DIMENSI ETIKA DALAM ERA DIGITAL

Teks penuh

(1)

DIMENSI ETIKA DALAM ERA DIGITAL

Augustinus Setiawan STMIK PROVISI, Semarang augustinus_set@yahoo.com Abstrak

Netralitas teknologi seperti yang secara umum dipahami ternyata tidak memberikan jawaban yang memuasakan dalam keterkaitan antara teknologi dan masalah etika yang timbul karena penggunaan teknologi. Kaum determinis teknologi memberikan jawaban yang lebih memuaskan dengan menyatakan bahwa pada dasarnya ternologi tidaklah bebas nilai.

Kajian atas varian hubungan antara manusia, teknologi dan dunia dapat dipergunakan untuk menjelaskan keterkaitan antara penggunaan teknologi dengan masalah etika yang timbul. Era digital berkaitan erat dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dan juga secara empiris memberikan dampak yang sangat significant dengan perubahan kebudayaan umat manusia Kemajuan teknologi bukan saja merubah apa yang dilakukan manusia, melainkan juga merubah bagaimana melakukan,. Walaupun kajian keterkaitan teknologi dan etika telah sejak lama dilakukan, paper ini berusaha memberikan kajian ketekaitan masalah etika di era digital dengan melihat varian hubungan antara teknologi, manusia dan dunia secara lebih baru dengan harapan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang sesuai dengan kondisi yang ada.

Kata kunci : etika, era digital, teknologi, kebudayaan, manajemen Abstract

Technology advancement has great impacts on humans’ morality; many people say that technology without control can create chaos. The notion that technology is neutral as commonly understood by people does not give satisfactory answer regarding the correlation between technology and problems raised because of technology usage. Technological determinists give more satisfactory answer by stating that basically, technology is not free from value.

Study on relation of humans, technology and the world can be used to explain the relation between technology usage and ethical problem. Digital era is closely related with technology advancement and empirically has significant impact by changing human culture. Technology does not only change what humans do but also how they do it.

Although studies on the relation between technology and ethics have been done since long time ago, this paper is trying to study the relations of ethics in digital era by looking at the relational variants between technology, humans and the world from a newer perspective in a hope to give contribution regarding the present condition.

Keywords: technology, ethics, digital era 1. Pendahuluan

Kemajuan teknologi yang mengantar umat manusia ke era digital memberikan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan teknologi itu sendiri. Kemajuan ini disatu sisi memberikan harapan-harapan baru kearah sesuatu yang lebih baik, namun disisi lain juga memberikan kecemasan-kecemasan seperti yang dikatakan bahwa teknologi yang berkembang pesat diluar kontrol moral justru menghantar manusia kepada kekacauan.

Secara empiris kecemasan ini tampak dalam kenyataan sehari-hari seperti banyaknya pertanyaan tentang dampak pornografi didalam pengunaan internet. Dalam kehidupan manajemen, sistim digital memberikan kemudaan untuk mengirimkan

informasi atau data, menganalisa dengan tidak ada hambatan baik dalam sisi waktu dan jarak. Pengambilan keputusan dan analisa dapat dilakukan dengan cepat. Namun demikian, pimpinan perusahaan pun sering menanyakan keamanan data dan integritas tenaga kerja yang berhubungan dengan komputer. Apakah SDM yang berkaitan dengan data dan komputer dapat dipercaya atau tidak, atau mereka nanti akan mencuri data perusahaan.

Kenyataan empiris ini menunjukan sifat ambivalensi dari kemajuan teknologi yang dirasakan oleh pengguna teknologi. Sisi manajemen sering mempertanyakan masalah moral hazard apa yang dapat muncul dengan pengunaan ICT dalam manajemen atau dalam rangkaian pengambilan

(2)

keputusan. Jawaban bahwa teknologi adalah sesuatu yang netral tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Dalam banyak kasus teknologi menunjukan sisi yang tidak bebas nilai, misal penggunaan ICT di perusahaan mau tidak mau akan mendorong perusahaan menetapkan standart kompetensi yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknologi akan memberikan dampak perubahan prilaku yang cukup significant. Hoven dan Weckert (2008) mengemukakan bahwa teknologi bukan hanya mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga mengubah bagaimana kita melakukan. E-mail misalnya telah merubah bagaimana kita berkomunikasi secara tertulis. Dahulu seseorang menulis surat, memasukan dalam amlop dan mengirimkan. Berapa waktu kemudian baru diterima oleh person yang dimaksudkan. Sekarang semua berubah, dengan e-mail semua terkirim dan dapat diterima dengan sangat cepat.

