NARCISSISTIC PERSONALITY METROSEXUAL MEN IN
JAKARTA
Putri Aprissia Rakhman, Ritandiyono, S. Psi, M. Si Undergraduate Program, Faculty of Psychology, 2008
Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id
Key Word : narcissistic, personality, metro sexual, men, Jakarta ABSTRACT :
Mid, appeared a term discussed later, the metrosexual. When I first mentioned by Simpson (1994), not many people are paying attention to this. But now even metrosexual man touted as a major phenomenon (buzz phenomenon) since kyrocketed and stuck so fast and become the new reality in human life. Metrosexual comes from the Greek word, which means the capital metropolis, and sexual. The existence of metrosexual man is a phenomenon that was so interesting to be studied. This phenomenon is often referred to as women-oriented men has expanded globally and increasingly real (Kartajaya et al, 2004). This phenomenon first appeared in America and England with icons like David Beckham, Leonardo DiCaprio, Robbie Williams until now has also become part of the city people lifestyles in Jakarta and some other big cities minded style abroad (abroad minded) and was hedonic. The icons of the local leaders in Indonesia and then appeared as Tantowi Yahya, Ferdi Hasan and Salim Fery. Metrosexual man is a man who has unique characteristics such as the narcissistic personality that was in him and keep and care for your body and appearance more than women do. This yng interesting phenomenon is the tendency of narcissistic metrosexual men. Narcissism is self-love, which is very excessive attention to yourself
KEPRIBADIAN NARSISTIK PADA PRIA
METROSEKSUAL DI JAKARTA
NPM : 10501232
Nama : Putri Aprissia Rakhman Pembimbing : Ritandiyono, S. Psi, M. Si Tahun Sidang : 2008
Subjek : KEPRIBADIAN NARSISTIK PADA PRI, Judul
KEPRIBADIAN NARSISTIK PADA PRIA METROSEKSUAL DI JAKARTA Abstraksi
Pertengahan tahun 90-an, muncul sebuah istilah yang kemudian ramai dibicarakan, yaitu metroseksual. Ketika pertama kali disebut oleh Simpson (1994), tidak banyak orang yang memberikan perhatian akan hal ini. Tetapi sekarang ini pria metroseksual bahkan disebut-sebut sebagai fenomena besar (buzz phenomenon) karena melejit dan mencuat begitu cepat serta menjadi realita baru dalam kehidupan manusia. Metroseksual berasal dari kata Yunani, yaitu metropolis artinya ibukota, dan seksual. Keberadaan pria metroseksual adalah suatu fenomena yang begitu menarik untuk dikaji. Fenomena yang sering disebut sebagai women-oriented men ini telah berkembang secara global dan kian nyata (Kartajaya dkk, 2004). Dahulu fenomena ini muncul di Amerika dan Inggris dengan ikon-ikonnya seperti David Beckham, Leonardo Dicaprio, Robbie Williams hingga sekarang ini juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota di Jakarta dan beberapa kota besar lain yang berpikiran ala luar negeri (abroad minded) dan memang hedonis. Ikon-ikon dari tokoh lokal kemudian bermunculan di Indonesia seperti Tantowi Yahya, Ferdi Hasan dan Fery Salim. Pria metroseksual adalah pria yang memiliki karakteristik unik seperti sisi kepribadian narsistik yang ada dalam dirinya dan menjaga serta merawat tubuh dan penampilannya lebih dari yang wanita lakukan. Hal yng menarik dari fenomena ini adalah adanya kecenderungan narsistik dari pria-pria metroseksual. Narsisme merupakan cinta diri, perhatian yang sangat berlebihan kepada diri sendiri; satu tingkat awal dalam perkembangan manusiawi, dicirikan secara khas dengan perhatian yang sangat ekstrim kepada diri sendiri, dan kurang atau tidak adanya perhatian pada orang lain. Narsisme ini bisa terus-menerus dan berlanjut sampai memasuki masa kedewasaan sebagai satu bentuk fiksasi (Chaplin, 2001). Millon (1994) mengemukakan sebuah konsep mengenai gaya kepribadian, yaitu gaya kepribadian narsistik (narcissistic style personality). Mereka yang termasuk didalamnya aalah individu dengan self esteem tinggi, yang terlihat sangat percaya diri, merasa bahwa diri merek spesial dan luar biasa, atau bahkan merasa ditakdirkan untuk menjadi orang hebat. Mereka memiliki pandangan yang hebat mengenai diri sendiri, seperi menjadi seorang pahlawan atau ahli dan menyadari ambisi-ambisinya untuk mencapai tujuan. Mereka memiliki cita-cita yang tinggi dan menikmati usaha mencapai kesuksesan. Mayoritas dari individu yang menagalami gangguan kepribadian narsistik adalah pria, yaitu sekitar 75% (Vaknin, 2003). Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menggali fenomena narsisme
