Page 44
MEMAHAMI TEOLOGI HINDU
DALAM KONTEKS BUDAYA
Oleh:
Komang Heriyanti1 & Diya Utami2 (1)(2)STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja
[email protected] & [email protected]
Abstract
Hindu theology as a teaching that is believed by Hindus is derived from the Vedas. The principles of theological teachings have never changed, which is aimed at getting closer to God. In practice, Hindu theology cannot be separated from the culture adopted by the community. With the abilities possessed by humans, humans can create culture. Culture has a very important role for humans to express their love for God. Culture in Hindu Theology is an appreciation of the existence of God. Theology in Hindu culture gave birth to religious ceremonies. In essence, religious ceremonies are not merely religious in dimension, but also have a social dimension. Society and its culture are two indistinguishable singles, in which a number of knowledge is integrated with beliefs and values, which determine the situation and conditions of behavior of community members. Culture is the whole system, ideas, actions and results of human work in the context of community life which are made human property by learning. Culture is not only in technical matters but in ideas that are contained in the mind which then manifest in art, social order, work ethic and outlook on life.
Keyword: Teologi,Culture I. PENDAHULUAN
Kepercayaan beragama merupakan sekumpulan jawaban yang didasarkan atas ilmu ketuhanan (teologi). Selain itu juga didasarkan atas penafsiran akan kekuatan-kekuatan gaib terhadap berbagai pertanyaan mendasar yang ditimbulkan oleh akal pikiran manusia. Kepercayaan beragama memberikan jawaban yang beraneka ragam dalam sifat dan ruang lingkup batas wilayahnya. Dari beberapa jawaban itu, pasti akan menunjuk kepada kebenaran mutlak yaitu ‘Tuhan’ dan menunjuk pula kepada jawaban yang bersifat khusus yang berkenaan
dengan bagaimana seharusnya kita mengatur tingkah laku di bumi.
Manusia yang beragama tidak terlepas dari cara mereka berteologi termasuk juga umat Hindu. Dalam ajaran Agama Hindu menerima ide tentang Tuhan adalah sebuah nilai beragama(Heriyanti, 2020). Praktek dari ajaran Teologi Hindu terdapat perbedaan antara tempat yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan cara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan berkaitan dengan budaya dimana mereka hidup. Setiap kebudayaan memiliki dimensi hubungan antarmanusia dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Tuhan bagi
Page 45
manusia memiliki terjemahan sangat luas dan beragam dalam setiap kebudayaan manusia tersebut. Perbedaan budaya dalam mencari Tuhan dalam kehidupan beragam sering memberikan gesekan antara umat yang satu dengan lainnya. Ada kala mereka merasa bahwa budayanya sendirilah yang paling benar, sedangkan budaya orang lain dalam hal mencari Tuhan adalah salah. Seakan-akan ada sebuah pergulatan dalam aktivitas mencari Tuhan. Jika terjadi masalah yang demikian maka peran agama sebagai sumber moralitas akan hilang. Karena itu penulis berniat untuk membuat tulisan yang memberikan pemahaman tentang Teologi Hindu jika dilihat dari konteks budaya.
II. METODE
Penelitian mengenai memahami Teologi Hindu dalam konteks budaya menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu mengumpulkan data berdasarkan faktor-faktor yang menjadi pendukung terhadap objek penelitian, kemudian menganalisis faktor-faktor tersebut untuk dicari peranannya (Arikunto, 2010: 151). Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, kepercayaan orang yang akan diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka. (Gunawijaya, 2020)
Informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan informan berdasarkan cerita atau pertimbangan tertentu. Pemilihan informan dalam penelitian ini berdasarkan kriteria yaitu masyarakat yang beragama Hindu dari beberapa
daerah. Dengan demikian akan diketahui budaya masyarakat dalam merealisasikan ajaran Teologi Hindu di masing-masing daerah.
III. PEMBAHASAN
3.1 Teologi dalam Budaya Hindu
Wiranata (2002: 113) Terdapat hubungan erat dan nyata antara kebudayaan dan perubahan masyarakat. Masyarakat tidak mungkin ada tanpa kebudayaan, demikian sebaliknya kebudayaan hanya akan ada di dalam suatu masyarakat. Kebudayaan lahir dari kompleksitas hubungan antarmanusia di dalam kelompok. Perwujudan perilaku budaya sangat dipengaruhi oleh identitas kepribadian masing-masing pendukungnya.