Tentu saja masalah kemajuan teknologi tidak dapat disambut dengan rasa pesimis dan kecemasan saja, karena sikap pesimis justru akan menghambat kearah kemajuan. Salah satu jalan untuk meminimalkan kecemasan akan dampak dari kemajuan teknologi adalah mengkaji tentang seberapa jauh adanya masalah moral hazard dalam penggunaan ICT. Permasalah diatas dapat dirumuskan: (i) konsekwensi-konsekwensi etika apakah yang timbul dalam penggunaan kemajuan teknologi di bidang manajemen; dan (ii) apakah penggunaan teknologi merupakan sesuatu yang netral seperti yang secara umum dipahami? Atau ada konsekweksi-konsekwensi dari pengunaan teknologi seperti terjadinya perubahan prilaku yang ujungnya akan berkaitan dengan masalah etika.

Menjawab dua pertanyaan diatas, mau tidak mau, mendorong kajian ini masuk kedalam ranah filsafat. Era digital yang merupakan hasil dari kemajuan teknologi. Keterkaitan teknologi dan etika yang ada dalam ranah filsafat telah lama dikaji. Weiner peletakan dasar pemahaman ini dikenal dengan ‟ICT ethics‟ (Bynum, 2008). Penggunaan teknologi mau tidak mau akan bersinggungan dengan permasalah etika dan inilah yang dikaji oleh filsafat teknologi yaitu permasalah moral apa yang terkait dengan penggunaan teknologi. Apakah penggunaannya telah sesuai dengan martabat manusia dan konsekwensi-konsekwesi apa yang timbul dari penggunaan teknologi.

Ada dua pandangan tentang teknologi yaitu mengatakan bahwa teknologi adalah netral dan pendapat yang lain mengatakan bahwa teknologi tidaklah netral seperti yang dikemukakan oleh Ihde (1990). Senada dengan pendapat Ihde (1990), Lim (2008, 17) menegaskan ketidak netralan teknologi dalam pengertian teknologi menjadi mediator antara manusia dan dunianya.

Walaupun paper ini mempunyai banyak keterbatasan yaitu hanya mengkaji dari sisi teoritis dan melakukan kajian hanya dari beberapa sisi

pandangan filsafat teknologi, kajian ini berusaha memberikan kontribusi dengan melakukan refleksi keterkaitan penggunaan teknologi dengan masalah etika yang timbul. Jawaban atas persoalan apakah teknologi netral atau tidak inilah yang berkaitan dengan jawaban atas keterkaitan antara dimensi etika dalam era digital.

Untuk mempermudah kajian, paper ini ditulis dengan sistimatika sebagai berikut. Pembahasan teknologi, era digital dan etika ada dalam subbagian dua. Analisa yang berkaitan antara masalah etika dan teknologi terletak di subbagian tiga dan yang terakhir adalah kesimpulan.

2. Teknologi, Era Digital dan Etika 2.1 Determinisme Teknologi

Salah satu cabang filsafat kontemporer adalah filsafat teknologi yang melihat bahwa teknologi adalah sebuah fenomena yang penting dan perlu direfleksikan secara mendalam (Lim, 2008; 9). Kenetralan teknologi telah menjadi perdebatan antara (i) kelompok determinis sosial dan (ii) kelompok determinis teknologi (Ihde, 1990; 4).

Secara umum dikatakan bahwa teknologi adalah sebuah entitas yang netral. Pendapat ini dikemukakan oleh kelompok deteminis sosial (socially deterministic). Teknologi tidak mempunyai efek dalam dirinya sendiri dan hanya memberikan dampak ketika berada di tangan manusia. Jika dipergunakan secara melawan etika maka yang melawan etika adalah penggunanya bukan teknologinya. Jadi yang membuat teknologi tidak netral adalah manusia sebagai pengguna teknologi tersebut.