ini pada pria metroseksual. Dilihat dari ciri-ciri pria metroseksual yang dikemukakan oleh Kartajaya dkk (2004), kedua subjek memiliki seluruh ciri-ciri pria metroseksual. Mereka hidup dan tinggal di kota besar, berasal dari kalangan yang cukup berada dan ix terpandang, memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap, menjalani gaya hidup urban dan hedonis dengan aktifitas yang padat, senang bersosialisasi, mengikuti perkembangan fesyen, memiliki penampilan yang klimis dan sangat memperhatikan penampilan serta perawatan tubuh, lebih menghargai wanita dengan banyak mengambil alih tugas-tugas wanita dan lebih mengembangkan sisi afeksi mereka sehingga menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, dan mereka juga menyukai teknologi dan tren produknya yang terbaru. Bila dilihat dari karakteristik kepribadian narsistik berdasarkan teori dari Millon (1994), kedua subjek juga memiliki seluruh karakteristik dari kepribadian narsistik. Bila dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian narsistik dalam Harmawan (1999), kedua subjek memiliki faktor-faktor yang hampir sama. Sedangkan jika dilihat dari faktor-faktor yang membentuk individu menjadi pria metroseksual menurut Admin (2004), kedua subjek memiliki faktor-faktor yang sama. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditemukan bahwa pria metroseksual memiliki sisi kepribadian narsistik dalam dirinya. Kedua subjek sama-sama memiliki kepribadian narsistik, tetapi masih termasuk dalam narsistik yang sehat, lebih ke arah positif, dan masih dalam batas individu yang sehat.
JURNAL
Fenomena metroseksual menjadi hal yang lazim dan banyak ditemukan pada masyarakat perkotaan yang tinggal di kota-kota besar di era globalisasi seperti sekarang.
Mereka memiliki ciri-ciri hidup dan tinggal di kota besar, berasal dari kalangan yang cukup berada dan terpandang, memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan juga memiliki banyak uang dari hasil kerja dan bisnis yang dilakukannya, menjalani gaya hidup urban dan hedonis dengan mobilitas tinggi dan aktifitas yang padat, senang bersosialisasi dan juga suka mencari kesenangan dengan pergi ke tempat-tempat hiburan, mengikuti perkembangan fesyen, memiliki penampilan yang klimis, dandy dan sangat memperhatikan penampilan serta perawatan tubuh, lebih menghargai wanita dengan banyak mengambil alih tugas-tugas wanita dan lebih mengembangkan sisi afeksi mereka sehingga menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, dan mereka juga menyukai teknologi dan tren produknya yang terbaru.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa beberapa pria metroseksual yang menjadi subjek penelitian memiliki karakteristik kepribadian narsistik yang sehat dalam dirinya. Mereka memiliki self esteem yang sehat dengan menyadari kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, tidak merasa lebih hebat dari orang lain, dapat menerima kenyataan, dan mampu memperbaiki atau introspeksi diri.
Mereka juga bersikap realistis menyangkut masa depan dan cita -cita mereka dan juga selalu berorientasi ke masa depan, senang berada diantara orang-orang spesial dan berstatus tinggi, menerima pujian secara wajar, memiliki keyakinan pada diri sendiri sehingga dapat menerima kritikan dan perasaan malu, memanfaatkan kekuatan dan dukungan yang dimiliki oleh orang disekitarnya tanpa menuntut waktu dan usaha yang berlebih, mampu memperlihatkan sensitifitasnya terhadap perasaan orang lain, mampu menjadikan orang lain sebagai panutan atau role models, bersikap dan berperilaku wajar, percaya diri akan tetapi tidak sombong atau merasa superior dibandingkan orang lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian narsistik antara lain perkembangan yang tidak sehat, gangguan kepribadian, pengaruh urutan kelahiran, sindrom sendok perak, pola asuh orang tua, serta peran media massa dan pariwara. Pola asuh orang tua, latar belakang keluarga, lingkungan, dan peran media massa memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembentukan kepribadian narsistik pada diri seseorang, terutama pada diri pria metroseksual.
Faktor-faktor yang membentuk individu menjadi pria metroseksual yaitu faktor lingkungan, faktor persepsi, faktor kesehatan, dan faktor ekonomi. Kedua subjek penelitian memberikan gambaran keadaan dan kehidupan sebagian pria metroseksual yang tinggal di Jakarta. Menurut penelitian ini, beberapa pria metroseksual memiliki sisi kepribadian narsistik yang sehat dalam dirinya. Mereka memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji yang patut dicontoh, salah satunya adalah dengan mengembangkan sisi afeksi mereka sehingga menjadi peka dan memiliki sensitifitas terhadap perasaan orang lain, selalu menjaga kesehatan dengan rutin berolah raga, dan sangat memperhatikan kebersihan pribadi.