BAB I PENDAHULUAN. perkembangan berbagai jenis industri, menyebabkan semakin bertambah tingginya

20  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Zaman globalisasi dan era teknologi informasi seperti sekarang ini, serta perkembangan berbagai jenis industri, menyebabkan semakin bertambah tingginya persaingan antar perusahaan dalam mempengaruhi pembeli sasaran untuk menempatkan dan mempertahankan produk di mata dan benak mereka. Ada banyak perusahaan yang sejenis yaitu perusahaan yang menjual produk yang sama namun bersaing ketat dalam memberikan kelebihan maupun spesifikasi tertentu dan berbeda pada produknya. Perusahaan-perusahaan tersebut bersaing ketat dalam menarik perhatian publik dan mempengaruhi publik agar memilih dan menggunakan produk perusahaannya dan tidak beralih atau memilih produk lain. Fenomena persaingan yang ketat ini mengharuskan perusahaan untuk berkarya dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan pelanggannya. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menarik satu pelanggan baru bisa jauh lebih tinggi dari biaya mempertahankan pelanggan yang ada.

Untuk menghadapi dinamika persaingan tersebut maka manajemen atau para pelaku bisnis harus mampu merancang dan menciptakan strategi-strategi baru yang tepat. Perusahaan harus memiliki kemampuan dalam mengkomunikasikan produknya secara tepat untuk menarik perhatian publik sebagai pembeli sasaran. Salah satu cara yang dapat dipilih untuk mengkomunikasikan produk kepada publik adalah melalui iklan.

(2)

Iklan adalah salah satu instrumen pemasaran modern yang aktivitasnya didasarkan pada konsep komunikasi. Karena merupakan bentuk komunikasi, maka keberhasilannya dalam mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan komunikasi. Agar komunikasi efektif dapat mencapai sasaran, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu: pengaruh iklan terhadap perubahan perilaku pembelian, proses komunikasi dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi perilaku, serta target audiensnya (www.elmurobbie.wordpress.com).

Kita dapat melihat fenomena persaingan tersebut setiap hari secara nyata yaitu semakin gencarnya perusahaan-perusahaan memasarkan produknya melalui iklan di berbagai media massa. Bagi sebagian besar perusahaan, iklan menjadi suatu pilihan yang menarik untuk mengkomunikasikan produk ataupun perusahaannya. Dan pada umumnya perusahaan memilih televisi sebagai media komunikasi karena televisi merupakan salah satu media elektronik yang paling efektif dalam penyampaian berbagai pesan-pesan kepada publik. Meskipun biayanya sangat mahal dan penayangan atau durasinya yang terlalu cepat, namun televisi memiliki jangkauan yang sangat luas dan jauh, prestisius, fleksibel, sangat menarik perhatian, menimbulkan dampak yang kuat, dan memiliki kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi khalayak (Tjiptono, 2001:244). Melalui tayangan iklan di televisi, konsumen dapat melihat dan mengetahui keberadaan produk tersebut. Setiap perusahaan akan selalu berusaha memberikan informasi yang tepat dan menarik tentang produk yang ditawarkannya untuk dapat mempengaruhi konsumen sehingga akhirnya konsumen dapat melakukan keputusan pembelian terhadap produk tersebut.

Selain memiliki jangkauan yang luas, televisi juga memiliki unsur hiburan yang sangat membantu pembentukan persepsi konsumen terhadap suatu produk yang

(3)

pada akhirnya diharapkan dapat mengarah pada tindakan nyata yang memuaskan dan menguntungkan semua pihak. Karena itu, iklan sebagai media komunikasi juga dipersepsikan sebagai media hiburan. Meskipun biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk mengelola dan menayangkan iklan produknya di televisi cukup mahal, tetapi penayangan iklan suatu produk melalui televisi sangatlah efektif dalam meningkatkan volume penjualan produk. Oleh karena itu, setiap iklan haruslah ditata dan dikelola sedemikian rupa agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima publik dengan jelas dan tepat dan dapat membangkitkan kesadaran publik (public awareness) untuk mencoba produk tersebut dan berakhir pada peneguhan produk sehingga konsumen akan selalu ingat dan memahami produk tersebut dan agar tujuan perusahaan yang hendak dicapai melalui iklan dapat diraih. Keberhasilan mengkomunikasikan produk tidak saja hanya dilihat dari hasil penjualan, tetapi jauh lebih dari itu, iklan juga harus dapat memberikan kontribusi lebih sebagai sarana edukasi produk. Meskipun iklan menjadi pilihan yang menarik, namun iklan bukanlah satu-satunya elemen penentu yang mampu meningkatkan penjualan karena masih ada elemen bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, harga dan distribusi yang ikut serta menentukan berhasil tidaknya penjualan (Lingga Purnama, 2001:156).

Memasuki kehidupan baru dalam menikmati layanan komunikasi tanpa batas dengan simPATI, TELKOMSEL sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi pada tanggal 23 Juli 2010 meluncurkan produk paket perdana terbaru mereka yang diberi nama simPATI freedom dengan nomor awal 0821. SimPATI freedom merupakan produk perdana terbaru untuk para pelanggannya yang memberikan kebebasan memilih tanpa batas sesuai dengan gaya dan kebutuhannya agar semakin nyaman dan bebas berkomunikasi dengan tarif yang semakin murah.

(4)

SimPATI freedom memiliki harga paket perdana Rp. 10.000 sudah termasuk PPn 10% dan bonus pulsa Rp. 5.000. Dengan mengaktifkan kartu perdana simPATI freedom, pelanggan bisa langsung mendapatkan kemudahan-kemudahan berkomunikasi seperti Tarif Internetan Rp. 0,1/KB, gratis 10MB, Facebook Zero, Nelpon Malam Tanpa Batas, Gratis 100 menit Semalaman, Bonus Nelpon 300 Menit, Gratis isi ulang 100 menit (untuk pengisian ulang minimal Rp. 50.000), dan berbagai fasilitas lainnya dari simPATI dengan harga yang terjangkau untuk menelepon maupun SMS ke sesama Telkomsel, operator lain maupun ke luar negeri yang membuat pelanggan semakin bebas memilih sesuai kebutuhannya, serta didukung oleh jangkauan terluas dan kualitas terbaik dengan didukung lebih dari 35.000 Base Transceiver Station (BTS) termasuk lebih dari 7.000 Node B (BTS 3G) yang tersebar hingga ke pelosok Indonesia. yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kemudahan dan kenyamanan berkomunikasi untuk pelanggannya juga diwujudkan oleh Telkomsel dengan menggelar promo Ngobrol Tanpa Batas bagi pelanggan simPATI freedom untuk menikmati kenyamanan berkomunikasi tanpa batas, yakni bebas nelpon berkali-kali seharian ke semua nomor ponsel di seluruh wilayah Indonesia. Program ini berlaku mulai tanggal 12 Oktober 2010. Melalui program ini, pelanggan simPATI freedom bebas nelpon berkali-kali mulai puku l 01.00 hingga 17.00 waktu setempat dengan akumulasi percakapan hingga 100 menit (6000 detik) ke seluruh pengguna ponsel di Indonesia.

Penayangan iklan simPATI freedom oleh Telkomsel yang menggunakan media televisi sebagai media penyampaian pesan dapat kita lihat setiap hari di berbagai stasiun televisi nasional. Pada iklan simPATI freedom kita dapat melihat beberapa atribut disajikan dengan menarik. Diantaranya menggunakan bahasa dan

(5)

narasi yang ringan dan mudah dimengerti, selebrity endorser, Sherina, yang merupakan mantan penyanyi cilik dan pencipta lagu sehingga pemirsa merasa tidak asing lagi dan tertarik untuk menontonnya, logo dan warna yang menarik, gaya iklan yang menarik, ceria, modern, dan bervariasi serta motto iklan yang mudah diingat yaitu ”Pilihan Tanpa Batas Nyamannya pakai simPATI freedom”. Pesan (message) iklan yang terkandung dalam cerita iklan dikemas dengan ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna dan dapat dimengerti oleh pemirsa televisi. Dengan penyampaian yang sedemikian rupa, pemirsa diharapkan tertarik untuk melihat iklan dan melakukan keputusan pembelian atas produk simPATI freedom.

Pada Tabel 1.1 disajikan persentase penayangan iklan simPATI freedom di 7 stasiun televisi swasta di Indonesia.

Tabel 1.1

Persentase Penayangan Iklan simPATI freedom di 7 Televisi Swasta di Indonesia

No. Stasiun Televisi Persentase Penayangan Iklan

Juli 2010 Agustus 2010 September 2010

1 Anteve 5% 5% 10% 2 Global TV 5% 5% 10% 3 Indosiar 10% 15% 15% 4 RCTI 5% 10% 10% 5 SCTV 15% 20% 25% 6 TransTV 5% 10% 10% 7 Trans7 5% 10% 10% TOTAL 50% 75% 90%

Sumber: www.telkomsel.com/web/about (diakses 5 Oktober 2010)

Tabel 1.1 menunjukkan bahwa stasiun SCTV memiliki persentase penayangan iklan simPATI freedom tertinggi pada Juli 2010 yaitu sebesar 15%. 15% ini adalah persentase penayangan iklan simPATI freedom dari jumlah keseluruhan iklan yang ditayangkan oleh stasiun televisi tersebut. Pada bulan Agustus, September 2010, SCTV juga memiliki tingkat persentase penayangan iklan simPATI freedom yang

(6)

tertinggi yaitu sebesar 20% dan 25%. Pemilihan SCTV sebagai stasiun televisi dengan persentase penayangan iklan simPATI freedom tertinggi adalah sesuai dengan waktu prime time sinetron Cinta Fitri yang telah mendapatkan Panasonic Award sebagai Program Favorit Pemirsa selama tiga tahun berturut-turut.

Sedangkan data penjualan simPATI freedom untuk Wilayah Medan dapat dilihat pada Tabel 1.2 seperti di bawah ini:

Tabel 1.2

Data Penjualan Kartu simPATI freedom Wilayah Medan

Bulan Minggu Nama Dealer Total Penjualan (kartu)

Juli M1 Medan 8.300 TOTAL 8.300 Agustus M1 Medan 6.100 M2 Medan 18.500 M3 Medan 8.100 M4 Medan 43.900 TOTAL 76.600 September M1 Medan 43.900 M2 Medan 29.000 M3 Medan 12.500 M4 Medan 14.500 M5 Medan 35.500 TOTAL 135.400

Sumber: Grapari Telkomsel Medan (Divisi Marketing), Gedung Selecta, 8 November 2010

Tabel 1.2 menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar pada penjualan kartu simPATI freedom untuk Wilayah Medan. Pada bulan Oktober mengalami penurunan karena pada pertengahan bulan Oktober produk lama simPATI seperti kartu As dan kartu PeDe dire-iklankan sebagai strategi marketing untuk mempertahankan market yang telah diraih sebelumnya.

Lindayati Harjono, VP Product Marketing Telkomsel, mengatakan ”Seiring dengan kepercayaan masyarakat terhadap simPATI, dalam kurun waktu kurang dari

(7)

tiga bulan, simPATI freedom telah dipercaya oleh lebih dari 10 juta pelanggan. Kini Telkomsel melayani lebih dari 63 juta pelanggan simPATI. Kami berterima kasih atas kepercayaan seluruh pelanggan yang telah memilih simPATI. Kami menghadirkan program simPATI freedom Ngobrol Tanpa Batas yang memberikan kenyamanan menikmati layanan komunikasi tanpa batas, tidak hanya menelepon ke sesama pelanggan Telkomsel saja, tetapi juga ke pelanggan operator lain di seluruh Indonesia” (www.telkomsel.com/about/news/735-simPATI-freedom-Ngobrol-Tanpa-Batas.html).

Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan merupakan salah satu pasar potensial untuk menjadi objek dalam riset pemasaran karena menurut prasurvei yang dilakukan oleh penulis pada beberapa siswa, diperoleh 5 dari 8 siswa memilih menggunakan kartu simPATI freedom sebagai alat komunikasi berdasarkan referensi iklan di televisi. Selain tarifnya yang murah, simPATI freedom juga menyediakan layanan dan fasilitas yang mereka inginkan. Penggunaan selebrity endorser, Sherina, yang merupakan seorang bintang remaja yang dikenal masyarakat serta merupakan seorang pencipta lagu yang mewakili jiwa remaja juga merupakan hal yang mendorong peneliti melakukan penelitian di sekolah ini.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Penayangan Iklan simPATI freedom di Televisi Terhadap Keputusan Pembelian pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan.

B. Perumusan masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penayangan iklan simPATI freedom di televisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan?”

(8)

C. Kerangka Konseptual

Menurut Kotler dan Susanto (2001:814), iklan didefenisikan sebagai bentuk penyajian tidak personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran.

Menurut Tjiptono (2003:81), iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu produk yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa yang menyenangkan yang akan mengubah pemikiran seseorang untuk melakukan pembelian. Iklan merupakan kata-kata dalam tayangan yang berfungsi menjelaskan manfaat produk dan memberikan alasan mengapa konsumen (calon konsumen) perlu dan memutuskan untuk membelinya.

Keputusan pembelian merupakan saat konsumen membeli suatu produk pada waktu tertentu (Durianto, dkk, 2003:105). Menurut Boyd, Walker, Larreche (2000:77), iklan televisi bisa dengan mudah mendukung pembelajaran konsumen tentang merek sehingga dalam situasi pembelian untuk tipe produk tersebut, konsumen mengingat kembali nama merek dan membelinya.

Berdasarkan teori-teori pendukung di atas, maka kerangka konseptual pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Sumber: (Tjiptono, 2003:81) dan (Durianto, dkk, 2003:105) (data diolah Oktober 2010)

Gambar 1.1. Kerangka Konseptual

Iklan di Televisi (X) Keputusan Pembelian Konsumen (Y)

(9)

D. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya (Sugiyono, 2006:96).

Berdasarkan perumusan masalah di atas, rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Penayangan iklan simPATI freedom di televisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan”.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh penayangan iklan simPATI freedom di televisi terhadap keputusan pembelian konsumen pada siswa SMA Santo Thomas 1 Medan.

2. Manfaat Penelitian

a. Bagi peneliti, sebagai sarana untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah, memperluas wawasan penulis tentang manajemen pemasaran khususnya tentang pengambilan keputusan dan menambah pengetahuan penulis tentang periklanan.

b. Bagi perusahaan, sebagai bahan masukan bagi perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam menetapkan kebijakan baru dalam menetapkan strategi pemasaran yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dan sebagai masukan dalam proses pembuatan iklan untuk dapat menaikkan volume penjualan produk.

(10)

c. Bagi pembaca atau peneliti selanjutnya, sebagai referensi yang dapat memberikan perbandingan dan pengembangan dalam melakukan penelitian pada bidang yang sama di masa yang akan datang.

F. Metode Penelitian 1. Batasan Operasional

Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah penayangan iklan di televisi sebagai variabel bebas (X) dan keputusan pembelian konsumen sebagai variabel terikat (Y). Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini memberikan batasan operasional, berupa pengaruh penayangan iklan di televisi terhadap keputusan pembelian konsumen dalam penelitian ini yang dilakukan pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan.

2. Defenisi Operasional Variabel

Defenisi operasional variabel bertujuan untuk menjelaskan karakteristik dari objek penelitian ke dalam variabel penelitian yang dapat diobservasi dimana konsep tersebut dapat diukur serta dioperasionalkan di dalam penelitian. Berdasarkan pada permasalahan dan hipotesis yang akan diuji, maka definisi operasional variabel pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Variabel bebas atau variabel independen (X) adalah variabel yang nilainya tidak tergantung pada variabel lain (variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian ini, variabel bebas adalah penayangan iklan di televisi.

Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu produk yang disusun

(11)

sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa yang menyenangkan yang akan mengubah pemikiran seseorang untuk melakukan pembelian (Tjiptono, 2003:81), yang meliputi :

1. Gaya iklan yaitu cara iklan atau model iklan memperagakan gerakan dalam iklan (gaya visualisasi iklan).

2. Logo iklan yaitu gambar, bentuk, warna dan tulisan yang mewakili merek atau produk agar mudah dikenali.

3. Bahasa yaitu kata-kata yang dirangkai dalam kalimat yang diucapkan oleh model dalam iklan.

4. Narasi iklan yaitu rangkaian bahasa yang disampaikan dalam iklan oleh seorang narator.

5. Model iklan yaitu orang yang menjadi ikon dalam iklan tersebut.

6. Pesan iklan yaitu informasi tentang produk yang ingin disampaikan oleh pengiklan kepada konsumen melalui iklan.

b. Variabel terikat atau variabel dependen (Y) yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain (variabel yang nilainya tergantung pada variabel lain). Dalam penelitian ini, variabel terikat adalah keputusan pembelian konsumen.

Durianto, dkk (2003 :105) mengatakan bahwa keputusan pembelian merupakan saat konsumen membeli suatu produk pada waktu tertentu. Durianto, dkk (2003:104) menggambarkan bagaimana konsumen mencari

dan mempertimbangkan suatu keputusan untuk membeli produk, dimana ada enam indikator yang saling berinteraksi dan saling mendukung yang berakhir dengan pembelian.

(12)

Indikator-indikator tersebut adalah:

1. Pesan iklan (dilambangkan dengan F, finding information) yaitu indikator penentu dari ke enam indikator. Pesan iklan dapat disampaikan dalam bentuk angka, huruf, ataupun kalimat yang dapat menjalankan suatu sistem.

2. Pengenalan merek (dilambangkan dengan B, brand recognition) yaitu ukuran brand awareness responden. Pengenalan merek sangat penting dalam mengetahui sampai di tingkat mana pembeli mengetahui ciri-ciri suatu merek.

3. Sikap konsumen (dilambangkan dengan A, attitude) yaitu evaluasi konsep secara menyeluruh yang dilakukan oleh seseorang.

4. Kepercayaan konsumen (dilambangkan dengan C, confidence) yaitu keyakinan berupa tingkat kepastian konsumen yang menyatakan keyakinan dan penilaiannya terhadap suatu produk yang dinilai bebas. 5. Niat beli (dilambangkan dengan I, intention) yaitu sesuatu yang

berhubungan dnegan recana konsumen untuk membeli produk tertentu. 6. Pembelian nyata (dilambangkan dengan P, purchase) yaitu saat

konsumen membayar atau membuat surat hutang dalam jumlah tertentu untuk membeli suatu produk pada waktu tertentu. Pembelian nyata muncul karena konsumen sudah mempunyai niat untuk membeli suatu produk.