Penggunaan internet terletak dari manusia yang mempergunakan. Jika dipergunakan secara baik, manusia dapat memperoleh banyak informasi yang berguna misalkan menambah literatur dalam melakukan penelitian. Sebaliknya jika hanya digunakan untuk mengunjungi situs-situs yang tidak pada tempatnya, maka akan merusak moral penggunanya.

Berseberangan dengan determinis sosial, determinis teknologi (technological determinist) mengatakan bahwa teknologi tidak netral. Teknologi diciptakan dengan mempuyai alur hidupnya sendiri dan berjalan sendiri. Teknologi menjadi otonom dan mendominasi manusia dengan cara bepikir yang instrumental. Manusia dikondisikan dalam pemikiran yang instrumental. Teknologi menjadi sarana dan sekaligus tujuan sehingga menjadi artificial otonom yang menentukan dirinya sendiri dan berkembang dalam proses sebab akibat.

Kondisi ini menjadikan sarana menjadi lebih penting dari tujuan yang ujungnya memperbudak manusia. Kenyataan inilah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sehingga menimbulkan kecemasan-kecemasan. Pendapat yang mengatakan

(3)

bahwa kemajuan teknologi tanpa control moral akan menimbulkan kekacauan (chaos) bukan tanpa dasar empiris. Masyarakat sekarang adalah masyarakat teknologis dengan ciri-ciri: (i) materialistis, (ii) konsumeristik, (iii) totalitarianisme (Lim, 2008; 19).

Masyarakat menjadi materialistis karena semua entitas dalam masyarakat terdiri dari benda-benda materi dan manusiapun dipandang sebagai objek material. Teknologi merupakan perkembangan kekuasaan karena teknologi yang bersifat instrumental memberikan dampak pada masyarakat. Teknologi sebagai buah kemenangan pemikiran manusia yang analitis dan teknis justru mereduksi manusia menjadi hanya satu dimensi yaitu manusia yang konsumeristik. Sifat konsumetistik ini dicerminkan dengan memandang semua objek menjadi sebuah komoditas.

Bersembunyi dibalik kedok netralitas, teknologi sebenarnya menyimpan kekuasaan ideologi teknokratis yang dominan menjadi semacam totalitarianisme yang akan mengkontrol manusia tanpa batas. Manusia dihadapkan pada pilihan bahwa seolah-olah kebutuhannya hanya dapat dipenuhi dengan cara-cara teknologis.

Dampak penggunaan teknologi yang mengasumsikan bahwa teknologi tidak bebas nilai juga dikemukakan oleh Moor (2008; 37) dengan mengemukakan dalil, Moor yang menunjukan bahwa ada hubungan yang positif antara penggunaan teknologi dan persoalan persoalan sosial dan etika. (Moor‟s Law: As technological revolutions increase their social impact, ethical problems increase). 2.2 Teknologi dan Dunia Kehidupan

Ihde termasuk pemikir penting dalam bidang filsafat teknologi kontemporer. Ia mengkaji filsafat teknologi dan filsafat sains dengan peminatan khusus dalam bidang pencitraan dan juga melakukan penelitian dalam bidang persepsi antar budaya. Menurut Ihde teknologi dapat didekati dari berbagai perpektif yaitu: secara epistemologi; etis; antropologis dan metafisis. Walaupun masih mengutamakan pengalaman, Ihde tidak merujuk pada ego transcendental, karenanya fenomenologi Ihde dapat dikatakan telah melampau fenomenologi klasik yaitu menjadi pascafenomenologi (postphenomenology) dan Ihde dalam pemikiranya telah menggunakan teori variasi (variational theory). Heidegger dapat dikatakan sebagai perintis pemikiran filosofis mengenai teknologi (Idhe, 1990; 31). Pokok pemikiran Heidegger dapat dipahami bahwa penggunakan teknologi akan mempengaruhi persepsi dan pengalaman manusia dalam kehidupannya. Hubungan ini bercirikan eksistensial. Secara fenomenologis Idhe (1990) mengambarkan beberapa hubungan dimana alat akan mempengaruhi cara manusia mengalami dunia kehidupan (Lim, 2008; 77). Sebelumnya Heidegger sudah menggunakan fenomenologi dalam menganalisa

teknologi yaitu mengenai rasionalitas kalkulatif dalam karyanya „The Question Concerning Technology’ dan analisis deskriptif tentang alat dalam „Being and Time” (Lim, 2008; 101).

