• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia sebagai negara hukum dan demokratis ditandai dengan adanya jaminan hukum tentang hak dan kewajiban untuk warga negaranya. Dibidang hukum segala aturan telah terperinci dengan jelas dalam peraturan Perundang Undangan, sedangkan sebagai wujud demokratisasi maka warga negara diberikan hak atau kebebasan untuk dapat mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. Wujud keterkaitan antara hukum dan demokrasi ialah adanya aturan hukum tentang HAM sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945 Bab XA (pasal 28A sampai J).

Salah satu prinsip demokrasi yang harus ada dalam suatu negara menurut Robert A. Dalh ialah ”adanya kebebasan dalam mengakses informasi. Demokrasi membutuhkan informasi yang akurat, untuk itu setiap warga negara harus mendapatkan akses informasi yang memadahi” (Srijanti, 2006: 55).

Informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang dan informasi merupakan salah satu bagian yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di dunia saat ini, terlebih jika kita tinggal dalam suatu negara demokrasi yang mengenal adanya pengakuan terhadap kebebasan dalam memperoleh informasi bagi rakyatnya. Keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan jaminan hak warga dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik, fungsi maksimal ini diperlukan mengingat hak untuk memperoleh informasi merupakan HAM sebagai salah satu wujud dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Menurut Presiden Center for Law and Democracy (CLD), Tobby Mendel

mengemukakan bahwa“ Sebuah negara yang menjalankan demokrasi harus memberikan ruang keterbukaan informasi kepada publik”. (Sumber: http://www.solopos.com).

Lebih lanjut Feisal Tandjung memberikan pendapat sebagaimana yang dikutip oleh Ichlasul Amal dan Armady (1996: 19) bahwa “keterbukaan informasi

(2)

commit to user

pada umumnya lebih bermakna sebagai kondisi yang kondusif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan kesejahteraan umum. Arus

keterbukaan informasi perlu disikapi (response) secara arif, dengan tetap

memperhatikan batas kewajaran yang berpedoman pada jiwa Pancasila”.

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa setiap warga negara memiliki hak atas informasi, hak tersebut harus terpenuhi dan negara berkewajiban untuk menjamin terpenuhinya hak bagi warga negaranya agar prinsip demokrasi benar-benar dijalankan.

Melihat aturan pokoknya yaitu pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28F, disebutkan bahwa ‘’ setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia‘’.

Untuk dapat menjamin hak atas informasi maka telah diterbitkan Undang-Undang Tentang Keterbukaan Informasi Publik Nomor 14 Tahun 2008 yang di dalamnya diatur mengenai (1) hak setiap orang untuk memperoleh Informasi; (2) kewajiban Badan Publik menyediakan dan melayani permintaan Informasi secara cepat, tepat waktu, biaya ringan/proporsional, dan cara sederhana; (3) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan pelayanan Informasi.

Lingkup Badan Publik dalam UU KIP meliputi lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif serta penyelenggara negara lainnya dan mencakup pula organisasi nonpemerintah. Lembaga Yudikatif masuk dalam kategori ketiga dalam pengertian Badan Publik, sebagai salah satu badan publik, lembaga yudikatif atau badan peradilan juga berupaya memberikan bentuk layanan yang terbaik bagi masyarakat. Salah satu lembaga peradilan yaitu Pengadilan Agama di Kabupaten Wonogiri telah memberikan dedikasinya sebagai badan pelayan publik dengan adanya model sosialisasi progam layanan untuk menjamin keterbukaan informasi publik khususnya pada akses yurisdiksi Pengadilan Agama.

Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan yang telah dilakukan dengan pegawai kantor Pengadilan Agama Wonogiri yaitu dengan pegawai bagian

(3)

commit to user

informasi, menjelaskan bahwa di kantor Pengadilan Agama Wonogiri terdapat berbagai model sosialisasi yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi tentang program layanannya kepada masyarakat. Informasi yang diberikan antara lain mengenai tata cara berperkara di Pengadilan Agama, jadwal persidangan, juga informasi lain mengenai PA Wonogiri dan model sosialisasi yang digunakan yaitu secara langsung melalui meja informasi, adanya sosialisasi secara berkala kepada pegawai Kantor Urusan Agama disetiap Kecamatan Kabupaten Wonogiri,

serta sosialisasi tidak langsung melalui media TV Media Center, spanduk dan

website PA Wonogiri.

Harapannya dengan adanya berbagai model sosialisasi yang digunakan maka masyarakat Wonogiri khususnya masyarakat yang berkepentingan di Pengadilan Agama Wonogiri bisa mengakses segala informasi yang dibutuhkan agar mempermudah dalam menyelesaikan perkaranya.

Kenyataan yang terjadi bahwa Wonogiri dengan jangkauan wilayah yang luas meliputi 25 Kecamatan memang memerlukan akselerasi dan kecepatan sosialisasi keberadaan dan layanan Pengadilan Agama dalam hal penyelesaian sengketa perkara dalam yurisdiksi Pengadilan Agama. Realitanya karena minimnya informasi, terdapat salah satu program Pengadilan Agama Wonogiri yaitu layanan gratis bagi warga yang tidak mampu membiayai perkara di Pengadilan Agama belum termanfaatkan padahal terdapat total atau kuota 30 perkara yang digratiskan. Layanan gratis biaya perkara tersebut dikhususkan bagi warga yang kurang mampu yang berperkara tapi tidak punya biaya, hal tersebut diungkapkan oleh Dedhy Supriady Ketua Pengadilan Agama Wonogiri. (Sumber: Solopos, 2011 28 Juli. Program Layanan Gratis di Pengadilan Agama Wonogiri Belum Termanfaatkan. http://www.solopos.com/2011/wonogiri/program-layanan-gratis-di-pengadilan-agama-wonogiri-belum-termanfaatkan-109009)

Dari penjelasan di atas mengindikasikan bahwa kenyataan mengenai akses informasi masyarakat Wonogiri tentang Pengadilan Agama Wonogiri masih rendah, terbukti dengan minimnya informasi yang didapatkan masyarakat tentang program layananPengadilan Agama Wonogiri.

(4)

commit to user

Permasalahan di atas menjadi bagian dari penelaahan bidang Pendidikan Kewarganegaran (PKn). Peneliti menyatakan demikian karena permasalahan di atas membahas mengenai hak warga negara dan itu merupakan bahan kajian dalam Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu dalam hubungannya antara warga negara dengan negara, warga negara mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap negara dan sebaliknya warga negara juga mempunyai hak-hak yang harus diberikan dan dilindungi oleh negaranya.

Dasim Budimansyah berpendapat bahwa “PKn seharusnya menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, tugas bagi para pendidik, pembuat kebijakan,

dan anggota civil society lainnya, adalah mengkampanyekan pentingnya PKn

kepada seluruh lapisan masyarakat dan semua instansi dan jajaran pemerintahan” (Winarno, 2009:xii).

Selanjutnya Udin S. Winataputra mengemukakan bahwa “ada tiga dimensi PKn yaitu PKn sebagai program kurikuler, PKn sebagai program akademik, dan PKn sebagai program sosial kultural” (Sapriya, 2012:19).

Berdasarkan penjelasan tersebut maka peneliti menyatakan bahwa terdapat keterkaitan antara Pendidikan Kewarganegaraan dengan HAM (sebagai salah satu lingkup kajian PKn), disini secara khusus mengenai jaminan hak warga negara atas informasi. Sebagai badan publik, Pengadilan Agama juga memiliki kewajiban untuk dapat menjamin hak warga, yakni melalui Pendidikan Kewarganegaraan pada domain atau dimensi program sosial kultural.

Bertitik tolak dari penjelasan di atas maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang“ Model Sosialisasi Program Layanan Pengadilan

Agama dan Dampaknya terhadap Pemenuhan Hak Warga Negara atas Informasi di Kabupaten Wonogiri ”.

B. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dan untuk mempermudah pembahasan dalam penelitian, maka dapat dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut: 1. Model sosialisasi program layanan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

(5)

commit to user

Wonogiri terkait dengan penyampaian informasi tentang program layanan dan hal-hal yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama kepada warga atau masyarakat di Kabupaten Wonogiri.

2. Hak warga negara yang dimaksud ialah hak atas informasi, yaitu jaminan keterbukaan informasi publik.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana model sosialisasi program layanan yang dilaksanakan Pengadilan Agama Wonogiri?

2. Bagaimana dampak dari model sosialisasi terhadap pemenuhan hak warga atas informasi?

D. Tujuan Penelitian

Dalam suatu penelitian pada dasarnya memiliki suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Tujuan penelitian juga harus jelas sehingga dapat memberikan arah dalam pelaksanaan penelitian tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui model sosialisasi apa sajakah yang digunakan oleh Pengadilan Agama Wonogiri dalam menyampaikan progam layanannya. 2. Untuk mengetahui adakah dampak dari model sosialisasi yang digunakan

terhadap pemenuhan hak warga negara atas informasi di Kabupaten Wonogiri.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya baik secara teoritis maupun secara praktis, antara lain :

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur dalam kepustakaan tentang model sosialisasi yang digunakan oleh Pengadilan

(6)

commit to user

Agama Wonogiri dan implikasi dari model sosialisasi yang digunakan oleh Pengadilan Agama Wonogiri terhadap pemenuhan hak warga negara atas informasi.

b. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi penelitian-penelitian sejenis.

2. Manfaat Praktis

a. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi Pengadilan Agama Kabupaten Wonogiri dalam bidang sosialisasi informasi program layanan Pengadilan Agama Wonogiri.

b. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.

c. Menjadi sarana bagi penulis untuk mengembangkan kemampuan penalaran, membentuk pola pikir ilmiah.

Referensi

Dokumen terkait

khususnya pelajaran matematika. Demikian juga halnya dengan penelitian yang ada, belum banyak penelitian yang membahas mengenai penerapan strategi pembelajaran

Karena menggunakan konverter Cȕk dan konverter boost bertingkat, maka akan didapat rasio tegangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan konverter Cȕk dan konverter boost yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh luas lahan, benih, pupuk dan tenaga kerja terhadap produksi bawang merah lokal Palu di Desa Oloboju Kecamatan Sigi

Berbagi link melalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

101º25.526’ Tugu Perbatasan V-A Tinggi Tiang Reklame = 5m dari permukaan Jalan Catatan : Type Bangunan Reklame dapat ditentukan lain berdasarkan Rekomendasi

Modul ini dikembangkan dengan tujuan agar mahasiswa mengerti, memahami masalah Penggunaan Obat yang Rasional ( POR ); memahami dan berkemampuan cara mengidentifikasi masalah POR;

Pada multifragmentary complex fracture tidak terdapat kontak antara fragmen proksimal dan distal setelah dilakukan reposisi. Complex spiral fracture terdapat dua atau

Rencana tindakan siklus II ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan siklus I. Peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran meliputi RPP, instrumen lembar observasi