Melihat pendapat di atas berbicara budaya tidak akan pernah bisa lepas dari manusia sebagai pengembang budaya. Manusia hidup tergantung pada kebudayaan sebagai hasil ciptaannya. Kebudayaan juga memberikan aturan bagi manusia dalam mengolahkehidupan. Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat untuk menaklukkan berbagai macam kekuatan yang harus dihadapi manusia dan masyarakat seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Selain itu manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan baik secara spiritual maupun materiil. Sebaliknya kebudayaan hanya akan ada dalam kehidupan manusia sebagai pencipta budaya.
Dalam kaitannya dengan Teologi Hindu, maka budaya memiliki peran sangat penting bagi manusia untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Tuhan. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran
Page 46
sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini. Dengan kemampuan yang dimiliki manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan.
Donder (2006: 54) Teologi Hindu tidak terlepas dari istilah
Brahmawidya yang berarti pengetahuan
untuk memahami Tuhan dengan berbagai jalan, cara, paham, atau ajaran agama. Teologi atau Brahmawidya merupakan ilmu tentang Tuhan. Teologi Hindu sebagai ajaran yang diyakini oleh umat Hindu adalah bersumber dari Weda. Weda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia dan setelah itu. Weda menuntun tindakan umat manusia sejak ada dalam kandungan sampai selanjutnya. Weda tidak terbatas pada tuntutan hidup individu, masyarakat, kelompok manusia, tetapi menuntun seluruh hidup dan kehidupan seluruh mahkluk hidup. Dalam kenyataan hidup bermasyarakat maka antara budaya dan praktek Teologi Hindu yang bersumber dari Weda sering kelihatan kabur dan bahkan sering tidak dimengerti dengan baik. Tidak jarang suatu adat-budaya yang dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat dianggap merupakan suatu kegiatan keagamaan, ataupun sebaliknya suatu kegiatan keagamaan dianggap adalah kegiatan budaya.
Sesungguhnya antara budaya dan realisasi Teologi Hindu sebagai bagian dari agama terdapat segi persamaan dan perbedaannya. Persamaannya dapat dilihat dalam hal bahwa kedua norma tersebut sama-sama mengatur kehidupan manusia dalam
masyarakat agar tercipta suasana tenteram dan damai. Selain persamaan terdapat juga perbedaan antara budaya dan agama. Perbedaannya dapat dilihat dari segi berlakunya, dimana perwujudan budaya tergantung pada tempat, waktu, serta keadaan (desa, kala, dan patra), sedangkan agama bersifat universal.
Melihat perbedaan tersebut maka teologi dengan ajarannya mengatur rokhani manusia agar tercapai kesempurnaan hidup. Sedangkan budaya lebih tampak pengaturannya dalam bentuk perbuatan lahiriah yaitu mengatur bagaimana sebaiknya manusia itu bersikap, bertindak atau bertingkah laku dalam hubungannya dengan manusia lainnya serta lingkungannya, agar tercipta suatu suasana yang rukun dan damai. Dalam agama Hindu, realisasi teologi dan budaya terjalin hubungan yang selaras serta memiliki hubungan yang erat satu sama lain sehingga saling mempengaruhi. Ini terjadi karena tidak jarang dalam penerapan ajaran Teologi Hindu disesuaikan dengan keadaan setempat. Penyesuaian ini dapat dibenarkan dan dapat memperkuat budaya setempat sehingga menjadikan adanya kesesuaian antara Teologi Hindu dan budaya.
Wujud penerapan Teologi Hindu dari zaman ke zaman mengalami perubahan bentuk, namun tetap memiliki konsep yang konsisten. Prinsip-prinsip ajaran teologi itu tidak pernah berubah yakni bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Teologi Hindu tidak semata-semata sebagai sebuah teologi yang memberikan dogma sebagai teologi monotheisme. Akan tetapi, Teologi Hindu merangkul berbagai macam isme
Page 47
bahkan kebudayaan-kebudayaan yang sudah terjadi di zaman primitif.
Mempelajari kepercayaan masyarakat primitif, memberikan dua keuntungan bagi Teologi Hindu. Pertama, bahwa fakta –fakta kehidupan primitif mempunyai arti penting untuk dapat memahami suatu kehidupan sosial pada umumnya. Kedua, agama-agama primitif merupakan bagian dari agama pada umumnya dan bagi semua orang yang berminat terhadap agama haruslah mengakui bahwa suatu studi tentang pandangan dan praktik-praktik keagamaan pada masyarakat primitif, akan menolong kita untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan tertentu tentang hakekat agama pada umumnya. Istilah primitif bisa dicirikan kepada manusia atau sekelompok orang yang hidup dalam kurun tertentu pada masa lampau. Dengan ciri demikian, maka dapat dikatakan bahwa sesuatu yang primitif adalah sesuatu yang kuno, sudah ketinggalan zaman. Bila diterapkan pada suatu proses sejarah, maka kata itu berarti sesuatu yang terdapat dalam stadium atau tingkatan pertama.