Idhe menunjukan bahwa ada berbagai macam pengalaman manusia dengan teknologi dan menyadarkan manusia akan dampak teknologi dalam kehidupannya. Relasi non-netral dengan teknologi merupakan sisi yang lemah, sisi yang kuat adalah menunjukan adanya berbagai macam variasi hubungan eksistensial (Idhe, 1979). Kenyataan ini menunjukan bahwa arah dan tujuan hidup manusia telah dipengaruhi teknologi tetapi tidak sepenuhnya karena hubungan ini tidak total (Lim, 2008). Variasi hubungan ini dikemukan oleh Idhe (1990; 107) seperti pada gambar no 1.

Variant 1 embodiment relations

(Human

Technology)

World

Variant 2 hermeneutic relations

Human (technology –

World)

Variant 3 alterity relations

Human Technology –

(World)

Gambar 1. Hubungan Antara Manusia, Teknologi, dan Dunia (Idhe, 1990)

Dalam embodiment relations, alat digunakan sebagai perpanjangan dari tubuh manusia. Jadi alat menjadi bagian dari tubuh manusia dalam menjalin relasinya dengan dunia. Disini alat sebagai mediator. Hubungan ini mempunyai ciri eksitensial karena teknologi dilibatkan dalam konteks penggunaannya. Embodiment relations melahirkan keinginan agar teknologi menjadi transparant total atau dikatakan menjadi bagian dari tubuh manusia. Secara negative, keinginan ini merupakan pelepasan dari materialitas teknologi. Manusia menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuannya, tetapi teknologi yang transparant total adalah teknologi yang digunakan tanpa disadari keberadaannya. Keinginan ini merupalan keinginan utopis dan distopis tentang teknologi karena teknologi hanya transparant partial bukannya transparant total.

Varian yang kedua adalah hubungan hermeneutis dimana teknologi dibaca hanya sebagai kumpulan teks yang perlu ditafsirkan. Hasil bacaan ini akan mensubsitusi dunia kehidupan serta menjadi objek persepsi. Idhe memberikan contoh krusial tentang reactor nuklir. Keadaan disekitar reactor hanya dapat diketahui dari papan instrument. Jika papan instrument ini gagal menampilkan apa yang sesungguhnya terjadi maka kondisi reactor tidak akan dapat diketahui. Secara empiris hal-hal semacam ini yang sering menyebabkan kecelakaan atau kerugian dalam kehidupan manusia. Hubungan

(4)

ini menunjukan bahwa teknologi adalah objek tanpa merujuk pada konotasi negative dalam konsepsi Heideggerian.

Alterity relations adalah varian hubungan yang ke tiga, disini teknologi dilihat sebagai yang lain atau lebih tepat dikatakan sebagai quasi yang lain. Ihde (1990) mengemukakan bahwa teknologi dalam hubungan keberlainan tidak mungkin sampai ke tahap total karena teknologi hanya berperan sebagai perantara saja yang mempunyai sifat merubah. Tanda kurung menunjukan bahwa dalam hubungan keberlaian tidak harus ada atau mungkin ada relasi manusia dengan dunia melalui teknologi. Dunia dalam hal ini menjadi latar belakang sedangkan teknologi memegang peranan utama.

Lim (2008; 124) berpendapat bahwa dalam semua varian hubungan manusia dan teknologi mempunyai dua ciri penting yaitu: (i). Pengunaan alat akan mengubah persepsi manusia dan (ii). Perubahan pengalaman ini terjadi dimensi amplifikasi dan reduksi yang bersifat tetap dalam semua jenis hubungan manusia dan teknologi. Dimensi amplifikasi umumnya bersifat monodimensi karena mengamplifikasi satu ciri dari pengalaman persepsi saja. Dimensi reduksi jarang diperhatikan karena tidak menarik perhatian terlebih-lebih jika alat teknologi itu menjadi canggih dan kadar transparansinya bertambah.

2.3 Teknologi dan Kebudayaan

Ada perbedaan dalam pemakaian teknologi dalam kebudayaan. Budaya Barat cenderung menggunakan teknologi sebagai kekuasaan. Teknologi sebagai cara berpikir yang memanipulasi dan mengeksploitasi dunia sebagai persediaan. Sebagai contoh penggunaan mesiu berbeda antara negara Barat dan Cina (dahulu). Orang-orang Cina yang pertama kali menemukan mesiu hanya mempergunakan sebagai alat hiburan dalam perayaan-perayaan. Di negara Barat, mesiu dipergunakan dalam perang dengan tujuan untuk menguasai dan menaklukan negara lain (Lim, 2008; 136).

Contoh ini menunjukan bahwa teknologi dan kebudayaan ada keterkaitan erat dan teknologi yang sama dapat dipergunakan untuk cara dan tujuan yang berbeda. Penggunaan alat selalu berada dalam praksis budaya tertentu. Alat teknologi selalu dilibatkan sesuai dengan konteks kegunaannya dalam lingkungan sekitarnya. Ketika alat tersebut dipindahkan ke budaya lain, yang dipindahkan bukan hanya alatnya melainkan juga hubungan budaya dan nilai-nilai yang ada.

Perpindahan teknologi selalu disertai perpindahan nilai dan proses tadi. Dalam suatu budaya yang menerima teknologi baru akan bergantung pada pihak yang membuat teknologi tersebut dan secara pelahan-lahan terjadi penyesuaian di mana nilai dan penggunaan alat yang

dipindahkan tadi berubah menurut konteks budaya yang menerima. Disinilah terjadi transformasi nilai-nilai.

Seperti dikemukakan diatas bahwa kaum deteminis sosial berpendapat bahwa teknologi adalah netral / bebas nilai karena tidak mengandung tujuan-tujuan pada dirinya sendiri. Ihde (1990) berpendapat lain bahwa teknologi mempunyai kecenderungan tertentu (latent telic) jadi tidak netral.

Gambar 2. Kubus Necker (Ihde, 1990) Kemampuan teknologi untuk berubah mengikuti budaya yang menerimanya yakni menjadi struktur teknologi-budaya oleh Ihde dimanakan ‟multistabilitas‟. Multistabilitas berasal dari fenomena keberagaman persepsi yang diambil dari sebuah objek yang sama.

Gambar 3. Kubus yang dipandang sebagai sebuah permata (Ihde, 1990)

Sebagai contoh kubus Necker (kubus Necker adalah objek persepsi yang ambigu dengan dua kemungkinan melihatnya). Otak manusia hanya mampu melihat dengan satu cara pandang pada satu waktu.Kubus ini dapat dilihat dengan berbagai cara dan menunjukan ciri bentuk yang berlainan (polymorphy). Kubus yang sama ini dapat dibayangkan sebagai sebuah permata berbentuk aneh yang berdimesi tiga dan bukan lagi sebuah kubus seperti pada gambar 3. Multistabilitas ditujukan melalui persepsi visual dari suatu bentuk yang sama tetapi mempunyai beberapa kemungkinkan cara melihat yang stabil. Ihde (1990; 145) berpendapat multistabilitas ini juga mengikuti hubungan manusia dan teknologi dan juga dalam cara pandang teknologi – budaya.

2.4 Refleksi Etika

Etika adalah sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang

(5)

sangat fundamental yaitu bagimana manusia harus hidup dan bertindak? Etika tidak sama dengan ajaran moral. Etika bukanlah tambahan bagi ajaran moral, tetapi merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral (Magnis-Suseno, 1987).

Pertanyaan yang timbul berkaitan dengan masalah etika yaitu mengapa manusia mengembangkan etika? Etika tidak mempunyai tujuan untuk secara langsung membuat manusia menjadi lebih baik. Etika adalah pemikiran yang sistimatis tentang moralitas. Output yang dihasilkan secara langsung bukan kebaikan, melainkan suatu pengertian yang mendasar dan kritis. Jadi ketika masalah perkembangan teknologi yang menciptakan era digital dipertanyakan dalam sisi etika tujuannya adalah mengkaji secara kritis dan sistimatis permasalahan apa yang akan timbul dalam kaitannya dengan masalah moralitas yang mungkin diakibatkan oleh kemajuan teknologi (Schultz, 2010; 45).

Etika diperlukan dalam kehidupan manusia karena:

1. Manusia hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistic. Kesatuan tatanan normative sudah kabur. Manusia dihadapkan kepada banyak pandangan moralitas yang sering bertentangan satu dengan yang lain.

2. Kita hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding. Adanya gelombang modernisasi dan globalisasi menuntut manusia untuk berpikir secara kritis dengan mempertanyakan kembali moralitas yang ada. 3. Etika membuat manusia dapat untuk berpikir

secara kritis dan objektif sehingga mampu membentuk penilaian sendiri dan tidak mudah begitu saja mengikuti arus.

Pada hakekatnya etika mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa dengan kritis kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan moral (Magnis-Suseno, 1987). Etika menuntut pertanggung-jawaban dan mau menyingkapkan kerancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja, melainkan menuntut pertanggung-jawaban atas pendapat-pendapat tersebut.

Refleksi etika adalah pengandaian bahwa apa yang lebih mulia adalah apa yang bersifat altuistik (artinya bagi kepentingan banyak orang – alter = lain). Refleksi atas tindakan moral dapat dilihat dari „sumber moralitas‟ yaitu apakah ada keselarasan atau ketidak selarasan tiga unsur “sumber moralitas‟ tersebut dengan norma moral (Heinz Peschke, 1997).

Tindakan moral menjadi tidak baik / jahat jika salah satu unsur melawan norma moral. Ketiga sumber tersebut adalah: (i) objek tindakan manusiawi yaitu akibat yang dihasilkan secara langsung oleh suatu tindakan (finis operis). (ii)

situasi yaitu konteks tindakan manusia konkret yang tidak harus terikat dengan objeknya. (iii) tujuan atau maksud (finis operantis) yaitu alasan yang mendorong dilakukan suatu tindakan. Sumber moralitas ini dapat dipergunakan sebagai landasan berpikir untuk mengkaji penggunaan teknologi telah sesuai dengan masalah moral atau tidak.

3. Analisis

Kajian dalam filsafat teknologi diatas menunjukan bahwa persepsi manusia atas teknologi memberikan peran penting dalam masalah yang berkaitan dengan etika. Keputusan-keputusan manusia terletak pada persepsi manusia itu sendiri. Ada beberapa variant hubungan antara teknologi, manusia dunianya. Masing-masing varian akan berkaitan dengan implikasi etis sesuai dengan persepsi yang dibawa oleh pengguna teknologi tersebut.

Sebagai contoh kemajuan teknologi dalam sistim digital memungkinkan setiap orang diseluruh dunia melihat realitas perang Teluk (tahun 1990 – 1991) di rumahnya masing masing dan di ruang mereka masing-masing. Perang itu diperlihatkan apa adanya sehingga menimbulkan kebencian terhadap perang. Dalam contoh kasus di Indonesia peristiwa penyergapan teroris di Temanggung (2009) dapat ditayangkan secara riil. Banyak orang yang mengikuti tayangan tersebut semalam suntuk dan merasakan seakan-akan ada ditempat dimana terjadi penyergapan atas teroris tersebut. Semua ini karena adanya kemajuan dalam bidang teknologi dan secara khusus dalam bidang pencitraan.

Masalahnya menjadi berbeda ketika penayangan hanya menampilkan hal-hal yang sesuai dengan kepentingan pihak yang menayangkan. Perang Teluk tidak diingkari cenderung menampilkan kemenangan tentara Amerika atau bom yang dijatuhkan tepat sasaran. Beberapa periode kemudian baru diketahui bahwa apa yang ditayangkan tidak semuanya benar. Disini ada manipulasi penayangan dan hal inilah yang berkaitan dengan persoalan etika. Walaupun pemirsa mengetahui bahwa apa yang ditayangkan tidak 100 persen benar, pemirsa menerimanya seolah-olah benar. Perbedaan realita antara yang benar dan tidak benar seolah-olah tidak ada. Disinilah kajian etika memengang peranan yang cukup penting karena teknologi dapat dengan mudah mengubah persepsi orang atau mendorong orang kepada sebuah penilaian walaupun penilaian tersebut adalah salah.

Dalam variant embodiment relations, alat menjadi perpanjangan tubuh manusia dalam relasinya dengan dunia. Contoh penayangan berita diatas menunjukan bahwa teknologi dilibatkan untuk melihat atau memperlihatkan sesuatu dalam cara tertentu dan ini mengakibatkan perubahan persepsi. Bagi pemirsa teknologi dilibatkan untuk melihat sesuatu dan bagi pihak yang menayangkan teknologi

(6)

dipergunakan untuk memperlihatkan sesuatu. Persoalan-persoalan moral hazard akan timbul karena dalam kondisi ini dimungkinkan terjadinya keadaan informasi yang tidak simetris (asymmetric information).

Variant hermeneutic relations pun menimbukan persoalan yang berkaitan dengan etika. Dalam hubungan ini persepsi dan penafsiran memainkan peran yang sangat penting. Manusia yang mempergunakan teknologi akan menafsirkan informasi-informasi yang disampaikan atau dibaca dalam papan panel. Penafsiran ini dilakukan berdasarkan persepsi yang dimilikinya. Kecelakaan dalam rektor nuklir sering dijadikan contoh dalam kasus ini.

Ihde (1990) menyebutkan ada dua macam hubungan dalam relasi ini yaitu: (i) varian horizontal dan (ii) varian vertikal. Dalam varian horisontal, manusia masih mempunyai kemampuan untuk mengenali apa yang terjadi sebenarnya (Lim, 2008: 112). Berbeda dengan varian vertikal, yang bercirikan adanya diskontinuitas yang besar antara bacaan yang perlu ditafsirkan dengan dunia nyata. Contoh pembacaan hasil rekam jantung manusia dalam pemeriksaan medis memerlukan penafsiran yang khusus. Penafsiran ini memerlukan pembelajaran dan kebiasaan untuk menginterpretasikan. Persoalan etika yang muncul adalah perlunya kesadaran untuk membedakan apa yang dipersepsi secara langsung dengan apa yang diperoleh melalui alat.

Penggunaan komputer dapat dikatagorikan ke varian yang ke 3 (alterity relations). Hubungan ini mempunyai apacity yang tinggi dan transparancy

yang rendah. Manusia menjadi sangat terikat dengan teknologi untuk mengantikan pekerjaan-pekerjaannya. Terkait dengan pertanyaan dalam kajian ini yaitu: konsekwensi-konsekwensi etika apakah yang timbul dalam penggunaan kemajuan teknologi di bidang manajemen, sebenarnya cukup banyak persoalan etika yang perlu mendapatkan kajian. Penggunaan software dalam akuntansi / keuangan disatu sisi akan sangat membantu kecepatan dalam melakukan analisa keuangan dan pelaporan. Disisi lain sering terjadi ketidak pekaan dalam mengkaji ulang kebenaran data sampai dengan pelaporan. Manusia hanya mengandalkan alat saja.

Ketidak netralan teknologi seperti yang diuraikan diatas merupakan dasar bagi kajian yang berkaitan dengan permasalah etika. Teknologi mau tidak mau memberikan dampak etika seperti yang dikemukakan oleh Moor (2008). Suka atau tidak suka teknologi tidak dapat diingkari memberikan perubahan terhadap persepsi waktu, persepsi ruang dan juga mengubah bahasa.

4. Kesimpulan

Kajian untuk dimensi etika yang berkaitan dengan teknologi hanya dimungkinkan jika dilihat dalam filsafat teknologi atau lebih khususnya membahas dalam sisi teleologi. Teknologi yang telah diakrapi dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam era digital memerlukan refleksi etika yang mendasar. Pandangan netralitas teknologi menjadikan manusia melupakan hal yang paling mendasar yaitu tujuan diciptakannya teknologi adalah untuk meningkatkan martabat manusia.

