ikatan rangkap dua dalam polidiena atau karbon-karbon yang bersebelahan dengan gugus karbonil.
Radiasi langsung monomer dan polimer sekaligus lebih banyak digunakan. Karena kopolimerisasi mungkin terjadi. Monomer dan polimer harus dipilih dengan hati-hati. Pada umumnya, kombinasi terbaik adalah antara polimer yang sangat sensitif terhadap radiasi, yakni polimer yang membentuk konsentrasi radikal yang tinggi dan monomer yang tidak sangat sensitif. Homopolimerisasi bisa dikurangi
dengan memberikan radiasi yang sekejap sedangkan monomer
dibiarkan berdifusi melewati polimer. Grafting radiasi terhadap emulsi-emulsi polimer juga merupakan cara efektif untuk meminimumkan homopolimerisasi, karena medium reaksi tetap fluid bahkan pada tingkat konversi yang tinggi.
Gambar 1.1 Reaksi proses grafting (Steven, 2001)
Tahapan yang biasanya digunakan untuk mencangkokkan suatu senyawa ke dalam rantai karet alam adalah sebagai berikut :
Inisiasi(1) Inisiasi(2) 2.Propagasi 3.Terminasi
3. Terminasi
Terminasi adalah suatu proses penghentian propagasi, karena jika tidak dihentikan, maka akan terjadi degradasi pada produk.
Grafting : Maleated Natural Rubber (MNR)
•
Pengertian :
Adalah karet alam yang telah dimodifikasi dengan proses grafting maleat anhidrida (MAH) ke
struktur karet alam (NR) (Zhong dkk, 1998).
•
Manfaat :
MNR dapat digunakan pada pembuatan Thermoplastic Elastomer (TPE) atau Thermoplastic
Vulcanizate (TPV) yang akhir-akhir ini sedang berkembang (Zhong dkk, 1998).
Dalam pengembangannya, kompatibilitas campuran polimer untuk membuat TPV dan TPE yakni karet
alam dengan polipropilen (PP) sangat penting karena kompatibilisasi berguna untuk :
1.Mengurangi energi antarmuka dan memperbaiki adhesi antara fase dengan mengumpulkan pada batas layar,
sehingga memperkecil fase dispersi ukuran partikel.
2.Memperoleh
dispersi yang baik selama campuran. Ukuran optimum adalah dari 0,5μm
-
1 μm.
3.Menstabilkan dispersi yang baik terhadap
agglomeration
(penumpukan) selama berlangsungnya proses.
4.Mencapai morfologi yang baik sehingga akan memberikan tegangan halus yang ditransfer dari satu fase ke fase
yang lain dan digunakan untuk menahan gangguan (kerusakan) tegangan yang lebih besar (Zhong dkk, 1998).
Maleated Natural Rubber (MNR) : Reaksi
Pembuatan
Dalam pengembangan dunia polimer untuk meningkatkan sifat karet alam yakni menghasilkan kompatibilitas pada pencampuran dapat dilakukan dengan penambahan maleat anhidrida. Dengan adanya MAH yang dicangkokkan ke dalam gugus poli pada struktur Natural Rubber (NR) membentuk Maleat Natural Rubber (MNR) (Nakason dkk, 2006).
MNR memiliki kekuatan tarik (MPa) dan kemuluran (mm) yang meningkat dari spesimen campuran NR dengan bahan lain seperti polipropilena (PP) karena sifat kepolarannya. MNR dapat dibuat secara langsung dengan menggunakan berbagai teknik mencakup termal, larutan dan tekanan (tekanan reaktif). Mekanisme yang mungkin terjadi pada reaksi grafting MAH pada struktur NR dapat dilihat pada gambar dibawah (Nakason dkk, 2006):
+ C = C CH3 CH2 H CH O O O C = C CH3 CH2 H CH H WW WW WW O O O Heat Shearing Action
Natural Rubber (NR) Maleic Anhydride (MAH) Maleated Natural Rubber (MNR)
WW W
W WW WW W W WW
Maleated Natural Rubber (MNR) : Aplikasi
MNR memiliki sifat kompatibilitas yang baik terhadap polimer lain
seperti polipropilen (PP). Oleh karena itu, MNR digunakan sebagai senyawa
penghubung (coupling agent) sehingga meningkatkan sifat antar muka dan
adhesi bahan pengisi dengan matriks polimer.
Modifikasi Molekul Karet : 2.Epoksidasi
Pengertian
: adalah modifikasi molekul karet dengan menambahkan senyawa
kimia fungsional baru dengan cara reaksi substitusi adisi pada ikatan rangkap
olefin (Hankiu, 2007).
Tujuan
: Melalui modifikasi ini, sifat karet alam akan meningkat. Jadi dapat
menampilkan sifat yang sama dengan elastomer khusus seperti penurunan
permeabilitas udara, yang sebanding dengan karet butil dan kenaikan dalam
perlawanan minyak (Hankiu, 2007).
Epoksidasi : Epoxydized Natural Rubber (ENR)
ENR adalah sebuah senyawa dengan nama cis-1,4-polyisoprene
dengan kumpulan epoksi yang tersebar secara acak disepanjang
backbone
polimer. Ikatan epoksi dari ENR berperan penting dalam
aplikasinya sebagai perekat berbasis karet (
rubber
).
Hal ini dikarenakan kemampuannya dalam ketahanan kristal,
temperatur transisi gelas yang tinggi (
Tg
) dan parameter solubilitasnya.
Disamping itu, ENR juga telah diuji dalam hal ketahanan minyak,
karakteristik perekat yang lebih baik, pemanasan dengan derajat yang
tinggi dan kemampuannya untuk tidak dapat teroksidasi secara mudah
(Hankiu, 2007).
Epoxydized Natural Rubber (ENR) :
In Situ Epoxidation
Ada berbagai metode yang berperan dalam proses epoksidasi lateks
NR. Salah satunya adalah melalui reaksi in situ dengan menggunakan asam
performic, gabungan dari asam formiat dan hidrogen peroksida. Metode ini
merupakan metode komersial yang paling terkenal untuk memproduksi
ENR.
Laju reaksi epoksidasi semakin meningkat dengan pertambahan
konsentrasi lateks. Epoksidasi secara In Situ dibagi atas 2 tahap reaksi yaitu
proses reaksi asam formiat dengan hidrogen peroksida yang menghasilkan
asam performic. Lalu, asam performic tersebut mengalami reaksi kembali
dengan lateks NR berupa reaksi epoksidasi sehingga karet alam
terepoksidasi (ENR) bisa terbentuk (Hankiu, 2007).
Epoxydized Natural Rubber (ENR) :
Aplikasi dan Pemanfaatan
Menurut Cheng Hoon (2006), ENR memiliki kemampuan seperti karet dan elastomer dengan
karakteristik khusus yang dapat disesuaikan untuk berbagai penggunaan. Beberapa penggunaan komersial yang
sangat potensial dari ENR sehubungan dengan karakteristik khusus ditunjukkan pada Tabel 1.
Selain barang-barang komersial yang ditampilkan dan diusulkan untuk digunakan pada tabel, ENR
memiliki potensi untuk dieksploitasi lebih lanjut dalam penggunaannya sebagai bahan tingkat lanjut seperti
dalam campuran, aditif dan aplikasi sel bahan bakar.
-N O
Karakteristik Aplikasi
1 Wet grip, low rolling resistance Ban, sol sepatu olahraga, pelapis lantai anti slip
2 Resistensi minyak, kekuatan tinggi Selang, segel/lak, pencegah ledakan, pipa dan konektor
3 Temperatur transisi gelas, Tg Cat dan pelapis 4 Silica dan pigmen penyokong Kosmetik,
5 Adesif Perekat, pembungkus belt konveyor PVC
Modifikasi Molekul Karet : 3.Depolimerisasi
Pengertian
: Depolimerisasi adalah proses pemutusan atau
pendegradasian polimer dengan cara menghilangkan kesatuan
monomer secara bertahap dalam reaksi (Ramadhan, 2005).
Tujuan
: Depolimerisasi molekul karet dilakukan untuk memperoleh
karet dengan bobot molekul rendah yang ditandai dengan rendahnya
viskositas
Mooney
(Ramadhan, 2005).
Depolimerisasi :
Liquid Natural Rubber(LNR)
Pengertian
: Adalah karet alam cair yang dihasilkan dari modifikasi kimia yang
merupakan turunan lain yang penting dari karet alam yang dapat dengan mudah
dihasilkan melalui degradasi oksidatif dengan proses yang berbeda (Brosse, 2000).
Karet cair (
liquid natural rubber
) merupakan depolimerisasi secara kimia
dengan reaksi redoks dapat menghasilkan karet dengan bobot molekul rendah.
Semakin rendah bobot molekul yang dihasilkan akan menyebabkan karet menjadi
semakin rendah viskositasnya (Elly Nurasih, 2006).
Karet dengan rantai molekul pendek atau viskositas rendah relatif lebih mudah
terpenetrasi ke dalam pori-pori permukaan, sehingga daya rekatnya relatif lebih kuat
dan dapat digunakan untuk membuat produk, seperti lem, cat, pernis, dan tinta cetak.
Selain itu karena bentuknya cair maka karet cair dapat digunakan untuk membuat produk
yang bentuknya rumit (Elly Nurasih, 2006).
Depolimerisasi :
Liquid Natural Rubber(LNR)
Gambar 1.3 Reaksi pembentukan LNR (Lairattanakul, 1993)
Menurut Pudjosunaryo dan Siswantoro (1991), karet alam cair didefinisikan sebagai karet alam yang pada suhu kurang dari 100 °C dapat dituang atau dipompakan tanpa bantuan medium lain. Bentuknya yang cair menyebabkan karet ini sesuai untuk pembuatan barang jadi karet yang berbentuk rumit. Karet alam cair ada dua jenis, yaitu karet alam cair dengan berat molekul tinggi dan karet alam cair dengan berat molekul rendah.
Depolimerisasi :
Liquid Natural Rubber(LNR)
Pemotongan rantai molekul karet alam dengan depolimerisasi akan menghasilkan karet alam cair. Karet cair dapat dihasilkan dengan depolimerisasi panas maupun depolimerisasi kimia pada karet alam. Depolimerisasi panas dilakukan dengan memanaskan mastikasi karet alam pada suhu 220-240 °C. Sedangkan depolimerisasi kimia melibatkan reaksi oksidasi-reduksi salah satunya dengan menggunakan fenilhidrazin dan oksigen (Elly Nurasih, 2006).