Dalam hubungannya dengan agama, seringkali bentuk-bentuk agama manusia paling awal selalu dicirikan kepada masyarakat primitif. Primitif tidak dilihat sebagai sesuatu yang ada dan hidup pada masa lampau, tetapi bahkan bisa saja terjadi pada seseorang atau masyarakat sekarang (modern) berdasarkan indikasi tertentu yang menunjukkan adanya karakteristik sebagai manusia primitif, bisa sebagai prilaku, pandangan ataupun tradisi yang masih primitif. Dalam Teologi Hindu kepercayaan-kepercayaan atau isme-isme pada zaman primitif masih dirangkul hingga saat ini. Sebab Hindu
percaya ada suatu perkembangan pemahaman umat manusia terhadap keberadaan Tuhan. Perkembangan pemahaman tersebut seperti animisme yaitu keyakinan akan adanya roh dan dinamisme yaitu keyakinan terhadap adanya kekuatan-kekuatan alam. Perkembangan pemahaman umat terhadap Tuhan telah melahirkan variasi bentuk budaya agama. Variasi bentuk itu disesuaikan dengan kemampuan daya nalar dan daya pengahayatan umat. Teologi dalam budaya Hindu melahirkan upacara agama. Upacara agama pada hakikatnya tidak semata-mata berdimensi agama saja, tetapi juga berdimensi sosial. Melalui upacara agama, dapat dibina kerukunan antar sesama manusia. Upacara agama ini juga dapat memberikan pembinaan etika dan estetika. Upacara agama merupakan motivator untuk melestarikan atau menumbuhkembangkan seni budaya, baik yang sakral maupun profan. Bahkan upacara agama merupakan daya tarik pariwisata dan dapat menunjang kehidupan manusia. Keseluruhan budaya agama dalam bentuk upacara agama tersebut merupakan usaha manusia mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan abadi. Dalam Teologi Hindu antara budaya dan agama terdapat benang merah, yang dapat saling mengisi satu dengan yang lainnya. Budaya yang positif dapat mendukung pelaksanaan acara agama dan prinsip Hindu yang merangkul budaya lokal dapat memberikan kemajuan bagi umat Hindu.
Ada saat dimana dunia berada di luar batas kemampuan manusia. Setiap manusia sadar bahwa selain dunia yang fana ini, ada suatu alam dunia yang tak
Page 48
tampak olehnya, dan berada di luar batas akalnya. Dunia itu adalah dunia supernatural, atau dunia alam gaib. Berbagai kebudayaan menganut kepercayaan bahwa dunia gaib dihuni oleh berbagai mahkluk dan kekuatan yang tak dapat dikuasai oleh manusia dengan cara-cara biasa, dan karena itu dunia gaib pada dasarnya ditakuti oleh manusia.
Sistem kepercayaan itu ada yang berupa konsepsi mengenai paham-paham yang terbentuk dalam pikiran para individu penganut suatu agama, tetapi dapat juga berupa konsepsi-konsepsi serta paham-paham yang dibakukan di dalam dongeng-dongeng serta aturan-aturan. Dongeng-dongeng dan aturan aturan ini biasanya merupakan kesusastraan suci yang dianggap keramat (Koentjaraningrat, 1997: 204).
Berkaitan dengan pernyataan tersebut, dalam sistem kepercayaan Teologi Hindu ada konsepsi dimana orang membayangkan wujud dari dunia yang gaib, termasuk wujud dari dewa-dewa, mahkluk-mahkluk halus, kekuatan sakti, keadaan roh-roh manusia yang telah meninggal, maupun wujud dari bumi dan alam semesta (yang disebut ilmu kosmogoni dan kosmologi). Dalam Teologi Hindu, sifat-sifat Tuhan tertera dalam kitab-kitab suci agama dan dengan demikian sifat-sifat Tuhan tersebut diserap pula ke dalam sistem kepercayaan umat Hindu. Sistem kepercayaan itu ada yang berupa konsepsi mengenai paham-paham yang terbentuk dalam pikiran para individu penganut suatu agama, tetapi dapat juga berupa konsepsi-konsepsi serta paham-paham yang dibakukan di dalam dongeng-dongeng serta aturan-aturan.
Dongeng-dongeng dan aturan-aturan ini biasanya merupakan kesusastraan suci yang dianggap keramat.
Dalam kesusasteraan suci Hindu banyak diceritakan tentang kehidupan dewa-dewa untuk menambah pengetahuan teologi bagi umat Hindu. Dewa dalam Teologi Hindu adalah mahkluk yang oleh manusia dibayangkan mempunyai nama, bentuk, ciri-ciri, sifat-sifat, dan kepribadian yang tegas. Gambaran ini terpatri dalam pikiran manusia berkat adanya dongeng-dongeng dan kesusasteraan suci (yaitu mitologi), baik yang lisan maupun yang tertulis. Dalam mitologi diceritakan segala macam perilaku dan sifat dari setiap tokoh dewa, mulai dari kepahlawanannya, jasa-jasanya, wataknya, perasaannya, dan sebagainya, yang mirip dengan perilaku serta sifat manusia, namun dengan kemampuan yang lebih unggul. Diantara semua dewa dalam suatu religi, biasanya satu dianggap sebagai dewa tertinggi yang dianggap sebagai pencipta dari seluruh alam semesta ini. Kemudian dikenal dewa-dewa alam yang masing-masing dianggap menguasai salah satu gejala atau kekuatan alam, misalnya Dewa Matahari, Dewa Bulan, Dewa Langit, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Angin, Dewa Hujan.
Titib (2003: 8) Prilaku sosial umat Hindu merupakan pengaruh dari keyakinannya terhadap teologi dan simbol-simbol Hindu, yang sebenarnya secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem nilai Hindu. Dari pernyataan itu maka teologi yang terdapat dalam Agama Hindu dalam penerapannya akan berpengaruh dengan budaya dimana masyarakat hidup dan berkembang. Teologi mempengaruhi sistem
Page 49
kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi teologi seseorang, khususnya dalam hal bagaimana teologi di interpretasikan serta bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Pola pikir seseorang dalam praktik teologi agamanya sangat dipengaruhi oleh budaya yang membesarkannya. Sejak awal perkembangan agama-agama telah menerima akomodasi budaya termasuk agama Hindu. Teologi sebagai bagian dari agama bukan hanya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat doktin yang abstrak, tetapi ia muncul dalam bentuk-bentuk material dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, teologi dipandang tak bisa lepas dari kebudayaan.
Konsep Teologi Hindu yang bersifat universal dan fleksibel menjadikan adanya perbedaan jalan menuju Tuhan. Hal ini tidaklah salah, sebab semua itu merupakan ungkapan rasa cinta dan bhakti umat kepada Tuhan. Rasa cinta itu menumbuhkan suatu kreativitas yang tinggi agar bisa membuat persembahan seindah mungkin. Dalam teologi Hindu kita tidak bisa menyalahkan jalan orang untuk mencapai Tuhan, sebab Agama Hindu mengakui adanya perbedaan jalan untuk memuja Tuhan seperti yang disebutkan dalam kitab Bhagawad Gita berikut:
Ye yathā māṁ prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmy aham,
Mamavartmānuvartante manuṣyāḥ pārtha sarvaśah.
Terjemahan:
Bagaimana pun jalan manusia mendekatiKu, Aku terima wahai
Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan (Pudja, 2004: 113)
Sloka tersebut memberi pandangan yang universal. Tuhan menanggapi setiap penyembahnya dengan bebas dan memberkahinya sesuai dengan keinginan hatinya masing-masing. Dia tak akan memupus harapan siapapun tetapi malahan membantu semua harapan agar dapat tumbuh sesuai dengan kodratnya masing-masing. Nama dan wujud dipergunakan untuk mencapai Yang Tanpa Wujud, sehingga wujud apapun yang disukai dapat dipakai. Para pemikir Hindu menyadari bahwa berbagai macam jalan dapat ditempuh dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, karena tak mungkin bagi siapapun untuk dapat memberikan gambaran dari Realitas Tertinggi.
3.2 Pengaruh Agama Terhadap Sistem Budaya
Kebudayaan tidak merupakan salah satu program dalam sistem gen manusia, berbeda dengan kemampuan yang dimiliki hewan. Kemampuan serangga untuk membuat sarang yang rumit, misalnya, telah ditentukan oleh gen hewan yang bersangkutan. Sebaliknya, manusia baru mulai mengenal kebudayaannya sejak ia dilahirkan, suatu proses yang berlangsung selama manusia itu hidup (Koentjaraningrat, 2014: 70).
Sejalan dengan pendapat di atas maka kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan. Dari sudut pandang ini, agama di satu sisi
Page 50
memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya setempat, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dan budaya.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Sementara menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain. Demikian pula, Edward B.Taylor berpendapat, bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Ghazali, 2011: 32).
Dari pengertian kebudayaan itu, dapat diperoleh kesimpulan bahwa kebudayaan itu merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai mahkluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola prilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi
sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu
manusia dalam
melangsungkankehidupan
bermasyarakat. Dengan demikian, kebudayaan tersebut, karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, tampaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam hubungan agama dengan budaya, doktrin agama yang merupakan konsepsi tentang realitas, harus berhadapan dengan realitas, bahkan berurusan dengan perubahan sosial. Salah satu fungsi agama adalah memelihara dan menumbuhkan sikap solidaritas diantara sesama individu atau kelompok. Solidaritas merupakan bagian dari kehidupan sosial keagamaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat beragama, atau lebih tepatnya solidaritas merupakan ekspresi dari tingkah laku manusia beragama. Banyak penulis mengikuti kembali pandangan Durkheim yang menyatakan bahwa fungsi sosial agama adalah mendukung dan melestarikan masyarakat yang sudah ada. Agama bersifat fungsional terhadap persatuan dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, masyarakat memerlukan agama untuk menopang persatuan dan solidaritas (Ghazali, 2011: 33).
Kehidupan umat beragama merupakan fenomena kemasyarakatan dengan suatu pandangan dan pola hidup yang mengandalkan kepercayaan akan
Page 51
dimensi transenden atau suatu wahyu khusus.
Masyarakat dan kebudayaannya merupakan dwi tunggal yang sukar dibedakan, di dalamnya tersimpul sejumlah pengetahuan yang terpadu dengan kepercayaan dan nilai, yang menentukan situasi dan kondisi perilaku anggota masyarakat. Dengan kata lain, di dalam kebudayaan tersimpul suatu maknawi (symbolic system of meanings). Dari sudut pandang ini,
maka agama merupakan cultural
universal, artinya agama terdapat di setiap daerah kebudayaan dimana saja masyarakat dan kebudayaan itu bereksistensi. Masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang unsur-unsurnya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi bagian lain, yang akhirnya mempunyai dampak terhadap kondisi sistem secara keseluruhan. Hubungan yang erat antara agama dan masyarakat dan budayanya tidak berarti bahwa agama harus menyesuaikan diri dengan segala yang ada dalam masyarakat begitu saja. Malahan sebaliknya, agama diharapkan untuk memberi pengarahan dan bantuan untuk memainkan peranan kritis-kreatif terhadap masyarakat yang dalam banyak hal memang tidak beres. Antara agama dan masyarakat seharusnya terdapat hubungan timbal balik. Oleh karena itu betapa penting bagi setiap agama dan terutama para pemeluknya memiliki pengertian, kepekaan, kesadaran, dan pengetahuan tentang keadaan masyarakat. Inilah yang diperlukan oleh umat beragama, khususnya para pemuka agama dalam kehidupan sosial keagamaannya.(Anggraini, 2020)
Dalam kehidupan masyarakat, agama mempunyai peranan penting karena ia mengandung beberapa faktor, yaitu:
Faktor kreatif, yaitu faktor yang mendorong dan merangsang manusia baik untuk melakukan kerja produktif maupun karya kreatif yang menciptakan.
Faktor inovatif yaitu faktor yang mendorong, melandasi cita-cita dan amalan perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupan.
Faktor sublimatif yaitu meningkatkan gejala kegiatan manusia bukan hanya dalam hal-hal yang bersilat keagamaan saja, tapi juga yang bersilat keduniaan. Faktor integratif, yaitu mempersatukan pandangan dan sikap manusia serta memadukan berbagai kegiatannya, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam berbagai penghayatan agama guna menghindarkan diri dari ketidakserasian dan perpecahan yang pada gilirannya nanti mampu mengahadapi berbagai macam tantangan hidup. (Dewi, 2020)
Dengan demikian umat beragama harus mampu sebanyak mungkin mengaktualisasikan nilai-nilai normatif ke permukaan kehidupan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Baik dalam konteks budaya maupun dinamika kehidupan masyarakat, peran agama sangat menonjol. Oleh karena itu, Geertz merupakan orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah sistem budaya. Dalam karyanya yang berjudul
“Religion as a Cultural System”
memberikan arah baru bagi kajian agama. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu sistem
Page 52
yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari sistem budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat (Ghazali, 2011: 36).
Berkaitan dengan pendapat Geertz, dapat disimpulkan bahwa agama seharusnya dijadikan sebagai panutan bagi masyarakat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Dengan demikian akan terbentuk karakter dan budaya masyarakat yang baik. Budaya yang ada disesuaikan dengan ajaran agama yang berkembang di masyarakat sehingga tidak ada pertentangan antara budaya dengan agama. Budaya merupakan keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berelasi dalam masyarakat adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam pikiran yang kemudian terwujud dalam seni, tatanan masyaraskat, ethos kerja dan pandangan hidup.
Pengaruh agama terhadap budaya manusia tergantung pada pemikiran manusia terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan. Budaya agama tersebut akan terus bertumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya. Tapi hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama
berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluralisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligius merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.(Marselinawati, 2020)
IV. SIMPULAN
Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia untuk menaklukkan berbagai macam kekuatan yang harus dihadapi manusia seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Bagi umat Hindu kebudayaan berperan penting untuk merealisasikan ajaran teologi masyarakat. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dalam agama Hindu, realisasi teologi dan budaya terjalin hubungan yang selaras serta memiliki hubungan yang erat satu sama lain sehingga saling mempengaruhi. Ajaran Teologi Hindu yang fleksibel menjadikan adanya perbedaan pelaksanaan Agama Hindu pada satu daerah dengan daerah lainnya. Perbedaan itu bukan berarti agamanya yang berbeda akan tetapi budaya manusia dalam mencapai ajaran agama Hindu. Teologi Hindu merangkul berbagai macam isme. Perkembangan pemahaman umat terhadap Tuhan telah melahirkan variasi bentuk budaya agama.
Page 53
Dalam Teologi Hindu, sifat-sifat Tuhan tertera dalam kitab-kitab suci agama dan dengan demikian sifat-sifat Tuhan tersebut diserap pula ke dalam sistem kepercayaan umat Hindu. Konsep Teologi Hindu yang bersifat universal dan fleksibel menjadikan adanya perbedaan jalan menuju Tuhan. Hal ini tidaklah salah, sebab semua itu merupakan ungkapan rasa cinta dan bhakti umat kepada Tuhan. Adapun hubungan kebudayaan dan agama yaitu agama dipandang sebagai realitas dan fakta sosial sekaligus juga sebagai sumber nilai dalam tindakan-tindakan sosial maupun budaya. Agama, dan juga sistem kepercayaan lainnya, seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama dipandang sebagai sistem yang mengatur makna atau nilai-nilai dalam kehidupan manusia yang digunakan sebagai titik referensi bagi seluruh realitas. Pengaruh agama terhadap budaya manusia tergantung pada pemikiran manusia terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Anggraini, P. M. R. (2020). Keindahan
Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran dan Kesuburan di Bali. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 2(1), 21-30.
Dewi, N. M. E. K. (2020). Teologi Pemujaan Dewa Gede Celak Kontong. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 3(3), 371-383.
Donder, I Ketut. 2006. Brahmavidya:
Teologi Kasih Semesta.
Surabaya: Paramita.
Ghazali, Adeng Muchtar. 2011.
Antropologi Agama Upaya Memahami Keragaman, Kepercayaan, Keyakinan, dan Agama. Bandung: Alfabeta.
Heriyanti, K. (2020). Moderasi Beragama Melalui Penerapan Teologi Kerukunan. Maha Widya Duta, 4(1), 61-69.
Koentjaraningrat. 1997. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. Jakarta: Rineka
Cipta
Koentjaraningrat. 2014. Pengantar Antropologi I Cetakan 4. Jakarta:
Rineka Cipta.
Marselinawati, P. S. (2020). Teologi Pembebasan Dalam Teks Wrspati Tattwa. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(2). Pudja, I Gede. 2004. Kitab Suci
Bhagawad Gita. Surabaya: Paramita.
Suadnyana, I. B. P. E., & Gunawijaya, I. W. T. (2020). Akibat Hukum Terhadap Hak Masyarakat Adat dalam Peralihan Agama di Desa Adat Dalung. Pariksa, 3(1). Titib, I Made. 2003. Teologi &
Simbol-Simbol dalam Agama Hindu.
Surabaya: Paramita.
Wiranata, I Gede A.B. 2002.
Antropologi Budaya. Bandung: