• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN REPRESENTASI KIMIA SEKOLAH BERBASIS INTERTEKSTUAL PADA SUBMATERI TEORI ATOM DALTON

DALAM BENTUK MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

Oleh :

Rini Hardini Husain, Sri Mulyani, Wiji

Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI - email: [email protected] Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI - email: [email protected]

Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI - email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan representasi kimia berbasis intertekstual berupa multimedia pada submateri teori atom Dalton. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian dan pengembangan.Objek dalam penelitian ini adalah konsep pada submateri teori atom. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa tabel kesesuaian indikator dan konsep dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, tabel analisis video pembelajaran berdasarkan tinjauan pedagogik dan tinjauan prinsip multimedia, lembar validasi storyboard, angket validasi untuk ahli media, angket tanggapan untuk guru, dan angket tanggapan untuk siswa. Prosedur penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu diawali dengan pemilihan materi, analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada standar isi mata pelajaran Kimia SMA selanjutnya dengan melakukan kajian konten, kajian teori belajar, dan kajian prinsip multimedia. Hasilnya digunakan untuk menganalisis multimedia yang ada berdasarkan aspek konten, aspek pedagogik, dan aspek prinsip multimedia. Hasil analisis multimedia yang ada, digunakan untuk pembuatan script dan storyboard. Langkah selanjutnya adalah pembuatan multimedia berdasarkan script dan storyboard. Beberapa kendala yang muncul selama pembuatan multimedia yang pada umumnya merupakan kendala yang bersifat teknis. Berdasarkan hasil validasi ahli media, multimedia pembelajaran ini telah baik. Dari guru dan siswa multimedia pembelajaran ini mendapat tanggapan positif dengan data hasil angket tanggapan guru hampir keseluruhan aspek yang ditanggapi dinyatakan telah sesuai oleh 4 orang responden, sedangkan data angket siswa menunjukkan lebih dari 80% siswa menyatakan persetujuannya terhadap multimedia pembelajaran.

Kata kunci:representasi kimia, multimedia, teori atom Dalton

DEVELOPMENT OF SCHOOL CHEMISTRY REPRESENTATION BASE ON INTERTEXTUAL AT THE DALTON’S ATOMIC THEORY TOPIC ON THE

TEACHING MULTIMEDIA

Abstract

The objective of this research is to produce chemistry representation based on intertextual as multimedia model at the Dalton’s Theory topic. The methode used was research and developments. The object research are concept on atomic theory subtopics. Research instruments used were a table of uniformity of indicators with concepts based on competence standard and base competences, teaching video analysis based on paedagogic and multimedia, storyboard validation, student and teacher respond questioners. Research procedure was initialy by subject selection, analysis of high school competence standard and base competences, analysis of content, learning theory and multi media principles. Teaching multimedia was produced base on script and

(2)

showed that four teacher responders gave good which all the model aspects were suitable, while more than 80% students agree toward teaching multimedia models. Keywords: Chemistry representative, multimedia, Dalton’s atom theory

PENDAHULUAN

Para ahli Kimia dan Pendidika Kimia membagi kimia ke dalam tiga level representasi seperti yang dikemukakan oleh Johnstone (Chittleborough, 2004) yakni level makroskopik, level submikroskopik, dan level simbolik. Karena materi kimia meliputi konsep tentang partikel dasar materi yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh siswa (level submikroskopik), maka banyak siswa menganggap bahwa kimia itu abstrak dan sulit untuk dipahami. Penelitian yang dilakukan oleh Gabel et al.

(Wu, 2009) menunjukkan bahwa

representasi submikroskopik dan simbolik sulit untuk dipahami siswa karena kedua representasi tersebut tidak dapat dilihat dan abstrak, sedangkan pemahaman siswa terhadap kimia biasanya bergantung pada perolehan informasi yang dapat dilihat. Penelitian yang lain menunjukkan, pada umumnya hampir keseluruhan siswa memiliki pemahaman yang baik pada level

makroskopik dan simbolik, tetapi

pemahaman siswa pada level

submikroskopik bervariasi ada yang langsung dapat membayangkan level submikroskopik dan ada pula yang kurang dapat membayangkannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harisson dan Treagust (Chittleborough, 2004) yang menunjukkan bahwa pada kebanyakan siswa tingkat 8 dan bahkan beberapa guru ilmu pengetahuan pada tingkat 8-10, pemahaman mereka pada partikel dasar penyusun materi khususnya level submikroskopik kurang[1].

Padahal pemahaman pada level

submikroskopik merupakan bagian penting dalam memahami kimia seperti yang dikemukakan oleh (Chittleborough, 2004) yang menyebutkan bahwa penjelasan fenomena kimia biasanya tergantung pada

level submikroskopik partikel yang digambarkan secara simbolik.

Penggunaan level makroskopik,

submikroskopik, dan simbolik secara simultan dapat mengurangi konsep alternatif siswa pada materi kimia. Jika ketiga level tersebut dihubungkan akan berkontribusi pada konstruksi pengertian dan pemahaman siswa yang direfleksikan dalam model mental mereka terhadap fenomena. Oleh karena itu, representasi kimia dan keterpautannya memiliki peranan yang penting dalam pembelajaran kimia. Keterpautan dalam representasi kimia dikenal dengan istilah intertekstual. Seperti yang dikemukakan oleh Haliday dan Hasan (Wu, 2003) yang menyebutkan mengenai istilah teks sebagai suatu bahasa fungsional yang dapat diekspresikan dalam bentuk apapun. Santa Barbara Classroom Discourse Group (Wu, 2003) menyebutkan bahwa masing-masing representasi kimia seperti level makroskopik, level submikroskopik, dan level simbolik dapat didefinisikan sebagai suatu teks. Dan keterpautan antara level makroskopik, level submikroskopik dan level simbolik dapat disebut dengan intertekstual.

Selain representasi kimia dan keterpautannya, siswa sendiri memiliki peranan yang penting dalam memahami kimia. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian selama beberapa dekade yang dilakukan oleh Duit (Gilbert dan Treagust, 2009). Dia menunjukkan bahwa siswa bukanlah

pembelajar yang pasif, melainkan

memberikan makna pada informasi baru sesuai dengan ide dan pengalaman mereka sebelumnya. Penelitian tersebut sejalan dengan paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa siswa secara aktif mengkonstruk pengetahuan, dengan cara

(3)

mengaitkan pengetahuan yang baru diperoleh dengan pengetahuan sebelumnya.

Untuk dapat memudahkan

pemahaman kimia pada level

submikroskopik, penggunaan alat-alat teknologi seperti komputer dapat dijadikan sebagai alternatif, karena penggunaan alat teknologi dapat memvisualisasikan level submikroskopik. Kozma dan Rusell (Wu, 2003) menyatakan bahwa alat-alat teknologi yang mengintegrasikan multiple representasi dapat memberikan kesempatan siswa untuk memvisualisasikan kimia dan meningkatkan pemahaman konseptual[5]. Namun beberapa

penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi komputer dalam pembelajaran mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan

dalam pembuatan suatu multimedia

pembelajaran tidak memperhatikan siswa sebagai pengguna. Oleh karena itu diperlukan suatu prinsip pembuatan multimedia yang memperhatikan segi siswa. Prinsip yang memiliki kesesuaian pandangan bahwa siswa dapat mengelola dan mengolah secara aktif pengetahuan yang baru diperolehnya adalah prinsip pembuatan multimedia yang dikemukakan oleh Mayer. Mayer telah melakukan beberapa penelitian

mengenai multimedia. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan, diperoleh 9 prinsip yang menunjukkan nilai tes transfer siswa lebih baik atau siswa akan belajar lebih mendalam jika prinsip - prinsip tersebut dalam multimedia pembelajaran.

Salah satu bagian materi kimia yang menjadi dasar perkembangan teori tentang partikel dasar penyusun materi adalah teori atom yang dikemukakan oleh Dalton. Teori atom Dalton merupakan bagian dari sejarah kimia. Dengan mempelajarinya akan diperoleh manfaat seperti yang kemukakan oleh Wandersee dan Griffard (Gilbert dan Treagust, 2009). Mereka menyebutkan bahwa tujuan adanya unsur sejarah dalam pembelajaran antara lain: (1) Siswa dapat belajar tentang ilmu pengetahuan sebagai sebuah dasar pembangunan dan aktivitas

dapat dilatih; (3) Siswa dapat termotivasi dari cerita sejarah[6]. Selain itu, pemahaman

tentang konsep teori atom Dalton, dapat memudahkan siswa untuk memahami salah satu konsep penting Kimia yaitu konsep tentang perhitungan Kimia atau yang lebih dikenal dengan stoikiometri, khususnya mengenai hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap yang berkaitan dengan teori atom Dalton. Oleh karena itu, konsep teori atom Dalton yang berkaitan dengan hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap akan dijadikan sebagai dasar penelitian ini. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan suatu

penelitian mengenai pengembangan

representasi kimia sekolah berbasis intertekstual pada submateri teori atom

Dalton dalam bentuk multimedia

pembelajaran.

Representasi Kimia

Secara umum, para ilmuwan

menggambarkan kimia dalam tiga level

representasi. Menurut Johnstone

(Chittleborough, 2004) ketiga level tersebut adalah (1) Level makroskopik riil dan dapat dilihat, seperti fenomena kimia yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam laboratorium yang dapat diamati langsung; (2) Level submikroskopik: berdasarkan observasi riil tetapi masih memerlukan teori untuk menjelaskan apa yang terjadi pada

level molekuler dan menggunakan

representasi model teoritis, seperti partikel mikroskopik yang tidak dapat dilihat secara langsung; (3) Level simbolik: representasi dari suatu kenyataan, seperti representasi simbol dari atom, molekul, dan senyawa, baik dalam bentuk gambar, aljabar, maupun bentuk-bentuk hasil pengolahan komputer. Level submikroskopik merupakan bagian representasi yang berada diantara kenyataan dan representasi dari teori.

Pemodelan dalam kimia dan

representasi memegang peranan yang penting dalam pengajaran dan pembelajaran konsep kimia[1]. Alat-alat yang digunakan

(4)

seperti model dan representasi Kimia adalah sentral dalam pembelajaran Kimia[1].

Intertekstual

Teks menurut Halliday dan Hasan (Wu, 2003) diartikan sebagai bahasa fungsional, baik berupa perkataan maupun tulisan, atau media ekspresi lainnya yang kita pikirkan. Proses sentral dalam memaknai sebuah teks ialah dengan membuat hubungan di antara teks-teks yang berbeda. Ketiga level representasi kimia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dipandang sebagai teks (Santa Barbara Classroom Discourse Group, 1992, dalam Wu, 2003) Hubungan antara satu teks dengan teks yang lain disebut dengan istilah intertekstual[5]. Dalam pembelajaran di kelas

disarankan untuk melakukan suatu

pembelajaran yang didalamnya

menghubungkan ketiga level representasi kimia. Intertekstual dapat dipandang sebagai

suatu strategi instruksional dalam

pembelajaran[]. Intertekstual dapat

dipandang sebagai sebuah proses sentral sesorang dalam memberikan makna pada teks yang tidak familiar[5].

Konstruktivisme dan Psikologi Kognitif

Paham konstruktivisme adalah

paham yang mengemukakan bahwa siswa dapat mengkonstruk pengetahuan yang diterima dengan cara menghubungkan informasi yang baru diterima dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki[9].

Pemahaman tergantung pada proses yang ada pada diri siswa sendiri[9]. Paham ini,

sejalan dengan pandangan psikologi[7].

Multimedia Pembelajaran

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran dari sumber belajar ke penerima pesan atau peserta didik[10].Multimedia didefinisikan

sebagai presentasi materi dengan

menggunakan kata-kata sekaligus gambar-gambar[8]. Multimedia dalam penelitian ini

adalah pesan instruksional (pembelajaran)

yang dikemas melalui serangkaian kata-kata berupa teks dan audio serta gambar-gambar berupa video dan animasi. Prinsip-prinsip yang digunakan sebagai dasar dalam pembuatan multimedia menurut Mayer (2009): (1) Multimedia Principle; (2) Spatial Contiguity Principle; (3) Temporal Contiguity Principle; (4)Coherence Principle; (5) Modality Principle; (6) Redundancy Principle; (7)

Individual Differences Principle; (8) Signaling Principle; (9)Interactivity Principle[8].

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu produk representasi kimia sekolah berbasis intertekstual pada submateri teori atom Dalton dalam bentuk multimedia pembelajaran. Sejalan dengan itu, penelitian ini merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan (research and development). Tahapan yang dilakukan dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap studi pendahuluan dan studi pengembangan[11].

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang

dilakukan, telah dikembangkan tiga level representasi kimia pada submateri teori atom Dalton yang berkaitan dengan hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan

tetap. Teori atom Dalton dipilih

berdasarkan kepentingan epistemologi dan kepentingan konseptual. Kepentingan epistemologi didasarkan pada manfaat yang dapat diambil dengan mempelajari teori atom Dalton yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan kimia. Kepentingan konseptual yang didasarkan pada submateri teori atom Dalton adalah prasyarat dalam

mempelajari konsep stoikiometri.

Berdasarkan kedua kepentingan tersebut dilakukan analisis terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar pada standar isi IPA SMP dan Kimia SMA. Berdasarkan hasil analisis pada standar isi SMP dan SMA, maka ditetapkan standar isi

(5)

SMA yang akan dianalisis lebih lanjut dalam merumuskan indikator. Hal ini disebabkan kedalaman submateri teori atom Dalton mencakup kedua kepentingan sebagai dasar pemilihan materi, khususnya kepentingan konseptual yaitu teori atom Dalton sebagai

prasyarat untuk memahami konsep

stoikiometri yang dipelajari pada kelas X di SMA.

Teori atom Dalton dikemukakan dalam bentuk pernyataan, sehingga tahap pertama yang dilakukan adalah menganalisis level submikroskopik. Level submikroskopik adalah penjelasan dari fenomena kimia[].

Berdasarkan hasil analisis pada beberapa

textbook, Dalton mengamati fenomena mengenai hukum kekekalan massa dan

hukum perbandingan tetap. Level

submikroskopik yang dikembangkan dalam bentuk multimedia pembelajaran adalah: (1) pemikiran Democritus tentang penyusun suatu benda; (2) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan pemikiran Democritus; (3) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan hasil pengamatannya terhadap unsur yang sama dan unsur yang berbeda; (4) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan percobaan hukum kekekalan massa; dan (5) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan percobaan hukum perbandingan tetap.

Berdasarkan level submikroskopik yang dikembangkan, kemudian dilakukan pengembangan pada level makroskopik. Level makroskopik yang dikembangkan, didasarkan pada hukum kekekalan massa

dan hukum perbandingan tetap.

Berdasarkan hal tersebut, kemudian dilakukan identifikasi pada beberapatextbook

mengenai percobaan tentang hukum

kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap. Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh beberapa percobaan sebagai level makroskopik yang dikembangkan yaitu percobaan tentang reaksi antara Pb(NO3)2

-dengan KI menghasilkan PbI2 dan

K(NO3)2[12]. Hal ini juga didukung oleh

multimedia pembelajaran yang ada berupa video pembelajaran yang telah dilakukan mengenai pereaksian zat tersebut. Kemudian percobaan hukum perbandingan tetap ditetapkan percobaan mengenai reaksi pembentukan besi sulfida sebagai bahan

representasi makroskopik yang

dikembangkan.

Setelah ditetapkan percobaan yang akan dilakukan pada pengembangan representasi, kemudian tahapan selanjutnya adalah mengembangkan level simbolik. Level simbolik didasarkan pada level

makroskopik yaitu bahan-bahan yang

digunakan dalam percobaan. Bahan-bahan yang dikembangkan level simboliknya adalah belerang, besi, timbal nitrat, kalium iodida, dan timbal iodida. Kemudian dilakukan identifikasi mengenai unsur-unsur yang terlibat dalam percobaan untuk memperlihatkan gambaran mengenai atom-atom penyusun zat tersebut. Ketiga level representasi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk multimedia pembelajaran.

Sebelum dilakukan pembuatan

multimedia, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap video pembelajaran yang sudah ada pada submateri teori atom Dalton. Analisis dilakukan berdasarkan aspek pedagogik dan aspek prinsip multimedia. Analisis aspek pedagogik dilakukan dengan cara mengkaji teori belajar paham konstruktivisme diantaranya teori belajar Bruner, teori belajar Gagne, dan teori belajar Piaget. Sementara itu dianalisis aspek prinsip multimedia dilakukan dengan cara mengkaji multimedia berdasarkan

prinsip-prinsip multimedia yang

dikemukakan oleh Mayer.

Hasil analisis terhadap video

pembelajaran menunjukkan beberapa

kelemahan dan kelebihan, baik dari aspek

pedagogik maupun aspek prinsip

multimedia. Kelemahan dan kelebihan dari 5 video pembelajaran yang dianalisis adalah: (1) Pada umumnya pemaparan konsep dilakukan secara deskriptif atau tertulis,

(6)

mengarahkan siswa untuk aktif, tetapi pasif dan hafalan; (2) Pada umumnya tujuan pembelajaran tidak ditampilkan, sehingga segi motivasi siswa untuk memahami konsep kurang; (3) Ada 4 dari 5 video pembelajaran yang dianalisis tidak menampilkan ketiga level representasi kimia, khususnya dalam konsep teori atom Dalton; (4) Ada 4 dari 5 video pembelajaran yang dianalisis tidak mencantumkan sisi kehidupan sehari-hari,

sehingga segi intertekstual atau

keterhubungan konsep dengan kehidupan sehari-hari tidak terlihat; (5) Minimnya sisi interaktifitas dengan pengguna (siswa). Hal ini terlihat dari penyampaian yang tidak dilakukan dalam bentuk menanyakan sesuatu kepada siswa, sehingga siswa tidak dapat berkomunikasi secara aktif dengan video pembelajaran tersebut; (6) Pada

umumnya video pembelajaran yang

dianalisis belum memenuhi prinsip

multimedia yang dikemukakan oleh Mayer, khususnya prinsip redundansi dan prinsip koherensi. Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa akan memproses informasi secara optimal jika informasi diperoleh melalui sumber yang berbeda yaitu sistem verbal dan pictorial. Sementara itu video

pembelajaran yang ada, kebanyakan

memperlihatkan informasi melalui dua saluran yang sama contohnya adalah terdapatnya teks berupa tulisan dengan gambar dalam satu tampilan, padahal teks berupa tulisan dan gambar keduanya

menggunakan satu saluran pengolahan yaitu sistem pictorial atau menggunakan indera

penglihatan sehingga penyampaiannya kurang efektif[8].

Hasil analisis terhadap video pembelajaran, digunakan untuk pembuatan

script dan storyboard sebagai langkah awal dalam pembuatan multimedia pembelajaran.

Storyboard yang telah dibuat divalidasi oleh dosen kimia pada aspek konten dan aspek pedagogiknya. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan pembuatan multimedia berdasarkan aspek konten, aspek pedagogik, dan prinsip multimedia. Aspek konten berdasarkan ketiga level representasi yang

dikembangkan sebelumnya. Aspek

pedagogik didasarkan pada teori belajar yang telah ditentukan yaitu teori belajar Bruner, dan aspek prinsip multimedia didasarkan pada prinsip multimedia Mayer.

Validasi Ahli Media

Untuk memperoleh validitas

multimedia, dilakukan validasi multimedia oleh 2 orang ahli media yaitu dosen dari jurusan Ilmu Komputer. Validasi ahli media dari jurusan Ilmu Komputer dilakukan untuk mendapatkan masukan mengenai multimedia yang dibuat dari sudut pandang media. Kriteria yang digunakan untuk validasi oleh ahli media adalah keterbacaan,

kemudahan navigasi, kualitas

pendokumentasian, kejelasan suara dan tampilan animasi.

Berikut ini adalah tabel hasil validasi dari ahli media:

Tabel 1 Hasil Validasi Ahli Media 1

No. Indikator Penilaian Tanggapan

1 Keterbacaan 3,9 1. Apakah tampilan harus serius? Lebih baik ada nuansafun, misalnya

seperti Laptop si Unyil.

2. Tambahkan navigasinextataubackpada tampilan tertentu!

3. Untuk kecepatan suara telah pas untuk orang yang baru pertama kali mendengarkan

4. Kenapa penyajiannya tanpa musik?

5. Untuk setiap tombol sebaiknya memilikihint

6. Beberapa alur program beberapa agak kurang jelas

7. Untuk gambar yang berasal dari sumber lain sebaiknya disebutkan sumbernya untuk menghindari penjiplakan.

8. Teks bacaan pada kuis tidak jelas tugasnya. 9. Gambar disarankan untuk lebih hidup. 10. Secara umum telah BAIK.

2 Kemudahan navigasi 4 3 Kualitas pendokumentasian 3,5 4 Kejelasan suara 4 5 Tampilan animasi 4 Nilai rata-rata 3,9

DO NOT COPY

(7)

Secara rata-rata ahli media , memberikan penilaian 3,9 ( dari skor

masimal 4) terhadap multimedia. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran ini telah masuk kategori baik.

Tabel 2 Hasil Tanggapan Guru

No. Indikator Tanggapan KesesuaianYa Tidak

1. materi yang diajarkan telah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4 2. urutan materi yang ada telah sesuai berdasarkan tingkat

kesulitannya

4

3. kuis yang disajikan telah sesuai dengan materi pembelajaran 2 2 4. multimedia pembelajaran ini dapat menjadi sarana untuk

membantu pembelajaran di kelas

4 5. materi yang disampaikan telah sesuai dengan tingkat

perkembangan siswa SMA kelas X semester 1)

4 6. multimedia pembelajaran ini dapat memotivasi siswa 4 7. multimedia pembelajaran ini dapat diterapkan untuk materi

Kimia lainnya

4

Secara garis besar angket tanggapan yang diberikan kepada guru ditujukan pada konten, kemudahan dalam membantu pembelajaran di sekolah, dan motivasi untuk siswa. Data diambil dari 4 orang guru Kimia di salah satu sekolah yang ada di Bandung. Hasilnya (yang diperlihatkan pada tabel 2 ), menunjukkan bahwa hampir seluruh indikator ditanggapi ya atau sesuai oleh semua guru, baik dari segi konten, kemudahan dalam sarana membantu pembelajaran di sekolah dan dari segi motivasi siswa. Akan tetapi khusus untuk

kuis yang terdapat pada multimedia pembelajar-an ini, 2 dari 4 guru menyatakan bahwa option atau kunci jawaban soal yang terdapat pada kuis dalam multimedia pembelajaran ini masih kurang 1 option. Jadi perlu dikaji ulang apakah banyaknya pilihan jawaban yang diberikan adalah 4 atau 5. Sebenarnya tidak terlalu masalah berapa banyak pilihan jawaban yang disediakan. Akan tetapi biasanya, untuk siswa SMA disediakan 5 pilihan jawaban.

Tabel 3 Data Hasil Persentase Persetujuan Siswa Terhadap Multimedia Pembelajaran

No. Pertanyaan PersetujuanPersentase

1. Apakah Anda menyukai multimedia pembelajaran ini? 88,75% 2. Apakah multimedia pembelajaran ini dapat meningkatkan minat

belajar Anda?

81,88% 3. Apakah dengan multimedia pembelajaran ini pemahaman

konsep Anda pada sub konsep teori atom Dalton menjadi lebih baik?

81,25% 4. Apakah keingintahuan Anda tentang teori atom Dalton

meningkat setelah menggunakan mutimedia pembelajaran ini?

78,75% 5. Apakah tampilan yang ada pada multimedia pembelajaran ini

menarik bagi Anda?

86,54% 6. Apakah Anda termotivasi untuk mempelajari teori atom Dalton

dengan multimedia pembelajaran ini?

81,88%

Rata-rata 83,18 %

Hasil Tanggapan siswa terhadap multimedia menunjukkan bahwa rata-rata

Hal ini menunjukkan sikap yang positif dari siswa terhadap multimedia pembelajaran.

(8)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, representasi kimia yang dikembangkan pada submateri teori atom Dalton pada level submikroskopik terdiri atas 5 konsep utama yaitu: (1) pemikiran Democritus tentang atom; (2) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan pemikiran Democritus; (3) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan pengamatan terhadap unsur yang sama dan unsur yang berbeda; (4) pemikiran Dalton tentang atom berdasarkan percobaan percobaan hukum kekekalan massa; dan (5) pemikiran Dalton

hukum perbandingan tetap. Level

makroskopiknya berupa video percobaan reaksi antara timbal nitrat dengan kalium iodida sebagai percobaan hukum kekekalan massa, video percobaan reaksi antara besi dan belerang sebagai percobaan hukum perbandingan tetap. Level simboliknya berupa penggambaran animasi atom-atom penyusun zat yang terlibat dalam level makroskopik, maupun submikroskopik.

Multimedia pembelajaran yang

dikembangkan termasuk kategori baik dan mendapatkan tanggapan yang positif baik dari guru maupun siswa.

REFERENSI

Alfian, R. (2011). Pengembangan Representasi Kimia Sekolah Berbasis Intertextualitas Pada Submateri Hukum Kekekalan Massa. Skripsi S1 pada Jurusan Pendidikan Kimia UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Chittleborough, G.D. et al. (2002). Constraints To The Development Of First Year University Chemistry Students’ Mental Models Of Chemical Phenomena. Curtin University of Technology

Chittleborough, G.D. (2004). The Role of Teaching Models and Chemical Representationsin Developing Mental Models of Chemical Phenomena.Thesis. Science and Mathematics Education Centre

Gilbert J. K & Treagust D. (2009). Multiple Representations in Chemical Education4. DOI 10.1007/978-1-4020-8872-8

Jansoon, N. (2009). Understanding Mental Model of Dilution. Vol. 4, No. 2, April 2009, 147-168.

Kearney M & Treagust D. (2001).Constructivism as A Referent in The Design and Development of A Computer Program Using Interactive Digital Video to Enhance Learning in Physics.

Australian Journal of Educational Technology., 2001, 17(1), 64-79.

Mayer, R. E. (2009). Multimedia Learning Prinsip-prinsip dan Aplikasi. Ditrjemahkan oleh Teguh Wahyu Utomo. Surabaya: itspress.

Sorden S. D. (2005). A Cognitive Approach to Instructional Design for Multimedia Learning. Northern Arizona University Flagstaff, AZ, USA., 2005, Vol 8

Solehudin, D. (2009). Penggunaan media animasi kompuer untuk meningkatkan pemahaman level mikoskopik dan penguasaan konsep siswa pada pokok bahsan kearutan dan hasil kali kelarutan. Tesis S2 pada program studi pendidikan IPA sekolah pasca sarjana UPI. Bandung: Tidak ditebitkan

Sukmadinata. (2009).Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Wu, H.K et al. (2009). Using Technology to Support the Development of Conceptual

Understandingof Chemical Representations. School of Education, 4009 Suite, 610 E. Univ., University of Michigan, Ann Arbor, MI 48109

Wu, H.-K. (2003). “Linking The Microscopic View Of Chemistry To Real Life Experiences: Intertextuality In A High-School Science Classroom”. Science Education. 87, 868-891.

Gambar

Tabel 2 Hasil Tanggapan Guru

Referensi

Dokumen terkait

Adanya keefektifan penggunaan media permainan teka-teki pada pelajaran matematika materi bangun datar simetris dan tidak simetris terhadap prestasi belajar siswa di kelas

Seperti uji fungsi, uji fungsi merupakan tindakan pengujian terhadap bagian mesin yang sudah diperbaiki utuk melihat apakah perbaikan yang dilakukan terhadap mesin

Sasaran 9, Terwujudnya Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Permasalahan atau hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan strategi yang ditetapkan dalam rangka terwujudnya strategi

Pengaruh kondisi sosial masyarakat pasca konflik terhadap psikologis re- maja di Desa Palas Pasemah Lampung Selatan berdasarkan penjelasan di atas maka terdapat

Peserta sertifikasi dapat mengajukan sertifikasi dengan persyaratan bukti kompetensi berasal dari pendidikan, pelatihan dan/atau pengalaman kerja sesuai dengan bidang kerja

Gangguan ini disertai dengan tuli sensorineural dan vertigo.Gangguan vaskuler koklea terminalis yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan keseimbangan

Alat musik taganing yang digunakan adalah merupakan hasil pembuatan sanggar musik Aritonang sendiri, selain membuat alat musik taganing dari pipa paralon, sanggar musik

1 1 Tahun 2012 Pencabutan Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor: 71/KEP/BSN/2/2006 Tentang Penetapan Pedoman Standardisasi Nasional (PSN) 306- 2006: Penilaian