SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 1999
PENGARUH INFEKSI EIMERIA TENELLA GALUR PRECOCIOUS
DAN GALUR TETUA TERHADAP GAMBARAN DARAH
PADA AYAM PETELUR
UMICAHYANINGSIH dan AGUS TRIANA WIJATAGATILaboratorium Protozoologi, Fakultas Kedokteran Hewart, Institut Pertanian Bogor Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16151
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran darah ayam yang diinfeksi dengan Eimeria tenella galur precocious dan galur tetua (parent). Leukosit ayam terdiri dari heterofil, limfosit, eosinofil dan basofil. Penelitian ini menggilnakan ayam petelur sebanyak 45 ekor dibagi menjadi 3 kelompok yaitu : .(A) kontrol, (B) ayam yang diinfeksi ookista Eimeria tenella galur precocious dengan dosis 1 x 104 ookista/ekor dan (C) ayam yang diinfeksi Eimeria tenella galur tetua dengan dosis 1 x 104 ookista/ekor, masing - masing diinfeksi pada umur 21 hari. Empat belas hari setelah infeksi pertama, kelompok ayam yang diinfeksi ookista Eimeria tenella galur precocious dan galur tetua diuji tantang (infeksi kedu<a) dengan ookista Eimeria tenella galur tetua, dosis 1 a 10 5 ookista/ekor. Pengambilan darah untuk usapan darah tipis dilakukan pada uInur 1,7,14 dan 21 hari sebelum infeksi, 7 dan 14 hari setelah infeksi pertama dan kedua (uji tantang). Pada infeksi pertama, dibandingkan dengan infeksi Eimeria tenella galur tetua. infeksi Eimeria tenella galur precocious menyebabkan peningkatan persentase monosit dan basofil, penunman heterofil dan eosinofil Sedangkan persentase frnfosit dan basophil tidak berbeda nyata pada kedua galur tersebut. Pada infeksi kedua (tantangan), dibandingkan dengan infeksi Eimeria tenella galur tetua, infeksi Eimeria tenella galur precocious menyebabkan peningkatan persentase IiJnfosit, penurunan heterofil dan basofil. Sedangkan persentase monosit dan eosinofil tidak berbeda nyata pada kedua galur tersebut.
Kata kunei : Leukosit, Einteria tenella, galur precocious, galur tetua
PENDAHULUAN
Eimeria tenella galur precocious adalah Eimeria yang telah diatenuasi dengan seleksi precocious. Seleksi precocious dicirikan dengan pemendekkan siklus aseksual yang menghasilkan penurunan potensial reproduksi sehingga junilah parasit di dalam usus menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan Eimeria tenella tanpa seleksi precocious (galur tetua)
(JOHNSON,
1989 dalamYVORE,
1989). Spesies Eimeria yang telah diatenuasi menunjukkan penurunan patogenitas tetapi tidak menghilangkan kekebalannya(SHIRLEY,
1993). Leukosit ayam merupakan sel darah putih yang bertanggtlngjawab dalam sistem kekebalan yang terdiri dari limfosit, monosit, heterofil eosinofil dan basofil. Limfosit berperan pada proses tanggap kebal humoral dan selular. Monosit, heterofil dan eosinofil berfilngsi untuk menghancurkan antigen dengan proses fagositosis, sedangkan basofil untuk membangkitkan proses perbarahan akut pada tempat deposisis antigen.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan gambaran darah ayam yang diinefeksi dengan Eimeria tenella galur precocious dan galur tetua.
Penelitian ini menggunakan ayam petelur jantan (ISA Brown) mulai umur 1 hari se-banyak 45 ekor , dibagi menjadi 3 kelompok yaitu : kelompok A sebagai kontrol, kelompok B diinfeksi ookista Eimeria tenella galur precocious dan kelompok C adalah kelompok ayam yang diinfeksi ookista Eimeria tenella galur tetua (parent).
Pengambilan darah dan pembuatan usapan darah tipis dilakukan pada 7 hari setelah infeksi pertama (s.i.I), 14 hari s.i.I , 7 hari s.i II dan 14 hari s.i II. Infeksi pertama dilakukan saat ayam umur 21 hari, kelompok precocious adalah ayam yang diinfeksi Eimeria tenella galur precocious dan kelompok tetua adalah ayam yang diinfeksi Eimeria tenella galur tetua (parent), masing-masing galur diinfeksi secara peroral dengan dosis lx 10 4 ookista/ekor. Kelompok ayam kontrol tidak diberi perlakuan. Hari ke-14 setelah infeksi pertama, kelompok precocious dan tetua ditantang dengan dosis lx 10 5 ookista Eimeria tenella galur tetua/ekor per oral. Usapan darah tipis diwarnai dengan pewarna Giemsa dan dilihat dibawah mikroskop.
Metoda rancangan acak lengkap ANOVA (Analysis
of
variance procedure) dan uji lanjut Duncan'sMultiple range Test digunakan untuk membedakan masing-masing perlakuan dan waktupemeriksaan darah pada setiap perlakuan.
Dari hasil pengamatan ii enunjukkan bahwa jumlah monosit akibat infeksi Einteria tenella galur precocious tidak berbeda nyata dengan galur tetua, mulai 14 hari setelah infeksi pertama sampai 14 hari setelah infeksi kedua (uji tantang). Akan tetapi pada hari ke-7 setelah infeksi pertama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada galur precocious (Tabel 1). Monosit akibat infeksi E. tenella galur precocious lebih tanggap dari pada galur..tetua. KOCUTet al. (1984)
menyatakan bahwa terjadi peningkatan junilah persentase monosit darah tepi ayam yang diinfeksi E. tenella, E. necatrix dan E. adenoides selama periode kerusakan jaringan yang hebat. Kerusakan yang hebat pada infeksi E. tenella terjadi pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah infeksi . Monosit mempunyai kemampuan dalant fagositosis mononuklear pada proses tanggap kebal terhadap infeksi organisme/parasit intraseluler, sel nekrotik dan reruntuhan sel.
Tabel 1 .
Waktu pemeriksaan
Umur 1 hari (sebeluin infeksi) Umur 7 hari (sebelum infeksi) Umur 14 hari (sebelum infeksi ) Umur 21 hari (sebehun infeksi) 7 hari sesudah infeksi I
14 hari sesudah infeksi I 7 hari sesudah infeksi II
14 hari sesudah infeksi 11
Keterangan
604
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1999
MATERI DAN METODE
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan monosit kelompok ayam yang diinfeksi ookista E. tenella galur precocious, galur tetua dan kontrol (sebelum dan sesudah infeksi)
Rata-rata persentase monocit pada kelompok ayam
Precocious (B) Tetua (C) Kontrol (A) 8,06' 8,00 . 8,07" 1,40 d 1,54 d 1,47et 2,07 d 1,93cd 2,00de' 2,20 d 2,33cd 2,33de 10,13Aa 2,85atua 0,86ct 4,20 b` 3,93b 4,20b` 3,93 b 3,00 ` 3,33cd 3,74 ` 4,07 b ° 5,00 b
Hurufabjad yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata Hurufabjad keeil untuk membandingkan waktu pemeriksaan
SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 1999
Rata-rata persentase heterofil , baik setelah infeksi pertama maupun kedua (uji tantang) pada ayam yang diinfeksi Eimeria tenella galur tetua cenderung lebih tinggi dari pada galur precocious karena pada galur tetua terdapat peradangan sekum yang lebih hebat dibandingkan galur precocious yang telah diatenuasi (Tabel 2). Heterofii memiliki kentampuan untuk melawan Eimeria sehingga heterofil pada ayam yang diinfeksi E. tenella galur tetua bergerak lebih aktif Hal itu ditunjukkan dengan ditemukannya hete-rofil dalatn jumlah banyak untuk memfagositosis Eimeria sebagai benda asing. Infeksi akibat E. tenella galur tetua meningkatkan persentase heterofil.
Tabel 2. Hasil pengamatan heterofil kelompok ayam yang diinfeksi ookista E. tenella alur precocious, galur tetua dan kontrol (sebelum dan sesudah infeksi)
Waktu pemeriksaan Rata-rata persentase lteteril pada kelompok ayam
Precocious (13) Tetua (C)
Kontrol (A)
Umur 1 hari (sebelum infeksi) 72,31 ° 72,40 a 72,40 °
Umur 7 hari (sebehun infeksi) 49,40- b 50,00 b 49,73 b
Umur 14 hari (sebeltun infeksi)34,5434,47c 33,73
-Umur 21 hari (sebelum infeksi) 26,73 d 26,60' 26,67 d
7 hari sesudah infeksi 1 18,67 Be 25,50 Ad 24,00Al
14 hari sesudah infeksi 1 19,53 Be 17,86 ce 25,47Aet
7 hari sesudah infeksi II 20,53 ce 34,14Ac 26,33 Be'
7 hari sesudah infeksi 11 15,33 Ct 33,57Ac 29,73 Bd
Keterangan : Hurufabjad yangsama memmjukkan tidak berbeda nyata Hurufabjad kecil untuk membandingkan waktu pemeriksaan
Hurufabjad besar untuk membandingkan kelompok ayam yang diinfeksi
Rata-rata persentase eosinofil pada ayam yang diinfeksi E. tenella galux precocious dan galur tetua tidak berbeda nyata baik setelah infeksi pertama maupun kedua (uji tan-tang), kecuali pada 14 hari setelah infeksi pertama nyata lebilt tinggi (P<0,5) pada galur tetua (Tabel 3). Eosinofil berperan dalatn proses fagositosis polintorfonuklear terhadap E. tenella dan enzynt yang diliasilkan oleh eosinofil mampu menetralkan faktor radang untuk mengatur perbaraltan. (TizAR, 1982 dalatn
PARTODIREDJO, 1987). Tabel 3.
Waktu pemeriksaan
Umtir 1 hari (sebelum infeksi) Unntr 7 hari (sebelum infeksi) Umur 14 hari (sebeltun infeksi ) Unutr 21 hari (sebelum infeksi) 7 hari sesudah infeksi I 14 hari sesudah infeksi I 7 hari sesudah infeksi II 7 hari sesudah infeksi II
Keterangan
Hasil pengamatan eosinofil kelompok ayam yang diinfeksi ookista E. tenella galur precocious, galur tetua dan kontrol (sebeltun dan sesudah infeksi)
Rata-rata persentase eosinofl pada kelompok ayam
Precocious (13) Tetua (C) Kontrol (A) 2,44 bcd 2,53 bc 2,60 0,27t 0,33 e 0,27 de 1,26 e 1,33 ed 1,20 bc , ,go cde 1,73 cd 1,67 b 1,53 Ade 1,14 Ade 0,13 Be 3,07 Bb 4,64 A3 0,13 Ce 2,60 Abc 3,2 1 Ab 0,00 Be 6,07Aa 5,50 Aa 0,86Bcd
Huruf abjad yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata Huruf abjad kecil untuk membandingkan waktu pemeriksaan
Rata-rata persentase Lmfsit akibat infeksi ookista E. tenella galur precocious nyata lebih
tinggi (P<0,5) dari pada galur tetua setelah infeksi kedua (7 dan 14 hari setelah infeksi kedua), sedangkan setelah infeksi pertama tidak berbeda nyata (Tabel 4). Limfosit berperan dalam proses tanggap kebal terhadap infeksi Eimeria terjadi pada ntinggu ke-3 setelah infeksi pertama
(CAHYANINGSIH, 1994). Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa ookista E. tenella galur precocious lebih merangsang limfosit dibandingkan galur tetua. Limfosit tersebut berfungsi untuk membentuk antibodi dalam tanggap kebal humoral dan limfokin dalam tanggap kebal seluler.
Tabel 4. Hasil pengainatan limfosit kelompok ayam yang diinfeksi ookista E. tenella galttr precocious, galur tetua dan kontrol (sebelum dan sesudah infeksi)
Waktu pemeriksaan Rata-rata persentase limfosit pada kelompok ayam Precocious (B) Tetua (C)
Kontrol (A) Umur 1 hari (sebelum infeksi) 16,06 4
15,63 `15,87
Umur 7 hari (sebeltun infeksi) 48,87d 48,00 d 48,47 d
Umur 14 hari (sebelum infeksi) 61,86
-62,07 -61,93
Umur 21 hari (sebelum infeksi) 68,67 b 68,73 b 68,66b
7 hari sesudah infeksi I 68,94 Bb 70,21 ab 75,00Aa
14 hari sesudah infeksi I 73,07Aa 72,43 Aa 70,20 Bb
7 hari sesudah infeksi II 72,87 Ab 58,07Cd 69,33 Bb
7 hari sesudah infeksi lI 74,13Aa 55,14 c` 64,27Bc
Keterangan :
Hurufabjad yang smna menunjukkan tidak berbeda nyata Hurufabjad kecil untuk membandingkan waktu pemeriksaan
Hurufabjad besaruntuk membandingkan kelompok ayam yangdiinfeksi
Rata-rata persentase basofil, baik ayam yang diinfeksi ookista E. tenella galur pre-cocious maupun galur tetua tidak berbeda nyata setelah infeksi pertama. Sedangkan setelah infeksi kedua (uji tantang), rata-rata persentase basofil pada ayam yang diinfeksi E tenella galttr precocious nyata lebih rendah (P<0,05) dibandingkan galur tetua (Tabel 5). Perbaraltan akibat infeksi E. tenellagalur tettta lebih hebat dari pada galttr pre-cocious, karena patogenitasnya tinggi, sehingga untuk mengatasi tersebut persentase basofil meningkat pada ayam yang diinfeksi E. tenellagalur tetua. Basofil berperanan untuk membangkitkan proses perbarahan akut pada tempat deposisi antigen dan menge-luarkan histarnin serta heparin. Histamin berfungsi untuk menarik eosinofil dalam mengatasi perbarahan dan heparin untuk ntencegah pembekuan darah.
Tabel 5 Hasil peugainatan basofil kelompok ayam yang diinfeksi ookista E. tenella galur precocious, galur tettta dan kontrol (sebelum dan sesudah infeksi)
Waktu pemeriksaan
Umur 1 hari (sebelum infeksi) Umur 7 hari (sebelum infeksi) Umur 14 hari (sebelum infeksi ) Umur 21 hari (sebelum infeksi) 7 hari sesudah infeksi I 14 hari sesudah infeksi I 7 hari sesudah infeksi 11 7 hari sesudah infeksi II Keterangan
606
Seminar Nasional Peternakan don Veteriner 1999
Rata-rata persentase basofil pada kelompok ayam Precocious (B) Tefua (C) Konfrol (A) 1,12 ' 1,13' 1,07 0,06 -0,13c 0,07 0,33bc 0,27 -0,34be 0,60 bc 0,60bc 0,67'b 0.73Aah 0,29wac 0,06Bc 0,13 c 0,14c 0,00c 0,07cc 1,57Aa 1,00ea 0,87Bab 1,71 Aa 0,14cc
Hurufabjad yangsama menunjukkan tidak berbeda nyata Hurufabjad kecil untuk membandingkan waktu pemeriksaan
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1999
KESIMPULAN
Setelah infeksi pertanna denganEimeria tenellagalur precocious nnenyebabkan peningkatan persentase monosit, penurunan heterofil dan eosinofil bila dibandingkan dengan infeksi Eimeria tenella galur tetua. Sedangkan persentase limfosit dan basofil tidak berbada nyata pada kedua galur tersebut.
Setelah infeksi kedua (uji tantang) dengan Eimeria tenella galur precocious menyebabkan peningkatan persentase frnnfosit, penurunan heterofil dan basofil bila dibandingkan dengan infeksi
Eimeria tenellagalur tetua. Sedangkan persentase monosit dan eosinofil tidak berbeda nyata pada kedua galur tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
CAHYANINGSIH,U. and Y.E.HEDIANTO. 1994. The measurement of antibody response to Einteria tenella in
native chicken by using ELISA method. Proceeding of the 7th AAAP Animal Science Congress. p. 261-262.
JoHNsoN, J.K . and P.L. Long. 1989. The fecundity and dnig sensitivity of preco-cious lines of avianEimeria.
Proc. of the 5th International Coccidiosis Conference. Edited by YvoRE, Institut National De La
Recherche Agronomique (INRA) p. 671-676.
KoGVT, M.H .T ., T.C . GoRE, and P.L. Long. 1984. Eimeria tetella, E. necatrix and Eimeria adenoides.
Pheriphere blood leucocyte response of chickens and turkey to strain adapted to the turkey embrio.
Experimental Parasitologv .58 (1) : 63-71 .
SHIRLEY,M.W. 1993. Control of Coccidiosis with live vaccine. World Poultry. p. 24-27.
TYzARD, I.R. 1982. An Introduction to Veterinary hnununology dalantPARTODIREDJO,M. 1987. Pengantar