Secara empiris, ketika kemajuan teknologi tidak dipahami dari sisi etika, kemajuan ini justru mendorong masyarakat menjadi masyarakat teknologis dengan ciri-ciri materialistis dan konsumeristik. Semua entitas dalam masyarakat terdiri dari benda-benda materi dan manusiapun akhirnya dipandang sebagai objek material. Semua ini bermuara pada totalitarianisme teknologi. Teknologi sebagai buah kemenangan pemikiran manusia yang analitis dan teknis justru mereduksi manusia menjadi hanya satu dimensi yaitu manusia yang konsumeristik.

Kajian dalam paper ini mempunyai banyak keterbatasan karena hanya mengkaji dari beberapa sisi hubungan teknologi dan manusia yang berkaitan dengan etika. Kajian-kajian yang berhubungan dengan keterkaitan masalah etika / moral dan aplikasi teknologi sangat diperlukan bukan saja untuk memberikan refleksi atas kemajuan teknologi sehingga tidak kehilangan arah, melainkan juga untuk membantu meletakan keberadaan teknologi secara benar dalam kehidupan manusia.

Daftar Pustaka:

Ludeman, L. C., 1987, Fundamental of Digital Signal Processing, Singapore, John Wiley & Sons, Inc.

Bynum T. W., 2008, Norbert Wiener and the Rise of Information Ethic. In. Hoven J. dan Weckert J,

Information Technology and Moral Philosophy,

Cambridge University Press. (p. 8 – 25)

De Vries M., 2005, Teaching about Technology. An Introduction to the philosophy of Technology for Non-philosophers, Springer.

Heinz Peschke, K., 1997, Chrisliche Ethic, Grundlegungen der Moraltheologie, Paulinus Verlag, Trier, Penerjemah Alex Armanjaya, Yosef M. Florisan, G. Kirchberger., Penerbit Ledalero. Hoven J. dan Weckert J., 2008, Information Technology and Moral Philosophy, Cambridge University Press.

(7)

Ihdle, Don., 1979, Technics and Praxis: A Philosophy of Technology, Dordrecht: Reidel Publisher.

Ihdle, Don., 1990, Technology and the Lifeworld: from Garden to Earth, Bloomington: Indiana University Press.

Keraf S., A., 1998, Etika Bisnis, Tuntutan dan Relevansinya, Pustaka Filsafat, Penerbit Kanisius. Lim F., 2008, Filsafat Teknology., Don Ihle tentang Dunia, Manusia dan Alat, Penerbit Kanisius. Magnis-Suseno F., 1987, Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Pustaka Filsafat., Penerbit Kanisius.

Magnis-Suseno F., Djiwandono J., S., dan Prakarsa W., 1994, Etika Bisnis, Dasar dan Aplikasinya, PT Gramedia.

Moor J.H., 2008, Why We Need Better Ethics for Emerging Tecnologies? In. Hoven J. dan Weckert J,

Information Technology and Moral Philosophy,

Cambridge University Press. (p. 26 – 39)

Schultz, R.A, 2010, Information Technology and the Ethics of Globalization: Transnational Issues and Implications, IGI Global, Information Science Reference.

Trevino L.,K. dan Nelson K., A., 1999, Managing Business Ethics, John Wiley & Sons. Inc.

Val Dusek, 2006, Philosophy of Technology : an Introduction, Blackwell Publishing Ltd.

Velasques M. G., 2002, Business Ethics, Concepts and Cases. 5th ed, Pearson Education, Inc.

Figur

Gambar 1. Hubungan Antara Manusia, Teknologi,  dan Dunia (Idhe, 1990)

Gambar 1.

Hubungan Antara Manusia, Teknologi, dan Dunia (Idhe, 1990) p.3
Gambar 3. Kubus yang dipandang sebagai  sebuah permata (Ihde, 1990)

Gambar 3.

Kubus yang dipandang sebagai sebuah permata (Ihde, 1990) p.4
Gambar 2. Kubus Necker (Ihde, 1990)

Gambar 2.

Kubus Necker (Ihde, 1990) p.4

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :