SKRIPSI. Disusun dan Diajukan Oleh MUHAMMAD FARID AMRULLAH NOMOR STAMBUK :

90 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

KOORDINASI DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI SELATAN DAN BADAN AKREDITASI NASIONAL SEKOLAH/MADRASAH

(BAN S/M) PROVINSI SULAWESI SELATAN DALAM PELAKSANAAN AKREDITASI SEKOLAH

Disusun dan Diajukan Oleh

MUHAMMAD FARID AMRULLAH NOMOR STAMBUK : 105640221515

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

KOORDINASI DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI SELATAN DAN BADAN AKREDITASI NASIONAL SEKOLAH/MADRASAH

(BAN S/M) PROVINSI SULAWESI SELATAN DALAM PELAKSANAAN AKREDITASI

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh MUHAMMAD FARID AMRULLAH NOMOR STAMBUK : 105640221515

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH Saya yang bertandatangan di bawah Ini :

Nama : Muhammad Farid Amrullah

Nomor Stambuk : 105640221515

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak atau telah ditulis atau dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, 1 September 2019 Yang Menyatakan,

Muhammad Farid Amrullah 105640221515

(6)

ABSTRAK

MUHAMMAD FARID AMRULLAH, 2020. Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah (Dibimbing oleh : Fatmawati, dan Nuryanti Mustari)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional S/M (BAN S/M) Provinsi Sulawesi dalam Pelaksanaan Akreditasi. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penentuan sampel dalam penelitian ini mengambil 5 lokasi dan 5 orang informan yang ditentukan secara purposive, yakni peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, model data penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui uji kredibilitas.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional S/M (BAN S/M) berjalan dengan baik hal ini dapat dilihat karena: 1)adanya kesatuan arah dan tujuan. 2)Adanya kesepakatan mengenai kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk targetnya. 3)komunikasi, saling berbagi informasi terkait dengan kegiatan, masalah yang dihadapi dan hasil yang sudah diraih. Faktor pendukung koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) dalam pelaksanaan akreditasi yakni Dinas pendidikan dan BAN S/M melaksanakan koordinasi secara bersungguh-sungguh, dan tidak hanya sekedar menjalankan, serta loyal terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersam, serta ada aturan yang menginstruksikan sebuah instansi Negara untuk berkoordinasi. Faktor Penghambat ialah terkadang ditemui sekolah yang lamban dalam mengimput data, padahal data sekolah dibutuhkan oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ Madrasah Provinsi sebagai syarat awal sebelum ke lapangan melakukan akreditasi sekolah

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil „Alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang menentukan setiap makhlukNya dan memberikan bimbinganNya. Dengan segala nikmat dan kesempatan yang tercurahkan sehingga menjadi sempurnalah segala amal saleh yang kita lakukan. Shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, pemimpin para rasul dan imam dari orang-orang yang bertaqwa, karena dengan perjuangannyalah kita bisa mengenal agama yang sempurna, mulia dan penuh cahaya ini, Islam. Dengan segala waktu dan kesehatan

yang diberikan olehNyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dan menuliskan hasil penelitian ini dalam suatu karya ilmiah, yaitu skripsi.

Skripsi yang berjudul “Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah.” Pada Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Selama penulisan skripsi ini, penulis mengalami berbagai rintangan dan hambatan yang datang silih berganti. Namun, berkat motivasi dan bantuan dari berbagai pihak baik dalam bentuk moril maupunmateril sehingga semua rintangan dan hambatan dapat diatasi.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang berharga ini penulis secara khusus menyampaikan terima kasih yang tak berhingga kepada yang terhormat Ayahanda dan Ibunda tersayang atas segala pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis sejak dalam kandungan sampai sekarang ini. Atas segala didikan, tenaga, materi, kasih sayang yang berlimpah dan doa restunya serta ucapan terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Fatmawati, M.Si selaku pembimbing I dan Dr. Nuryanti Mustari, S.IP. M.SI selaku

v

(8)

Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, diantaranya :

1. Bapak Dr. H. Abd. Rahman Rahim,SE., MM selaku Rektor Universitas

Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Dr. Ihyani Malik, S.Sos., M.SI selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Dr. Burhanuddin, S.Sos., M.SI selaku wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP., M.SI selaku ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

5. Bapak Ahmad Harakan, S.IP.,M.H.I selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

6. Bapak Rudi Hardi, S,Sos. M.SI selaku Dosen Penasehat Akademik Penulis 5 tahun menampaki jenjang pendidikan di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Para Dosen dan Staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak memberikan bekal pengetahuan dan membantu penulis selama menjalani proses perkuliahan.

8. Kakak saya tercinta yang selalu memberikan support, mendoakan dan membantu penulis selama kuliah.

(9)

9. Semua keluarga, teman, sahabat seperjuangan didalam dan diluar kampus serta pihak-pihak yang tidak bisa disebut satu-satu, yang telah memberikan dukungan, mendoakan dan membantu penulis selama ini.

Dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun karna penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Semoga karya skripsi ini dapat bermanfaat serta memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan. Amin.

Makassar, 1 Desember 2019

Penulis

Muhammad Farid Amrullah

(10)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v Kata Pengantar ... vi Daftar Isi... ix BAB I PENDAHULUAN ... A.Latar Belakang ... 1 B.Rumusan Masalah ... 5 C.Tujuan Penelitian ... 5 D.Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... A.Konsep Koordinasi ... 7

B.Konsep Akreditasi Sekolah ... 21

C.Kerangka Fikir ... 23

D.Fokus Penelitian ... 24

E.Deskripsi Fokus Penelitian... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... A.Waktu dan LokasiPenelitian ... 26

B.Jenis dan Tipe Penelitian ... 26

C.Sumber Data... 27

D.Informan Penelitian ... 27

E.Teknik Pengumpulan Data ... 28

F. Teknik Analisis Data... 30

G.Pengabsahan Data ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... A.Deskripsi Objek Penelitian ... 34

B.Koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Dalam pelaksanaan Akreditasi Sekolah ... 48

C.Faktor pendukung dan Penghambat Koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah ... 62

(11)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... A.Kesimpulan ... 68 B.Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN ... 73 x

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu penata sosial yang sangat penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar terwujudnya kehidupan masyarakat yang maju, demokratis, berjiwa modernis, mandiri dan sejahtera. Lembaga pendidikan nasional menjadi ujung tombak untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatan mutu dan martabat bangsa Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya peningkatan pendidikan melalui pembaharuan pendidikan dilakukan secara terus-menerus agar mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan zaman. Pembaharuan pendidikan harus dilakukan terus menerus agar mampu menjawab dan menghadapi berbagai tantangan zaman. Dalam dewasa ini, tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan cukup kompleks yang meliputi pemerataan pendidikan, mutu relevansi, efisiensi dan efektifitas pendidikan.

Upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan yang kemudian dituangkan dalam regulasi pendidikan di Indonesia yang melahirkan beberapa peraturan dan perundang-undangan yang mengharuskan Pemerintah pusat maupun Daerah membuat terobosan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan di tengah masyarakat, baik itu lembaga pendidikan yang didirikan oleh Pemerintah maupun lembaga pendidikan swasta. Berdasarkan undang - undang nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 60 ayat 1 dan 2 yang menegaskan bahwa akreditasi sekolah dilakukan untuk menentukan kelayakan, kualitas program dan satuan pendidikan pada jalur formal dan non formal pada setiap jenjang strata pendidikan dan

(13)

jenis pendidikan serta akreditasi terhadap program yang dilakukan oleh Pemerintah dan atau lembaga mandiri yang berwenang, sebagai bentuk usaha peningkatan mutu pendidikan secara Nasional.

Penyelenggaraan akreditasi sebagai salah satu upaya peningkatan mutu di bidang pendidikan, pada hakekatnya adalah suatu upaya agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai standar kualitas yang ditetapkan dan pada gilirannya peserta didik dapat mencapai keberhasilan pendidikan, baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan serta pembentukan karakter.

Disamping itu perlu diupayakan penyelenggaraan akreditasi yang sesuai paradigma baru dalam penyelenggaraan akreditasi, diantaranya adalah tidak lagi membedakan antara lembaga sekolah Negeri ataupun swasta, diharapkan dapat mendayagunakan ketertiban dan peran serta masyarakat, serta prinsip keterbukaan. sekolah menengah pertama sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional dituntut untuk selalu berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas, dan terampil.

Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 087/U/2002 Tentang Akreditasi Sekolah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 29 tahun 2005 Tentang Badan Akreditasi Nasional, maka Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi dan Unit Pelaksanan Akreditasi yang ada di Daerah Kabupaten/Kota harus melaksanakan akreditasi sekolah, baik sekolah swasta atau sekolah negeri.

Instrumen pemetaan mutu pendidikan disusun dengan mengacu pada 8 (delapan) komponen standar nasional pendidikan (SNP) yang disusun oleh Badan Akreditasi

(14)

Nasional (BAN) dan peraturan terkait lainnya. Budaya peningkatan mutu pendidikan akan dapat dilaksanakan dengan baik bila sekolah terbiasa melaksanakan sistem penjaminan mutu pendidikan (SPMP) dalam implementasi kebijakan manajemen di sekolah/madrasah.

Instrumen utama adalah dalam pelaksanaan SPMP berupa evaluasi diri sekolah (EDS). Dalam implementasi kebijakan, EDS akan ditindaklanjuti dengan program monitoring sekolah oleh Pemerintah Daerah (MDS) yang dilaksanakan oleh para pengawas satuan pendidikan. Dalam menjalankan itu semua perlu koordinasi yang baik agar mampu mewujudkan pendidikan yang baik. Koordinasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyelaraskan berbagai pelaksanaan kegiatan pembagunan agar tidak terjadi kekacauan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan kegiatan pembangunan mulai dari bawah sampai tingkatatas, sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam upaya mencapai tujuan Pemerintah yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Koordinasi menjadi hal yang sangat penting dan mendasar dalam sebuah organisasi, karena disisi lain koordinasi memberikan kontribusi yang jelas dan terarah bagi lembaga pendidikan dalam mengelola dan menjalankan proses kerja yang terarah dan jelas. Hal tersebut tidak terlepas dari proses kerja lembaga Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah membutuhkan upaya koordinasi, dimana proses kerja dan mekanisme kerja yang ada dalam organisasi diselaraskan dengan sumber daya organisasi, dan tugas pokok, serta fungsi lembaga pendidikan.

Kinerja suatu lembaga merupakan penjabaran dari kuantitas dan kualitas kerja.Peningkatan koordinasi antar lembaga perlu diupayakan dengan pendekatan yang mengarah kepada sikap profesionalisme dalam menjalankan tugas agar tidak sekedar

(15)

dikerjakan saja. Terkait dengan hal ini, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan koordinasi terkait pemberian informasi berupa hasil akreditasi dan sosialisasi kebijakan akreditasi serta menjalin kerjasama yang berkelanjutan. Hasil dari kerjasama tersebut menjadi acuan bagi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dalam melakukan pengawasan, monitoring dan pembinaan di sekolah.

Hal yang menjadi alasan penulis memilih SMA Negeri 9 Makasssar, SMAS Muhammadiyah Makassar, dan SMAS Harapan Bhakti sebagai lokasi penelitian adalah karena sekolah tersebut telah terdiri dari akreditasi A, B, dan C yang kemudian dijadikan sampel agar memudahkan penulis dalam melakukan perbandingan berdasarkan predikat akreditasi. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis melakukan penelitian dengan judul “Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional S/M Provinsi Sulawesi Selatan (BAN S/M) dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah” (Studi: SMAN 9 Makassar, SMAS Muhammadiyah Makassar, dan SMA Harapan Bhakti Makassar)

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah?

2. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) dalam pelaksanaan akreditasi sekolah?

(16)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yakni : 1. Secara Teoritis

Penelitian yang akan dilakukan ini dapat dijadikan suatu bahan studi perbandingan selanjutnya dan akan menjadi sumbansi pemikiran ilmiah dalam melengkapi kajian-kajian yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan hususnya pada, koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu sumbangan pemikiran dan bahan masukan untuk pelaksanaan bagaimana cara koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Koordinasi

1. Pengertian Koordinasi

Menurut Talizu Ndraha (2011) Koordinasi adalah proses menyatupadukan tujuan dan kegiatan dari unit-unit suatu organisasi yang terpisah untuk mencapai sasaran organisasi secara efesien. Adanya perbedaa-perbedaan bidang tugas atau

pekerjaan tersebut membutuhkan koordinasi agar masing-masing dapat

melaksanakan tugas yang telah ada dengan satu tujuan bersama. Koordinasi merupakan hal yang penting dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi terdapat anggota-anggota yang memiliki tugas dan wewenang tersendiri. Tugas dan wewenang berbeda ini saling mendukung untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu koordinasi setiap anggota sangat penting dalam mencapai tujuan organisasi.

Menurut Hasibuan (2001) Koordinasi merupakan suatu kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan, mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen, pekerjaan-pekerjaan para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi. Koordinasi ada karena adanya unit-unit kerja yang masing-masing menjalankan tugas, fungsi dan tanggung jawab yang merupakan konsekuensi dari adanya penerapan prinsip spesialisasi di dalam suatu organisasi.

Koordinasi berarti yaitu, penyesuaian tugas masing-masing anggota untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Seperti yang telah diungkapkan oleh A.E. Benn dalam dasar-dasar organisasi (Sutarto, 2006) :

(18)

a. Suatu kelangsungan, keharmonisan, mencapai tujuan, yang dapat dicapai melalui kepemimpinan, organisasi, dan administrasi.

b. Penyusunan usaha-usaha kelompok di dalam suatu kelangsungan dan keteraturan sikap sehingga menciptakan kesatuan tindakan dalam mengusahakan tercapainya tujuan bersama.

Sedangkan menurut Talizu Ndraha (2011) koordinasi adalah penyesuaian diri dari bagian-bagian satu sama lain dan gerakan serta pengerjaan bagian-bagian pada saat yang tepat sehingga masing-masing dapat memberikan sumbangan yang maksimum pada hasil secara keseluruhan.

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan dan aktivitas di dalam suatu perusahaan atau organisasi agar mempunyai keselarasan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, maka pengkoordinasian dimaksudkan agar para manajer mengkoordinir sumber daya manusia dan sumber daya lain yang dimiliki organisasi tersebut. Kekuatan suatu organisasi tergantung pada kemampuannya untuk menyusun berbagai sumber dayanya dalam mencapai suatu tujuan.

2. Bentuk Koordinasi

Pada umumnya organisasi memiliki tipe koordinasi yang dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan atau kondisi-kondisi tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan tugas agar pencapaian tujuan tercapai dengan baik. Menurut Inu Kencana (2011) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pemerintahan bentuk Koordinasi adalah :

a. Koordinasi Horizontal adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis dan sinkron antar lembaga lembaga yang sederajat misalnya antar Muspika

(19)

Kecamatan (Camat, Kapolsek, Danramil), antar Muspida Kabupaten (Bupati, Danramil, Kapolres), dan Muspida Provinsi (Gubernur, Pangdam, Kapolda).

b. Koordinasi Vertikal adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis dan sinkron dari lembaga yang sederajat lebih tinggi kepada lembaga lembaga lain yang derajatnya lebih rendah. Misalnya antar Kepala Unit suatu Instansi kepada Kepala Sub Unit lain diluar mereka, Kepala Bagian (Kabag), suatu Instansi Kepada Kepala Sub Bagian (Kasubag) lain diluar bagian mereka, Kepala Biro suatu Instansi kepada Kepala Sub Biro lain di luar biro mereka.

c. Koordinasi Fungsional adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis dan sinkron antar lembaga lembaga yang memiliki kesamaan dalam fungsi pekerjaan misalnya antar sesama para kepala bagian hubungan masyarakat.

Sedangkan menurut Hasibuan (2001) dalam buku Sumber Daya Manusia, tipe koordinasi dibagi menjadi dua bagian besar yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi horizontal. Kedua tipe ini biasanya ada dalam sebuah organisasi. Makna kedua tipe koordinasi ini dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini:

a. Koordinasi vertikal adalah kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan oleh atasan terhadap kegiatan unit-unit, kesatuan-kesatuan kerja yang ada dibawah wewenang dan tanggung jawabnya.Tegasnya,atasan mengkoordinasi semua aparat yang ada di bawah tanggung jawabnya secara langsung. Koordinasi vertikal ini secara relatif mudah dilakukan,karena atasan dapat memberikan sanksi kepada aparat yang sulit diatur.

(20)

b. Koordinasi horizontal adalah mengkoordinasikan tindakan-tindakan atau kegiatan kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan dalam tingkat organisasi yang setingkat. Koordinasi horizontal ini dibagi atas interdisciplinary dan interrelated. Interdisciplinary adalah suatu koordinasi dalam rangka mengarahkan, menyatukan tindakan-tindakan, mewujudkan, dan menciptakan disiplin antara unit yang satu dengan unit yang lain secara internal maupun eksternal pada unit-unit yang sama tugasnya. Internal adalah koordinasi antar badan (instansi) unit-unit yang fungsinya berbeda, tetapi instansi yang satu dengan yang lain saling bergantung atau mempunyai kaitan secara internal atau eksternal yang levelnya setaraf. Koordinasi horizontal ini relatif sulit dilakukan, karena koordinator tidak dapat memberikan sanksi kepada pejabat yang sulit diatur dikarenakan kedudukannya setingkat.

Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tipe-tipe koordinasi terdiri atas 2 (dua) yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi horizontal. 3. Ciri-Ciri Koordinasi

Menurut Wardiyanto (2008) menjelaskan ciri-ciri koordinasi adalah sebagai berikut :

a. Tanggung jawab koordinasi merupakan terletak pada pimpinan, oleh karena itu koordinasi adalah menjadi wewenang dan tanggung jawab daripada pimpinan. Dikatakan bahwa pimpinan berhasil, karena ia telah melakukan koordinasi dengan baik.

(21)

b. Koordinasi adalah suatu usaha kerjasama. Hal ini disebabkan karena kerjasama merupakan syarat mutlak terselenggaranya koordinasi dengan sebaik-baiknya.

c. Koordinasi adalah proses yang terus menerus artinya suatu proses yang berkesinambungan dalam rangka tercapainya tujuan organisasi.

d. Adanya pengaturan usaha kelompok secara teratur. Hal ini disebabkan karena koordinasi adalah konsep yang diterapkan didalam kelompok, bukan terhadap usaha individu tetapi sejumlah individu yang berkejasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

e. Konsep kesatuan tindakan adalah inti daripada koordinasi. Hal ini berarti bahwa pimpinan harus mengatur usaha-usaha/tindakan-tindakan daripada setiap kegiatan individu sehingga diperoleh adanya keserasian di dalam sebagai kelompok dimana mereka bekerjasama.

f. Tujuan koordinasi adalah tujuan bersama. Kesatuan usaha/tindakan yang meminta kesadaran/pengertian kepada semua individu, agar dapat ikut serta melaksanakan tujuan bersama sebagai kelompok dimana mereka bekerja.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat koordinasi adalah perwujudan dari sebuah kerjasama, saling menghargai atau menghayati tugas dan fungsi serta tanggung jawab karena adanya prinsip pembagian habis tugas, fungsionalisasi dan akibat adanya rentang atau jenjang pengendalian, di mana pimpinan wajib membina, membimbing, mengarahkan, dan mengendalikan berbagai kegiatan/usaha dalam suatu organisasi yang besar dan kompleks, di mana berbagai fungsi dan kegiatan harus dilakukan oleh berbagai satuan kerja (unit) yang harus dilakukan secara terpadu.

(22)

4. Tujuan Koordinasi

Tujuan Koordinasi menurut Talizidu Ndraha dalam bukunya yang berjudul Kybernology (2011), yaitu :

a. Menciptakan dan memelihara efektivitas organisasi setinggi mungkin melalui sinkronisasi, penyerasian, kebersamaan, dan kesinambungan, antar berbagai dependen suatu organisasi.

b. Mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi-tinginya setiap

kegiatan interdependen yang berbeda-beda melalui

kesepakatan-kesepakatan yang mengikat semua pihak yang bersangkutan.

c. Menciptakan dan memelihara iklim dan sikap saling responsif-antisipatif di kalangan unit kerja interdependen dan independen yang berbeda-beda, agar keberhasilan unit kerja yang satu tidak rusak oleh keberhasilan.

Sedangkan menurut Handoko (2010) dalam buku Manajemen tujuan koordinasi antaralain:

a. Dengan koordinasi dapat dihindarkan perasaan terlepas satu sama lain, antara satuan-satuan organisasi atau antara pejabat yang ada dalam organisasi.

b. Menghindari suatu pendapat atau perasaan bahwa satuan organisasi atau pejabat merupakan yang paling penting.

c. Menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan antara bagian dalam organisasi

d. Menghindari terjadinya kekosongan pekerjaan terhadap suatu aktifitas dalam bagian atau unit kerja dalam organisasi.

(23)

e. Menimbulkan kesadaran diantara para pegawai untuk saling membantu. Jelas manfaat koordinasi sangat menentukan terselenggaranya usaha yang telah diprogramkan untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Menurut Hasibuan (2001) dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia koordinasi penting dalam suatu organisasi, yakni:

a. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, percecokan, dan kekembaran atau kekosongan pekerjaan.

b. Agar orang-orang dan pekerjaannya diselaraskan serta diarahkan untuk pencapaian tujuan perusahaan.

c. Agar sarana dan prasarana dimanfaatkan untuk mencapai tujuan.

d. Supaya semua unsur manajemen dan pekerjaan masing-masing individu pegawai harus membantu tercapainya tujuan organisasi.

e. Supaya semua tugas, kegiatan, dan pekerjaan terintegrasi kepada sasaran yang diinginkan.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa koordinasi memiliki peran yang sangat penting, karena koordinasi sangat penting dalam mengarahkan para bawahan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan oleh organisasi.

5. Metode Koordinasi Efektif

Agar koordinasi dapat dicapai dengan efektif dan memiliki potensi yang lebih berarti maka perlu diketahui metode untuk mencapai arah tersebut. Menurut

Sutarto (2006) harus ada 3 (tiga) kaidah yang dipenuhi dalam koordinasi: a. Harus ada kontak langsung mereka yang kegiatannya dikoordinasikan.

(24)

b. Koordinasi harus dimulai pada tahap yang awal sebelum kebijaksanaan dibentuk secara lengkap.

c. Koordinasi harus merupakan suatu proses yang berkelanjutan.

Adanya kontak langsung diantara di perlukan bagi pegawai-pegawai yang melaksanakan kerja, kontak langsung ini merupakan kegiatan melaksanakan komunikasi secara langsung diantara sesame pegawai sehingga akan memberikan kesamaan pemahaman atas kerja yang dilakukan. Banyaknya ketidakefektifan kerja karena kurangnya kesediaan untuk selalu berkomunikasi sehingga kendala kendala dalam pelaksanaan tugas menjadi bertambah berat, yang seharusnya dapat dipecahkan jika pegawai bersedia untuk bertemu langsung membicarakan masalah-masalah yang ada.

Koordinasi yang dimulai pada tahap awal adalah kepentingan yang sangat diperlukan sebelum kebijakan yang berhubungan dengan tugas dibentuk secara lengkap dan menyeluruh. Koordinasi yang lebih awal dapat memberikan pemahaman awal sehingga pada saat tugas dilaksanakan tidak memiliki kendala yang besar. Proses koordinasi perlu dilaksanakan secara terus menerus atau berkelanjutan. Pentingnya kelanjutan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan fatal pada proses pelaksanaan tugas. Dengan kooordinasi yang berlanjut maka proses evaluasi tetap dapat dilakukan untuk mencapai kesempurnaan tujuan pekerjaan.

Selanjutnya Hayat (2017) dalam bukunya Manajemen Pelayanan Publik mengemukakan, koordinasi potensial dapat ditingkatkan dalam 2 (dua) cara yaitu:

a. Sistemin formasi vertikal, sistem informasi vertikal adalah peralatan melalui mana data disalurkan melewati tingkatan-tingkatan organisasi. Komunikasi dapat terjadi didalam atau diluar rantai perintah. Sistem

(25)

informasi manajemen telah dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan seperti pemasaran, keuangan, dan produksi, untuk meningkatkan informasi yang tersedia bagi perencanaan koordinasi dan pengawasan.

b. Hubungan-hubungan horizontal melalui pemotongan rantai perintah, hubungan-hubungan lateral membiarkan informasi dipertukarkan dan keputusan dibuat pada tingkat hirarki dimana informasi yang dibutuhkan. Menurut Hasibuan (2001) dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia Cara-cara mengadakan koordinasi yang baik adalah:

a. Memberikan keterangan langsung dan secara bersahabat. Keterangan mengenai pekerjaan saja tidak cukup, karena tindakan-tindakan yang tepat harus diambil untuk menciptakan dan menghasilkan koordinasi yang baik. b. Mendorong para anggota untuk bertukar pikiran, mengemukakan ide, saran

saran dan sebagainya.

c. Mengusahakan agar pengetahuan dan penerimaan tujuan yang akan dicapai oleh anggota, tidak menurut masing-masing individu dengan tujuannya sendiri-sendiri.

d. Mendorong para anggota untuk bertukar pikiran, mengemukakan ide, saran saran dan sebagainya.

e. Membina human relations yang baik antar sesama karyawan.

f. Manajer sering melakukan komunikasi informal dengan para bawahan. g. Mendorong para anggota untuk berpartisipasi dalam tingkat perumusan dan

penciptaan sasaran.

(26)

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam koordinasi harus ada kontak langsung, dan kegiatannya harus dikoordinasikan. Koordinasi harus dimulai pada tahap yang paling awal sebelum kebijaksanaan dibentuk secara lengkap, koordinasi harus merupakan suatu proses yang berkelanjutan.

6. Prinsip-Prinsip Koordinasi

Dalam pelaksanaan proses koordinasi agar terlaksana dengan baik, maka sangat diperlukan prinsip koordinasi. Prinsip-prinsip koordinasi menurut Saefuddin (2008) ada tiga prinsip utama koordinasi dalam suatu organisasi. Tiga prinsip utama ini merupakan bahan penilaian yang orisinal dan konstruktif yang dapat dikembangkan menjadi beberapa prinsip tambahan. Tiga prinsip utama dalam koordinasi tersebut antara lain:

a. Prinsip Pertama, berupa prinsip kontak langsung. Prinsip pertama ini menyatakan bahwa, koordinasi harus dicapai dengan jalan mengadakan hubungan internal dan antar personal baik secara horizontal maupun secara vertikal di dalam organisasi atau perusahaan. Hubungan yang terjadi ini dapat searah atau timbal balik, hubungan timbal balik antara satuan-satuan organisasi dalam sebuah organisasi tidak lain untuk tukar pendapat, pemikiran, maksud-maksud tujuan dan tindakan-tindakan, yang mengarah pada lahirnya kesamaan pendapat untuk mencapai tujuan yang sama.

b. Prinsip kedua, berupa prinsip koordinasi di tingkat perencanaan dan kebijaksanaan. Prinsip kedua menyatakan bahwa koordinasi sangat penting diterapkan pada tingkat awal perencanaan dan penentuan kebijakan. Hal ini cukup beralasan, apabila koordinasi baru dijalankan pada saat perencanaan

(27)

dan kebijaksanaan sudah mulai diimplementasikan akan mengalami kesulitan. Namun demikain, koordinasi juga dapat dilaksanakan pada saat perencanaan dan kebijaksanaan diterapkan, hanya kemungkinan besar hasilnya tidak optimal. Prinsip kedua, ini menghendaki adanya koordinasi yang di terapkan sejak awal sekali, terutama sejak dilakukan pembuatan perencanaan dan kebijaksanaan organisasi yang akan di terapkan.

c. Prinsip ketiga, berupa prinsip hubungan. Prinsip ini menyatakan bahwa semua faktor dalam suatu situasi saling mempunyai hubungan. Prinsip ini menegaskan bahwa satuan-satuan organisasi saling berhubungan satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Satuan-satuan organisasi yang belum kokoh kedudukannya dalam organisasi akan mempunyai sifat yang peka terhadap kritik-kritik dari bagian lain. Perencanan dan peraktek-prakteknya di sesuaikan dengan situasi dan kondisi organisasi.

Menurut Efendi (2010) dalam pelaksanaan koordinasi, agar memperhatikan prinsi-prinsip koordinasi antaralain :

1. Adanya kesatuan arah dan tujuan

2. Adanya kesepakatan mengenai kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk targetnya

3. Adanya komunikasi, saling berbagi informasi terkait dengan kegiatan, masalah yang dihadapi dan hasil yang sudah diraih

Dari pemaparan tentang prinsip-prinsip koordinasi di atas, disimpulkan bahwa pada dasarnya yang dimaksud dalam prinsip-prinsip koordinasi adalah suatu prinsip yang mengedepankan suatu hubungan kerja sama yang baik, perencanaan yang baik, serta tujuan yang sama dalam merencanakan program. suatu saat tertentu, termasuk

(28)

masalah-masalah yang dihadapi masing-masing dari pemaparan tentang prinsip-prinsip koordinasi di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya yang dimaksud dalam prinsip-prinsip koordinasi adalah suatu prinsip yang mengedepankan suatu hubungan kerja sama yang baik, perencanaan yang baik, serta tujuan yang sama dalam merencanakan program.

5. Fungsi Koordinasi

Menurut Umam (2014) dalam bukunya Perilaku Organisasi menjelaskan fungsi koordinasi adalah sebagai berikut :

a. Sebagai salah satu fungsi manajemen, disamping fungsi perencanaan, penyusunan pegawai, pembinaan kerja, motivasi dan pengawasan. Dengan kata lain koordinasi adalah fungsi organik dari pimpinan. b. Menjamin kelancaran mekanisme prosedur kerja dari berbagai komponen dalam organisasi.

c. Sebagai usaha mengarahkan, menyatukan kegiatan keterpaduan (integrasi) yang dilakukan secara serasi dari seluruh tindakan yang dijalankan oleh organisasi, sehingga organisasi bergerak sebagai kesatuan yang bulat guna melaksanakan seluruh tugas organisasi yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Sebagai sebuah faktor dominan dalam kelangsungan hidup suatu organisasi pada tingkat tertentu dan ditentukan oleh kualitas koordinasi yang dijalankan.

e. Untuk melahirkan jaringan hubungan kerja dan jaringan hubungan kerja tersebut berbentuk saluran hubungan kerja yang membutuhkan berbagai pusat pengambilan keputusan dalam organisasi. Hubungan kerja ini perlu dipelihara agar terhindar dari masalah yang akan membawa organisasi ke

(29)

situasi yang tidak berfungsi sehingga tidak berjalan secara efektif dan efisien.

f. Sebagai usaha untuk menyelaraskan setiap tindakan, langkah dan sikap yang terpadu dari para pejabat pengambil keputusan dan para pelaksana.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi koordinasi adalah usaha untuk menyelaraskan setiap tindakan, langkah dan sikap yang terpadu dari para pejabat pengambil keputusan dan para pelaksana, penataan spesialisasi dalam berbagai keanekaragaman tugas, melahirkan jaringan hubungan kerja/komunikasi atau dapat dikatakan sebagai salah satu fungsi manajemen, disamping adanya fungsi perencanaan, penyusunan pegawai, pembinaan kerja, motivasi dan pengawasan untuk menjamin kelancaran mekanisme prosedur kerja dari berbagai komponen dalam organisasi.

7. Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung Koordinasi

Menurut Mediana (2012) dalam buku Analis Koordinasi hal-hal yang biasanya menjadi hambatan dalam pelaksanaan koordinasi antara lain:

a.Para pejabat sering kurang menyadari bahwa tugas yang dilaksanakannya hanyalah merupakan sebagian saja dari keseluruhan tugas dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

b.Para pejabat sering memandang tugasnya sendiri sebagai tugas yang paling penting dibandingkan dengan tugas-tugas lain.

c.Adanya pembagian kerja atau spesialisasi yang berlebihan dalam organisasi. d. Kurang jelasnya rumusan tugas atau fungsi, wewenang dan tanggung jawab

(30)

e. Adanya prosedur dan tata kerja yang kurang jelas dan berbelit-belit dan tidak diketahui oleh semua pihak yang bersangkutan dalam usaha kerjasama.

f.Kurangnya kemampuan dari pimpinan untuk menjalankan koordinasi yang disebabkan oleh kurangnya kecakapan, wewenang dan kewibawaan.

g.Tidak atau kurangnya forum komunikasi diantara para pejabat yang bersangkutan yang dapat dilakukan dengan saling tukar menukar informasi dan diciptakan adanya saling pengertian guna kelancaran pelaksanaan kerjasama.

Faktor Pendukung Koordinasi yakni :

a. Permendikbud No 6 Tahun 2019 Tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Pendidikan dasar dan Menengah

b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1988 Tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Veertikal Di Daerah

c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Koordinasi, Pengawasan dan Pembinaan.

B. Konsep Akreditasi Sekolah 1. Akreditasi Sekolah

Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian yang dilakukan pemerintah dan atau lembaga mandiri yang berwenang. untuk menentukan kelayakan program dan atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik yang dilakukan dilakukan secara obyektif, adil, transparan, dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang

(31)

mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. Akreditasi sekolah secara sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.. Untuk melaksanakan akreditasi

sekolah/ madrasah Pemerintah membentuk Badan Akreditasi Nasional

Sekolah/Madrasah. Singkatnya akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian (asesmen) sekolah secara sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi internal dan evaluasi eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.

2. Tujuan dan Fungsi Akreditasi Sekolah

Sistem Akreditasi sekolah bertujuan untuk :

a. Menentukan tingkat kelayakan suatu sekolah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan dan

b. Memperoleh gambaran tentang kinerja sekolah. Fungsi akreditasi sekolah adalah :

a. Untuk pengetahuan, yakni dalam rangka mengetahui bagaimana kelayakan dan kinerja sekolah dilihat dari berbagai unsur yang terkait.

b. Untuk akuntabilitas, yakni agar sekolah dapat mempertanggungjawabkan apakah pelayanan pendidikan yang diberikan sesuai dengan aturan.

c. Untuk kepentingan pengembangan, yakni agar sekolah dapat melakukan peningkatan kualitas dan pengembangan berdasarkan hasil akreditasi.

3. Prinsip-Prinsip Akreditasi Sekolah

Adapun prinsip-prinsip akreditasi yaitu :

a. Objektif, informasi objektif tentangg kelayakan dan kinerja sekolah,

b. Efektif, hasil akreditasi memberikan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan,

(32)

c. Komprehensif, meliputi berbagai aspek dan menyeluruh,

d. Memandirikan, sekolah dapat berupaya meningkatkan mutu dengan bercermin pada evaluasi diri, dan

e. Keharusan (mandatori), akreditasi dilakukan untuk setiap sekolah sesuai dengan kesiapan sekolah.

4. Pelaksanaan Akreditasi

Akreditasi dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut : a. Pengajuan permohonan akreditasi dari sekolah

b. Evaluasi diri oleh sekolah c. Pengolahan hasil evaluasi diri d. Visitasi oleh asesor

e. Penetapan hasil akreditasi

f. Penerbitan sertifikat dan laporan akreditasi 5. Indikator Mutu Pendidikan

Penjaminan mutu pendidikan mengacu pada standar sesuai peraturan yang berlaku. Acuan utama adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan sebagai kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Standar Nasional Pendidikan terdiri atas :

a. Standar Kompetensi Lulusan b. Standar Isi

c. Standar Proses Pembelajaran

d. Standar Pemdidikan dan Tenaga Kependidikan e. Standar Pengelolaan

(33)

g. Standar Pengelolaan

h. Standar Sarana dan Prasarana C. Kerangka Fikir

Berdasarkan dari teori yang ada maka dapat digambarkan dengan kerangka pikir sebagai berikut:

Bagan Kerangka Fikir Gambar 2.1

“Koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Provinsi Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi

Selatan dalam pelaksanaan akreditasi” (Studi: SMAN 9 Makassar, SMAS Muhammadiyah Makassar, SMA Karya

Bakhti Makassar)

Prinsip Koordinasi 1. Adanya kesatuan

arah dan tujuan 2. Adanya kesepakatan 3. Adanya komunikasi Efendi (2010) Faktor Pendukung : a. Peraturan Pemerintah RI No 6 Tahun 1988 Tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah b. Peraturan Pemerintah RI No 43 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Koordinasi,Pengawasan dan Pembinaan. Faktor Penghambat: 1. Adanya prosedur dan

tata kerja yang kurang jelas dan berbelit-belit. 2. Tidak atau kurangnya

forum komunikasi diantara para pejabat yang bersangkutan

Adanya Koordinasi Dinas Pendidikan Dan BAN S/M dalam Pelaksanaan Akreditasi

(34)

D. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian yaitu koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan akreditasi, dan faktor pendukung dan faktor penghambat, agar lebih mudah melakukan klarifikasi di dalam meneliti.

E. Deskripsi Fokus Penelitian

a. Kesatuan arah dan tujuan adalah kesesuaian tindakan dalam memperoleh tujuan yang diinginkan

b. Kesepakatan tugas kerja adalah kesepakatan terhadap pembagian tugas yang telah disepakati bersama

c. Adanya Komunikasi yakni, terjadi kegiatan saling tukar informasi terkait progress kegiatan yang sedang dikerjakan dan masalah yang ditemui.

d. Faktor penghambat adalah hal-hal yang berpengaruh sedikit / bahkan menghentikan sesuatu menjadi lebih dari sebelumnya.

e. Faktor pendukung adalah semua faktor yang sifatnya turut mendorong, menyokong, melancarkan, menunjang, membantu, mempercepat dan sebagainya terjadinya sesuatu.

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu yang digunakan peneliti dalam melakukan penalitian ini selama 2 bulan yakni, pada tanggal 24 September sampai 24 November 2019

2. Penelitian Ini dilakukan di Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Sekretariat Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, SMA Negeri 9 Makassar, SMAS Muhammadiyah Makassar, dan SMA Harapan Bakhti.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif, dimana penelitian ini berangkat dari data lapangan dan menggunakan teori yang sudah ada sebagai pendukung, kemudian hasil yang di dapat dari proses penelitian akan memunculkan teori dari data-data tersebut. Artinya data, fakta dengan himpunan yang berbentuk kata atau gambar dari pada angka. Mendeskripsikan tentang koordinasi Dinas Pendidikan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) dalam pelaksanaan akreditasi sekolah

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian adalah case study (studi kasus) yang dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given).

(36)

C. Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan dua sumber data yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Data Primer merupakan sumber data yang di dapatkan melalui kegiatan wawancara dengan subjek penelitian dan dengan observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Dalam penelitian ini data primer berupa catatan hasil wawancara dan hasil pengamatan langsung di lapangan yang diperoleh melalui proses wawancara, observasi dan dokumentasi dengan Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua BAN S/M Provinsi Sulawesi Selatan, Wakil Kepala Sekolah SMAN 9 Makassar Urusan Sumber Daya Manusia, Wakil Kepala Sekolah urusan kurikulum dan Kepala Sekolah SMAS Harapan Bakhti Makassar

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh dari sumber yang sudah ada, melalui proses studi keperpustakaan, peraturan perundang-undangan, referensi-referensi, laporan-laporan atau dokumen-dokumen yang di peroleh dari lokasi tempat penelitian. Adapun laporan atau dokumen yang bersifat informasi tertulis yang dikumpulkan peneliti adalah data dokumentasi dan data-data yang lainnya.

D. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah orang yang mampu memberikan informasi yang kita butuhkan, memahami tentang objek penelitian.

(37)

Pihak yang terkait di dalamnya yaitu sebagai berikut: Tabel 3.1

Nama-Nama Informan

No Nama Inisial Jabatan Jumlah

1. H. Sabri, S.Pd. M.Pd

“HS”

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan

1 2. Drs. H.A. Burhanuddin

Usman, M.Si “BU”

Ketua BAN S/M Provinsi

Sulawesi Selatan 1

3. Dr. H. Islahuddin, M.Pd

“HI”

Wakil Kepala Sekolah SMAN 9 Makassar Urusan Sumber

Daya Manusia

1 4.

Drs. H. Abdul Kadir “AK” Wakil Kepala Sekolah

Urusan Kurikulum 1

5.

M. Ardi Ali, S.Sos. MM “AA” Kepala Sekolah SMAS

Harapan Bakhti Makassar 1

Total Informan 5

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam sebuah penelitian, sebab tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data yang akurat, sehingga tanpa mengetahui teknik pengumpulan data tidak akan mendapatkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1. Teknik Observasi (Pengamatan)

Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis dengan fenomena-fenomena yang telah diselidiki. Penelitian ini menggunakan teknik observasi non partisipatif, dimana pada pelaksanaannya peneliti tidak terlibat langsung dengan aktivitas-aktivitas orang-orang yang sedang diamati, dan hanya sebagai pengamat independen. Kegiatan observasi pada penelitian ini dilakukan di Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi

(38)

Selatan, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan, SMAN 9 Makassar, SMAS Muhammadiyah Makassar, dan SMA Harapan Bhakti

2. Teknik wawancara (interview)

Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interview) yang mengajukan pertanyaan dan diwawancara (interview). Metode wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur yaitu wawancara yang dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Pewawancara memberikan pertanyaan kepada informan namun dapat berkembang dan lebih bebas sesuai dengan situasi dan informasi yang dibutuhkan oleh informan. Wawancara semi terstruktur bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang di wawancarai dimintai pendapat dan ide-idenya. Dalam penelitin ini wawancara dilakukan secara langsung dengan informan, mengenai Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah.

3. Teknik Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang

(39)

berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, biografi, peraturan dan kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni yang dapat berupa gambar, patung, film dan sebagainya. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini dokumentasi diperoleh dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan, SMAN 9 Makassar, SMAS Muhammadiyah Makassar, dan SMA Harapan Bhakti

F. Teknik Analisis Data

Proses analisis data menurut model Miles dan Huberman yaitu meliputi aktivitas pengumpulan data, data reduction (reduksi data) data display (penyajian data), dan conclusion drawing atau penarikan kesimpulan / verifikasi. Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan data (Data Collection)

Data yang muncul dalam wujud kata-kata dan bukan angka dikumpulkan melalui berbagai cara seperti observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman biasanya di proses melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih tulis. Sebab tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data yang akurat, sehingga tanpa mengetahui teknik pengumpulan data peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan.

2. Reduksi data (Data reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan dicari tema dan polanya, sebab data yang diperoleh

(40)

dari lapangan jumlahnya cukup bayak dan perlu dicatat secara teliti dan rinci. Dengan melakukan reduksi data akan memberikan gambaran yang lebih jelas, mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dilakukan dengan bantuan komputer dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. (Sugiyono, 2016).

3. Penyajian Data (Data display)

Setelah data reduksi, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

4. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion drawing/verification)

Langkah ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menemukan makna data yang telah disajikan. Dari data-data yang telah terkumpul selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dan kemudian kesimpulan tersebut diverifikasi serta diuji validitasnya.

G. Teknik Keabsahan Data

Pengabsahan data yaitu bentuk batasan yang berkaitan dengan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga bisa didapat dengan cara pengumpulan data yang cepat. Salah satu caranya yaitu dengan proses triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data ini untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi dapat dimaknai sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data

(41)

penelitian dengan cara membanding-bandingkan antara sumber, teori, maupun metode/teknik penelitian. Pemeriksaan keabsahan data ini adalah 3 teknik triagulasi: triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber berarti membandingkan dengan cara mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang didapatkan melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara membandingkan dengan apa yang dikatakan umum sama yang dikatakan dengan pribadi, membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dapat menguji kredibilitas data dengan cara peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber data yang sama. Contohnya data yang didapatkan melalui wawancara, kemudian dibuktikan dengan cara observasi, dokumentasi, atau kuesioner.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu dapat dimanfaatkan dalam validas data yang berkaitan dengan pengecekan data berbagai sumber dengan caradan berbagai waktu. Perubahan suatu proses dan sifat manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan data yang sah melalui observasi penelitian perlu diadakan pengamatan tidak hanya satu kali pengamatan tetapi berulang-ulang kali. Penggunaan triangulasi teknik tersebut dilakukan agar data yang diperoleh dari informan penelitian yang menjadi sumber data primer menjadi lebih valid, konsisten, tuntas, dan pasti. Sehingga dapat dianalisis dan ditarik kesimpulan

(42)

terkait dengan Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah.

(43)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Profil Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan

Latar belakang terbentuknya kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu pada masa terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT) yang dikepalai oleh menteri pengajaran yang bernama Katoppo. Kantor wilayah pada waktu itu bertempat di gedung SMA Candra Kirana yang sekarang berada di jalan Sungai Tangka. Pada tahun 1946-1950, Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan berubah menjadi Inspektur Pendidikan Daerah Sulawesi Selatan yang dikepalai oleh Azis Nompo. Pada tahun 1957 kantor tersebut berubah nama menjadi Perwakilan Depatermen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara.

a. Visi dan Misi 1. Visi

Visi yakni mewujudkan pendidikan di sulawesi selatan yang mandiri dan berkualitas guna terciptanya masyarakat madani bernafaskan keagamaan. 2. Misi adalah

a. Mengembangkan pembinaan Pendidikan berorientasi kepada kebutuhan daerah, nasional dan global.

b. Menciptakan pembelajaran yang inovatif dan kompetitif. c. Meningkatkan Profesionalisme tenaga kependidikan.

d. Memantapkan standar kendali mutu dan relevansi pendidikan serta pendayagunaan sarana dan prasarana.

(44)

e. Mengembangkan pembinaan pendidikan yang berorientasi pada sisi penguasaan iptek dan imtaq, wawasan keunggulan, budaya, penumbuhan jiwa patriotik serta mendorong terciptanya masyarakat belajar.

f. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan program kepemudaan, Olah raga seni dan budaya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. g. Mengembangkan program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar

dan menengah yang sesuai adat istiadat, agama dan Iptek.

b. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tugas pokok dari tiap bagian pada Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu:

1. Kepala Dinas Pendidikan, mempunyai tugas untuk mengkoordinasi penyusunan perencanaan, mengarahkan dan mengevaluasi kegiatan Dinas Pendidikan serta merumuskan kebijakan teknis bidang pendapatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.

2. Bagian Tata Usaha

a. Sub Bagian Program, dipimpin oleh Kepala Sub Bagian mempunyai tugas pengumpulan data, menganalisa, penyajian dan penyimpanan

anggaran dinas statistik pendidikan serta menyelenggarakan

identifikasi, perumusan dan penyusunan pembangunan pendidikan b. Sub Bagian Kepegawaian, dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang

mempunyai tugas melakukan penyiapan, penyusunan bahan rencana kebutuhan dan pengembangan pegawai, mitasi, kenaikan pangkat dan pengelolaan administrasi kepegawaian.

(45)

c. Sub Bagian Keuangan, dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas mengelola administrasi keuangan meliputi menyusun anggaran, penggunaan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban, dan laporan keuangan.

d. Sub Bagian Umum, dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas melaksanakan urusan ketatausahaan dinas meliputi surat menyurat, kearsipan, pengadaan, ekspedisi, administrasi perjalanan dinas, perlengkapan, pemeliharaan, dan urusan rumah tangga dinas.

3. Bagian Sarana dan Prasarana

a. Seksi Pengadaan sarana dan prasarana, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan dan menyimpan bahan dan menetapkan kebijakan teknis di bidang pengadaaan sarana sekolah. b. Seksi Perawatan Sarana Sekolah, dipimpin oleh seorang kepala seksi

yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pembinaan teknis perawatan sarana dan prasarana sekolah.

c. Seksi penyediaan buku, alat peraga dan modul, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pembinaan teknis serta melakukan analisis kebutuhan penyediaan sarana dan prasarana sekolah serta perawatan sarana dan prasarana sekolah.

d. Seksi Pembukuan Sarana/ Prasarana Pendidikan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, menyusun pedoman pembukuan sarana dan prasarana sekolah.

(46)

4. Sub Dinas Pendidikan Agama dan Pendidikan Dasar

a. Seksi Kurikulum dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan kebijaksanaan teknis perumusan dan penyusunan pedoman pelaksanaan determinasi kurikulum dan kalender pendidikan bagi SMA.

b. Seksi Pengembangan Tenaga Kependidikan, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pengembangan tenaga kependidikan. c. Seksi Pembinaan manajemen Sekolah, dipimpin oleh seorang kepala

seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang manajemen sekolah.

d. Seksi Pendidikan Luar Biasa (SLB), dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan luar biasa.

5. Kepala Bidang Pembinaan SMK

a. Seksi Kepemudaan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas dalam melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan di bidang kepemudaan.

b. Seksi Olahraga dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan olahraga.

c. Seksi Pembinaan dan Pengembangan, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan

(47)

kebijaksanaan teknis dibidang pembinaan dan pengembangan generasi muda serta kesenian.

d. Seksi Pendidikan Kesenian, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan kesenian daerah organisasi pendidikan kesenian masyarakat.

6. Kepala Bidang Pembinaan SMA

a. Seksi Kepemudaan, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan dibidang kepemudaan.

b. Seksi Olahraga, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang juga mempunyai tugas melaksanakan perumusan serta kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan olahraga.

c. Seksi Pembinaan dan Pengembangan,dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis dibidang pembinaan, pengembangan generasi muda dan kesenian.

d. Seksi Pendidikan Kesenian, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan kesenian daerah organisasi pendidikan kesenian masyarakat.

(48)

a. Seksi Sarana dan Tenaga Teknis, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang sarana dan tenaga teknis.

b. Seksi Pendidikan Luar Sekolah, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan luar sekolah.

c. Seksi Pelatihan dan Penataran, dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pelatihan dan penataran, pendidikan luar sekolah, non pendidikan luar sekolah dan kemasyarakatan.

8. Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD)

Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) memiliki tugas melaksanakan kegiatan teknis yang ada di lingkup kerja dinas pendidikan

9. Kelompok Jabatan Fungsional 2. Profil BAN S/M Provinsi Sulawesi Selatan

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Profinsi Sulawesi Selatan adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang berada diwilayah Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Permendikbud nomor 59 tahun 2012 tentang Badan Akreditasi Nasional.

Pada Pasal 1 ayat (2) Permendikbud Nomor 59 dinyatakan bahwa Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang disebut BAN-S/M adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan satuan pendidikan jenjang

(49)

pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

a. Struktur Organisasi

1. BAN S/M memiliki struktur organisasi yang terdiri atas : a. Ketua merangkap anggota

b. Sekretaris merangkap anggota c. Anggota

2. Ketua BAN S/M bertugas :

a. Memimpin dan mengkoordinasikan , pelaksanaan tugas BAN/SM b. Memimpin pengelolaan oprasional harian BAN S/M

3. Sekretaris BAN S/M Provinsi bertugas :

a. Mengelola pelaksanaan ketatausahaan BAN S/Mdan ; dan b. Membantu ketua BAN S/M melaksanakan tugas

4. Anggota BAN S/M bertugas :

a. Menghadiri rapat dan kegiatan yang diselenggarakan BAN S/M b. membantu ketua BAN S/M dalam melaksanakan tugas

(50)

Gambar 4.2

STRUKTUR ORGANISASI BADAN AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

b. Tugas BAN S/M Provinsi Sulawesi Selatan

Tugas BAN S/M Provinsi Sulawesi Selatan meliputi :

1. Melaksanakan kebijakan sistem akreditasi yang telah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional

2. Menjalankan kebijakan pelaksanaan akreditasi satuan pendidikan, termasuk penilaian kembali hasil akreditasi satuan pendidikan

3. Melakukan pementaan satuan pendidikan berdasarkan kesiapan akreditasi berbasis evaluasi diri melalui aplikasi sistem penilaian akreditasi.

4. Merencanakan program dan target akreditasi tahunan sesuai kesiapan satuan pendidikan dan prioritas BAN S/M

Drs. H. A. BURHANUDDDIN USMAN, M.Si KETUA

Dr. ABDI, M.Pd SEKRETARIS

Dra. HJ. LUTFIAH MUHAMMAD, S.Pd ANGGOTA Dr. ISHAQ SAMAD, MA ANGGOTA Drs. H. BASRUN PONTA. M.Pd ANGGOTA Drs. BASIR NANRING, M.Pd ANGGOTA Drs. H. MAHYUDDIN DATJING ANGGOTA Drs. H. BERNARD, MS ANGGOTA Dr. FATMAWATI MALLAPIANG, M.Kes

ANGGOTA Dr.KARTINI SAADE. M.Pd ANGGOTA Drs. AMOS AMAN ANGGOTA Drs. AMIN THALIB, M.Pd ANGGOTA Dr. MARDIN, M. Pd ANGGOTA LPMP SEKRETARIAT ASESOR KPA-S/M KABUPATENKOTA

(51)

5. Menugaskan, memantau, mengevaluasi kinerja asesor dalam pelaksanaan akreditasi.

6. Melakukan sosialisasi kebijakan BAN S/M kepada instansi Pemerintah terkait, penyelenggara pendidikan, satuan pendidikan dan masyarakat. 7. Melakukan pembinaan dan sosialisasi aplikasi sistem penilaian akreditasi. 8. Mengadakan pelatihan asesor sesuai dengan pedoman yang ditetapkan

oleh BAN S/M

9. Menetapkan hasil akreditasi sesuai dengan ketentuan BAN S/M 10. Mengelola sistem basis data akreditasi

11. Melakukan pengendalian mutu pelaksanaan akreditasi 3. Profil SMA Negeri 9 Makassar

SMA Negeri 9 Makassar, merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMA Negeri 9 Makassar ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari kelas X sampai Kelas XII. Didirikan pada tahun 1977, jumlah peserta didik hinga saat ini sebanyak 1124

Struktur Organisasi 1. Kepala Sekolah

2. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum

3. Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana 4. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kehumasan

5. Wakil Kepala Sekolah Urusan SDM 6. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan

(52)

7. Kepala Tata Usaha

8. Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) 9. Bendahara Umum

10. Pembina Organisasi 11. Wali Kelas

12. Koordinator Bimbingan Konseling 13. Koordinator Perpustakaan

14. Kepala Laboratorium 15. Guru Mata Pelajaran

4. Profil SMAS Muhammadiyah Makassar

SMAS Muhammadiyah Makassar merupakan salah Sekolah Menengah Swasta

yang ada di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAS Muhammadiyah Makassar ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Sekolah didirikan pada tahun 1992. Hingga saat ini memiliki peserta didik sebanyak yang terdiri dari kelas X, XI, dan XII.

Struktur Organisasi SMAS Muhammadiyah Makassar Gambar 4.4 KEPALA SEKOLAH H. Ka‟bai S.Pd WAKIL KELAS KEPALA PERPUSTAKAAN Muliyati L, S.Pd BENDAHARA Drs, Haeruddin WAKEPSEK Drs. H. Abd Kadir BK Fajriadi S,Pd KTU Ilmawati SE

WAKIL KELAS X IPA Salman Syan S,Pd

WAKIL KELAS X IPS Kasmawati S,Pd KURIKULUM Drs. H Abd Kadir KESISWAAN Muh Ikbal S, Pd. Md URUSAN IPA Drs, Haeruddin KEPALA LAB KOMPUTER Drs. H. Abd Kadir PERPUSTAKAAN TUGAS TAMBAHAN STAF PERPUSTAKAAN Ilmawati SE

(53)

a. Struktur Organisasi SMAS Muhammadiyah Struktur Organisasi SMAS Muhammadiyah terdiri dari :

1. Kepala Sekolah 2. Wakil Kepala Sekolah 3. KTU 4. Bendahara 5. BK 6. Wali Kelas 7. Kepala Laboratorium 8. Urusan Kurikulum 9. Urusan Kesiswaan 10. Perpustakaan 11. Guru Mata Pelajara 5. Profil SMAS Karya Bakhti

SMAS Muhammadiyah Makassar merupakan salah satu SMA Swasta yang

terletak di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAS Muhammadiyah Makassar ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Sekolah didirikan pada tahun 1984. Hingga saat ini memiliki peserta didik sebanyak 34 siswa yang terdiri dari kelas X, XI, dan XII.

WAKIL KELAS XI IPA Ely Irawati S,Pd

WAKIL KELAS XII IPA Ely Irawati S,Pd

GURU MATA PELAJARAN

BAHASA

Figur

Memperbarui...

Related subjects :