(13)

Tabel 1.3

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Variabel Indikator Skala

Pengukuran

Iklan (X)

Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada

informasi tentang keunggulan/keuntungan suatu produk yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa yang menyenangkan yang akan mengubah pemikiran seseorang untuk melakukan pembelian. (Tjiptono, 2003:81)

1. Gaya iklan (menarik, ceria, modern, dan bervariasi) 2. Logo iklan (berwarna,

menarik, unik dan mudah diingat)

3. Bahasa iklan (mudah dimengerti dan komunikatif)

4. Model iklan (terkenal, berimej baik dan disukai konsumen)

5. Narasi iklan (mudah dicerna dan dimengerti) Skala likert Keputusan Pembelian (Y) Keputusan pembelian merupakan saat konsumen membeli suatu produk pada waktu tertentu (Durianto, dkk, 2003:105)

1. Pesan iklan (konsumen semakin nyaman dan bebas dalam menikmati

komunikasi tanpa batas) 2. Pengenalan Merek

(merupakan bagian produk dari merek terkenal, kemasan menarik dan kalimat sederhana dan mudah dimengerti)

3. Sikap konsumen (konsumen mencari tahu informasi dan melakukan evaluasi

terhadap informasi tersebut) 4. Kepercayaan konsumen

(konsumen percaya 100%) 5. Niat beli (konsumen berniat

membeli setelah melihat iklan di TV)

6. Pembelian nyata (konsumen melakukan tindakan nyata dengan membeli dan menggunakan produk simPATI freedom)

Skala likert

Sumber: Tjiptono (2003:81) dan Durianto, dkk (2003:105) (data diolah Oktober 2010)

3. Skala Pengukuran Variabel

Skala pengukuran masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap,

(14)

pendapat dan persepsi sesorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2006:86).

Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai dasar dalam menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2006:98).

Skala Likert menggunakan lima tingkat jawaban sebagai berikut: Tabel 1.4

Instrumen Skala Likert

No Jawaban Skor

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (ST) 4

3 Kurang Setuju (KS) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Sumber: Sugiyono (2006:88)

4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan yang beralamat di Jalan Letjen S. Parman No. 109 Medan, sedangkan waktu penelitian dilakukan sejak bulan Oktober 2010 sampai Desember 2010.

5. Populasi dan Sampel a. Populasi

Menurut Sugiyono (2006:72), “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik suatu kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa SMA

(15)

Santo Thomas 1 Medan Kelas X sampai dengan Kelas XII untuk Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 1612 siswa.

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2006:73).

Metode penarikan sampel yang dipakai adalah adalah Metode Accidental dan Metode Purposive Sampling (Sugiyono, 2006:77). Metode Accidental adalah teknik penarikan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan (accidental) bertemu dengan peneliti maka dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui tersebut cocok sebagai sumber data. Sedangkan Metode Purposive Sampling adalah penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu dengan kriteria bahwa siswa tersebut membeli dan menggunakan kartu perdana simPATI freedom dan pernah melihat iklan tersebut. Sampel diambil dengan menggunakan rumus Slovin (Ginting dan Situmorang, 2008:132), yaitu:

2

1 Ne

N

n

+

=

Dimana: n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi

e = Taraf Kesalahan = 10% Jumlah sampel yang diperoleh adalah:

n =

( )

2 1 , 0 1612 1 1612 + = 17.12 1612 = 94,15

(16)

Melalui rumus Slovin maka didapat jumlah sampel sebesar 94,15 yang dibulatkan menjadi 95 siswa.

6. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu: a. Data primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dari sumber-sumber asli (Kuncoro, 2003:136). Dalam penelitian ini, data primer diperoleh dari responden secara langsung di lokasi penelitian melalui kuesioner dan wawancara langsung kepada responden yang dilakukan pada penelitian awal sampai selesai, yaitu kuesioner yang dibagikan peneliti kepada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain (Kuncoro, 2003:136). Data sekunder ini diperoleh melalui studi pustaka, majalah, tabloid, dan internet.

7. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: a. Studi Pustaka

Mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam buku, jurnal-jurnal ilmiah, majalah, internet yang menjadi bahan referensi pendukung yang berkaitan dengan penelitian yang memberikan landasan bagi perumusan hipotesis, penyusunan kuesioner, dan pembahasan teoritis. b. Daftar Pertanyaan (Questionaire)

(17)

Menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden terpilih tentang bagaimana pengaruh penayangan iklan di televisi terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk simPATI freedom pada Siswa SMA Santo Thomas 1 Medan.

c. Pengamatan (observasi)

Mengumpulkan data yang dilakukan dengan meninjau dan mengamati secara langsung sejauh mana iklan (advertisement) dapat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

8. Uji Validitas dan Reliabilitas 1) Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur kelayakan butir-butir dalam daftar pertanyaan yang mendefinisikan suatu variabel (Sugiyono, 2006:114). Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Ginting dan Situmorang, 2008:172). Kuesioner sebagai sumber data utama dalam penelitian ini harus melalui uji validitas terlebih dahulu untuk mendapatkan kualitas hasil penelitian yang baik.

Pengujian validitas dilakukan di sekolah yang sama dengan kriteria sebagai berikut:

a) Jika rhitung positif dan rhitung > r tabel maka pernyataan dinyatakan valid

b) Jika rhitung negatif dan rhitung < rtabel maka pernyataan dinyatakan tidak

valid.

(18)

d) Nilai rtabel dengan responden awal berjumlah 30 orang dan alpha 5%

adalah 0,361. 2) Uji Reliabilitas

Uji ini dilakukan setelah uji validitas dan yang diuji merupakan pernyataan yang sudah valid. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Instrumen yang reliable adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek atau gejala yang sama, akan menghasilkan data yang konsisten (Ginting dan Situmorang, 2008:170). Pengujian reliabilitas dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:

a) Jika ralpha positif atau > rtabel maka pernyataan reliabel. b) Jika ralpha negatif atau < rtabel maka pernyataan tidak reliabel.

Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS (Statistic Product and Service Solution) versi 15.

9. Metode Analisis Data a. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis dengan cara data disusun dan dikelompokkan, kemudian dianalisis sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang masalah atau data yang diteliti untuk menjelaskan hasil perhitungan.

b. Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan variabel bebas (iklan) dengan variabel terikat (keputusan

(19)

pembelian konsumen). Agar hasil penelitian lebih terarah dan teruji, maka peneliti menggunakan bantuan program statistik SPSS (Statistic Product and Service Solution) versi 15.0.

Model persamaan yang digunakan untuk analisis ini menurut Sugiyono (2006:204) adalah:

Y = a + bx + e

Dimana: Y = Keputusan Pembelian a = Konstanta b = Koefisien Regresi x = Iklan e = Standard Error

Metode Regresi linear sederhana mempunyai uji ketepatan yang terdiri dari:

1) Uji t (uji secara signifikansi)

Uji t atau uji secara parsial adalah uji untuk membuktikan hipotesis awal untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel yaitu pengaruh iklan sebagai variabel independen (variabel bebas) terhadap keputusan pembelian sebagai variabel dependen (variabel terikat).

Kriteria pengujiannya adalah:

Ho : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh iklan di televisi (X) terhadap peningkatan keputusan pembelian (Y)

(20)

Ha : b1 ≠ 0, artinya ada pengaruh iklan di televisi (X) terhadap peningkatan keputusan pembelian (Y)

Kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut : Ho diterima jika thitung < ttabel pada α = 5% Ha diterima jika thitung > ttabel pada α = 5%

2) Uji Koefisien Determinan (R2)

Menurut Ginting dan Situmorang (2008:112) koefisien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. Nilainya adalah 0 – 1. Semakin mendekati nol berarti model tidak baik atau variasi model dalam menjelaskan amat terbatas, sebaliknya semakin mendekati satu maka model semakin baik. Dalam output SPSS, koefisien determinasi terletak pada tabel Model Summary dan tertulis R Square. Namun untuk regresi linear sederhana sebaiknya menggunakan Adjusted R Square, karena disesuaikan dengan jumlah variabel independen yang digunakan dalam penelitian. Nilai R square dikatakan baik jika diatas 0.5 karena nilai R Square berkisar antara 0 sampai 1 (Nugroho, 2005:51).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di